Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rr. Arum Ariasih; Pembimbing: Meiwita P. Budiharsana; Penguji: Besral, Laily Hanifah
Abstrak: Kekerasan perempuan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia. Hasil pemetaan Komnas Perempuan tahun 2013 di seluruh Indonesia menunjukkan kekerasan terhadap perempuan persebarannya semakin luas, bentuknya beragam, menimbulkan bekas trauma yang dalam, dan jumlah terus berkembang mencapai 279.156 kasus. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 sikap setuju terhadap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat menjadi 34,5% dari 30,8% (pada perempuan) dan 17,3% dari 16,3% (pada laki-laki) di tahun 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan besaran sikap dan faktor individu, keluarga, dan masyarakat yang berhubungan dengan sikap setuju terhadap KDRT. Analisis data dilakukan pada responden laki-laki dan perempuan menikah; 38.873 orang pada SDKI 2007 dan 40.626 orang pada SDKI 2012. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dengan analisis statistik menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukan peningkatan sikap setuju terhadap KDRT dari tahun 2007 ke 2012. Sikap setuju lebih diterima secara luas pada faktor individu (perempuan, orang berusia lebih muda, orang berpendidikan rendah, menikah muda, status ekonomi rendah, tinggal di pedesaan, tinggal di wilayah timur) dan faktor keluarga (pernikahan yang singkat, pengambilan keputusan tunggal).
Read More
T-4207
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Puspita Sari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Evi Martha, Laily Hanifah
Abstrak: Pengetahuan masyarakat yang minim tentang HIV/AIDS dan interpretasi yang salah tentang masalah tersebut merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya penurunan jumlah kasus orang dengan HIV/AIDS. Perlakuan tidak adil, kasar, dan stigma yang negatif membuat ODHA tidak mau memberanikan dirinya untuk terbuka bahkan untuk mengakses pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan pada wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang berhubungan dengan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS dalam data SDKI 2012. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur yang lebih muda dalam memberi stigma terhadap ODHA daripada umur yang lebih tua. Semakin rendah pendidikan seseorang semakin besar kemungkinan untuk memberi stigma terhadap ODHA. Selain itu, pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS yang kurang juga dapat menyebabkan seseorang menstigma ODHA. Hasil uji chi-square didapatkan proporsi wilayah pedesaan lebih memberi stigma terhadap ODHA daripada wilayah perkotaan. Pemanfaatan sumber informasi juga sangat berpengaruh dalam memberi stigma terhadap ODHA, responden dengan sumber informasi ≤ 3 jenis cenderung memberi stigma terhadap ODHA. Status ekonomi rendah juga cenderung memberi stigma terhadap ODHA. Upaya keterlibatan seluruh stakeholder untuk peningkatan keterpaparan informasi sebagai upaya promotif dan preventif dengan penyebaran informasi tentang HIV/AIDS melalui media massa, khususnya melalui koran, radio, dan televisi lokal.
Kata Kunci : Wanita Pernah Kawin, ODHA, Stigma
Read More
S-8552
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meita Ilyana; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Dian Ayubi, Laily Hanifah
Abstrak: Tingginya prevalensi IMS pada kelompok berisiko salah satunya yaitu wanita penjaja seks tidak langsung, diakibatkan oleh rendahnya proporsi penggunaan kondom sebagai upaya untuk mencegah penularan IMS pada wanita penjaja seksual tidak langsung. Data STPB 2013 menunjukan bahwa proporsi penggunaan kondom secara konsisten hanya sekitar 36% . Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya pencegahan IMS pada wanita penjajak seks tidak langsung (WPSTL). Penelitian ini menggunakan data sekunder Surveilans Terpadu Biologi dan Perilaku tahun 2013 dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian ini adalah WPSTL dari 9 kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki data lengkap dalam STBP 2013 dengan jumlah 594 responden. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan dengan upaya pencegahan IMS pada WPSTL yaitu keterpaparan pelayanan kesehatan(Pvalue 0,001; PR 2,3 95%CI 1,5-3,6); akses kondom (Pvalue 0,001; OR 2,6 95%CI (1,7-4,2); kepemilikan kondom (Pvalue 0,001; OR 3,6 95%CI 2,2- 5,7); layanan konseling dan tes HIV (Pvalue 0,015; OR 1,17 95%CI 1,1-2,7), dukungan pelanggan (Pvalue 0,04; OR 3,96 95%CI 2,12-7,38); dukungan pengelola tempat hiburan ( Pvalue 0,001; OR 3,04 95%CI 1,6-5,5); dan dukungan petugas kesehatan (Pvalue 0,001; OR 3,04 95%CI 1,0-5,2). Peningkatan upaya pencegahan IMS oleh WPSTL melalui pendidikan dan pelatihan terkait IMS dan HIV agar prevalensi penularan IMS melalui hubungan seksual berisiko semakin berkurang. Kata kunci : Infeksi Menular Seksual, Wanita Penjaja Seks Tidak Langsung, kondom, Surveilans Terpadu Biologi dan Perilaku tahun 2013
Read More
S-8551
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Puspasari; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Besral, Laily Hanifah
Abstrak: Infeksi HIV bukan hanya mempengaruhi kesehatan fisik tetapi juga dapat mengakibatkan kecemasan atau depresi berkaitan dengan mortalitas, terapi, dan stigma, yang kemudian berdampak pada kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kualitas hidup Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu. Penelitian ini menggunakan rancangan studi deskriptif dan mengumpulkan sebanyak 121 responden.
 
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas hidup kurang baik (63,6%), mayoritas responden memiliki dimensi kesehatan fisik yang kurang baik yaitu (60,3%). Pada dimensi psikologis responden memiliki nilai yang kurang baik (75,2 %). Dalam dimensi interaksi sosial, mayoritas responden juga memiliki nilai yang kurang baik (57,9%). Dalam dimensi lingkungan (62,8%) nilainya kurang baik. Dari dimensi tingkat kemandirian, mayoritas responden (70,2%) nilainya kurang baik. Sedangkan dimensi spiritual, sebanyak 68 orang (56,2%) nilainya kurang baik.
 

HIV Infection not only affects physical health but also causes anxiety or depression related to mortality, therapy, and stigma, and then influence quality of life. The purpose of this study was to determine the picture quality of life of people living with HIV / AIDS (PLWHA) in Bhayangkara Hospitals Indramayu. This study used a descriptive study design and collect as much as 121 respondents.
 
The results showed that most of respondents have a poor quality of life (63.6%), more specically, all dimention the of qualiti of life majority respondents showed less than expected. Dimention of physical health, (60.3%), (75.2%), social interaction (57.9%), environmental (62.8%), level of independence (70.2%), and spiritual dimension (56.2%).
Read More
S-8809
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Senja Arum Woro Widosari; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Laily Hanifah
Abstrak: Latar Belakang: Adanya pandemi Covid-19 menyebabkan program Keluarga Berencana tidak dapat berjalan maksimal. Penyebaran Virus Covid-19 yang sangat cepat membuat pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka penularan Covid-19 yaitu dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan anjuran physical distancing. Namun, adanya kebijakan PSBB menyebabkan gangguan dalam pasokan alat kontrasepsi di berbagai daerah, selain itu penyebaran Virus COVID-19 menyebabkan kekhawatiran dan rasa takut pada calon pengguna kontrasepsi maupun akseptor KB, sehingga berakibat untuk menunda atau tidak pergi ke pelayanan kesehatan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya penurunan kunjungan dan penggunaan alat kontrasepsi di seluruh wilayah di Indonesia salah satunya di Kota Surakarta. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana membuat kegiatan pelayanan Keluarga Berencana yaitu Safari MKJP dan Gugur Gunung. Namun di masa pandemi kegiatan tersebut sempat terhenti dan kembali berjalan pada bulan September. Menurut George C Edwards III faktor keberhasilan suatu program dipengaruhi oleh faktor komunikasi, faktor sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif observasional dengan pendekatan kualitaitif dan pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam Hasil: Komunikasi diberikan kepada petugas pelaksana secara langsung sehingga mengurangi timbulnya kesalahpahaman dalam penerimaan informasi. Faktor sumber daya terpenuhi dengan baik sehingga mendukung berjalannya implementasi program. Faktor disposisi yang terpenuhi terlihat dari peran staf yang ikut serta dalam pelaksanaan program. Faktor struktur birokrasi berjalan ideal sehingga kegiatan berjalan dengan lancar. Kesimpulan: Implementasi program KB dalam penggunaan kontrasepsi di masa pandemi berjalan dengan baik. Implementasi program dipengaruhi oleh faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi.
Read More
S-10893
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurrahma Fitria Ramadhani; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Laily Hanifah
Abstrak: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat pankreas tidak membuat cukup insulin atau insulin yang dibuat tidak dapat digunakan secara efektif. Diabetes melitus sendiri dalam 20 tahun terakhir menunjukan angka kejadian yang terus meningkat. Faktor risiko diabetes seperti kelebihan berat badan (obesitas), diet yang tidak sehat, aktivitas fisik kurang yang menyumbang sekitar 80% dari peningkatan prevalensi diabetes. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan sedentari dengan diabetes melitus di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey 5 tahun 2014/2015 dengan desain potong lintang dan didapatkan 3985 responden terbobot. Dilakukan analisis statistik univariat, bivariat menggunakan chi-square (CI: 95%) dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Dari 3985 responden didapatkan 291 (7,8%) responden diabetes dan 583 (14,04%) responden sedentari. Hasil analisis multivariat didapatkan hubungan sedentari dengan diabetes melitus setelah dikontrol dengan variabel konfounding (OR 1,5 95%CI: 1,07-2,11). Maka disimpulkan mengurangi kebiasaan sedenter baik dilakukan guna mencegah terjadinya diabetes melitus, dan diperlukannya perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat untuk mencegah terjadinya diabetes melitus.
Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas does not make enough insulin or the insulin that is made cannot be used effectively. Diabetes mellitus itself in the last 20 years shows an increasing incidence. Diabetes risk factors such as being overweight (obesity), unhealthy diet, lack of physical activity account for about 80% of the increase in diabetes prevalence. The purpose of this study was to examine the relationship between sedentary and diabetes mellitus in Indonesia. This study uses data from the Indonesia Family Life Survey 5 in 2014/2015 with a cross-sectional design and obtained 3985 weighted respondents. Univariate statistical analysis, bivariate using chi-square (CI: 95%) and multivariate analysis using multiple logistic regression test. From 3985 respondents, 291 (7.8%) diabetic respondents and 583 (14.04%) sedentary respondents. The results of multivariate analysis showed a sedentary relationship with diabetes mellitus after controlling for confounding variables (OR 1.5 95% CI: 1.07-2.11). It is concluded that reducing sedentary habits is good to do to prevent the occurrence of diabetes mellitus, and the need for changes in lifestyle to be healthier to prevent diabetes mellitus.
Read More
S-11000
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspita Awalina Rochmatun; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Kemal N. Siregar, Laily Hanifah
S-10219
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rifa Fadhilah Lubis; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Laily Hanifah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran perilaku pencegahan seksual pranikah yang sudah dikembangkan oleh pengurus OSIS. Penelitian ini kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam secara daring kepada 4 orang informan utama yang berada di Kelas XII SMA Panca Budi yang menjabat sebagai Ketua OSIS, Sekretaris OSIS, Bendahara OSIS, dan Ketua Seksi Seni yang semuanya berusia 17 tahun. Penelitian ini menggunakan analisis isi dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan memiliki pengetahuan mengenai perilaku seksual pranikah yang baik mengenai perilaku seksual pranikah, penyebabnya, dampaknya, beserta pencegahannya.
Read More
S-10836
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paskalinda Maria Yosefa Bandur; Pembimbing: Milla Herdiyati; Penguji: Besral, Tris Eryando, Rahmadewi, Laily Hanifah
Abstrak: Preferensi jumlah anak ideal dan preferensi kontrasepsi remaja saat ini dapat mempengaruhi fertilitas dan pemakaian kontrasepsi dimasa yang akan datang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan preferensi jumlah anak ideal dan preferensi pemakaian kontrasepsi pada remaja usia 15-24 tahun, belum menikah di Indonesia tahun 2017 dengan menggunakan analisis data SDKI-KRR tahun 2017. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa preferensi jumlah anak ideal yaitu sebanyak 69,9% dan preferensi pemakaian kontrasepsi yaitu sebanyak 82,5%. Berdasarkan model multivariat preferensi jumlah anak ideal pada remaja dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, status ekonomi, akses intenet dan diskusi dengan teman sebaya. Pada preferensi pemakaian kontrasepsi pada remaja dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, status ekonomi, akses internet dan diskusi dengan tokoh masyarakat. Dengan demikian, diharapkan kepada pemerintah dalam pelaksanaan program remaja dapat difokuskan pada faktor-faktor tersebut
Read More
T-5806
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive