Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ibnu Azfa Chairul Azam; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Irma Setiawaty Wulandari
Abstrak:
Read More
Usaha Mikro Kelas Menengah (UMKM) di Indonesia memberikan kontribusi PDB yang cukup tinggi tiap tahunnya dan menarik banyak tenaga kerja untuk bergabung di dalamnya, namun persoalan terkait keselamatan dan kesehatan pekerja di usaha informal masih belum diperhatikan. Perusahaan Leveleasy adalah usaha informal yang bergerak memberikan jasa sablon dan belum menjalankan beberapa Tindakan untuk keselamatan dan kesehatan kerja, salah satunya terkait ergonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor ergonomic yang berisiko pada tiap aktivitas dalam proses sablon pakaian di usaha informal Leveleasy. Penelitian ini bersifat deskriptif dan eksploratif dengan pendekatan analisis kualitatif dalam mengidentifikasi faktor risiko ergonomi yang ada dan menganalisis interaksinya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di setiap aktivitas kegiatan sablon yaitu pemasangan baju, pemasangan screen,pencetakan warna, dan pengeringan cat terdapat faktor risiko. Dari 4 faktor ergonomi yang berisiko diantaranya adalah faktor pekerjaan, faktor peralatan, dan faktor lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan perusahaan dapat memperbaiki waktu operasional kerja tiap harinya dan melakukan olahraga rutin agar kualitas otot dan sendi tetap baik, memasang bantalan karet pada rakel agar pergelangan tangan tetap aman, dan membuat inlet dan outlet untuk jalur pertukaran udara agar suhu dan kelembaban ruangan tetap nyaman.
Middle microenterprises (UMKM) in Indonesia contribute quite a high GDP each year and attract many workers to join them. However, issues related to the safety and health of workers in informal businesses are still not being addressed. The Leveleasy company is an informal business that provides screen printing services and has not implemented several measures for occupational safety and health, one of which is related to ergonomics. The aim of this research is to determine the risky ergonomic factors in each activity in the clothing screen printing process at the Leveleasy. This research is descriptive and exploratory with a qualitative analysis approach to identifying existing ergonomic risk factors and analyzing their interactions. The results of this research show that in every screen printing activity, namely clothing installation, screen installation, color printing, and paint drying, there are risk factors. Of the four risky ergonomic factors, they are job, tools/machine, and environmental factors. The program that can be made by the company can be to improve operational work hours each day, carry out regular exercise so that the quality of muscles and joints remains good, install rubber pads on squeegee to keep wrists safe, and create inlets and outlets for air exchange pathways so that room temperature and humidity remain stable and comfortable.
S-11698
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fatimah Husin; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menyebabkan 3,9 juta kematian di dunia. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi dengan angka prevalensi diatas prevalensi nasional yaitu dengan rentang prevalensi (10,71%-43,1%) dan menempati urutan ketujuh dalam kasus ISPA di Indonesia. Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta merupakan lokasi 3 industri batik printing. Proses produksi di industri batik printing menghasilkan partikulat debu yang dapat berpengaruh pada kesehatan pekerja.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pajanan faktor lingkungan fiisik kerja dengan kejadian ISPA pada pekerja di industry batik printing Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 103 pekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan fisik kerja yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian ISPA pada pekerja adalah kelembaban udara (3,14;1,20-8,25). Himbauan penggunaan APD perlu diterapkan pada pekerja industry batik printing.
Kata Kunci : Faktor Lingkungan Fisik Kerja, Infeksi Saluran Pernapasa Akut (ISPA), Industri Batik Printing
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pajanan faktor lingkungan fiisik kerja dengan kejadian ISPA pada pekerja di industry batik printing Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 103 pekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan fisik kerja yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian ISPA pada pekerja adalah kelembaban udara (3,14;1,20-8,25). Himbauan penggunaan APD perlu diterapkan pada pekerja industry batik printing.
Kata Kunci : Faktor Lingkungan Fisik Kerja, Infeksi Saluran Pernapasa Akut (ISPA), Industri Batik Printing
S-8715
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bella Anggia; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Nurul Iman
Abstrak:
Penelitian ini membahas tentang analisis risiko keselamatan dan kesehatan kerjapada proses kerja pembuatan kemeja dan kaos sablon di Asrila Konveksi, Mugi,dan Mitra Pengancingan, Jakarta tahun 2017. Pada penelitian ini, identifikasibahaya menggunakan Job Safety Analysis (JSA) dan analisis risikomenggunakan ukuran standar semi kuantitatif W.T. Fine. Penelitian inidilakukan dengan pendekatan observasi dan wawancara. Pada penelitian initerdapat tujuh proses kerja yang terdiri atas 17 task kerja dan ditemukan 5 jenisbahaya yaitu fisik, biologi, kimia, ergonomi, dan psikososial dengan jumlah 103bahaya keselamatan dan kesehatan kerja. Bahaya yang paling banyak ditemukanadalah bahaya fisik. Analisis risiko dilakukan dengan menghitung nilai basicrisk, existing risk, dan predictive risk yang selanjutnya diketahui tingkat risikopada setiap penilaian tersebut dengan mempertimbangkan pengendalian yangsudah diterapkan dan rekomendasi pengendalian yang diberikan.
Kata Kunci: Analisis risiko; Konveksi; K3; Pembuatan kemeja; Kaos sablon
Read More
Kata Kunci: Analisis risiko; Konveksi; K3; Pembuatan kemeja; Kaos sablon
S-9316
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Esy Dwi Putrianti; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Ike Pujiriani
Abstrak:
Bengkel EDP Motor adalah salah satu bengkel yang menyediakan layanan catmobil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen risiko K3 yang ada dibengkel EDP Motor dan merekomendasikan saran yang sesuai. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2012 dengan menggunakan analisis semi kuantitatif yang beracuan pada AS NZS 2004. Hasil penilaian risiko di bengkel EDP Motor menemukan bahwa risiko yang ada terdiri dari very high, priority 1, substantial, priority 3 dan acceptable. Bengkel EDP Motor membutuhkan penggunaan lantaiyang tidak licin, masker bahan kimia saat bekerja dan tidak merokok di area kerja.Kata kunci: bengkel, pengecatan, AS/NZS 4360:2004, manajemen risiko, semikuantitatif.
EDP Motor Workshop was one workshop that provides auto paint services.This study aimed to assess the risks that exist in the workshop K3 EDP Motor andrecommend appropriate advice. The research was conducted in 2012 using semiquantitative analysis method of AS NZS 2004. The results of risk assessment in theworkshop EDP Motor found that risk is consist of very high, priority one, substantial,priority 3 and acceptable. EDP Workshop motor requires the use of the floor is notslippery, chemical mask at work and do not smoke in the work area.Key word : workshop, painting, AS/NZS 4360:2004, risk management, semiquantitative.
Read More
EDP Motor Workshop was one workshop that provides auto paint services.This study aimed to assess the risks that exist in the workshop K3 EDP Motor andrecommend appropriate advice. The research was conducted in 2012 using semiquantitative analysis method of AS NZS 2004. The results of risk assessment in theworkshop EDP Motor found that risk is consist of very high, priority one, substantial,priority 3 and acceptable. EDP Workshop motor requires the use of the floor is notslippery, chemical mask at work and do not smoke in the work area.Key word : workshop, painting, AS/NZS 4360:2004, risk management, semiquantitative.
S-7673
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mita Septaria Hasugian; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Tri Haryanto
Abstrak:
Penelitian bertujuan mengetahui faktor yang berhubungan dengan keluhan pernafasan subyektif pada operator cetak yang terpajan (PM2,5) di lingkungan produksi. Subyek penelitian ini adalah 51 pekerja operator cetak shift tiga. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi PM2,5 lebih tinggi ditemukan pada daerah mesin solna 1 (0,463 mg/m 3 ) dan solna (40,211 mg/m3 ) dibandingkan mesin HT dan magnum. Ditemukan operator mengalami keluhan pernafasan sebanyak 88,2% dan yang tidak mengalami ada 11,8%. Ditemukan tidak adanya perbedaan yang signifikan konsentrasi PM2,5, durasi pajanan, perilaku merokok dan karakteristik tempat tinggal dengan keluhan pernafasan subyektif. Diperlukan perbaikan desain lingkungan kerja serta penggunaan alat pelindung pernafasan yang baik dan benar.
Kata kunci : Particulate Matter 2,5 (PM2,5), operator cetak, keluhan pernafasan, lingkungan produksi
This study aimed to determine factors that associated with subjective respiratory complaints on printing operator who exposured particulate matter 2,5 respirable in the environment of production. The subjects of research in the measurement are 51 printing operators in the third shift. The result showed that the higher average exposure concentrations of PM2,5 were found in the Solna 1 machine (0,463 mg/m3 ) and Solna 4 machine (0,211 mg/m3 ) than HT 1,2,3 machine and magnum machine. The result also showed that the printing operators who get the subjective respiratory complaints are 88,2 percents and who not to get the subjective respiratory complaints are 11,8 percents. There were not significant differences between the average concentration of PM2,5 in production area, the duration of exposure, smoking habit and characteristic of living environment with the subjective respiratory complaints. Further improvements on the design of working environment and the good using of respiratory protective equipments.
Keywords : Particulate Matter 2,5 (PM2,5), printing operator, respiratory complaints, production area
Read More
Kata kunci : Particulate Matter 2,5 (PM2,5), operator cetak, keluhan pernafasan, lingkungan produksi
This study aimed to determine factors that associated with subjective respiratory complaints on printing operator who exposured particulate matter 2,5 respirable in the environment of production. The subjects of research in the measurement are 51 printing operators in the third shift. The result showed that the higher average exposure concentrations of PM2,5 were found in the Solna 1 machine (0,463 mg/m3 ) and Solna 4 machine (0,211 mg/m3 ) than HT 1,2,3 machine and magnum machine. The result also showed that the printing operators who get the subjective respiratory complaints are 88,2 percents and who not to get the subjective respiratory complaints are 11,8 percents. There were not significant differences between the average concentration of PM2,5 in production area, the duration of exposure, smoking habit and characteristic of living environment with the subjective respiratory complaints. Further improvements on the design of working environment and the good using of respiratory protective equipments.
Keywords : Particulate Matter 2,5 (PM2,5), printing operator, respiratory complaints, production area
S-9251
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ambar Kusharyadi; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Dwi Wantoro
S-7974
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rini Anggraeni; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, Istiati Suraningsih
Abstrak:
Penelitian ini membahas mengenai persepsi risiko bahaya kimia pada pekerja sektor informal tahun 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif yang menggunakan kuesioner ceklis untuk menilai variabel-variabel independen. Tujuan penelitian adalah untuk melihat gambaran persepsi terhadap risiko bahaya kimia beserta gambaran faktor-faktor yangberhubungan dengan persepsi risiko bahaya kimia, diantaranya pengalaman,kesukarelaan, ketakutan, pengendalian, potensi dampak, dan kondisi lingkungan kerja. Penelitian ini juga dilakukan untuk melihat gambaran perbandingan persepsi pekerja terhadap risiko bahaya kimia di kedua tempat industri informal yaitu industri penyamakan kulit dan industri sablon. Hasil penelitian menggambarkan bahwa secara umum persepsi risiko bahaya kimia pada pekerjasektor informal sudah baik, walaupun masih ada beberapa pekerja yang memilikipersepsi yang buruk terhadap risiko bahaya kimia. Berdasarkan lokasi kerja,persepsi risiko bahaya kimia pada pekerja sablon lebih baik dibandingkan dengan pekerja penyamakan kulit. Persepsi yang baik pada pekerja dikedua tempat ini didapatkan karena : pekerja sudah memiliki pengalaman yang baik terkait kejadian risiko bahaya kimia, sukarela menerima risiko bahaya kimia, memiliki ketakutan terhadap risiko bahaya kimia, pekerja merasa mampu mengendalikan risiko bahaya kimia, menilai risiko bahaya kimia sebagai risiko yang berpotensi katastropik, dan menilai lingkungan kerja sudah aman dari risiko bahaya kimia.
Read More
S-8177
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
