Ditemukan 32 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Wiam Rifati; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Rahmawati
Abstrak:
Dismenorea adalah nyeri saat menstruasi yang dapat berupa kram pada perut bagianbawah tengah, nyeri pelvis, kembung, dan mual. Penelitian ini bertujuan mengetahuifaktor-faktor dan faktor dominan yang berhubungan dengan dismenorea pada remaja.Desain studi yang digunakan adalah cross sectional kepada 177 siswi di SMAN 5 Bekasidengan pengukuran antropometri untuk data berat badan dan tinggi badan, dan pengisiankuesioner untuk data usia menarke, aktivitas fisik, kebiasaan sarapan, riwayat dismenoreadi keluarga, lama menstruasi, dan stres. Data dianalisis dengan uji Chi-square, uji bedadua mean, uji korelasi, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan85.9% responden mengalami dismenorea. Terdapat hubungan yang bermakna antaradismenorea dengan kebiasaan sarapan (p = 0.044, OR = 1.3) dan riwayat dismenorea dikeluarga (p = < 0.001, OR = 6.8). Riwayat dismenorea di keluarga merupakan faktordominan yang berhubungan dengan dismenorea karena memiliki OR terbesar. Namun,faktor tersebut tidak dapat diintervensi, sehingga dipilih kebiasaan sarapan sebagai faktoryang dapat diintervensi.Kata kunci: dismenorea, remaja, kebiasaan sarapan, riwayat dismenorea di keluarga.
Dysmenorrhea is defined as menstrual pain that can be felt like cramps in lower middleabdomen, pelvic pain, bloated, and nausea. The aim of this study was to determine factorsand dominant factor associated to dysmenorrhea in adolescents. A cross-sectional studywas conducted among 177 female students in SMAN 5 Bekasi by anthropometrymeasurement for weight and height data, and self-administered questionnaire for age ofmenarche, physical activity, breakfast habits, family history of dysmenorrhea, menstrualduration, and stress data. Data were analyzed using Chi-square, two-mean difference,correlation, and multiple logistic regression analysis. The result showed that 85.9% ofrespondents had dysmenorrhea. Significant associations were found betweendysmenorrhea and breakfast habits (p = 0.044, OR = 1.3), and family history ofdysmenorrhea (p = < 0.001, OR = 6.8). Family history of dysmenorrhea is the dominantfactor because it has the highest OR score. Nonetheless, family history of dysmenorrheacan not be intervened nor changed, so breakfast habits are chosen factor to be intervened.Keywords: dysmenorrhea, adolescents, breakfast habits, family history of dysmenorrhea.
Read More
Dysmenorrhea is defined as menstrual pain that can be felt like cramps in lower middleabdomen, pelvic pain, bloated, and nausea. The aim of this study was to determine factorsand dominant factor associated to dysmenorrhea in adolescents. A cross-sectional studywas conducted among 177 female students in SMAN 5 Bekasi by anthropometrymeasurement for weight and height data, and self-administered questionnaire for age ofmenarche, physical activity, breakfast habits, family history of dysmenorrhea, menstrualduration, and stress data. Data were analyzed using Chi-square, two-mean difference,correlation, and multiple logistic regression analysis. The result showed that 85.9% ofrespondents had dysmenorrhea. Significant associations were found betweendysmenorrhea and breakfast habits (p = 0.044, OR = 1.3), and family history ofdysmenorrhea (p = < 0.001, OR = 6.8). Family history of dysmenorrhea is the dominantfactor because it has the highest OR score. Nonetheless, family history of dysmenorrheacan not be intervened nor changed, so breakfast habits are chosen factor to be intervened.Keywords: dysmenorrhea, adolescents, breakfast habits, family history of dysmenorrhea.
S-9789
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putri Mei Saimima; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Yosneli
Abstrak:
Skripsi ini membahas pengaruh pola pemberian ASI terhadap pertumbuhan bayi0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Cipayung, Depok tahu 2016-2017.Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan desain kohort retrospektif.Penelitian ini menggunakan data sekunder terhadap 151 responden. Hasilpenelitian ini adalah tidak ada perbedaan signifikan pada pertumbuhan beratbadan bayi 0-6 bulan yang diberi ASI eksklusif (4248,6±840,2 gr) dan bayi yangtidak ASI eksklusif (4292,2±791,6 gr). Pertumbuhan panjang badan bayi 0-6bulan juga tidak berbeda signifikan antara bayi yang diberikan ASI eksklusif(17,4±2,2 cm) dan bayi yang tidak diberi ASI eksklusif (17,6±2,9 cm).Kata kunci: pertumbuhan bayi, pola pemberian ASI
This research discusses the effect of breastfeeding pattern on 0-6 months infantsgrowth in Puskesmas Cipayung Working Area, Depok 2016-2017. This is aquantitative study with a retrospective cohort design. This study uses secondarydata on 151 respondents. The results of this study shows that no significantdifference between exclusively breastfed infant 0-6 month weight growth(4248,6±840,2 gr) and non exclusive breastfed infant(4292,2±791,6 gr). Infantheight growth from 0-6 months also not significantly different betweenexclusively breastfed infants (17,4±2,2 cm) and non exclusively breastfed infants(17,6±2,9 cm).Keyword: infants growth, breastfeeding pattern.
Read More
This research discusses the effect of breastfeeding pattern on 0-6 months infantsgrowth in Puskesmas Cipayung Working Area, Depok 2016-2017. This is aquantitative study with a retrospective cohort design. This study uses secondarydata on 151 respondents. The results of this study shows that no significantdifference between exclusively breastfed infant 0-6 month weight growth(4248,6±840,2 gr) and non exclusive breastfed infant(4292,2±791,6 gr). Infantheight growth from 0-6 months also not significantly different betweenexclusively breastfed infants (17,4±2,2 cm) and non exclusively breastfed infants(17,6±2,9 cm).Keyword: infants growth, breastfeeding pattern.
S-9539
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maulida Awaliya Fitri; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Andri Mursita
Abstrak:
Anemia merupakan kondisi konsentrasi hemoglobin (hb) darah lebih rendah dari normal, dan telah memengaruhi berbagai populasi termasuk remaja putri. Remaja putri usia 10-14 tahun memiliki risiko tinggi untuk mengalami anemia yang dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan motorik seperti gangguan kapasitas fisik dan kinerja dalam belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi anemia dan faktor-faktor yang berhubungan berdasarkan status menstruasi, perilaku konsumsi makanan hewani, perilaku konsumsi makanan berlemak, status gizi, perilaku konsumsi tablet tambah darah, status pendidikan, status pekerjaan ayah, dan daerah tempat tinggal pada remaja putri usia 10-14 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan desain studi cross sectional. Hasil penelitian menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-14 tahun di Indonesia sebesar 25,4%. Variabel yang berhubungan dengan kejadian anemia pada penelitian ini adalah status menstruasi (p value= 0,035) dan konsumsi makanan hewani (p value= 0,002). Perlu adanya program edukasi dan konseling remaja putri mengenai kesehatan seperti gizi seimbang dan anemia agar remaja putri lebih sadar akan kesehatannya.
Kata kunci: Anemia, remaja putri
Anemia is a condition of hemoglobin (hb) concentration lower than normal, and has affected various populations including adolescent girls. Adolescent girls ages 10-14 years have a high risk for anemia which can affect cognitive and motoric development such as impaired physical capacity and work performance. This study aims to determine the prevalence of anemia and related factors based on menstrual status, consumption of animal foods behavior, consumption of fatty food behavior, nutritional status, iron supplements consumption behavior, education status, father's employment status, and area of residence in adolescents girls ages 10-14 years in Indonesia. This study uses secondary data obtained from Riskesdas 2018 with a cross sectional study design. The results of the study stated that the prevalence of anemia in adolescent girls ages 10-14 years in Indonesia was 25.4%. Variables that have a significant relationship with the incidence of anemia in this study are menstrual status (p value = 0.035) and consumption of animal foods (p value = 0.002). It needs educational programs and counseling on health for adolescent girls such as balanced nutrition and anemia, so they can aware for their health.
Keywords: Anemia, adolescent girls
Read More
Kata kunci: Anemia, remaja putri
Anemia is a condition of hemoglobin (hb) concentration lower than normal, and has affected various populations including adolescent girls. Adolescent girls ages 10-14 years have a high risk for anemia which can affect cognitive and motoric development such as impaired physical capacity and work performance. This study aims to determine the prevalence of anemia and related factors based on menstrual status, consumption of animal foods behavior, consumption of fatty food behavior, nutritional status, iron supplements consumption behavior, education status, father's employment status, and area of residence in adolescents girls ages 10-14 years in Indonesia. This study uses secondary data obtained from Riskesdas 2018 with a cross sectional study design. The results of the study stated that the prevalence of anemia in adolescent girls ages 10-14 years in Indonesia was 25.4%. Variables that have a significant relationship with the incidence of anemia in this study are menstrual status (p value = 0.035) and consumption of animal foods (p value = 0.002). It needs educational programs and counseling on health for adolescent girls such as balanced nutrition and anemia, so they can aware for their health.
Keywords: Anemia, adolescent girls
S-10516
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Josephine Kalista Utomo; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Mayesti Akhriani
Abstrak:
Untuk melihat perubahan perilaku konsumsi makanan dari sebelum ke saat pandemi COVID-19 dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya, dilakukan penelitian cross-sectional pada dewasa usia 21- 55 tahun di Jabodetabek. Variabel-variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, usia, pendidikan, pendapatan, mobilitas saat pandemi, tinggal dengan siapa, bentuk tubuh yang dipersepsikan, riwayat penyakit, pengetahuan tentang suplemen makanan, pengetahuan tentang COVID-19, dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Pengambilan sampel pada sebanyak 123 subjek dalam penelitian ini dilakukan dengan metode accidental random sampling secara daring pada bulan April-Mei 2021. Analisis bivariat data dilakukan menggunakan uji chi square, uji T-independen, dan uji U Mann-Whitney.
Read More
S-10666
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Isna Aulia Fajarini; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Ekowati Rahajeng
Abstrak:
Obesitas pada diabetisi (penderita DM Tipe 2) berdampak pada peningkatan risiko terjadinya komplikasi berupa nefropati diabetis dan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas pada diabetisi dewasa. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan melibatkan 133 responden yang merupakan perserta PROLANIS. Pengukuran asupan dilakukan menggunakan food recall 1x24 jam, kebiasaan makan menggunakan FFQ, dan aktivitas fisik menggunakan GPAQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 63,9% diabetisi mengalami obesitas (IMT ≥25 kg/m2). Obesitas pada diabetisi berhubungan signifikan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan terkait gizi, dan lama menderita DM tipe 2. Edukasi kepada diabetisi tekait diet bagi penderita DM tipe 2 penting untuk mengurangi obesitas pada diabetisi. Kata kunci: Obesitas, Diabetes Mellitus Tipe 2 Obesity among adult with type 2 diabetes heightens the risk of other comorbid diseases such as diabetic nephropathy and cardiovascular disease. The aim of this study was to determine factors associated with obesity among adult with type 2 diabetes. This study used cross-sectional design and data were collected from 133 member of PROLANIS. Food intake was assessed with 1x24 H food recall, food habit with FFQ, and physical activity with GPAQ. The result showed 63,9% of adult with type 2 diabetes were obese (BMI ≥25 kg/m2). Obesity is significantly associated with level of education, nutrition knowledge, and duration of diabetes. Health education about diet for diabetic patient is important to decrease obesity among adult with type 2 diabetes. Keywords: Obesity, Type 2 Diabetes
Read More
S-9436
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fany Insani Fajri; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Siti Masruroh
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakterististik individu (usia, jenis kelamin, dan status gizi berdasarkan IMT/U), status sosial ekonomi (status pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua, daerah tempat tinggal, dan pengeluaran untuk konsumsi), pola konsumsi (frekuensi makan, frekuensi konsumsi daging, sayuran hijau, dan buah), dan aktivitas fisik, serta faktor yang paling dominan dengan kejadian anemia pada remaja usia 15-19 tahun di Pulau Jawa. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder Indonesian Family Life Survey (IFLS) 2007 dari RAND Corporation. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh remaja di wilayah Pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar hemoglobin remaja di wilayah Pulau Jawa pada tahun 2007 sebesar 13,61 g/dl. Persentase kejadian anemia di wilayah Pulau Jawa sebesar 16,6%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan karakteristik individu (jenis kelamin), status sosial ekonomi (status pekerjaan ibu), pola konsumsi (frekuensi konsumsi sayuran hijau), dan aktivitas fisik terhadap kejadian anemia pada remaja di wilayah Pulau Jawa. Secara multivariat, diketahui bahwa jenis kelamin merupakan faktor dominan terhadap kejadian anemia pada remaja di wiilayah Jawa Tengah pada tahun 2007. Kata kunci: anemia, remaja
Read More
S-9461
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jessica Reitanya Putri; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Endang Laksminingsih Achadi
Abstrak:
Read More
Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang sering ditemukan dalam populasi rentan, meliputi balita, remaja, wanita usia subur, dan ibu hamil. Anemia pada ibu hamil memiliki dampak terhadap ibu dan janin. Bagi ibu, anemia menyebabkan penurunan kualitas hidup yang dapat berujung pada kematian. Bayi yang dikandung oleh ibu anemia berisiko lahir tidak normal, mati saat lahir, dan mengalami stunting. Masalah kesehatan ibu saat hamil mempengaruhi periode emas 1000 HPK anak yang bersifat permanen terhadap kelangsungan hidup, sehingga perlu penanganan yang tepat untuk meminimalisir kejadian masalah tersebut. Laporan SKI 2023 menyatakan prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 27,7%, yang tergolong sebagai masalah kesehatan tingkat moderat. Penelitian bersifat kuantitatif menggunakan desain penelitian cross-sectional, bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia tahun 2023 menggunakan data sekunder SKI 2023. Variabel dependen adalah anemia, dan variabel independen berupa faktor sosio-demografi, faktor gaya hidup, faktor pola makan, dan faktor masa kehamilan ibu. Analisis data menggunakan complex samples meliputi univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan signifikan antara konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya (p-value = 0,047), jarak kehamilan (p-value = 0,033), dan konsumsi PMT (p-value = 0,001) dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia pada tahun 2023. Anemia is a common nutritional issue among vulnerable populations, including toddlers, adolescents, women of reproductive age, and pregnant women. Anemia in pregnant women impacts both the mother and fetus. For the mother, it reduces quality of life and can lead to mortality. Babies born to anemic mothers are at risk of congenital abnormalities, stillbirth, and stunting. Maternal health issues during pregnancy affect the critical first 1000 days of a child's life, with permanent consequences for survival, necessitating appropriate interventions to minimize these risks. The 2023 SKI report indicates a 27.7% prevalence of anemia among pregnant women in Indonesia, classified as a moderate public health issue. This study is a quantitative study using a cross-sectional design aimed to identify factors associated with anemia in pregnant women in Indonesia in 2023, utilizing secondary data from the 2023 SKI. The dependent variable was anemia, with independent variables from socio-demographic factors, lifestyle factors, dietary patterns, and pregnancy-related factors. Data analysis used complex samples, including univariate and bivariate analyses with chi-square tests. The study found significant associations between anemia in pregnant women and consumption of meat, poultry, and their processed products (p-value = 0.047), pregnancy interval (p-value = 0.033), and consumption of supplementary feeding (PMT) (p-value = 0.001) in Indonesia in 2023.
S-12028
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Retno Yunita Sari; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Widiana Kusumasari
Abstrak:
Prevalensi stunting pada anak usia 5-12 tahun di Indonesia tahun 2018 sebesar 23,6%. Penelitian ini membahas mengenai faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 7-12 tahun di Indonesia berdasarkan data IFLS (Indonesian Family Life Survey) V tahun 2014. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 13.30% anak usia 7-12 tahun di Indonesia mengalami stunting. Terdapat perbedaan yang signifikan antara keanekaragaman pangan (p-value 0.00), frekuensi konsumsi sayuran (p-value 0,00), daging (p-value 0,00), telur (p-value 0,00), ikan (p-value 0,00), susu (p-value 0,00), sanitasi (p-value 0,00), anemia (p-value 0,00), tingkat pendidikan ibu (p-value 0,00), jenis kelamin (p-value 0,00), dan wilayah tempat tinggal (p-value 0,00), dengan kejadian stunting. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi konsumsi sereal (p-value 0,55), umbi (p-value 0,55), buah (p-value 0,10), minyak (p-value 0,31), gula(p-value 0,12), dan penyakit infeksi (p-value 1,00). Hasil penelitian ini menyarankan bahwa perlu dilakukan pembuatan program terkait perbaikan gizi pada anak usia sekolah, terutama sekolah dasar untuk menjaga status gizi dan mengoptimalkan pertumbuhan pada saat remaja. Kata kunci:Stunting; anak usia sekolah; keanekaragaman pangan The prevalence of stunting in children aged 5-12 years in Indonesia in 2018 is 23.6%. This study discusses factors related to the incidence of stunting in children aged 7-12 years in Indonesia based on 2014 IFLS (Indonesian Family Life Survey) V data. This study was conducted using a cross sectional method. The results of this study indicate that 13.30% of children aged 7-12 years in Indonesia experience stunting. There is a significant difference between food diversity (p-value 0.00), frequency of vegetable consumption (p-value 0.00), meat (p-value 0.00), eggs (p-value 0.00), fish (pvalue 0.00), milk (p-value 0.00), sanitation (p-value 0.00), anemia (p-value 0.00), maternal education level (p-value 0.00), gender (p-value 0.00), and residential area (pvalue 0.00), with stunting. There is no significant difference between the frequency of consumption of cereals (p-value 0.55), tubers (p-value 0.55), fruit (p-value 0.10), oil (pvalue 0.31), sugar ( p-value 0.12), and infectious disease (p-value 1.00). The results of this study suggest that it is necessary to make a program related to nutrition improvement in school-aged children, especially elementary schools to maintain nutritional status and optimize growth in adolescence. Keyword : Stunting, school aged children, dietary diversity
Read More
S-10262
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayu maemunah; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Endang L. Achadi
Abstrak:
Read More
Anemia merupakan keadaan ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal yaitu <13 g/dL bagi laki-laki, <12 g/dL bagi perempuan. Prevalensi anemia pada kelompok usia produktif tergolong dalam masalah kesehatan masyarakat tingkat ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada kelompok usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan uji chi square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 27.826 subjek yang berasal dari populasi umum, 15,5% mengalami anemia. Sedangkan dari 983 subjek yang berasal dari remaja putri, 23% mengalami anemia. Analisis bivariat pada populasi umum menunjukkan hasil yang signifikan antara usia (p<0,001), jenis kelamin (p<0,001), tingkat pendidikan (p=0,001), tempat tinggal (p=0,047), konsumsi telur dan hasil olahannya (p=0,012), serta konsumsi sayur (p=0,030) dengan kejadian anemia. Kemudian analisis bivariat pada remaja putri menunjukkan hasil yang signifikan antara KEK (p=0,005) dengan kejadian anemia. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kelompok lansia merupakan faktor dominan dari kejadian anemia pada populasi umum usia produktif (p<0,001, OR=1,931 (95% CI 1,581–2,358)), sedangkan KEK merupakan faktor dominan dari kejadian anemia pada remaja putri (p=0,028, OR 1,493 (95% CI 1,051 – 2,121)).
Anemia is a condition when the number of red blood cells or hemoglobin concentration in the blood is below the normal limit, which is <13 g/dL for men, <12 g/dL for women. The prevalence of anemia in the productive age group is classified as a mild public health problem. This study aims to determine the factors associated with the incidence of anemia in the productive age group (15-64 years) in Indonesia. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using secondary data from SKI 2023. Data analysis performed in this study included univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with chi square test, and multivariate analysis with simple logistic regression test. The results showed that out of 27,826 subjects from the general population, 15.5% were anemic. While out of 983 subjects from adolescent girls, 23% were anemic. Bivariate analysis in the general population showed significant results between age (p<0.001), gender (p<0.001), education level (p=0.001), residence (p=0.047), consumption of eggs and processed products (p=0.012), and vegetable consumption (p=0.030) with the incidence of anemia. Then bivariate analysis in adolescent girls showed significant results between Chronic Energy Malnutrition (p=0.005) and the incidence of anemia. Multivariate analysis showed that the elderly group was the dominant factor of the incidence of anemia in the general population of productive age (p<0.001, OR=1.931 (95% CI 1.581-2.358)), while Chronic Energy Malnutritio was the dominant factor of the incidence of anemia in adolescent girls (p=0.028, OR 1.493 (95% CI 1.051 - 2.121)).
S-12150
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fery Fadly; Pembimbing: Pandu Riono, Tris Eryando; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Maya Raiyan, Eti Rohati
Abstrak:
ABSTRAK Kegemukan dan obesitas dapat terjadi pada setiap strata ekonomi dan usia sebagai faktor penyebab PTM. Masalah status gizi lainnya seperti stunting atau pendek memiliki pengaruh pada prestasi belajar anak. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan upaya preventif mengatasi masalah status gizi anak di sekolah dengan meningkatkan kesadaran status gizi siswa. Sulitnya mendapatkan data kesehatan siswa dikarenakan belum adanya pencatatan kesehatan setiap siswa. Pencatatan yang masih manual oleh Puskesmas hanya terkait jumlah status gizi siswa, sehingga cukup sulit melakukan pemantauan siswa yang memiliki masalah kesehatan. Rancangan sistem informasi usaha kesehatan ini dibuat sebagai alat untuk melakukan pemantauan status gizi siswa SD dan membantu menentukan rencana kegiatan selanjutnya. Penelitian ini menggunakan metode prototipe untuk mengembangkan rancangan sistem informasi UKS. Keterlibatan pengguna dalam pengembangan sistem informasi ini untuk menyesuaikan dengan kebutuhan informasi. Proses pengumpulan informasi dilakukan dengan melaksanakan kegiatan wawancara kepada pihak yang terlibat secara langsung dengan pelaksanaan kegiatan uks. Hasil informasi yang ada kemudian digunakan untuk analisis untuk membuat rancangan sistem informasi usaha kesehatan sekolah. Informasi ditampilkan dalam bentuk grafik masalah status gizi siswa di sekolah dan data status gizi setiap siswa. Sistem ini dapat diakses secara daring (online) untuk melihat kebutuhan informasi setiap pengguna. Harapannya sistem ini dapat diterapkan sehingga dapat membantu dalam melakukan pemantauan status gizi siswa di tingkat sekolah dasar. Selain itu juga diharapkan adanya pengembangan sistem ini lebih lanjut dengan menambahkan informasi yang terkait Kata kunci: Prototipe; status gizi anak; Sistem Informasi; Usaha Kesehatan Sekolah; Overweight and obesity can occur in any strata of economy and age as a factor causing NCD. Other nutritional status problems such as stunting have an influence on children's learning achievement. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) is a preventive effort to overcome the problem of nutritional status of children in school by raising awareness of nutritional status of students. Difficult to get student health data due to the absence of health record of each student. The manual recording by the Puskesmas is only related to the number of nutritional status of the students. The design of this health information system was created as a tool for monitoring the nutritional status of elementary students and helping to determine the next activity plan. This research uses prototype method to develop UKS information system design. The involvement of users in the development of this information system to adjust to the information needs. The process of gathering information is done by conducting interviews to the parties directly involved with the implementation of UKS activities. The results of the later information were used for the analysis to make the school health business information system design. Information is displayed in graphical form of the problem of nutritional status of students in school and data of each student's nutritional status. This system can be accessed online to see the information needs of each user. The hope of this system can be applied so that it can assist in monitoring the nutritional status of students at the primary school level. It is also expected that the development of this system further by adding related information Keywords: Child Nutrition Status, Information System, School Health Business, Prototype
Read More
T-5360
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
