Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rizki Iwari Saputra; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Yuni Kusminanti, Muhamad Fertiaz
Abstrak:
Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2021 terdapat kasus 234.370 kasus, dengan kontribusi terbesar dari sektor manufaktur dan konstruksi sebesar 22,3%, Sebagian besar kecelakaan kerja dan perilaku yang tidak aman disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengidentifikasi bahaya dan kesalahan persepsi terhadap penerapan K3. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerapan K3 pada karyawan PT XYZ tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah desain cross-sectional. Studi ini melibatkan 143 karyawan yang diminta untuk mengisi kuisioner yang diberikan kepada mereka. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian karyawan mempunyai persepsi yang baik terhadap penerapan K3 yaitu sebesar 50,3%, sedangkan 49,7% responden mempunyai persepsi yang buruk terhadapa penerapan K3. Nilai p dari hasil uji korelasi antara faktor-faktor yang berhubungan dengan penerpan K3 antara lain masa kerja (0,507), Pendidikan (0,131), sikap K3(<0,001), Pengetahuan K3 (0,001), Pelatihan K3 (0,004), dan Ketersediaan sarana dan prasarana K3(0,04). Kesimpulan disimpulkan faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerpan K3 pada karyawan di PT XXY adalah sikap K3, pengtahuan K3, pelatihan K3, ketersedian sarana dan prasarana sehingga perusahaan perlu meningkatkan pemahaman dan pelatihan kepada karyawan dengan program-program K3 yang lebih efektif

Based on BPJS Employment data in 2021, there were 234,370 cases, with the largest contribution from the manufacturing and construction sector at 22.3%, Most work accidents and unsafe behavior are caused by the inability to identify hazards and misperceptions of OHS implementation. This research aims to identify factors related to perceptions of OHS implementation among PT XYZ employees in 2024. The method used in this research is a cross-sectional design. This research involved 143 employees who were asked to fill out a questionnaire given to them. Data analysis was carried out using the Chi-square test. The research results show that some employees have a good perception of the implementation of K3, namely 50.3%, while 49.7 respondents had a Badperception of the implementation of OHS. The p-value from the correlation test results between factors related to the implementation of OHS includes work experience (0.507), education (0.131), OHS attitude (<0.001), OHS knowledge (0.001), OHS training (0.004), and availability of facilities. and OHS infrastructure (0.04). In conclusion, the factors related to the perception of OHS implementation among PT XXY employees are OHS attitudes, OHS knowledge, OHS training, availability of facilities and infrastructure so that the company needs to increase employee understanding and training more effectively OHS programs.
 
Read More
T-7143
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisya Mauliana Maharani; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Stevan D. Anbiya, Laksita Ri Hastiti, Abdul Rasyid, Sarah Safira
Abstrak:
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam industri manufaktur yang memiliki risiko kecelakaan kerja tinggi. Perilaku tidak aman masih menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja, sehingga implementasi program K3 yang efektif diperlukan untuk membentuk Perilaku Safety pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara implementasi program K3 dengan Perilaku Safety pekerja di PT X Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Metode pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan metode purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur implementasi program K3 berdasarkan tujuh elemen inti Occupational Safety and Health Administration (OSHA 3885), yaitu kepemimpinan manajemen, partisipasi pekerja, identifikasi dan penilaian bahaya, pencegahan dan pengendalian bahaya, pendidikan dan pelatihan, evaluasi dan perbaikan program, serta komunikasi dan koordinasi. Perilaku Safety diukur melalui dimensi safety compliance dan safety participation. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman untuk Implementasi Program K3 berdasarkan OSHA 3885 dan Chi-Square untuk Karakteristik Pekerja. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara implementasi program K3 dengan Perilaku Safety kerja pekerja (ρ = 0,743; p < 0,001). Seluruh elemen implementasi program K3 juga menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan dengan Perilaku Safety kerja, meliputi kepemimpinan manajemen (ρ = 0,685; p < 0,001), partisipasi pekerja (ρ = 0,640; p < 0,001), identifikasi dan penilaian bahaya (ρ = 0,696; p < 0,001), pencegahan dan pengendalian bahaya (ρ = 0,662; p < 0,001), pendidikan dan pelatihan (ρ = 0,710; p < 0,001), serta evaluasi dan perbaikan program (ρ = 0,714; p < 0,001). Sementara itu, hasil uji statistik pada variabel karakteristik pekerja menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, masa kerja, maupun pengalaman kerja terhadap Perilaku Safety kerja (p > 0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi program K3 yang baik berhubungan erat dengan peningkatan Perilaku Safety pekerja, terlepas dari latar belakang demografis individu tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem manajemen K3 di PT X telah berhasil menstandarisasi Perilaku Safety di seluruh lapisan pekerja. Oleh karena itu, penguatan komitmen manajemen, peningkatan partisipasi pekerja, serta pelaksanaan pelatihan dan evaluasi program K3 secara berkelanjutan perlu terus dilakukan guna membangun budaya keselamatan kerja yang efektif dan berkelanjutan.

Occupational Health and Safety (OHS) is a crucial aspect of the manufacturing industry, which is characterized by a high risk of workplace accidents. Unsafe behavior remains a major contributing factor to occupational accidents; therefore, the effective implementation of OHS programs is essential to promote workers’ Perilaku Safety. This study aimed to analyze the relationship between the implementation of OHS programs and workers’ Perilaku Safety at PT X, Bekasi Regency. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Data were collected using a questionnaire measuring the implementation of OHS programs based on the seven core elements of the Occupational Safety and Health Administration (OSHA 3885), namely management leadership, worker participation, hazard identification and assessment, hazard prevention and control, education and training, program evaluation and improvement, and communication and coordination. Perilaku Safety was assessed through two dimensions: safety compliance and safety participation. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test for OHS program implementation based on OSHA 3885 and the Chi-square test for worker characteristics. The results indicated a strong and significant positive relationship between OHS program implementation and workers’ Perilaku Safety (ρ = 0.743; p < 0.001). All elements of OHS program implementation also demonstrated strong and significant relationships with Perilaku Safety, including management leadership (ρ = 0.685; p < 0.001), worker participation (ρ = 0.640; p < 0.001), hazard identification and assessment (ρ = 0.696; p < 0.001), hazard prevention and control (ρ = 0.662; p < 0.001), education and training (ρ = 0.710; p < 0.001), and program evaluation and improvement (ρ = 0.714; p < 0.001). Meanwhile, statistical analysis of worker characteristics showed no significant relationships between age, gender, education level, length of service, or work experience and Perilaku Safety (p > 0.05). In conclusion, effective implementation of OHS programs is strongly associated with improved workers’ Perilaku Safety, regardless of individual demographic backgrounds. This finding suggests that the OHS management system at PT X has successfully standardized Perilaku Safety across all levels of workers. Therefore, strengthening management commitment, enhancing worker participation, and continuously implementing training and evaluation of OHS programs are essential to fostering an effective and sustainable safety culture.
Read More
T-7485
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive