Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wiandhari Esa Gautami; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, Helwiah Umniyati
Abstrak:
Malnutrisi merupakan penyebab paling umum morbiditas dan mortalitas pada anak-anak dan remaja di seluruh dunia, malnutrisi pada balita menimbulkan masalah kesehatan yang berkepanjangan antara lain gangguan pertumbuhan fisik dan motorik, gangguan perkembangan kognitif, kecerdasan intelektual yang rendah, keterampilan sosial yang buruk, dan rentan terhadap penyakit menular. Menurut WHO sebanyak 6% kematian balita di dunia disebabkan karena penyakit infeksi, infeksi spesifik yang mempunyai dampak tinggi terhadap status gizi adalah tuberkulosis. Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) adalah indikator pengukuran status gizi balita yang menggabungkan antara indikator antropometri yang dapat menunjukan besaran kasus kekurangan gizi secara lebih komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan TB paru dengan malnutrisi pada balita di Indonesia tahun 2021 menggunakan indikator CIAF. Desain studi ini adalah cross-sectional dan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 95.911 balita. Uji statistik yang digunakan adalah cox-regression. Hasil penelitian menunjukan proporsi balita malnutrisi sebanyak 29,29% (28.093), dan balita yang terinfeksi TB paru sebanyak 0,44% (422). Hasil analisis multivariat menunjukan prevalensi balita malnutrisi dengan TB pari 1,68 kali lebih tinggi dibanding dengan balita yang tidak terinfeksi TB paru setelah dikontrol variabel kovariat jenis kelamin dan hygine sanitasi dengan nilai PR (Prevalance Ratio) 1,68 (95%CI: 1,36 - 2,07) dengan p-value 0,000.

adolescents throughout the world. Malnutrition in toddlers causes long-term health problems including impaired physical and motoric growth, impaired cognitive development, low intellectual intelligence, poor social skills, and vulnerable against infectious diseases. According to WHO, 6% of under-five deaths in the world are caused by infectious diseases, a specific infection that has a high impact on nutritional status is tuberculosis. The Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) is an indicator for measuring the nutritional status of children under five which combines anthropometric indicators which can show the magnitude of cases of malnutrition more comprehensively. The aim of this research is to determine the relationship between pulmonary TB and malnutrition among children under five in Indonesia in 2021 using the CIAF indicator. The design of this study is cross-sectional and uses data from the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) with a sample size of 95,911 children under five. The statistical test used is cox-regression. The research results showed that the proportion of malnourished toddlers was 29.29% (28,093), and toddlers infected with pulmonary TB were 0.44% (422). Multivariate analysis results show that the prevalence of malnourished toddlers with pulmonary TB is 1.68 times higher than toddlers who are not infected with pulmonary TB after controlling for the covariate variables of gender and sanitation hygiene with a PR (Prevalance Ratio) value of 1.68 (95% CI: 1, 36 - 2.07) with p-value of 0.000.
Read More
T-6855
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marchell Bamba; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, Helwiah Umniyati
Abstrak:
Stunting didefinisikan sebagai kondisi perawakan pendek atau sangat pendek akibat terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak dimana anak memiliki panjang/tinggi badan menurut usia kurang dari (-2) Standar Deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan anak di awal kehidupan, secara khusus pada usia 1.000 (seribu) hari pertama kehidupan. Gangguan pertumbuhan ini dapat menyebabkan gangguan fungsional yang parah pada anak yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronik yang dapat diakibatkan oleh berbagai faktor antara lain, kemiskinan, asupan nutrisi dan kesehatan ibu yang buruk, pemberian makanan pada balita yang tidak tepat dan lain-lain. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak usia balita 0-59 bulan di wilayah kerja UPT Puskesmas Tomata Kabupaten Morowali Utara Provinsi Sulawesi Tengah. Kriteria inklusi pada kasus yang dimaksud adalah semua balita umur 0-59 bulan yang menderita stunting dan berdomisili di 6 (enam) desa wilayah kerja UPT Puskesmas Tomata, dan terdata sebagai sasaran penetapan prioritas percepatan penanggulangan stunting tahun 2024 oleh Pemerintah Kabupaten Morowali Utara. Instrumen penelitian ini menggunakan desain case-control (kasus-kontrol) dan menggunakan data primer dari lokasi penelitian di wiayah kerja UPT Puskesmas Tomata Kabupaten Morowali Utara Provinsi Sulawesi Tengah. Melalui uji regresi logistik melalui analisis multivariat diperoleh informasi bahwa BBLR (OR = 8.28, 95% CI = 2.83 – 24.29, P value < 0.001) merupakan faktor risiko yang paling signifikan berdasarkan statistik

Stunting is defined as a condition of short or very short stature due to stunted growth and development of children where the child has a length/height according to age of less than (-2) Standard Deviation (SD) on the child's growth curve in early life, specifically in the first 1,000 (one thousand) days of life. This growth disorder can cause severe functional disorders in children which will ultimately affect the quality of human resources. Stunting is caused by chronic malnutrition which can be caused by various factors including poverty, poor nutritional intake and maternal health, , improper feeding practices of infants and many more. The purpose of this study was to determine the the factors of the incidence of stunting of stunting in toddlers aged 0-59 months in the working area of the Tomata Health Center, North Morowali Regency, Central Sulawesi Province. The inclusion criteria in the case in question were all toddlers aged 0-59 months who suffered from stunting and domiciled in 6 (six) villages in the working area of the Tomata Health Center, and were recorded as targets for the determination of priority for accelerating stunting control in 2024 by the North Morowali Regency Government. This research instrument used a case-control design and used primary data from the research location in the working area of the Tomata Health Center, North Morowali Regency, Central Sulawesi Province. Through logistic regression testing with multivariate analysis, we had obtained that Low Birth Weight (OR = 8.28, 95% CI = 2.83 – 24.29, P value < 0.001) is the most significant factor statisically. 
Read More
T-7483
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dessi Marantika Nilam Sari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal, Helwiah Umniyati, Suyono
Abstrak:
Kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan menjadi faktor risiko munculnya jenis HIV yang resisten terhadap obat, yang dapat ditularkan kepada orang lain. Kepatuhan terhadap pengobatan yang buruk tidak hanya membahayakan kesehatan individu tetapi juga meningkatkan penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ketidakpatuhan minum obat ARV pada ODHIV yang mendapatkan terapi ARV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di poli HIV Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dan waktu penelitian dilakukan pada bulan November 2023 menggunakan data sekunder. Populasi penelitian berjumlah 1.337 ODHIV yang aktif menjalani pengobatan antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dengan menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi sehingga sampel penelitian berjumlah 1.286 ODHIV. Hasil analisis univariat menunjukan bahwa usia ≥ 35 tahun (56,45), laki-laki (61,20%), pendidikan rendah (87,10%), belum kawin atau cerai (51,92%), domisili dalam kabupaten Tangerang (55,88%), mendapatkan konseling kepatuhan (63,73%), memiliki jaminan kesehatan (51,92%), ≥5km akses layanan kesehatan (54,07%), IO non TB (40,90%), stadium lanjut (63,69%), viral load ≥40 mL (46,73%), tidak ada efek samping obat (53,34%), lamanya pengobatan >5 tahun (72,01%), masuk kedalam populasi kunci (88,01%) dan tidak mendapat dukungan (61,12%). Hasil analisis kai kuadrat secara statistik ada hubungan antara umur, jenis kelamin, status pendidikan, status perkawinan, domisili, pelayanan konseling kepatuhan, stadium klinis WHO, viral load, lamanya pengobatan ARV, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya (P-Value<0,05) dengan ketidakpatuhan minum obat ARV. Hasil analisis cox regression dengan faktor yang secara statistik berhubungan terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral pada ODHIV adalah umur (P-Value=0,01) nilai PR 1,20 dengan 95% CI (1,05-1,38), status perkawinan (P-Value=0,02) nilai PR 1,18 dengan 95% CI (1,03-1,36), domisili (P-Value=0,01) nilai PR 1,19 dengan 95% CI (1,04-1,36), viral load (P-Value=0,001) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,10-1,43), lamanya pengobatan ARV (P-Value=0,005) nilai PR 1,25 dengan 95% CI (1,07-1,47), kelompok populasi kunci (P-Value=0,02) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,04-1,56), dukungan teman sebaya (P-Value=0,04) nilai PR 1,15 dengan 95% CI (1,00-1,32). Faktor umur, status perkawinan, domisili, viral load, lamanya pengobatan, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya memiliki pengaruh terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral (ARV) pada ODHIV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang.

Lack of treatment adherence becomes a risk factor for the emergence of drug-resistant strains of HIV, which can be transmitted to others. Poor adherence to treatment harms the individual’s health and increases the risk of transmission. This study aims to observe the factors associated with the occurrence of non-adherence to taking ARV drugs in PLHIV who receive ARV therapy at the Regional General Hospital of Tangerang Regency. This type of study uses observational research with a cross-sectional design. The study was conducted at the HIV Specialist of the Regional Govern Hospital of Tangerang Regency and the time of the study was carried out in November 2023 using secondary data. The study population amounted to 1,337 PLHIV who were actively undergoing antiretroviral treatment at the Regional General Hospital of Tangerang Regency using total sampling by inclusion and exclusion criteria so that the study sample amounted to 1,286 PLHIV. The results of the univariate analysis showed that the age of ≥ 35 years (56.45), male (61.20%), low education (87.10%), unmarried or divorced (51.92%), domiciled in Tangerang district (55.88%), received compliance counselling (63.73%), had health insurance (51.92%), ≥5km of health service access area (54.07%), non-TB IO (40.90%), advanced stage (63.69%), viral load ≥40 mL (46.73%), no drug side effects (53.34%), duration of treatment ≥5 years (72.01%), entered into key populations (88.01%) and received no support (61.12%). The results of the kai squared analysis statistically showed there was an association between age, sex, educational status, marital status, domicile, adherence to counselling services, WHO clinical stage, viral load, duration of ARV treatment, key population groups and peer support (P-Value<0.05) with non-adherence to taking ARV drugs. The results of Cox Regression analysis with factors statistically related to non-adherence to taking antiretroviral drugs in ODHIV were age (P-Value = 0.01), PR value 1.20 with 95% CI (1.05-1.38), marital status (P-Value = 0.02), PR value 1.18 with 95% CI (1.03-1.36), domicile (P-Value = 0.01), PR value 1.19 with 95% CI (1.04-1.36), viral load (P-Value = 0.001), PR value 1.27 with 95% CI (1.10-1.43), duration of ARV treatment (P-Value = 0.005), PR value 1.25 with 95% CI (1.07-1.47), key population group (P-Value = 0.02), PR value 1.27 with 95% CI (1.04-1.56), peer support (P-Value = 0.04), PR value 1.15 with 95% CI (1.00-1.32). Factors such as age, marital status, domicile, viral load, duration of treatment, key population groups and peer support have an influence on non-adherence to taking antiretroviral drugs (ARV) in PLHIV at the Regional General Hospital of Tangerang Regency.
Read More
T-6876
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Ully Athalia Sihombing; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda, Helwiah Umniyati, Irfan Maulana
Abstrak:
Kesintasan pasien HIV/AIDS sangat dipengaruhi oleh waktu inisiasi terapi antiretroviral (ART) setelah diagnosis ditegakkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara periode inisiasi ART dengan kesintasan pasien HIV/AIDS selama tiga tahun di Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif berbasis data sekunder dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) Kabupaten Bekasi terhadap pasien yang didiagnosis HIV/AIDS pada periode 2017–2022. Sebanyak 1.554 pasien memenuhi kriteria inklusi. Analisis Kaplan-Meier digunakan untuk menggambarkan probabilitas kesintasan, sementara analisis regresi Cox time-dependent digunakan untuk mengetahui pengaruh waktu inisiasi ART terhadap risiko kematian, dengan mengontrol variabel sosiodemografi, klinis, pengobatan, dan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesintasan tertinggi ditemukan pada kelompok pasien yang memulai ART dalam

The survival of HIV/AIDS patients is strongly influenced by the timing of antiretroviral therapy (ART) initiation following diagnosis. This study aimed to analyze the relationship between the ART initiation period and three-year survival among HIV/AIDS patients in Bekasi District. A retrospective cohort design was used, based on secondary data from the HIV/AIDS Information System (SIHA) of Bekasi District, involving patients diagnosed with HIV/AIDS during the 2017–2022 period. A total of 1,554 patients met the inclusion criteria. Kaplan-Meier analysis was employed to estimate survival probability, while time-dependent Cox regression analysis was used to assess the effect of ART initiation timing on the risk of death, controlling for sociodemographic, clinical, treatment-related, and behavioral variables. The results showed that the highest survival was observed among patients who initiated ART within
Read More
T-7397
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leonita Agustine; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Helwiah Umniyati, Junita Rosa Tiurma
Abstrak:
HIV masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Di Indonesia, estimasi jumlah ODHIV mencapai 570.000 pada tahun 2024, dengan proporsi pengobatan ARV sebesar 68% di antara ODHIV yang mengetahui status HIV mereka, sehingga masih jauh dari target global 95-95-95. Lelaki seks dengan lelaki (LSL) merupakan salah satu populasi kunci dengan tren epidemi yang meningkat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan status tidak menjalani pengobatan ARV pada LSL di Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang melalui analisis data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2023. Sampel berjumlah 828 LSL hidup dengan HIV yang telah mengetahui status HIV. Delapan belas variabel independen diidentifikasi berdasarkan kerangka Health Belief Model dan Protection Motivation Theory. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square, sedangkan analisis multivariat menggunakan Cox regression constant time untuk mengestimasi Prevalence Ratio (PR). Sebanyak 124 responden (14,98%) tidak menjalani pengobatan ARV. Berdasarkan analisis bivariat, 11 variabel memenuhi kriteria sebagai kandidat model multivariat. Tiga variabel signifikan dalam model akhir, yaitu pengetahuan manfaat pengobatan yang kurang (aPR 2,41; 95% CI 1,53–3,81), persepsi diskriminasi terhadap ODHIV (aPR 2,39; 95% CI 1,64–3,50), dan tidak pernah berdiskusi tentang HIV dengan petugas layanan (aPR 2,31; 95% CI 1,52–3,49). Oleh karena itu, intervensi yang menekankan edukasi manfaat ARV, termasuk pesan Undetectable=Untransmittable, penurunan stigma, serta penguatan kapasitas petugas layanan kesehatan perlu diprioritaskan.

HIV remains a global public health problem. In Indonesia, the estimated number of people living with HIV (PLHIV) reached 570,000 in 2024, with antiretroviral treatment (ART) coverage of 68% among PLHIV who knew their HIV status, indicating that the country is still far from achieving the global 95-95-95 targets. Men who have sex with men (MSM) are one of the key populations with an increasing epidemic trend. This study aimed to identify factors associated with not being on ART among MSM in Indonesia in 2023. This study used a cross-sectional design with secondary data analysis from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). The sample consisted of 828 MSM living with HIV who knew their HIV status. Eighteen independent variables were identified based on the Health Belief Model and Protection Motivation Theory frameworks. Bivariate analysis was conducted using the chi-square test, while multivariable analysis used Cox regression constant time to estimate Prevalence Ratios (PRs). A total of 124 respondents (14.98%) were not receiving ART. Based on the bivariate analysis, 11 variables met the criteria as candidates for the multivariable model. Three variables remained significant in the final model, namely poor knowledge of treatment benefits (aPR 2.41; 95% CI 1.53–3.81), perceived discrimination toward PLHIV (aPR 2.39; 95% CI 1.64–3.50), and never having discussed about HIV with healthcare providers (aPR 2.31; 95% CI 1.52–3.49). Therefore, interventions emphasizing education on the benefits of ART, including the Undetectable=Untransmittable message, stigma reduction, and strengthening the capacity of healthcare providers should be prioritized.
Read More
T-7609
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Igo Cahya Negara; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Helwiah Umniyati, Junita Rosa Tiurma
Abstrak:
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada pengguna narkotika suntik (penasun) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan prevalensi tertimbang yang meningkat dari 14,3% (2018–2019) menjadi 17,1% pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi HIV pada penasun di Indonesia menggunakan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Desain penelitian adalah potong lintang (cross-sectional) dengan sampel 2.128 penasun yang direkrut melalui metode Respondent-Driven Sampling (RDS) dan memiliki status HIV terkonfirmasi laboratorium. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi Cox dengan asumsi waktu konstan untuk mengestimasi Prevalence Ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%, dengan pemodelan akhir melalui backward elimination. Proporsi HIV positif sebesar 17,06%. Model akhir multivariat mengidentifikasi tujuh variabel yang berhubungan bermakna, yaitu konsistensi penggunaan kondom sebagai faktor risiko terkuat (aPR=6,18; 95% CI: 5,11–7,48), layanan testing HIV (aPR=2,03; 95% CI: 1,53–2,67), usia (aPR=1,99; 95% CI: 1,57–2,52), pemahaman efektivitas kondom (aPR=1,46; 95% CI: 1,14–1,87), lama menjadi penasun (aPR=1,32; 95% CI: 1,04–1,67), perilaku berbagi jarum suntik (aPR=1,27; 95% CI: 1,03–1,55), serta persepsi diri merasa berisiko tertular HIV (PR=0,47; 95% CI: 0,36–0,62). Temuan ini menunjukkan bahwa jalur penularan seksual menjadi faktor dominan infeksi HIV pada penasun di Indonesia saat ini. Desain potong lintang membatasi temuan ini pada hubungan asosiasi, bukan kausal. Program penanggulangan HIV pada penasun perlu memperluas akses kondom beserta edukasi efektivitasnya, memperkuat rujukan aktif untuk layanan testing HIV, dan menyasar penasun usia lebih tua serta dengan masa pajanan napza suntik panjang sebagai kelompok prioritas dalam strategi harm reduction.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection among people who inject drugs (PWID) remains a major public health concern in Indonesia, with weighted prevalence rising from 14.3% (2018–2019) to 17.1% in 2023. This study aimed to analyze factors associated with HIV infection among PWID in Indonesia using secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). A cross-sectional design was employed with a sample of 2,128 PWID recruited through Respondent-Driven Sampling (RDS), with HIV status confirmed by laboratory testing. Data were analyzed in stages through univariate, bivariate, and multivariate analyses using Cox regression with a constant-time approach to estimate Prevalence Ratios (PR) and 95% confidence intervals, with the final model derived through backward elimination. The proportion of HIV-positive PWID was 17.06%. The final multivariate model identified seven variables significantly associated with HIV infection: condom use consistency as the strongest risk factor (aPR=6.18; 95% CI: 5.11–7.48), HIV testing service (aPR=2.03; 95% CI: 1.53–2.67), age (aPR=1.99; 95% CI: 1.57–2.52), condom effectiveness knowledge (aPR=1.46; 95% CI: 1.14–1.87), duration of injecting drug use (aPR=1.32; 95% CI: 1.04–1.67), needle-sharing behavior (aPR=1.27; 95% CI: 1.03–1.55), and self-perceived HIV risk (aPR=0.47; 95% CI: 0.36–0.62). These findings indicate that sexual transmission is the dominant factor of HIV infection among PWID in Indonesia. The cross-sectional design limits these findings to associational rather than causal inferences. HIV prevention programs for PWID should expand condom access alongside effectiveness education, strengthen active referral pathways to HIV testing services, and prioritize older PWID and those with longer injecting histories within harm reduction strategies.
Read More
T-7612
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iis Fatimah; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Trini Sudiarti, Siti Arifah Pujonarti, Helwiah Umniyati, Yuliati Chasbullah
Abstrak:

ABSTRAK

Stunting atau perawakan pendek pada anak merupakan suatu ?tragedi yang tersembunyi? dan dampaknya menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang irreversibel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan kejadian stunting pada balita usia 24 ? 59 bulan di Kelurahan Harapan Mulya Kota Bekasi tahun 2013. Disain penelitian adalah cross sectional dan melibatkan 143 sampel yang diambil dengan sampel acak sederhana. Status stunting dinilai berdasarkan Z-score TB/U menurut klasifikasi WHO. Pengukuran tinggi badan menggunakan microtoice, berat badan menggunakan timbangan digital, asupan makanan (energi, protein, vitamin A, zink) menggunakan FFQ semikuantitatif. ASI, berat lahir, penyakit infeksi, pendidikan ayah dan ibu, status ekonomi didapatkan melalui wawancara.

Hasil analisis menunjukkan sebanyak 32,9% balita usia 24-59 bulan tergolong stunting. Uji chi-square menunjukkan berat lahir, asupan energi dan protein, asupan zink, pendidikan ayah dan status ekonomi berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Analisis regresi logistik menghasilkan berat lahir sebagai faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting setelah dikontrol pendidikan ayah dan asupan energi (p=0,003;OR=6,663;CI=1,87? 23,5). Untuk mencegah kejadian stunting pada balita, disarankan pemeriksaan kehamilan yang teratur, memberikan makanan bergizi seimbang untuk balita sesuai AKG yang dianjurkan, mempersiapkan status kesehatan dan gizi yang baik untuk remaja perempuan sebelum kehamilan.


ABSTRACT

Stunting or short stature is a ?hidden tragedy? and its impact causes disorder to a irreversible child?s development. The aim of this study were to determine the dominant factor of stunting among children aged 24-59 months at Harapan Mulya sub-district in Bekasi city 2013. Design was a cross sectional study on 143 children whom chosen by simple random sampling. Status of stunting were expressed by height for age z-score (HAZ) according to the WHO classification. Children?s height were measured using microtoise, body weight was measured with digital scales, nutrients intake (energy, protein, vitamin A and zink) were collected throught semiquantitative FFQ. Breastfeeding, birthweight, infection disease, education of father and mother and economic status were collected through interview.

The analysis result showed 32,9% children aged 24-59 months were stunting. Chi-square test showed birthweight , energy and protein intake, zinc intake, father education and economic status were significant correlate with stunting. Logistic regression analysis showed birthweight variable as a dominant factor which related to stunting after being controlled by father education and energy input (p=0,003;OR=6,663;CI=1,8723,5). Suggestion for deterrence of stunting is the regular pregnancy inspection, giving nutritious wellbalanced under five years food input as according to AKG suggested, preparing good nutrient and health status for woman adolescent before pregnancy.

Read More
T-3936
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Khaira Wardi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, R.T. Ayu Dewi Sartika, Helwiah Umniyati, Rasnah
Abstrak:

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang dialami anak akibat asupan makanan maupun penyakit infeksi yang berulang ditandai dengan tinggi/panjang badan anak terhadap usia <-2 SD kurva pertumbuhan WHO. Prevalensi Stunting di Indonesia pada tahun 2022 adalah 21,6%. Provinsi Papua merupakan salah satu provinsi yang mengalami kenaikan prevalensi stunting dari 29,5% pada tahun 2021 menjadi 34,6% pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu faktor risiko penyebab stunting pada anak usia 12-23 bulan di Provinsi Papua. Desain dalam penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data SSGI 2022. Sampel dalam penelitian ini anak anak usia 12-23 bulan di Provinsi Papua yang terpilih menjadi responden SSGI 2022. Analisis data dilakukan menggunakan chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin, BBLR, panjang badan lahir, imunisasi, penimbangan berat badan, keragaman makanan, sumber air minum, akses sanitasi, ketahanan pangan, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan jumlah balita dalam keluarga berhubungan dengan kejadian stunting (p<0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 12-23 bulan di Provinsi Papua adalah BBLR yang dipengaruhi jenis kelamin anak setelah dikontrol oleh variabel panjang badan lahir, imunisasi, sumber air minum, ketahanan pangan, pendidikan ibu, jumlah balita dalam keluarga, dan ISPA (OR: 3,589; 95%CI : 1,311-9,825). Kata Kunci: Faktor Risiko, Stunting, Papua, Balita


Stunting is a growth disorder experienced by children due to food intake or recurring infectious diseases, characterized by the height/length of the child's body for age <-2 SD on the WHO growth curve. The prevalence of stunting in Indonesia in 2022 is 21.6%. Papua Province is one of the provinces that has experienced an increase in the prevalence of stunting from 29.5% in 2021 to 34.6% in 2022. This research aims to determine the risk factors that cause stunting in children aged 12-23 months in Papua Province. The design of this study was cross-sectional using SSGI 2022 data. The sample in this study was children aged 12-23 months in Papua Province who were selected as respondents to the SSGI 2022. Data analysis was carried out using chi-square and multiple logistic regression. The results of the study showed that gender, low birth weight, birth length, immunization, body weight measurement, food diversity, drinking water sources, access to sanitation, food security, maternal education, maternal employment, and the number of children under five in the family were related to the incidence of stunting (p<0.05). The dominant factor associated with the incidence of stunting in children aged 12-23 months in Papua Province is low birth weight which is influences by the sex of the child after being controlled by the variables birth length, immunization, source of drinking water, food security, maternal education, number of toddlers in the family. and ARI (OR: 3.589; 95%CI: 1.311-9.825). Keywords: Risk factors, Stunting, Papua, Toddlers

Read More
T-6846
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nasya Shafira; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli, Helwiah Umniyati
Abstrak:
Latar Belakang: Kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) merupakan salah satu populasi kunci dengan risiko tinggi terhadap infeksi HIV. Proporsi kasus HIV pada kelompok LSL meningkat dari 25% pada tahun 2023 menjadi 30% pada tahun 2024 di Kota Depok. Identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian HIV perlu dilakukan sebagai dasar penyusunan program pencegahan yang tepat sasaran. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Sampel penelitian terdiri dari 351 LSL di Kota Depok yang dipilih menggunakan metode Respondent-Driven Sampling (RDS). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, serta multivariat menggunakan regresi Cox constant-time untuk memperoleh adjusted Prevalence Ratio (aPR). Hasil: Prevalensi HIV pada LSL di Kota Depok sebesar 16,3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menghindari pelayanan kesehatan karena stigma/diskriminasi (45,2%), riwayat dibentak (38,1%), riwayat suspek TB (36,8%), riwayat diancam (37,5%), tidak terbiasa membawa kondom (22,9%),  seks dengan pasangan pria tidak tetap (22,6%), pendidikan perguruan tinggi (23,7%), tidak menggunakan kondom (20,1%), dan berkumpul di gym/sauna (19,0%) berhubungan dengan kejadian HIV. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa menghindari pelayanan kesehatan karena stigma/diskriminasi (aPR=3,40; 95% CI:1,85–6,25), seks dengan pasangan pria tidak tetap (aPR=2,10; 95% CI:1,16–3,67), tidak menggunakan kondom (aPR=2,25; 95% CI:1,15–4,42), pendidikan perguruan tinggi (aPR=1,88; 95% CI:1,07–3,31) dan riwayat sirkumsisi (aPR=1,27; 95% CI:0,46 – 3,60) merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian HIV. Kesimpulan: Faktor perilaku seksual dan stigma-diskriminasi berperan penting dalam kejadian HIV pada kelompok LSL di Kota Depok. Upaya pencegahan HIV perlu difokuskan pada pengurangan stigma dan diskriminasi, peningkatan akses layanan kesehatan yang ramah LSL, serta promosi perilaku seksual yang lebih aman.

Background: Men who have sex with men (MSM) are one of the key populations at high risk of HIV infection. In Depok City, the proportion of HIV cases among MSM increased from 25% in 2023 to 30% in 2024. Identifying factors associated with HIV infection is essential to provide evidence for developing targeted HIV prevention programs. Methods: This cross-sectional study utilized secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioural Survey (IBBS). A total of 351 MSM in Depok City were included using Respondent-Driven Sampling (RDS). Data were analysed using univariate analysis, bivariate analysis with the Chi-square test, and multivariable analysis using constant-time Cox regression to estimate adjusted prevalence ratios (aPR). Results: The prevalence of HIV among MSM in Depok City was 16.3%. Bivariate analysis showed that avoiding healthcare services due to stigma/discrimination (45.2%), a history of being verbally abused (38.1%), a history of suspected tuberculosis (36.8%), a history of being threatened (37.5%), not routinely carrying condoms (22.9%), having sex with non-regular male partners (22.6%), having a university education (23.7%), not using condoms (20.1%), and gathering at gyms/saunas (19.0%) were associated with HIV infection. Multivariable analysis demonstrated that avoiding healthcare services due to stigma/discrimination (aPR = 3.40; 95% CI: 1.85–6.25), having sex with non-regular male partners (aPR = 2.10; 95% CI: 1.16–3.67), not using condoms (aPR = 2.25; 95% CI: 1.15–4.42), having a university education (aPR = 1.88; 95% CI: 1.07–3.31), and circumcision status (aPR = 1.27; 95% CI: 0.46–3.60) were the dominant factors associated with HIV infection. Conclusions: Sexual risk behaviors and stigma-related discrimination play important roles in HIV infection among MSM in Depok City. HIV prevention efforts should prioritize reducing stigma and discrimination, improving access to MSM-friendly healthcare services, and promoting safer sexual behaviors.
Read More
T-7658
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive