Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Husna Ashlihatul Latifah; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Agus Triwinarto
Abstrak:
Indonesia menargetkan penurunan stunting menjadi 14,2% pada 2029. Namun, upaya tersebut masih menghadapi tantangan besar berupa kompleksitas beban ganda malnutrisi serta praktik pemberian makan pada anak usia 6-23 bulan yang belum optimal. Pada tingkat individu, seorang anak bisa mengalami lebih dari satu masalah malnutrisi sekaligus atau disebut dengan malnutrisi ganda. Belum banyak studi yang mengkaji malnutrisi ganda pada tingkat individu di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi hubungan praktik pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan malnutrisi ganda pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Malnutrisi ganda yang dikaji adalah kombinasi stunting-wasting (pendek dan gizi kurang) dan stunting-overweight (pendek dan gizi lebih), sedangkan praktik MP-ASI dikaji berdasarkan indikator Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) dari WHO dan UNICEF. Data dari total 69.884 anak dianalisis untuk analisis stunting-wasting dan 72.158 anak untuk analisis stunting-overweight setelah kelengkapan data diperiksa dan nilai ekstrem dikeluarkan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik ganda untuk mendapatkan nilai adjusted prevalence odds ratio (aPOR). Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi stunting-wasting dan stunting-overweight secara berturut-turut sebesar 2,7% dan 0,7%. Sebanyak 50,9% anak memenuhi minimum keragaman makanan, 83,5% anak memenuhi minimum frekuensi makan, 45,3% anak memenuhi standar minimum konsumsi makan, 72,5% anak mengonsumsi ikan, telur, atau daging, 24,9% anak mengonsumsi minuman manis, serta 21,6% anak tidak mengonsumsi buah dan sayur sama sekali. Indikator konsumsi minuman manis serta zero konsumsi buah dan sayur berhubungan signifikan terhadap kedua bentuk malnutrisi ganda. Anak yang tidak mengonsumsi minuman manis memiliki penurunan risiko stunting-wasting sebesar 10% (aPOR: 0,90; 95% CI: 0,81–0,996) dan stunting-overweight sebesar 31% (aPOR: 0,69; 95% CI: 0,57–0,84) dibandingkan anak yang mengonsumsi minuman manis. Anak yang mengonsumsi buah dan sayur memiliki penurunan risiko stunting-wasting sebesar 20% (aPOR: 0,80; 95% CI: 0,71–0,90) dan stunting-overweight sebesar 29% (aPOR: 0,71; 95% CI: 0,57–0,89) dibandingkan anak yang tidak mengonsumsi buah dan sayur sama sekali. Temuan tersebut menekankan pentingnya peningkatan keragaman dan kualitas MP-ASI dan makanan dalam program pemberian makan anak yang dilakukan pemerintah disertai perluasan edukasi dan penguatan sistem label gizi pada minuman manis untuk mencegah malnutrisi ganda pada anak.

Indonesia has targeted a reduction in stunting prevalence to 14,2% in 2029. However, this effort still faces major challenges such as the complexity of the double burden of malnutrition and suboptimal feeding practices during the first 1000 days of life. At individual level, a child can experience more than one malnutrition problem at once, which called the double burden of malnutrition. Limited studies have examined the double burden of malnutrition at individual level in Indonesia. Therefore, this study was conducted to identify the association of complementary feeding practices and the double burden of malnutrition among children aged 6-23 months in Indonesia. This was a cross-sectional study using secondary data from the 2022 Indonesia Nutritional Status Survey. The double burden of malnutrition was assessed in forms of coexisting stunting-wasting and stunting-overweight, while complementary feeding practices was measured based on WHO and UNICEF IYCF indicators. A total of 69.884 children were analyzed for stunting-wasting and 72.158 children for stunting-overweight after meeting data completeness and no extreme values. Multiple logistic regression analysis was conducted to estimated asjusted prevalence odds ratio (aPOR). This study found the prevalence of stunting-wasting and stunting-overweight was 2.7% and 0.7%, respectively. Among the children, 50.9% met the minimum dietary diversity (MDD), 83.5% met the minimum meal frequency (MMF), 45.3% met the minimum acceptable diet (MAD), 72.5% consumed eggs and flesh foods (EFF), 24.9% consumed sweet beverages (SwB), and 21.6% had zero consumption of fruits and vegetables (ZVF). SwB and ZVF indicators were significantly associated with both forms of the double burden of malnutrition. Children who did not consume sweet beverages had a 10% lower risk of stunting-wasting (aPOR: 0.90; 95% CI: 0.81–0.996) and a 31% lower risk of stunting-overweight (aPOR: 0.69; 95% CI: 0.57–0.84) compared to children who consume sweet beverages. Meanwhile, children who consumed fruits and vegetables had a 20% lower risk of stunting-wasting (aPOR: 0.80; 95% CI: 0.71–0.90) and a 29% lower risk of stunting-overweight (aPOR: 0.71; 95% CI: 0.57–0.89) than those with zero intake of fruits and vegetables. These findings highlight the importance of improving the diversity and quality of foods provided in government programs, along with strengthening nutrition education and sweet beverages nutrition labeling policies to prevent the double burden of malnutrition among children.
Read More
S-12107
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ba'da Febriani; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Misti
Abstrak:

Diabetes melitus (DM) masih menjadi tantangan bagi negara berkembang termasuk Indonesia. International Diabetes Federation (IDF) memproyeksikan angka DM di Indonesia akan meningkat 150%, menjadi 28,6 juta jiwa pada tahun 2045. WHO merekomendasikan kelompok berisiko untuk melakukan kombinasi dari konsumsi buah dan sayur ≥5 porsi/hari serta melakukan aktivitas fisik cukup untuk hasil optimal dalam menurunkan risiko DM. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara efek gabungan konsumsi buah-sayur dan aktivitas fisik dengan DM pada penduduk dewasa usia 18-64 tahun di Indonesia tahun 2023. Desain studi cross sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 dengan total sampel 23.821 orang dewasa berusia 18-64 tahun di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi DM pada orang dewasa sebesar 15,2%. Analisis multivariat dengan uji logistic regression menunjukkan asosiasi yang tidak signifikan antara konsumsi buah-sayur <3 porsi/hari dan aktivitas fisik kurang dibandingkan dengan penduduk dewasa yang mengonsumsi buah-sayur ≥5 porsi/hari dan aktivitas fisik cukup (RRCorrected 1,2; 95%CI 1,08-1,52 p value 0,607), artinya penduduk dewasa yang mengonsumsi buah-sayur <3 porsi/hari dan memiliki aktivitas fisik rendah memiliki tren peningkatan risiko DM sebesar 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang mengonsumsi buah-sayur ≥5 porsi/hari dan aktivitas fisik cukup setelah dikontrol variabel usia, jenis kelamin, hipertensi dan obesitas sentral, meskipun tidak signifikan secara statistik. Optimalisasi upaya pencegahan DM dengan meningkatkan intake buah-sayur agar memenuhi rekomendasi ≥5 porsi/hari dapat dilakukan penduduk dewasa usia 18-64 tahun yang disertai dengan meningkatkan kegiatan aktivitas fisik baik sedang maupun berat serta meningkatkan kegiatan olah raga bersama baik di sekolah, kampus, kantor maupun di rumah. 


Diabetes mellitus (DM) remains a significant challenge for developing countries, including Indonesia. The International Diabetes Federation (IDF) projects that the number of DM cases in Indonesia will increase by 150%, reaching 28,6 million by 2045. The World Health Organization (WHO) recommends that high-risk groups adopt a combination of consuming ≥5 servings of fruits and vegetables per day and engaging in sufficient physical activity for optimal results in reducing DM risk. This study aims to examine the association between the combined effects of fruit and vegetable consumption and physical activity on DM among adults aged 18–64 years in Indonesia in 2023. The study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), involving a total sample of 23,821 adults aged 18–64 in Indonesia. The findings revealed that the prevalence of DM among adults was 15,2%. Multivariate analysis using logistic regression showed a non-significant association between consuming <3 servings of fruits and vegetables per day with insufficient physical activity compared to adults who consumed ≥5 servings per day and engaged in adequate physical activity (RRcorrected 1,2; 95% CI 1,08–1,52, p-value 0,607). This suggests that adults with low fruit and vegetable intake (<3 servings/day) and low physical activity had a trend of a 1,2 times higher risk of DM compared to those who met the recommended intake (≥5 servings/day) and had sufficient physical activity, after controlling for age, sex, hypertension, and central obesity—though the result was not statistically significant. To optimize DM prevention efforts, adults aged 18–64 should increase their fruit and vegetable intake to meet the recommended ≥5 servings per day, alongside increasing moderate to vigorous physical activity and promoting group exercise activities in schools, universities, workplaces, and at home.

Read More
T-7322
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reihan Zulkarnaen; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Nurfi Afriansyah
Abstrak:
Indikator Konsumsi Telur, Ikan atau Daging (TID) adalah salah satu indikator Infants and Young Child Feeding WHO dan UNICEF sebagai salah satu cara untuk mencegah dan menanggulangi permasalahan gizi anak, seperti stunting. Penelitian ini dijalankan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi TID pada anak usia 6-23 bulan. Pemanfaatan data sekunder SDKI 2017 dilakukan dalam penelitian ini. Desain studi yang digunakan adalah desain studi potong lintang atau cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase anak usia 6-23 bulan yang memenuhi konsumsi TID adalah sebesar 71,7%. Dari sekian variabel, terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara usia anak (PR = 3,34; 95% CI: 2,96-3,75), akses ibu terhadap internet (PR = 1,19; 95%CI: 1,06-1,34), kepemilikan buku KIA (PR = 0,74; 95% CI: 0,59-0,95), ibu berpendidikan rendah (PR = 1,65; 95% CI: 1,29-2,13) dan menengah (PR = 1,36; 95%CI: 1,09-1,70), ayah berpendidikan rendah (PR = 1,65; 95% CI: 1,27-2,13) dan menengah (PR = 1,28; 95% CI: 1,01-1,619), status bekerja ibu (PR = 1,32; 95%CI: 1,16-1,45), rumah tangga paling miskin (PR=1,86; 95%CI: 1,40-2,47), rumah tangga miskin (PR = 1,74; 95%CI: 1,32-2,31), rumah tangga menengah (PR = 1,67; 95%CI: 1,26-2,22), rumah tangga kaya (PR = 1,39; 95%CI: 1,05-1,83), dan kepemilikan kulkas (PR = 1,28; 95% CI: 1,14-1,44) terhadap ketidaktercapaian konsumsi TID. Informasi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi TID ini dapat menjadi dasar informasi terkini mengenai indikator konsumsi TID.

Egg and/or Flesh Food Consumption is one of WHO and UNICEF's Infants and Young Child Feeding indicators as a way to prevent and overcome child nutrition problems, such as stunting. This research was carried out to determine the factors that influence EFF consumption in children aged 6-23 months. The 2017 IDHS secondary data was utilized in this research. The study design used was a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The research results showed that the percentage of children aged 6-23 months who met EFF consumption was 71.7%. Of the variables, there is a statistically significant relationship between child age (PR = 3.34; 95% CI: 2.96-3.75), mother's access to the internet (PR = 1.19; 95% CI: 1, 06-1.34), ownership of KIA book (PR = 0.74; 95% CI: 0.59-0.95), mother with low (PR = 1.65; 95% CI: 1.29-2, 13) and middle (PR = 1.36; 95%CI: 1.09-1.70) education, low (PR = 1.65; 95%CI: 1.27-2.13) and middle (PR = 1.28; 95% CI: 1.01-1.619) education, mother's working status (PR = 1.32; 95% CI: 1.16-1.45), poorest household (PR = 1.86; 95%CI: 1.40-2.47), poor households (PR = 1.74; 95%CI: 1.32-2.31), middle class households (PR = 1.67; 95%CI: 1.26-2.22), rich households (PR = 1.39; 95%CI: 1.05-1.83), and refrigerator ownership (PR = 1.28; 95%CI: 1.14- 1.44) towards non-achievement of EFF consumption. Information regarding factors that influence EFF consumption can be the basis for current information regarding EFF consumption indicators.
Read More
S-11789
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Egydhia Zalfa Salsabila; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Putri Bungsu, Alan Dwi Krisnandi
Abstrak:
Severe Acute Respiratory Infection (SARI) merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat, sebab memicu epidemi, mulai dari H1N1 hingga pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, diperlukan informasi yang dapat membantu perencanaan kesehatan, terutama untuk mengantisipasi beban penyakit SARI. Namun, studi mengenai karakteristik pasien dan lama rawat inap pasien SARI masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan lama rawat inap pasien SARI di rumah sakit sentinel di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, menganalisis data sekunder dari surveilans sentinel SARI selama Januari 2020 hingga Desember 2023. Analisis dilakukan terhadap seluruh kasus yang tercatat dalam sistem surveilans SARI dan memenuhi definisi kasus SARI, serta memiliki informasi tanggal masuk dan keluar rumah sakit, kecuali pasien pulang paksa atau dirujuk. Terdapat 2.127 kasus SARI yang diikutsertakan dalam penelitian. Median lama rawat pasien SARI adalah 5 hari. Faktor-faktor yang berhubungan dengan lama rawat inap lebih dari median (>5 hari) adalah adanya satu komorbiditas (POR = 2,34; CI 95%: 1,85—2,98), lebih dari satu komorbiditas (POR: 1,93; CI 95%: 1,51—2,46), memiliki gejala sakit tenggorokan (POR: 1,30 ; CI 95%: 1,063—1,58), sesak napas (POR: 1,48; CI 95%: 1,24—1,76), perawatan di ruang intensif (POR = 2,28; CI 95%: 1,63—3,20), penggunaan ventilator (POR: 1,56; CI 95%: 1,09—2,22), dan intubasi (POR: 3,62; CI 95%: 1,76—7,42). Kelompok umur

Severe Acute Respiratory Infection (SARI) is one of the health challenges facing communities as it can trigger epidemics, ranging from H1N1 to the Covid-19 pandemic. Therefore, there is a need for information that can assist with health planning, specifically in the anticipation of the disease burden associated with SARI. However, studies on the characteristics of patients and the length of hospitalization for SARI patients remain scarce. This research aims to identify factors associated with the length of hospitalization for SARI patients in sentinel hospitals in Indonesia. This research utilizes a cross-sectional design and analyzes secondary data from sentinel SARI surveillance from January 2020 to December 2023. The analysis was conducted on all cases recorded in the SARI surveillance system and meeting the SARI case definition, as well as having information on admission and discharge dates, except for patients who were discharged against medical advice or referred elsewhere. There were 2.127 SARI cases included in the study. The median length of hospitalization for SARI patients was 5 days. Factors associated with a hospitalization duration that exceeded the median (>5 days) included a single comorbidity (POR = 2.34; 95% CI: 1.85-2.98), multiple comorbidities (POR: 1.93; CI 95%: 1.51—2.46), symptoms of sore throat (POR: 1.30; CI 95%: 1.063—1.58), shortness of breath (POR: 1.48; CI 95%: 1.24—1.76), intensive care treatment (POR = 2.28; CI 95%: 1.63—3.20), ventilator use (POR: 1.56; CI 95%: 1.09—2.22), and intubation (POR: 3.62; CI 95%: 1.76—7.42). The age group (
Read More
S-11677
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Ristiani Hariastuti; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Helda, Jeshika Febi Kusumawati
Abstrak:

CertDA Acute Lymphocytic Leukemia (ALL) masih menjadi penyebab utama kematian pada pasien kanker anak, dengan prognosis yang buruk. Pasien ALL yang didiagnosis pada masa bayi memiliki kelangsungan hidup terendah, diikuti oleh anak-anak yang didiagnosis antara usia 15 dan 19 tahun. Sedangkan pasien yang didiagnosis antara usia 1 dan 9 tahun memiliki peluang bertahan hidup tertinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui probabilitas kesintasan secara keseluruhan maupun berdasarkan kelompok usia saat diagnosis serta hubungan antara usia saat diagnosis dengan kesintasan pasien ALL pada anak. Penelitian ini merupakan studi cohort retrospective dengan menggunakan data rekam medik pasien ALL anak di RS Fatmawati yang didiagnosis pada periode tanggal 1 Januari 2017-31 Desember 2022, kemudian dianalisa dengan menggunakan Cox Proportional Hazard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa probabilitas kesintasan pasien ALL anak di RS Fatmawati secara keseluruhan sebesar 44,34%, probabilitas kesintasan anak yang saat diagnosis berusia 1-5 tahun lebih tinggi daripada pasien ALL anak yang saat diagnosis berusia > 5 tahun yaitu sebesar 49,87%. Secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara usia saat diagnosis dengan kesintasan pasien ALL pada anak, dimana pasien ALL anak yang usia saat didiagnosisnya > 5 tahun dan yang mempunyai efek samping selama pengobatan memiliki risiko kematian 2,74 kali lebih besar (HR: 2,74; 95%CI: 1,104 – 6,808, Pvalue: 0,03) dibandingkan dengan pasien ALL anak yang saat diagnosis berusia 1-5 tahun. Diharapkan dilakukan penerapan pola hidup sehat serta memberi edukasi tentang deteksi leukemia serta dilakukannya deteksi dini/skrining leukemia secara berjenjang untuk mengurangi risiko kematian pada pasien ALL anak.


CertDA Acute Lymphocytic Leukemia (ALL) remains the main cause of death in pediatric cancer patients, with a poor prognosis. ALL patients diagnosed in infancy had the lowest survival, followed by children diagnosed between the ages of 15 and 19 years. Meanwhile, patients diagnosed between the ages of 1 and 9 years have the highest chance of survival. This study aims to determine the overall probability of survival based on age group at diagnosis and the relationship between age at diagnosis and survival of ALL patients in children. This research is a retrospective cohort study using medical record data from pediatric ALL patients diagnosed in the period 1 January 2017-31 December 2022 at Fatmawati Hospital which was then analyzed using Cox Proportional Hazard. The results of the study showed that the overall probability of survival for pediatric ALL patients at Fatmawati Hospital was 44.34%, the probability of survival for children aged 1-5 years at diagnosis was higher than those > 5 years at diagnosis, namely 49.87%. Statistically there is a significant relationship between age at diagnosis and survival of childhood ALL patients, where pediatric ALL patients who were aged > 5 years at diagnosis and who had side effects during treatment had a 2.74 times greater risk of death (HR: 2.74; 95%CI: 1.104 – 6.808, pvalue=0,03) compared with pediatric ALL patients aged 1-5 years at diagnosis. It is hoped that healthy lifestyle will be implemented and education will be provided about leukemia detection as well as early detection/leukemia screening in stages to reduce the risk of death in pediatric ALL patients.

Read More
T-7055
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Apande; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Helda, Nia Reviani
Abstrak:
Berdasarkan cakupan Indeks Ketimpangan Gender, Provinsi Banten dan Bengkulu memiliki cakupan IKG yang sama. Namun capaian penggunaan MKJP berdasarkan SDKI berbeda di Provinsi Banten memiliki capaian penggunaan yang konsisten rendah dan Provinsi Bengkulu memiliki capaian penggunaan konsisten tinggi. Sehingga terdapat faktor yang mempengaruhi penggunaan MKJP di kedua wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh faktor yang mempengaruhi penggunaan MKJP pada WUS yang tidak menginginkan anak lagi antara Provinsi Banten dan Bengkulu. Sampel yang dianalisis dalam penelitian ini sebanyak 319 di Provinsi Banten dan 254 di Provinsi Bengkulu. Hasil studi ini menunjukkan bahwa proporsi penggunaan MKJP pada WUS yang tidak menginginkan anak lagi sebesar 20,5% di Provinsi Banten dan 31% di Provinsi Bengkulu. Faktor yang paling dominan mempengaruhi penggunaan MKJP di Provinsi Banten adalah sumber pelayanan KB, wanita yang pelayanan KB-nya dilakukan di sektor pemerintah memiliki risiko 7 kali lebih tinggi untuk menggunakan MKJP (PR 7,05 95% CI 4,60-10,8). Faktor yang dominan mempengaruhi penggunaan MKJP di Provinsi Bengkulu adalah tempat tinggal, wanita yang tinggal di perkotaan memiliki risiko 1,8 kali untuk menggunakan MKJP dibandingkan wanita yang tinggal di pedesaan (PR 1,88 95% CI 1,34-2,64).

Based on the coverage of the Gender Inequality Index, Banten and Bengkulu provinces have the same coverage. However, the achievement of LACM utilization based on the IDHS is different in Banten Province has a consistently low utilization rate and Bengkulu Province has high consistent usage achievements. Therefore, there are factors that influence the use of LACM in these two regions. This study aims to determine the differences in the influence of factors affecting the use of LACM in women who do not want more children between Banten and Bengkulu Provinces. The samples analyzed in this study were 319 in Banten Province and 254 in Bengkulu Province. The results of this study showed that the proportion of LACM use among women who did not want more children was 20.5% in Banten Province and 31% in Bengkulu Province. The most dominant factor influencing the use of LACM in Banten Province was the source of family planning services, women whose family planning services were conducted in the government sector had a 7 times higher risk of using LACM (PR 7.05 95% CI 4.60-10.8). The dominant factor affecting the use of LACM in Bengkulu Province is place of residence, women who live in urban areas have a 1.8 times risk of using LACM compared to women who live in rural areas (PR 1.88 95% CI 1.34-2.64).
Read More
T-7024
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendi Hoer Apandi; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Adang Mulyana, Sulistyo
Abstrak:
Di Kabupaten Bogor tahun 2022 estimasi kasus TBC adalah 17.684. angka kematian TBC diestimasikan 2.367 kasus setara dengan 1 sampai 2 orang dari 100 penderita TBC meninggal. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana gambaran karakteristik pasien TB-SO, menghitung probabilitas survival kumulatif penderita TB-SO yang distratifikasi berdasarkan status DM, menganalisis hubungan DM dengan risiko kematian selama masa pengobatan pada penderita TB-SO setelah dikontrol variabel kovariat (demografi, klasifikasi TBC, dan riwayat pengobatan DM). analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analilsis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat menggunakan cox regression. Dari 35.660 pasien terdaftar pada SITB Kabupaten Bogor dari bulan Januari 2022 sampai 31 Oktober 20223 populasi eligible 14.422 memenuhi kriteria inklusi dan eklusi yang analisis. Gambaran demografi penderita TB-SO tahun 2022 sampai 2023 umur < 45 tahun (60,84%), jenis kelamin laki laki (55,12%) Distribusi pasien TB-SO dengan DM pada usia

n Bogor Regency in 2022 the estimated TB cases will be 17,684. The TB death rate is estimated at 2,367 cases, equivalent to 1 to 2 people out of 100 TB sufferers dying. The aim of this study is to see how the characteristics of TB-SO patients are described, calculate the cumulative survival probability of TB-SO sufferers stratified by DM status, analyze the relationship between DM and the risk of death during the treatment period in TB-SO sufferers after controlling for covariate variables (demographics, TB classification , and history of DM treatment). The analysis used in this research is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using Cox regression. Of the 35,660 patients registered at the Bogor Regency SITB from January 2022 to October 31 2022, the eligible population of 14,422 met the inclusion and exclusion criteria for analysis. TB-SO sufferers from 2022 to 2023 were 38 (3.3%) TB-SO patients with DM who died, 75 (3.7%) aged ≤ 60 years, 193 (2.4%) men, 123 (2, 2%) were working, 24 (2.9%) were classified as extra pulmonary TB, 25 (11.9%) were HIV positive and 5 (3.8%) were receiving DM treatment with insulin. The mortality rate for TB-SO sufferers is 3.8 per 1000 person-months with a cumulative survival of 97.52%. The mortality rate for TB-SO patients with DM is higher compared to TB-SO without DM, namely 5.8 per 1000 person-months. Meanwhile, in TB-SO sufferers without DM, it was 3.7 per 1000 person-months with a survival probability of 97.73%. Bivariate test results found that TB-SO patients with positive DM had an HR value of 1.2 (95% CI 0.87-1.83). Multivariate analysis results in the final model of TB-SO patients with DM had a risk of 1.2 (95%CI 0.87-1.83) times greater risk of death compared to TB-SO without DM, and there was no evidence of convounding that influenced the relationship. DM on the risk of death in TB-SO patients.
Read More
T-7023
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewiyana; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Asri C Adisasmita, Siti Nurul Qomariyah, Bambang Dwipoyono
Abstrak:

Komplikasi kehamilan adalah masalah kesehatan yang sering terjadi selama hamil dan berdampak pada mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi baru lahir. Peneliti tidak menemukan studi di Indonesia yang membahas komplikasi kehamilan secara umum pada kelompok usia <20 tahun dan ≥35 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia ibu saat hamil dengan kejadian komplikasi kehamilan di Indonesia menggunakan data IFLS V 2014/2015. Sampel yang di analisis pada penelitian ini berjumlah 1.325 setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis multivariat menggunakan uji multiple cox regression digunakan untuk mengetahui pengaruh usia ibu yang berisiko dalam menyebabkan komplikasi kehamilan pada populasi ibu yang pernah melahirkan pada tahun 2013-2015. Pada penelitian ini dilakukan analisis pada sub populasi untuk jenis komplikasi tertentu. Hasil studi menunjukkan prevalensi komplikasi kehamilan sebesar 24%. Tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik. Hasil akhir analisis multivariat, komplikasi kehamilan secara umum pada usia ibu saat hamil <20 tahun (aPR 0,98, 95% CI 0,60–1,57), sedangkan usia ibu saat hamil ≥35 tahun memiliki risiko 1,16 kali mengalami komplikasi kehamilan dibandingkan kelompok usia ibu saat hamil 20-34 tahun setelah dikontrol kovariat (aPR 1,16, 95% CI 0,85–1,57). Terdapat peningkatan risiko pada sub populasi komplikasi kehamilan dan sub populasi komplikasi perdarahan antepartum baik pada usia ibu saat hamil <20 tahun atau ≥35 tahun.


Pregnancy complications are common health issues during pregnancy and impact maternal and neonatal mortality and morbidity. Author did not find studies in Indonesia that analyze pregnancy complications in general, particularly for maternal age of <20 years and ≥35 years. This study aims to analyze the relationship between maternal age and the occurrence of pregnancy complications in Indonesia using IFLS V data. The samples analyzed in this study was 1,325 after fulfilling the inclusion and exclusion criteria. Multivariate analysis with multiple cox regression was used to determine the effect of maternal age at risk in causing pregnancy complications in a population of mothers who gave birth in 2013-2015. This study also analyzed subpopulations was performed for specific types of complications. The results showed that prevalence of pregnancy complications was 24%. There was no statistically significant relationship. The final results of the multivariate analysis showed that pregnancy complications in general occurred in maternal age <20 years (aPR 0.98, 95% CI 0.60–1.57), while maternal age ≥35 years had a 1.16 times higher risk of experiencing pregnancy complications compared to maternal age 20-34 years after controlling covariates (aPR 1.16, 95% CI 0.85–1.57). There is an increased risk in the subpopulation of pregnancy complications and antepartum hemorrhage among maternal age <20 years or ≥35 years during pregnancy.

Read More
T-7021
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Nurmaliani; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Ratna Djuwita, Julina
Abstrak:
Stunting merupakan permasalahan malnutrisi yang paling banyak terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Salah satu faktor yang berhubungan dengan stunting adalah berat badan lahir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dengan stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 dengan jumlah sampel sebanyak 87.754 anak. Analisis data dilakukan menggunakan uji Cox Regression Constant Time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2022 adalah sebesar 20,92% dan prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2022 adalah sebesar 5,71%.  Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa anak yang memiliki riwayat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) memiliki risiko lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan anak yang tidak memiliki riwayat BBLR setelah dikontrol variabel panjang badan lahir dengan besar risiko bergantung pada kelompok usia anak. Pada anak usia 6-11 bulan, riwayat BBLR meningkatkan risiko stunting sebesar 2,10 (APR=2,10, 95% CI 1,89-2,33) setelah dikontrol variabel panjang badan lahir, sedangkan pada anak usia 12-23 bulan, riwayat BBLR meningkatkan risiko stunting sebesar 1,38 (APR=1,38, 95% CI 1,29-1,48) setelah dikontrol variabel panjang badan lahir. Diperlukan upaya pencegahan terjadinya BBLR serta tata laksana dan pemantauan pertumbuhan yang optimal sedini mungkin bagi bayi dengan berat lahir rendah agar risiko stunting dapat diminimalkan.

Stunting is the most common form of malnutrition among children under five years of age. One of the factors associated with stunting is birth weight. The aim of this study was to examine the relationship between birth weight and stunting among children aged 6–23 months in Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) with a sample size of 87,754 children. Data were analyzed using Cox regression with constant time, using prevalence ratio (PR) as the measure of association, along with a 95% confidence interval. The results showed that the prevalence of stunting among children aged 6–23 months in Indonesia in 2022 was 20.92%, while the prevalence of low birth weight (LBW) in the same age group was 5.71%. Multivariate analysis indicated that children with a history of LBW had a higher risk of stunting compared to those without such a history, after adjusting for birth length. Moreover, the magnitude of risk varied by age group. Among children aged 6–11 months, LBW increased the risk of stunting by 2.10 times (APR = 2.10; 95% CI: 1.89–2.33), whereas in those aged 12–23 months, the risk increased by 1.38 times (APR = 1.38; 95% CI: 1.29–1.48). Preventive measures to reduce the incidence of LBW, along with optimal management and early monitoring of growth in LBW infants, are essential to minimize the risk of stunting.

Read More
T-7329
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yopa Frisdiana; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Misti
Abstrak:

Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang menjadi prioritas global, penyebab utama kematian dan kecacatan. Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia dengan 73,7% kasus DM yang tidak terdiagnosis. Prevalensi DM di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Obesitas sentral dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes melitus. Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian diabetes melitus. Namun, penentuan diagnosis DM hanya didasarkan pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu, tanpa disertai informasi mengenai gejala dan Riwayat DM sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah atau HbA1c pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia.
Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 25.494. Analisis multivariat menggunakan cox regression untuk mengetahui hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian diabetes melitus yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah atau HbA1c pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel kovariat.
Hasil: Prevalensi diabetes melitus yang baru didiagnosis sebesar 16,0%. Obesitas sentral meningkatkan risiko diabetes melitus sebesar 1,6 kali (PR: 1,6; 95% CI: 1,53–1,76) setelah dikontrol usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, hipertensi, dan dislipidemia.
Kesimpulan: Penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia dengan obesitas sentral memiliki risiko 1,6 kali lebih besar untuk menderita diabetes melitus dibandingkan penduduk usia ≥15 tahun tanpa obesitas sentral setelah dikontrol oleh usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, hipertensi dan dislipidemia. Temuan ini menekankan pentingnya modifikasi gaya hidup melalui pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, serta deteksi dini sebagai upaya pencegahan dan pengendalian DM.

Background: Diabetes mellitus is a non-communicable disease that is a global health priority and a leading cause of death and disability. Indonesia ranks third in the world with 73.7% of DM cases undiagnosed. The prevalence of DM in Indonesia continues to increase every year. Central obesity is associated with an increased risk of diabetes mellitus. Several studies have shown an association between central obesity and the occurrence of diabetes mellitus. However, the diagnosis of diabetes mellitus is currently based solely on fasting blood glucose levels, without considering symptoms or a history of diabetes mellitus. This study aims to investigate the association between central obesity and newly diagnosed diabetes mellitus based on blood glucose levels or HbA1c in individuals aged ≥15 years in Indonesia. Methods: This study utilized secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (IHS). The sample size analyzed was 25,494. Multivariate analysis using multiple Cox regression was conducted to determine the association between central obesity and the occurrence of newly diagnosed diabetes mellitus based on blood glucose levels or HbA1c in individuals aged ≥15 years in Indonesia, after controlling for covariate variables.  Results: The prevalence of newly diagnosed diabetes mellitus was 16,0%. Central obesity increases the risk of diabetes mellitus by 1.6 times (PR: 1.6; 95% CI: 1.53–1.76) after adjusting for age, gender, physical activity, hypertension, and dyslipidemia.  Conclusion: Individuals aged ≥15 years in Indonesia with central obesity have a 1.6 times higher risk of developing diabetes mellitus compared to those aged ≥15 years without central obesity after adjusting for age, sex, physical activity, hypertension, and dyslipidemia. These findings emphasize the importance of lifestyle modifications through healthy eating patterns, regular physical activity, and early detection as preventive and control measures for diabetes mellitus.

 

Read More
T-7320
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive