Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Azizah Meutia Putri Ianam; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Kecoa merupakan vektor mekanik yang dapat mengontaminasi pangan dan menjadi indikator kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik. Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di bandara perlu mendapat perhatian karena berperan dalam penyediaan pangan bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi dan berada pada area yang membutuhkan pengawasan sanitasi ketat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi karyawan dengan tingkat kepadatan kecoa di TPP Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 59 TPP di Terminal Y Bandara X dengan 118 responden karyawan. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi, observasi langsung praktik sanitasi menggunakan checklist, serta pengukuran kepadatan kecoa menggunakan sticky trap selama 24 jam. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi square serta perhitungan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi berdasarkan kuesioner tidak berhubungan signifikan dengan tingkat kepadatan kecoa. Sebaliknya, praktik sanitasi berdasarkan observasi berhubungan signifikan dengan tingkat kepadatan kecoa. TPP dengan praktik sanitasi observasional kurang baik memiliki peluang 12,571 kali lebih besar untuk mengalami kepadatan kecoa tinggi dibandingkan TPP dengan praktik sanitasi observasional baik (OR = 12,571; 95% CI = 3,658–43,199; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa praktik sanitasi aktual di lapangan lebih berkaitan dengan kepadatan kecoa dibandingkan praktik yang dilaporkan melalui kuesioner. Pengendalian kecoa perlu difokuskan pada perbaikan sanitasi aktual, penguatan pengawasan, evaluasi program pengendalian vektor secara berkala, dan peningkatan keterlibatan karyawan dalam menjaga sanitasi lingkungan kerja secara konsisten.

Cockroaches are mechanical vectors that could contaminate food and indicate poor environmental sanitation. Food premises in airport areas require particular attention because they provide food services for populations with hight mobility and operate in setting requiring strict sanitation control. This study aimed to analyse the association between employees’ knowledge, attitudes, and sanitation practices and cockroach density in food premises of Airport X. A cross-sectional study was conducted in 59 food premises at Terminal Y of Airport X, involving 118 employee respondents. Data were collected using questionnaires to assess knowledge, attitudes, and sanitation practices, direct observation of sanitation practices using a checklist, and cockroach density measurement using sticky traps installed 24 hours. Data were analysed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test and odds ratio calculation. The result showed that knowledge, attitudes, and questionnaire-based sanitation practices were not significantly associated with cockroach density. In contrast, observed sanitation practices were significantly associated with cockroach density. Food premises with poor observed sanitation practices had 12,571 times higher odds of having cockroach density than those with good observed sanitation practices (OR = 12,571; 95% CI = 3,658–43,199; p < 0,001). These findings suggest that actual sanitation practices are more closely related to cockroach density than practices reported through questionnaires. Cockroach control should focus on improving actual sanitation practices, strengthening supervision, evaluating vector control programs regularly, and increasing employees’ involvement in maintaining workplace sanitation consistently.
Read More
S-12237
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laudita Syafa Kamila; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Ema Hermawati, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Indeks kepadatan kecoa yang tinggi pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di Terminal Y Bandara X, khususnya pada September 2025, menunjukkan kondisi yang melebihi standar baku mutu kesehatan lingkungan (SBMKL) yaitu <2, sehingga dapat mengindikasikan adanya permasalahan sanitasi dan peningkatan risiko kesehatan masyarakat. Kecoa merupakan vektor mekanik berbagai patogen yang berpotensi mencemari pangan dan menularkan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan, meliputi faktor fisik lingkungan berupa suhu, kelembapan, dan pencahayaan, serta faktor sanitasi berupa saluran air limbah, dinding, lantai, tempat sampah, penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan, serta langit-langit dengan indeks kepadatan kecoa di TPP Terminal Y Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung kondisi sanitasi lingkungan, pengukuran faktor fisik lingkungan, serta pengukuran indeks kepadatan kecoa menggunakan sticky trap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu (p=0,002; OR=8,1), pencahayaan (p=0,000; OR=12,4), saluran air limbah (p=0,000; OR=12,0), tempat sampah (p=0,003; OR=5,712), serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan (p=0,000; OR=25,2). Sementara itu, kelembapan, dinding, lantai, dan langit-langit tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan indeks kepadatan kecoa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu, pencahayaan, saluran air limbah, tempat sampah, serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kecoa di TPP Terminal Y Bandara X melalui perbaikan sanitasi dan pengendalian kondisi lingkungan secara berkelanjutan.

High cockroach density in food handling facilities (TPPs) at Terminal Y, Airport X, particularly in September 2025, significantly exceeded the environmental health quality standard (SBMKL) of <2, indicating potential sanitation problems and increased public health risks. Cockroaches are mechanical vectors of various pathogens that may threaten food safety and contribute to disease transmission. This study aimed to analyze the relationship between environmental conditions, including physical environmental factors such as temperature, humidity, and lighting, as well as sanitation factors such as wastewater drainage, walls, floors, trash cans, food/non-food storage and equipment, and ceilings, with cockroach density in food handling facilities at Terminal Y, Airport X. This study used a quantitative observational design with a cross-sectional approach. Data were collected through direct observation of environmental sanitation, measurement of physical environmental factors, and assessment of cockroach density using sticky traps. The results showed a significant relationship between temperature (p=0.002; OR=8.1), lighting (p=0.000; OR=12.4), inadequate wastewater drainage (p=0.000; OR=12.0), improper food/non-food storage and equipment arrangement (p=0.000; OR=25.2), and poor trash management (p=0.003; OR=5.712). However, humidity, walls, floors, and ceilings did not show a statistically significant relationship with cockroach density. These findings indicate that temperature, lighting, wastewater drainage, trash management, and food/non-food storage and equipment arrangement are important factors in cockroach control in food handling facilities, and improvements in sanitation and environmental control are necessary to reduce environmental health risks at Airport X.
Read More
S-12235
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Siti Nuril Farikha; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang prevalensinya terus meningkat dan dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, termasuk faktor lingkungan. Pajanan kebisingan lingkungan dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi kesehatan metabolik melalui mekanisme stres fisiologis dan gangguan regulasi hormonal. Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo merupakan kawasan yang terdampak aktivitas bandara X dan aktivitas transportasi lalu lintas sehingga berpotensi mengalami pajanan kebisingan lingkungan yang tinggi. Tujuan: Mengetahui hubungan pajanan kebisingan dengan kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan desain unmatched case-control dengan jumlah sampel 198 responden yang terdiri dari 112 kasus dan 86 kontrol. Data primer diperoleh melalui pengukuran kebisingan menggunakan Sound Level Meter pada tiga titik lokasi dengan tujuh sesi waktu pengukuran. Data sekunder diperoleh dari rekam medis Puskesmas Temon. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh titik pengukuran memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu kebisingan kawasan permukiman, dengan rata-rata sebesar 73.84 dB(A). Analisis bivariat menunjukkan bahwa pajanan kebisingan tidak berpengaruh terhadap kejadian DM (p-value = 0.624). Variabel usia, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan berpengaruh terhadap kejadian DM pada analisis bivariat, sedangkan jenis kelamin, tekanan darah, dan indeks massa tubuh tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia merupakan satu-satunya variabel yang tetap berpengaruh terhadap kejadian DM setelah dikontrol bersama variabel lain dalam model. Kesimpulan: Pajanan kebisingan tidak berpengaruh terhadap kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo. Namun, seluruh lokasi penelitian memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu kebisingan permukiman. Usia merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di wilayah penelitian. Kata kunci: diabetes mellitus, kebisingan lingkungan, pajanan kebisingan, case-control


Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease with an increasing global prevalence and is influenced by various risk factors, including environmental factors. Long-term exposure to environmental noise is suspected to affect metabolic health through physiological stress responses and hormonal dysregulation. The working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency, is located near an airport and is potentially exposed to high levels of environmental noise generated by “X” aircraft operations and road traffic activities. Objective: To determine the association between noise exposure and the incidence of Diabetes Mellitus among residents in the working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency, in 2026. Methods: This study employed an unmatched case-control design involving 198 respondents, consisting of 112 cases and 86 controls. Primary data were collected through noise measurements using a Sound Level Meter at three measurement locations with seven observation sessions. Secondary data were obtained from the medical records of Temon Primary Health Center. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. Results: The results showed that all measurement locations exceeded the residential noise standard, with an average noise level of 73.84 dB(A). Bivariate analysis indicated that noise exposure was not significantly associated with the incidence of Diabetes Mellitus (p-value = 0.624). Age, educational level, and employment status were significantly associated with Diabetes Mellitus in the bivariate analysis, whereas sex, blood pressure, and body mass index showed no significant association. Multivariate analysis revealed that age was the only variable that remained significantly associated with Diabetes Mellitus after adjustment for other variables in the model. Conclusion:  Noise exposure was not associated with the incidence of Diabetes Mellitus among residents in the working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency. Nevertheless, all study locations were exposed to noise levels exceeding the residential noise standard. Age was identified as the most dominant factor associated with the incidence of Diabetes Mellitus in the study population. Keywords: Diabetes Mellitus, environmental noise, noise exposure, case-control study.

Read More
S-12258
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive