Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bidayatul Tsalitsatul Sua’idah; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Kurnia Sari, Youth Savithri, Dian Triana Sinulingga
Abstrak:

Di Indonesia kanker payudara merupakan kanker tertinggi yang banyak datang pada stadium lanjut sehingga berdampak terhadap mortalitas dan tingginya pembiayaan. Mammografi merupakan alat skrining dan diagnosis yang sudah terbukti efektifitasnya menghasilkan “down staging” pada negara maju, Indonesia sebagai negara berkembang belum menjadikan skrining mammografi sebagai program nasional. Dilakukan studi parsial evaluasi ekonomi biaya dan luaran dengan membandingkan mammografi untuk skrining berbasis populasi terhadap oportunistik skrining di RS. Dilakukan uji coba skrining berbasis populasi terhadap 683 wanita dengan menggunakan mobil mammografi hingga didapatkan case detected serta diambil data retrospektif pasien deteksi dini dengan mammografi hingga penegakan diagnosis di RS dalam periode satu tahun. Dilakukan analisis biaya berdasarkan perspektif program dengan analisis luaran case detected. Didapatkan unit cost pemeriksaan skrining adalah Rp871,045. dengan case detected 0,4% dan cost per case detected Rp Rp290,348,509. Pada deteksi dini di RS didapakan unit cost Rp1,137,881 dan 3% kasus positif kanker. Terhadap skrining berbasis populasi, untuk mendapatkan satu kasus positif kanker diperlukan biaya sebesar Rp 262.342.333. Dengan sumber daya yang dimiliki perlu dilakukan inovasi dalam deteksi dini mammografi melalui penguatan pelaksanaan skrining CBE sebagai program nasional didukung pendekatan akses melalui diagnosis dini dengan mobil mammografi terutama di daerah rentan sehingga dihasilkan diagnosis secara cepat dan tepat dan biaya yang murah. Diperlukan peran pemerintah melalui pembiayaan yang berkelanjutan terhadap deteksi dini mammografi untuk dapat menurunkan angka mortalitas dan pembiyaan dalam pengobatan kanker. Kata kunci: Kanker payudara, mammografi, cost and outcome.


 

Breast cancer is the highest cancer in Indonesia that come at late stage so have impact on mortality and high funding. Mammography is a screening and diagnosis that has proven its effectiveness in producing "down staging" in developed countries, Indonesia as a developing country has not made mammography screening a national program. A partial study of economic evaluation of costs and outcomes was conducted by comparing mammography for population-based screening to opportunistic screening in hospitals. A population-based screening was conducted on 683 women using a mobile mammography until a case was detected and retrospective data taken from early detection patients with mammography to diagnose the hospital in a period of one year. A cost analysis is carried out based on the program perspective with a case detected output analysis. The unit cost of screening is Rp.871,045. with case detected 0.4% and cost per case detected Rp.290,348,509. At early detection in the hospital unit unit costs are obtained Rp1,137,881 and 3% of positive cases of cancer. For population-based screening, to get one positive case of cancer costs Rp 262,342,333. With the available resources, innovation in the early detection of mammography needs to be done through strengthening the implementation of CBE screening as a national program supported by an access approach through early diagnosis by mammography cars, especially in vulnerable areas so that diagnosis is produced quickly and accurately and at a low cost. The role of government is needed through ongoing financing of early detection of mammography to be able to reduce mortality and financing in the treatment of cancer. Keywords: Breast cancer, mammography, cost and outcome

Read More
T-7429
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prita Dhyani Swamilaksita
MGMI Vol.8, No.1
Magelang : Balitbang GAKI Kemenkes RI, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Ermawati; Anferi Devitra
Abstrak: Pengulangan radiografi konvensional merupak salah satu indikator mutu instalasi radiologi Rumah Sakit Otak DR Drs M Hatta Bukittinggi. Sampai saat ini hasil penilaian pengulangan radiografi konvensional sangat fluktuatif, walaupun sudah ada perbaikan. Hasil yang fluktuatif ini cukup mendapatkan perhatian. Hal ini terjadi karena menjadi faktor pengurang dalam indikator kinerja Unit, indicator kinerja individu yang berpengaruh terhadap poin remunerasi staf. Selain itu pengulangan radiografi konvensional juga berakibat terhadap manajemen resiko. Pengulangan radiografi konvensional meningkatkan angka paparan radiasi kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi faktor yang memberikan pengaruh pada pengulangan radiografi konvensional. Penelitian menggunakan konsep mutu Donabedian. Metode penelitian kualitatif dengan analisis matriks dan konten. Informan penelitian berjumlah 19 orang mulai dari direksi hingga kepala ruangan terkait. Sedangkan data yang digunakan adalah data primer dengan wawancara langsung dan data sekunder menggunakan dokumen dan arsip. Dari komponen yang diteliti, maka maka dapat disimpulkan faktor penyebab pengulangan radiografi konvensional, yang sangat mungkin mempengaruhi satu sama lainnya antara lain kepatuhan SDM terhadap SOP, alat konvensional dan alat prosessing CR serta komponen administrasi pasien
Read More
B-2282
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Tania; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji; Mardiati Nadjib, Kurnia Sari, Hasri Dinirianti, Alim A Irsal
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Firda Tania Program Studi: Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Cost and Outcome Analysis Tindakan Hemodialisis Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) di Rumah Sakit Kelas B dan C Tahun 2016 Latar belakang: GGK merupakan kondisi yang semakin meningkat kejadiannya, menghabiskan banyak biaya dan mengakibatkan hilangnya produktivitas. Sejak 2014, BPJS menanggung sebagian besar biaya hemodialisis (HD) di Indonesia dengan besaran tarif yang berbeda sesuai kelas Rumah Sakit (RS). Pertanyaan penelitian ini ialah apakah tarif BPJS yang dibayarkan lebih tinggi pada kelas RS lebih tinggi menghasilkan hasil yang lebih baik atau malah mencerminkan inefisiensi. Selain itu, perlu diketahui pula apakah terdapat perbedaan biaya yang sebenarnya dikeluarkan RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD. Metode: Studi evaluasi ekonomi ini dilakukan di dua RS dengan kelas berbeda: kelas B (RS B) dan kelas C (RS C). Responden dipilih dari pasien GGK yang menjalani HD di kedua RS selama Februari-April 2016. Analisis biaya menurut perspektif pasien dengan metode kuantitatif, sedangkan perspektif RS dengan metode kualitatif. Analisis hasil dilakukan penilaian kualitas hidup (instrumen EQ-5D), IDWL dan Hb. Perbedaan rerata nilai hasil diuji dengan Student’s t-test. Hasil: Pada penelitian, total responden sebanyak 100 orang (RS B 76 orang & RS C 24 orang). Menurut perspektif pasien, biaya langsung medis HD selama sebulan di RS B Rp5.215.331 dan di RS C Rp7.781.744. Biaya langsung non medis HD selama sebulan di RS B Rp566.260 dan di RS C Rp334.500. Biaya tidak langsung HD selama sebulan di RS B Rp165.530 dan di RS C Rp45.830. Rerata total biaya HD selama sebulan di RS B Rp6.149.285 dan di RS C Rp8.162.077. Menurut perspektif RS, tidak terdapat perbedaan biaya yang sebenarnya dikeluarkan oleh RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD. Pada hasil didapatkan bahwa rerata Hb pada RS B (M=10,26) berbeda secara signifikan dengan RS C (M=8,21), t(98)= 8,244, p= 0,000. Rerata IDWL pada RS B (M= 0,0403) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 0,0438), t(98)= -1,326, p= 0, 188. Rerata EQ Indeks pada RS B (M= 0,7178) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 0,7208), t(98)= -0,075 p= 0,94. Rerata EQVAS pada RS B (M= 64,74) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 64,79), t(98)= -0,018 p= 0,986. Kesimpulan: Pada penilaian efektivitas HD tanpa melibatkan tambahan sumber daya, tidak terdapat perbedaan hasil secara signifikan diantara kedua kelas RS. Fakta bahwa pengeluaran yang lebih besar dari BPJS tidak mengakibatkan hasil kesehatan yang lebih baik biasanya diinterpretasikan sebagai bukti adanya inefisiensi. Biaya RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD pun tidak berbeda karena secara persyaratan sama. Perbedaan biaya medis langsung dari billing RS berkaitan dengan status kepemilikan RS dan perbedaan rerata Hb berkaitan dengan perbedaan akses terhadap koreksi anemia yang ada di kedua RS. Kata Kunci: Cost and Outcome Analysis, Hemodialisis, Kelas RS, Tarif BPJS


ABSTRACT Name : Firda Tania Study Program: Hospital Administration Title : Cost and Outcome Analysis of Hemodialysis on Chronic Kidney Disease (CKD) Patients at Class B and C Hospital in 2016 Background: Chronic kidney disease (CKD) is an increasing condition, which consumes a lot of cost and causes productivity lost. Since 2014, BPJS has covered most of hemodialysis (HD) in Indonesia with different tariff according to hospital’s classification. The research question is whether higher tariff paid to higher hospital class produced better outcome or otherwise reflecting inefficiency. The other question is whether hospital’s real cost to effectuate HD unit was different according to hospital’s class. Methods: This economic evaluation study was conducted in two hospitals with different classification; class B (B Hospital) and class C (C Hospital). Respondents were chosen from CKD patients undergoing hemodialysis in both hospital during Februari to April 2016. Costs from patient’s perspective were analyzed using quantitative method, while hospital’s perspective were analyzed using qualitative method. As outcomes, HRQOL assessed using EQ-5D instrument, mean IDWL & Hb. Differences in outcomes tested using T-test. Results: In this study, total respondents participated were 100 patients; 76 from B hospital and 24 from C hospital. According to patient’s perspective, HD direct medical cost monthly average was IDR 5.215.331 in B hospital and IDR 7.781.744 in C hospital, direct non medical cost monthly average was IDR 566.260 in B hospital and IDR 334.500 in C hospital and indirect cost monthly average was IDR 165.530 in B hospital and IDR 45.830 in C hospital, so total HD cost monthly average was IDR 6.149.285 in B hospital and IDR 8.162.077. According to hospital’s perspective, there were no difference in hospital’s real cost to effectuate HD unit. Outcome results found that mean Hb in B hospital (10,26) were significantly different from mean Hb in C hospital (8,21), t(98)= 8,244, p=0,000. While mean IDWL in B (0,0403) were not significantly different with mean IDWL in C (0,0438), t(98)= -1,326, p=0,188. Mean EQ Indeks score (0,7178) and EQ VAS score (64,74) in B hospital were not significantly different with mean EQ Indeks score (0,7208) and EQ VAS (64,79) in C hospital, t(98)=0,075, p=0,94 and t(98)=-0,018, p=0,986 respectively. Conclusion: This findings showed that in hemodialysis effectivity assessment which did not include the use of additional resources from standard (PMK No. 812/2010), there were no significant difference in outcome in two different class of hospitals. Higher CBGs tariff for higher class of hospital had not produced better health outcome, which usually interpreted as an evidence of inefficiency. Hospital’s real cost to effectuate HD unit were not different since the requirements were the same (PMK 812/2010). Difference in direct medical cost from hospital billing related to hospital’s ownership status and difference of mean Hb related to different access to anemia correction in both hospital. Keywords: Cost & Outcome Analysis, Hemodialysis, Hospital Class, BPJS tariff

Read More
B-1793
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Made Diah Permata Laksmi D; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Mardiati Nadjib, Kurnia Sari, Erna Mulati
T-3344
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukma Marthia Rahani; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Mardiati Nadjib, Erike A. Suwarsono, Dede Sri Mulyana
Abstrak:
Penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional dipercaya dapat mencegah terjadinya resistensi terhadap antibiotik juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan pasien pneumonia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional diduga juga dapat menyebabkan pemanjangan lama hari rawat di rumah sakit sehingga mempengaruhi biaya perawatan pasien pneumonia. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 2%, sedangkan tahun 2013 sebesar 1.8%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kerasionalan penggunan antibiotik dengan outcome klinis pasien pneumonia di Rumah Sakit Haji Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik (cross-sectional) kuantitatif yang pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medik pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta periode 1 Januari 2019 sampai dengan 31 Desember 2019. Dari 77 sampel yang didapat, sebanyak 37,7% pasien mendapatkan antibiotik secara tepat, 93.5% pasien mendapat dosis antibiotik secara tepat, 85.7% pasien yang mendapat antibiotik dengan durasi yang tepat, dan 98.7% pasien mendapat antibiotik dengan frekuensi yang tepat. Perbaikan klinis yang terjadi ≤ hari kelima sebanyak 88.3% dan lama hari rawat (length of stay) ≤ 5 hari sebanyak 67.5%. Kerasionalan penggunaan antibiotik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap outcome klinis (p value > 0.05) dan lama hari rawat (p value > 0.05).
Appropriate and rational use of antibiotic is believed to prevent the occurrence of resistance to antibiotic also affect the success of the treatment of pneumonia patients. The irrational use of antibiotic is thought to also be able to cause lengthening of the length of stay in the hospital, thereby affecting the cost of treating pneumonia patients. Riskesdas data for 2018 showed an increase in the prevalence of pneumonia based on diagnosis by health professionals by 2%, while in 2013 it was 1.8%. The purpose of this study was to determine the relationship between the rational use of antibiotic with the clinical outcome of pneumonia patients at the Jakarta Hajj Hospital. This research is a quantitative descriptive-analytic (cross-sectional) study whose data was collected retrospectively using medical records of patients at the Jakarta Hajj Hospital for the period of January 1 2019 to 31 December 2019. Of the 77 samples obtained, 37.7% patients get the right antibiotik, 93.5% of patients get the right dose of antibiotic, 85.7% of patients get antibiotic with the right duration, and 98.7% of patients get antibiotic with the right frequency. Clinical improvement that occurred ≤ fifth day was 88.3% and length of stay ≤ 5 days was 67.5%. The rationality of antibiotik use did not show a significant relationship to clinical outcome (p value > 0.05) and length of stay (p value > 0.05).
Read More
B-2151
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farsely Mranani; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Pujiyanto, Vetty Yulianty Permanasari, Erna Mulati, Nindya Savitri
Abstrak: Hipotiroid kongenital (HK) adalah kelainan bawaan yang dapat menimbulkandampak berupa retardasi mental permanen. Pemberian levothyroxine dengan dosistepat pada usia sedini mungkin, dapat mencegah gangguan pertumbuhan danperkembangan. Sayangnya, bayi baru lahir tidak menunjukkan gejala HK. Kalaupunada, berarti sudah ada gangguan pertumbuhan. Perlu skrining hipotiroid kongenital(SHK) untuk menemukan kasus bayi yang menderita HK.Meski sudah dilakukan sejak 2006, baru pada tahun 2014 dikeluarkan Permenkestentang pelaksanaan SHK di Indonesia. Penelitian evaluasi ekonomi program SHKtahun 2014-2015 ini mencakup analisis biaya skrining dan terapi dini, sedangkanoutcome didapat dari systematic review (SR). Asumsi dikembangkan berdasarkandata riil pasien skrining SHK di 2 laboratorium rujukan di Jakarta dan Bandung.Dari total 56.186 bayi yang melakukan skrining, diperoleh 24 pasien positifmenderita HK.Hasil SR menyatakan bahwa semakin dini onset terapi, semakin adekuat dosisinisiasi dan semakin kontinyu terapi dapat memberikan hasil yang baik. Hasiltersebut berupa pencegahan terhadap komplikasi HK lebih jauh dan perbaikan padapenyimpangan tumbuh kembang.Dari hasil penelitian, didapatkan informasi bahwa baru pada tahun kedua terlihatadanya keuntungan ekonomis SHK. Hal ini berhubungan dengan patologi gejala HKyang umumnya muncul pada usia 3-6 bulan. Orang tua baru mencari pertolonganmedis pada tahun kedua dan mengeluarkan lebih banyak biaya. Biaya skrining danterapi dini menjadi sepadan dibandingkan dengan kerugian yang dapat dicegahakibat gejala gangguan tumbuh kembang.Kata kunci:Skrining hipotiroid kongenital, biaya, luaran
Congenital hypothyroidism (CH) is a congenital disorder that can have an impact inthe form of permanent mental retardation. Giving the right dose of levothyroxine atthe earliest possible age, can prevent the disruption of growth and development.Newborns do not show symptoms of CH, and unfortunately the symptoms appear inthe late period and in many cases it shows growth disorders. The congenitalhypothyroidism screening (CHS) program has been implemented to find infant caseswith CH, and followed up with treatment.Although it has been made since 2006, Minister of Health just issued the regulationin 2014 on the implementation of CHS in Indonesia. This economic evaluation of theCHS program in 2014-2015 was done using cost analysis, while outcome obtainedfrom the systematic review (SR). The assumptions used in the analysis weredeveloped based on real data from a CHS screening program in two referrallaboratories in Jakarta and Bandung. Out of 56.186 screened babies, 24 babies werefound as CH positive cases.The result of the SR revealed that the earlier onset of initiation therapy, the moreadequate dose and the more continuous therapy given to the patient, the better resultwill be achieved. It will prevent the patients from severe complications of CH andwill improve the quality of thegrowth and development..The study found that the economic benefit is achieved in the second year of CHtreatment, since the pathological symptoms generally appear at the age of 3-6 monthand parents seek care in the second year. Consequently, cost to treat patients willincrease. The cost of screening and early treatment was found worthy as compared toeconomic loss resulting from growth disorders.Key words:Congenital Hypothyroid screening, cost, outcome
Read More
T-4728
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rezki Wahyu Meidayanti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Achmad Fauzi Yahya, Miftahussaadah
Abstrak:
Di Indonesia, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi dibandingkan penyakit lainnya, yaitu sebesar 12.9% dari total kematian pertahunnya yang penyebabnya didominasi oleh penyakit jantung koroner. Data Riskesda tahun 2018 juga menyebutkan prevalensi penyakit jantung di Indonesia mencapai 1.5%, yang artinya jika merujuk pada jumlah populasi penduduk Indonesia yang mencapai 275 juta jiwa, sekitar 4 juta lebih masyarakat di Indonesia menderita penyakit jantung. Dari sisi pembiayaan juga hal ini berakibat pada besarnya pembiayaan untuk tindakan terapi penyakit jantung, salah satunya adalah tindakan Intervensi Koroner Perkutan (IKP). Penelitian ini menganalisa bagaimana efektivitas dan biaya dari tindakan IKP yang konvensional dengan tindakan IKP yang terpandu pencitraan Intravascular Ultrasound (IVUS) sebagai tambahan. Metode penelitian dilakukan secara kombinasi, yaitu melakukan review sistematis untuk memperoleh nilai efektivitas klinis dan penelitian cohort retrospektif untuk analisis biayanya. Diperoleh hasil bahwa Tindakan IKP Terpandu IVUS terbukti memiliki efektivitas klinis yang lebih baik dibandingkan tindakan IKP Konvensional yang hanya menggunakan pencitraan Angiografi Secara besaran biaya, tindakan IKP Terpandu IVUS masih memiliki biaya yang lebih tinggi dibanding tindakan IKP Konvensional, dengan selisih rerata biayanya pada tahun 2023 sebesar Rp 17.725.559,- untuk setiap tindakan IKP dengan pemasangan 1 stent.

In Indonesia, cardiovascular disease is still the highest cause of death compared to other diseases, namely 12.9% of total annual deaths, the cause of which is dominated by coronary heart disease. Riskesda data for 2018 also states that the prevalence of heart disease in Indonesia reached 1.5%, which means that if we refer to Indonesia's population of 275 million, around 4 million more people in Indonesia suffer from heart disease. In terms of financing, this also results in large amounts of funding for heart disease therapy, one of which is Percutaneous Coronary Intervention (IKP). This study analyzes the cost and outcome of conventional IKP procedures compared to IKP procedures that use Intravascular Ultrasound (IVUS) imaging as an adjunct. The research method was carried out in a combination, namely conducting a systematic review to obtain clinical effectiveness values and a retrospective cohort study for cost analysis. The results showed that IVUS Guided IKP procedures were proven to have better clinical effectiveness than conventional IKP procedures which only use angiography imaging. In terms of costs, IVUS Guided IKP procedures still have higher costs than conventional IKP procedures, with the difference in average costs in 2023 amounting to IDR 17,725,559 for each IKP procedure with the implantation of 1 stent.
Read More
T-7032
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Awaludin Ashar; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Mahmud Fauzi, Susi Tursilowati
Abstrak:
Balita menjadi salah satu kelompok usia paling rentan mengalamai permasalahan gizi. Salah satu upaya penanggulangan masalah gizi melalui pemberian makanan tambahan makanan. Intervensi melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal dan Pemberian Pangan Olahan Diet Khusus (PDK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cost, outcome berupa kenaikan berat badan balita, cost and outcome analysis, serta mengindentifkasi faktor yang berpotensi mempengaruhi kenaikan berat badan balita. Desain penelitian menggunakan cross-sectional study dengan perspektif penyedia layanan kesehatan. Data dikumpulkan mulai Februari hingga Juli 2023. Hasil perhitungan total cost/anak untuk Pemberian PDK sebesar Rp. 236.250,- dan PMT Berbasis pangan lokal sebesar Rp.231.000.-. Baik secara persentase maupun hasil uji statistik pemberian PDK maupun PMT berbasis pangan lokal terbukti dapat menaikkan berat badan balita. Hasil cost and outcome analysis tidak memperlihatkan perbedaan yang mencolok pada pemberian PDK dan PMT berbasis pangan lokal. Hasil uji penyakit penyerta (ISPA, diare dan TB Paru) dan akses sanitasi (kepemilikan jamban dan jarak sumber air dengan tempat pembuangan limbah) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kenaikan berat badan balita. Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu baseline dalam keberlanjutan program baik dari sisi anggaran, jenis intervensi, lokus pemilihan intervensi dan nantinya bisa menjadi salah satu alternatif adopsi intervensi di tingkat keluarga.

Childs are one of the most vulnerable age groups to nutritional problems. One of the efforts to overcome nutritional problems is through the provision of additional food. Intervention through local food-based supplementary feeding (PMT) and special diet processed food (PDK). This study aims to determine the cost, outcome in the form of toddler weight gain, cost and outcome analysis, and to identify factors that have the potential to influence toddler weight gain. The research design used a cross-sectional study with a health care provider perspective. Data were collected from February to July 2023. The results of the calculation of total cost / child for PDK provision amounted to Rp. 236,250, - and PMT based on local food amounted to Rp. 231,000. Both the percentage and statistical test results of the provision of PDK and local food-based PMT are proven to increase the body weight of toddlers. The results of the cost and outcome analysis did not show a significant difference in the provision of PDK and local food-based PMT. Comorbidities (ISPA, diarrhea and pulmonary tuberculosis) and access to sanitation (ownership of latrines and distance from water sources to waste disposal sites) did not have a significant relationship with weight gain. This study is expected to be one of the baselines in the sustainability of the program both in terms of budget, type of intervention, locus of intervention selection and later can be an alternative intervention adoption at the family level.
Read More
T-6815
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Melly Marlyana; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Masyitoh, Peby Maulina Lestari, Bambang Dwipoyono
Abstrak:
National Institute for Health and Care Excellence (NICE) merekomendasikan agar tindakan sectio caesarea (SC) emergensi pada kategori I dapat dilakukan dalam waktu 30 menit sejak diputuskan oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) Obgin hingga lahirnya bayi (decision to delivery interval). Pelayanan SC emergensi belum terlaksana dengan baik di RSUD Kayu Agung. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis hubungan waktu respons SC emergensi dengan luaran ibu dan neonatus menggunakan framework Donabedian. Pendekatan Explanatory sequential design (mixed methods), diawali pengumpulan, analisis dan interpretasi data dari 222 kasus SC emergensi di tahun 2022 secara kuantitatif. Untuk memperjelas faktor yang berkontribusi terhadap keterlambatan waktu respons SC emergensi dari domain struktur dan proses dilakukan pengumpulan, analisis, dan interpretasi data secara kualitatif. Validitas data dilakukan dengan triangulasi sumber melalui wawancara mendalam pada 16 orang informan dan triangulasi metode melalui observasi lapangan dan telusur dokumen. Uji Chi-Square dengan alternatif uji Exact Fisher dan Kolmogorov Smirnov diaplikasikan pada analisis data kuantitatif. Temuan pada analisis kuantitatif yang berkontribusi terhadap waktu respons SC emergensi selanjutnya di-follow up dan dianalisis secara kualitatif dengan analisis konten. Capaian proporsi waktu respons SC emergensi di RSUD Kayu Agung sebesar 1,2% pada kategori I dan 39,6% pada kategori II, namun tidak berhubungan bermakna secara statistik dengan luaran ibu dan neonatus. Isu utama penyebab keterlambatan waktu respons SC emergensi dari domain struktur ditengarai kurang optimalnya penyiapan regulasi terkait PONEK. Sementara dari domain proses, keterlambatan persiapan pre operasi karena menunggu hasil laboratorium dan persiapan darah pre operasi, juga masalah komunikasi dan koordinasi antar unit dan manajemen rumah sakit yang belum berjalan dengan baik. Luaran maternal dan neonatal lebih tinggi pada kelompok waktu respons tidak sesuai rekomendasi pada kategori I. Penyusunan regulasi SC emergensi dalam 30 menit merupakan hal yang harus dilakukan segera.

The National Institute for Health and Care Excellence (NICE) recommends that category I emergency cesarean section (SC) procedures can be performed within 30 minutes from the decision of the Obgyn Patient Responsible Doctor (DPJP) until the birth of the baby (decision to delivery interval). Emergency SC services have not been carried out properly at RSUD Kayu Agung. This study aims to analyze the relationship between emergency SC response time and maternal and neonatal outcomes using the Donabedian framework. The explanatory sequential design (mixed methods) approach begins with the collection, analysis, and interpretation of data from 222 emergency SC cases in 2022 quantitatively. To clarify the factors contributing to the delay in emergency SC response time from the domain structure and process, qualitative data collection, analysis, and interpretation are carried out. Data validity was determined by triangulation of sources through in-depth interviews with 16 informants and triangulation of methods through field observation and document tracing. The Chi-Square test, with an alternative to the Exact Fisher test and Kolmogorov-Smirnov, was applied to quantitative data analysis. Findings from quantitative analysis that contribute to emergency SC response time are then followed up and analyzed qualitatively by content analysis. The achievement of the proportion of emergency SC response time at RSUD Kayu Agung was 1.2% in category I and 39.6% in category II, but was not statistically significant with maternal and neonatal outcomes. The main issue causing the delay in emergency SC response time from the structural domain is suspected to be the lack of optimal preparation of regulations related to PONEK. Meanwhile, in the process domain, delays in preoperative preparation due to waiting for laboratory results and preoperative blood preparation, as well as communication and coordination problems between units and hospital management, have not gone well. Maternal and neonatal outcomes were higher in the response time group than in category I. The preparation of emergency SC regulations within 30 minutes is something that must be done immediately.
Read More
B-2352
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive