Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Mujtahid; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Popy Yuniar, Rico Kurniawan, Umar Ruswandi
Abstrak:
Read More
"Penelitian pengembangan rancang bangun prototipe sistem informasi partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penularan Coronavirus Disease (Covid-19) bertujuan dapat menyajikan data dan informasi pada tingkat kelurahan atau pemerintahan desa mengenai kesiapsiagaan mitigasi munculnya kasus Covid-19. Dengan situasi status pandemi Covid-19 belum berakhir sehingga perjuangan pencegahan dan penanggulangan penularan Covid-19 harus terus dilakukan. Semangat gotong royong dengan kebersamaan dari semua kalangan dan semua wilayah di Indonesia menjadi modal untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Kebijakan pemerintah yang fleksibel berdasarkan perkembangan kasus Covid-19 yang bertujuan untuk menekan kasus Covid-19 mendorong pelibatan partisipasi masyarakat pada tingkat individu dan masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan penularan Covid-19. Wujud upaya partisipasi masyarakat yaitu kesiapsiagaan pada tingkat kelurahan atau pemerintahan desa dalam pencegahan dan penanggulangan penularan Covid-19 merupakan upaya mitigasi munculnya kasus Covid-19. Rancang bangun prototipe sistem informasi partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penularan Covid-19 menyediakan data dan informasi sebagai evidance bases aspek determinan kesehatan yang dapat memberikan gambaran tingkat partisipasi masyarakat dalam kesiapsiagaan pada tingkat kelurahan atau pemerintahan desa menjadi pelengkap tersedianya data dan informasi secara utuh dan kompherensif untuk dasar melakukan pemantau dan evaluasi dengan data layanan kesehatan yaitu data kasus Covid-19. Pada rancang bangun prototipe sistem informasi tersebut, kejadian kasus Covid-19 dapat dianalisa berdasarkan distribusi dan sebaran kesiapsiagaan upaya partisipasi masyarakat pada tingkat kelurahan/desa. Rancang bangun prototipe sistem informasi partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penularan Covid-19 dapat menjadi acuan pengembangan sistem informasi mengukur partisipasi masyarakat pada kondisi kegawatdaruratan.
The research on the development of the design of an information system prototype for community participation in the prevention and control of coronavirus disease (Covid-19) transmission aims to provide data and information at the urban village or village level regarding preparedness to mitigate the emergence of the Covid-19 case. With the status of the Covid-19 pandemic that has not ended yet, the struggle to prevent and control the transmission of Covid-19 must continue. The spirit of mutual cooperation with togetherness from all levels of society in all regions in Indonesia is the capital to end the Covid-19 pandemic. A flexible government policy based on the development of the Covid-19 case aims to suppress the Covid-19 case by encouraging the involvement of the community at the individual and society levels to make efforts to prevent and control the transmission of Covid-19. The form of community participation efforts is preparedness at the urban village or village level in preventing and controlling the transmission of Covid-19 as a mitigation of the emergence of Covid-19 cases. The design of a prototype information system for community participation in the prevention and control of the transmission of Covid-19 is to provide data and information as evidence bases on aspects of health determinants that can provide an overview of the level of community participation in preparedness at the sub-district or village level to complete the availability of data and information as a whole and comprehensive as a basis for conducting monitoring and evaluation which is juxtaposed with health service data, namely data on Covid-19 cases. In the design of the information system prototype, the incidence of Covid-19 cases can be analyzed based on the distribution and spread of preparedness efforts for community participation at the urban village or village level. The design of the information system prototype for public participation in the prevention and control of the transmission of Covid-19 can be used as a reference for the development of an information system to measure community participation in emergency situations.
T-6549
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alissa Sita Pertiwi; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Prastuti Soewondo, Anhari Achadi, Marisa Aristiawati
Abstrak:
AKB dan AKBA di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Akan tetapi, permasalahan disparitas AKB dan AKBA antara pedesaan dan perkotaan juga masih terus menghambat pencapaian program kesehatan bayi dan balita. Posyandu merupakan salah satu upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang bertujuan untuk mempermudah akses pelayanan kesehatan dasar, dimana dalam penyelenggaraannya dipengaruhi oleh penyediaan dana operasional, salah satunya adalah Dana Desa. Tujuan penelitian ini adalah diketahui pengelolaan Dana Desa pada kegiatan Posyandu KIA melalui partisipasi masyarakat serta berbagai tantangan di lapangan di Desa Kalidesel, Kec. Watumalang, Kab. Wonosobo, Prov. Jawa Tengah pada tahun 2018 hingga 2020. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data penelitian menggunakan wawancara dan diskusi terarah di lingkungan desa Kalidesel. Hasil penelitian yang didapatkan adalah terdapat perbedaan pengelolaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) antara Posyandu Dusun Kalidesel dengan Dusun LamukJawera. Penganggaran kegiatan telah dilakukan oleh Bidan Desa bersama dengan sekretaris desa, akan tetapi realisasi dana selalu berbeda dengan anggaran yang ditetapkan. Selain itu ditemukan bahwa ketepatan pencairan Dana Desa Kalidesel sangat bergantung pada ketepatan waktu penyelesaian administrasi. Masyarakat Desa Kalidesel berpartisipasi secara aktif melalui kegiatan Musrenbang, menjadi kader Posyandu, mendapatkan kegiatan Posyandu dan melakukan pengawasan penggunaan Dana Desa dengan melihat infografis yang dipasang di setiap Dusun di Desa Kalidesel.
IMR and U5MR are declining every year. However, the disparities of IMR and U5MR between rural and urban still hinder the progress of infant and under-5 health programs. Posyandu is one of the community-based health efforts that aims to facilitate access to basic health services, which in its implementation is influenced by the provision of operational funds (Dana Desa). The purpose of this study was to know the management of Dana Desa in Posyandu Maternal and Child Health services through community participation in Kalidesel Village, Watumalang District, Wonosobo, Central Java from 2018 to 2020. This study used a qualitative method with a case study approach. The research data was collected using interviews and focused group discussions. The results obtained are there were differences in management of supplementary food (PMT) between Posyandu in Kalidesel and Lamuk-Jawera. Budgeting process has been carried out by the Village Midwife and secretary of the Village Government, but the realization of funds is always different from the budget. In addition, it was found that the accuracy of fund disbursement is very dependent on the timeliness of administrative tasks. The community of Kalidesel actively participates in management of Dana Desa and Posyandu through village-scale discussion activities, becomes Posyandu cadres and visitors, and supervises the use of Dana Desa by monitoring the infographics posted in Kalidesel Village.
Read More
IMR and U5MR are declining every year. However, the disparities of IMR and U5MR between rural and urban still hinder the progress of infant and under-5 health programs. Posyandu is one of the community-based health efforts that aims to facilitate access to basic health services, which in its implementation is influenced by the provision of operational funds (Dana Desa). The purpose of this study was to know the management of Dana Desa in Posyandu Maternal and Child Health services through community participation in Kalidesel Village, Watumalang District, Wonosobo, Central Java from 2018 to 2020. This study used a qualitative method with a case study approach. The research data was collected using interviews and focused group discussions. The results obtained are there were differences in management of supplementary food (PMT) between Posyandu in Kalidesel and Lamuk-Jawera. Budgeting process has been carried out by the Village Midwife and secretary of the Village Government, but the realization of funds is always different from the budget. In addition, it was found that the accuracy of fund disbursement is very dependent on the timeliness of administrative tasks. The community of Kalidesel actively participates in management of Dana Desa and Posyandu through village-scale discussion activities, becomes Posyandu cadres and visitors, and supervises the use of Dana Desa by monitoring the infographics posted in Kalidesel Village.
T-6221
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alfina Hidayati; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Ujianto Singgih Prayitno, Zelfino
Abstrak:
Permasalahan produk legislasi yang dihasilkan anggota legislatif, baik yangmenyangkut kualitas, maupun pelibatan partisipasi masyarakat di dalam prosespenyusunan dan perancangan suatu Perda sedang menjadi sorotan. Kebijakanupaya perbaikan gizi dikembangkan dan diarahkan untuk meningkatkan statusgizi masyarakat khususnya di provinsi Bengkulu, Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk memperoleh informasi mengenai partisipasi masyarakat dalam prosespenyusunan Peraturan Daerah menggunakan pendekatan kualitatif, denganwawancara mendalam dan studi literatur di DPRD Provinsi Bengkulu.Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa Tahapan-tahapan dalampenyusunan Perda Perda no 12 tahun 2013 tentang Perbaikan Gizi , telahmelakukan semua tahapan yang direkomendasikan mulai dari tahap Definition,Aggregation, Organitation, Representation, Agenda Setting, Formulation danterakhir tahap Legitimation. Secara keseluruhan proses penyusunan Perda No 12tahun 2013 belum mencerminkan Perda yang partisipatif karena belummelibatkan masyarakat dalam setiap proses penyusunannya. Tingkat partisipasimasyarakat yang terjadi dalam konteks formal berada pada tingkat peredamanyaitu Masyarakat dapat memberi masukan/saran dalam penentuan hasil kebijakannamun pengambilan keputusan akhir tetap berada ditangan penguasa. Tidakoptimalnya pemanfaatan ruang paritsipasi dalam proses penyusunan Perda karenakurangnya informasi yang tersedia bagi masyarakat .Kedudukan naskah akademikmerupakan bahan awal yang memuat gagasan-gagasan tentang urgensi,pendekatan, ruang lingkup dan materi muatan suatu Peraturan Daerah, sebagaibahan pertimbangan yang digunakan dalam permohonan izin prakarsapenyusunan Raperda. Disarankan untuk meningkatkan partisipasi masyarakatdalam setiap proses penyusunan produk hukum daerah dapat dilakukan denganadvokasi atau pendampingan kepada kelompok-kelompok masyarakat yangdilakukan oleh Perguruan Tinggi, Organisasi Masyarakat maupun pemerintahandaerah Provinsi Bengkulu sendiri, memiliki produk hukum daerah yang mengaturdan menjamin partisipasi masyarakat dalam setiap proses penyusunan Perda, sertaperlu dukunganan sumber daya manusia yang memadai, dana yang cukup danwaktu yang lebih banyak sehingga Naskah Akademik yang dihasilkan layakdijadikan acuan dalam proses penyusunan suatu peraturan daerah.Kata kunci: Partisipasi Masyarakat, Naskah Akademik, Peraturan Daerah
Problems resulting product legislation legislators, both concerning the quality, aswell as the involvement of community participation in the process of drafting anddesigning a regulation was a concern. Policy efforts to improve nutritiondeveloped and directed to improve the nutritional status of public, especially inthe province of Bengkulu, The aim of this study was to obtain information aboutpublic participation in the formulation of Local Regulation uses a qualitativeapproach, with in-depth interviews and literature studies in Bengkulu ProvincialParliament. Based on the analysis concludes that the stages in lawmakingRegulation No. 12 of 2013 on Improving Nutrition, have done all therecommended stages ranging from stage Definition, Aggregation, Organitation,Representation, Agenda Setting, Formulation and Legitimation last stage. Overallthe process of drafting Regulation No. 12 of 2013 do not yet reflect recentlegislation participatory because the community has not been involved in anydrafting process. The level of community participation that occurs in formalcontexts are at the level of damping that is public can provide input / advice on thedetermination of the policy but the final decision remains in the hands of theauthorities. Not optimal utilization of space paritsipasi in the decision-makingprocess because of the lack of information available to the public .existenceacademic text is a starting material containing ideas of urgency, approach, scopeand substance of a Regional Regulation, as consideration used in the licenseapplication initiative of drafting the proposed regulation. It is advisable to increasecommunity participation in every process of drafting local regulations to do withadvocacy or assistance to community groups conducted by universities,community organizations and the regional government of Bengkulu provincealone, have local regulations that regulate and ensure community participation inevery law making process, as well as the need support adequate human resources,adequate funding and a lot more time so that the resulting academic paper worthyof reference in the process of drafting a regional regulation.Keywords: Public Participation, Academic Manuscript, Regional Regulation.
Read More
Problems resulting product legislation legislators, both concerning the quality, aswell as the involvement of community participation in the process of drafting anddesigning a regulation was a concern. Policy efforts to improve nutritiondeveloped and directed to improve the nutritional status of public, especially inthe province of Bengkulu, The aim of this study was to obtain information aboutpublic participation in the formulation of Local Regulation uses a qualitativeapproach, with in-depth interviews and literature studies in Bengkulu ProvincialParliament. Based on the analysis concludes that the stages in lawmakingRegulation No. 12 of 2013 on Improving Nutrition, have done all therecommended stages ranging from stage Definition, Aggregation, Organitation,Representation, Agenda Setting, Formulation and Legitimation last stage. Overallthe process of drafting Regulation No. 12 of 2013 do not yet reflect recentlegislation participatory because the community has not been involved in anydrafting process. The level of community participation that occurs in formalcontexts are at the level of damping that is public can provide input / advice on thedetermination of the policy but the final decision remains in the hands of theauthorities. Not optimal utilization of space paritsipasi in the decision-makingprocess because of the lack of information available to the public .existenceacademic text is a starting material containing ideas of urgency, approach, scopeand substance of a Regional Regulation, as consideration used in the licenseapplication initiative of drafting the proposed regulation. It is advisable to increasecommunity participation in every process of drafting local regulations to do withadvocacy or assistance to community groups conducted by universities,community organizations and the regional government of Bengkulu provincealone, have local regulations that regulate and ensure community participation inevery law making process, as well as the need support adequate human resources,adequate funding and a lot more time so that the resulting academic paper worthyof reference in the process of drafting a regional regulation.Keywords: Public Participation, Academic Manuscript, Regional Regulation.
T-4613
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irvan Ramadhie; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ede Surya Darmawan, Fatimah, Mardalena
Abstrak:
Read More
Latar Belakang : Rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai institusi pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai institusi sosial yang citranya berhubungan dengan persepsi masyarakat, termasuk penerimaan dan keterlibatan masyarakat. RSU Pengayoman Cipinang memiliki karakteristik institusi khusus karena historisnya berkaitan dengan pelayanan kesehatan bagi warga binaan pemasyarakatan. Karakteristik tersebut menjadi konteks penting dalam memahami pembentukan citra rumah sakit di masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan layanan rawat jalan dokter spesialis di RSU Pengayoman Cipinang belum menunjukkan pola yang stabil dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara persepsi masyarakat dan citra RSU Pengayoman Cipinang serta peran akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat sebagai variabel mediasi dalam konteks karakteristik historis rumah sakit. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kepada masyarakat di sekitar yang mengetahui keberadaan rumah sakit. Variabel penelitian meliputi persepsi masyarakat dan citra rumah sakit. serta akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat sebagai variabel mediasi. Analisis data dilakukan menggunakan SEM-PLS. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dan citra rumah sakit berada pada kategori tinggi. Akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat juga menunjukkan kategori tinggi sebagai variabel mediasi dalam model penelitian. Persepsi masyarakat berhubungan positif dan signifikan terhadap akseptabilitas pelayanan kesehatan (β=0,859; p<0,001) serta citra rumah sakit (β=0,669; p<0,001). Akseptabilitas pelayanan kesehatan berhubungan positif dan signifikan terhadap partisipasi masyarakat (β=0,761; p<0,001), sedangkan partisipasi masyarakat berhubungan positif dan signifikan terhadap citra rumah sakit (β=0,280; p=0,001). Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa akseptabilitas pelayanan kesehatan memediasi hubungan antara persepsi masyarakat dan partisipasi masyarakat (β=0,654; p<0,001), sedangkan partisipasi masyarakat memediasi hubungan antara akseptabilitas pelayanan kesehatan dan citra rumah sakit (β=0,213; p=0,006). Selain itu, terdapat hubungan tidak langsung antara persepsi masyarakat dan citra rumah sakit melalui mediasi berantai akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat (β=0,183; p=0,008). Kesimpulan : Penelitian ini mengindikasikan bahwa persepsi masyarakat merupakan faktor yang paling dominan dalam pembentukan citra RSU Pengayoman Cipinang. Akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat berperan sebagai variabel mediasi yang memperkuat hubungan antara persepsi masyarakat dan citra rumah sakit. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan citra rumah sakit tidak hanya berkaitan dengan persepsi masyarakat, tetapi juga dengan penerimaan terhadap pelayanan kesehatan dan keterlibatan masyarakat terhadap rumah sakit pada institusi yang memiliki karakteristik historis khusus. Secara praktis, hasil penelitian ini mendukung pentingnya penguatan institutional branding, komunikasi publik, dan community engagement dalam memperkuat citra rumah sakit. Kata Kunci : persepsi masyarakat, citra rumah sakit, akseptabilitas pelayanan kesehatan, partisipasi masyarakat
Background : Hospitals function not only as healthcare institutions but also as social institutions whose image is associated with community perceptions, including public acceptance and engagement. Pengayoman Cipinang General Hospital has a unique historical background due to its previous role in providing healthcare services for correctional inmates. This historical characteristic provides an important context for understanding how the hospital's image is formed within the community. In addition, the utilization of outpatient specialist services at Pengayoman Cipinang General Hospital has not yet demonstrated a stable and sustainable pattern. This study aimed to analyze the relationship between community perceptions and the image of Pengayoman Cipinang General Hospital, as well as to examine the mediating roles of healthcare service acceptability and community participation within the context of the hospital's unique historical background. Methods : This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected using questionnaires distributed to community members living around Pengayoman Cipinang General Hospital who were aware of the hospital’s existence. The study variables included community perception, healthcare service acceptability, community participation, and hospital image. Data analysis was conducted using SEM-PLS. Results : The findings indicated that both community perceptions and hospital image were categorized as high. Healthcare service acceptability and community participation also demonstrated high levels as mediating variables in the proposed model. Community perception had a positive and significant relationship with healthcare service acceptability (β=0.859; p<0.001) and hospital image (β=0.669; p<0.001). Healthcare service acceptability had a positive and significant relationship with community participation (β=0.761; p<0.001), while community participation had a positive and significant relationship with hospital image (β=0.280; p=0.001). Mediation analysis demonstrated that healthcare service acceptability mediated the relationship between community perception and community participation (β=0.654; p<0.001), whereas community participation mediated the relationship between healthcare service acceptability and hospital image (β=0.213; p=0.006). In addition, there was a significant indirect relationship between community perception and hospital image through the serial mediation of healthcare service acceptability and community participation (β=0.183; p=0.008). Conclusion : This study indicates that community perceptions are the most influential factor in shaping the image of Pengayoman Cipinang General Hospital. Healthcare service acceptability and community participation serve as mediating variables that strengthen the relationship between community perceptions and hospital image. These findings suggest that the formation of hospital image is associated not only with community perceptions but also with public acceptance of healthcare services and community engagement, particularly in healthcare institutions with distinctive historical characteristics. Practically, the findings highlight the importance of strengthening institutional branding, public communication, and community engagement to enhance the hospital's image. Keywords : community perception, hospital image, healthcare service acceptability, community participation
B-2611
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raditha Cahyani Isty Ningdiyah; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Sampah merupakan sisa dari suatu kegiatan sehari-hari manusia dan proses alam yang berwujud padat, keberhasilan pengelolaan sampah berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan segala bentuk keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah mulai dari proses prencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor sosiodemografi, pengetahuan, dan faktor eksternal terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Batu Ampar, Jakarta Timur pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan metode penelitian cross sectional dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Setelah dilakukan perhitungan besar sampel minimum menggunakan rumus uji hipotesis beda proporsi (Lemeshow, 1990) didapatkan besar sampel minimum sebanyak 114 sampel. Hasil penelitian menyatakan bahwa mayoritas rumah tangga di Kelurahan Batu Ampar telah memiliki tingkat partisipasi tinggi dalam pengelolaan sampah rumah tangga yaitu sebanyak 60 responden (52,6%), dimana 54 responden lainnya (47,4%) memiliki tingkat partisipasi rendah dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Pada penelitian juga dinyatakan bahwa terdapat faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi pengelolaan sampah rumah tangga yaitu faktor sosiodemografi dan faktor eksternal. Faktor sosiodemografi yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi masyarakat adalah usia (nilai p 0,009; OR 10,26), sedangkan faktor eksternal yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi masyarakat adalah dukungan tokoh masyarakat (nilai p 0,002; OR 3,39). Untuk faktor sosiodemografi seperti jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan; pengetahuan; dan faktor eksternal berupa sarana prasarana tidak memiliki hubungan dengan partisipasi masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah variabel usia dan dukungan tokoh masyarakat memiliki hubungan yang signifikan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Waste is the residue of daily human activities and natural processes in solid form, the success of waste management is related to the level of community participation. Community participation is all forms of community involvement in waste management starting from the process of planning, implementation, to evaluation. The aim pf this research is to analyze the relationship between sociodemographic factors, knowledge, and external factors on community participation in household waste management in Batu Ampar Subdistrict, East Jakarta, in the year 2023. This study employs an analytic survey method using a cross-sectional research design with stratified random sampling as the sampling technique. After calculating the minimum sample size using the hypothesis test formula for the difference in proportions (Lemeshow, 1990), the minimum sample size was determined to be 114 samples. The research result indicated that majority of households in Batu Ampar Subdistrict have a high level of participation in household waste management, with 60 respondents (52,6%), while the remaining 54 respondents (47,4%) have a low level of participation. The study also states that there are factors significantly associated with household waste management participation, namely sociodemographic and external factors. Sociodemographic factors significantly associated with community participation are age (p-value 0,009; OR 10,26), while the external factors significantly associated with community participation is community leader support (p-value 0,002; OR 3,39). Sociodemographic factors such as gender, education, occupation, and income; knowledge; and external factors such as facilities do not have significant relationship with community participation. In conclusion, age and community leader support variable are significantly associated with community participation in household waste management.
Read More
Sampah merupakan sisa dari suatu kegiatan sehari-hari manusia dan proses alam yang berwujud padat, keberhasilan pengelolaan sampah berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan segala bentuk keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah mulai dari proses prencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor sosiodemografi, pengetahuan, dan faktor eksternal terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Batu Ampar, Jakarta Timur pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan metode penelitian cross sectional dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Setelah dilakukan perhitungan besar sampel minimum menggunakan rumus uji hipotesis beda proporsi (Lemeshow, 1990) didapatkan besar sampel minimum sebanyak 114 sampel. Hasil penelitian menyatakan bahwa mayoritas rumah tangga di Kelurahan Batu Ampar telah memiliki tingkat partisipasi tinggi dalam pengelolaan sampah rumah tangga yaitu sebanyak 60 responden (52,6%), dimana 54 responden lainnya (47,4%) memiliki tingkat partisipasi rendah dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Pada penelitian juga dinyatakan bahwa terdapat faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi pengelolaan sampah rumah tangga yaitu faktor sosiodemografi dan faktor eksternal. Faktor sosiodemografi yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi masyarakat adalah usia (nilai p 0,009; OR 10,26), sedangkan faktor eksternal yang memiliki hubungan signifikan dengan partisipasi masyarakat adalah dukungan tokoh masyarakat (nilai p 0,002; OR 3,39). Untuk faktor sosiodemografi seperti jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan; pengetahuan; dan faktor eksternal berupa sarana prasarana tidak memiliki hubungan dengan partisipasi masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah variabel usia dan dukungan tokoh masyarakat memiliki hubungan yang signifikan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Waste is the residue of daily human activities and natural processes in solid form, the success of waste management is related to the level of community participation. Community participation is all forms of community involvement in waste management starting from the process of planning, implementation, to evaluation. The aim pf this research is to analyze the relationship between sociodemographic factors, knowledge, and external factors on community participation in household waste management in Batu Ampar Subdistrict, East Jakarta, in the year 2023. This study employs an analytic survey method using a cross-sectional research design with stratified random sampling as the sampling technique. After calculating the minimum sample size using the hypothesis test formula for the difference in proportions (Lemeshow, 1990), the minimum sample size was determined to be 114 samples. The research result indicated that majority of households in Batu Ampar Subdistrict have a high level of participation in household waste management, with 60 respondents (52,6%), while the remaining 54 respondents (47,4%) have a low level of participation. The study also states that there are factors significantly associated with household waste management participation, namely sociodemographic and external factors. Sociodemographic factors significantly associated with community participation are age (p-value 0,009; OR 10,26), while the external factors significantly associated with community participation is community leader support (p-value 0,002; OR 3,39). Sociodemographic factors such as gender, education, occupation, and income; knowledge; and external factors such as facilities do not have significant relationship with community participation. In conclusion, age and community leader support variable are significantly associated with community participation in household waste management.
S-11537
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erze Vazela; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Permasalahan sampah menjadi isu yang terjadi secara global, nasional, hingga tingkat kota, termasuk di Kota Bogor yang sebagian besar timbulan sampahnya berasal dari sampah rumah tangga. TPS 3R hadir sebagai upaya pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui kegiatan pemilahan, pengolahan, dan daur ulang, yang efektivitasnya bergantung pada keterkaitan komponen input, proses, dan output. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengelolaan sampah di TPS 3R KSM Tamansari Persada Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, Kota Bogor berdasarkan ketiga komponen tersebut beserta keterkaitannya. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif yang didukung data kuantitatif sekunder, dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam kepada empat informan, yaitu pengurus KSM, petugas lapangan, masyarakat pengguna, dan pihak kelurahan, serta data pencatatan harian pengelolaan sampah selama empat belas bulan (2025-2026). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen input tersedia secara jumlah dan kelengkapan awal, tetapi belum dikelola secara optimal, terutama karena petugas lapangan masih berada di bawah kewenangan RT, bukan KSM, sehingga memengaruhi pemanfaatan sarana prasarana, pengelolaan pendanaan, keberlanjutan partisipasi masyarakat, dan pembinaan kelembagaan. Proses operasional menunjukkan penyempitan cakupan kegiatan 3R, di mana pemilahan bergeser dari masyarakat ke petugas dan pengolahan hanya terbatas pada pengomposan sederhana. Dari total 147.690 kg sampah yang tercatat, sampah organik yang diolah sebesar 32.086 kg (21,7%), anorganik 32.258 kg (21,9%), sedangkan residu masih mendominasi sebesar 83.346 kg (56,4%). Ketiga komponen tersebut saling berkaitan membentuk satu kesatuan sistem, di mana kelemahan pada komponen input berdampak pada proses dan output, serta output yang belum optimal kembali menurunkan partisipasi masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan perbaikan tata kelola sumber daya manusia dan penguatan pembinaan kelembagaan secara berkelanjutan agar sistem pengelolaan sampah TPS 3R dapat berjalan lebih optimal.
Waste management has become a global, national, and city-level issue, including in Bogor City, where most of the generated waste originates from households. The 3R Waste Reduction Facility (TPS 3R) was established as a community-based waste management effort through sorting, processing, and recycling activities, the effectiveness of which depends on the interrelation between input, process, and output components. This study aims to analyze the waste management system at TPS 3R KSM Tamansari Persada, Cibadak Village, Tanah Sareal, Bogor City, based on these three components and their interrelation. This research used a descriptive qualitative design supported by secondary quantitative data, with data collected through observation and in-depth interviews with four informants, namely the KSM management, field officers, community members, and the local sub-district (kelurahan) representative, as well as fourteen months (2025-2026) of daily waste record data. The results show that the input component was available in terms of quantity and initial completeness, but had not been managed optimally, mainly because field officers remained under the authority of the neighborhood unit (RT) rather than the KSM, which affected the utilization of facilities and infrastructure, financial management, the sustainability of community participation, and institutional support. The process component showed a narrowing of 3R activities, in which waste sorting shifted from the community to the officers, and processing was limited to simple composting. Of the total 147,690 kg of recorded waste, 32,086 kg (21.7%) of organic waste and 32,258 kg (21.9%) of inorganic waste were processed, while residual waste remained dominant at 83,346 kg (56.4%). The three components were found to be interrelated as a single system, in which weaknesses in the input component affected the process and output, and the suboptimal output, in turn, further reduced community participation. This study recommends improving human resource governance and strengthening continuous institutional support so that the TPS 3R waste management system can function more optimally.
S-12472
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
