Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Evarista Theofika; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh, Wachyu Sulistiadi, Yanwar Hadiyanto, Diba Astried Mixmarina
Abstrak:

Latar Belakang : Rawat jalan sebagai salah satu garda terdepan layanan di rumah sakit yang dituntut untuk memberikan layanan yang cepat dan berkualitas. RS. X merupakan rumah sakit swasta yang dalam pelaksanaan kegiatan usahanya sepenuhnya bergantung pada pembiayaan dari pasien pribadi dan penjaminan pihak ketiga. Semakin meningkatnya jumlah pasien rawat jalan yang menggunakan penjaminan pihak ketiga, maka tuntutan kualitas dan kecepatan pelayanan rumah sakit juga semakin tinggi. Proses verifikasi penjaminan untuk pemeriksaan penunjang di rawat jalan merupakan suatu proses di tengah alur rawat jalan untuk memastikan apakah pemeriksaan penunjang yang disarankan oleh dokter dapat dijaminkan atau tidak oleh pihak penjamin sebelum pasien melakukan pemeriksaan tersebut. Target proses verifikasi ini tercapai dalam waktu 15 menit, namun rata-rata capaian baru mencapai 66,9% dan belum memenuhi target yang ditetapkan RS. X minimal 90%.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian operational reasearch dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengambilan sampel secara non probability sampling dengan jumlah 90 sampel. Pemilihan sampel berdasarkan pola distribusi poliklinik, hari dan waktu.
Hasil : Pada posisi current state, rata-rata lead time proses verifikasi untuk pemeriksaan penunjang di rawat jalan RS. X 16 menit 58 detik, dimana 53,9% merupakan kegiatan non value added yang didominasi waste waiting (87,8%) dan over processing (12,2%). Dari analisis 5 Whys didapatkan akar masalah yang menyebabkan waste adalah menunggu antrian pemeriksaan berkas verifikasi, menunggu catatan medis dokter, konfirmasi biaya tindakan rehabilitas medik, konfirmasi kronologis sakit dan menunggu terhubung dengan pihak penjamin. Penerapan metode Lean menggunakan tools Standardization berhasil menurunkan lead time sebesar 23,2% yaitu menjadi 13 menit 2 detik dengan penurunan kegiatan non value added sebesar 26,2% (2 menit 24 detik).
Kesimpulan : Penerapan metode Lean berhasil menurunkan lead time dan mengurangi waste pada proses verifikasi penjaminan untuk pemeriksaan penunjang di RS. X.


 Background                 : Outpatient service as one of the hospital’s frontline services that is required to provide fast and quality services. Hospital. X is a private hospital that in carrying out its business activities fully financially relies on private patients and third party guarantees. The increasing number of outpatients using third party guarantees, in line with the increasing of quality and speed demands of hospital services. The guarantee verification process for outpatient examinations is a process occur in the middle of the outpatient flow aim to ensure whether the examinations recommended by the doctor can be guaranteed or not by the guarantor before the patient undergoes the examination. Target for this verification process is achieved within 15 minutes, but the average achievement has only reached 66.9% and has not met the target set by the X Hospital minimum 90%. Method                : This study adopted an operational research design with a quantitative and qualitative approach. The sampling technique used was non-probability sampling, with a total of 90 samples. Sample selection based on the distribution pattern of the polyclinic, day and time. Result                        : In the current state position, the average lead time for the verification process of supporting examinations in outpatient care at Hospital X is 16 minutes 58 seconds, where 53.9% is non-value added activities dominated by waste waiting (87.8%) and over processing (12.2%). From the 5 Whys analysis, the root cause of waste is waiting for the verification file examination queue, waiting for the doctor's medical records, confirmation of medical rehabilitation costs, confirmation of the chronology of illness and waiting to be connected with the guarantor. The application of the Lean method using the Standardization tool succeeded in reducing the lead time by 23.2% to 13 minutes 2 seconds with a decrease in non-value added activities by 26.2% (2 minutes 24 seconds). Conclusion                 : The implementation of the Lean method has succeeded in reducing lead time and waste in the assurance verification process for supporting examinations at X Hospital.

Read More
B-2520
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raden Chandra Meydia Kundrawan; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Diah Anggraini, Pita Aprilia
Abstrak:
Pelayanan farmasi merupakan pelayanan penunjang yang berfungsi dalam pengelolaan obat, bahan medis habis pakai dan alat kesehatan di rumah sakit. Ketersediaan obat merupakan faktor yang sangat penting dalam pelayanan rumah sakit dan dapat menentukan mutu pelayanan rumah sakit. RSUD Kalideres melakukan peminjaman obat kepada beberapa instansi untuk mengatasi kekosongan obat pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode Lean dan ABC-VEN dalam meningkatkan pengelolaan dan perencanaan obat. Penelitian ini menggunakan metode Lean dalam menganalisis proses pengelolaan dan perencanaan obat untuk mengetahui Current State Stream Map, mengidentifikasi Value Added, Non Value Added dan Waste serta mengimplementasikan Future Stream Map. Metode ABC-VEN digunakan untuk mengklasifikasikan obat sebagai acuan dalam pembuatan kebijakan pengelolaan dan perencanaan obat. Hasil penelitian ditemukan waste overprocessing, overproduction dan waiting dalam proses pengelolaan dan perencanaan obat sehingga dilakukan intervensi dengan pembaruan Standar Prosedur Operasional dan penerapan spreadsheet inventory. Pada ABC Pemakaian, Klasifikasi A sebanyak 11,7%, Klasifikasi B 20,1%, Klasifikasi C 68,2%.  Pada ABC Investasi didapatkan Obat Klasifikasi A 17,2%, Klasifikasi B 29,9%, Klasifikasi C 52,9%. Obat Klasifikasi V 13,6%, Klasifikasi E 80,2%, Klasifikasi N 6,2%. Kesimpulan pengelolaan dan perencanaan obat masih termasuk ke dalam proses un-LEAN dan belum mampu merespon terjadinya peningkatan kebutuhan pelayanan pasien. Penerapan metode Lean dapat mempersingkat proses pengelolaan dan perencanaan obat. Hasil penerapan metode ABC dapat menjadi acuan dalam proses pengelolaan dan perencanaan obat selanjutnya.


Pharmaceutical services are supporting services that function in the management of drugs, disposable medical materials and medical devices in hospitals. The availability of drugs is a very important factor in hospital services and can determine the quality of hospital services. Kalideres Regional Hospital borrows drugs from several agencies to overcome drug shortages in 2024. This study aims to determine the application of the Lean and ABC-VEN methods in improving drug management and planning. This study uses the Lean method in analyzing the drug management and planning process to determine the Current State Stream Map, identify Value Added, Non Value Added and Waste and implement the Future Stream Map. The ABC-VEN method is used to classify drugs as a reference in making drug management and planning policies. The results of the study found waste overprocessing, overproduction and waiting in the drug management and planning process so that interventions were carried out by updating Standard Operating Procedures and implementing spreadsheet inventory. In ABC Usage, Classification A was 11.7%, Classification B 20.1%, Classification C 68.2%. In ABC Investment, Classification A Drugs were 17.2%, Classification B 29.9%, Classification C 52.9%. Classification V Drugs 13.6%, Classification E 80.2%, Classification N 6.2%. The conclusion is that drug management and planning are still included in the un-LEAN process and have not been able to respond to the increasing need for patient services. The application of the Lean method can shorten the process of drug management and planning. The results of the application of the ABC method can be a reference in the process of further drug management and planning.
Read More
B-2552
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadiya Nabila; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Pujiyanto, Purnawan Junadi, Endah Kartika, Supriyantoro
Abstrak:

Mutu pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh waktu tunggu pasien, yang merupakan indikator penting dari kepuasan pasien. Peraturan Menteri Kesehatan No. 129 menetapkan waktu tunggu maksimal 60 menit untuk pelayanan rawat jalan. RSUD Pasar Minggu telah menerapkan reservasi online untuk mengurangi waktu tunggu, namun waktu tunggu di klinik rehabilitasi medik masih tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan Lean untuk mengidentifikasi dan mengurangi pemborosan dalam proses pelayanan. Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain action-research dengan pendekatan kualitatif, 24 pasien BPJS klinik rehabilitasi medik yang mendaftar melalui online akan dijadikan sampel sebagai data observasi waktu tunggu dengan metode time-motion Hasil : Hasil penelitian dengan pendekatan Lean berhasil mengidentifikasi waste waiting pada tahap pelayanan dokter sebagai waste tertinggi, akar masalah yang ditemukan pada waktu tunggu pelayanan dokter yang lama teridentifikasi metode fishbone analysis mencakup kurangnya SDM, tata letak ruangan, serta belum adanya SPO pada pelayanan pasien pendaftaran online. Intervensi dilakukan mengikuti prinsip Lean yaitu standardized work dan visual management. Berdasarkan perhitungan future state map secara simulatif dapat menurunkan lead time dari 2 jam 28 menit menjadi 1 jam 46 menit dengan penurunan persentase aktivitas non value added (¯28%). Ksesimpulan : kombinasi penerapan prinsip Lean yang dibutuhkan mencakup prinsip heijunka, standardized work, visual management, dan 5S dapat waste (NVA) dari 2 jam menjadi 1 jam 16 menit (¯63%).


The quality of healthcare services is significantly influenced by patient waiting times, which are a crucial indicator of patient satisfaction. The Ministry of Health Regulation No. 129 sets a maximum waiting time of 60 minutes for outpatient services. RSUD Pasar Minggu has implemented online reservations to reduce waiting times; however, waiting times at the medical rehabilitation clinic remain high. Therefore, this study uses a Lean approach to identify and reduce inefficiencies in the service process. Methodology : This study uses an action-research design qualitative approaches, employing probability sampling to select a sample of 24 BPJS patients who registered online at the medical rehabilitation clinic. Results : The Lean approach identified "waiting" waste at the doctor service stage as the highest waste. The root cause analysis using the fishbone method identified long doctor service waiting times caused by the shortage of human resources, inefficient room layout, and the absence of Standard Operating Procedures (SPO) for online registration patients. Interventions were implemented following Lean principles, including standardized work and visual management. A future state map simulation showed that lead time could be reduced from 2 hours 28 minutes to 1 hour 46 minutes, with a 28% reduction in non-value-added activities. Conclusion : The combination of Lean principles needed includes heijunka, standardized work, visual management, and 5S. These principles successfully reduced non-value-added activities from 2 hours to 1 hour 16 minutes, a 63% decrease.

Read More
B-2462
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mahavira Annisa Suyatman; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh, Puput Oktamianti, Iwan Sovani, Burhanuddin Hamid
Abstrak:
Waktu tunggu merupakan indikator yang mempengaruhi kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. Dari hasil observasi dan survey di lapangan didapatkan waktu tunggu rawat jalan ≥ 60 menit sehingga ditemukan banyak keluhan pasien dalam keterlambatan pelayanan serta mengakibatkan mutu pelayanan menurun. Tujuan penelitian melakukan analisis dan usulan perbaikan mutu proses pelayanan di instalasi rawat jalan RS Mata BEC dengan metode Lean. Penelitian kualitatif dengan analisis data metode lean hospital. Pendekatan kuantitatif untuk menghitung waktu tunggu secara aktual. Populasi penelitian adalah jumlah kunjungan pasien instalasi rawat jalan bulan Juni 2023 sebesar 1704 pasien dan didapatkan jumlah sampel sebesar 323 pasien. Alat yang digunakan data kuantitatif dengan lembar observasi dan stopwatch. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perhitungan Current State Map untuk pelayanan rawat jalan RS Mata BEC didapatkan setiap pasien akan membutuhkan waktu untuk dapat dilayani oleh dokter dengan (lead time) sebesar 158,2 menit dan didapatkan 134,2 menit atau prosentase 80% merupakan kegiatan yang dianggap waste (non-value added), serta 24 menit non-value added atau hanya 15% yang merupakan kegiatan yang benilai. Faktor penyebab terbesar waktu tunggu adalah faktor man. Hasil perhitungan menunjukkan belum terpenuhinya standar waktu tunggu pelayanan di rawat jalan yaitu ≤ 60 menit. Kata Kunci : Metode Lean; Rawat Jalan; Waktu Tunggu

Waiting time is an indicator that affects service quality and patient satisfaction. From the results of observations and surveys in the field, it finds that the lead-time outpatient is ≥ 60 minutes, so that many patient complaints were found regarding delays in service and resulted in a decrease in service quality. The aim of the study is to analyze and propose to improve the quality of the service process in the BEC Eye Hospital outpatient installation using the Lean method. Qualitative research with data analysis using the lean hospital method. Quantitative approach to calculate the actual of leading time. The study of population is the number of outpatient patient who visits in June 2023 is 1704 patients and the number of samples is 323 patients. The tools that used in quantitative data is observation sheets and stopwatches. Based on the results of the study it can be concluded that the calculation results of the Current State Map for BEC Eye Hospital outpatient services tell that each patient will need time to be served by a doctor with a (lead time) of 158.2 minutes and obtained 134.2 minutes. It can be called that a percentage of 80% activities are considered waste (non-value added), and 24.4 minutes of non-value added or only 15% which are valued activities. The biggest factor causing waiting time is the man factor. These ratio shows that BEC Eye Hospital is included in Un-Lean and the results of these calculations indicate that the standard leading time for outpatient services has not been standardized, in this case ≤ 60 minutes. Keywords: Lean Method; Outpatient; Waiting time
Read More
B-2391
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Dharmaningsih; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Masyitoh, Pujiyanto, Hadijah Tahir, Endang Adriyani
Abstrak:
Waktu tunggu pelayanan resep termasuk salah satu indikator dalam menjaga mutu pelayanan rumah sakit, waktu tunggu yang terlalu lama akan menimbulkan keluhan dari pasien yang dapat mengakibatkan penilaian negatif bagi rumah sakit. Waktu tunggu pelayanan resep obat jadi dan obat racikan di depo Farmasi Rawat Jalan Reguler RSPON Jakarta belum mencapai SPM yang ditetapkan dalam Kepmenkes Nomor 128 Tahun 2009 yaitu ≤30 menit untuk obat jadi dan ≤60 menit untuk obat racikan. Penelitian ini bertujuan mengurangi waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan di depo farmasi rawat jalan reguler RSPON Jakarta dengan menggunakan pendekatan Lean Hospital. Penelitian ini menggunakan metode operational research dengan pendekatan kualitatif, pengambilan data dilakukan pada Mei-Juli 20223 di depo farmasi rawat jalan reguler, dengan jumlah sampel 25 resep obat jadi dan 5 resep obat racikan. Observasi langsung dilakukan dengan metode time motion study menggunakan lembar observasi VSM, wawancara dengan informan terpilih dan telaah dokumen. Pada kondisi current state waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan setiap 1 resep (lead time) untuk resep obat jadi adalah 46,7 menit, dengan perbandingan aktivitas value added terhadap total waktu pelayanan 25%:75%, sedangkan lead time untuk resep racikan adalah 98,9 menit dengan perbandingan aktivitas value added terhadap total waktu pelayanan 27%:73%. Pada analisis kegiatan non value added, waste tertinggi pada kategori waste waiting dan waste overprocessing. Beberapa faktor penyebab terjadinya waste adalah inefisiensi SDM, jadwal praktek dokter yang bersamaan, belum adanya sistem pemisahan petugas pelayanan resep rawat jalan reguler dan rawat jalan eksekutif, perlunya optimalisasi e-resep, jaringan sistem informasi yang terkadang lambat di jam sibuk dan seringnya interupsi dari pasien yang bertanya di loket farmasi. Intervensi lean hospital yang dicoba untuk diterapkan adalah proses balancing, Heijunka dengan modifikasi shift petugas farmasi dan 5S. Pada kondisi future state terjadi penurunan lead time sebesar 28% untuk resep obat jadi menjadi 33,3 menit, sedangkan untuk resep racikan lead time turun sebesar 32% menjadi 67,1 menit. Kesimpulan penelitian ini Lean Hospital merupakan metode atau tool yang dapat digunakan untuk menurunkan lead time dengan mengurangi waste dan meningkatkan nilai tambah untuk pasien. Saran peneliti mendorong rumah sakit meneruskan sebagai langkah awal continuous improvement diiringi dengan pemenuhan kebutuhan SDM serta fasilitas pendukung.

Waiting time for prescription services is one of the indicators in maintaining the quality of hospital services, waiting times that are too long will cause complaints from patients which can result in a negative assessment of the hospital. The waiting time for ready-made and concocted drug prescription services at the Jakarta RSPON Regular Outpatient Pharmacy depot has not reached the SPM stipulated in Kepmenkes Number 128 of 2009, namely ≤30 minutes for finished drugs and ≤60 minutes for concocted drugs. This study aims to decrease the waiting time of outpatient prescription services at the regular outpatient pharmacy depots at RSPON Jakarta using Lean Hospital. This study used the operational research method with a qualitative approach, data collection was carried out in May-July 20223 at a regular outpatient pharmacy depot, a sample of 25 prescription drugs and 5 prescription drug concoctions. Direct observation was carried out using the time motion study method using VSM observation sheets, interviews with selected informants and document review. Under current state conditions, the lead time for each prescription (lead time) for finished drug prescription is 46.7 minutes, with a ratio of value added activity to total service time of 25%:75%, while the lead time for concoction recipes is 98.9 minutes with a ratio of value added activity to total service time of 27%:73%. In the analysis of non-value added activities, the highest waste is in the waste waiting and overprocessing waste. Some of the factors that cause waste are HR inefficiency, doctors' practice schedules that coincide, there is no separate system for regular outpatient prescription service officers and executive outpatient care, the need for optimizing e-prescriptions, information system networks that are sometimes slow during rush hours and frequent interruptions from patients asking questions at the pharmacy counter. The lean hospital intervention that was tried to be implemented was the balancing process, Heijunka with modifications to pharmacy staff shifts and 5S. In the future state, the lead time decreased by 28% for finished drug prescriptions to 33.3 minutes, while for mixed prescriptions the lead time decreased by 32% to 67.1 minutes. The conclusion of this study is that Lean Hospital is the right method or tool to reduce lead time by reducing waste and increasing added value for patients. The researcher's suggestion encourages the hospital to continue as the first step of continuous improvement accompanied by meeting the needs of human resources and supporting facilities.
Read More
B-2381
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Dyah Noviani; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permansari, Prastuti Soewondo, Soekamto Koesno, Lies Nugrohowati
Abstrak: Lamanya waktu tunggu dalam pelayanan rawat jalan akan menghambat pelayanan, dan berdampak pada penumpukan antrean dan inefisiensi pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan metode lean pada pelayanan rawat jalan pasien BPJS di rumah sakit Hermina Depok tahun 2017. Penelitian dengan metode kualitatif ini mengobservasi waktu pelayanan pasien rawat jalan BPJS untuk melihat dan memotret kondisi alur pelayanan pasien rawat jalan BPJS. Pada value stream mapping pasien tanpa pemeriksaan penunjang, waktu proses (cycle time) tercepat adalah pada saat pasien di kasir yaitu 2,2 menit dan paling lama adalah pada saat pasien mendapat pemeriksaan dokter yaitu 12,6 menit. Waktu tunggu (waiting time) paling lama pada saat pasien menunggu obat di farmasi yaitu 96,2 menit (1 jam 36 menit) dan paling cepat adalah pada saat pasien menunggu di kasir yaitu 4,4 menit. Pada value stream mapping pasien dengan pemeriksaan penunjang laboratorium, waktu proses (cycle time) tercepat adalah pada saat proses pasien dikasir 4,2 menit, dan paling lama pada saat pasien mendapat pemeriksaan dokter yaitu 12,6 menit. Waktu tunggu (waiting time) terlama pada saat pasien menunggu dokter yaitu 126,2 menit (2 jam 6 menit) dan paling cepat pada saat pasien menunggu proses di kasir 2,2 menit. Pada value stream mapping pasien dengan pemeriksaan penunjang radiologis, waktu proses (cycle time) tercepat pada saat proses pasien dikasir yaitu 4,8 menit, paling lama pada saat proses pemeriksaan radiologi yaitu 67,2 menit (1 jam 7 menit). Waktu tunggu (waiting time) terlama pada saat pasien menunggu dokter 95,6 menit (1 jam 35 menit), paling cepat pada saat proses pasien di kasir 4,4 menit. Hasil penelitian menunjukkan 90 % waktu pelayanan merupakan kegiatan non value added dan hanya 10 % kegiatan yang value added, dengan jenis-jenis waste nya adalah defect, over production, waiting, transportation, inventory, motion, dan over processing. Analisis future state dengan usulan perbaikan metode lean secara simulatif yaitu 5S, Kanban Inventory, visual management menurunkan kegiatan non value added menjadi 78,30 % dan meningkatkan kegiatan value added menjadi 21,70 %. Rekomendasi dengan melakukan perbaikan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang melalui program pelaksanaan metode lean berkelanjutan.
Kata kunci : Metode lean, rawat jalan, waktu tunggu, kegiatan value added, kegiatan non value added

The length of waiting time in the hospital outpatient service is important for efficient hospital service. Long waiting time leads to accumulating queue and inefficient service. This study was aimed to analyze the application of lean method on outpatient BPJS services at Hermina Depok Hospital in 2017. This qualitative research method investigated the time spent by BPJS outpatient patient by applying lean method and observing the outpatient service flow condition. The first result, the value stream mapping (VSM) of patients without any adjunctive examinations (i.e., laboratory or radiology), the fastest cycle time was observed at the reception desk (2.2 minutes) and the longest at the doctor examination room (12.6 minutes). The longest waiting time was at drug prescription process at pharmaceutical unit (96.2 minutes or 1 hour,36 minutes) and checkout was the fastest (4.4 minutes). Second result, the VSM with laboratory examination, the fastest time-cycle was at the reception desk (4.2 minutes), and the longest was observed at the doctor examination (12.6 minutes). The longest waiting time at the doctor waiting room (2 hours 6 minutes) and checkout was the fastest (2.2 minutes). Third result, the VSM with radiologic examination, the fastest cycle time was observed at the reception desk (4.8 minutes), the longest cycle time was at the radiology examination process (67.2 minutes or 1 hour, 7 minutes). The longest waiting time was observed at the doctor examination room (95.6 minutes or 1 hour, 35 minutes) and checkout was the fastest (4.4 minutes). The results showed that 90% service time was non value added activity and only 10% of value added activity. The wastes were defect, over production, waiting, transportation, inventory, motion, and over processing. After conducting future state analysis with the proposed improvement with simulative lean method (5S, Kanban Inventory, visual management), it was found that non value added activity became 78,30% and value added activity became 21,70%. Future recommendation is important to organize short-, medium- and long-term improvements through implementation of sustainable lean method program.
Keywords: Lean method, outpatient waiting time, value added activity, non-value added activity
Read More
B-1858
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ingguan Novantri; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Vetty Yulianty Permanasari, Djoni Darmajaya, Hermina M Basrie
Abstrak: Metode lean pada akhir ini telah banyak dikembangkan untuk efisiensi kerja. Langkah awal dalam mengimplementasikan lean adalah meningkatkan produktivitas semua sumberdaya yang ada. Rekam medis adalah salah satu sarana pendukung untuk pelayanan kesehatan pasien di rumah sakit, pemborosan yang paling umum di pelayanan rekam medis berhubungan dengan dokumen dan pengolahan data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode lean lama waktu tunggu pada pelayanan rekam medis rawat jalan di RSUD dr. HM Rabain Muara Enim tahun 2016. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah observasional action process research, menggunakan pedoman metode lean untuk melihat dan memotret kondisi alur proses pelayanan pasien rekam medis rawat jalan. Hasil penelitian setelah melakukan analisis projected future state dengan usulan alur pelayanan kedepan disertai simulasi metode lean yaitu 5S, Kanban inventory, visual management, dan takt time maka diperoleh cycle time diperpendek 16.4% dan eliminasi waste sebesar 98%. Saran untuk senantiasa menerapkan metode lean di unit kerja masing-masing dengan semangat Kaizen (continuous improvement) dan Heijunka (pemerataan beban kerja). Kata kunci: Metode lean, Rekam Medis, Current State, Future State, Value added, Non value added
Read More
B-1826
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Netty Siahaan; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Purnawan Junadi, Anhari Achadi, John Sihar Tony Marbun, Ati Nirwanawati
Abstrak: Kinerja pelayanan di IGD Rumah Sakit Umum Daerah Cilincing masih dibawah Standar Pelayanan Minimal Kemenkes No 129 Tahun 2008 yaitu respon time dan kepuasan pelanggan. Salah satu cara untuk meningkatkan kinerja dengan menerapkan metode Lean. Penelitian ini menggunakan operasional research dengan pendekatan kualitatif bertujuan untuk melihat kinerja pelayanan IGD Rumah Sakit Umum Daerah Cilincing sebelum dan sesudah penerapan metode Lean. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar waktu pelayanan merupakan non value added (waste) sebesar 65.39% sedangkan kegiatan value added sebesar 34,61%. Setelah penerapan metode Lean di IGD menghasilkan perbaikan kinerja pelayanan IGD dengan menurunkan kegiatan non value added menjadi 38,6% dan meningkatkan kegiatan value added menjadi 61,4 %. Perbaikan respon time dari 30,37 menjadi 10,4 menit dan kepuasan pelanggan dari 60,28% menjadi 77,78%. Keynote : Metode Lean, Value Added, Non Value Added, Kinerja, Respon Time, Kepuasan Pelanggan. The performance of service at IGD Cilincing Hospital still under Minimum Service Standard Kemenkes No 129/ 2008 that is the response time and customer satisfaction. One way to improve performance by applying the Lean method. This research uses operational research with qualitative approach aims to see service performance of IGD Cilincing Hospital Area before and after application of Lean method. The result of research shows that most of service time is non value added (waste) equal to 65.39% while value added activity is 34,61%. After the application of Lean method in IGD resulted in improved performance of IGD services by decreasing non value added activities to 38.6% and increasing value added activities to 61.4%. Improved response time from 30.37 to 10.4 minutes and customer satisfaction from 60.28% to 77.78%. Keywords : Lean Method, Value Added, Non Value Added, Performance, Response Time, Customer Satisfaction.
Read More
B-1919
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Theresia Purba; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Anhari Achadi, Tahin Solin, Bulan Simanungkalit
Abstrak: Biaya obat yang besar memerlukan pengelolaan yang tepat. Proses pengelolaan obat yang paling mengganggu dalam siklus pengelolaan obat di Instalasi Farmasi RSU Sari Mutiara Medan adalah proses pengadaan/pembelian obat. Obat Tingkat pemakaian dan pembelian obat kronis yang tinggi mewakili tingkat pemakaian dan pembelian obat secara keseluruhan. Peningkatan efisiensi pada proses pengadaan/pembelian obat kronis dapat memberikan gambaran peningkatan efisiensi pengelolaan obat secara keseluruhan. Penelitian dengan metode kualitatif ini mengobservasi waktu yang digunakan selama proses pembelian obat dari mulai pemesanan hingga obat diap didistribusikan, dan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan obat di Instalasi Farmasi RSU Sari Mutiara Medan dengan menggunakan metode lean. Hasil penelitian dapat merumuskan kegiatan pembelian obat yang beragam menjadi satu alur proses pembelian obat, dalam desain usulan perbaikan tampak pengurangan waktu tunggu, peningkatan presentasi kegiatan value added dan reduksi presentasi kegiatan non value added. Dengan meningkatnya efisiensi proses pembelian/pengadaan obat diharapkan adanya domino effect pada proses pengelolaan obat lainnya. Dalam penelitian ini dicapai kendali biaya dan kendali mutu melalui usulan perbaikan jangka pendek perencanaan kebutuhan obat dengan menggunakan analisis pareto dan VEN, serta metode error proofing dalam evaluasi akhir setiap proses pembelian obat. Penerapan kaizen merupakan usulan jangka panjang yang akan selalu diterapkan dalam setiap analisis proses menggunakan metode lean.
Kata kunci : biaya obat, pengelolaan obat, pembelian/pengadaan obat, metode lean, kegiatan value added, kegiatan non-value added, kaizen, kendali mutu, kendali biaya.

Drugs is the most disturbing management process in the drug cycle management in the pharmacy unit of Sari Mutiara Medan Public Hospital. The high consumption and purchase level of chronic drugs represent the high consumption and purchase the whole drugs. Efficiency increasing of chronic drugs procurement/purchase is expected to represent the efficiency increasing of drug management in generally. This qualitative research, using the lean method, observed the time spent from when the drug was ordered until the drug was ready to distribute, with the aim to increase the efficiency of drug management in the pharmacy unit of Sari Mutiara Medan Public Hospital. The results formulate variation of purchasing flow to be one standard future state mapping, and it shows improvement in waiting time, increasing value added activity and reduction non-value added activity. Efficiency increasing of drugs procurement/purchase is expected to have a domino effect for the continuous drug management process. Cost and quality control in this research are obtained through the proposed short-term fixes : using pareto and VEN in drugs demand planning and using error proofing method in every end evaluation of drugs procurement/purchase. Kaizen is applied for the proposed long term fixes and for every flow analysis using lean method.
Keywords : drug cost, drug management, drugs procurement/purchase, lean method, value added activity, non-value added activity, kaizen, quality control, cost control
Read More
B-1838
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive