Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Cindy Zivani; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Ernisfi
Abstrak: Kedisiplinan seorang karyawan dalam suatu organisasi dapat dilihat dan diukur dari tingkat kehadiran mereka dalam melakukan suatu pekerjaan, karena tingkat kehadiran adalah salah satu faktor yang menentukan produktifitas perusahaan. Data sekunder mengenai absensi pegawai menunjukkan bahwa Gross Absence Rate Oktober sampai Desember 2011 sebesar 0,82%.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kehadiran pegawai bagian manajemen di RSUD Kota Depok dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kehadiran yang dilihat dari faktor personal, kepuasan kerja dan persepsi sanksi hukuman. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kuantitatif cross sectional. Seluruh data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil kuesioner, data sekunder dan penelaahan dokumen.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa absensi pegawai bagian manajemen RSUD Kota Depok cukup baik walaupun Gross Absence Rate mengalami peningkatan menjadi 1,28%. Dan faktor personal yang berhubungan dengan kehadiran pegawai adalah jarak tempat tinggal dengan p-value sebesar 0,037. Ada hubungan antara kepuasan kerja dan kehadiran pegawai bagian manajemen RSUD Kota Depok dengan p-value 0,013.
 

Disciplin of an employee in an organization can be viewed and measured from the level of their presence in doing a job, because the level of attendance is one of the factors that determine the productivity of the company. Secondary data regarding employee absences showed that the Gross Absence Rate October to December 2011 amounting to 0.82%.
 
The purpose of this study is to know the description of employee attendance of management section of Regional General Hospital in Depok and the factors associated with the presence which viewed of personal factors, job satisfaction and perceptions of punitive sanctions. The research method used is a cross sectional quantitative study. All data in this study were obtained from the questionnaires, secondary data and review of documents.
 
The results showed that employee absenteeism of management section of Regional General Hospital in Depok pretty good though Gross Absence Rate increased to 1,28%. Personal factor was related to the employee's presence is the distance of a residence with a p-value of 0,037. There is a relationship between job satisfaction and employee attendance of management section Regional General Hospital in Depok with a p-value 0,013.
Read More
S-7466
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitria; Pembimbing: Surya Ede Darmawan; Penguji: Vetty Yulianty Permansari, Rini Muwarni
T-3347
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fridamarva Yasmine; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Vetty Yulianty Permansari, Toni Kusdianto
Abstrak: BPJS sudah berjalan sejak tanggal 01 Januari 2014, salah satu program proteksisosial yang belum bergabung dengan BPJS, yaitu Jaminan Kesehatan Daerah(JAMKESDA) khususnya di daerah Kota Tangerang Selatan. Untuk itu perlu adanyasuatu evaluasi program JAMKESDA sehingga dapat menjadi pembanding antaraperencanaan dan kenyataan yang ada di lapangan serta dapat mengetahuipelaksanaan JAMKESDA setalah BPJS berjalan. Penelitian ini merupakan penelitiankualitatif yang menggunakan pendekatan sistem sehingga bertujuan untukmengertahui bagaimana input proses dan output program JAMKESDA pada eraJKN. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pelaksanaan programJAMKESDA sudah berjalan dengan baik. Kendala utama dalam programJAMKESDA di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah terlambatnya klaimdari rumah sakit yang mengakibatkan terlambatnya pelaporan. Persiapan yangdilakukan untuk bergabung dengan BPJS pada tahun 2015 nanti adalah pegawaipelaksana program sedang melakukan validasi data ulang untuk mengetahui wargaTangerang Selatan yang layak untuk masuk dalam BPJS. Dengan demikian, tidakada perubahan yang signifikan pada program JAMKESDA di era JKN, hanya sajaperlu penambahan kualitas dan kuantitas pegawai serta peningkatan sarana dan prasarana, selain itu pelajaran yang dapat diambil ketika JAMKESDA bergabung dengan BPJS adalah perlunya kesiapan sistem, kebijakan pemerintah daerah serta puskesmas sebagai gate keeper.Kata kunci : Analisis pelaksanaan, Program JAMKESDA, JKN, Sistem
BPJS been running since the date of January 1, 2014, one of the social protectionprograms that have not joined the BPJS, the Regional Health Insurance(JAMKESDA) especially in the area of South Tangerang City. For that there needsto be an evaluation of the program so that it can be JAMKESDA comparisonbetween planning and reality on the ground as well as to know the implementationJAMKESDA after BPJS. This study is a qualitative research using a systemsapproach that aims to determine how the process input and output JAMKESDAprogram at JKN era. Based on this research, it is known that the implementation ofthe program has been running well JAMKESDA. The main obstacle in JAMKESDAprogram in South Tangerang City Health Department is delayed claims fromhospitals that resulted in delays in reporting. Preparations are being made to join in2015 BPJS is implementing employee programs are being re-validate data todetermine the South Tangerang residents eligible for entry in BPJS. Thus, there wasno significant change in the program JAMKESDA in JKN era, only need theaddition of the quality and quantity of personnel and improvement of facilities andinfrastructure, in addition to the lessons that can be taken when JAMKESDA joinBPJS is the need for system readiness, government policy and health centers as agate keeperKeywords: Analysis of implementation, JAMKESDA, JKN, System
Read More
S-8377
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Primageny Fawdy; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Puji Lestari
Abstrak: Insentif merupakan balas jasa yang diberikan kepada karyawan dengan berbagai standar produktivitas dan profitabilitas perusahaan yang di berikan secara periodik. Insentif adalah balas jasa yang diberikan perusahaan kepada pegawai yang berprestasi di atas standar.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian insentif pegawai di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dimana peneliti menggali informasi pada beberapa informan yang telah ditentukan.
 
Dari hasil penelitian diketahui pelaksanaan pemberian insentif di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo berdasarkan pada kompetensi dan kinerja, selain itu juga mempertimbangkan jabatan pegawai, resiko kerja pegawai serta nominal rumah sakit. Pemberian insentif juga meningkatkan produktivitas pegawai, karena semakin baik kinerja pegawai maka semakin besar pula nominal yang diterima. Namun peningkatan produktivitas tidaklah signifikan.
 

Incentives are reward given to employees with a variety of standar productivity and profitability of a company that is given periodically. Incentives is the company remuneration is given to employees who perform above standard.
 
The aims to study is ti reveal the incentives employees in the department of RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta 2012, the method used was qualitative research, where researchers gather information on some predetermined informants.
 
The survey result revealed the implementation on incentives in the RSUPN Dr. Cipto Mangunkusmo based on competency and performance, while also considering the position of employees, as well as the risk of employee par hospital. Providing incentives also increase employee productivity, because the better the performance of the employee, the greater thr nominal received. But the increase in productivity is not significant.
Read More
S-7603
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Khalimah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permansari, Dharma Irawan, Puji Triastuti
B-1670
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uswatun Hasanah; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Dikdik Permana Wigandi
S-6981
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti awaliyati Deliabilda; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Indah Rosana Djajadiredja
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pelaksanaan program MP-ASI anak usia 6-24 bulan keluarga miskin di Puskesmas Cipaku Kabupaten Ciamis tahun 2013. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan program MP-ASI belum mencapai target. Pada penggunaan sumber daya sebagai input dapat disimpulkan bahwa jumlah maupun kompetensi SDM telah sesuai dengan yang seharusnya. Nutrisi yang terkandung dalam MP-ASI belum sesuai dengan kebutuhan sasaran. Jumlah yang disediakan dengan yang direncanakan telah sesuai. Petunjuk pelaksanaan belum tersedia sehingga perlu segera disusun karena dalam pelaksanaan program banyak hal yang perlu definisi yang jelas. Proses manajemen logistik telah berjalan dengan baik. Pencatatan dan pelaporan serta monitoring program perlu ditingkatkan. Rekomendasi penyelesaian permasalahan adalah memaksimalkan kinerja pelaksana program gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, melakukan pengawasan terhadap daya terima sasaran saat penimbangan posyandu setiap minggu, penyusunan petunjuk pelaksanaan perlu dilakukan segera, pengkajian ulang terkait indikator yang digunakan, dan kerja sama dengan industri rumah tangga makanan yang ada di Kabupaten Ciamis.
 

This thesis aims to evaluate complementary feeding program implementation for Children 6-24 Months from Poor Families in Ciamis Regency 2013. This research is qualitative research and use purposive sampling as sampling technique of informan. The result shows that scope of program is not reach the target. Inputs that used as program resources can be concluded the the quantity and quality of human resources in accordance with the supposed. Nutrients contained in compelementary feeding is not in accordance with the needs of the target. The amount provided in accordance with the plan. Implementation guidelines are not yet available. Overall, the logistics management prosess has been going well. But the prosess of recording and reporting, also monitoring programs need to be improved. Recommendations for solving the probels is to maximize the performance of nutrition program in Dinas Kesehatan Ciamis Regency, supervising the target in posyandu everyweek, reviewing of relevant indicators used, and cooperation with domestic food isdustry in Ciamis.
Read More
S-8419
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Dyah Noviani; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permansari, Prastuti Soewondo, Soekamto Koesno, Lies Nugrohowati
Abstrak: Lamanya waktu tunggu dalam pelayanan rawat jalan akan menghambat pelayanan, dan berdampak pada penumpukan antrean dan inefisiensi pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan metode lean pada pelayanan rawat jalan pasien BPJS di rumah sakit Hermina Depok tahun 2017. Penelitian dengan metode kualitatif ini mengobservasi waktu pelayanan pasien rawat jalan BPJS untuk melihat dan memotret kondisi alur pelayanan pasien rawat jalan BPJS. Pada value stream mapping pasien tanpa pemeriksaan penunjang, waktu proses (cycle time) tercepat adalah pada saat pasien di kasir yaitu 2,2 menit dan paling lama adalah pada saat pasien mendapat pemeriksaan dokter yaitu 12,6 menit. Waktu tunggu (waiting time) paling lama pada saat pasien menunggu obat di farmasi yaitu 96,2 menit (1 jam 36 menit) dan paling cepat adalah pada saat pasien menunggu di kasir yaitu 4,4 menit. Pada value stream mapping pasien dengan pemeriksaan penunjang laboratorium, waktu proses (cycle time) tercepat adalah pada saat proses pasien dikasir 4,2 menit, dan paling lama pada saat pasien mendapat pemeriksaan dokter yaitu 12,6 menit. Waktu tunggu (waiting time) terlama pada saat pasien menunggu dokter yaitu 126,2 menit (2 jam 6 menit) dan paling cepat pada saat pasien menunggu proses di kasir 2,2 menit. Pada value stream mapping pasien dengan pemeriksaan penunjang radiologis, waktu proses (cycle time) tercepat pada saat proses pasien dikasir yaitu 4,8 menit, paling lama pada saat proses pemeriksaan radiologi yaitu 67,2 menit (1 jam 7 menit). Waktu tunggu (waiting time) terlama pada saat pasien menunggu dokter 95,6 menit (1 jam 35 menit), paling cepat pada saat proses pasien di kasir 4,4 menit. Hasil penelitian menunjukkan 90 % waktu pelayanan merupakan kegiatan non value added dan hanya 10 % kegiatan yang value added, dengan jenis-jenis waste nya adalah defect, over production, waiting, transportation, inventory, motion, dan over processing. Analisis future state dengan usulan perbaikan metode lean secara simulatif yaitu 5S, Kanban Inventory, visual management menurunkan kegiatan non value added menjadi 78,30 % dan meningkatkan kegiatan value added menjadi 21,70 %. Rekomendasi dengan melakukan perbaikan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang melalui program pelaksanaan metode lean berkelanjutan.
Kata kunci : Metode lean, rawat jalan, waktu tunggu, kegiatan value added, kegiatan non value added

The length of waiting time in the hospital outpatient service is important for efficient hospital service. Long waiting time leads to accumulating queue and inefficient service. This study was aimed to analyze the application of lean method on outpatient BPJS services at Hermina Depok Hospital in 2017. This qualitative research method investigated the time spent by BPJS outpatient patient by applying lean method and observing the outpatient service flow condition. The first result, the value stream mapping (VSM) of patients without any adjunctive examinations (i.e., laboratory or radiology), the fastest cycle time was observed at the reception desk (2.2 minutes) and the longest at the doctor examination room (12.6 minutes). The longest waiting time was at drug prescription process at pharmaceutical unit (96.2 minutes or 1 hour,36 minutes) and checkout was the fastest (4.4 minutes). Second result, the VSM with laboratory examination, the fastest time-cycle was at the reception desk (4.2 minutes), and the longest was observed at the doctor examination (12.6 minutes). The longest waiting time at the doctor waiting room (2 hours 6 minutes) and checkout was the fastest (2.2 minutes). Third result, the VSM with radiologic examination, the fastest cycle time was observed at the reception desk (4.8 minutes), the longest cycle time was at the radiology examination process (67.2 minutes or 1 hour, 7 minutes). The longest waiting time was observed at the doctor examination room (95.6 minutes or 1 hour, 35 minutes) and checkout was the fastest (4.4 minutes). The results showed that 90% service time was non value added activity and only 10% of value added activity. The wastes were defect, over production, waiting, transportation, inventory, motion, and over processing. After conducting future state analysis with the proposed improvement with simulative lean method (5S, Kanban Inventory, visual management), it was found that non value added activity became 78,30% and value added activity became 21,70%. Future recommendation is important to organize short-, medium- and long-term improvements through implementation of sustainable lean method program.
Keywords: Lean method, outpatient waiting time, value added activity, non-value added activity
Read More
B-1858
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farsely Mranani; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Pujiyanto, Vetty Yulianty Permanasari, Erna Mulati, Nindya Savitri
Abstrak: Hipotiroid kongenital (HK) adalah kelainan bawaan yang dapat menimbulkandampak berupa retardasi mental permanen. Pemberian levothyroxine dengan dosistepat pada usia sedini mungkin, dapat mencegah gangguan pertumbuhan danperkembangan. Sayangnya, bayi baru lahir tidak menunjukkan gejala HK. Kalaupunada, berarti sudah ada gangguan pertumbuhan. Perlu skrining hipotiroid kongenital(SHK) untuk menemukan kasus bayi yang menderita HK.Meski sudah dilakukan sejak 2006, baru pada tahun 2014 dikeluarkan Permenkestentang pelaksanaan SHK di Indonesia. Penelitian evaluasi ekonomi program SHKtahun 2014-2015 ini mencakup analisis biaya skrining dan terapi dini, sedangkanoutcome didapat dari systematic review (SR). Asumsi dikembangkan berdasarkandata riil pasien skrining SHK di 2 laboratorium rujukan di Jakarta dan Bandung.Dari total 56.186 bayi yang melakukan skrining, diperoleh 24 pasien positifmenderita HK.Hasil SR menyatakan bahwa semakin dini onset terapi, semakin adekuat dosisinisiasi dan semakin kontinyu terapi dapat memberikan hasil yang baik. Hasiltersebut berupa pencegahan terhadap komplikasi HK lebih jauh dan perbaikan padapenyimpangan tumbuh kembang.Dari hasil penelitian, didapatkan informasi bahwa baru pada tahun kedua terlihatadanya keuntungan ekonomis SHK. Hal ini berhubungan dengan patologi gejala HKyang umumnya muncul pada usia 3-6 bulan. Orang tua baru mencari pertolonganmedis pada tahun kedua dan mengeluarkan lebih banyak biaya. Biaya skrining danterapi dini menjadi sepadan dibandingkan dengan kerugian yang dapat dicegahakibat gejala gangguan tumbuh kembang.Kata kunci:Skrining hipotiroid kongenital, biaya, luaran
Congenital hypothyroidism (CH) is a congenital disorder that can have an impact inthe form of permanent mental retardation. Giving the right dose of levothyroxine atthe earliest possible age, can prevent the disruption of growth and development.Newborns do not show symptoms of CH, and unfortunately the symptoms appear inthe late period and in many cases it shows growth disorders. The congenitalhypothyroidism screening (CHS) program has been implemented to find infant caseswith CH, and followed up with treatment.Although it has been made since 2006, Minister of Health just issued the regulationin 2014 on the implementation of CHS in Indonesia. This economic evaluation of theCHS program in 2014-2015 was done using cost analysis, while outcome obtainedfrom the systematic review (SR). The assumptions used in the analysis weredeveloped based on real data from a CHS screening program in two referrallaboratories in Jakarta and Bandung. Out of 56.186 screened babies, 24 babies werefound as CH positive cases.The result of the SR revealed that the earlier onset of initiation therapy, the moreadequate dose and the more continuous therapy given to the patient, the better resultwill be achieved. It will prevent the patients from severe complications of CH andwill improve the quality of thegrowth and development..The study found that the economic benefit is achieved in the second year of CHtreatment, since the pathological symptoms generally appear at the age of 3-6 monthand parents seek care in the second year. Consequently, cost to treat patients willincrease. The cost of screening and early treatment was found worthy as compared toeconomic loss resulting from growth disorders.Key words:Congenital Hypothyroid screening, cost, outcome
Read More
T-4728
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive