Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Eka Rahmawati; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Evi MarthaSutanto Priyo Hastono, Fajrinayanti, Lia Rosi Vela
Abstrak:
Latar Belakang: Kasus COVID-19 telah meningkat sejak penyakit ini pertama kali ditemukan dan dinyatakan sebagai pandemi global. Pemerintah Indonesia telah menetapkan situasi tersebut sebagai bencana nasional melalui Keputusan Presiden RI No 12 Tahun 2020. Physical distancing merupakan salah satu tindakan yang direkomendasikan untuk mencegah COVID-19. Hasil survei perilaku individu selama masa pandemi COVID-19 menyebutkan bahwa tindakan menjaga jarak cenderung lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan masker dan mencuci tangan. Bagi masyarakat yang memiliki ikatan sosiologis yang seringkali dimanifestasikan melalui sentuhan fisik seperti beribadah secara berjamaah, bersalaman, berpelukan, cium pipi, hidup bersama serta terbiasa berkumpul dan semacamnya, physical distancing dapat dimaknai sebagai kontradiksi dengan nalar kemasyarakatan yaitu kebiasaan bersosialisasi. Tujuan: mengetahui hubungan persepsi masyarakat tentang COVID-19 dengan penerapan physical distancing. Metode: menggunakan data primer dengan pendekatan kuantitatif desain cross sectional. Hasil: Sebagian masyarakat (60,9%) menerapkan physical distancing. Sebagian masyarakat mempunyai persepsi kerentanan negatif (54,8%), persepsi keseriusan negatif (53,2%), persepsi manfaat positif (52,6%), persepsi hambatan negatif (55,8%), dan isyarat bertindak negatif (56,4%). Variabel yang paling dominan berhubungan dengan penerapan physical distancing adalah persepsi hambatan dengan OR 5,9 (95% CI: 2,376-14,828). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan, pendapatan, persepsi kerentanan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, dan isyarat bertindak dengan penerapan physical distancing
Background: COVID-19 cases have increased since this disease was first discovered and declared a global pandemic. The Indonesian government has designated the situation as a national disaster. Physical distancing is one of the recommended actions to prevent COVID-19. The results of individual behavior survey during the COVID-19 pandemic that social distancing measures tend to be lower than using masks and washing hands. For people who have sociological ties that are often manifested through physical touch, and living together, physical distancing can be interpreted as a contradiction with social reason, namely the habit of socializing. Aim: knowing the correlation of public perception about COVID-19 of physical distancing. Method: using primary data with quantitative approach withdesign cross sectional. Result: Some people (60.9%) apply physical distancing. Some people have negative perceive suscepbility (54.8%), negative perceive seriousness (53.2%), positive perceive benefit (52.6%), negative perceive barriers (55.8%), and negative cues to action (56, 4%). The most dominant variable related to the implementation of physical distancing is the perceive barriers with an OR of 5.9 (95% CI: 2,376-14,828). Conclusion: There is a significant correlation of education, income, perceived suscepbility, perceived benefits, perceived barriers, and cues to action with physical distancing
Read More
Background: COVID-19 cases have increased since this disease was first discovered and declared a global pandemic. The Indonesian government has designated the situation as a national disaster. Physical distancing is one of the recommended actions to prevent COVID-19. The results of individual behavior survey during the COVID-19 pandemic that social distancing measures tend to be lower than using masks and washing hands. For people who have sociological ties that are often manifested through physical touch, and living together, physical distancing can be interpreted as a contradiction with social reason, namely the habit of socializing. Aim: knowing the correlation of public perception about COVID-19 of physical distancing. Method: using primary data with quantitative approach withdesign cross sectional. Result: Some people (60.9%) apply physical distancing. Some people have negative perceive suscepbility (54.8%), negative perceive seriousness (53.2%), positive perceive benefit (52.6%), negative perceive barriers (55.8%), and negative cues to action (56, 4%). The most dominant variable related to the implementation of physical distancing is the perceive barriers with an OR of 5.9 (95% CI: 2,376-14,828). Conclusion: There is a significant correlation of education, income, perceived suscepbility, perceived benefits, perceived barriers, and cues to action with physical distancing
T-6137
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febby Anugrah Utami; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Prastuti Soewondo, Indah Rosana Djajadiredja
Abstrak:
Penelitian ini merupakan metode literature review untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap vaksin Covid-19. Hasil dari pencarian artikel didapatkan sebanyak 12 artikel yang membahas persepsi masyarakat terhadap vaksin Covid-19. Persepsi masyarakat terhadap vaksin covid-19 disimpulkan bahwa berniat menerima vaksin didasarkan pada kemanjuran vaksin, berpendapat punya tanggung jawab sosial, alasan Herd Immunity / kekebalan kawanan, dan alasan keinginan kembali ke hidup normal.
Read More
S-10857
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widyamurti; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Bambang Wispriyono, Aria Kusuma
Abstrak:
Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi masyarakat dengan kepatuhan menerapkan kebijakan social distancing. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam Penelitian ini adalah seluruh masyarakat DKI Jakarta usia produktif (15-64 tahun). Sampel penelitian ini berjumlah 408 orang, Variabel independen berupa persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan dan efikasi diri. Variabel dependent berupa kepatuhan menerapkan kebijakan social distancing. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner online dengan analisis data yang digunakan dalam penelitianini berupa analisis bivariate menggunakan uji chi square sedangkan analisa multivariate menggunkan uji regresi logistic.
Read More
S-10614
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Regina Elisabeth Simanjuntak; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Rita Damayanti, Lisda Sundari
Abstrak:
Di Depok angka perokok cukup tinggi terutama dikalangan remaja. Walaupun sudah ada peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok tidak mempengaruhi kelompok perokok untuk berhenti merokok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Karakteristik Dan Persepsi Masyarakat Terhadap Peringatan Kesehatan Pada Bungkus Rokok Di Depok Tahun 2017. Jenis penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif. Jumlah populasi sebanyak 104 orang. Teknik pengambilan sampel adalah secara acak. Data kuantitatif diperoleh melalui pemberian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkant angka perokok di Depok pada laki-laki cukup tinggi 80,3% dan perempuan 19,7% dan rata-rata perokok adalah Pradewasa yang berumur 18-24 tahun 34,4%. Perokok dikalangan Pra remaja adalah yang berstatus Mahasiswa 32,8%, pelajar 31,1%. Dapat dilihat bahwa Pradewasa masih kurang kesadaran akan bahaya merokok bagi kesehatan mereka. Visualisasi ancaman kesehatan pada bungkus rokok cukup memberikan perubahan sikap bagi perokok, dari yang perokok berat menjadi mengurangi kebiasaan merokoknya 60,3%, ada juga yang sampai ingin berhenti merokok. Penggunaan label visual peringatan pada bungkus rokok memiliki keefektifan yang cukup tinggi dalam memberi edukasi efektif terhadap bahaya merokok. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa visualisasi ancaman kesehatan pada kemasan rokok berhasil membuktikan adanya pengaruh positif terhadap motivasi seorang perokok untuk berhenti merokok.
Kata kunci: Gambaran Karakteristik Dan Persepsi Masyarakat Terhadap Peringatan Kesehatan Pada Bungkus Rokok.
In Depok the number of smokers is quite high, especially among teenagers. Although there are already pictorial health warnings on cigarette packs, it does not affect the group of smokers to quit smoking. The purpose of this research is to find out the characteristics and public perceptions of health warnings on cigarette packs in Depok in 2017. The type of research conducted is descriptive. The total population is 104 people. The sampling technique is random. Quantitative data is obtained through giving questionnaires. From the research results, the number of smokers in Depok is quite high at 80.3% and for women 19.7% and the average smoker is an adult who is 18-24 years old, 34.4%. Smokers among Pre teenagers are students with a status of 32.8%. And students 31.1% can be seen from the results of research that adults still lack awareness of the dangers of smoking to their healt. The visualization of health hazards on cigarette packs from 60.3%, there are also those who want to stop smoking. The visual usage label for cigarette packs has high effectiveness in providing effective education on the danger of smoking. Health protection on cigarette packaging has been proven to be positive for the motivation of smokers to quit smoking.
Key words: Characteristics and Public Perceptions of Health Warnings in Cigarette Packs
Read More
Kata kunci: Gambaran Karakteristik Dan Persepsi Masyarakat Terhadap Peringatan Kesehatan Pada Bungkus Rokok.
In Depok the number of smokers is quite high, especially among teenagers. Although there are already pictorial health warnings on cigarette packs, it does not affect the group of smokers to quit smoking. The purpose of this research is to find out the characteristics and public perceptions of health warnings on cigarette packs in Depok in 2017. The type of research conducted is descriptive. The total population is 104 people. The sampling technique is random. Quantitative data is obtained through giving questionnaires. From the research results, the number of smokers in Depok is quite high at 80.3% and for women 19.7% and the average smoker is an adult who is 18-24 years old, 34.4%. Smokers among Pre teenagers are students with a status of 32.8%. And students 31.1% can be seen from the results of research that adults still lack awareness of the dangers of smoking to their healt. The visualization of health hazards on cigarette packs from 60.3%, there are also those who want to stop smoking. The visual usage label for cigarette packs has high effectiveness in providing effective education on the danger of smoking. Health protection on cigarette packaging has been proven to be positive for the motivation of smokers to quit smoking.
Key words: Characteristics and Public Perceptions of Health Warnings in Cigarette Packs
S-9904
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shoaib Shafqat; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Fitri Kurniasari, Suhardi, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Read More
Akses terhadap air minum yang bersih dan aman merupakan aspek penting dalam kesehatan masyarakat. Namun, banyak warga di Jagakarsa, Jakarta Selatan, masih mengandalkan sumber air yang terkontaminasi akibat pencemaran, infrastruktur yang kurang memadai, dan rendahnya kesadaran masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai persepsi dan kesadaran masyarakat terhadap kualitas air minum. Studi ini menggunakan desain kuantitatif potong lintang dan melibatkan 108 responden dewasa dari enam kelurahan di Jagakarsa dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil menunjukkan bahwa 55,6% responden menggunakan air tanah sebagai sumber utama air minum, dan hanya 14,8% yang menggunakan air perpipaan. Meskipun 57,4% menilai air mereka jernih, 42,6% menganggapnya tidak aman untuk diminum, dan 31,5% mencium bau yang tidak sedap. Dalam hal perlakuan air, 41,7% responden merebus air, 25% menggunakan penyaringan, dan 15,7% tidak melakukan perlakuan apa pun. Tingkat kesadaran terhadap isu-isu terkait air tergolong sedang (56,5%), namun hanya 38,9% yang pernah menerima informasi melalui kampanye publik. Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan kesadaran (p < 0,05), serta antara sumber air utama dengan perilaku perlakuan air (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara persepsi dan kenyataan terkait keamanan air, serta pentingnya edukasi masyarakat, perbaikan perlakuan air, dan pengembangan infrastruktur untuk mendorong praktik konsumsi air minum yang aman di Jagakarsa.
Access to clean and safe drinking water is a fundamental aspect of public health. However, many residents in Jagakarsa, South Jakarta, continue to rely on contaminated water sources due to pollution, inadequate infrastructure, and limited public awareness. This study aimed to assess public perceptions and awareness regarding drinking water quality. A cross-sectional quantitative study was conducted among 108 adult residents across six subdistricts in Jagakarsa using a structured questionnaire. The results showed that 55.6% of respondents relied on groundwater, while only 14.8% used piped water. Although 57.4% perceived their water as clear, 42.6% believed it was unsafe to drink, and 31.5% reported unpleasant odors. In terms of treatment practices, 41.7% boiled their water, 25% used filtration, and 15.7% did not treat their water at all. Awareness of waterborne issues was moderate (56.5%), and only 38.9% had received information through public campaigns. Chi-square analysis revealed significant associations between education level and awareness (p < 0.05), as well as between the main water source and treatment behavior (p < 0.05). These findings highlight a gap between perception and actual water safety and underscore the importance of public education, improved treatment practices, and infrastructure development to promote safe drinking water use in Jagakarsa.
T-7341
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irvan Ramadhie; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ede Surya Darmawan, Fatimah, Mardalena
Abstrak:
Read More
Latar Belakang : Rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai institusi pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai institusi sosial yang citranya berhubungan dengan persepsi masyarakat, termasuk penerimaan dan keterlibatan masyarakat. RSU Pengayoman Cipinang memiliki karakteristik institusi khusus karena historisnya berkaitan dengan pelayanan kesehatan bagi warga binaan pemasyarakatan. Karakteristik tersebut menjadi konteks penting dalam memahami pembentukan citra rumah sakit di masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan layanan rawat jalan dokter spesialis di RSU Pengayoman Cipinang belum menunjukkan pola yang stabil dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara persepsi masyarakat dan citra RSU Pengayoman Cipinang serta peran akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat sebagai variabel mediasi dalam konteks karakteristik historis rumah sakit. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kepada masyarakat di sekitar yang mengetahui keberadaan rumah sakit. Variabel penelitian meliputi persepsi masyarakat dan citra rumah sakit. serta akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat sebagai variabel mediasi. Analisis data dilakukan menggunakan SEM-PLS. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dan citra rumah sakit berada pada kategori tinggi. Akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat juga menunjukkan kategori tinggi sebagai variabel mediasi dalam model penelitian. Persepsi masyarakat berhubungan positif dan signifikan terhadap akseptabilitas pelayanan kesehatan (β=0,859; p<0,001) serta citra rumah sakit (β=0,669; p<0,001). Akseptabilitas pelayanan kesehatan berhubungan positif dan signifikan terhadap partisipasi masyarakat (β=0,761; p<0,001), sedangkan partisipasi masyarakat berhubungan positif dan signifikan terhadap citra rumah sakit (β=0,280; p=0,001). Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa akseptabilitas pelayanan kesehatan memediasi hubungan antara persepsi masyarakat dan partisipasi masyarakat (β=0,654; p<0,001), sedangkan partisipasi masyarakat memediasi hubungan antara akseptabilitas pelayanan kesehatan dan citra rumah sakit (β=0,213; p=0,006). Selain itu, terdapat hubungan tidak langsung antara persepsi masyarakat dan citra rumah sakit melalui mediasi berantai akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat (β=0,183; p=0,008). Kesimpulan : Penelitian ini mengindikasikan bahwa persepsi masyarakat merupakan faktor yang paling dominan dalam pembentukan citra RSU Pengayoman Cipinang. Akseptabilitas pelayanan kesehatan dan partisipasi masyarakat berperan sebagai variabel mediasi yang memperkuat hubungan antara persepsi masyarakat dan citra rumah sakit. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan citra rumah sakit tidak hanya berkaitan dengan persepsi masyarakat, tetapi juga dengan penerimaan terhadap pelayanan kesehatan dan keterlibatan masyarakat terhadap rumah sakit pada institusi yang memiliki karakteristik historis khusus. Secara praktis, hasil penelitian ini mendukung pentingnya penguatan institutional branding, komunikasi publik, dan community engagement dalam memperkuat citra rumah sakit. Kata Kunci : persepsi masyarakat, citra rumah sakit, akseptabilitas pelayanan kesehatan, partisipasi masyarakat
Background : Hospitals function not only as healthcare institutions but also as social institutions whose image is associated with community perceptions, including public acceptance and engagement. Pengayoman Cipinang General Hospital has a unique historical background due to its previous role in providing healthcare services for correctional inmates. This historical characteristic provides an important context for understanding how the hospital's image is formed within the community. In addition, the utilization of outpatient specialist services at Pengayoman Cipinang General Hospital has not yet demonstrated a stable and sustainable pattern. This study aimed to analyze the relationship between community perceptions and the image of Pengayoman Cipinang General Hospital, as well as to examine the mediating roles of healthcare service acceptability and community participation within the context of the hospital's unique historical background. Methods : This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected using questionnaires distributed to community members living around Pengayoman Cipinang General Hospital who were aware of the hospital’s existence. The study variables included community perception, healthcare service acceptability, community participation, and hospital image. Data analysis was conducted using SEM-PLS. Results : The findings indicated that both community perceptions and hospital image were categorized as high. Healthcare service acceptability and community participation also demonstrated high levels as mediating variables in the proposed model. Community perception had a positive and significant relationship with healthcare service acceptability (β=0.859; p<0.001) and hospital image (β=0.669; p<0.001). Healthcare service acceptability had a positive and significant relationship with community participation (β=0.761; p<0.001), while community participation had a positive and significant relationship with hospital image (β=0.280; p=0.001). Mediation analysis demonstrated that healthcare service acceptability mediated the relationship between community perception and community participation (β=0.654; p<0.001), whereas community participation mediated the relationship between healthcare service acceptability and hospital image (β=0.213; p=0.006). In addition, there was a significant indirect relationship between community perception and hospital image through the serial mediation of healthcare service acceptability and community participation (β=0.183; p=0.008). Conclusion : This study indicates that community perceptions are the most influential factor in shaping the image of Pengayoman Cipinang General Hospital. Healthcare service acceptability and community participation serve as mediating variables that strengthen the relationship between community perceptions and hospital image. These findings suggest that the formation of hospital image is associated not only with community perceptions but also with public acceptance of healthcare services and community engagement, particularly in healthcare institutions with distinctive historical characteristics. Practically, the findings highlight the importance of strengthening institutional branding, public communication, and community engagement to enhance the hospital's image. Keywords : community perception, hospital image, healthcare service acceptability, community participation
B-2611
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
