Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anis Hartanti Widowati; Pembimbing: Sudarti Kresno; Hesti Kristina P. Tobing
S-4511
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saryatno; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: R. Sutiawan, Melvinawati Kristina
S-6339
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resa Lisardi Dwiranti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Low Back Pain merupakan salah satu penyebab utama disabilitas yang membutuhkan penanganan rehabilitasi medik jangka panjang. Namun, frekuensi kunjungan rehabilitasi medik pada pasien LBP peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran frekuensi kunjungan dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan frekuensi kunjungan rehabilitasi medik pada pasien Low Back Pain peserta JKN di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan desain cross sectional yang dilakukan pada Februari–Juni 2025 menggunakan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien Low Back Pain (65,1%) melakukan kunjungan rehabilitasi medik dengan frekuensi rendah, yang mencerminkan ketidakpatuhan terhadap terapi. Variabel usia, jenis kelamin, status perkawinan, wilayah dan jenis wilayah tempat tinggal peserta, kelas hak rawat, segmentasi peserta, tipe FKRTL, dan status kepemilikan FKRTL memiliki hubungan yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan rehabilitasi medik (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pemantauan terhadap utilisasi layanan rehabilitasi medik, baik untuk menangani ketidakpatuhan maupun mengidentifikasi potensi overutilization pada fasilitas atau segmen pasien tertentu.


Low Back Pain is one of the leading causes of disability that often requires long-term medical rehabilitation. However, the frequency of rehabilitation visits among Low Back Pain patients enrolled in the National Health Insurance (JKN) program remains suboptimal. This study aims to describe the visit frequency and analyze the factors associated with the frequency of medical rehabilitation visits among JKN participants with Low Back Pain at referral health facilities (FKRTL). This is a non-experimental quantitative study with a cross-sectional design conducted from February to June 2025, using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan Sample Data. The results showed that the majority of LBP patients (65,1%) had a low frequency of rehabilitation visits, indicating poor adherence to therapy. Variables such as age, gender, marital status, residential region and area type, class of care entitlement, participant segmentation, type of FKRTL, and ownership status of FKRTL were significantly associated with the frequency of rehabilitation visits (p < 0.05). These findings highlight the need to strengthen monitoring systems for the utilization of medical rehabilitation services, both to address non-adherence and to identify potential overutilization in specific facilities or patient segments.
Read More
S-12092
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bunga Pramesuari Mei Syara; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Pujiyanto, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Kesehatan gigi merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan, dan masalah kesehatan gigi berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai variabel terhadap utilisasi layanan kesehatan gigi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berdasarkan data sampel BPJS pada tahun 2023. Desain penelitian menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney dengan total sampel sebanyak 8.694 peserta yang memanfaatkan layanan kesehatan gigi di FKTP wilayah Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel usia 15-64 tahun, jenis kelamin Perempuan, tempat tinggal peserta di kota, status perkawinan kawin, lokasi FKTP kota, jenis FKTP klinik pratama, serta segmen kepesertaan PPU, semuanya memiliki hubungan signifikan terhadap utilisasi pelayanan kesehatan gigi di FKTP (p-value < 0,001). Kesimpulan dari penelitian ini yakni seluruh variabel berhubungan signifikan dengan utilisasi layanan kesehatan gigi di FKTP wilayah Provinsi Jawa Barat.


Dental health is an integral part of overall body health, and dental health problems contribute significantly to the burden of disease. This study aims to analyze the influence of various variables on the utilization of dental health services at the Primary Health Care (FKTP) based on BPJS sample data in 2023. The research design used the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests with a total sample of 8,694 participants who utilized dental health services at FKTP in West Java Province. The results showed that the variables of age 15-64 years, female gender, residence in the city, marital status, location of city primary health care facilities, type of primary health care facilities, and PPU membership segment all had a significant relationship with the utilization of dental health services at primary health care facilities (p-value <0.001). The conclusion of this study is that all variables are significantly associated with the utilization of dental health services at primary health care facilities in West Java Province
Read More
S-12115
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nayla Keisha Putri Aribowo; Pembimbing; Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar Belakang: Kanker payudara merupakan keganasan dengan beban kasus tertinggi pada perempuan dan penatalaksanaannya banyak bertumpu pada kemoterapi intravena. Standar internasional mengarahkan pemberian kemoterapi intravena pada layanan rawat jalan karena dinilai aman dan efisien, namun praktik di Indonesia masih banyak menunjukkan pemberian melalui rawat inap, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah pemilihan rawat inap didasari indikasi klinis atau faktor lain di luar kebutuhan medis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat layanan kemoterapi intravena pada pasien kanker payudara di FKRTL berdasarkan rawat jalan dan rawat inap serta faktor-faktor yang berhubungan dengannya dalam sistem JKN tahun 2024. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Data sekunder bersumber dari Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2025 periode pelayanan 2024 dengan teknik total sampling, mencakup 2.373 kunjungan tidak berbobot dari 471 pasien atau setara 218.598 kunjungan setelah pembobotan. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji kai kuadrat, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner berbobot. Hasil Penelitian: Layanan kemoterapi intravena didominasi rawat jalan sebesar 74,5%, sedangkan rawat inap sebesar 25,5%. Seluruh variabel independen berhubungan bermakna secara bivariat (p<0,001). Berdasarkan nilai Wald, tiga determinan paling dominan adalah wilayah FKRTL, metastasis, dan segmen kepesertaan, dengan peluang rawat inap tertinggi pada wilayah Sulawesi (OR=25,223), pasien metastasis (OR=6,066), dan segmen PBPU (OR=3,200). Pembahasan: Dominasi pengaruh wilayah FKRTL menunjukkan bahwa pemanfaatan rawat inap kemoterapi lebih banyak didorong oleh faktor struktural fasilitas dan ketersediaan kapasitas layanan antarwilayah dibandingkan dengan kebutuhan klinis murni. Metastasis sebagai determinan klinis terkuat mencerminkan kompleksitas kondisi pasien yang membutuhkan pemantauan lebih intensif, sementara tingginya peluang rawat inap pada segmen PBPU mengindikasikan adanya pengaruh karakteristik sosial peserta terhadap pola pemanfaatan layanan. Kesimpulan: Layanan kemoterapi intravena pada pasien kanker payudara peserta JKN tahun 2024 didominasi rawat jalan, dengan wilayah FKRTL, metastasis, dan segmen kepesertaan sebagai tiga determinan paling dominan. Temuan ini menegaskan pentingnya pemerataan fasilitas dan tenaga onkologi di luar Jawa, penguatan kapasitas kemoterapi rawat jalan atau one-day care, penerapan kriteria klinis baku dalam penentuan setting layanan, serta peninjauan skema pembiayaan INA-CBG agar tidak menimbulkan disinsentif terhadap layanan rawat jalan.

Background: Breast cancer is the malignancy with the highest case burden among women, and its management relies heavily on intravenous chemotherapy. International standards direct the delivery of intravenous chemotherapy toward outpatient care because it is considered safe and efficient, yet in Indonesia, chemotherapy is still frequently delivered through inpatient care, raising the question of whether the choice of inpatient care is based on clinical indication or on factors beyond medical need. Objective: This study aimed to analyze the level of intravenous chemotherapy service among breast cancer patients in advanced referral health facilities (FKRTL) based on outpatient and inpatient care and the factors associated with it within the national health insurance (JKN) system in 2024. Methods: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. Secondary data were drawn from the 2025 BPJS Kesehatan Sample Data for the 2024 service period using total sampling, covering 2,373 unweighted visits from 471 patients, equivalent to 218,598 visits after weighting. Univariate, bivariate chi-square, and multivariate weighted binary logistic regression analyses were performed. Results: Intravenous chemotherapy was dominated by outpatient care at 74.5%, while inpatient care accounted for 25.5%. All independent variables were significantly associated in the bivariate analysis (p<0.001). Based on the Wald statistic, the three most dominant determinants were facility region, metastasis, and membership segment, with the highest odds of inpatient care found in the Sulawesi region (OR=25.223), patients with metastasis (OR=6.066), and the PBPU segment (OR=3.200). Discussion: The dominant influence of facility region indicates that inpatient chemotherapy utilization is driven more by structural facility factors and the availability of service capacity across regions than by purely clinical need. Metastasis as the strongest clinical determinant reflects the complexity of patient conditions requiring more intensive monitoring, while the high odds of inpatient care in the PBPU segment indicate an influence of patients' social characteristics on service utilization patterns. Conclusion: Intravenous chemotherapy service among breast cancer patients under JKN in 2024 was dominated by outpatient care, with facility region, metastasis, and membership segment as the three most dominant determinants. These findings underscore the importance of equalizing oncology facilities and personnel outside Java, strengthening outpatient or one-day care chemotherapy capacity, applying standardized clinical criteria for determining service setting, and reviewing the INA-CBG financing scheme to avoid disincentives against outpatient services.
Read More
S-12445
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laela Indawati; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Rokiah Kusumapradja, Indah Kristina
Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi adanya pengembalian klaim rawat inap pasien BPJS dikarenakan 4 faktor, salah satunya terkait konfirmasi koding atau ketidaksesuaian pengkodean terhadap diagnosis atau tindakan yang diberikan rata rata sebesar 30% dari berkas yang dikembalikan. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan studi kasus. Tehnik pengumpulan data berupa observasi, studi literature dan wawancara. Pengembalian klaim pasien rawat inap terkait akurasi koding diantaranya karena kode tidak tepat, kurangnya pemeriksaan penunjang pendukung diagnosis, dan ketidaksesuaian dengan rule MB dan konsensus. Disarankan ada satu pedoman kerja yang mengatur tugas hak wewenang dan tanggung jawab dari masing masing profesi seperti dokter, koder, dan verifikator BPJS. Kata kunci : JKN, BPJS, Akurasi koding, ICD 10, Klaim
Read More
T-4795
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoana Samuela; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Atik Nurwahyuni, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar belakang: Penyakit jantung iskemik merupakan salah satu penyakit dengan beban biaya katastropik secara global. Pada tahun 2022, penyakit jantung iskemik di Indonesia masih menjadi penyumbang terbesar pengeluaran anggaran BPJS Kesehatan dengan jumlah 15,5 juta kasus dan menghambiskan dana sebesar 12 triliun. Tujuan: Melalui hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk membahas analisis Cost of Illness (COI) peserta JKN dari perspektif BPJS Kesehatan Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan pendekatan cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sampel penelitian adalah peserta JKN dengan diagnosis primer penyakit jantung iskemik (I20-I25). Hasil: Pada tahun 2022, rata-rata biaya akibat sakit (cost of illness) adalah sebesar Rp11.963.200,-, melalui hasil ini, biaya peserta kemudian dikategorikan menjadi rendah dan tinggi. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa yang menjadi pemicu tingginya biaya penyakit jantung iskemik peserta JKN Tahun 2022 di antaranya adalah peserta JKN dengan usia 50 – 74 tahun (p-value<0,05), peserta dengan Jenis Kelamin laki-laki (p-value<0,05), wilayah Regional 1 FKRTL (p-value<0,05), Status Perkawinan yaitu status kawin (p-value<0,05), Lama Hari Rawat di atas rata-rata hari rawat (3,8 hari) (p-value<0,05), Diagnosis Primer dari Infark Miokard Akut (p value<0,05), Tingkat Keparahan (Ringan, Sedang, dan Berat) (p-value<0,05), Kepemilikan FKRTL (p-value<0,05), Kelas Perawatan (p-value<0,05), dan adanya Intervensi Koroner Perkutan (p-value<0,05).

Background: Ischemic heart disease is one of the most catastrophic diseases globally. In 2022, ischemic heart disease in Indonesia is still the largest contributor to BPJS Health budget expenditure with 15.5 million cases and 12 trillion in funds. Objective: Through this, this study aims to discuss the Cost of Illness (COI) analysis of JKN participants from the perspective of BPJS Health Methods: This study used an observational study design with a cross-sectional approach with univariate and bivariate analysis. The study sample was JKN participants with a primary diagnosis of ischemic heart disease (I20-I25). Results: In 2022, the average cost of illness was IDR 11,963,200, Through these results, participants' costs were then categorized into low and high. Conclusion: Based on the results of the study, it was found that the triggers of high costs of ischemic heart disease for JKN participants in 2022 included JKN participants aged 50 - 74 years (p-value <0.05), participants with male gender (p-value <0.05), FKRTL Regional 1 region (p value <0.05), marital status, namely married status (p-value <0, 05), Length of Stay above the average length of stay (3.8 days) (p-value<0.05), Primary Diagnosis of Acute Myocardial Infarction (p-value<0.05), Severity Level (Mild, Moderate, and Severe) (p value<0.05), FKRTL Ownership (p-value<0.05), Treatment Class (p-value<0.05), and presence of Percutaneous Coronary Intervention (p-value<0.05).
Read More
S-11680
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asmira Dayanti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan utilisasi Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) Oleh Peserta JKN Di Wilayah Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2015-2019. Sampel yang diperoleh sebesar 64.697. Uji hubungan dianalisis melalui uji Single Logistic Regression dengan menggunakan software program pengolah data. Hasil penelitian didapatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Sumatera Utara rendah yaitu 7,56% dan utilisasi kesehatan rawat jalan tingkat lanjut banyak diakses oleh peserta dengan kelompok lansia (12,75%), berjenis kelamin perempuan (9,01%), status pernikahan cerai (16,98%), hak kelas rawat kelas I (10,94%), dengan segmen kepesertaan PBPU (15,2%), hubungan keluarga sebagai istri (11,35%), jenis FKTP adalah klinik pratama (10,52%), kepemilikan faskes dari swasta (10,14%), berdomisili di wilayah Regional IV (9,62%) dan berdomisili di Kota (10,27%). Seluruh varaibel yang diteliti bermakna secara statistic untuk lebih berkemungkinan melakukan pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat lanjut di Provinsi Sumatera Utara.

This study aims to determine the factors related to the utilization of Advanced Outpatient Care (RJTL) by Jkn Participants in the Province of North Sumatra (BPJS Health Sample Data for 2015-2019). This research is a quantitative study with a cross-sectional design using BPJS sample data. Health Year 2015-2019. The sample obtained was 64.697. Relationship test was analyzed using data processing program. The results showed that the utilization of outpatient health services in North Sumatra was low at 7.56% and the utilization of advanced outpatient health services was mostly accessed by participants with elderly age (12,75%), female (9,01%), divorce marital status (16,98%), class I care rights (10,94%), with the PBPU membership segment (15,2%), family relations as wife (11,35%), the type of FKTP is klinik pratama (10,52 %), ownership of health facilities from the private (10,14%), domiciled in Regional IV(9,62%) and domiciled in the district (10,27%). All the variables studied were statistically significant to be more likely to perform advanced outpatient health services in North Sumatra Province
Read More
S-11184
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raina Nismara; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Puput Oktamianti, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Peningkatan prevalensi dan beban biaya diabetes melitus tipe 2 mendorong BPJS Kesehatan menjalankan program Prolanis dan Program Rujuk Balik (PRB) sebagai upaya pengelolaan penyakit kronis. Meski cakupan JKN hampir universal, pemanfaatan layanan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) pada pasien DM tipe 2 dewasa masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran dan menganalisis faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan RJTL pada pasien DM tipe 2 dewasa peserta JKN di Indonesia tahun 2022–2024. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan data sekunder Sampel BPJS Kesehatan Kontekstual Diabetes Melitus tahun 2022–2024. Hasil menunjukkan terdapat 21.407 pasien yang memanfaatkan FKRTL dengan proporsi 94,2% pada layanan rawat jalan dan 5,8% pada non-rawat jalan. Faktor predisposisi (jenis kelamin), faktor pendukung (wilayah tempat tinggal, kepemilikan FKRTL, wilayah regional FKRTL, segmentasi kepesertaan, kelas rawat), serta faktor kebutuhan (komorbiditas) berhubungan signifikan dengan pemanfaatan RJTL. Temuan ini dapat dipertimbangkan sebagai dasar program pembangunan kesehatan maupun kebijakan kesehatan.

The increasing prevalence and economic burden of type 2 diabetes mellitus have encouraged BPJS Kesehatan to implement the Prolanis and Referral Back Program (PRB) as part of chronic disease management efforts. Although JKN coverage is nearly universal, the utilization of Advanced Outpatient Care (RJTL) among adult patients with type 2 diabetes mellitus still faces various challenges. This study aimed to describe and analyze factors associated with the utilization of RJTL services among adult type 2 diabetes mellitus patients enrolled in JKN in Indonesia from 2022 to 2024. This study used a quantitative cross-sectional design with secondary data obtained from the BPJS Kesehatan Contextual Diabetes Mellitus Sample Data for 2022–2024. The results showed that 21.407 patients utilized secondary healthcare facilities, with 94,2% using outpatient services and 5,8% using non-outpatient services. Predisposing factors (sex), enabling factors (place of residence, ownership of secondary healthcare facilities, regional location of secondary healthcare facilities, membership segmentation, and ward class entitlement), and need factors (comorbidities) were significantly associated with RJTL utilization. These findings may serve as a basis for health development programs and health policy.
Read More
S-12310
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Ayunina; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar belakang: Dari tahun 1990 hingga 2019, beban penyakit kardiovaskular di Indonesia meningkat sebesar 120% dan menjadi beban katastropik utama bagi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini memerlukan intervensi yang tepat sasaran, salah satunya disesuaikan dengan wilayah tempat tinggal peserta. Meskipun penelitian terdahulu menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara beban penyakit kardiovaskular di urban dan rural, belum ada penelitian yang membuktikan hipotesis tersebut berdasarkan data klaim JKN. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan prevalensi penyakit kardiovaskular di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) antara wilayah tempat tinggal urban dan rural pada peserta JKN usia ≥15 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan 2025 dengan desain studi cross-sectional. Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebesar 1.882.860 peserta. Penyakit kardiovaskular didefinisikan melalui data diagnosis primer dan sekunder kunjungan FKRTL kode I00-I99 ICD-10. Analisis data menggunakan uji chi-square, dengan Prevalence Ratio (PR) sebagai ukuran asosiasi. Hasil: Prevalensi penyakit kardiovaskular di FKRTL pada wilayah tempat tinggal urban (3,54%) lebih tinggi daripada rural (2,09%) (p<0,05) dan melampaui prevalensi nasional (2,42%), dengan Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,689 (95% CI: 1,686-1,692). Berdasarkan analisis stratifikasi, perbedaan prevalensi yang signifikan ditemukan secara konsisten pada seluruh strata dengan kesenjangan terbesar ditemukan pada kelompok remaja (PR=2,07) dan lansia (PR=2,01) dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, serta peserta PBI (PR=1,90) dibandingkan dengan peserta non-PBI (PR=1,27). Kesimpulan: Temuan ini  menunjukkan adanya kesenjangan prevalensi penyakit kardiovaskular berdasarkan wilayah tempat tinggal pada peserta JKN. Prevalensi pada wilayah urban secara konsisten lebih tinggi daripada rural pada seluruh strata yang dianalisis. Namun, temuan ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena data berbasis klaim JKN berpotensi menghasilkan underestimasi kasus di wilayah rural akibat keterbatasan akses fasilitas rujukan.

Background: From 1990 to 2019, the burden of cardiovascular disease in Indonesia increased by 120% and became the primary catastrophic burden for the National Health Insurance (JKN). This requires targeted interventions, one of which is tailored to the participants’ residential areas. Although previous studies have shown significant differences in the burden of cardiovascular disease between urban and rural areas, no study has yet confirmed this hypothesis using JKN claims data. This study was conducted to compare the prevalence of cardiovascular disease at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL) between urban and rural residential areas among JKN participants aged ≥15 years. Methods: This study utilized the 2025 BPJS Health Sample Data with a cross-sectional study design. The sample size for this study was 1,882,860 participants. Cardiovascular diseases were defined using primary and secondary diagnosis data from FKRTL visits with ICD-10 codes I00–I99. Data analysis employed the chi-square test, with the Prevalence Ratio (PR) as the measure of association. Results: The prevalence of cardiovascular disease among FKRTL in urban areas (3.54%) was higher than in rural areas (2.09%) (p<0.05) and exceeds the national prevalence (2.42%), with a Prevalence Ratio (PR) of 1.689 (95% CI: 1.686–1.692). Based on stratification analysis, significant differences in prevalence were consistently found across all strata, with the largest gaps observed in the adolescent group (PR=2.07) and the elderly group (PR=2.01) compared to other age groups, as well as among PBI participants (PR=1.90) compared to non-PBI participants (PR=1.27). Conclusion: These findings indicate a disparity in the prevalence of cardiovascular disease based on residential area among JKN participants. Prevalence in urban areas was consistently higher than in rural areas across all analyzed strata. However, these findings should be interpreted with caution because JKN claims-based data may underestimate cases in rural areas due to limited access to referral facilities.
Read More
S-12315
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive