Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Andang Charisma Perdana; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Popy Yuniar, Bai Kusnadi
Abstrak: Manajemen dan analisis data yang baik dan sistematis dalam pengelolaan program kewaspadaan dini dan respon diharapkan mengahasilkan data dan informasi yang akurat dan tepat waktu sebagai dasar pengambilan keputusan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengunakan metode Incremental and Iterative Model yang meliputi tahapan pengumpulan kebutuhan, desain sistem, penulisan kode program, pengetesan program, pengecekan program. Penelitian ini menghasilkan aplikasi sistem kewaspadaan dini dan respon berbasis web di Dinas Kesehatan Kota Bogor. Aplikasi sistem kewaspadaan dini dan respon berbasis web di Dinas Kesehatan Kota Bogor dapat membantu dalam melakukan input data, pengolahan data, penyajian data dan disitribusi data sehingga diharapkan kedepanya mampu meningkatkan kelengkapan dan ketepatan waktu pelaporan.

Management and analysis of good data and systematic in the management of early warning and response program is expected to result in a data and information that is accurate and timely as the basis for decision making. This study is a qualitative research method, Incremental and Iterative Model which includes the stages of gather requirements, design, code, test it, examine. The result of this research is web-based early warning system and response application in Bogor City Health Agency. Web-based early warning system and response application in Bogor City Health Agency can assist in doing data input, data processing, data presentation that the expected in the future able to improve the completeness and timeliness of data reporting. 
Read More
S-8550
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iska Beritania Sinulingga; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Bai Kusnadi
Abstrak:
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus RNA yang menyerang sel limfosit manusia sehingga pada saat virus ini menyerang tubuh manusia, maka manusia tersebut akan kehilangan sistem kekebalan tubuhnya dan mudah terserang penyakit. Di Indonesia, proprorsi HIV Positif pada komunitas lelaki seks lelaki sebesar 27,5%. Di Kota Bogor komunitas Lelaki Seks Lelaki (LSL), mengalami peningkatan kasus terjadinya HIV. Pada Tahun 2022 tercatat 130 orang LSL yang dinyatakan positif HIV, dari 408 orang yang ter diagnose HIV. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui determinan yang berhubungan dengan kejadian HIV pada komunitas LSL di Kota Bogor. Pada penelitian ini menggunakan studi Cross Sectional dan melakukan analisis dengan metode Cox Regression. Memanfaatkan data primer di Kota Bogor, yaitu dengan cara melakukan wawancara pada komunitas LSL. Hasil Penelitian didapatkan proporsi HIV positif pada komunitas ini 46,62%, hasil analisis multivariat didapatkan ada 4 variabel yang berhubungan dengan terjadinya HIV pada komunitas LSL di Kota Bogor yaitu Umur (β 0,370; P-Value 0,017; PR 1,448 (95% CI 1,066-1,961)); Pengetahuan ( β -0,868; P-Value 0,005; PR 0,420 (95% CI 0,229-0,771)); Kekerasan seksual yang datangnya dari anggota keluarga (β - 0,443 ; P-Value 0,041; PR 1,558 (95% CI 1,018-2,385)); Role saat berhubungan seksual (β – 0,314 ; P-Value 0,007; PR 0,730 (95% CI 0,580-0,919). Dan determinan dominan terjadinya HIV pada komunitas lelaki seks lelaki di Kota Bogor adalah kekerasan seksual yang datangnya dari anggota keluarga. Kata kunci : HIV, Lelaki Seks Lelaki, Kota Bogor, Jawa Barat



HIV or Human Immunodeficiency Virus is an RNA virus that attacks human lymphocyte cells so that when this virus attacks the human body, the human will lose their immune system and be susceptible to disease. In Indonesia, the proportion of HIV positive in the male sex community is 27.5%. In Bogor City, the Men's Sex Society (MSM) has experienced an increase in cases of HIV. In 2022, 130 MSM were recorded as HIV positive, out of 408 people diagnosed with HIV. The purpose of this study was to determine the determinants associated with the incidence of HIV in the MSM community in Bogor City. In this study using a cross sectional study and analyzing the Cox Regression method. Utilizing primary data in the city of Bogor, namely by conducting interviews with the MSM community. The results showed that the proportion of HIV positive in this community was 46.62%, the results of the multivariate analysis found that there were 4 variables related to the occurrence of HIV in the MSM community in Bogor City, namely Age (β 0.370; P-Value 0.017; PR 1.448 (95% CI 1.066) -1.961)); Knowledge (β -0.868; P-Value 0.005; PR 0.420 (95% CI 0.229-0.771)); Sexual violence that comes from family members (β - 0.443 ; P-Value 0.041; PR 1.558 (95% CI 1.018-2.385)); Role during intercourse (β – 0.314 ; P-Value 0.007; PR 0.730 (95% CI 0.580-0.919)) And the dominant determinant of HIV occurrence in the male sex community in Bogor City is sexual violence originating from family members. Keywords: HIV, Male Who Have Sex With Male, Bogor City, West java Province
Read More
T-6773
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutmainnah; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Hermawati, Bai Kusnadi
Abstrak:
Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.

Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.
Read More
S-12268
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wardiman; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Bai Kusnadi
Abstrak:
Latar belakang: Pencapaian supresi viral load merupakan indikator keberhasilan terapi antiretroviral (ARV) sekaligus pilar ketiga target fast track 95-95-95. Kota Bogor mencatat capaian supresi viral load sebesar 67% pada tahun 2024, jauh di bawah target 95%. Belum diketahui secara komprehensif faktor-faktor yang memprediksi tidak tercapainya supresi tersebut, baik dari aspek kuantitatif maupun kualitatif. Metode: Penelitian menggunakan rancangan mixed methods dengan explanatory sequential design. Komponen kuantitatif menggunakan studi potong lintang (cross-sectional) terhadap 724 Orang Dengan HIV (ODHIV) dewasa (≥15 tahun) yang tercatat di SIHA 2.1 Dinas Kesehatan Kota Bogor tahun 2025 dan memiliki data viral load lengkap. Analisis dilakukan secara bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik. Komponen kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari pemegang program HIV Dinas Kesehatan, LSM pendamping, dan ODHIV. Hasil: Proporsi supresi viral load sebesar 79%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan konsumsi ARV merupakan prediktor kejadian viral load tidak tersupresi (aOR 90,11; 95% CI: 37,93–214,09), stadium klinis lanjut 3–4 (aOR 7,94; 95% CI: 3,24–19,48), regimen ARV lini 2 (aOR 2,91; 95% CI: 1,18–7,19), dan usia 25–34 tahun (aOR 4,51; 95% CI: 1,41–14,44). Kelompok LSL menunjukkan odds viral load tidak tersupresi yang lebih rendah dibandingkan bukan populasi kunci (aOR 0,18; 95% CI: 0,03–0,96), yang kemungkinan mencerminkan peran keterjangkauan layanan dan pendampingan komunitas pada kelompok yang teridentifikasi dalam sistem layanan. Temuan kualitatif mengidentifikasi stigma diri, kejenuhan terapi, beban efek samping lini 2, keterlambatan diagnosis, serta keterbatasan pendampingan sebagai faktor penghambat supresi. Kesimpulan: Pencapaian supresi viral load pada ODHIV di Kota Bogor dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, klinis, perilaku, dan kesiapan sistem layanan. Temuan ini menekankan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada konseling kepatuhan, tetapi juga memperkuat deteksi dini, pendampingan berbasis komunitas, tindak lanjut pasien dengan viral load tidak tersupresi, serta kesinambungan logistik ARV dan pemeriksaan viral load.

Background: Achieving viral load suppression is a key indicator of antiretroviral (ARV) therapy success and the third pillar of the 95-95-95 fast-track targets. Bogor City recorded a viral load suppression rate of only 67% in 2024, well below the 95% target. The factors predicting failure to achieve suppression have not been comprehensively identified, either quantitatively or qualitatively. Methods: This study employed a mixed-methods design with an explanatory sequential approach. The quantitative component used a cross-sectional study of 724 adult people living with HIV (PLHIV; ≥15 years) registered in SIHA 2.1 of the Bogor City Health Office in 2025 with complete viral load data. Bivariate and multivariate analyses were conducted using logistic regression. The qualitative component involved in-depth interviews with six informants comprising HIV program officers from the Health Office, supporting NGOs, and PLHIV. Results: The proportion of viral load suppression was 79%. Multivariate analysis identified ARV non-adherence as the strongest predictor of unsuppressed viral load (aOR 90.11; 95% CI: 37.93–214.09), followed by advanced clinical stage 3–4 (aOR 7.94; 95% CI: 3.24–19.48), second-line ARV regimen (aOR 2.91; 95% CI: 1.18–7.19), and age 25–34 years (aOR 4.51; 95% CI: 1.41–14.44). MSM had lower odds of unsuppressed viral load than non-key populations (aOR 0.18; 95% CI: 0.03–0.96), which may reflect better service reach and community support among MSM identified within the service system. Qualitative findings identified self-stigma, therapy fatigue, second-line side-effect burden, delayed diagnosis, and limited peer support as barriers to suppression. Conclusion: Viral load suppression among PLHIV in Bogor City is shaped by the interaction of individual, clinical, behavioral, and health-system factors. These findings highlight the need for interventions that go beyond adherence counseling by strengthening early detection, community-based support, follow-up for patients with unsuppressed viral load, and continuity of ARV and viral load testing logistics.
Read More
T-7509
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kuuni Ulfah Naila El Muna; Pembimbing: Helda; Penguji: Krisnawati Bantas, Bai Kusnadi, Zakiah
Abstrak: NewEmerging Disease COVID-19 di akhir tahun 2019 menyebabkan KLB hingga pandemi di seluruh belahan dunia secara cepat.Secara global berdasarkan data 8 April 2020, total sebanyak 22.073 petugas kesehatanterinfeksi COVID-19 di 52 Negara. Kota Depok merupakan Kota pelapor kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020. Masih terbatasnya publikasi terkait petugas kesehatan berisiko terkena COVID-19 dan hanya meneliti pada kelompok nakes saja menjadi dasar peneliti untuk mengetahui hubungan status sebagai petugas kesehatan terhadap kejadian kasus konfirmasi COVID-19 di Kota Depok. Studi crossectional dilakukan menggunakan data sekunder hasil wawancara Form Penyelidikan Epidemiologi berdasarkan Pedoman Kementerian Kesehatan RI. Studi ini menggunakan data Maret- Juni 2020, yang melibatkan 925 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status sebagai petugas kesehatan tidak bisa berdiri sendiri dalam hubungannya dengan kejadian kasus konfirmasi COVID-19. Diketahui bahwa kombinasi antara riwayat kontak suspek COVID-19 dan mengunjungi fasilitas kesehatan diantara responden yang berstatus petugas kesehatan, meningkatkan risiko sebesar 2,13 kali (95% CI 1,33-3,41) untuk menjadi kasus konfirmasi COVID-19. Selain itu juga secara signifikan berhubungan dengan kasus konfirmasi COVID-19 di Kota Depok (p=0,002)
In the last 2019, COVID-19 as New Emerging Disease causing a pandemic rapidly.The numbers of health care workers infected COVID-19 worldwide until 8 th April 2020 in 52 countries were 22.073. 2 nd March 2020, Depok city report the first case confirmed COVID-19 also the first case in Indonesia. Limited research about risk of healthcare worker infected COVID-19 and some of the research only examine in healthcare worker group became this research base to assess the association of healthcare worker and confirmed case in Depok City. A crossectional study has been done using secondary data obtained from Epidemiological Investigation Form from MOH Guidelines in Health District Office in Depok. This study using data obtained inMarch- June 2020 involving 925 respondents.The results show that status of healthcare worker cannot stand alone in the association with confirmed case COVID-19. Noted combinationbetween history of contact with suspect COVID-19 and visiting health care facility among respondentas health care worker elevated risk 2,13 times become confirmation cases of COVID-19 (95% CI 1,33-3,41) also significantly related to confirmation case of COVID-19 in Depok City (p= 0,002)
Read More
T-6118
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Defi Amalia Setia Ningrum; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Ratna Djuwita; Penguji: Yovsyah; Bai Kusnadi, Yemima Ester
Abstrak: Meningkatnya prevalensi kegemukan pada anak dan rendahnya proporsi pemberian ASI eksklusif di Indonesia merupakan dasar dilakukan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens kegemukan pada anak dan hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian kegemukan pada anak
Read More
T-5670
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Agus Ainur Rosyid; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Suyud Warno Utomo, Bai Kusnadi
Abstrak: Diare merupakan penyakit berbasis lingkungan dan masih berpotensi untuk menjadi KLB di Kota Bogor. kejadian yang tergolong paling parah terjadi di Bogor tepatnya di Kecamatan Bogor Timur, menunjukkan bahwa peningkatan kasus dari 1617 di tahun 2011 menjadi 3272 pada tahun 2012, data tersebut merupakan kejadian yang serius karena peningkatan tersebut sangat signifikan yaitu 100% peningkatan kasus.
 
Penilitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan menganalisis kejadian daire yang terjadi di Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Disain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol, kasus merupakan balita yang didiagnosa positif menderita diare serta tercatat dalam registrasi puskesmas dari 1 januari hingga 30 april 2014. Kontrol adalah balita yang tidak menderita diare, dan merupakan tetangga kasus. Jumlah sampel kasus 46 responden dan kontrol 46 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung meggunakan kuesioner. Kuesioner berisikan faktor risiko (sosiodemografi, faktor perilaku, dan sarana sanitasi lingkungan). Analisa data dilakukan hingga model multivariate.
 
Kesimpulan dari penelitian adalah diketahui faktor risiko kejadian diare pada balita di Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor adalah pengetahuan (p=0,017) dan nilai Odds Ratio 3,245 pada Convident Interval (1,364-15,258). Serta Perilaku cuci tangan responden juga memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai p = 0,014 dengan nilai Odds Ratio 4,562 dengan Convident Interval (1,364-15,258).
 

 
Diarrhea is an environmentally based disease and still has the potential to be an extraordinary event in the city of Bogor. Belonging to the most severe events occurred in the city of Bogor precisely in District East Bogor, suggesting that the increase in cases form 1617 in 2011 to 3272 in 2012, the data is a serious incident because the increase is very significant, which is 100% increase in cases.
 
The research aims to provide an overview and analysis of cases that occurred in the District Daire East Bogor,bogor. The design of the study is a case-control, case was diagnosed as a toddler with diarrhea positive and health cebters listed in the registration of 1 january to 30 April 2014. Controls is a toddler who is not suffering from diarrhea, and is a neighbor of cases. The number of sample cases 46 respondents and controls 46 respondents. Data collected by direst interview questionnaire receipst. The questionnaire contains risk factors (sociodemographic, behavioral factors, and environmental sanitation). Data analysis to multivariate models.
 
The conclusions of the study are known risk factors foar the incidence of diarrhea in infants in the eastern District of Bogor, Bogor is knowledge (p=0.017) and the odds ratio value of 3.245 at the confidence interval (1.364 to 15.258). the behavior of the respondents as behavior hand washing also has a significant relationship with (p=0.014) with a value Odds Ratio 4.562 with confidence interval (1.364 to 15.258).
Read More
S-8294
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afandi Setia Apriliyan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Bai Kusnadi, Sherli Karolina
Abstrak:
Latar Belakang: Pada 2023, Kota Bogor mencatat 360 kasus positif naik 9 kali lipat dibanding tahun sebelumnya dengan incidence rate tertinggi kedua di Jawa Barat dimana penyebaran hampir merata di seluruh kelurahan. Penelitian ini diperlukan untuk menganalisis pola spasial dan faktor risiko campak pada balita di Kota Bogor sebagai dasar ilmiah untuk intervensi yang lebih efektif. Metode: Penelitian ini merupakan studi ekologis dengan analisis spasial dengan unit analisis adalah kelurahan. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif, eksploratori, inferensial, dan prediktif dengan model regresi spasial untuk mengidentifikasi faktor risiko campak pada balita. Hasil: Analisis spasial kasus positif campak balita menunjukkan bahwa proporsi usia kasus, PHBS rumah tangga sehat, dan cakupan vitamin A memiliki pola spasial mengelompok signifikan (p < 0,05) berdasarkan Moran’s Index. Hasil LISA mengidentifikasi beberapa kelurahan dalam kuadran high-high, seperti Cikaret dan Mulyaharja. Hasil uji SAR menunjukkan terdapat efek spasial signifikan (ρ = 0,142; p = 0,05). Secara parsial, proporsi usia kasus dan angka pendidikan SD–SMP berpengaruh signifikan (p < 0,001), sementara cakupan vitamin A menunjukkan efek protektif secara marginal signifikan (p = 0,05). Model ini menunjukkan bahwa distribusi campak dipengaruhi oleh faktor biologis, pendidikan, dan spasial wilayah. Kesimpulan: Kasus campak balita menunjukkan pola spasial mengelompok signifikan dengan faktor usia, pendidikan, dan cakupan vitamin A sebagai determinan utama. Diperlukan penguatan analisis spasial secara rutin dan pemantauan wilayah yang terindikasi hotspot.

In 2023, Bogor City recorded 360 positive measles cases, a ninefold increase compared to the previous year, with the second highest incidence rate in West Java and nearly uniform distribution across all sub-districts. This study aims to analyze the spatial patterns and risk factors of measles among children under five in Bogor City as a scientific basis for more effective interventions. Methods: This ecological study used spatial analysis with sub-districts as the unit of analysis. Data were analyzed using descriptive, exploratory, inferential, and predictive approaches, including spatial regression models to identify measles risk factors in children under five. Results: Spatial analysis of positive measles cases showed that the proportion of cases by age, healthy household behavior (PHBS), and vitamin A coverage exhibited significant spatial clustering (p < 0.05) based on Moran’s Index. LISA results identified several sub-districts in the high-high quadrant, such as Cikaret and Mulyaharja. SAR tests indicated a significant spatial effect (ρ = 0.142; p = 0.05). Partially, the proportion of cases by age and primary to junior high school education level had significant effects (p < 0.001), while vitamin A coverage showed a marginally significant protective effect (p = 0.05). This model suggests that measles distribution is influenced by biological, educational, and spatial factors. Conclusion: Measles cases in children under five exhibit significant spatial clustering, with age, education, and vitamin A coverage as key determinants. Routine spatial analysis and monitoring of identified hotspot areas are recommended.
Read More
T-7246
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlya Niken Pradipta; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Irene, Bai Kusnadi
Abstrak:
Penyakit Influenza adalah salah satu penyakit ISPA yang mendapat perhatian karena dapat menimbulkan wabah. Di Indonesia positivity rate influenza mencapai 40,3%, dimana virus yang teridentifikasi adalah virus A (subtype H1N1Pdm09 dan AH3) dan virus B (subtype Victoria). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Influenza A dan B di DKI Jakarta tahun 2021-2022. Studi cross sectional dan analisis cox regression yang mengestimasi nilai Prevalence Ratio (PR) dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder surveilans Influenza Like Illness di DKI Jakarta tahun 2021-2022. Hasil penelitian didapatkan prevalensi Influenza positif sebesar 27,8%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan influenza A dan B adalah usia 5 – 64 tahun memiliki PR 0,51 kali (p-value=0,006; 95% CI=0,31 – 0,82), kontak orang sakit memiliki PR 2,27 kali (p-value=<0,001; 95% CI=1,45 – 3,56), dan musim hujan memiliki PR 3,26 kali (p-value=<0,001; 95% CI=1,68 – 6,33) mengalami influenza A dan B. Musim hujan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi Kejadian influenza A dan B di DKI Jakarta Tahun 2021-2022.

Influenza is one of the ARI diseases that receives attention because it can cause outbreaks. In Indonesia, influenza positivity rate reached 40.3%, where the identified viruses are virus A (subtype H1N1Pdm09 and AH3) and virus B (subtype Victoria). The purpose of this study is to determine the factors that influence the incidence of Influenza A and B in DKI Jakarta in 2021-2022. Cross sectional study and cox regression analysis estimating the Prevalence Ratio (PR) value were conducted by utilizing secondary data of Influenza Like Illness surveillance in DKI Jakarta in 2021-2022. The results showed that the prevalence of positive Influenza was 27.8%. The results of multivariate analysis showed that the risk factors associated with influenza A and B were age>5-64 years had a PR of 0.51 times (p-value = 0.006; 95% CI = 0.31 - 0.82), contact with sick people had a PR of 2.27 times (p-value = <0.001; 95% CI = 1.45 - 3.56), and the rainy season had a PR of 3.26 times (p-value = <0.001; 95% CI = 1.68 - 6.33) of influenza A and B infection. The rainy season is the dominant factor influencing the incidence of influenza A and B in DKI Jakarta in 2021-2022.

Read More
T-6592
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Yasin; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Bai Kusnadi
S-7453
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive