Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 19 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Kazwaini, Fridolina Mau
BPK Vol.43, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2015
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Supriyono Pangribowo; Pembimbing: Martya Rahmaniati; Penguji: Besral, Popy Yuniar, Boga Hardhana, Endang Burni
Abstrak:

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kepmenkes RI No. 581/Menkes/SK/VII/1992, menyebutkan bahwa penyakit ini dapat menimbulkan kematian, dan termasuk salah satu penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Kota Bogor merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Provinsi Jawa Barat. Kasus DBD di Kota Bogor menunjukkan peningkatan dalam 3 tahun terakhir, pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 1.193 kasus, meningkat menjadi 1.513 kasus pada tahun 2009, dan kembali naik menjadi 1.686 pada tahun 2010. Program pencegahan, pemberantasan, dan surveilans DBD membutuhkan dukungan sistem informasi yang baik sebagai landasan pengambilan keputusan. Sistem informasi yang berjalan saat ini belum memanfaatkan manajemen basis data yang terstruktur sehingga sering ditemui kendala dalam hal pengelolaan data. Selain itu juga belum terdapat aplikasi khusus pemetaan yang dapat menghasilkan informasi secara otomasi dalam memberikan analisis kewilayahan tentang potensi yang dimiliki tiap wilayah terhadap peningkatan kasus maupun KLB. Pengembangan sistem informasi DBD berbasis SIG bertujuan untuk mengatasi permasalahan pengelolaan data dan analisis kewilayahan. Sistem informasi tersebut dikembangkan oleh peneliti berdasarkan metode System Development Life Cycle (SDLC), dengan mengintegrasikan aplikasi basis data Postgresql dan aplikasi pemetaan Open Geo Suite 2.2. Sistem ini mengolah data program DBD menjadi indikator IR DBD, CFR DBD, kepadatan penduduk, dan ABJ. Aplikasi mengolah indikator tersebut melalui proses perhitungan skor sehingga dihasilkan output berupa laporan, peta, dan grafik. Dalam rangka pengembangan sistem informasi lebih lanjut, diperlukan penambahan variabel lingkungan dan indikator untuk monitoring dan evaluasi program pencegahan dan pemberantasan DBD. Kata kunci : DBD, pemetaan, basis data


 Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by Dengue virus transmitted through Aedes aegypti bite. The Minister’s of Health Decree (Kepmenkes RI Nr. 581/Menkes/SK/VII/1992) stated that this disease can cause death, and lead an outbreak. Bogor is one of DHF endemic area in West Java. DHF cases in Bogor have shown an escalation in the last three years. In 2008 it was reported 1,193 of cases, in 2009 the cases has risen to 1,513 and the trend were continued in 2010 with 1,686 of cases. DHF control significantly requires information system to generate an effective policy. Current information system has not been supported with database management. Hence, data and information management of DHF frequently meets bottleneck. Furthermore, the absence of mapping application lead to bottleneck on spatial analysis of outbreak and cases increase. The system information is developed to solve the bottlenecks on data information and spatial analysis using System Development Life Cycle (SDLC) methods. It combines Postgresql and Open Geo Suite 2.2. The system process several indicators i.e IR DBD, CFR DBD, population density and ABJ. The application manages those indicators through the process of scoring which result in report, map, and chart. Sustainability of this proposed system requires environment variables and monitoring and evaluation indicators of DHF control. Key words : DHF, mapping, database

Read More
T-3402
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stefanus Denny Yahya; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Susi Muhardini, Enny Ekasari
T-5820
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Abi Herdanu; Pembimbing : Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Ida Ayu Dwiak Lestari
Abstrak: Kebisingan merupakan gangguan yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan kesehatan terutama kepada operator yang bekerja selama 8 jam sehari di area mesin produksi. Dari hasil observasi lapangan, diperoleh Noise Mapping dan Noise Contour area produksi Vial Mesin Spami kebisingannya berkisar 80,7 dBA sampai dengan 87,2 dBA. Hasil pengukuran pajanan bising personal dengan menggunakan Noise Dosimeter didapatkan bahwa dari 24 operator yang bekerja pada area tersebut, 11 pekerja menerima Dosis Pajanan Bising diatas 100% (85 dBA). Salah satu usaha untuk mengurangi dampak kebisingan pada pekerja dengan menggunakan APT Ear Plug dengan NRR 25 dBA. Dosis Pajanan Bising Efektif dengan penggunaan APT pada keseluruhan operator dapat mencapai dibawah 100% (85 dBA). Keseluruhan pekerja sebanyak 24 orang memiliki fungsi pendengaran normal. Kata kunci: Kebisingan, Noise Mapping, Noise Contour, Noise Dosimeter Noise is a disorder that can affect comfort and health, especially to the operators who work for 8 hours a day in the machine at production area. Result from observation with Noise Mapping and Noise Countour shows that the noise range at area Vial Production Spami Machine is 80,7 dBA until 87,2 dBA. Results of Personal noise exposure measurement by using Noise Dosimeter found that of the 24 operators working in the area, 11 workers received a Noise Dose Exposure above 100% (85 dBA). One of the actions to reduce the noise risk to workers by using PPE, Ear Plug with NRR 25 dBA. Effective Noise Dose Exposure while use in Earplug on the overall operator can reach below 100% (85 dBA). All of the workers as much as 24 workers have Normal Hearing Functionality. Keywords: Noise, Noise Mapping, Noise Contour, Noise Dosimeter
Read More
S-9267
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Novia Lestari; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Astried Maydhita Putri
Abstrak: Penelitian ini membahas proses pelayanan rawat jalan poli bedah, jantung dan penyakit dalam dengan perspektif lean hospital di RSUP Fatmawati tahun 2015. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan hasil analisis proses pelayanan rawat jalan pasien poli bedah, jantung dan penyakit dalam. Jenis penelitian yang digunakan adalah operational research dengan menggunakan pendekatan time motion study. Hasil dalam penelitian didapatkan diagram Values Stream Mapping dengan perbandingan nilai value added: non value added: non value added but necessary adalah 14%: 86%: 1%. Rata-rata pasien mendapatkan waktu pelayanan 151 menit. Jenis waste yang ditemukan adalah motion waiting waste, motion waste, extra processing waste, dan defects waste. Jenis waste terbesar adalah waiting waste. Penyebab pemborosan adalah waktu kedatangan pasien yang penuh pada pagi hari, rekam medis yang tidak sesuai standar waktu pelayanan, kedatangan dokter yang tidak sesuai jam pelayanan, dokter yang tidak memiliki komitmen untuk datang tepat waktu, standar pelayanan pada instalasi yang sama menyebabkan waktu tunggu menjadi lama.
 

This research discussed service process outpatient poly surgical, the heart and internal medicine with perspective lean hospital in fatmawati hospital in 2015. The purpose of this research is get the analysis service process outpatients poly surgical, cardiovascular and internal medicine. The kind of research use is operational research using approach time motion study. Results obtained in the diagram Value Stream Mapping study comparison of Value Added: Non-Value Added: Non-Value Added but Necessary is 14%: 86%: 1%. Average time to spent service on patient is 151 minutes. A kind of waste found waiting waste, motion waste, extra. The biggest waste types are waiting waste and waste services with the greatest care poly destination. Causes of waste is the arrival time of patients who come in the morning, the medical records that don't match the standard of service time, the arrival of a doctor who does not fit service hours, doctors don't have the commitment to arrive on time, service standards at the same installation causes the waiting time becomes longer.
 
Read More
S-8947
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agung Julipriohadi; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Suprijanto Rijadi, Vetty Yulianty Permanasari, Sonar, Susy Himawati
B-1747
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Hilmi Wiratama; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Medi Rachman, Renaul Koswiranagara
Abstrak:
Operasional pesawat tempur F-16 menghasilkan tingkat kebisingan tinggi yang berpotensi menimbulkan risiko gangguan pendengaran akibat kerja (Noise Induced Hearing Loss/NIHL) pada personel ground crew. Selain karakteristik sumber bunyi, geometri shelter diduga memengaruhi pola distribusi kebisingan melalui mekanisme refleksi dan penyebaran energi bunyi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh perbedaan geometri shelter terhadap tingkat dan distribusi kebisingan aktual pada operasi pesawat F-16 di Lanud Iswahjudi sebagai dasar pengendalian risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif komparatif melalui pengukuran tingkat kebisingan pada Shelter Skadron Udara 3 dan Shelter Skadron Udara 14. Parameter yang dianalisis meliputi Equivalent Continuous Noise Level (LAeq) dan Maximum Noise Level (Lmax) pada fase start engine, taxi out, take off, taxi in, dan shutdown engine. Pengukuran dilakukan menggunakan Sound Level Meter yang telah terkalibrasi, kemudian dianalisis secara deskriptif dan divisualisasikan menggunakan contour mapping dengan perangkat lunak Surfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan pada kedua shelter berada pada rentang LAeq 104–118 dBA dan Lmax 115–125 dBA. Nilai LAeq tertinggi ditemukan pada fase shutdown engine di Shelter Skadron Udara 3 sebesar 116,198 dBA, sedangkan nilai Lmax tertinggi ditemukan pada fase start engine sebesar 125,4 dBA. Shelter Skadron Udara 3 menunjukkan distribusi kebisingan yang lebih terkonsentrasi, sedangkan Shelter Skadron Udara 14 memperlihatkan distribusi yang lebih merata. Sebagian besar fase operasional melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) berdasarkan Permenaker Nomor 5 Tahun 2018. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan geometri shelter memengaruhi pola distribusi kebisingan dan tingkat paparan yang diterima personel ground crew. Pengendalian kebisingan perlu diprioritaskan melalui pendekatan rekayasa teknis, pengendalian administratif, serta penggunaan alat pelindung pendengaran yang sesuai

F-16 fighter aircraft operations generate high noise levels that may increase the risk of Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) among ground crew personnel. In addition to the characteristics of the noise source, shelter geometry is presumed to influence noise distribution patterns through sound reflection and energy propagation mechanisms. This studi focused to evaluate the influence of shelter geometry differences on actual noise levels and distribution during F-16 operations at Iswahjudi Air Force Base as a basis for Occupational Health and Safety (OHS) risk control. A descriptive comparative observational design was employed. Noise measurements were conducted at the shelters of the 3rd Air Squadron and the 14th Air Squadron. The parameters analyzed were Equivalent Continuous Noise Level (LAeq) and Maximum Noise Level (Lmax) during the start engine, taxi out, take off, taxi in, and shutdown engine phases. Measurements were obtained using calibrated Sound Level Meters and analyzed descriptively. Noise distribution was visualized through contour mapping using Surfer software. The results showed that noise levels in both shelters ranged from 104–118 dBA for LAeq and 115–125 dBA for Lmax. The highest LAeq value was observed during the shutdown engine phase at the 3rd Air Squadron shelter (116.198 dBA), while the highest Lmax value occurred during the start engine phase (125.4 dBA). The 3rd Air Squadron shelter exhibited a more concentrated noise distribution pattern, whereas the 14th Air Squadron shelter demonstrated a more dispersed distribution. Most operational phases exceeded the occupational exposure limits specified in the Indonesian Ministry of Manpower Regulation No. 5 of 2018. This study concludes that shelter geometry influences noise distribution patterns and the level of exposure received by ground crew personnel. Noise control measures should prioritize engineering controls, supported by administrative controls and appropriate hearing protection devices.
Read More
T-7670
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diniati Putri Yunitasari; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Masyitoh. Dede Setyadi
Abstrak: Pelayanan rawat jalan merupakan garda utama layanan rumah sakit, apabila kesehatan pasien secara maksimal ditangani di pelayanan poliklinik maka tidak diperlukan lagi pelayanan lanjutan seperti rawat inap. Akan tetapi, waktu tunggu yang lama di pelayanan rawat jalan dapat menghambat kelancaran pelayanan dan menjadikan pasien tidak memberikan kepuasan yang tinggi. Metode Lean Hospital yang telah berhasil diterapkan di beberapa rumah sakit nasional maupun internasional diharapkan dapat menghilangkan hambatan dan menambah aktivitas yang bernilai pada proses pelayanan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi alur pelayanan, letak hambatan dan akar penyebab masalahnya. Penelitian dilakukan pada Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Spesialis Penyakit Dalam bulan Mei 2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif menggunakan data observasi, wawancara dan telaah dokumen. Sampel diambil secara purposif hingga tercapai keadaan jenuh sejumlah 30 pasien. Analisa data menggunakan flowchart dalam mengidentifikasi alur pelayanan, kemudian Value Stream Mapping untuk mengidentifikasi kegiatan bernilai, menemukan waste serta mengidentifikasi hambatan dan The Five Whys untuk menganalisa akar penyebab hambatan. Penelitian ini menerapkan metode Lean Thinking sampai membuat alur dan Model BAS yaitu Baseline, Assess, dan Suggest Solution dari Model BASICS. Hasil penelitian menunjukkan alur pelayanan pasien rawat jalan secara langsung melibatkan 5 unit; 85.91% waktu pelayanan merupakan kegiatan non value added dan hanya 14.08% kegiatan value added. Total Waiting Time 2 jam 4 menit; Total Cycle Time 20 menit; Total Lead Time 2 jam 24 menit 30 detik. Waste yang terjadi adalah waste of waiting (35%), overproduction (29%), defects (22.5%), transportation (7%), overprocessing (6.2%). Hambatan utama terletak pada bagian Farmasi Rawat Jalan. Dari hasil observasi didapatkan hambatan waktu terbesar ada pada bagian farmasi. Dari analisa The Five Whys didapatkan akar penyebab masalah terbanyak ada pada jumlah sumber daya manusia dan penerapan e-prescription yang belum optimal. Usulan perbaikan dengan lean tools pada proses pelayanan rawat jalan diharapkan dapat menurunkan kegiatan non value added menjadi 60.25% dan meningkatkan kegiatan value added menjadi 39.74%.
Kata kunci: waktu tunggu, metode lean hospital, waste, value stream mapping, kegiatan value added, kegiatan non value added.
Read More
S-10014
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indra Kurniawan; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Alfajri Ismail
S-6535
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devi Dwi Putriani; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Alfajri Ismail
S-6630
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive