Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hendrik Permana; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Dadan Erwandi, Tri Noviati, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak: ABSTRAK Kejadian kebakaran rumah sakit masih merupakan salah satu bencana yang cukup tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kegagalan dalam merespon keadaan darurat kebakaran dapat menimbulkan kerugian yang besar bahkan kehilangan nyawa. Sumberdaya manusia yang ada, struktur organisasi, tingkat kompleksitas bangunan, karakteristik pasien, masing masing membawa potensi bahaya yang harus dikelola dengan baik. Sehingga diperlukan usaha secara berkelanjutan untuk memastikan semua karyawan RS, sarana dan prasarana serta manajemen dapat merespon keadaan darurat kebakaran dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesiapsiagaan dan manajemen kegawatdaruratan Rumah Sakit Umum Pasar Rebo terhadap bahaya kebakaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis dengan melihat gambaran persepsi karyawan terhadap tanggap darurat, kemudian mengevalusi sistem proteksi kebakaran rumah sakit terhadap Peraturan Daerah DKI Jakarta, Peraturan Menteri dan NFPA, selanjutnya menilai indeks keselamatan RS menggunakan hospital safety indeks dari WHO tahun 2015. Penelitian ini dilakukan pada gedung B (8 lantai) dan gedung D (7 lantai + 1 Basement) di Rumah sakit Pasar Rebo Jakarta Timur. Hasil penelitian mengambarkan mayoritas responden (67,7%) mempunyai persepsi baik terhadap tanggap darurat kebakaran di Rumah Sakit Pasar Rebo. Kebijakan rumah sakit, komitmen manajemen dan pentingnya simulasi serta pelatihan kebakaran merupakan hal yang berhubungan secara signifikan untuk meningkatkan persepsi baik karyawan terhadap tanggap darurat kebakaran RS. Nilai sistem proteksi kebakaran gedung B sebesar 78,5% sesuai dengan standar, sedangkan gedung D 64,5% sesuai dengan standar. Komponen kritikal yang perlu ix Universitas Indonesia mendapatkan perhatian pihak rumah sakit agar meningkatkan pemenuhan standar yang ada adalah perbaikan instalasi pompa kebakaran pada gedung D, kompartemenisasi ruang pada gedung, Penghalang api dan asap pada gedung, Perlindungan bukaan vertikal, akses pemadam kebakaran ke lingkungan rumah sakit dan ruang pengendalian operasi. Hasil perhitungan indeks keselamatan Rumah Sakit Pasar Rebo secara keseluruhan berada pada nilai 0,70 (kategori A) artinya Rumah Sakit Pasar Rebo dapat melindungi manusia di dalamnya dan dinilai dapat tetap berfungsi dalam situasi bencana. Komponen yang perlu mendapatkan perhatian RSUD Pasar Rebo guna meningkatkan indeks keselamatan rumah sakit adalah perbaikan dalam elemen-elemen manajemen kegawatdaruratan dan bencana. Kata kunci: kesiapsiagaan; kebakaran; Rumah sakit. Hospital fire incident is still one of the high disaster in both domestic and abroad. Failure to respond to a fire emergency can result in large losses and even loss of life. Existing human resources, organizational structure, level of building complexity, patient characteristics, each carrying potential dangers that must be managed properly. It is therefore necessary to continuously make efforts to ensure that all hospital employees, facilities and infrastructure, and management can respond to a fire emergency situation well. This study aims to determine the description of preparedness and management of Pasar Rebo Hospital's against fire hazard. This research is a descriptive analysis study by looking at the employee's perception of the emergency response, then evaluating the hospital fire protection system to the DKI Jakarta Regulation, the Minister of Public Works and NFPA Regulation, then assessing the hospital safety index using WHO hospital safety index in 2015. This Research is done in Pasar Rebo Hospital of East Jakarta, covering building B (8 floor building) and building D (7 floor + 1 Basement building). The result of the research shows that the majority of respondents (67,7%) have good perception on fire emergency response in Pasar Rebo General Hospital. Hospital policies, management and simulation commitments and fire training are important to improve employee perceptions of hospital fire emergency response. Building fire protection system B 78.5% in accordance with the standard, while building D 64.5% in accordance with the standard. Critical components that need to get the hospital's attention to improve compliance with existing standards include repair of fire pump installations in Building D, compartmentalization of building space, Fire barriers and smoke on buildings, Vertical openings protection, fire-fighting access to hospital environment and control rooms operation. xi Universitas Indonesia The result of the hospital safety index calculation of Pasar Rebo Hospital as a whole is at a value of 0.70 (category A) meaning that Pasar Rebo hospital can protect people in it and be assessed to remain functioning in disaster situations. The components that need to get the attention of Pasar Rebo Hospital to improve the hospital safety index are improvements in emergency and disaster management elements. Keywords: preparedness; fire; hospital.
Read More
T-5198
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayesha Nuraini; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Zakianis, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi dalam menghadapi bencana banjir saat pandemi COVID-19 yang diukur berdasarkan empat parameter yaitu a) parameter pengetahuan dan sikap tentang risiko bencana; b) parameter rencana tanggap darurat bencana banjir; c) parameter sistem peringatan bencana banjir; dan d) parameter mobilisasi sumber daya. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan metode kualitatif. Sebanyak 150 rumah tangga menjadi sampel dalam penelitiaan ini. Terdapat juga 3 informan yang diwawancari untuk mendapatkan gambaran lebih dalam mengenai lokasi penelitian. Data yang didapatkan dari rumah tangga melalui kuesioner dianalisis dengan analisa univariat dan analisa indeks kesiapsiagaan.
Read More
S-10770
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Avinia Ismiyati; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, Berton Suar Panjaitan, Aminah
Abstrak: Kota Palu dan Gorontalo adalah ibu kota provinsi yang terletak di Pulau Sulawesi, Indonesia. Di tahun 2018, Kota Palu mengalami bencana, gempa, tsunami danfenomena likuifaksi yang menyebabkan ribuan orang meninggal dunia dan ratusan ribu orang harus mengungsi. Potensi bencana dan keadaan darurat ini juga berpotensi terhadap Kota Gorontalo yang secara geografis tidak berbeda dengan Kota Palu. Kejadian bencana alam tersebut memberikan dampak terhadap tenaga kerja dan perusahaan, termasuk industri perhotelan Tidak hanya bencana alam, keadaan darurat di industri perhotelan juga dapat terjadi akibat bencana nonalam maupun bencana sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesiapsiagaan keadaan darurat dan bencana khususnya di bidang perhotelan yang berada di Kota Palu dan Gorontalo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang diadopsi dari APEC tourism risk management dan tourism resilience index. Focus Group Discussions dan Wawancara juga dilakukan untuk mengeksplorasi implementasi manajemen keadaan darurat dan bencana di tempat kerja. Hasil analisis korespondensi berganda faktor kesiapsiagaan manajemen keadaan darurat dan bencana pada hotel di Kota Palu relatif lebih dekat dengan kategori variabel sedang dibandingkan dengan Kota Gorontalo yang relatif cenderung berada pada kategori rendah untuk di seluruh variabel penelitian. Berdasarkan hasil tersebut, peran serta sektor private dan pemerintah sangat diperlukan untuk membangun sinergisitas program disaster risk reduction baik skala lokal maupun nasional.
Palu and Gorontalo cities are provincial capitals located on Sulawesi Island, Indonesia. In 2018, the city of Palu was hit by the earthquake, tsunami disaster and liquefaction which a phenomenon that caused thousands of people to lose the world and thousands of people had to be displaced. Potential disasters and emergencies also discussed Gorontalo City which is different from Palu City. Natural disasters have an impact on workers and companies, including the hospitality industry. Not only natural disasters, emergency situations in the hotel industry can also occur due to non-natural disasters or social disasters. This study aims to increase the level of emergency and disaster preparedness in the hotel sector in Palu and Gorontalo. The method used in this study is a questionnaire adopted from APEC tourism risk management and tourism resilience index. Focus Group Discussions and Interviews were also conducted to discuss the implementation of emergency and disaster management in the workplace. The results of the multiple correspondence analysis of emergency preparedness and disaster management factors in hotels in Palu are relatively closer to the medium rating, while the emergency and disaasters preparedness factors in Gorontalo were relatively on the low categories for research variables. Based on these results, the participation of the private sector (hospitality industry) and the government is needed to build synergy in disaster risk reduction programs both locally and nationally
Read More
T-5978
Depok : FKM UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Yuliani; Pembimbing: Wahyu Sulistyadi; Penguji: Ede Surya Darmawan, Adang Bachtiar, Ferdy Tiwow, Alexander K. Ginting
Abstrak: Kemampuan rumah sakit untuk bertahan dan menjalankan fungsinya sebagai penyedia layanan kesehatan kepada masyarakat menghadapi tantangan dalam situasi darurat dan bencana. Rumah sakit harus mampu menghadapi pandemi COVID-19 dan bertahan sebagai salah satu bagian sentral dari ekosistem kesehatan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis respon Rumah Sakit Awal Bros Batam terhadap pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam, telaah dokumen, observasi dan focus group discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum rumah sakit dinilai memiliki tingkat kesiapsiagaan yang adekuat untuk berespon terhadap COVID-19. Komponen yang memiliki performa kurang baik adalah Komponen Kesehatan kerja, kesehatan mental, dan dukungan psikososial; Komponen Manajemen Pasien, dan Komponen Surge Capacity. Rumah sakit belum memiliki program kesehatan mental karyawan yang komprehensif terutama bagi tenaga kesehatan yang menangani COVID-19. Penggunaan terapi baru yang belum terdaftar juga belum dilakukan pemantauan dan kajian dilema etik dengan mengembangkan protokol pemantauan terapi. Selain itu, rumah sakit juga belum melakukan penetapan jumlah optimal sumber daya yang dibutuhkan untuk menghadapi kemungkinan kapasitas lonjakan di masa mendatang. Kesiapsiagaan dan respon rumah sakit terhadap pandemi tentunya harus dapat dipertahankan, ditingkatkan, dan dievaluasi sehingga disusunlah strategi mitigasi risiko prioritas yang menitikberatkan pada subkomponen yang memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) paling tinggi. Selain strategi mitigasi risiko, telah disusun pula serangkaian Key Performance Outcome Indicator yang akan digunakan untuk melakukan pengukuran dan pemantauan keberhasilan rumah sakit dalam bersiapsiaga, berespon terhadap pandemi COVID-19 dan mempertahankan keberlangsungan bisnis operasionalnya. Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang status kesehatan mental tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit pada masa pandemi COVID-19 serta analisis hubungannya dengan status kesiapsiagaan rumah sakit serta melakukan evaluasi dari pemantauan penggunaan obat yang tidak terdaftar dan dampaknya terhadap outcome pasien COVID-19
Hospital ability to survive and maintain its function as a health service provider to the community faces challenges in emergency and disaster situations. Hospitals must be able to deal with the COVID-19 pandemic and survive as a central part of the health ecosystem. This research was conducted to analyze Awal Bros Batam Hospital responses to the COVID-19 pandemic. This study used a qualitative approach with a case study design through in-depth interviews, document review, observation, and focus group discussion (FGD). The results showed that in general, hospitals were considered to have an adequate level of preparedness to respond to COVID-19. Underperforming components are the components of Occupational Health, Mental Health, And Psychosocial Support; Patient Management Components, and Surge Capacity Components. The hospital have not develop a comprehensive employee mental health program, especially for health workers who handle COVID-19 patients. The use of new unregistered has also not been adequately monitored and studied ethical dilemmas by developing therapy monitoring protocols. Besides, the hospital has not determined the optimal amount of human resources needed to deal with possible future capacity spikes. Hospital preparedness and response to pandemics must of course be maintained, improved, and evaluated so that a priority risk mitigation strategy is formulated that focuses on the subcomponent that has the highest Risk Priority Number (RPN) value. In addition to risk mitigation strategies, a series of Key Performance Outcome Indicators have also been prepared which will be used to measure and monitor the success of hospitals in preparing, responding to the COVID-19 pandemic, and maintaining the sustainability of its operational business. Further research is needed on the mental health status of health workers working in hospitals during the COVID-19 pandemic and its relationship with hospital preparedness status, also research to evaluate the unregistered drug use monitoring and its impact on COVID-19 patient outcomes
Read More
B-2172
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Lazuardi Pradivta Komara; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Bagus Tjahyono, Retno Anggraini
Abstrak: Indonesia menurut Geografi, geologi, hidrologi dan demografi merupakan negara yangrawan bencana baik dari bencana alam, non alam hingga faktor manusia. Salah satupermasalahan akibat bencana adalah pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit. Masalahutama dari rumah sakit ketika terjadi bencana yaitu keberadaan kesiapan structural, non-struktural hingga kapasitas fungsional banyak yang tak berfungsi. Pan American HealthOrganization (PAHO) dan World Health Organization (WHO) telah mengembangkanHospital Safety Index (HSI) yang merupakan tools internasional dimana telah divalidasiuntuk penilaian standar dan perbandingan keselamatan rumah sakit . Tujuan penelitianini adalah mengetahui kesiapan siagaan rumah sakit di wilayah kota/kabupaten Cirebon& kabupaten Indramayu dalam menghadapi bencana. Penelitian ini menggunakan desaindeskriptif dengan metode semi kuantitatif. Populasi yang diambil adalah 5 RSUD dikota/kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu. Data yang digunakan adalah dataprimer yang berasal dari tools HSI dengan metode wawancara, observasi serta checklistdan data sekunder berupa penelaahan dokumen serta arsip serta data lainnya dari internet.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa RSUD A mendapat skor 0,57, RSUD Bskor 0,76, RSUD C skor 0,70, RSUD D skor 0,79 dan RSUD E skor 0,41. Hasil yangdiperoleh tersebut menyatakan bahwa sebanyak 3 rumah sakit yakni RSUD B, C dan Dmasuk kategori siap siaga ketika keadaan darurat sementara 2 rumah sakit lainnya yaituRSUD A dan E perlu untuk perbaikan dalam jangka pendek agar kondisinya sama.Kata kunci : Bencana, Kesiapsiagaan Rumah Sakit, SafetyAnalisis index..., Muhamad Lazuardi Pradivta Komara, FKM UI, 2018
Indonesia according to Geography, geology, hydrology and demography is a disaster-prone country both from natural disasters, non-natural and human factors. One of theproblems caused by disasters is health services including hospitals. The main problem ofhospitals in the event of a disaster is the existence of structural, non-structural readinessto functional capacities that do not work. The Pan American Health Organization (PAHO)and the World Health Organization (WHO) have developed the Hospital Safety Index(HSI) which is an international tool that has been validated for standard assessment andhospital safety comparison. The purpose of this research is to know the preparedness ofhospital in Cirebon & Indramayu district in the face of disaster. This research usesdescriptive design with semi quantitative method. Population taken is 5 RSUD in town /regency of Cirebon and Regency of Indramayu. The data used are primary data derivedfrom HSI tools with the method of interviewing, observation and checklist and secondarydata in the form of review documents and archives and other data from the internet. Basedon the results obtained that RSUD A got a score of 0.57, RSUD B score 0.76, RSUD Cscore of 0.70, RSUD D score 0.79 and RSUD E score of 0.41. The result obtained statesthat as many as 3 hospitals, RSUD B, C and D are categorized as standby whenemergency while 2 other hospitals that are RSUD A and E need for improvement in theshort term so that the condition is same.Keywords: Disaster, Hospital Preparedness, Safety.
Read More
T-5199
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqi Ulla Amalliah; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Chandra Satrya, Ridwan Zahdi Sjaaf, Devie FitriOctaviani
Abstrak: Abstrak

Tesis ini membahas tentang kesiapsiagaan rumah sakit PKU Muhammadiyah Unit I Yogyakarta dalam menghadapi bencana alam gempa bumi. Penelitian kesiapsiagaan rumah sakit ini mengacu pada Hospital Safety Index yang disusun oleh Pan American Health Organization (PAHO). Penelitian ini dilakukan dengan pengisian cheklist, wawancara, dan observasi terhadap sarana dan fasilitas di rumah sakit. Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jumlah Safety Index RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I dalah 0,63. Dengan demikian maka RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I termasuk dalam klasifikasi B, dengan implementasi bahwa rumah sakit dapat bertahan dalam situasi bencana, tetapi masih berpotensi risiko mengalami kegagalan dalam menghadapi bencana.


This thesis discusses about hospital preparedness PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I in the face of natural disasters earthquakes. Hospital preparedness research refers to the Hospital Safety Index compiled by the Pan American Health Organization (PAHO). The research was conducted by charging checklist, interviews, and observations of the equipment and facilities at the hospital. The study design is a qualitative descriptive study. The results showed that the number of PKU Muhammadiyah Hospital Safety Index Yogyakarta Unit I is 0.63. Thus, the RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I is included in the classification of B, with implementations that hospitals can survive in a disaster, but it still has the potential risk of a failure in the face of disaster.

Read More
T-3887
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erika Agustina Kasdjono; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Surya Ede Darmawan, Wahyu Sulistiadi, Supriyantoro; Erik Winaro
Abstrak:
Latar Belakang: Indonesia berada pada posisi yang rawan terjadinya bencana. DKI Jakarta terletak di dataran rendah dengan indeks potensi bencana kategori sedang (skor 60.43) dan dengan pembangunan yang pesat. Pada keadaan darurat dan bencana, Rumah sakit diharapkan siap untuk mempertahankan lingkungan yang aman bagi pasien dan staf, serta menyediakan kebutuhan medis korban dalam menghadapi bencana. Oleh karena itu, rumah sakit harus dipastikan dalam kondisi aman dan memiliki rencana kesiapsiagaan dalam menanggulangi kegawatdaruratan dan bencana. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan Hospital Safety Index yang dikeluarkan oleh WHO dan PAHO yang merupakan alat penilaian kesiapsiagaan Rumah Sakit. Lokasi penelitian di Rumah Sakit Siloam TB Simatupang merupakan Rumah Sakit tipe B berada di provinsi DKI Jakarta dengan bentuk bangunan tinggi terdiri dari 21 lantai, dilalui oleh Sungai Krukut dan berada di area sentra bisnis Jakarta Selatan. Hasil: Berdasarkan 3 (tiga) kriteria penilaian Hospital Safety Index pada penelitian ini didapatkan hasil nilai kesiapsiagaan struktural sebesar 0,88, nilai kesiapsiagaan non struktural sebesar 0,65, serta nilai kesiapsiagaan manajemen kegawat daruratan dan bencana sebesar 0,93. Kesimpulan: Secara keseluruhan nilai kesiapsiagaan RS Siloam TB Simatupang sebesar 0,82, termasuk pada Tipe A yang berarti rumah sakit sudah siap dalam keadaan darurat dan bencana.

Background: Indonesia is in a position that is prone to disasters. DKI Jakarta is located in the lowlands with a moderate category of disaster potential index (score 60.43) and with rapid development. In emergencies and disasters, hospitals are expected to be ready to maintain a safe environment for patients and staff, as well as provide for the medical needs of victims in the face of disasters. Therefore, hospitals must be ensured to be in a safe condition and have a preparedness plan in dealing with emergencies and disasters. Methods: This research is a qualitative study using the Hospital Safety Index issued by WHO and PAHO which is a tool for assessing hospital preparedness. The research location at Siloam TB Simatupang Hospital is a type B hospital in the province of DKI Jakarta with a tall building consisting of 21 floors, traversed by the Krukut River and located in the South Jakarta business center area. Results: Based on the 3 (three) Hospital Safety Index assessment criteria in this study, the results obtained were a structural preparedness value of 0.88, a non-structural preparedness value of 0.65, and an emergency and disaster management preparedness value of 0.93. Conclusion: Overall, the preparedness score for Siloam TB Simatupang Hospital is 0.82, including Type A, which means that the hospital is ready for emergencies
Read More
B-2320
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nahda Salimah; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Ascobat Gani, Devy Pelansiani, Encep Hermawan
Abstrak: Kebijakan komunikasi risiko yang tertuang dalam Pedoman Komunikasi Risiko untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan menjadi topik yang perlu diperhatikan sebab Indonesia merupakan negara yang sering mengalami bencana alam dan sedang mengalami bencana non-alam yaitu Pandemi COVID-19. Ada perbedaan komunikasi risiko pada penanganan COVID-19 di daerah rawan bencana. Hal ini di sebabkan ada dua ancaman sekaligus di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan komunikasi risiko dalam penanganan dan pengendalian COVID-19 di daerah rawan bencana. Penelitian ini berupa penelitian kuantitatif dan kualitaif. Desain penelitian adalah Cross Sectional dengan jumlah sampel 451 responden di Wilayah Kabupaten Pandeglang dan menggunakan teknik random sampling. Metode pengumpulan data dengan kuesioner. Metode pengumpulan data yang kedua dengan cara wawancara mendalam. Wawancara mendalam dilakukan ke 4 informan yang berasal dari BPBD Wilayah Kabupaten Pandeglang dan Dinas Kesehatan Wilayah Kabupaten Pandeglang. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan masyarakat mengenai COVID-19 dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam, karena p sebesar 0,002 (p value < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan dalam pelaksanaan kebijakan, namun perlu adanya pertimbangan perubahan dalam isi Pedoman Komunikasi Risiko untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan dan memperhatikan ketersediaan anggaran khususnya anggaran program bencana alam
Read More
T-6428
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohamad Rojakoh; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Dadan Erwandi, Amiruddin M. Parenreng, Wahyudin
Abstrak:
Kebakaran kapal masih menjadi penyumbang kecelakaan yang cukup signifikan di Judul Tesis Indonesia dan di luar negeri. Kegagalan dalam memberikan respon keadaan darurat kebakaran dapat menimbulkan kerugian yang besar seperti kerusakan property, pencemaran lingkungan, rusaknya reputasi bahkan kehilangan nyawa. Diperlukan usaha secara berkelanjutan untuk memastikan kesiapan awak kapal, program-program, sarana dan prasarana serta manajemen dapat merespon keadaan darurat kebakaran dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang kesiapsiagaan keadaan darurat kebakaran dikapal tunda berdasarkan regulasi SOLAS CHAPTER II-2 dan regulasi pendukungnya seperti ISM Code Chapter 8, SOLAS Chapter ( III, IV dan V ) di perusahaan PT. ABC pada tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan cara melakukan analisa data sekunder yang ada di PT. ABC terhadap regulasi SOLAS dan ISM Code, selanjutnya adalah memberikan rekomendasi dari hasil analisa tersebut. Hasil penelitian menunjukan nilai poesentase untuk program-program tanggap darurat terutama diprogram identifikasi bahaya kebakaran adalah 50% tingkat pemenuhanya terhadap standar, untuk sarana dan prasarana

Ship fires are still a significant contributor to accidents in Indonesia and abroad. Failure to respond to a fire emergency can cause great losses such as damage to property, pollution of the environment, damage to reputation and even loss of life. Continued efforts are needed to ensure the readiness of the crew, programs, facilities and infrastructure as well as management can respond to fire emergencies properly. This study aims to explain the preparedness of a fire emergency on a delay ship based on SOLAS CHAPTER II-2 regulations and supporting regulations such as ISM Code Chapter 8, SOLAS Chapter (III, IV and V) in the company PT. ABC in 2020. This research is a descriptive analytic study by analyzing secondary data at PT. ABC on the regulation of SOLAS and ISM Code, next is to provide recommendations from the results of the analysis. The results showed the percentage value for emergency response programs, especially programmed fire hazard identification is 50% level of compliance with the standard, for facilities and infrastructure are: 1. Compliance with LSA (Life Saving Appliances) in general from 6 categories already fulfilled, there are categories that fulfill 67%, 2. Compliance with Fire Protection and Fire Fighting Equipment from 11 categories in general has fulfilled there are several categories whose fulfillment is below 100%, Air-recharging system for SCBAs (0%), Self-contained breathing apparatuses (SCBAs) (80%), Fixed fire-detection and alarm systems (60%), Wheeled (mobile) fire extinguishers (71%)  xi  3. Fulfillment of Fixed firefighting systems in general have met, of the 7 categories there are parts that are still below 100%, 4. Fulfillment of radio and navigational equipment there are parts below 100%. In general, the overall level of preparedness for tugboat emergency response at PT. ABC of SOLAS and ISM is in the range of 50-100%, the component that needs attention from management is the availability of tools to conduct inspections, testing and maintenance in accordance with the standards, so that compliance can be maintained and improved continuously.

Read More
T-5955
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Asshafa Firdausi; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Robiana Modjo, Ali Syachrul Chairuman
S-10470
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive