Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Aidea Arsyi Pempasa; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Bimo Prasetyo
Abstrak:
PT X mengalami peningkatan produksi, hal ini seiring dengan peningkatan kejadian kecelakaan kerja di PT X. Dalam upaya penanganan kecelaakaan kerja, dilakukan pelaporan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi langkah yang perlu dilakukan kedepannya. Penelitian deskriptif dengan metode kualitatif ini memiliki pendekatan study case dengan melihat pelaporan kecelakaan yang lebih dari ketentuan 2x24 jam. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan, sikap, dan faktor eksternal terhadap pelaporan kecelakaan kerja. Hasil: Responden belum memiliki pengetahuan yang cukup menyelutuh mengenai kecelakan kerja, regulasi pelaporan kecelakaan kerja, alur pelaporan kecelakaan kerja, namun telah memiliki pengetahuan yang baik untuk defnisi pelaporan kecelakaan kerja dan suransi kecelakan kerja. Responden memiliki sikap cenderung untuk tidak melaporkan kecelakaan ringan meski telah menganggap pelaporan kecelakaan kerja penting. Sikap dalam pemilihan asuransi juga memiliki kecenderungan tidak memilih BPJS Ketenagakerjaan meski telah mengetahui asuransi untuk kecelakaan kerja. Faktor eksternal responden mencakup dukungan atasan dan rekan kerja cenderung positif. Responden juga mengetahui tidak adanya punishment serta PT X telah memfasilitasi keselamatan.

PT X has experienced an increase in production, which has coincided with a rise in workplace accidents. In an effort to address workplace accidents, reporting is conducted to identify and evaluate the necessary steps moving forward. This descriptive research, using a qualitative method, employs a case study approach by examining accident reports exceeding the 2x24 hour limit. The aim of this study is to provide an overview of knowledge, attitudes, and external factors influencing accident reporting. Results: Respondents lack comprehensive knowledge about workplace accidents, accident reporting regulations, and the accident reporting process, but they do possess good knowledge of the definition of accident reporting and accident insurance. Respondents tend to avoid reporting minor accidents, despite recognizing the importance of accident reporting. Their attitude towards choosing insurance also shows a tendency not to select BPJS Ketenagakerjaan, even though they are aware of workplace accident insurance. External factors for respondents include positive support from supervisors and colleagues. Respondents also recognize the absence of punishments and that PT X has facilitated safety measures.
Read More
S-11795
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shellena Alya Kanigara; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyumbang angka kematian terbesar di dunia. Perilaku keselamatan berkendara merupakan salah satu bentuk antisipasi dalam mengurangi angka kecelakaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi perilaku keselamatan berkendara pada karyawan PT.X di Tahun 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini cross-sectional dengan instrument berupa kuisioner ODBQ dengan sampel sebesar 100 orang. Hasil pengambilan data kemudian diolah menggunakan uji Chi-square dan Rank Spearman. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan antara beberapa perilaku keselamatan berkendara dengan faktor usia (speeding, inattention, dan driving while fatigue), jenis kelamin (rule violation), riwayat kecelakaan (speeding dan inattention), pelatihan DDT (inattention), dan juga masa kerja karyawan (inattention). Diharapkan PT.X dapat memberikan pelatihan khusus terhadap manajemen stress dan memberikan perhatian khusus terhadap perilaku tidak fokus dan mengebut ketika berkendara sehingga dapat memaksimalkan keselamatan karyawan.

Traffic accidents are one of the largest contributors to mortality worldwide. Safety driving is a form of anticipation in reducing the number of accidents. This study aims to determine the factors that influence safe driving behavior among PT.X employees in 2023. The research method used is cross-sectional, with an instrument in the form of a questionnaire (ODBQ) and a sample size of 100 people. The data obtained was then processed using Chi-square and Spearman Rank tests. Based on the research results, there is a relationship between several safe driving behaviors and factors such as age (speeding, inattention, and driving while fatigue), gender (rule violation), accident history (speeding and inattention), DDT training (inattention), and also the length of service of the employees (inattention). PT.X is recommended to provide specialized training on stress management and give special attention to the behavior of being unfocused and distracted while driving to ensure the employee will be safe while driving.
Read More
S-11688
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irna Anggun Fatiqa; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Bimo Prasetyo; Aryo Wibowo
Abstrak:
Industri konstruksi di Indonesia menyerap tenaga kerja sebanyak 8,7 juta orang pada tahun 2023, dimana konstruksi dikenal sebagai pekerjaan berisiko tinggi dan merupakan penyumbang kecelakaan terbesar kedua di Asia. Iklim keselamatan merupakan salah satu faktor kunci dalam mencegah kecelakaan kerja. Penelitian ini fokus menganalisis iklim keselamatan manajemen dan iklim keselamatan pekerja di sebuah proyek konstruksi. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed methode dimana total partisipan berjumlah 235 responden dan 26 informan kunci. Data dikumpulkan dengan menggunakan Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) dan wawancara mendalam. Analisa intersection antara data kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa terdapat ketidakkonsistenan pada tiap kategori iklim keselamatan. Pada iklim keselamatan manajemen, meskipun skor tertinggi diperoleh dimensi pemberdayaan keselamatan manajemen, namun dari hasil kualitatif diperoleh bahwa dimensi ini memiliki persepsi kurang paling tinggi. Pada iklim keselamatan pekerja, analisa intersection menunjukkan bahwa dimensi prioritas keselamatan pekerja dan dimensi kepercayaan terhadap keefektifan sistem keselamatan kerja memiliki persepsi kurang paling rendah. Perlu dilakukannya strategi peningkatan melalui evaluasi dan pengembangan sistem manajemen serta komunikasi keselamatan.

The construction industry in Indonesia absorbs a workforce of 8.7 million people in 2023, where construction is known as a high-risk job and is the second largest contributor to accidents in Asia. Safety climate is one of the key factors in preventing work accidents. This research focuses on analyzing the management safety climate and worker safety climate in a construction project. The research design used was a mixed method where the total participants were 235 respondents and 26 key informants. Data was collected using the Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) and in-depth interviews. Intersection analysis between quantitative and qualitative data shows that there are inconsistencies in each safety climate category. In the management safety climate, although the highest score was obtained for the management safety empowerment dimension, from the qualitative results it was found that this dimension had the highest lack of perception. In the worker safety climate, the intersection analysis shows that the worker safety priority dimension and the dimension of trust in the effectiveness of the work safety system have the lowest perception. It is necessary to carry out improvement strategies through evaluation and development of safety management and communication systems.
Read More
T-7059
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Yuliani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Ali Syahrul Chairuman, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek vital dalam proyek konstruksi jalan tol yang memiliki risiko tinggi dan kompleksitas pekerjaan besar. Meskipun Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) telah diwajibkan melalui Permen PUPR No. 10 Tahun 2021, implementasinya di lapangan masih belum optimal, ditunjukkan oleh tingginya angka kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor individu berdasarkan Model Green—yang mencakup faktor predisposisi (pengetahuan keselamatan, sikap terhadap keselamatan, kesadaran terhadap bahaya), faktor pemungkin (pelatihan keselamatan, fasilitas dan dukungan keselamatan, penerapan SOP dan kepatuhan), serta faktor penguat (kepemimpinan dan pengawasan K3, pengalaman kerja dan sharing session)—terhadap perilaku aman pekerja dalam implementasi SMKK pada proyek Jalan Tol Trans Sumatera ruas Palembang–Betung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 138 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert 1–5 dan dianalisis dengan uji korelasi Pearson serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, seluruh faktor individu memiliki hubungan signifikan dengan perilaku aman (F = 4,462; p < 0,001). Namun secara parsial, hanya variabel pelatihan keselamatan yang berpengaruh signifikan (β = 0,373; p < 0,001). Faktor sikap terhadap keselamatan dan kesadaran terhadap bahaya menunjukkan korelasi positif signifikan pada uji korelasi (p < 0,05), tetapi belum cukup kuat dalam regresi parsial. Faktor lain, seperti pengetahuan keselamatan, fasilitas dan dukungan keselamatan, SOP dan kepatuhan, kepemimpinan dan pengawasan K3, serta pengalaman kerja dan sharing session tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model regresi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas implementasi SMKK sangat dipengaruhi oleh pelatihan keselamatan yang efektif, didukung komunikasi dua arah, kepemimpinan yang kuat, serta internalisasi nilai-nilai keselamatan untuk menciptakan budaya kerja yang aman dan berkelanjutan.

Occupational health and safety (OHS) is a vital aspect in toll road construction projects, which involve high risks and complex activities. Although the Construction Safety Management System (SMKK) is mandated by Ministry of Public Works Regulation No. 10 of 2021, its implementation in the field remains suboptimal, as indicated by the high number of occupational accidents in infrastructure projects. This study aimed to analyze the influence of individual factors based on the Green Model—including predisposing factors (safety knowledge, safety attitude, hazard awareness), enabling factors (safety training, safety facilities and support, SOP implementation and compliance), and reinforcing factors (leadership and OHS supervision, work experience and sharing session)—on safe behavior within SMKK implementation in the Trans Sumatera Toll Road Project, Palembang–Betung section. This research used a quantitative approach with a cross-sectional design involving 138 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert scale (1–5) questionnaire and analyzed using Pearson correlation and multiple linear regression. The results showed that simultaneously, all individual factors had a significant relationship with safe behavior (F = 4.462; p < 0.001). However, partially, only safety training had a significant effect (β = 0.373; p < 0.001). Safety attitude and hazard awareness showed positive correlations with safe behavior (p < 0.05), but their effects were not strong enough in partial regression analysis. Other factors, such as safety knowledge, safety facilities and support, SOP implementation and compliance, leadership and OHS supervision, and work experience and sharing session did not show significant effects in the regression model. This study concludes that the effectiveness of SMKK implementation is highly influenced by effective safety training, supported by two-way communication, strong leadership, and internalization of safety values to establish a safe and sustainable construction work culture.
Read More
T-7351
Depok : FKMUI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
A.M. Furqan Isra; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Baiduri Widanarko, Bimo Prasetyo, Halim Safar Hs
Abstrak:
Penelitian ini membahas strategi evakuasi kebakaran menggunakan pemodelan tiga dimensi (3D) di bangunan Jakarta International Stadium (JIS). Simulasi evakuasi kini dapat dilakukan secara komputerisasi sebagai pendekatan rekayasa yang efektif untuk mengevaluasi kelayakan sistem evakuasi dalam menghadapi kondisi darurat kebakaran. Pemodelan komputer tersebut harus didukung oleh pemahaman mendasar mengenai sarana dan prasarana evakuasi, yang berperan penting dalam mendukung kelancaran proses evakuasi.Stadion sebagai bangunan publik multifungsi—yang sering digunakan untuk acara berskala besar seperti pertandingan olahraga dan konser musik—memiliki potensi risiko kebakaran yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan perangkat lunak Pathfinder untuk melakukan simulasi evakuasi 3D guna memetakan pergerakan penghuni saat kondisi darurat di dalam stadion. Simulasi ini membutuhkan data karakteristik bangunan serta profil penghuni sebagai input.Hasil simulasi menunjukkan bahwa waktu evakuasi total pada sektor tribun timur dan barat dengan total 1.640 orang adalah 4 menit 53 detik. Selain itu, dilakukan penilaian terhadap tingkat kesesuaian sarana evakuasi berdasarkan standar yang berlaku. Hasil penilaian menunjukkan bahwa sarana evakuasi di Jakarta International Stadium mencapai tingkat kesesuaian sebesar 100%, yang dikategorikan dalam klasifikasi “Baik (B)”, karena telah memenuhi ketentuan peraturan keselamatan kebakaran bangunan gedung.


This study discusses fire evacuation strategies using three-dimensional (3D) modeling in the Jakarta International Stadium (JIS) building. Evacuation simulations can now be conducted through computerized modeling, which serves as an effective engineering approach to assess the feasibility of evacuation systems during fire emergencies. Such modeling must be supported by a fundamental understanding of evacuation facilities that play a vital role in facilitating safe and effective evacuation processes. As a multifunctional public facility frequently used for mass events such as football matches and music concerts, stadiums inherently carry a high fire risk. Therefore, this study employed the Pathfinder software to perform 3D evacuation simulations and analyze occupant movement during emergency scenarios within the stadium. The simulation required input data related to both the building structure and occupant characteristics. The simulation results showed a total evacuation time of 4 minutes and 53 seconds for the east and west stands, accommodating a total of 1,640 people. In addition, this research also assessed the level of compliance of the stadium’s evacuation facilities with applicable standards. The assessment revealed a 100% compliance rate, which falls into the “Good (B)” category, indicating that the evacuation infrastructure at Jakarta International Stadium meets the relevant safety and regulatory requirements.
Read More
T-7412
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agni Syah Sutoyo Putro; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Dadan Erwandi, Ridwan Z. Syaaf, Bimo Prasetyo, Subkhan
Abstrak: Pekerja proyek konstruksi PT. X memiliki bahaya dan risiko kerja yang relatif tinggi, terutama saat bekerja dalam situasi pandemi COVID-19. Karena proyek konstruksi harus berjalan, para pekerja memiliki risiko lebih tinggi terpapar COVID-19. Ketika beberapa pekerja secara langsung atau tidak langsung terpapar COVID-19, pekerjaannya diambil alih oleh rekan kerja. Hal ini mengakibatkan kelelahan bagi pekerja konstruksi. Kelelahan kerja merupakan salah satu penyebab kecelakaan kerja karena kelelahan mengurangi fokus, kemampuan mengambil keputusan, kekuatan otot, keterampilan komunikasi, produktivitas, kewaspadaan, kinerja fisik dan psikologis dan motivasi kerja. Penelitian ini bertujuan mengetahui dampak pandemi COVID-19 terhadap kelelahan pekerja PT. X. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain penelitian potong lintang. Sampel diambil dari total populasi pekerja pengecoran pada proyek konstruksi sebanyak 100 pekerja dengan menggunakan kuesioner *Multidimensional Fatigue Inventory Questionnaire* serta Analisis data dengan pendekatan kuantitatif menggunakan analisis univariat dan bivariat. Berdasarkan hasil analisis korelasi Pearson dengan nilai signifikan p<0,05, variabel yang berhubungan dengan variabel kelelahan adalah usia (p=0,048), waktu tidur (p=0,040), penyakit penyerta (p=0,004) dan pandemi COVID-19 (p=0,001).
X construction project workers have relatively high work hazards and risks, particularly while working under the COVID-19 pandemic situation. As construction projects must go on, the workers likely have a higher risk of the COVID-19 exposure. When some workers directly or indirectly are exposed to the COVID-19, their jobs are taken over by co-workers. This case results in fatigue for construction workers. Work fatigue is one of the causes of occupational accidents as the fatigue reduces their focus, decision-making abilities, muscle strength, communication skills, productivity, alertness, physical and psychological performance and work motivation. This study aimed to determine the impact of the COVID-19 pandemic on fatigue in PT. X workers. This study applied an observational analytic method with a cross-sectional study design. Samples were taken from the total population of foundry workers in construction projects as many as 100 workers. *Multidimensional Fatigue Inventory Questionnaire*. Data analysis with a quantitative approach used univariate and bivariate analysis. Based on the results of the Pearson correlation analysis with a significant level of p < 0.05, variables that had a relationship with fatigue variable were age (p = 0.048), sleep time (p = 0.040), comorbid (p=0.004) and the COVID-19 pandemic (p=0.001)
Read More
T-6450
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfian Wahyu Utama; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Muthia Ashifa, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Sektor industri konstruksi merupakan salah satu sektor yang memiliki risiko tertinggi terkait keselamatan dan kesehatan kerja. Tingkat kematangan budaya keselamatan dari suatu proyek dan lokasi kerja memiliki peran penting untuk terciptanya budaya kerja yang aman sehingga risiko kecelakaan kerja dapat diminimalisir dan dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kematangan budaya keselamatan di salah satu proyek PT. T yang merupakan proyek ekspansi pabrik pembuatan pelumas desesuaikan dengan konsep safety culture , serta menganalis bagaimana budaya keselamatan diterapkan antara karyawan direct dan indirect, karyawan Main contractor dan karyawan subcontractor, antara karyawan dengan rentan usia dibawah 25 tahun dan karyawan dengan rentan usia diatas 25 tahun dan karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun dan karyawan dengan masa kerja lebih dari 1 tahun spesifik di proyek. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan desain cross-sectional, menggunakan kuisioner, terhadap sampel 273 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Profil tingkat penerapan budaya keselamatan kerja yang diukur menunjukkan bahwa secara umum, budaya keselamatan di proyek PT. T berada pada tingkat baik dengan level generative. Tingkat kematangan budaya keselamatan antara karyawan direct dan indirect yang berlokasi di lapangan menunjukkan perbedaan signifikan, sedangkan hasil Analisis terhadap golongan kerja (main contractor dan subcontractor), usia, dan masa kerja tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Meskipun dari hasil analisis menyebutkan lokasi kerja sudah di level budaya keselamatan yang generative, dan kategori tersebut menjelaskan bahwa lingkungan kerja positif, pekerja harus selalu aktif mendukung program-program keselamatan yang sudah diatur oleh organisasi. Selanjutnya, pekerja perlu proaktif dalam mengimplementasi program-program safety culture yang sudah di tetapkan agar angka pencapaian program dapat terlihat dalam statistik. Statistik dan tren keselamatan inilah yang nantinya penting sebagai indikator terhadap penentuan budaya keselamatan yang lebih baik. 

The construction industry is one of the sectors with the highest risks related to occupational safety and health. The maturity level of safety culture at a project and worksite plays a crucial role in establishing a safe working environment, thereby minimizing and preventing work-related accidents. This study aims to assess the safety culture maturity profile at one of PT. T’s projects (specifically the expansion of a lubricant manufacturing plant) based on the safety culture concept. Additionally, the study analyzes how safety culture is implemented among direct and indirect workers, main contractor and subcontractor employees, employees aged under 25 and those over 25, as well as those with less than one year of service and those with more than one year of service at the project site. A quantitative research approach was employed using a cross-sectional design and questionnaire distributed to 273 respondents. The results show that the overall safety culture maturity profile at PT. T’s project is classified as good, falling into the generative level. A significant difference was found in the safety culture maturity level between direct and indirect employees working on site, while analysis of employee group (main contractor vs. subcontractor), age, and length of service showed no statistically significant differences. Although the project was classified as having a generative level of safety culture—indicating a positive work environment—workers are expected to actively support safety programs established by the organization. Furthermore, workers need to be proactive in implementing safety culture initiatives so that program achievements are reflected in safety statistics. These safety statistics and trends will be essential indicators in shaping and improving future safety culture development.
Read More
T-7323
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resty Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Bimo Prasetyo, Roy Nababan
Abstrak:
Distres kerja menjadi masalah kesehatan yang cukup serius di industri konstruksi. Distres kerja dikaitkan dengan perasaan emosional dan mental, tapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan secara fisik, menurunkan motivasi, produktivitas, dan kepuasan kerja. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya distres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko distres kerja pada pekerja konstruksi proyek XYZ, baik faktor individu, faktor psikososial, dan faktor dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada pekerja konstruksi XYZ pada bulan Maret-Mei 2023. Jumlah sampel penelitian adalah 127 responden yang diambil dengan teknik non random sampling. Kuesioner yang digunakan adalah Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) dan 3 pertanyaan tambahan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan distres kerja adalah faktor psikososial job control, kompatibilitas dengan pekerjaan, interaksi dengan atasan, interaksi dengan organisasi, dan faktor dukungan sosial. Hasil analisis menunjukkan variabel yang dominan berhubungan dengan distres kerja adalah job control dan dukungan sosial. Dari kedua variabel tersebut, dukungan sosial adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan distres kerja (AOR=4,062)



Job distress is a serious health problem in the construction industry. Job distress is associated with emotional and mental feelings, but it can also have a negative impact on physical health, reducing motivation, productivity and job satisfaction. There are various factors that influence the emergence of job distress. This study aims to analyze the risk factors of job distress on XYZ construction workers, including individual factors, psychosocial factors, and social support factors. This research used a cross sectional design. The research was conducted on XYZ construction workers in March-May 2023. The number of samples in this study were 127 respondents who were taken using a non-random sampling technique. The questionnaire used is the Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) and 3 additional questions. Data analysis was performed using the chi-square and logistic regression statistical test. The results showed that the risk factors associated with job distress were psychosocial factors, job control, job compatibility, interactions with superiors, interactions with organizations, and social support factors. The results of the analysis show that the dominant variable related to job distress are job control and social support. Among these two variables, social support is the most dominant variable related to job distress (AOR=4,062)
Read More
T-6720
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Kadek Lilis Erismawati; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Bimo Prasetyo, Valyaty Frisa Aryadi
Abstrak:

Industri konstruksi merupakan sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi sehingga
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi aspek penting dalam menciptakan lingkungan
kerja yang aman. Iklim keselamatan (safety climate) berperan dalam membentuk perilaku kerja aman dan
dipengaruhi oleh karakteristik individu pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
karakteristik individu dengan persepsi iklim keselamatan pada pekerja proyek konstruksi di PT XYZ.
Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 155 pekerja
menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner karakteristik
individu dan NOSACQ-50, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian
menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berada pada usia produktif 20–44 tahun,
berpendidikan SMA/sederajat, bekerja sebagai pekerja lapangan, dan memiliki masa kerja kurang dari lima
tahun. Persepsi iklim keselamatan secara umum berada pada kategori baik. Variabel jenis kelamin dan
posisi jabatan memiliki hubungan yang signifikan terhadap persepsi iklim keselamatan, sedangkan usia,
tingkat pendidikan, dan masa kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Posisi jabatan merupakan
faktor yang paling dominan memengaruhi persepsi iklim keselamatan pekerja. Hasil penelitian ini
diharapkan menjadi dasar dalam pengembangan strategi peningkatan K3 yang lebih efektif untuk
memperkuat budaya keselamatan kerja pada proyek konstruksi.


The construction industry is a sector with a high risk of occupational accidents; therefore, the  implementation of Occupational Health and Safety (OHS) is an essential aspect of creating a safe working  environment. Safety climate plays an important role in shaping safe work behavior and is influenced by  workers’ individual characteristics. This study aimed to analyze the relationship between individual  characteristics and safety climate perceptions among construction project workers at PT XYZ. This study  employed a quantitative approach with a cross-sectional design involving 155 workers using a total  sampling technique. Data were collected using an individual characteristics questionnaire and NOSACQ 50 and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analyses. The results showed that the majority  of respondents were male, within the productive age group of 20–44 years, had a senior high school  education or equivalent, worked as field workers, and had less than five years of work experience. Overall,  safety climate perception was categorized as good. Gender and job position showed significant  relationships with safety climate perception, whereas age, educational level, and work experience showed  no significant relationships. Job position was identified as the most dominant factor influencing workers’  safety climate perceptions. The findings of this study are expected to serve as a basis for developing more  effective OHS improvement strategies to strengthen safety culture in construction projects.

Read More
T-7607
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pinatih Tiansa Putranti; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Bimo Prasetyo, Akhmad Zahron
Abstrak:
Sektor konstruksi jalan dan jembatan memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi karena melibatkan pekerjaan dinamis, penggunaan alat berat, mobilitas tinggi, pekerjaan struktur, serta kondisi lingkungan kerja yang kompleks. PT DEF telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), namun penerapannya pada setiap proyek dapat berbeda karena dipengaruhi oleh karakteristik lokasi, sumber daya, budaya kerja, keterlibatan pekerja, dan dukungan pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan SMK3 berdasarkan ISO 45001:2018 serta mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat pada tiga proyek konstruksi  jalan dan jembatan Divisi Infrastruktur I PT DEF. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 18 informan yang terdiri dari Project Manager, Site Engineering Manager, Site Operational Manager, QHSSE Manager, Supervisor Pekerja, dan pekerja, serta dilengkapi dengan observasi lapangan dan telaah dokumen. Analisis dilakukan berdasarkan Elemen ISO 45001:2018 dan divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SMK3 pada ketiga proyek telah berjalan, tetapi tingkat penerapannya berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SMK3 pada ketiga proyek secara umum telah berjalan, namun tingkat efektivitasnya masih bervariasi sesuai dengan karakteristik masing-masing proyek. Penerapan yang lebih optimal didukung oleh komitmen manajemen, keterlibatan pemangku kepentingan, pengawasan yang konsisten, dokumentasi yang tertib, serta tindak lanjut temuan yang terstruktur. Sementara itu, hambatan penerapan SMK3 terutama dipengaruhi oleh kondisi geografis dan akses logistik, keterbatasan sumber daya, serta partisipasi pekerja dan subkontraktor yang belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini merekomendasikan penguatan partisipasi pekerja, pembinaan subkontraktor, evaluasi kinerja K3 berbasis indikator, tindak lanjut temuan yang terukur, serta strategi pengendalian risiko yang adaptif sesuai tingkat kompleksitas proyek.

Road and bridge construction projects have high occupational health and safety  risks due to dynamic work activities, heavy equipment operation, high mobility,  structural works, and complex working environments. PT DEF has implemented an  Occupational Health and Safety Management System (OHSMS); however, its  implementation may vary across projects due to differences in location  characteristics, resources, work culture, worker involvement, and stakeholder  support. This study aims to analyze the implementation of OHSMS based on ISO  45001:2018 and to identify the supporting and inhibiting factors in three road and  bridge construction projects under Division Infrastructure I of PT DEF. This  research employed an analytical descriptive design with a qualitative approach.  Data were collected through in-depth interviews with 18 informants consisting of  Project Managers, Site Engineering Managers, Site Operational Managers,  QHSSE Managers, worker supervisors, and workers, supported by field  observations and document reviews. The analysis was conducted based on the  elements of ISO 45001:2018 and validated through source and method  triangulation. The results show that OHSMS implementation in the three projects  has generally been carried out, although its effectiveness varies according to the  characteristics of each project. More optimal implementation is supported by  management commitment, stakeholder involvement, consistent supervision, well organized documentation, and structured follow-up of findings. Meanwhile, the  main barriers to OHSMS implementation include geographical and logistical  access constraints, limited resources, and suboptimal participation of workers and  subcontractors. This study recommends strengthening worker participation,  subcontractor development, indicator-based OHS performance evaluation,  measurable follow-up of findings, and adaptive risk control strategies according to  each project’s complexity level.
Read More
T-7626
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive