Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Imam Fakhruddin; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Chandra Istanti Prasetyo
S-11540
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhini Marsela; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis utilisasi dan biaya pelayanan hipertensi serta faktor-faktor yang berhubungan pada peserta BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di Indonesia tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif-analitik dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data klaim BPJS Kesehatan periode Januari–Desember 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat untuk melihat hubungan antara karakteristik peserta, fasilitas pelayanan kesehatan, dan kondisi klinis dengan utilisasi serta biaya pelayanan hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan hipertensi lebih banyak dimanfaatkan dalam bentuk tanpa rawat inap (65,2%) dibandingkan rawat inap (34,8%). Namun, median biaya pelayanan rawat inap per individu (Rp2,16 juta) jauh lebih tinggi dibandingkan pelayanan tanpa rawat inap (Rp198 ribu). Variabel wilayah FKRTL (p-value=0,000), tipe FKRTL (p-value=0,000), dan kondisi klinis (p-value=0,000) menunjukkan perbedaan biaya pelayanan hipertensi yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa variasi utilisasi dan biaya pelayanan hipertensi dipengaruhi oleh karakteristik fasilitas pelayanan kesehatan, pola pemanfaatan layanan, dan kondisi klinis pasien. Pelayanan rawat inap menjadi kontributor utama pembiayaan hipertensi dalam sistem JKN.

This study aimed to analyze the utilization and healthcare costs of hypertension services, as well as the associated factors among BPJS Kesehatan participants at Advanced Referral Healthcare Facilities (FKRTL) in Indonesia in 2024. A descriptive-analytic study design with a quantitative approach was employed using BPJS Kesehatan claims data from January to December 2024. Univariate and bivariate analyses were conducted to examine the relationships between participant characteristics, healthcare facility characteristics, clinical conditions, and the utilization and costs of hypertension services. The results showed that hypertension services were utilized more frequently in non-inpatient care (65.2%) than inpatient care (34.8%). However, the median cost of inpatient care per individual (IDR 2.16 million) was substantially higher than that of non-inpatient care (IDR 198 thousand). FKRTL region (p-value=0.000), FKRTL type (p-value=0.000), and clinical condition (p-value=0.000) were significantly associated with differences in hypertension healthcare costs. This study concludes that variations in the utilization and costs of hypertension services are influenced by healthcare facility characteristics, healthcare utilization patterns, and patients’ clinical conditions. Inpatient care was identified as the main contributor to hypertension-related healthcare expenditures within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) system.
Read More
S-12229
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Almira Fanny Rahmasari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Pujiyanto, Atmiroseva
Abstrak: Latar Belakang: Kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia dan hak setiap warga negara yang dijamin oleh UUD 1945. Salah satu langkah strategis pemerintah dalam memastikan hak ini adalah melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang dikelola oleh BPJS Kesehatan sejak 2014. Program ini bertujuan untuk mencapai cakupan kesehatan universal, meningkatkan akses, dan kesetaraan layanan kesehatan di Indonesia. Namun, pelaksanaan program ini menghadapi berbagai tantangan, seperti distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata, keterbatasan infrastruktur, dan disparitas kualitas layanan. Data dari Profil Kesehatan Indonesia 2023 dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, merupakan yang paling sering diakses masyarakat, meskipun aksesibilitas dan kualitas layanan masih menjadi isu utama. Berdasarkan Model Anderson, akses pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposisi, pemungkin, dan kebutuhan. Penelitian ini menganalisis utilisasi fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia dengan menggunakan data SKI 2023, yang mencakup evaluasi tren akses dan pemanfaatan fasilitas kesehatan dalam lima tahun terakhir. Tujuan: Penelitian ini bertujuan Menganalisis utilisasi fasilitas kesehatan berdasarkan data SKI 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi penampang dengan data sekunder dari SKI 2023. Populasi penelitian adalah peserta JKN yang tersebar di 38 provinsi. Analisis dilakukan melalui uji chi-square dan regresi logistic sederhana untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen predisposisi (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan) dan enabling (kepemilikan jaminan kesehatan, waktu menuju fasilitas kesehatan dan biaya yang diperlukan menuju fasilitas kesehatan) dengan variabel dependen (pemanfaatan fasilitas kesehatan). Hasil: Hasil penelitian mengungkapkan terapat hubungan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, kepemilikan jaminan kesehatan, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai fasilitas kesehatan dan biaya yang dibutuhkan untuk mengunjungi fasilitas kesehatan dengan pemanfaatan fasilitas kesehatan dalam 1 tahun terakhir.  Kesimpulan: Terdapat hubungan antara variable predisposisi dan enabling terhadap pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan.
Background: Health is a basic human need and a fundamental right of every citizen, as guaranteed by the 1945 Constitution of Indonesia. One of the government's strategic efforts to ensure this right is through the National Health Insurance (JKN) program, managed by BPJS Kesehatan since 2014. This program aims to achieve universal health coverage, improve access, and ensure equity in healthcare services in Indonesia. However, the implementation of this program faces various challenges, such as unequal distribution of healthcare workers, limited infrastructure, and disparities in service quality. Data from the 2023 Indonesia Health Profile and the 2023 Indonesia Health Survey (SKI) show that primary healthcare facilities, such as puskesmas, are the most frequently accessed by the public, although accessibility and service quality remain key issues. According to Anderson's Model, access to healthcare services is influenced by predisposing, enabling, and need factors. This study analyzes the utilization of healthcare services in Indonesia using data from the 2023 SKI, which evaluates trends in access and utilization of healthcare facilities over the past five years. Objective: This study aims to analyze the utilization of healthcare services based on 2023 SKI data. Methods: This study employs a cross-sectional design using secondary data from the 2023 SKI. The study population consists of JKN participants spread across 38 provinces. Analysis was conducted using chi-square tests and simple logistic regression to identify the relationship between the independent variables (predisposing factors: age, gender, education level, and employment status; enabling factors: health insurance ownership, travel time to healthcare facilities, and costs required to access healthcare facilities) and the dependent variable (utilization of healthcare facilities). Results: The study revealed significant relationships between age, gender, education, health insurance ownership, travel time, and costs to access healthcare facilities and the utilization of healthcare services in the past year. Conclusion: There is a significant relationship between predisposing and enabling variables and the utilization of healthcare facilities.
Read More
S-11829
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiji Wahyuningsih; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Rico Kurniawan, Sabarinah, Pandu Riono; Hafizah Jusril
Abstrak:
Meskipun Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berjalan satu dekade, kesenjangan angka kematian ibu antara Indonesia Timur dan Barat masih mencolok. Studi ini mengetahui dampak JKN sebagai intervensi finansial dalam mendorong pemanfaatan layanan kesehatan maternal. Analisis ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencakup 16.354 perempuan usia 15-49 tahun yang melahirkan dalam dua tahun terakhir. Dampak kepesertaan JKN dianalisis terhadap empat komponen layanan yaitu: (a) kunjungan antenatal care (ANC) minimal 4 kali, (b) persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan, (c) kunjungan nifas pertama (KF1), dan (d) kontinum perawatan. Melalui metode Propensity Score Matching, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepesertaan JKN secara signifikan meningkatkan seluruh komponen layanan tersebut. Dampak terbesar terdapat pada persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan (9,6 poin persentase, 95% CI=8,0-11,2); diikuti kontinum perawatan (7,2 pp, 95% CI=5,1-9,4); ANC4+ (4,8 pp, 95% CI=2,7-6,9); dan KF1 (4,7 pp, 95% CI=3,0-6,4). Besaran dampak lebih besar pada kelompok miskin dan mereka yang tinggal di Regional 5, seperti Indonesia Timur dan Sulawesi. Perluasan cakupan asuransi kesehatan berhubungan dengan berkurangnya kesenjangan sosiodemografis dalam pemanfaatan layanan kesehatan maternal di Indonesia. Meskipun demikian, disparitas yang signifikan dalam pemanfaatan layanan masih bertahan antar regional dan kelompok ekonomi.

Despite a decade of implementation, Indonesia's National Health Insurance (Jaminan Kesehatan Nasional – JKN) program has not resolved the profound regional inequity in maternal mortality ratios between the country's Eastern and Western regions. This study investigates whether this financial intervention has effectively improved the utilization of essential maternal health services. We conducted a secondary analysis of cross-sectional data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia – SKI). The sample included 16,354 women of reproductive age (15–49 years) who had birth in the preceding two years. The impact of JKN enrollment on key maternal health service indicators was assessed using Propensity Score Matching to control for observable confounders. Outcome measures included: (1) ≥4 antenatal care (ANC) visits, (2) skilled birth attendance at a health facility, (3) receipt of a first postnatal care (PNC) check within the critical period, and (4) completion of the full continuum of care (CoC). The greatest effect was observed for facility-based delivery (9.6 percentage points, 95% CI=8.0-11.2), followed by complete continuum of care (7.2 pp, 95% CI=5.1-9.4), ≥4 ANC visits (4.8 pp, 95% CI=2.7-6.9), and the first postnatal visit (4.7 pp, 95% CI = 3.0-6.4). Effect sizes were larger among the poor and those residing in Regional 5, such as Eastern Indonesia and Sulawesi. Expansion of health insurance coverage was associated with reductions in sociodemographic inequalities in maternal health service utilization in Indonesia. However, significant disparities in utilization persist across regions and by economic group.
Read More
T-7481
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rangga Maher Alfajar; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Prevalensi gangguan depresi dan kecemasan (anxiety) terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dan berkontribusi terhadap beban penyakit. Tingkat utilisasi pasien penderita depresi masih cukup rendah yang mana akan berdampak pada relaps di Indonesia (kambuh) dan penurunan kualitas hidup secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran serta faktor – faktor yang berhubungan dengan utilisasi pelayanan kesehatan RJTL peserta JKN usia dewasa (18 – 59 tahun) penderita depresi dengan komorbid anxiety tahun 2024. Desain penelitian potong lintang dengan menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025. Peserta JKN penderita depresi dengan komorbid anxiety melakukan utilisasi tidak rutin (≤ 4 kali) sebesar 73,4%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p value < 0,05) pada variabel usia, jenis kelamin, hubungan keluarga, status perkawinan, segementasi peserta, regional FKRTL serta tipe dan kepemilikan FKRTL. Faktor utama yang berhubungan adalah tipe FKRTL RS Kelas B (OR = 3,449; 95% CI = 2,293 – 5,188) dan kategori usia dewasa pra lansia ( OR = 1,957; 95% CI = 1,793 – 2,136). Utilisasi layanan RJTL oleh penderita depresi dengan komorbid anxiety di Indonesia masih belum optimal secara nasional meskipun akses layanan melalui skema JKN telah tersedia yang menunjukkan bahwa banyak pasien tidak mendapatkan pemantauan secara konsisten. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko relaps (kambuh) dan penurunan kualitas hidup pasien secara signifikan.

The prevalence of depression and anxiety disorders continues to increase every year and contributes to the burden of disease. The level of healthcare utilization among patients with depression is still relatively low, which may lead to relapse and a significant decline in quality of life in Indonesia. This study aimed to describe and identify the factors associated with the utilization of referral outpatient healthcare services among adult JKN participants (18–59 years old) with depression and comorbid anxiety in 2024. This study used a cross-sectional design with the 2025 BPJS Kesehatan Sample Data. Among JKN participants with depression and comorbid anxiety, 73.4% utilized healthcare services irregularly (≤ 4 visits). Bivariate analysis showed significant relationships (p-value < 0.05) between healthcare utilization and the variables of age, gender, family relationship, marital status, participant segmentation, FKRTL regional classification, as well as the type and ownership of FKRTL. The main associated factors were Class B hospitals (OR = 3.449; 95% CI = 2.293–5.188) and pre-elderly adult age group (OR = 1.957; 95% CI = 1.793–2.136). The utilization of referral outpatient healthcare services by patients with depression and comorbid anxiety in Indonesia is still not optimal at the national level. Although access to healthcare services through the JKN scheme is already available, the level of adherence to routine visits remains low, indicating that many patients do not receive consistent monitoring. This condition may increase the risk of relapse and significantly reduce patients’ quality of life.
Read More
S-12227
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tsabitah Addinni; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Ede Surya Darmawan, Maria Hotnida
Abstrak:

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab kematian keempat tertinggi di dunia, dengan total sekitar 3,5 juta kematian pada tahun 2021 menurut data WHO. Jumlah ini setara dengan 5% dari seluruh kematian global. Di Indonesia, PPOK termasuk dalam 20 besar penyakit dengan kunjungan rawat jalan tingkat lanjut (RJTL) terbanyak berdasarkan ICD selama delapan tahun terakhir, dari 2017 hingga 2024. Mengingat PPOK adalah penyakit kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang dan stabil, integrasi layanan primer dan lanjutan menjadi kunci keberhasilan pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan layanan kesehatan tingkat primer dan lanjutan oleh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menderita PPOK di Indonesia, serta faktor-faktor yang memengaruhinya berdasarkan karakteristik predisposisi, kemampuan, dan sistem pelayanan kesehatan. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Total sampel yang dianalisis adalah 5.281 sebelum pembobotan. Analisis data dilakukan menggunakan tabulasi silang, uji chi-square, dan regresi logistik multinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan kesehatan oleh penderita PPOK didominasi oleh layanan tingkat primer (73,3%). Pemanfaatan layanan tingkat lanjut saja lebih tinggi (16%) dibandingkan dengan integrasi layanan primer dan lanjutan (10,6%). Ditemukan bahwa karakteristik predisposisi, kemampuan, dan sistem pelayanan kesehatan berhubungan secara signifikan dengan pola pemanfaatan layanan kesehatan tingkat primer dan lanjutan pada penderita PPOK di Indonesia. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan pelayanan penapisan dan program rujuk balik (PRB), penerapan pendekatan pelayanan yang holistik, serta integrasi yang lebih kuat antara layanan primer dan lanjutan untuk meningkatkan efektivitas penatalaksanaan PPOK.

Kata kunci: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), Utilisasi Pelayanan Kesehatan, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Data Sampel BPJS Kesehatan


Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is the fourth leading cause of death globally, with approximately 3.5 million deaths reported in 2021, according to WHO data. This figure accounts for around 5% of all global deaths. In Indonesia, COPD has consistently ranked among the top 20 diseases with the highest number of advanced outpatient visits (RJTL) based on ICD data from 2017 to 2024. Given that COPD is a chronic condition requiring long-term and stable management, integration between primary care services and advanced care services is essential to ensure comprehensive disease management. This study aims to examine the pattern of primary and advanced healthcare service utilization among participants of the National Health Insurance (JKN) who suffer from COPD in Indonesia, and to identify influencing factors based on predisposing characteristics, enabling resources, and the healthcare system. The research used a quantitative cross-sectional design, utilizing the 2024 Sample Data from BPJS Kesehatan. A total of 5,281 samples were analyzed prior to weighting. Data analysis was conducted using cross-tabulation, chi-square tests, and multinomial logistic regression. The findings reveal that healthcare service utilization by COPD patients is predominantly at the primary care level (73.3%). The utilization of advanced care services alone (16%) was higher than the integrated healthcare services (10.6%). It was also found that predisposing characteristics, enabling factors, and the healthcare system were significantly associated with the pattern of healthcare utilization among COPD patients in Indonesia. These findings highlight the importance of strengthening early diagnostic capacity for COPD at primary healthcare facilities, implementing a holistic service approach, and enhancing integration between primary and advanced care to improve the effectiveness of COPD management. These findings highlight the importance of strengthening screening services and the Back Referral Program (PRB), implementing a holistic approach to care, and fostering stronger integration between primary and secondary care services to enhance the effectiveness of COPD management.

Read More
S-11977
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive