Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nabila Anindya Uka Wardani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Deasy Martini
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan program pemberian tablet tambah darah pada remaja putri di Kota Depok selama belajar dari rumah. Desain studi yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam terhadap pelaksana gizi puskesmas, kader posyandu, pembina UKS sekolah, remaja putri, dan orang tua dengan metode purposive sampling. Penelitian menunjukkan bahwa skema distribusi tablet tambah darah dilakukan melalui sekolah dan melalui kader. Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara daring melalui WhatsApp. Pihak yang diberdayakan antara lain remaja putri, orang tua, kader, dan pihak sekolah. Remaja putri mendapatkan dukungan sosial dari orang tua dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Perlu adanya penyeragaman skema distribusi dan penguatan pemberdayaan kepada orang tua dan remaja putri.
Read More
S-10793
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Risti Anjar Wati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Deasy Martini
S-10366
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
XUmi Yumiati; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Tris Eryando, Deasy Martini
Abstrak:
Penelitian ini mendalami tentang pelaksanaan surveilans gizi dalam memenuhi berbagai kebutuhan informasi gizi terutama 18 indikator gizi, baik untuk penggunaan informasi di dalam Puskesmas maupun di tingkat Kota Cimahi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan agar kegiatan surveilans dapat berjalan dengan baik di Puskesmas Melong Asih, pemegang program gizi hanya memegang program gizi tidak ditambah tugas lain yang lebih menyita waktu; melakukan pengkaderan dengan melibatkan karang taruna dan dibuatkannya SK oleh Lurah agar tidak ada pergantian kader setiap ada pemilihan RW baru; melakukan sosialisasi dan pelatihan kader; membuat buku petunjuk teknik/ petunjuk pelaksanaan pelaksanaan surveilans gizi; membuat standar prosedur operasional (SPO) surveilans gizi, melakukan pembinaan secara kerkesinambungan dan terjadwal terhadap posyandu, serta adanya pemantauan terhadap TPG oleh seksi Kesga dan Gizi dengan melakukan penilaian kinerja petugas gizi Puskesmas; adanya pelatihan mengenai surveilans gizi bagi petugas gizi puskesmas; agar diseminasi hasil kegiatan gizi dilakukan lebih terjadwal dan rutin, serta mengoptimalkan kegiatan surveilans gizi sehingga menghasilkan informasi yang tepat sebagai dasar perencanaan dan tindaklanjut dari hasil surveilans gizi; meningkatkan koordinasi, kerjasama, dan dukungan antar posyandu dan lintas program serta agar umpan balik yang diharapkan tercapai. Kata kunci: Surveilans, surveilans gizi, puskesmas, dinas kesehatan The research to obtain a deeper understanding the implementation of nutritional surveillance in fulfilling various nutritional information needs, especially 18 nutrition indicators, both for the use of information in health centers or at the Cimahi level. This research is qualitative research with descriptive design and system approach. The results suggest that surveillance activities running work well in Melong Asih Health Center, nutritional program holders only hold nutritional programs not increase other tasks that are more time-consuming; Conducting cadre involving youth groups and making SK by the Lurah so that there will be no change of cadres every new RW election; Socialize and train the cadres; To make technical manual / guidance on implementation of nutrition surveillance; Standardize operational procedures (SOP) for nutrition surveillance, conduct continuous and scheduled guidance on posyandu, as well as monitoring of TPG by the Kesga and Nutrition sections by conducting an assessment of the performance of Puskesmas nutrition officers; Training on nutrition surveillance for nutrition officers of puskesmas; In order to disseminate the results of nutrition activities performed more scheduled and routine, and optimize nutrition surveillance activities so as to produce appropriate information as the basis of planning and follow-up of the results of nutrition surveillance; Improve coordination, cooperation, and support among posyandu and cross programs so that the expected feedback is achieved. Keywords: Surveillance, Nutrition surveillance, health center, health distric
Read More
S-9374
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Naila Afifah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Deasy Martini
Abstrak:
Read More
Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan suplemen gizi dengan kandungan zat besi setara 60 mg besi elemental dan 400 μg asam folat yang diberikan kepada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS) yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sehingga dapat menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri (Simatupang dan Widiyarti, 2024). Namun, penerimaan atau tingkat kepatuhan konsumsi TTD masih menjadi isu yang kritis untuk diperhatikan. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan di Universitas Jember dengan mayoritas mahasiswi berusia 23 tahun menunjukkan bahwa sebanyak 64,8% mahasiswi dari jurusan kesehatan dan 91,5% mahasiswi dari jurusan non kesehatan tidak teratur dalam mengonsumsi TTD (Dzati et al., 2024). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku dan hubungan status tinggal, sikap, pendidikan ibu, efek samping TTD, aksesibilitas TTD, media, dukungan keluarga, dukungan teman, dan dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan sarjana reguler di Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode pengambilan sampel purposive sampling yang melibatkan 182 responden mahasiswi kesehatan dan non kesehatan sarjana reguler Universitas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Sarjana Reguler Universitas Indonesia Tahun 2026, yaitu 86,8% pada mahasiswi kesehatan dan 82,4% pada mahasiswi non kesehatan. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan terdapat hubungan yang signifikan antara efek samping TTD, aksesibilitas TTD, dan dukungan keluarga dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi non kesehatan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status tinggal, sikap, pendidikan ibu, media, dan dukungan teman dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan. Dibutuhkan peningkatan kesadaran mahasiswi mengenai pentingnya konsumsi TTD sebagai upaya preventif anemia dan keterlibatan berbagai pihak dalam menyebarluaskan informasi mengenai TTD serta pendampingan terkait program konsumsi TTD pada mahasiswi di lingkungan kampus.
Iron-Folic Acid Tablets (IFAT) are nutritional supplements containing 60 mg of elemental iron and 400 μg of folic acid, distributed to adolescent girls and Women of Reproductive Age (WRA) with the aim of improving adherence to IFAT intake among adolescent girls, thus reducing the prevalence of anemia in this population (Simatupang dan Widiyarti, 2024). However, the acceptance or compliance rate for IFAT consumption remains a crucial issue that requires attention. A research of health and non-health majors at the University of Jember, with the majority of participants aged 23, showed that 64,8% of students in health-related majors and 91,5% of students in non-health-related majors did not consume IFAT consistently (Dzati et al., 2024). The purpose of this study is to analyze IFAT consumption behavior as well as the relationship between residential status, attitudes, mother's education, IFAT side effects, IFAT accessibility, media, family support, peer support, and healthcare provider support and IFAT consumption behavior among female undergraduate students in health and non-health majors at the University of Indonesia in 2026. This study used a cross-sectional design with purposive sampling, involving 182 respondents from female undergraduate students in health and non-health majors at the University of Indonesia. According to the study's findings, there is a difference in IFAT consumption behavior among female undergraduate students at the University of Indonesia in 2026, with 86,8% of health majors and 82,4% of non-health majors. There is a significant association between healthcare provider support and IFAT consumption behavior among female health students as well as between IFAT side effects, IFAT accessibility, and family support and IFAT consumption behavior among female non-health students. There is no significant association between residential status, attitudes, mother’s education, media, and peer support and IFAT consumption behavior among female health and non-health students. There is a need to increase awareness among female students about the necessity of consuming IFAT as a preventive step against anemia, as well as to involve various stakeholders in spreading information about IFAT along with providing guidance on IFAT consumption programs for female students on campus.
S-12457
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yusi Fitriyanti; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Deasy Martini
S-9456
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Issfi Rahayu Faradila; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Deasy Martini
Abstrak:
Read More
Keragaman konsumsi pangan merupakan salah satu indikator kualitas pola makan yang berkaitan dengan kecukupan zat gizi mikro. Mahasiswi termasuk kelompok yang rentan mengalami pola konsumsi pangan yang kurang beragam akibat perubahan gaya hidup, peningkatan kemandirian, serta berbagai faktor sosial, lingkungan, dan individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keragaman konsumsi pangan minimal serta faktor-faktor yang berhubungan pada mahasiswi S1 kesehatan dan non-kesehatan di Universitas Indonesia Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 264 mahasiswi yang terdiri atas 125 mahasiswi kesehatan dan 139 mahasiswi non-kesehatan. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan pengukuran keragaman konsumsi pangan menggunakan Minimum Dietary Diversity for Women (MDD-W) berbasis food list-based method 24 hour. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi mahasiswi dengan keragaman konsumsi pangan minimal beragam pada kelompok non-kesehatan (87,1%) lebih tinggi dibandingkan kelompok kesehatan (82,4%), namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Pada kelompok kesehatan, terdapat hubungan yang signifikan antara besar uang saku (p=0,028) dengan keragaman konsumsi pangan minimal. Sementara itu, pada kelompok non-kesehatan terdapat hubungan yang signifikan antara peran teman sebaya (p=0,021) dan akses terhadap makanan (p=0,016) dengan keragaman konsumsi pangan minimal. Variabel peran keluarga/orang tua, pengaruh penggunaan media sosial, tempat tinggal, ketersediaan makanan, tingkat pengetahuan gizi, dan tingkat stres tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada kedua kelompok, sedangkan besar uang saku tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada kelompok non-kesehatan (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan proporsi keragaman konsumsi pangan minimal antara mahasiswi kesehatan dan non-kesehatan di Universitas Indonesia. Faktor yang berhubungan dengan keragaman konsumsi pangan minimal pada mahasiswi kesehatan adalah besar uang saku, sedangkan pada mahasiswi non-kesehatan adalah peran teman sebaya dan akses terhadap makanan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan akses terhadap pangan yang beragam dan terjangkau, penguatan peran teman sebaya dalam promosi konsumsi pangan yang beragam di lingkungan perguruan tinggi.
Dietary diversity is one indicator of dietary quality related to micronutrient adequacy. Female college students are a group at risk of having less diverse dietary patterns due to lifestyle changes, increased independence, and various social, environmental, and individual factors. This study aims to determine differences in minimum dietary diversity and associated factors among undergraduate female students majoring in health and non-health fields at the University of Indonesia in 2026. This study employed a cross-sectional design involving 264 female students, comprising 125 health majors and 139 non-health majors. Data were collected via an online questionnaire, and dietary diversity was measured using the Minimum Dietary Diversity for Women (MDD-W) based on the 24-hour food list method. Data analysis was performed using the chi-square test and Fisher’s exact test. The results of the study show that the proportion of female students with at least a moderate level of dietary diversity in the non-health group (87.1%) was higher than in the health group (82.4%), but there was no significant difference between the two groups. In the health group, there was a significant association between the amount of allowance (p=0.028) and minimal dietary diversity. Meanwhile, in the non-health group, there were significant associations between the role of peers (p=0.021) and access to food (p=0.016) and minimal dietary diversity. The variables of family/parental role, the influence of social media use, place of residence, food availability, level of nutritional knowledge, and stress level did not show a significant association in either group, whereas the amount of pocket money did not show a significant association in the non-health group (p > 0.05). It can be concluded that there is no difference in the proportion of minimum dietary diversity between health and non-health female students at the University of Indonesia. The factor associated with minimum dietary diversity among health female students is the amount of pocket money, whereas among non-health female students, it is the role of peers and access to food. Therefore, efforts are needed to improve access to diverse and affordable food and to strengthen the role of peers in promoting diverse food consumption on college campuses.
S-12416
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Catur Mei Astuti; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Deasy Martini
S-7807
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
