Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dirgahayuni Sari Agustina; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ascobat Gani, Prastuti Soewondo, Anis Karuniawati; Irma Yunita
Abstrak:
Peresepan antibiotik yang tinggi disertai kurangnya evaluasi penggunaan antibiotik di fasilitas pelayanan kesehatan primer berpotensi terhadap penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Evaluasi antibiotik dapat dilakukan dengan melihat pola konsumsi antibiotik di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. WHO telah menetapkan target minimal 60% konsumsi antibiotik berasal dari kelompok access. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis konsumsi antibiotik di puskesmas di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan klasifikasi antibiotik AWaRe (Access, Watch, dan Reserve) WHO. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan terhadap 44 puskesmas di Provinsi DKI Jakarta. Hasil penelitian menujukkan terjadi peningkatan nilai konsumsi antibiotik di tahun 2022 dibandingkatn tahun 2019. Total konsumsi antibiotik tahun 2022 adalah 1,827 DDD per 1.000 pasien per hari, dengan proporsi sebesar 76,91% berasal dari kelompok access; 10,14% kelompok watch; tidak ada kelompok reserve, dan 12,95% merupakan antibiotik yang tidak diklasifikasikan dalam WHO AwaRe (unclassified). Semua jenis SDM kesehatan puskesmas memiliki peran dalam penggunaan antibiotik, namun belum semuanya mengetahui tentang klasifikasi antibiotik AWaRe WHO. Dukungan pelayanan laboratorium klinik, pelayanan informasi obat diperlukan dalam peresepan antibiotik di puskesmas. Selain itu, pelaksanaan manajemen logistik obat serta pemantauan dan evaluasi juga berperan dalam penggunaan antibiotik di puskesmas. Sementara itu, pengetahuan pasien juga dapat memengaruhi penggunaan antibiotik. Hasil penelitian ini merekomendasikan adanya upaya peningkatan penggunaan antiobiotik yang rasional melalui peningkatan pemahaman SDM kesehatan dan pasien serta pelaksanaan pemantauan dan evaluasi penggunaan antibiotik yang lebih menyeluruh di puskesmas disertai umpan balik.

High antibiotic prescribing combined with a lack of evaluation of antibiotic use in primary healthcare facilities has the potential to lead to inappropriate use of antibiotics. The WHO sets a target of at least 60% antibiotic consumption from the access group in primary healthcare facilities for antibiotic evaluation. This study aimed to analyze antibiotic consumption in community health centers in DKI Jakarta province based on the WHO AWaRe (Access, Watch, and Reserve) classification. The study is non-experimental research with a quantitative and qualitative approach. The study was conducted at 44 community health centers in DKI Jakarta province. The findings indicate that antibiotic consumption will increase in 2022 compared to 2019. Total antibiotic consumption in 2022 is 1,827 DDD per 1,000 patients per day, with a proportion of 76.91% from access group, 10.14% from watch group, no antibiotic in reserve; and 12.95% from antibiotics not classified in WHO AwaRe (unclassified). Every healthcare worker at community health centers has a responsibility regarding the use of antibiotics; however, not all of them are up-to-date on the WHO's AWaRe classification of antibiotics. Community health centers require support in the form of clinical laboratory testing and drug information services to prescribe antibiotics effectively. Furthermore, the effective execution of drug logistics management, as well as the process of monitoring and evaluation, contributes to the use of antibiotics in community health centers. Moreover, the level of understanding possessed by patients may have an impact on the use of antibiotics. The study's findings indicate that improving the comprehension of healthcare worker and patients can lead to a more judicious use of antibiotics. Furthermore, it is imperative to establish a more extensive system for monitoring and evaluating the utilization of antibiotics in community health centers, along with providing feedback.
Read More
T-7109
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niken Salindri; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Anis Karuniawati, Joko Pamungkas, Rama Prima Syahti Fauzi
Abstrak:
Resistensi antimikroba (AMR) telah berkembang menjadi tantangan kesehatan masyarakat global yang bersifat multidimensi, karena dampaknya tidak hanya mengancam efektivitas pengobatan infeksi, tetapi juga memengaruhi ketahanan sistem dan pendanaan kesehatan. Indonesia merespons tantangan tersebut melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Resistensi Antimikroba yang dikoordinasikan lintas kementerian dan mengadopsi pendekatan One Health. Namun, implementasi kebijakan ini masih menghadapi berbagai kendala struktural dan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan pengendalian resistensi antimikroba di Indonesia melalui pendekatan One Health. Penelitian ini merupakan analisis kebijakan dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, melibatkan informan lintas sektor dari kementerian/lembaga dan mitra pembangunan, melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen kebijakan nasional. Analisis data dilakukan menggunakan Kerangka Kebijakan FAO yang mencakup domain kesadaran, bukti, praktik, dan tata kelola, serta direfleksikan dengan hasil Joint External Evaluation (JEE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki kerangka kebijakan AMR dengan menggunakan pendekatan One Health yang komprehensif, namun implementasi strategi masih berjalan parsial. Upaya peningkatan kesadaran belum terlembaga secara sistemik, sistem bukti dan surveilans AMR belum terintegrasi lintas sektor dan wilayah, praktik pengendalian AMR menunjukkan kesenjangan antar sektor dan tingkat pelayanan, serta tata kelola lintas sektor belum memiliki daya ikat yang kuat terhadap perencanaan dan penganggaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan tata kelola lintas sektor, integrasi sistem berbasis bukti One Health, serta pengarusutamaan AMR dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah merupakan kunci untuk meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan kebijakan pengendalian resistensi antimikroba di Indonesia hingga ke tingkat daerah.

Antimicrobial resistance (AMR) has emerged as a multidimensional global public health challenge, as its impacts extend beyond the declining effectiveness of infection treatment to threaten health system resilience and sustainable health financing. Indonesia has responded to this challenge through the National Action Plan (NAP) on Antimicrobial Resistance, coordinated across ministries and adopting a One Health approach. However, the implementation of set of policies continues to face structural and operational constraints. This study aims to analyse the implementation of AMR control policies in Indonesia through a One Health perspective. Using a qualitative policy analysis and case study design, the study involved multisectoral informants from government institutions and development partners, and employed in-depth interviews and a review of national policy documents. Data were analysed using AMR Policy Review Framework, encompassing the domains of awareness, evidence, practice, and governance, and were further examined in relation to the findings of the Joint External Evaluation (JEE). The findings indicate that Indonesia has established a comprehensive One Health–oriented AMR policy framework; however, its implementation remains fragmented. Awareness-raising efforts have not been systematically institutionalised, AMR surveillance and evidence systems remain poorly integrated across sectors and regions, AMR control practices show substantial disparities across sectors and levels of service delivery, and multisectoral governance lacks sufficient authority to influence planning and budgeting processes. This study concludes that strengthening cross-sectoral governance, integrating One Health–based evidence systems, and mainstreaming AMR into national and subnational development planning are critical to improving the effectiveness and sustainability of AMR control policies in Indonesia, including at the subnational level.
Read More
T-7472
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erlin Listuiyaningsih; Promotor: Nuning Mk. Masjkuri; Ko-Promotor: Mondastri Korib Sudaryo, Paamita G. Dwipoerwantoro; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Budi Hidayat, Asri C. Adisasmita, Anis Karuniawati, Julitasari Sundoro
D-296
Depok : FKM-UI, 2014
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rudyanto Sedono; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Ratna Djuwita, Made Wiryana; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Mardiati Nadjib, Syahrizal, Retno Wahyuningsih; Bachti Alisjahbana; Anis Karuniawati
Abstrak:
Latar Belakang: Mayoritas kandidiasis invasif pada pasien sakit kritis berkembang setelah masuk ke unit perawatan intensif. Penyebab paling umum dari penyakit jamur invasif adalah Candida yang merupakan organisme komensal dalam tubuh manusia tetapi dapat berubah menjadi patogen. Infeksi kandida diawali dengan peningkatan kolonisasi, perubahan bentuk dan produksi enzim yang merusak mukosa inang sehingga kandida dapat masuk ke jaringan tubuh atau pembuluh darah. Metode: Penelitian ini adalah studi observasional prospektif pasien sakit kritis yang dirawat di ruang intensif. Pengambilan sampel berupa darah, swab ketiak dan swab dubur diambil pada hari pertama, kelima, dan kesembilan. Data rekam medis dan biaya medis langsung dikumpulkan dari hari pertama penelitian hingga akhir penelitian. Analisis data menggunakan STATA. Hasil: Sebanyak 142 subjek direkrut dan 115 subjek dianalisis dalam penelitian ini. Analisis multivariat mengidentifikasi usia > 60 tahun, nutrisi parenteral >= 7 hari, CVC >= 10 hari, kortikosteroid, PCT hari ke-5, perubahan morfologi axilla dan swab rektal, dan perubahan morfologi dan peningkatan koloni Candida swab rektal hari ke-9 sebagai faktor risiko independen kandidiasis invasif. Faktor risiko ini dapat digunakan sebagai variabel sistem skoring berdasarkan RS tipe A dengan atau tanpa pemeriksaan mikologi dan RS tipe C. Pemberian obat antijamur lebih cost effective dibandingkan dengan tidak diberikan obat antijamur. Kesimpulan: Faktor risiko dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kandidiasis invasif, serta penggunaan sistem skoring dapat membantu dalam skrining diagnosis dan pemberian obat antijamur lebih cost effective.

Background: The majority of invasive candidiasis in critically ill patients develops after admission to the intensive care unit. The most common cause of invasive fungal disease is Candida which is a commensal organism in the human body but can transform into a pathogen. Candida infection begins with increased colonization, changes in shape and production of enzymes that damage mucosa then candida can enter body tissues or blood vessels. Methods: This study is a prospective observational study of critically ill patients who admitted to the intensive care unit. Blood samples, armpit swabs and rectal swabs were taken on the first, fifth and ninth days. Medical record data and direct medical costs were collected from the first day of the study to the end of the study. Data analysis using STATA. Results: A total of 142 subjects were recruited and 115 subjects were analyzed in this study. Multivariate analysis identified age > 60 years, parenteral nutrition >= 7 days, CVC >= 10 days, corticosteroids, PCT day 5, changes in axillary and rectal swab morphology, and morphological changes and increased Candida colonies on day 9 rectal swabs as risk factors independent of invasive candidiasis. This risk factor can be used as a scoring system variable based on type A hospital with or without mycological examination and type C hospital. Giving antifungal drugs is more cost effective than not giving antifungal drugs. Conclusion: Risk factors can be used to prevent invasive candidiasis from occurring, and the use of a scoring system can assist in screening diagnoses and administering more cost-effective antifungal drugs.
Read More
D-494
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive