Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 44 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fransisca Dasilva; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Surya Ede Darmawan, Adik Wibowo, Effie Kartikarini, Anastasia Susetyo Tri R.
Abstrak: Dalam sistem tatakelola rumah sakit budaya keselamatan menjadi hal penting, dimana tidak hanya terfokus pada keselamatan pasien saja, tetapi juga keselamatan kerja petugas. Hal tersebut terkait pada keselamatan dari berbagai aspek, baik dalam hal pengobatan maupun keamanan fasilitas. Terpeliharanya sarana dan prasarana rumah sakit dengan baik dan sesuai standar pedoman yangada sangat mendukung kegiatan pelayanan yang dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efektivitas kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana berupa bangunan dan utilitas di Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo melaui komponen input, proses, dan output kegiatan tersebut. Desain penelitian adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, telaah dokumen, pengamatan dan analisis. Pada penelitian ini digunakan kerangka pendekatan sistem dengan memasukkan sarana manajemen pada unsur input, pendekatan siklus manajemen kualitas berupa PPEPP pada unsur proses, hasil kegiatan berupa keterselesaian kegiatan pada unsur outputnya, serta melakukan penilaian efektivitas kegiatan menggunakan pendekatan hasil (goal oriented approach). Informan pada penelitian ini terdiri dari Komandan Satuan Markas, Kepala Bagian Program dan Rencana Anggaran, Kepala Bagian terkait pemeliharaan fasilitas dan utilitas, kepala tata usaha bagian pemeliharaan, dan petugas pelaksana kegiatan. Berdasarkan hasil wawancara mendalam, telaah dokumen, pengamatan, serta penilaian efektivitas kegiatan diketahui bahwa kegiatan pemeliharaan sarana prasarana rumah sakit untuk yang bersifat rutin sudah dianggap efektif dengan nilai perbandingan OS/OA ≥ 1, sementara untuk kegiatan yang bersifat insidentil belum efektif dengan nilai OS/OA < 1. Komponen kegiatan pemeliharaan dari unsur input yang dapat menjadi potensi menghambat efektivitas adalah kurangnya SDM, pengalihan anggaran rutin akibat adanya kegiatan insidentil yang tak terduga, serta manajemen stok bahan material yang dipakai. Sedangkan dari komponen proses ditemukan tahap penetapan yang masih belum detail, aktivitas pengendalian terhadap kegiatan yang belum efektif yang pasif, serta tahap peningkatan kualitas hasil pekerjaan yang masih samar. Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah belum efektifnya pelaksanaan kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit memerlukan tindakan pengendalian lebih lanjut dengan melakukan koreksi serta pemecahan masalah yang ditemukan pada komponen input yang terdiri dari SDM, anggaran, bahan material, dan SOP yang berlaku. Untuk kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit yang telah efektif sebaiknya dilakukan aksi peningkatan kegiatan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, sehingga dapat menghasilkan output dengan mutu yang semakin baik
Read More
B-2398
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ester Tarida Ulibasa; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Dian Ayubi, Adang Bachtiar, Rulliana Agustin, Ratna Asih
Abstrak: Tuberkulosis sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Indonesia negara tertinggi kedua untuk kasus TB terbanyak, Kabaupaten Tangerang penyumbang paling tinggi di Provinsi Banten, penemuan kasus TB di Kabupaten masih belum mencapai target. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan faktor determinan petugas TB yang berpengaruh dalam pelaksanaan kasus tuberkulosis paru di Puskesmas Kabupaten Tangerang. predisposisi yaitu pengetahuan, motivasi, imbalan, dan pemahaman tugas; faktor pemungkin yaitu sumber daya, tugas rangkap dan pelatihan; maupun faktor penguat yaitu supervisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan metode campuran. Populasi penelitian adalah seluruh petugas TB di Puskesmas se-Kabupaten Tangerang dengan total sebanyak 44 orang, maka seluruh populasi diambil sebagai sampel dengan kriteria inkulsi sebanyak 35 orang petugas. Tahapan analisis data yaitu univariat, bivariat dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh sumber daya (p=0,003), supervisi (p=0,001), pelatihan (p=0,027), imbalan (p=0,001), tugas rangkap (p=0,001), tugas rangkap (p=0,001), pemahaman tugas(p=0,001), motivasi(p=0,001) dan pengetahuan (p=0,001) terhadap pelaksanaan penemuan kasus TB. Diharapkan puskesmas perlu berkomitmen dalam mendukung pelaksanaan penemuan kasus TB dengan cara menginstruksikan, melakukan supervisi, memberikan reward. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang agar dapat melengkapi sarana maupun prasarana
Read More
T-6401
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amri Hidayat; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Besral, Ayu Nurul Chotimah
S-8390
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ilyas Rian Permana; Pembimbing : Anhari Achadi; Penguji: Vetty Yulianty; Aisyah
S-9591
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Kiswiranti; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Hanny Harjulianti
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang penilaian risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada setiap tahap aktivitas kerja yang dilakukan oleh Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPPSU). Penelitian ini menggunakan Job Hazard Analysis (JHA) untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko yang ada dan menggunakan metode semi kuantitatif W.T Fine untuk menganalisis risiko, dimana tingkat risiko didapatkan dari hasil perkalian probability, exposure, dan consequence. Pada penelitian ini terdapat 3 aktivitas kerja yaitu penanganan kebersihan jalan, penanganan kebersihan taman, dan penanganan kebersihan saluran. Penanganan kebersihan jalan dan penanganan kebersihan saluran masing-masing terdiri atas 7 tahap aktivitas kerja dan penanganan kebersihan taman terdiri atas 9 tahap aktivitas kerja. Hasil analisis risiko menunjukkan bahwa keseluruhan terdapat 149 bahaya dan risiko yang terdiri dari 5 jenis bahaya yaitu bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial. Kata kunci: Identifikasi bahaya, Penilaian Risiko, Petugas kebersihan.
Read More
S-10004
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erma Fauziah Zahara; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Surya Ede Darmawan, Murni Hayati
S-6830
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riza Haniputra; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Budiman Widjaja, Rudy Pou
Abstrak: Dengan diimplementasikannya program Jaminan Kesehatan Nasional JKN pada 1Januari 2014, rumah sakit dihadapkan pada 2 dua tarif, yaitu tarif rumah sakit yangdisusun berdasarkan biaya satuan sesuai dengan amanat BLU, dan tarif INA-CBG rsquo;s yangmerupakan tarif paket yang akan dibayarkan atas pelayanan rawat inap pasien BPJS.Terdapat perbedaan sistem pembayaran pelayanan kesehatan, perbedaan sistempembayaran tersebut mengakibatkan adanya perbedaan selisih penerimaan rumah sakitantara tarif INA-CBG rsquo;s dengan tagihan klaim rumah sakit berdasar pada tarif rumahsakit, jasa pelayanan dan jasa sarana rumah sakit.
Penelitian ini merupakan penelitiankualitatif dengan menggunakan data sekunder klaim tagihan pasien rawat inap BPJSRSUD Kudungga bulan Februari-Mei 2017 sebanyak 1187 klaim, dan data primerwawancara mendalam beberapa informan. Hasil dari penelitian ini didapatkan selisihpositif sebesar Rp. 755.096.435,- 13 pada penerimaan total rumah sakit pada seluruhkelas ruang perawatan, selisih positif pada jasa pelayanan sebesar Rp. 845.964.814,- 40 , dan selisih negatif pada jasa sarana rumah sakit sebesar Rp. 90.868.379,- -3.
Rencana tindak lanjut yang akan dilakukan rumah sakit adalah melakukan upaya kendalimutu dan kendali biaya dengan efisiensi rumah sakit, meningkatkan jumlah kunjunganpada ruang perawatan yang memberikan selisih positif, standardisasi pelayanan melaluipenerapan clinical pathway dan formularium obat serta melakukan pengembanganSIMRS. Upaya kendali mutu dan biaya harus dilakukan rumah sakit sebagai langkahstrategis dalam implementasi program JKN.
Kata Kunci: Tarif Rumah Sakit, Tarif INA-CBG's, Perbedaan, Jasa Pelayanan, JasaSarana

With the implementation of the National Health Insurance JKN program on January 1,2014, the hospital is faced with two tariffs, namely hospital tariff based on unit cost inaccordance with BLU mandate, and INA CBG 39 s tariff which is the package rate to bepaid for patient care of BPJS. There is a difference in the health service payment system, the difference between the payment system resulted in differences in hospital admissionsbetween INA CBG 39 s tariffs and hospital claims based on hospital tariffs, hospital servicesand services.
This research is a qualitative research using secondary data claims of BPJSinpatients of RSUD Kudungga in February May 2017 as many as 1187 claims, andprimary data of in depth interviews of several informants. The results of this study founda positive difference of Rp. 755,096,435, 13 on total hospital admissions for allclasses of treatment rooms, positive difference in service cost of Rp. 845,964,814, 40 , and the negative difference in hospital facilities is Rp. 90.868.379, 3.
Thefollow up plan to be performed by the hospital is to make quality control and cost controlefforts with hospital efficiency, increase the number of visits in the treatment room whichprovide positive difference, standardization of services through the implementation ofclinical pathway and drug formulary and develop SIMRS. Efforts to control the qualityand cost must be done by the hospital as a strategic step in the implementation of JKNprogram.
Keywords Hospital Rates, INA CBG's Rates, Differences
Read More
B-1939
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gede Eka Rusdi Antara; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Adik Wibowo, I Made Darmajaya; Kurnia Sari, Ns. I Gede Made Arnata
Abstrak: Pelayanan pembedahan merupakan pelayanan kesehatan di rumah rumah sakit yang dapat menggambarkan mutu rumah sakit. Peningkatan jumlah kunjungan, ketersediaan sarana dan prasarana, ketersediaan sumber daya manusia serta lamanya waktu yang diperlukan untuk memperoleh persetujuan untuk tindakan operasi dari pasien dan keluarga dapat menyebabkan waktu tunggu tindakan operasi menjadi panjang. Penelitian ini menggunakan rancangan mix method yaitu kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian observasional analitik cross sectional. Penelitian ini melibatkan 54 responden pada penelitian kuantitatif dan 7 informan pada penelitian kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan kejadian bed block sebanyak 38,9 % dan tidak terjadi bedblock 61,1%. Persetujuan operasi diperoleh dalam waktu ≥ 1 jam dari 17 responden (31,5%) dan persetujuan operasi yang diperoleh dalam waktu < 1 jam sebanyak 37 responden (68,5%). Alat dan sarana didapatkan tidak lengkap 5,6% dan lengkap 94,4%. Waktu tunggu tindakan operasi yang ≥ 5 jam dikategorikan delay sebanyak 33,3%, waktu tunggu tindakan operasi yang < 5 jam dikategorikan tidak delay sebanyak 66,7%.

Analisis bivariat dengan Chi Square menunjukkan pvalue 0,000 untuk hubungan antara bed block dengan keterlambatan operasi, p-value 0,000 untuk hubungan antara persetujuan operasi dengan keterlambatan operasi, p-value 0,012 hubungan alat dan sarana dengan keterlambatan operasi. Faktor yang paling berpengaruh adalah persetujuan operasi dengan p-value 0,005 dengan regresi logistik.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara bed block, persetujuan operasi serta alat dan sarana terhadap keterlambatan operasi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan strategi peningkatan kualitas pelayanan pembedahan di Instalasi Rawat Darurat.

Key words: bed block, sumber daya manusia, persetujuan operasi, alat dan sarana operasi, keterlambatan tindakan operasi

Surgery is part of medical services that summarized the hospital performance. Increased hospital visits, unavailability of tools, unavailability of human resources, and times consumed to get patient agreement for surgery may causing delay to operation. This is mix method study, quantitative and qualitative. The quantitative study is observational analytic, cross sectional. This study includes 54 respondents in quantitative study and 7 informants in qualitative study.

The result showed bed block events is 38,9 %. Agreement following informed consent is obtained in ≥ 1 hour for 17 respondents (31,5%) and < 1 hour for 37 respondents (68,5%). Tools and equipment are complete and available in 94,4% cases and incomplete in 5,6% cases. Time consumed waiting for operation is categorized delay if ≥ 5 hours in 33,3% cases, categorized not delay if < 5 hours in 66,7%.

Bivariate analysis using Chi Square showed p-value 0,000 for correlation between bed block and delay to operation, p-value 0,000 for correlation between time consumed to obtain agreement for surgery, p-value 0,012 for correlation between tools and equipment with delay to operation. The most influencing factor is operation agreement with pvalue 0,005 using logistic regression.

From this study, we conclude there is significant correlation between bed block, time consumed for obtain operation agreement, tools and equipment availability with delay to operation. This result is a base in making strategy to improve quality of surgery services in emergency department.

Key words: bed block, human resources, operation agreement, tools and equipment, delay to operation
Read More
B-1959
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Denny Lyus Sihite; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Mufti Wirawan, Agus Triyono
Abstrak:
Gedung Balai Kota Provinsi DKI Jakarta sebagai simbol Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta memiliki bangunan gedung yang semakin kompleks baik dari segi intensitas, teknologi, maupun kebutuhan prasarana dan sarananya. Ancaman bahaya kebakaran merupakan suatu bahaya yang dapat membawa bencana yang besar dengan akibat yang luas, baik terhadap keselamatan jiwa maupun harta benda yang secara langsung akan menghambat kelancaran pembangunan, khususnya di Provinsi DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran di gedung Balai Kota Provinsi DKI Jakarta dengan melakukan analisis keandalan sistem proteksi kebakaran dan sarana penyelamatan jiwa di gedung Balai Kota Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini adalah studi deskriptif dengan metode kualitatif, dimana untuk mendapatkan data yang dibutuhkan adalah dengan pengamatan langsung di lapangan. Hasil dari pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dimasukkan ke dalam Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan (NKSKB) dengan menggunakan referensi Pedoman Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung SNI Pd-T-11-2005- C untuk memperoleh informasi tingkat keandalan dari bangunan gedung. Hasil dari penelitian ini gedung Balai Kota Provinsi DKI Jakarta memiliki tingkat keandalan bangunan gedung dengan nilai 87,6% yaitu klasifikasi Baik.

The City Hall Building of DKI Jakarta Province as a symbol of the Regional Government of DKI Jakarta Province has increasingly complex buildings in terms of intensity, technology, and infrastructure and facilities. The threat of fire hazard can lead to major disasters with severe consequences, both for the safety of life and property, which will directly hinder the smooth running of development, especially in DKI Jakarta Province. The purpose of this study was to determine the efforts to prevent and overcome fire hazards in the City Hall Building of DKI Jakarta Province by analyzing the reliability of fire protection systems and life-saving facilities in the City Hall Buliding of DKI Jakarta Province. This research is a descriptive study with qualitative methods, where to obtain the required data is direct observation in the field. The results of observations made by researchers are entered into the Building Safety System (NKSKB) Reliability Value by using the SNI Pd-T-11-2005-C Building Fire Safety Reference Guidelines to obtain information on the level of reliability of the building. The results of this study DKI Jakarta Province City Hall building has a level of building reliability with a value of 87.6%, namely Good classification.

Read More
T-5910
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raja Alif Fathullah; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Nia Dwi Handayani, Mila Tejamaya
Abstrak: Penelitian ini membahas implementasi dan analisisnya terkait sistem proteksi aktif dan pasif terhadap kebakaran kebakaran serta sarana penyelamatan jiwa yang ada di Jakarta International Stadium pada tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan metode semi-kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh tingkat kesesuaian keseluruhan implementasi yang menunjukkan nilai sebesar 77,79% pada Existing result dan dikategorikan ?Cukup (C)?. Selain itu diperoleh pula nilai pada Proyecting result sebesar 84,65% yang dikategorikan "Baik (B)". Hasil ini menunjukkan bahwa implementasi yang ada dianggap cukup mampu untuk mempertahankan konstruksi bangunan selama kebakaran terjadi, memberikan pertahanan pada bangunan untuk mencegah penyebaran api dan asap, melakukan pendeteksian, penginformasian, dan pemadaman api kebakaran, serta mampu untuk menyediakan sarana dan rute jalan keluar dan meminimalisir adanya hambatan yang dapat berdampak pada total waktu evakuasi penghuni hingga mencapai eksit pelepasan dan titik berkumpul sementara
This study discusses the implementation and analysis of active and passive fire protection systems and means of egress at the Jakarta International Stadium in 2022. This study uses a descriptive analytic research design using a semi-quantitative method. Based on the results of the study, the overall level of conformity of the implementation showed a value of 77.79% in the Existing result and was categorized as "Enough (C)". In addition, the score on the Projecting Result was 84.65% which was categorized as "Good (B)". These results indicate that the existing implementation is considered capable of maintaining building construction during a fire, providing defense to the building to prevent the spread of fire and smoke, detecting, informing, and extinguishing fires, and being able to provide means and egress routes and minimize obstacles that can impact the total evacuation time of occupants until they reach the release exit and assembly point.
Read More
S-11033
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive