Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yofen Dhamigus; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Taufik Santoso, Melanie Husna
Abstrak:
Penelitian ini mengkaji analisis capaian casemix dan casemix index rawat inap di Rumah Sakit Kelas B Grup Primaya Hospital. Data dikumpulkan dari lima rumah sakit (PH1-PH5) dalam kelompok Primaya Hospital. Penelitian mengevaluasi sumber daya manusia, anggaran, material, metode, dan proses terkait capaian casemix dan casemix index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi clinical pathways (PPK-CP) di PH1, PH2, PH3, dan PH5 efektif dalam meningkatkan standar klinis dan efisiensi operasional. Kelengkapan rekam medis di PH1 tertinggi (93.3%) dibandingkan dengan PH lainnya. Meskipun demikian, tingkat klaim tertunda masih menjadi tantangan, terutama di PH4. Ketepatan koding di PH5 terbaik dengan hanya 14.6% data klaim yang tertunda. Verifikasi klaim di PH1 mencapai 98.2%, menunjukkan kualitas pengajuan klaim yang baik. Hasil penelitian ini memberikan wawasan tentang hubungan antara input, proses, dan output dalam manajemen capaian casemix dan casemix index di rumah sakit tersebut. Implikasi dari temuan ini berpotensi untuk merumuskan strategi korporasi yang efektif dalam meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional di rumah sakit kelompok Primaya Hospital.

This research examines the analysis of casemix achievement and casemix index inpatient care at Primaya Hospital Class B. Data were collected from five hospitals (PH1-PH5) within the Primaya Hospital group. The study evaluates human resources, budgets, materials, methods, and processes related to casemix achievement and casemix index. The results show that the implementation of clinical pathways (PPK-CP) in PH1, PH2, PH3, and PH5 is effective in improving clinical standards and operational efficiency. The completeness of medical records in PH1 is the highest (93.3%) compared to other hospitals. However, the level of delayed claims remains a challenge, especially in PH4. Coding accuracy in PH5 is the best with only 14.6% of delayed claim data. Claim verification in PH1 reaches 98.2%, indicating good quality of claim submission. The findings provide insights into the relationship between inputs, processes, and outputs in managing casemix achievement and casemix index at these hospitals. The implications of these findings have the potential to formulate effective corporate strategies to improve service quality and operational efficiency in Primaya Hospital group.
Read More
B-2483
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Caesary Merybella NMT; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Melanie Husna, Karisna Agustin
Abstrak:

Latar belakang: Ketidaklengkapan rekam medis merupakan salah satu penyebab sehingga berkas klaim sering kali tidak lengkap atau tidak tepat waktu. Banyaknya klaim yang tidak berhasil berhubungan dengan penundaan pembayaran klaim JKN oleh BPJS Kesehatan menggangu cash flow RSKD Duren Sawit. Oleh karena itu, rumah sakit perlu melakukan penelitian tentang cara pengisian lengkap rekam medis yang baik. Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan dokumentasi rekam medis dan bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi proses pembayaran klaim BPJS untuk pasien yang menjalani rawat inap non jiwa di RSKD Duren Sawit dan bagaimana upaya untuk mengurangi klaim pending serta mencegah klaim pending berulang. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik dengan metodologi penelitian kualitatif, dilaksanakan wawancara mendalam dengan informan yang dianggap dapat memberikan informasi yang akurat dan relevan untuk studi tersebut yang melibatkan pengumpulan dan detail dari data klaim pending yang belum terselesaikan, dibagi berdasarkan berbagai aspek masalahnya. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kelengkapan berkas klaim BPJS pasien rawat inap di RSKD Duren Sawit cukup baik, terutama terkait identitas peserta. Namun, terdapat kelemahan signifikan dalam kesesuaian pengkodean yang memerlukan perbaikan. Penyebab utama klaim yang tertunda adalah ketidaksesuaian pengkodean dan kelengkapan hasil pemeriksaan penunjang. Ketidaklengkapan dokumen klaim dapat mengganggu arus kas rumah sakit, berpotensi mempengaruhi pembayaran gaji pegawai dan penyediaan obat-obatan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan manajemen dan pelatihan bagi staf untuk meningkatkan kelengkapan dan akurasi berkas klaim, menekankan pentingnya peningkatan sistem dokumentasi dan pengelolaan rekam medis dalam mendukung kelancaran proses klaim BPJS.


Incomplete medical records are one of the causes of claim files often being incomplete or not submitted on time. The large number of unsuccessful claims related to the delays in payment of JKN claims by BPJS Kesehatan disrupts the cash flow of RSKD Duren Sawit. Therefore, the hospital needs to conduct research on how to properly fill out complete medical records. The objective is to identify the factors related to the completeness of medical record documentation and how these factors affect the BPJS claim payment process for patients undergoing non-psychiatric hospitalization at RSKD Duren Sawit, as well as efforts to reduce pending claims and prevent recurring pending claims. This study uses a descriptive analytical approach with qualitative research methodology, conducting in-depth interviews with informants deemed capable of providing accurate and relevant information for the study, involving the collection and details of unresolved pending claim data, categorized based on various aspects of the problems. The study shows that the completeness of BPJS claim files for inpatients at RSKD Duren Sawit is quite good, particularly regarding patient identity. However, there are significant weaknesses in coding conformity that require improvement. The main causes of pending claims are coding discrepancies and the completeness of supporting examination results. Incomplete claim documents can disrupt the hospital's cash flow, potentially affecting employee salary payments and the provision of medications. This study recommends strengthening management and training for staff to enhance the completeness and accuracy of claim files, emphasizing the importance of improving documentation systems and medical record management to support the smooth processing of BPJS claims.   Keywords: Keywords: BPJS, complete claim files,pending claims, diagnosis coding, medical record

Read More
B-2517
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Kusumawardhani Setiawan; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Eka Ginanjar, Arfan Awaloeddin, Melanie Husna
Abstrak:
Sport Clinic adalah salah satu layanan modern dari rumah sakit yang hadir mengikuti perkembangan zaman. Unit ini tersedia untuk menangani berbagai masalah kesehatan terkait dengan aktivitas fisik, terutama olahraga. Sport clinic adalah bagian dari ilmu kedokteran yang berkaitan dengan preventif, kuratif, rehabilitatif dan upaya performa, baik pelaku olahraga non-profesional maupun profesional. Primaya Hospital Bekasi Timur menyediakan solusi untuk cedera olahraga dengan penanganan yang akurat dan tepat, hingga olahragawan dapat melakukan aktivitas olahraga dengan proses pemulihan yang relatif lebih singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelayanan Sport Clinic & Orthopedic Centre di Primaya Hospital Bekasi Timur. Upaya untuk mendukung kualitas layanan dalam usaha layanan kesehatan, maka perlu didukung oleh clinical outcome, utilisasi, kepuasan pelanggan, dan keuangan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional study yang dilakukan pada bulan Oktober 2023 – Januari 2024. Analisis efektivitas pelayanan Sport Clinic & Orthopedic Centre ini dilakukan pada data bulan Januari – Desember 2023. Selama tahun 2023 belum dilakukan pengukuran Clinical Outcomes pasien yang berkunjung ke Primaya Hospital Bekasi Timur. Tingkat utilisasi alat medis di Primaya Hospital Bekasi Timur masih rendah. Angka kunjungan pasien di Sport Clinic & Orthopedic Centre semakin meningkat dengan capaian Indeks Kepuasan Pasien sangat baik.

The Sport Clinic represents one of the most contemporary services offered by the hospital, reflecting the institution's commitment to keeping pace with evolving healthcare needs. This unit is available to treat a range of health issues related to physical activity, with a particular focus on sports. The field of sport medicine is a branch of medical science that encompasses a range of activities, including preventive, curative, rehabilitative, and performance-enhancing interventions, for both non-professional and professional athletes. Primaya Hospital Bekasi Timur offers solutions for sports injuries through the provision of accurate and precise treatment, thereby enabling athletes to resume their sporting activities with a relatively shorter recovery period. The objective of this study is to assess the efficacy of the Sport Clinic & Orthopedic Centre services at Primaya Hospital Bekasi Timur. In order to enhance the quality of service in the healthcare sector, it is essential to consider a range of factors, including clinical outcomes, utilisation, customer satisfaction, and financial aspects. The research method employed is a quantitative approach utilising a cross-sectional study methodology, conducted between October 2023 and January 2024. The analysis of the effectiveness of the Sport Clinic & Orthopedic Centre services was conducted on data collected from January to December 2023. In 2023, no measurement of clinical outcomes of patients visiting Primaya Hospital Bekasi Timur was conducted. Furthermore, the utilisation rate of medical equipment at Primaya Hospital Bekasi Timur remains low. However, services at the Sport Clinic & Orthopedic Centre are considered effective, as evidenced by the increasing number of visits and patients per month, coupled with a high Patient Satisfaction Index.
Read More
B-2482
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radhica El Shalawa; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Purnawan Junadi, Rakhmad Hidayat, Melanie Husna
Abstrak:
Waktu pemulangan pasien rawat inap merupakan indikator mutu penting dalam pelayanan rumah sakit. Di RS Universitas Indonesia (RSUI), target check-out time sebelum pukul 12 siang belum tercapai selama empat tahun terakhir, berdampak pada keterlambatan alur rawat inap dari IGD dan menurunnya efisiensi pemanfaatan tempat tidur. Proses discharge yang kompleks, melibatkan banyak unit, serta dominasi aktivitas non-value-added menjadi penyebab utama rendahnya capaian indicator mutu tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Lean Six Sigma dengan desain DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi proses discharge dan wawancara mendalam terhadap tujuh informan kunci lintas profesi. Sampel terdiri atas 40 pasien jaminan BPJS Kesehatan. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi aktivitas value-added, non-value-added, waste, dan variasi proses. Rata-rata lead time discharge sebelum intervensi adalah 20 jam 35 menit dengan 86% aktivitas tergolong NVA. Empat aktivitas prioritas dengan waste tertinggi adalah discharge billing (43,75%), penyusunan resume keperawatan dan surat kontrol (13,62%), pengorderan resep obat pulang (9,95%), dan penyusunan resume medis (9,86%). Intervensi dilakukan melalui penempatan tenaga administrasi ruangan (ADRU), surat edaran kebijakan peresepan oleh DPJP, serta pelatihan Kaizen. Setelah intervensi, capaian check-out sebelum pukul 12.00 meningkat dari 45% menjadi 53%, meskipun total lead time meningkat menjadi 22 jam 40 menit. Namun, beberapa subprocess mengalami perbaikan signifikan, seperti edukasi dan pemberian obat (turun 29%), pasien keluar ruang (turun 40%), dan discharge billing (turun 40%). Intervensi Lean Six Sigma berhasil meningkatkan capaian check-out time <12.00 meskipun belum menurunkan total lead time secara keseluruhan. Perbaikan cenderung parsial dan menunjukkan perlunya intervensi lebih menyeluruh terhadap tahapan proses discharge yang belum optimal.

Inpatient discharge time is a key quality indicator in hospital services. At Universitas Indonesia Hospital (RSUI), the target check-out time before 12:00 PM has not been achieved over the past four years. This delay negatively impacts the inpatient admission flow from the emergency department and reduces the efficiency of bed utilization. The complexity of the discharge process, which involves multiple units and is dominated by non-value-added (NVA) activities, is a primary factor contributing to the low performance of this indicator. This study applied a Lean Six Sigma approach using the DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) framework. Data collection was conducted through direct observation of the discharge process and in-depth interviews with seven key informants from different professional backgrounds. The sample consisted of 40 inpatients covered by the national health insurance scheme (BPJS Kesehatan). The analysis focused on identifying value-added (VA) and non-value-added (NVA) activities, waste, and process variation. The average pre-intervention discharge lead time was 20 hours and 35 minutes, with 86% of activities categorized as NVA. Four priority activities contributing the most waste were: system-based discharge billing (43.75%), preparation of nursing discharge summaries and follow-up letters (13.62%), prescription of discharge medications (9.95%), and preparation of medical summaries (9.86%). Interventions included the deployment of room-based administrative staff (ADRU), a policy circular mandating discharge prescriptions by the attending physician, and Kaizen training for process owners. Post-intervention, the proportion of patients discharged before 12:00 PM increased from 45% to 53%, although the total lead time rose to 22 hours and 40 minutes. However, several subprocesses showed significant improvements, such as patient education and medication handover (reduced by 29%), patient exit from the ward (reduced by 40%), and discharge billing (reduced by 40%). The Lean Six Sigma intervention succeeded in improving the achievement of the <12:00 PM discharge time indicator, although it did not reduce the overall discharge lead time. The improvements were partial, indicating a need for more comprehensive interventions targeting other suboptimal discharge process components.
Read More
B-2559
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hana Apriyanti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Prastuti Soewondo, Atik Nurwahyuni, Melanie Husna, Iin Rahayu Kurniawati
Abstrak: Penelitian ini merupakan studi kasus di salah satu rumah sakit swasta tipe C di Kabupaten Bojonegoro yang bertujuan untuk memperoleh biaya satuan pasien rawat inap COVID19 dan perbandingannya dengan tarif Kementerian Kesehatan berdasarkan KMK No.HK.01.07/MENKES/5673/2021 dan No.HK.01.07/MENKES/1112/2022. Biaya satuan yang dihitung untuk 1 pasien COVID-19 selama 1 episode rawat inap, dimulai dari pasien masuk ke IGD COVID-19 sampai pasien keluar rumah sakit, dengan menggunakan metode ABC. Penelitian dilakukan pada berkas klaim rawat inap pasien COVID-19 yang masuk rumah sakit 1 Oktober 2021-28 Februari 2022 dengan kriteria inklusi: berkas klaim yang memiliki resume medis lengkap, pasien yang termasuk dalam kriteria suspek, probable, dan konfirmasi; dengan kriteria eksklusi: pasien rawat inap COVID-19 yang pulang APS dan dirujuk, klaim tidak layak, berkas yang berstatus pending dan dispute per April 2022. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan melakukan telaah dokumen, wawancara, serta observasi dan terdiri dari 3 tahap pengumpulan data. Terdapat 57 berkas klaim rawat inap pasien COVID-19 dengan karakteristik sebagai berikut: 54,39% pasien perempuan; dengan usia <60 tahun sebanyak 61,40%; 49,12% pasien sudah pernah menerima 2 kali vaksin COVID-19; pasien yang tidak memiliki komorbid sebanyak 57,89%; dengan 78,95% LOS selama 1-5 hari; 84,21% keluar dari rumah sakit dangan keadaan sembuh; diagnosa U07.1 sebanyak 54,39%; 56,14% termasuk ke dalam kelompok A-4-9-I. Biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 yang terbesar adalah pada diagnosa U07.1;E03.9 (A-4-19-II) senilai Rp 38.916.021,91, diikuti U07.1;E11.9;E88.0 (A-4-19-II) senilai Rp 31.122.007,44, kemudian U07.1;I11.0 (A-4-19-III) senilai Rp 30.558.210,40. Sedangkan biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 yang terkecil adalah pada diagnosa U07.1;G40.9 yaitu senilai Rp 9.467.928,01 yang termasuk ke dalam kelompok diagnosa konfirmasi COVID19 level 2. Secara keseluruhan komponen biaya terbesar adalah biaya langsung yaitu bervariasi sebesar 85-99% dan biaya tidak langsung yaitu 1-15%. Komponen biaya langsung terbesar berupa biaya logistik (81-90%) yang dipergunakan selama perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit, sedangkan biaya jasa pelayanan sebesar 10-19%. Terdapat selisih positif nilai biaya satuan pasien rawat inap COVID-19 apabila dibandingkan dengan tarif KMK No.HK.01.07/MENKES/5673/2021. Selisih positif terbesar pada diagnosa U07.1;I64;G81.9 yaitu senilai Rp 59.990.525,65. Selisih positif terkecil yaitu Rp 4.149.364,92 pada diagnosa U07.2 (A-4-18-I). Apabila dibandingkan dengan KMK No.HK.01.07/MENKES/1112/2022 terdapat selisih negatif pada 9 diagnosa ICD-10 dan 11 diagnosa ICD-10 memiliki selisih positif. Selisih negatif terbesar yaitu Rp 22.623.021,91(U07.1;E03.9) dan selisih negatif terkecil yaitu Rp 29.199,24 (U07.1;E11.1).
Read More
B-2286
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive