Ditemukan 37 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Zuliyawan; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Abdur Rahman, Febriyetty
S-6436
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mutiara Soprima; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Abdur Rahman, Oktavia
S-6660
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yenny Anggraeni; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Abdur Rahman, Didik Supriyono
S-6681
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Budiyono; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Supratman Sukowati, Abdur Rahman
S-7522
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eko Handoyo; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji, Abdur Rahman, Suhardiman
Abstrak:
Sumber utama pencemaran perkotaan adalah transportasi. BTX (Benzene,Toluene dan Xylene) adalah merupakan agen pencemar polutan udara kegiatan transportasi yang berbahaya bagi kesehatan. Petugas pintu tol merupakan kelompok berisiko tinggi terpajan BTX. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) bertujuan untuk mengetahui besarnya risiko kesehatan akibat pajanan BTX pada petugas pintu tol kebun jeruk Jakarta barat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bagian gardu pintu tol rata-rata konsentrasi (mean+SD) benzena sebesar 0,00167+0,000056 mg/m3, Toluena sebesar 0,00124+0.000049 mg/m3 dan Xylena sebesar 0,00147+0,000063 mg/m3sedangkan pada kantor administrasi konsentrasi tidak terdeteksi oleh alat (MethodDetection Limit). Rata-rata RQ benzene 0,007, toluene 0,00003 dan xylene 0,002pada petugas tol lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata RQ benzene 0,002,toluene 0,00001 dan xylene 0,007 petugas administrasi. Kesimpulan bahwa risiko nonkarsinogenik BTX semua pekerja memilikiRQ≤1. Risiko kesehatan nonkarsinogenik dan karsinogenik untuk seluruh pekerjadi gerbang pintu tol kebun jeruk pada saat ini belum menunjukkan adanya risiko.Namun demikian, tindakan pencegahan tetap perlu dilakukan dalam rangkapengendalian risk agent tersebut di masa yang akan datang.
Kata Kunci :Pintu Tol, Benzena, Toluena, Xylena, Risiko kanker, Risiko NonKanker.
The main sources of urban pollution is transportation. BTX (Benzene,Toluene and Xylene) is an air pollutant pollutant agent transport activities that areharmful to health. Worker in toll gate is high risk groups exposed to BTX.Design of this study is cross-sectional with Environmental Health RiskAnalysis approach to determine the magnitude of health risks due to exposure tobenzene, toluene and xylene in the Kebun Jeruk toll gate, west Jakarta.The results showed that at the toll collectors average concentration(mean+SD) was : benzene 0.00167+0.000056 mg/m3, toluene 0.00124+0.000049mg/m3 and xylene 0.00147+0,000063 mg/m3. while at the administrative officewas not detected (Minimum Detection Limit). The average RQ collector workersof benzene was 0.007, toluene was 0.00004, xylene was 0.002, & Atadministrative officer RQ of benzene was 0.002, toluene was 0.00001, xylene was0.0006 lower than the average of worker toll gate.In conclusion, the risk of all workers have the RQ ≤ 1. Noncarcinogenicand carcinogenic health risks to all workers at the kebun jeruk toll gate at thispoint have not shown any risk yet. Nevertheless, protections is needed in order tocontrol the risk of the agent in the future.
Keywords: Toll Gate, Benzene, Toluene, xylene, Health Risk Analysis, Risk ofcancer, Non-Cancer Risk.
Read More
Kata Kunci :Pintu Tol, Benzena, Toluena, Xylena, Risiko kanker, Risiko NonKanker.
The main sources of urban pollution is transportation. BTX (Benzene,Toluene and Xylene) is an air pollutant pollutant agent transport activities that areharmful to health. Worker in toll gate is high risk groups exposed to BTX.Design of this study is cross-sectional with Environmental Health RiskAnalysis approach to determine the magnitude of health risks due to exposure tobenzene, toluene and xylene in the Kebun Jeruk toll gate, west Jakarta.The results showed that at the toll collectors average concentration(mean+SD) was : benzene 0.00167+0.000056 mg/m3, toluene 0.00124+0.000049mg/m3 and xylene 0.00147+0,000063 mg/m3. while at the administrative officewas not detected (Minimum Detection Limit). The average RQ collector workersof benzene was 0.007, toluene was 0.00004, xylene was 0.002, & Atadministrative officer RQ of benzene was 0.002, toluene was 0.00001, xylene was0.0006 lower than the average of worker toll gate.In conclusion, the risk of all workers have the RQ ≤ 1. Noncarcinogenicand carcinogenic health risks to all workers at the kebun jeruk toll gate at thispoint have not shown any risk yet. Nevertheless, protections is needed in order tocontrol the risk of the agent in the future.
Keywords: Toll Gate, Benzene, Toluene, xylene, Health Risk Analysis, Risk ofcancer, Non-Cancer Risk.
S-8282
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aish Baity Kurnia; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Abdur Rahman, Setyadi
Abstrak:
Benzo(a)pyrene (BaP) merupakan salah satu golongan PAHs. IARC menetapkan benzo(a)pyrene (BaP) sebagai penyebab kanker pada hewan dan mungkin pada manusia (Group 2A). Sumber BaP dari buangan kendaraan bermotor, pembakaran kayu dari perapian, fly ash dari pembangkit listrik dengan bahan batubara atau proses pembakaran lainnya. SMPN 16 Bandung terletak di Jalan P.H. Hasan Mustafa No.53 yang merupakan jalan raya utama padat lalu lintas, dekat dengan SPBU memiliki risiko terpajan BaP. Penelitian ini dilakukan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan pajanan BaP pada anak SMPN 16 Bandung kelas VIII. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2017. Metode yang digunakan adalah metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Nilai estimasi risiko kesehatan non karsinogenik dinyatakan dengan Risk Quotient (RQ) dan estimasi risiko kesehatan karsinogenik dinyatakan dengan Excess Cancer Risk (ECR). Konsentrasi BaP di udara ambient lingkungan sekolah diukur dan karakteristik pola pajanan responden diperoleh dari hasil wawancara langsung. Nilai konsentrasi BaP pada pengambilan 10 titik nilainya sama <0,002 ppm atau <0,02 mg/m3 . Nilai median dari intake non karsinogenik (CDI) untuk durasi life span adalah 0,0008 (mg/kg/hari)-1 , nilai median intake non karsinogenik untuk real time (1,8 tahun) adalah 6,05 x 10 -5 (mg/kg/hari)-1 , pajanan (3 tahun) adalah 0,0001 (mg/kg/hari)-1 , dan pajanan (6 tahun) adalah 0,0002 (mg/kg/hari) -1 . Nilai median intake karsinogenik (LADD) sebesar 0,0003 (mg/kg/hari)-1 . Nilai median tingkat risiko non karsinogenik (RQ) untuk durasi life span adalah 1,46 x 106 , durasi real time (1,8 tahun) adalah 1,05 x 105 , pajanan (3 tahun) adalah 1,76 x 105 , dan pajanan (6 tahun) adalah 3,52 x 105 . Nilai median tingkat risiko karsinogenik (ECR) adalah 0,0006. Nilai RQ berisiko dan ECR aman. Manajemen risiko dan rekomendasi kesehatan diperlukan untuk meminimalisir risiko kesehatan pajanan BaP.
Kata kunci: Benzo(a)pyrene (BaP), Siswa SMPN 16 Bandung, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan
Read More
Kata kunci: Benzo(a)pyrene (BaP), Siswa SMPN 16 Bandung, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan
S-9432
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ony Rosalia; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Abdur Rahman, Carolina Rusdy
Abstrak:
Peningkatan kendaraan transportasi menyebabkan pencemaran udara. PM2,5 polutan utama memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan. Kondisi cekungan Bandung menyebabkan polutan terperangkap karena penyebaran polutan terhambat. Penelitian bertujuan menganalisis risiko kesehatan pada remaja siswa SMPN 16 Bandung akibat pajanan inhalasi PM2,5 di lingkungan sekolah dengan menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi PM2,5 dilakukan pada 10 titik dengan sampel siswa kelas VIII sebanyak 66 siswa yang dipilih secara acak. Rata-rata konsentrasi PM2,5 sebesar (29,34 μg/m3), masih di bawah nilai baku mutu menurut PP Nomor 41 Tahun 1999 (65 μg/Nm3). Adanya peningkatan Intake realtime, 3 tahun dan 12 tahun secara berturut-turut 7.53x10-5, 1.25x10-4, 5.02x10-4 mg / kg / hari. Intake PM2,5 tinggi pada siswa dengan berat badan rendah dibandingkan dengan siswa dengan berat badan yang besar. Estimasi risiko kesehatan dinyatakan sebagai risk quotient (RQ) yang dihitung dari rata-rata intake pajanan PM2,5 terhadap siswa dan dosis referensi (RfC), RQ>1 menunjukkan risiko perlu dikendalikan. Hasil analisis dengan durasi pajanan realtime, 3 tahun, dan 12 tahun menunjukkan batas aman terhadap pajanan PM2,5 (RQ < 1). Diperlukan upaya pengendalian sumber pencemar PM2,5 di lingkungan sekolah melalui penanaman pohon, tidak membakar sampah dan membersihkan ruang kelas setiap hari untuk mengurangi tingkat pencemaran PM2,5 di sekolah.
Kata kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan , PM2,5, Remaja Siswa, Sekolah
Read More
Kata kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan , PM2,5, Remaja Siswa, Sekolah
S-9467
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tiara Dhesi Anggraeni; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Abdur Rahman
Abstrak:
Permukiman Nelayan Kali Adem Muara Angke berlokasi di tepian Perairan Teluk Jakarta yang telahtercemar Kadmium. Masyarakat disana terbiasa mengonsumsi ikan yang berasal dari Pasar Ikan GrosirMuara Angke, dimana pasokan ikan yang dijual berasal dari Perairan Teluk Jakarta dan sebagian dari PantaiUtara Pulau Jawa. Pengonsumsian ikan dari perairan yang tercemar berisiko menimbulkan gangguankesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko pajanan Kadmium daripengonsumsikan ketiga jenis ikan yaitu ikan kembung, ikan tongkol dan ikan bandeng, pada masyarakat diPermukiman Nelayan Kali Adem melalui pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan (Chronic Daily Intake) Kadmium melalui ikan yaitu sebesar9 x 10-5 mg/kg/hari, dengan laju asupan (R) sebesar 153,3 gram/hari, frekuensi pajanan (fE) selama 312hari/tahun, durasi pajanan (Dt) selama 26 tahun dan rata-rata berat badan (Wb) sebesar 59 kg. Hasilperhitungan tingkat risiko (RQ) pada pajanan real time untuk jenis ikan kembung, ikan tongkol dan ikanbandeng berturut-turut sebesar 0,070; 0,012; 0,006. Pada estimasi pajanan 10 tahun sebesar 0,097; 0,017;0,008. Pada estimasi pajanan 20 tahun sebesar 0,124; 0,022; 0,011. Dan untuk estimasi pajanan 30 tahunsebesar 0,152; 0,027; 0,013. Hasil tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di Permukiman Nelayan KaliAdem Muara Angke secara populasi belum memiliki risiko dan masih aman dari timbulnya gangguankesehatan nonkarsinogenik akibat pajanan Kadmium dari pengonsumsian ikan untuk pajanan saat inihingga estimasi 30 tahun mendatang, dengan asumsi bahwa sumber pajanan hanya berasal dari ikan dantidak memperhitungkan pajanan Kadmium dari sumber lain.kata kunci : analisis risiko kesehatan lingkungan; ikan; kadmium; muara angke; pencemaran air laut
Kali Adem Muara Angke Fisherman Community located on the shores of Jakarta Bay which have beenpolluted by Cadmium. The community always eats fish from Pasar Ikan Grosir Muara Angke, where thesupplies of fish are from Jakarta Bay and partly from North Coast of Java Island. The consumptions ofcontaminated fish would pose a risk of health problems. This study aimed to determine the level of riskexposure to Cadmium at Kali Adem Muara Angke Fisherman Community through Environmental HealthRisk Analysis (EHRA) approach. The results showed that the intake (Chronic Daily Intake) of Cadmiumin fish at 9 x 10-5 mg/kg/hari, with the fish intake rate of 153,3 gram/day, frequency of exposure at 312days/year, duration of exposure for 26 years and the average body weight of 59 kg. The results of riskquotient (RQ) analysis for real time exposure in kembung fish, tongkol fish and bandeng fish are 0,070;0,012; 0,006. For 10 years exposure estimation, the results of risk quotient (RQ) are 0,097; 0,017; 0,008.For 20 years exposure estimation are 0,124; 0,022; 0,011. And for the 30 years exposure estimation are0,152; 0,027; 0,013. The results showed that the fisherman community, do not have risks and still safe fromthe noncarcinogenic health risk at this time to 30 years ahead, based on the assumption that Cadmiumexposure comes from fish only and do not take into the Cadmium exposure from the other sources.keywords : cadmium; environmental health risk assessment; fish; muara angke; sea water contamination.
Read More
Kali Adem Muara Angke Fisherman Community located on the shores of Jakarta Bay which have beenpolluted by Cadmium. The community always eats fish from Pasar Ikan Grosir Muara Angke, where thesupplies of fish are from Jakarta Bay and partly from North Coast of Java Island. The consumptions ofcontaminated fish would pose a risk of health problems. This study aimed to determine the level of riskexposure to Cadmium at Kali Adem Muara Angke Fisherman Community through Environmental HealthRisk Analysis (EHRA) approach. The results showed that the intake (Chronic Daily Intake) of Cadmiumin fish at 9 x 10-5 mg/kg/hari, with the fish intake rate of 153,3 gram/day, frequency of exposure at 312days/year, duration of exposure for 26 years and the average body weight of 59 kg. The results of riskquotient (RQ) analysis for real time exposure in kembung fish, tongkol fish and bandeng fish are 0,070;0,012; 0,006. For 10 years exposure estimation, the results of risk quotient (RQ) are 0,097; 0,017; 0,008.For 20 years exposure estimation are 0,124; 0,022; 0,011. And for the 30 years exposure estimation are0,152; 0,027; 0,013. The results showed that the fisherman community, do not have risks and still safe fromthe noncarcinogenic health risk at this time to 30 years ahead, based on the assumption that Cadmiumexposure comes from fish only and do not take into the Cadmium exposure from the other sources.keywords : cadmium; environmental health risk assessment; fish; muara angke; sea water contamination.
S-10498
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Deny Tri Wulandari; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Abdur Rahman, Wijayanto
Abstrak:
Pajanan PM2.5 berhubungan dengan kematian akibat penyakit kardiovaskular dan pernafasan. Konsentrasi PM2.5 meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi besarnya risiko yang muncul pada pekerja sebagai populasi berisiko di Terminal Terpadu Kota Depok akibat pajanan PM2.5 di udara ambien. Besar risiko dianalisis menggunakan metode analisis risiko kesehatan lingkungan. Untuk menghitung besarnya risiko dilakukan sampling konsentrasi PM2.5 pada 3 titik yang diukur pada pagi, siang, dan sore, serta survei antropometri dan pola aktivitas pada 63 pekerja di terminal. Konsentrasi rata-rata PM2.5 adalah 61,67 µg/m 3 . Hasil perhitungan risiko realtime maupun lifetime menunjukkan bahwa seluruh kelompok pekerja memiliki risiko non karsinogenik (RQ>1) dengan asupan sebesar 0,005 mg/kg/hari dan 0,0106 mg/kg/hari. Berdasarkan jenis pekerjaan, perhitungan secara realtime maupun lifetime, semua jenis pekerjaan memiliki risiko non karsinogenik. Manajemen risiko yang dapat dilakukan adalah menurunkan konsentrasi PM2.5 hingga pada batas aman yaitu 23 µg/m 3 atau membatasi waktu pajanan menjadi 5 jam sehari atau 123 hari setahun atau 11,3 tahun. Kata Kunci : Analisis risiko, partikulat, PM2.5, terminal, Kota Depok
Exposure to fine particulate matter (PM2.5) is associated with mortality for cardiovascular and pulmonary disease. PM2.5 concentration increased in accordance with motor-vehicle quantity. This study aims to estimate the risk of PM2.5 exposure among workers as population at risk in Depok Integrated Terminal. The risk quotient is estimated using EHRA methodology. In order to estimate the risk, outdoor ambient air PM2.5 was observed at 3 points area (observed in the morning, afternoon, and evening at each point), and also individual anthropometry and activity pattern had been surveyed among 63 respondents. Average PM2.5 ambient concentration is 61,67 µg/m3 . The result of realtime and lifetime assessment showed that workers in general had non carcinogen risk (RQ>1) with general potential average dose of 0,005 mg/kg.day and 0,0106 mg/kg.day. Based on occupation type, both realtime and lifetime assessment showed that all occupation type had high risk quotient. The risk management that can be done is by decreasing the concentration to the safest, 23 µg/m 3 or by limiting the time of exposure. Key Words: Risk assessment, particulate matter, PM2.5, terminal, Depok
Read More
Exposure to fine particulate matter (PM2.5) is associated with mortality for cardiovascular and pulmonary disease. PM2.5 concentration increased in accordance with motor-vehicle quantity. This study aims to estimate the risk of PM2.5 exposure among workers as population at risk in Depok Integrated Terminal. The risk quotient is estimated using EHRA methodology. In order to estimate the risk, outdoor ambient air PM2.5 was observed at 3 points area (observed in the morning, afternoon, and evening at each point), and also individual anthropometry and activity pattern had been surveyed among 63 respondents. Average PM2.5 ambient concentration is 61,67 µg/m3 . The result of realtime and lifetime assessment showed that workers in general had non carcinogen risk (RQ>1) with general potential average dose of 0,005 mg/kg.day and 0,0106 mg/kg.day. Based on occupation type, both realtime and lifetime assessment showed that all occupation type had high risk quotient. The risk management that can be done is by decreasing the concentration to the safest, 23 µg/m 3 or by limiting the time of exposure. Key Words: Risk assessment, particulate matter, PM2.5, terminal, Depok
S-9255
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Izzah Aisyah Ridlani; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Abdur Rahman, Heny Mayawati
Abstrak:
Benzena merupakan bahan kimia yang terbukti karsinogenik serta bersifat genotoksik pada manusia. Salah satu penggunaan benzena adalah lem yang digunakan di industri mebel atau furniture. Penelitian ini dilakukan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan pajanan benzena pada pekerja industri mebel. Yang menjadi tempat penelitian adalah workshop kayu yang berada Kawasan Gotong Royong, Klender, Jakarta Timur. Penelitian dilakukan selama bulan November hingga Maret 2016. Metode yang digunakan adalah metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Nilai estimasi risiko kesehatan non karsinogenik dinyatakan dengan Risk Quetient dan estimasi risiko kesehatan karsinogenik dinyatakan dengan Excess Cancer Risk. Konsentrasi benzena di udara lingkungan kerja diukur dan karakteristik pola pemajanan responden didapatkan dari hasil wawancara langsung. Didapatkan bahwa nilai median konsentrasi benzena di udara lingkungan kerja di Kawasan Gotong Royong sebesar 0,508 mg/m3 atau 0,159 ppm. Nilai median dari intake non karsinogenik untuk durasi life span adalah 0,016 mg/kg/hari, sedangkan nilai median dari intake non karsinogenik real time sebesar 0,00073 mg/kg/hari. Nilai median dari intake karsinogenik sebesar 0,00026 mg/kg/hari. Dari nilai intake, didapat besar tingkat risiko non karsinogenik (RQ) untuk durasi life span sebesar 1,90 dan RQ real time sebesar 0,085. Sedangkan tingkat risiko karsinogenik (ECR) dengan CSF minimal sebesar 0,4E-4 dan ECR dengan CSF maksimal sebesar 1,5E-4. Nilai RQ life span dan nilai ECR maksimal sudah melewati batas aman sehingga udara di lingkungan kerja Kawasan Gotong Royong sudah tidak aman dari risiko kesehatan non karsinogenik dan risiko kesehatan karsinogenik pajanan benzena dengan intake sesuai masing-masing responden. Diperlukan manajemen risiko untuk meminimalisir risiko kesehatan pajanan benzena. Kata Kunci: Benzena, Lem Kayu, Workshop Kayu, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan
Read More
S-9087
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
