Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dadang Darmawan; Pembimbing: Zarfiel Tafal; Penguji: Yovsyah, Donald Sibarani
Abstrak: Tuberkulosis paru hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Prinsif pengendalian TB Paru adalah menemukan kasus sebanyak-banyaknya dan menyembuhkan semua kasus yang ditemukan. Upaya penemuan kasus baru dilakukan melalui pemeriksaan dahak dari kontak penderita TB Paru BTA positif. Cakupan penemuan kasus TB Paru melalui pemeriksaan dahak di Puskesmas Cileungsi masih rendah 44,24%.
 
Penelitian kuantitatif non eksperimental ini menggunakan pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen (kepatuhan kontak) dan independen sebagai faktor predisposing, enabling dan reinforcing (bivariat) dengan uji statistik menggunakan Chi-square dilanjutkan uji regresi logitik untuk mengetahui faktor yang paling dominan (multivariat). Jumlah sampel 85 responden yang merupakan kontak penderita TB BTA positif yang berobat ke Puskesmas Cileungsi pada trimester pertama 2013.
 
Hasil penelitian ini diketahui tingkat kepatuhan kontak masih rendah 22,4% dengan determinan kepatuhan yang signifikan antara lain tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap yang termasuk predisposing factor. Jarak, waktu tempuh, dan besar biaya yang harus dikeluarkan yang termasuk enabling factor. Dukungan keluarga, masyarakat dan petugas yang termasuk reinforcing factor. Pengetahuan kontak tentang TB merupakan determinan yang paling dominan. Diharapkan dengan diketahuinya determinan kepatuhan kontak menjadi salah satu pertimbangan puskesmas dalam menciptakan terobosan untuk meningkatkan cakupan penemuan kasus TB baru.
 

 
Pulmonary tuberculosis is still a public health problem in Indonesia. Principle of Pulmonary TB control is to find as many cases and cure of all cases are found. Efforts made the discovery of new cases through sputum examination of contacts of smear positive pulmonary TB patients. Coverage of TB case detection by sputum examination at the health center is still low Cileungsi 44.24%.
 
This non-experimental quantitative study using cross-sectional approach to determine the relationship between the dependent variable (compliance contact) and independent as a factor predisposing, enabling and reinforcing (bivariate) by using a statistical test Chi-square test was continued logistic regression to determine the most dominant factor (multivariate ). Total sample of 85 respondents who are contacts of smear positive TB patients treated at the health center Cileungsi in the first trimester of 2013.
 
Results of this study are known contact is low compliance rate of 22.4% with a significant determinant of adherence such as the level of education, knowledge and attitudes that include predisposing factor. Distance, travel time, and the large costs which include enabling factor. Support families, communities and officials including reinforcing factors. Knowledge about TB contact is the most dominant determinant. It is expected that with the known determinants of compliance contacts into one of the considerations in creating breakthrough health centers to improve the coverage of the discovery of new TB cases.
Read More
S-8307
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Al Asyary Upe; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Purwantyastuti, Tris Eryando; Penguji: Sudijanto Kamso, Bambang Supriyatno, Sandi Iljanto, Artha Budi Susila Duarsa, Yodi Mahendradharta
D-316
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meithyra Melviana Simatupang; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitri, Didin Aliyudin, Upi Meikawati
Abstrak: Mycobacterium tuberculosis dilepaskan oleh penderita saat batuk, bersin bahkan ketika berbicara. Durasi dan lamanya paparan kuman TB merupakan faktor penting dalam penularan, terutama pada ruangan tertutup. Maka, orang yang paling rentan tertular adalah kontak serumah penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku dan kondisi lingkungan rumah terhadap adanya gejala TB pada kontak serumah penderita. Penelitian cross-sectional ini dilakukan dengan mewawancarai 73 penderita TB serta kontak serumahnya dan mengobservasi kondisi lingkungan rumahnya. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya gejala TB pada kontak serumah dipengaruhi oleh penderita yang tidak menutup mulut saat batuk/bersin, membuang dahak sembarangan dan kontak serumah yang tidur di ruangan yang sama dengan penderita. Adapun kondisi rumah yang berpengaruh meliputi pencahayaan dan ventilasi yang tidak memenuhi syarat serta kepadatan hunian yang tinggi. Kesimpulannya, perilaku dan kondisi lingkungan rumah berkaitan dengan adanya gejala tuberkulosis pada kontak serumah. Agar tidak terjadi penularan pada kontak serumah, penderita dianjurkan untuk menggunakan masker, kontak serumah tidak boleh tidur bersama penderita. Pencahayaaan dan ventilasi rumah juga harus sesuai syarat rumah sehat untuk mencegah perkembangbiakan mikroorganisme di dalam rumah.
Kata kunci: tuberkulosis, perilaku, lingkungan rumah, kontak serumah

Mycobacterium tuberculosis bacteria exhaled by patients when coughing, sneezing, even speaking. Duration and frequency of exposure is important factor of TB transmission, especially in closed room. Therefore, household contact of TB patient is susceptible. This research aimed to find out the influence of behavior and house environment condition to tuberculosis symptoms existence at household contact of TB patient. This cross-sectional research collected data by interviewed 73 TB patients and their household contact. Then, observation the house environment conditions. Results showed that TB symptoms at household contact was affected by patient behavior to covered mouth when coughing/sneezing, disposed sputum carelessly and household contact behavior who slept in the same room with the patient. While, house condition that affect was not-eligible lighting and ventilation, then high population density. In conclusion, behavior and house environment condition was influenced the existence of TB symptoms at household contact. To avoid tuberculosis transmission, patients is suggested to wear mask and their household contacts should not sleep with them in the same room. Lighting and ventilation also have to comply healthy house requirement to prevent the proliferation of microorganisms in the house.
Keywords: tuberculosis, behavior, house environment, household contact
Read More
T-4811
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferdiana Yunita; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Tris Eryando, Lisa Safira, Endang Lukitosari
Abstrak: TB anak sering terjadi di negara endemis TB dengan kejadian TB dewasayang juga tinggi dan mengakibatkan kematian yang signifikan pada anak. Kontakserumah dengan TB dewasa meupakan salah satu faktor penentu kejadian TBanak. Tujuan penelitian untuk menilai sejauh mana peran kontak serumah TBdewasa dengan kejadian TB anak termasuk seberapa besar risiko kejadian TBanak yang kontak serumah dengan TB dewasa. Pengaruh kontak TB dewasaserumah terhadap kejadian TB anak dianalisa dengan regresi logistik. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa prevalensi TB anak di Indonesia 1,4% danproporsi TB anak yang kontak dengan TB dewasa 4,1% sedangkan proporsi TBanak yang tidak kontak dengan TB dewasa serumah hanya 1,4%. Keberadaan TBdewasa serumah meningkatkan risiko kejadian TB anak sebesar hampir empat kalilipat, selain itu kejadian TB anak juga meningkat pada usia anak 0-2 tahun dan 3-5 tahun, status gizi buruk, sumber kontak serumah saudara kandung dan kepalakeluarga/orang tua, kondisi rumah tidak sehat, lingkungan kumuh, kondisi sosio-ekonomi kuartil terbawah, tinggal di Provinsi Sumatera. Tidak semua anak yangkontak serumah dengan TB dewasa mengalami sakit TB. Status gizi baik, kondisirumah sehat, lingkungan sehat mencegah terjadinya TB anak. Pemahaman faktorpencegah kejadian TB anak yang kontak serumah dengan penderita berimplikasiluas dalam manajemen pencegahan TB anak melalui skrining kontak TB serumahperlu diimplementasikan secara luas dalam rangka menurunkan beban TB anak diIndonesia.Kata kunci: TB anak, faktor risiko, kontak serumah, skrining.
Read More
T-4564
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gea Puteri Utami; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Evi Martha, Sudijanto Kamso, Aprilia Krisliana, Galuh Budhi Leksono Adhi
Abstrak:
Kontak serumah merupakan faktor risiko utama penularan tuberkulosis (TB), dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) diberikan untuk mencegah perkembangan penyakit pada kontak serumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku konsumsi TPT pada kontak serumah di Puskesmas Kota Tangerang Selatan tahun 2024. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus digunakan, melibatkan sepuluh informan utama: delapan keluarga yang menjalani TPT dan dua yang tidak, serta empat kader TB, empat petugas Puskesmas, dan penanggung jawab program TB. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan observasi dari Oktober 2024 hingga Januari 2025, yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar kontak serumah yang menjalani TPT mematuhi tata laksana sesuai standar. Stok obat TPT di Puskesmas terjamin, dan dukungan keluarga serta tenaga kesehatan memadai. Namun, dukungan kader TB masih kurang optimal. Kontak serumah yang tidak menjalani TPT umumnya kurang pengetahuan, dukungan keluarga terbatas, serta kekhawatiran terhadap efek samping dan rendahnya kepercayaan diri. Perilaku konsumsi TPT dipengaruhi oleh persepsi kerentanan, tingkat keparahan penyakit, manfaat terapi, hambatan, dan kepercayaan diri. Dorongan untuk menjalani TPT bersumber dari keluarga, kader, tenaga kesehatan, dan media sosial.

Household contacts are a major risk factor for tuberculosis (TB) transmission, and Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) is given to prevent the progression of TB in household contacts. This study aims to examine the behavior of TPT consumption among household contacts at the public health center in South Tangerang City in 2024. A qualitative approach with a case study design was used, involving ten main informants: eight families undergoing TPT and two families not undergoing TPT, as well as four TB cadres, four Puskesmas staff, and the TB program manager. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, and observations from October 2024 to January 2025, and analyzed thematically. The results showed that most household contacts who underwent TPT adhered to the prescribed standards. The availability of TPT stock at the Puskesmas was guaranteed, and family and healthcare worker support was sufficient. However, support from TB cadres was still suboptimal. Household contacts not undergoing TPT generally lacked knowledge, had insufficient family support, concerns about side effects, and low self-confidence. The behavior of TPT consumption was influenced by perceptions of vulnerability, the severity of the disease, therapy benefits, barriers, and self-confidence. Motivation to undergo TPT came from family, cadres, healthcare workers, and social media.
Read More
T-7256
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Dewi Subandiyah; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Ratna Djuwita, Nastiti Kaswandani; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Titis Prawitasari, Siti Nur Anisah, Nininig Mularsih
Abstrak:

Insidens kasus tuberkulosis (TBC) anak di Indonesia diperkirakan mencapai 11,7% dari total kasus TB. Tidak semua individu terpapar TBC akan menjadi sakit, namun kemungkinan reaktivasi lebih tinggi pada anak , terutama pada anak di bawah lima tahun. Kontak serumah lebih berisiko. Nutrisi baik makro maupun mikro mempengaruhi kejadian TBC pada anak. Studi menyatakan Vitamin D dan Seng berperan dalam peningkatan imunitas. Namun penelitian tentang pemberian suplementasi vitamin D dan Seng serta upaya perbaikan nutrisi dalam pencegahan infeksi TBC pada balita belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian suplementasi dan konseling diet dalam pencegahan infeksi TBC pada balita kontakserumah TBC paru terkonfirmasi bakteriologis di DKI Jakarta. Kami melakukan penelitian quasi eksperimen pada balita kontak serumah TBC paru bakteriologis di 25 kecamatan di DKI Jakarta. Kelompok intervensi diberikan vitamin D 400-600 IU/hari dan Seng 10-20mg/hari tergantung usia selama 3 bulan serta konseling diet pada orang tua. Balita yang masuk dalam sampel adalah balita yang tidak terinfeksi dan atau sakit TBC, tidak gizi buruk, HIV negative dan tidak menderita penyakit kronis lain. Setiap bulan  dilakukan recall diet 24 jam untuk mengukur nutrisi dan status gizi. Setelah 3 bulan akan dihitung balita yang terinfeksi dan tidak dengan menggunakan tes tuberculin. Analisa multivariat dilakukan dengan GEE. Berdasarkan hasil penelitian, insidenss kumulatif infeksi TBC pada kelompok intervensi 5% sedangkan pada kelompok kontrol 23%. Pemberian intervensi meningkatkan konsumsi vitamin D pada balita yakni dari 3 mcg menjadi 14,9 mcg dan Seng 3.8 mg menjadi 18.2 mg. Pada balita terinfeksi, konsumsi  vitamin D dan Seng lebih rendah. Besarnya risiko kejadian infeksi TBC dengan pemberian intervensi adalah 0.22 kali ( 95% CI 0.08-0.57 p. value 0.002). Pemberian suplementasi vitamin D dan Seng serta konseling diet  menurunkan kejadian infeksi TBC pada balita kontak serumah hingga 78%. Kata Kunci : Infeksi TBC pada balita kontak serumah, suplementasi vitamin D dan Seng, quasi eksperimen, tes tuberculin


 

The incidence of childhood tuberculosis (TB) in Indonesia is estimated to be 11.7% of total TB cases. Not all individuals exposed to TB will become ill, but the likelihood of reactivation is higher in children, especially children under five years old. Household contacts are more at risk. Both macro and mikro nutriens influence the incidence of TB in children. Studies suggest that vitamin D and zinc play a role in boosting immunity. However, research on vitamin D and zinc supplementation and nutritional improvement efforts in preventing tuberculosis infection in children under five years of age has not been conducted. This study aims to determine the effect of supplementation and dietary counseling in preventing TB infection in young children with bacteriologically confirmed pulmonary TB in DKI Jakarta. We conducted a quasi-experimental study among infants with bacteriologically confirmed pulmonary TB home contacts in 25 subdistricts in DKI Jakarta. The intervention group received vitamin D 400-600 IU/day and Zinc 10-20mg/day depending on age for 3 months, as well as nutritional counseling for parents. Included in the sample were infants who were not infected and/or sick with TB, not malnourished, HIV negative, and not suffering from any other chronic diseases. A 24-hour dietary recall to measure diet and nutritional status was conducted every month. After 3 months, infected and uninfected children were counted using the tuberculin test. Multivariate analysis was performed using GEE. Based on the results of the study, the cumulative incidence of TB infection was 5% in the intervention group and 23% in the control group. The intervention increased vitamin D consumption in toddlers from 3 mcg to 14.9 mcg and zinc from 3.8 mg to 18.2 mg. Vitamin D and zinc intake was lower among infected infants. The risk of TB infection with the intervention was 0.22 times (95% CI 0.08-0.57 p. value 0.002). Provision of vitamin D and zinc supplementation and dietary advice reduced the risk of TB infection. Keywords: Infection of TB in Household contact children under five years age, Tuberculin Test, Suplementation of vitamin D and zinc, Quasi experimental studies

Read More
D-550
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive