Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anis Fitriyani; Pemb. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Sri Tjahjani Budi Utami, Rina Hasriana, Jajat Nugraha
T-3972
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Reni Adha; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Dina Bisara, Maria Gayatri
Abstrak:
Setelah melahirkan banyak wanita tidak menyadari kapan akan kembali masa subur, dan pada umumnya rata-rata wanita mengalami masa subur setelah terjadi menstruasi. Indonesia tren periode kembalinya menstruasi pertama pasca persalinan pada tahun 2007 adalah 3,1 bulan, pada tahun 2012 adalah 2,4 bulan, dan pada tahun 2017 menjadi 3 bulan. Kembalinya menstruasi terlalu dini dapat mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), jarak melahirkan yang berikutnya terlalu pendek dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kembalinya mentruasi pasca persalinan adalah status tempat tinggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status tempat tinggal dengan waktu kembalinya menstruasi pertama pasca persalinan berdasarkan SDKI 2017. Desain penelitian ini yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan populasi studi 3464 wanita. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan Cox Regression, didapatkan adanya perbedaan secara signifikan untuk terjadinya kembali menstruasi pertama pasca persalinan antara wanita yang tinggal di urban dibandingkan wanita yang tinggal dirural. Wanita yang tinggal di urban akan lebih cepat 1,141 kali untuk kembali menstruasi pasca persalinanan dibandingkan wanita yang tinggal di rural

After giving birth many women do not realize when they will return to the fertility period, and at the same time women decide on the fertile period after menstruation occurs. The Indonesian trend for the period of the return of the first menstruation post partum in 2007 was 3.1 months, in 2012 it was 2.4 months, and in 2017 it became 3 months. Return of menstruation too early can be obtained unwanted (KTD), the distance to get the next one is also short can cause various health problems. One of the factors influencing the return of postpartum menstruation is the status of residence. This study aims to study the relationship of residence status with the time of the return of first menstruation after childbirth based on the 2017 IDHS. The design of this study was a retrospective cohort with 3464 study participants. The results of multivariate analysis using Cox Regression, obtained significant differences earlier to increase the return of first menstruation after childbirth among women who lived in urban areas compared to women who lived dirural. Women who live in urban areas will be 1,141 times faster to return to menstruation after women who live in rural areas.

Read More
T-5944
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marita Pratami; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Kemal Nazaruddin Siregar, Agus Suwandono, Teti Tejayanti
Abstrak: Masalah kesehatan maternal terutama masalah kematian ibu masih menjadi masalah prioritas Bangsa Indonesia dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Angka kematian ibu yang tinggi sering dikaitkan dengan pemanfaatan layanan kesehatan ibu bersalin. Pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu bersalin di Indonesia menunjukkan variasi antar wilayah regional, diduga berhubungan oleh faktor lingkungan dan perbedaan karakteristik dari populasi. Penelitian ini mengukur pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu bersalin dan mempelajari besar hubungan lingkungan dan karakteristik populasi terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu bersalin.
Read More
T-6340
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Puspita Sindi Amaliasari; Pembimbing: Rita Damayanti, Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Maria Gayatri, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak:
Latar Belakang: Tren penggunaan KB tradisional di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2017 saja pengguna KB tradisional pada wanita usia subur di Indonesia mencapai 6% yang berarti melebihi angka rata-rata dunia yang sebesar 5%. Pengguna KB tradisional di Indonesia banyak terjadi di kalangan wanita usia subur di perkotaan dan status ekonomi tinggi. Hal ini menjadi perhatian karena KB tradisional memiliki angka kegagalan yang tinggi, berisiko untuk mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan. Angka kehamilan yang tidak diinginkan pun juga banyak terjadi di kalangan wanita usia subur yang tinggal di perkotaan dan memiliki status ekonomi tinggi. Tujuan: untuk melihat perbedaan penggunaan KB tradisional pada wanita usia subur berdasarkan klasifikasi tempat tinggal dan status ekonomi pada periode 2002-2003, 2007, 2012, dan 2017. Metode Penelitian: cross sectional dengan menggunakan data sekunder yakni SDKI. Hasil: terdapat perbedaan penggunaan KB tradisional pada wanita usia subur berdasarkan tempat tinggal pada periode 2007, 2012, dan 2017, serta terdapat perbedaan penggunaan KB tradisional pada wanita usia subur berdasarkan status ekonomi pada periode 2007, dan 2012. Kesimpulan: Terdapat peningkatan risiko penggunaan KB tradisional pada wanita usia subur di perkotaan dan status ekonomi tinggi dimana variable pengetahuan tentang jenis KB adalah perancunya

Background: Trend of using traditional family planning in Indonesia is increasing from year to year. In 2017, traditional family planning users in women reproductive age in Indonesia reached 6%, which means more than world average of 5%. Traditional family planning users in Indonesia occur mostly among women reproductive age in urban and high economic status. Traditional family planning has a high failure rate, at the risk of causing unwanted pregnancies. The number of unwanted pregnancies is also common among women reproductive age who live in urban and have high economic status. Aim: see differences in the use of traditional family planning among women reproductive age based on the classification of residence and economic status in the 2002-2003, 2007, 2012, and 2017. Methods: cross sectional using secondary data, IDHS. Results: there are differences in the use of traditional family planning among women reproductive age based on place of residence in the 2007, 2012 and 2017, and based on economic status in the 2007 and 2012. Conclusion: There is an increased risk of using FP traditional in women reproductive age in urban and high economic status where the variable knowledge about types of family planning is the confounder.

Read More
T-5952
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asma Ul Husna; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah; Masdalina Pane, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Asma Ul Husna Program Studi : Magister Epidemiologi Judul : Hubungan StatusTempat Tinggal Dengan Prehipertensi (Analisis Data Indonesian Family Life Survey 5 Tahun 2014) Pembimbing : Dr. dr. Krisnawati Bantas, M.Kes Latar Belakang : Prehipertensi adalah istilah yang dipilih untuk mengelompokkan seseorang dengan risiko tinggi untuk terkena hipertensi. Orang dengan prehipertensi akan mengalami resiko terjadinya peningkatan tekanan darah menjadi hipertensi, dimana orang yang tekanan darahnya berkisar antara 130–139/80-89 mmHg memiliki 2x risiko menjadi hipertensi dan mengalami penyakit cardiovascular daripada orang yang tekanan darahnya lebih rendah. Saat ini belum diketahuinya angka prevalensi prehipertensi di Indonesia dan bagaimana hubungan status tempat tinggal dengan prehipertensi di Indonesia. Tujuan : Untuk mengetahui prevalensi prehipertensi di Indonesia Tahun 2014 dan untuk mengetahui hubungan status tempat tinggal dengan prehipertensi di Indonesia Tahun 2014. Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 22.012 orang. Data penelitian ini merupakan data sekunder yang didapatkan dari Indonesian Family Life Surveys (IFLS) 5 tahun 2014. Analisis data dilakukan dengan regresi logistik. Hasil : Prevalens kejadian prehipertensi di Indonesia pada tahun 2014 didapatkan sebesar 48,6%. Berdasarkan analisis Multivariat menunjukkan hasil bahwa ada perbedaan yang signifikan untuk terjadinya prehipertensi dengan nilai p < 0,05. Besar asosiasi berdasarkan nilai POR adalah sebesar 1,39 dengan 95% (CI 1,32 – 1,48). Ditemukan adanya interaksi antara variabel umur, status gizi dan kesulitan tidur dengan status tempat tinggal terhadap terjadinya prehipertensi. Kata kunci : Status Tempat Tinggal, Prehipertensi, IFLS 5 Tahun 2014


ABSTRACT Name : Asma Ul Husna Study Program : Magister of Epidemiology Title : Relationship Status of Residence with Prehypertension (Data Analysis Indonesian Family Life Survey 5 Year 2014) Counsellor : Dr. dr. Krisnawati Bantas, M.Kes Background: Prehypertension is a term chosen to group people at high risk for hypertension. People with prehypertension will have an increased risk of blood pressure to hypertension, where people whose blood pressure ranges from 130-139 / 80-89 mmHg have 2x the risk of becoming hypertensive and having cardiovascular disease than people with lower blood pressure. Currently, the prevalence of prehypertension in Indonesia is not known and how the relationship of residence status with prehypertension in Indonesia. Objective: To know prevalence of prehypertension in Indonesia Year 2014 and to know relation of residence status with prehypertension in Indonesia Year 2014. Method: This research use cross sectional design with sample number 22,012 people. This research data is secondary data obtained from Indonesian Family Life Surveys (IFLS) 5 year 2014. Data analysis is done by logistic regression. Results: Prevalence of prehypertension occurrence in Indonesia in 2014 was 48,6%. Multivariate analysis showed that there was significant difference for prehypertension with p <0,05. Associations based on POR values are 1.39 with 95% (CI 1,32 – 1,48). There was an interaction between age variables, nutritional status and difficulty sleeping with residence status against prehypertension occurrence. Keywords: Status of Residence, Prehypertension, IFLS 5 Year 2014

Read More
T-5157
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asri Mutiara Putri; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Yovsyah, Mugia Bayu Rahadja
S-9894
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erena Fabyola Laurensia; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Mujaddid
S-8086
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Romauli Sihombing; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Nindhita Priscillia Muharrani
Abstrak:
Emotional eating merupakan kecenderungan mengkonsumsi makanan secara belebih sebagai respon terhadap emosi negatif. Emotional eating dapat menyebabkan obesitas, eating disorder, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara stres, jenis kelamin, premenstrual syndrome (PMS), aktivitas fisik, citra tubuh, harga diri, kualitas tidur, penggunaan media sosial, tempat tinggal, dan culture shock dengan perilaku emotional eating pada mahasiswa UI angkatan 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2023 melaui kuesioner online, dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan chi-square dan uji t-independent. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebanyak 19% responden mengalami emotional eating. Terdapat hubungan yang signifikan antara emotional eating dengan stres (p-value = 0,003), dan terdapat perbedaan rata-rata skor citra tubuh yang signifikan pada kelompok dengan dan tanpa emotional eating (p-value = 0,005). Pada penelitian ini, terdapat 7 variabel yang berhubungan signifikan dan 3 varibel yang tidak berhubungan signifikan dengan perilaku emotional eating. Harapannya mahasiswa UI maupun kelompok usia dewasa muda mampu memperhatikan jenis stressor yang dialami dan mencari coping stres yang sesuai dengan karakteristik masing-masing individu.

Emotional eating is the tendency to overeat in response to negative emotions. Emotional eating can lead to obesity, eating disorders, diabetes mellitus, and cardiovascular disease. This study aims to look at the relationship between stress, gender, premenstrual syndrome (PMS), physical activity, body image, self-esteem, sleep quality, social media use, residence, and culture shock with emotional eating behavior in UI student batch 2022. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional design. Data collection was carried out in June 2023 through an online questionnaire, with purposive sampling technique. Data analysis was performed using chi-square and independent t-test. The results of this study showed that 19% of respondents experienced emotional eating. There is a significant relationship between emotional eating and stress (p-value = 0.003), and there is a significant difference in average body image scores in groups with and without emotional eating (p-value = 0.005). In this study, there are 7 variables that are significantly related and 3 variables that are not significantly related to emotional eating behavior. It is hoped that UI students and young adults will be able to pay attention to the types of stressors experienced and find stress coping that suits the characteristics of each individual.
Read More
S-11395
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kharizqamir Dwitili Elipen; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Khadijah Azhar
Abstrak:
Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO menyatakan wabah novel coronavirus (COVID-19) sebagai pandemi global. Memasuki bulan April tahun 2022, COVID-19 di Indonesia mulai mengalami penurunan angka kasus positif COVID-19. Seiring dengan penurunan angka kasus, pemerintah mulai memberi izin untuk perguruan tinggi dapat melakukan kegiatan secara campuran (hybrid learning) yang memiliki risiko meningkatkan penularan COVID-19 kembali yang dikarenakan faktor perilaku tiap individu dan lingkungan sekitarnya jika masyarakat mulai abai terhadap virus COVID-19. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko yang bersumber dari perilaku individu, lingkungan sosial masyarkat, dan lingkungan tempat tinggal yang mempengaruhi penularan virus COVID-19. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional yang dilakukan pada 216 mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia dipilih secara simple random sampling, menggunakan kuesioner secara online. Data dianalisis dengan uji chi-square dan analisis regresi logistik ganda. Didapatkan hasil sebanyak 48,1% mahasiwa pernah mengalami COVID-19 dan 51,9% mahasiswa tidak penah mengalami COVID-19. Pada variabel penerapan protokol kesehatan, sistem perkuliahan, dan penerapan protokol kesehatan di masyarakat memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian COVID-19. Sedangkan pada variabel keikutsertaan vaksinasi COVID-19, penggunaan transportasi umum, ketersediaan posko satgas COVID-19 di lingkungan tempat tinggal, jumlah penghuni dalam tempat tinggal, dan jenis kawasan tempat tinggal tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian COVID-19. Penerapan protokol kesehatan merupakan variabel yang paling dominan dalam terjadinya paparan COVID-19.

On 11 March 2020, WHO declared the outbreak of the novel coronavirus (COVID-19) a global pandemic. Entering April 2022, COVID-19 in Indonesia began to experience a decrease in the number of positive cases of COVID-19. Along with the decrease in the number of cases, the government has begun to give permission for tertiary institutions to carry out varied activities (hybrid learning), which has the risk of increasing the transmission of COVID-19 again due to the behavior of each individual and the surrounding environment if people start to ignore the COVID-19 virus. This study aimed to determine risk factors originating from individual behavior, the social environment, and the living environment that influence the transmission of the COVID-19 virus. This study used a cross-sectional study conducted on 216 University of Indonesia Health Sciences Cluster students selected by simple random sampling using an online questionnaire. Data were analyzed by chi-square test and multiple logistic regression analysis. The results were that 48.1% of students had experienced COVID-19 and 51.9% had never experienced COVID-19. In the variables of implementing health protocols, the lecture system, and the application of health protocols in the community has a significant relationship to the incidence of COVID-19. Meanwhile, the COVID-19 vaccination participation variable, use of public transportation, the availability of COVID-19 task force posts in the neighborhood, the number of residents in residence, and the type of residential area have no significant relationship with the incidence of COVID-19. Implementation of health protocols is the most dominant variable in exposure to COVID-19.
Read More
S-11203
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Andantya; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Fatimah Sulistyowati Sigit, Trini Sudiarti, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Anemia di Indonesia termasuk masalah kesehatan moderate. Pada remaja, kondisi anemia dapat menyebabkan penurunan perkembangan fisik, produktifitas, dan multiple intelegence, dimana kondisi tersebut dapat menurunkan prestasi belajar, lebih parahnya lagi status anemia pada remaja bisa berlanjut pada fase kehidupan selanjutnya. Indonesia merupakan negara dengan kondisi geografis yang beragam, sehingga dapat memberikan kesenjangan status kesehatan antara perdesaan dan perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan faktor dominan status anemia remaja usia 10-18 tahun di perdesaan dan di perkotaan. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data sekunder SKI tahun 2023 yang dilakukan pada periode Juli 2025 sampai Juni 2026. Sampel pada penelitian ini adalah remaja putri usia 10-18 tahun yang menjadi responden SKI 2023 dan masuk kriteria inklusi dan eksklusi (n=1543). Proporsi anemia remaja putri di perdesaan adalah 21,1%, dan 19,8% di wilayah perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia (OR=1,846; 95% CI: 1,227-2,867; p=0,004), status gizi (p=0,004), konsumsi TTD (OR=1,543; 95% CI: 1,025-2,323; p=0,038), dan asupan telur dan hasil olahannya (OR=1,602; 95% CI: 1,027-2,4999; p=0,038),  dengan status anemia remaja putri di perdesaan. Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan kacang-kacangan biji-bijian dan hasil olahannya (OR=0,682; 95% CI: 0,468-0,994; p=0,046) dan pendidikan (p=0,043) dengan status anemia remaja putri di perkotaan. Faktor dominan status anemia remaja putri di perdesaan adalah usia dimana remaja putri usia 15-18 tahun memiliki odds mengalami anemia 3 kali dibanding usia 10-14 tahun. Sedangkan di perkotaan tidak ditemukan faktor dominan.

Anemia remains a moderate public health problem in Indonesia. Among adolescents, anemia may lead to impaired physical development, reduced productivity, and decreased multiple intelligences, which can negatively affect academic performance. More importantly, anemia during adolescence may persist into later stages of life. Indonesia's diverse geographical conditions may contribute to disparities in health status between rural and urban areas. This study aimed to examine differences in the dominant factors associated with anemia among female adolescents aged 10–18 years in rural and urban areas of Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). The study was conducted between July 2025 and June 2026. The study population consisted of female adolescents aged 10–18 years who participated in the 2023 SKI (n=1543). The prevalence of anemia among female adolescents was 21.1% in rural areas and 19.8% in urban areas.The results showed that age (OR = 1.846; 95% CI: 1.227–2.867; p = 0.004), nutritional status (p = 0.004), iron supplementation tablet (TTD) consumption (OR = 1.543; 95% CI: 1.025–2.323; p = 0.038), and egg and egg-product consumption (OR = 1.602; 95% CI: 1.027–2.499; p = 0.038) were significantly associated with anemia among female adolescents in rural areas. In urban areas, consumption of legumes, seeds, and their processed products (OR = 0.682; 95% CI: 0.468–0.994; p = 0.046) and educational level (p = 0.043) were significantly associated with anemia status among female adolescents. The dominant factor associated with anemia among female adolescents in rural areas was age, with adolescents aged 15–18 years having three times higher odds of experiencing anemia compared to those aged 10–14 years. In contrast, no dominant factor was identified among adolescent girls in urban areas.
Read More
T-7643
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive