Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tika Rosita; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Septiara Putri, Donni Hendrawan
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran komponen disain sistem P4P, gambaran indikator kualitas yang digunakan untuk menilai dampak serta gambaran dampak P4P terhadap kualitas layanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan basis data PubMed, Scopus, Proquest dan Science Direct. Hasil pencarian didapatkan 11 literatur yang berasal dari UK, US, Australia, Netherland dan Irlandia. Hasil
 
Read More
S-10690
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asti Annisa Utami; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Prastuti Soewondo, Feby Oldfisra
Abstrak:
Upaya mencapai Universal Health Coverage (UHC) dengan memprioritaskan layanan kesehatan primer (PHC) sudah disepakati melalui Deklarasi Astana Tahun 2018. Identifikasi tantangan dalam sistem pendanaan PHC secara global dilakukan agar menjadi lessons learned untuk perbaikan implementasi kedepan, khususnya bagi Indonesia, sebagai masukan bagi Transformasi Kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode scoping review melalui tiga database, yaitu Pubmed, EBSCOhost MEDLINE, dan Scopus, dengan total 43 literatur terinklusi. Tantangan pendanaan PHC ditinjau melalui tiga fungsi, yaitu revenue collection, pooling, dan purchasing. Tantangan dalam revenue collection antara lain sumber pendanaan yang tidak berkelanjutan dan minimnya akuntabilitas proses pengumpulan dana. Tantangan fungsi pooling meliputi terbatasnya cakupan peserta dalam pooling, banyaknya pooling dan tidak tersedianya regulasi yang mengatur beragam pooling untuk pendanaan satu program yang sama, lebih diutamakannya pendanaan layanan rujukan dibandingkan PHC, dan belum dilakukannya pengalokasian anggaran yang disesuaikan dengan risiko dan kebutuhan. Sementara itu, tantangan fungsi purchasing meliputi paket manfaat yang belum sesuai dengan kebutuhan, beban administratif yang besar untuk purchasing, tata kelola provider dan purchaser yang tidak akuntabel, serta besarnya intervensi politik terhadap keputusan purchaser dalam penentuan paket manfaat. Tantangan pendanaan PHC merupakan suatu satu kesatuan sistem pendanaan, sehingga tantangan yang terjadi di fungsi yang satu akan memengaruhi atau memicu munculnya tantangan di fungsi lainnya. Lessons learned untuk Transformasi Kesehatan Indonesia bahwa penghapusan skema alokasi earmarking perlu diikuti implementasi RIBK yang akuntabel. Indonesia sudah memiliki komitmen politik berupa berbagai regulasi untuk mencapai UHC melalui PHC, tetapi masih perlu memperhatikan dukungan SDM dan infrastruktur lainnya agar regulasi bisa dijalankan di tingkat layanan primer. Selain itu, trade-off antara cakupan penduduk dan cakupan layanan paket manfaat perlu diputuskan dengan berbagai pendekatan yang menjunjung nilai value for money dan tetap mengutamakan investasi ke layanan kesehatan primer.

Efforts to achieve Universal Health Coverage (UHC) by prioritizing primary health care (PHC) have been agreed upon through the 2018 Astana Declaration. Identification of challenges in the PHC financing system globally was carried out to become lessons learned for future implementation improvements, especially for Indonesia, as input for Health Transformation. This study used a scoping review method through three databases, namely Pubmed, EBSCOhost MEDLINE, and Scopus, with a total of 43 included literature. PHC financing challenges were reviewed through three functions, namely revenue collection, pooling, and purchasing. Challenges in revenue collection include unsustainable financing sources and lack of accountability in the fund collection process. Challenges in the pooling function include the limited coverage of participants in the pool, the large number of pools and the unavailability of regulations governing various pools for financing the same program, the prioritization of financing referral services over PHC, and the lack of budget allocation tailored to risk and needs. Meanwhile, the challenges of the purchasing function include benefit packages that are not in accordance with the needs, a large administrative burden for purchasing, unaccountable governance of providers and purchasers, and a large amount of political intervention in purchaser decisions in determining benefit packages. PHC financing challenges are a unified financing system, so challenges that occur in one function will affect or trigger challenges in other functions. Lessons learned for Indonesia's Health Transformation is that the elimination of the earmarking allocation scheme needs to be followed by the implementation of an accountable RIBK. Indonesia already has the political commitment in the form of various regulations to achieve UHC through PHC. Still, it needs to pay attention to HR support and other infrastructure so that regulations can be implemented at the primary care level. In addition, the trade-off between population coverage and benefit package service coverage needs to be decided with various approaches that uphold value for money and still prioritize investment in primary health services.
Read More
S-11667
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dani Ferdian; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Sandi Iljanto, Purnawan Junadi, Mawari Edy, Indah Amelia
Abstrak:

ABSTRAK Nama Program Studi Judul : : : Dani Ferdian Ilmu Kesehatan Masyarakat Analisis Motivasi Kesediaan Mahasiswa Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Dalam Berkarier Di Layanan Kesehatan Primer Tersedianya pelayanan kesehatan primer yang berkualitas dan memadai adalah elemen penting dalam menyukseskan program Jaminan Kesehatan Nasional untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan nasional. Kurangnya minat dari mahasiswa kedokteran dalam memilih karier sebagai dokter yang bekerja di layanan kesehatan primer akan berdampak terhadap kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan nasional. Tujuan penelitian ini adalah diperolehnya informasi mendalam tentang motivasi kesediaan Mahasiswa Program Studi Profesi Dokter (PSPD) Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) dalam berkarier di layanan kesehatan primer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Informan adalah Mahasiswa PSPD FK Unpad periode Februari 2016 – Juli 2017 yang telah melewati stase/rotasi klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat maupun Ilmu Kedokteran Keluarga. Untuk meningkatkan validitas data dilakukan triangulasi sumber, metode, data, dan analisis. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis. Hasil penelitian yang didapatkan melalui 13 wawancara mendalam dan 1 diskusi kelompok terarah menunjukkan bahwa motivasi yang hanya ditemukan pada Mahasiswa PSPD FK Unpad yang tertarik dalam berkarier di layanan kesehatan primer adalah berkaitan dengan beban kerja dan waktu kerja (intrinsic process motivation); nilai orientasi sosial, tanggung jawab, dan kepedulian (goal internalization); konsep diri supel (internal self concept-based motivation); dan penerimaan masyarakat (external self concept-based motivation). Dari hasil ini, FK Unpad diharapkan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa melalui kurikulum dan lingkungan akademis yang mendukung tumbuhnya minat untuk berkarier di layanan kesehatan primer. FK Unpad perlu memperkuat proses pendidikan yang memastikan konsep nilai dapat tumbuh dan berkembang. Proses pendidikan juga wajib memperhatikan role model yang berinteraksi sebagai lingkungan terdekat mahasiswa selama pendidikan berlangsung. FK Unpad bersama Ikatan Alumni dan Organisasi Kemahasiswaan juga perlu menyusun program pengenalan profesi kepada mahasiswa sejak Program Studi Sarjana Kedokteran (PSSK) secara berkala, efektif, dan menarik. Kata kunci: FK Unpad, Layanan Kesehatan Primer, Motivasi, Pemilihan Karier, Pendidikan Dokter


ABSTRACT Name Study Program Title : : : Dani Ferdian Public Health Motivation and willingness to work in primary healthcare service among interns in Faculty of Medicine Padjadjaran University The availability of high quality primary healthcare service is an important factor to improve the National Health Insurance program in Indonesia. Decreasing interest of medical students to work in primary healthcare service would give an impact to the continuity of healthcare system. The aim of this study was to explore the motivation and willingness to work in primary healthcare service among interns in Faculty of Medicine Padjadjaran University. A qualitative approach with in-depth interview and focused group discussion was used in this study. The participants were interns that already finished their rotation in Public Health and Family Medicine course during February 2016 - July 2017. Data validity is examined by triangulation of informant, method, data, and analysis. Data were analyzed by thematic analysis. Thirteen individual in-depth interview and one focused group discussion sessions were conducted. The results showed that participants’ motivation was related to workload and working time (intrinsic process motivation); social orientation value, responsibility, and concern (goal internalization); sociable self-concept (internal self-concept-based motivation); and community acceptance (external self-concept-based motivation). Based on these results, it is important to promote medical students motivation to work in primary healthcare service through regular curriculum and academic environment. The medical faculty should promote growth and developmental value in learning process with good role model as the closest learning experience for students. Together with association of alumni and students organization, Faculty of Medicine Padjadjaran University also need to introduce the career options early in effective ways and a regular period. Key words: Career preference, FK Unpad, medical education, motivation, primary healthcare service

Read More
T-4958
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natasya Zulnita Putri; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Eti Rohati, Muhammad Alfarezi
Abstrak:
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi yang memerlukan pemantauan dan pengobatan secara berkelanjutan melalui layanan kesehatan. Provinsi Jawa Barat memiliki prevalensi hipertensi yang tinggi, yaitu sebesar 34,4% berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan 10,7% berdasarkan diagnosis dokter. Meskipun demikian, pemanfaatan layanan kesehatan primer pada penderita hipertensi masih belum optimal dan menunjukkan adanya kesenjangan antar kelompok masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan kesehatan primer serta ketimpangan pemanfaatannya pada penderita hipertensi usia ≥18 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi, bivariat menggunakan uji chi-square, multivariat menggunakan regresi logistik ganda, serta analisis ketimpangan menggunakan Concentration Index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4.357 penderita hipertensi usia ≥18 tahun, sebanyak 40,6% memanfaatkan layanan kesehatan primer dan 59,4% tidak memanfaatkannya. Faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan kesehatan primer meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kepemilikan jaminan kesehatan, status sosial ekonomi, komorbiditas, dan status gizi (IMT). Analisis ketimpangan menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan kesehatan primer masih terkonsentrasi pada kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi (pro-rich). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan layanan kesehatan primer pada penderita hipertensi di Jawa Barat masih rendah dan belum merata. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi pelaksanaan skrining dan pemantauan hipertensi secara berkala, penguatan edukasi kesehatan, serta perluasan cakupan kepesertaan jaminan kesehatan untuk meningkatkan pemerataan pemanfaatan layanan kesehatan primer.

Hypertension is one of the most prevalent non-communicable diseases and requires continuous monitoring and long-term treatment through health care services. West Java has a high prevalence of hypertension, with 34.4% based on blood pressure measurements and 10.7% based on physician diagnosis. However, the utilization of primary health care services among patients with hypertension remains suboptimal and unequally distributed. This study aimed to analyze the determinants of primary health care utilization and socioeconomic inequality among adults aged ≥18 years with hypertension in West Java. This cross-sectional study used data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia [SKI]). Data were analyzed using frequency distributions, chi-square tests, multiple logistic regression, and the Concentration Index. Among 4,357 adults with hypertension, 40.6% utilized primary health care services, while 59.4% did not. Factors significantly associated with primary health care utilization were age, sex, educational level, health insurance coverage, socioeconomic status, comorbidity, and body mass index (BMI). The Concentration Index indicated that primary health care utilization was disproportionately concentrated among individuals with higher socioeconomic status (pro-rich). In conclusion, primary health care utilization among patients with hypertension in West Java remains low and unequally distributed. Strengthening regular hypertension screening and follow-up, improving health education, and expanding health insurance coverage are needed to promote equitable utilization of primary health care services.
Read More
T-7563
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danar Wahyu Giwang Katon; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Roberth J Pattiselanno
Abstrak:

Pemenuhan dokter dengan kompetensi kedokteran keluarga di Puskesmas penting untuk memperkuat layanan kesehatan primer di Indonesia. Penelitian ini menganalisis kebijakan pemenuhan dokter tersebut menggunakan model sistem Easton dan kerangka kebijakan bus untuk memahami konteks, proses, aktor, isi, dan hasil kebijakan. Metode kualitatif digunakan dengan wawancara mendalam dan analisis dokumen regulasi. Hasil menunjukkan bahwa regulasi nasional sudah mengatur kewajiban pemenuhan dokter berkompetensi kedokteran keluarga, tetapi implementasi di daerah terkendala sosialisasi, distribusi tenaga yang tidak merata, beban kerja tinggi, dan keterbatasan jalur alternatif selain pendidikan formal. Mekanisme Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) masih kurang optimal dan pengakuan jabatan fungsional serta insentif belum jelas. Temuan mengindikasikan perlunya penguatan regulasi turunan, peningkatan koordinasi, dan dukungan mekanisme agar pemenuhan dokter berkompetensi dapat efektif dan merata. Kesimpulannya, transformasi layanan primer membutuhkan kebijakan adaptif dan implementasi yang mampu mengatasi hambatan distribusi dan peningkatan mutu layanan.The fulfillment of doctors with family medicine competency in community health centers (Puskesmas) is crucial to strengthening primary healthcare services in Indonesia. This study analyzes policies related to the fulfillment of such doctors using easton's systems model and Buse's policy triangle to understand the context, process, actors, content, and outcomes of the policy. A qualitative method was employed involving in-depth interviews and regulatory document analysis. Results show that national regulations mandate the presence of doctors with family medicine competency, yet implementation at the regional level faces challenges such as limited dissemination, uneven workforce distribution, high workload, and limited alternative pathways beyond formal education. The recognition of Prior learning mechanism is underutilized, and unclear recognition of functional positions and incentives hinders motivation. Findings indicate the need to strengthen derivative regulations, improve coordination, and suPPort mechanisms to ensure effective and equitable fulfillment of competent doctors. In conclusion, transforming primary healthcare requires adaptive and implementable policies that address distribution barriers and enhance service quality.

 

Read More
T-7371
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive