Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Amala Rahmatia Putri; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Mularsih Restianingrum
S-9832
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Sondang Margaret Simanjuntak; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Johanes Edy Siswanto; Penguji: Helda, Mularsih Restianingrum
Abstrak:
Kelainan bawaan yang sering dijumpai pada bayi baru lahir adalah defek kongenital traktus gastrointestinal atau saluran pencernaan. Defek kongenital traktus gastrointestinal yang cukup sering dijumpai adalah gastroskisis dan omfalokel. Hingga saat ini penelitian mengenai kesintasan neonatus dengan abdominal wall defects belum pernah dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesintasan pada neonatus dengan abdominal wall defects, secara khusus pada gastroskisis dan omfalokel, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Indonesia. Penelitian kohort retrospektif ini melibatkan pasien yang dirawat di NICU RSAB Harapan Kita pada tahun 2015-2019. Data diambil dari rekam medis pasien dan meliputi usia ibu, usia kehamilan, gravida, berat bayi lahir, kelainan kromosom, kelainan jantung, komplikasi sepsis, metode lahiran bayi, tempat lahir dan operasi koreksi defek. Analisis data dilakukan secara bivariat melalui uji log-rank dan dilanjutkan dengan analisis multivariat cox regression. Sebanyak 85 subjek terlibat dalam ini, yang terdiri atas 62 subjek omfalokel dan 23 subjek gastroskisis. Median kesintasan dari subjek pada penelitian ini adalah 27 (13-41) hari, dengan median kesintasan pada kelompok omfalokel adalah 31 (22-40) hari sementara bayi kelompok gastroskisis adalah 8 (0-19) hari. Secara keseluruhan, adanya kelainan jantung merupakan faktor yang memengaruhi kesintasan pada seluruh subjek dengan defek dinding abdomen (HR 2,68; IK95% 1,38-5,18; p=0,003). Gravida pertama menjadi faktor risiko kematian subjek dengan gastroskisis (HR 4,2; IK95% 1,07-16,55; p=0,040) dan komplikasi menjadi faktor protektif terhadap kematian pada subjek dengan gastroskisis (HR 0,15; IK95% 0,03-0,54; p=0,011). Sementara itu, BBL

Gastrointestinal tract birth defects are commonly found in newborn babies. Omphalocele and gastroschisis are the two most common digestive tract birth defects. To this point, no study has previously analysed the survival of neonates with abdominal wall defects in Indonesia. This present study aims to explore the survival of neonates with abdominal wall defects, particularly in gastroschisis and omphalocele, along with their associated factors in Indonesia. This retrospective cohort study involves patients admitted to NICU of RSAB Harapan Kita during the period of 2015-2019. Data were collected from their medical records which include maternal age, gestation age, gravida status, birth weight, chromosome anomalies, cardiac anomalies, sepsis, mode of delivery, place of birth, and surgical correction of defect. Bivariate analysis was performed with log-rank test, followed by multivariate cox regression survival analysis. Eighty-five subjects were involved in this study, consisting of 62 patients with omphalocele and 23 patients with gastroschisis. Median survival of all subjects in this study was 27 (13-41) days, while the median survival of those with omphalocele was 31 (22-40) days and those with gastroschisis was 8 (0-19) days. Overall, cardiac anomalies adversely affected the survival of patients with abdominal wall defects (HR 2,68; 95% CI 1,38-5,18; p=0,003). Primigravida was a risk factor for mortality in patients with gastroschisis (HR 4,2; 95% CI 1,07-16,55; p=0,040) and sepsis was found to be protective of mortality in gastroschisis patients (HR 0,15; IK95% 0,03-0,54; p=0,011). Meanwhile, birth weight of less than 2,500 gram and the presence of cardiac anomalies were found to be risk factors for mortality in patients with omphalocele. Primigravida and sepsis were factors affecting survival in gastroschisis, while low birth weight and cardiac anomalies were factors affecting survival in omphalocele
Read More
T-6250
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stevy Elisabeth Dame Simamora; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Helda; Yosyah; Penguji: Soewarta Kosen, Mularsih Restianingrum
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Stevy Elisabeth Dame Simamora Program Studi : Epidemiologi Judul : Pengaruh Paparan Asap Rokok Dari Suami Pada Wanita Usia 15-57 Tahun Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di Indonesia (Analisis Data Lanjutan IFLS V Tahun 2014) Pembimbing : DR. dr. Sudarto Ronoatmodjo S.K.M., M.Sc Di Indonesia berdasarkan hasil riskesdas tahun 2013 menunjukkan angka nasional BBLR yaitu sekitar 10,2%. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011 diperoleh hasil bahwa 67% laki-laki di Indonesia merokok. (1) Sementara itu pada tahun 2011-2015 prevalensi perokok pasif yang terpapar asap rokok di rumah sekitar 78.4%, lebih dari separuh perokok pasif adalah kelompok rentan seperti perempuan dan balita. (2).  Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui hubungan paparan asap rokok dari suami pada wanita usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui hubungan paparan asap rokok dari suami pada wanita usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR. Penelitian ini menganalisis data IFLS V tahun 2014.Jumlah wanita usia 15-57 tahun yang menjadi responden IFLS V sebanyak 2.721 orang. Sebanyak 1.599 orang menjadi total sampel karena telah memenuhi syarat kriteria inklusi yaitu wanita  usia 15 – 57 tahun dengan anak kelahiran terakhir yang lahir hidup dalam kurun waktu 2007-2015, Pernah melahirkan. Sedangkan kriteria ekslusi yaitu : data tentang riwayat merokok suamidan variabel kovariat  tidak lengkap, dan ibu merupakan perokok aktif. Proporsi ibu usia 15-57 tahun yang terpapar asap rokok dari suami adalah 73,5 % . Proporsi bayi  dengan berat lahir rendah yang dilahirkan oleh ibu yang terpapar asap rokok dari suami pada penelitian ini adalah 7,74 %, dan  proporsi bblr pada ibu yang tidak terpapar asap rokok dari suami yaitu 6,86%. Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara merokok pasif pada ibu usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR dengan 1,096 (CI 95% 0,721-1,66) setelah dikontrol oleh variabel riwayat kunjungan ANC. Pengaruh paparan asap rokok terhadap kejadian BBLR setelah dikontrol oleh variabel riwayat kunjungan ANC tidak bermakna. Meskipun faktor yang mempengaruhi BBLR sangat banyak dan kompleks, namun hal ini dapat dicegah sejak dini. Salah satunya melalui melindungi masyarakat dari paparan asap rokok melalui upaya pencegahan dan promosi kesehatan. Kata Kunci : bblr,merokok pasif, IFLS


ABSTRACT Name : Stevy Elisabeth Dame Simamora Study Program : Epidemiology Title : The Effect of Cigarette Smoke Exposure From Husbands In Women Aged 15-57 Years With Low Birth Weight In Indonesia (Advanced Data Analysis of IFLS V 2014) Counsellor : DR. dr. Sudarto Ronoatmodjo S.K.M., M.Sc In Indonesia based on the results of Riskesdas (Basic Health Research) in 2013 shows the national rate of LWB is about 10.2%. Based on a survey conducted by Global Adult Tobacco Survey (GATS) in 2011, it was found that 67% of men in Indonesia smoke. (1) Meanwhile in 2011-2015 the prevalence of passive smokers exposed to cigarette smoke at home is about 78.4%, more than half of passive smokers are vulnerable groups such as women and toddlers. (2). Objective: This study to see the effect of exposure to husbands cigarette smoke with the LWB. Method: This study analyzed IFLS V data in 2014. A total of 1,599 people into the total sample because it has fulfilled the inclusion criteria, namely women aged 15 - 57 years with the last born birth of children in the period 2007-2015, Ever give birth. While the exclusion criteria are: data about husbans smoking history and  covariate variable is incomplete, and mother is active smoker. Results: 73.5% of husbands were smokers. The proportion of infants with low birth weight born to mothers exposed to cigarette smoke from husbands in this study was 7.74%, and the proportion of bblr in mothers not exposed to cigarette smoke from husbands was 6.86%. There was no significant relationship between passive smoking in women aged 15-57 years with LWB incidence with 1.096 (95% CI 0.721-1.66) after controlled by antenatal care (ANC) visit variables. Conclusion: The effect of exposure to husbands smoke with the  LWB after controlled by antenatal care (ANC) visit history variable is not significant. Although the factors that affect LBW are very numerous and complex, but this can be prevented early on. One of them through protecting people from exposure to cigarette smoke through prevention efforts and health promotion. Key words : LWB, passive smoker, IFLS

Read More
T-5142
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fakhrunnisa Ahmad; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Makful Makful, Sandra Fikawati, Rahmadewi, Mularsih Restianingrum
Abstrak: Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah meletakkan bayi di dada ibu segera setelah bayi lahir dan dibersihkan untuk melakukan kontak kulit antara dada ibu dan bayi, membiarkan bayi menemukan puting ibu untuk menyusu. Proporsi IMD di Dunia sebesar 42% ; ASIA Timur 32% ; ASIA Selatan 40%; dan di Indonesia 56,5%. Penundaan IMD biasanya disebabkan karena bayi lahir dengan dengan sectio cesarea (SC) karena perawatan pasca operasi yang lama sehingga menunda kontak ibu-bayi dan kemungkinan dilakukannya IMD menjadi kecil. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh persalinan Caesar terhadap upaya pelaksanaan IMD, menggunakan data individu Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017 dengan desain cross-sectional. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu ibu dengan bayi yang melakukan IMD (n=8418) dan ibu dengan bayi yang tidak melakukan IMD (n=4238). Data bersifat kategorik dan dianalisis dengan uji regresi logistik ganda. Persalinan dengan SC berisiko 2,7 kali untuk tidak melakukan IMD setelah dikontrol oleh variabel paritas; kunjungan ANC; berat lahir; interaksi antara persalinan Caesar dengan pekerjaan suami; interaksi antara persalinan Caesar dengan pendidikan ibu; dan interaksi antara persalinan Caesar dengan kunjungan ANC. Diharapkan agar dilakukan penapisan secara ketat agar persalinan tanpa indikasi tidak dilakukan tindakan SC, sehingga menurukan angka persalinan SC. Dibuatnya undang-undang mengenai upaya pelaksanaan IMD segera setelah bayi lahir baik bayi yang lahir dengan pervaginam maupun SC
Early initiation of breastfeeding (EIBF) is placing the baby on the mother's chest as soon as the baby is born and clean to make sure skin-to-skin contact between the mother's chest and the baby, letting the baby find the mother's nipple. The proportion of EIBF in the world was 42%; East ASIA 32%; South ASIA 40%; and in Indonesia 56.5%. Delayed of initiation of breastfeeding was usually caused by the baby was born by cesarean section (CS) because prolonged postoperative care, delaying mother-infant contact, making EIBF less likely. This study was conducted to determine the effect of the CS delivery on the implementation of early initiation of breastfeeding using the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) data with a cross-sectional design. The sample of this study were grouped into two groups, baby-mothers who did EIBF (n=8418) and babymothers who did not EIBF (n=4238). Data were categorical and analyzed by multiple logistic regression tests. Delivery with c-section had a 2.7 times risk of not getting EIBF after being controlled by the parity variable; ANC visit; birth weight; the interaction between the type of delivery and the work of the husband; the interaction between the type of delivery and the mother's education; and the interaction between the type of delivery and the ANC visit. It is hoped that a strict screening will be carried out so that deliveries without indications will not be performed by c-section, thereby reducing the number of CS deliveries. The drafting of a law regarding the implementation of EIBF immediately after the baby is born, either babies born with vaginal or CS
Read More
T-6057
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Chaliq Setiawan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Trisari Anggondowati, Layla Mahmudah dan Mularsih Restianingrum
Abstrak:
Kematian neonatal merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian derajat kesehatan masyarakat dari suatu wilayah. Peningkatan kasus kematian neonatal yang terjadi secara signifikan di wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala merupakan hal yang perlu ditelaah lebih dalam mengingat adanya kesamaan karakteristik ketiga wilayah tersebut yang masuk ke dalam satu rumpun wilayah. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kematian neonatal di ketiga wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional yaitu desain kasus kontrol dengan perbandingan 1:1.5 pada masing-masing kelompok kasus dan kontrol. Sampel penelitian ini berjumlah 154 sampel dengan penggunaan teknik sampling total sampling. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data primer yang bersumber dari data otopsi verbal perinatal (OVP) dan rekam medik perinatal (RMP) yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ataupun puskemas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas kematian neonatal terjadi pada masa neonatal dini, adapun faktor risiko kematian neonatal di Wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala adalah faktor riwayat komplikasi persalinan terakhir (aOR=4.082; 95%CI=1.873-8.893), faktor pendidikan bapak (aOR=3.067; 95%CI=1.432-6.569), dan faktor berat badan lahir neonatus (aOR=3.041; 95%CI=1.427-6.481). Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pentingnya meningkatkan upaya perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi kepada ibu beserta keluarga untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya kematian neonatal.

Neonatal death is an important indicator in assessing an area's public health degree. The significant increase in cases of neonatal deaths that occurred in the areas of Palu City, Sigi Regency, and Donggala Regency is something that needs to be studied more deeply considering the similarities in the characteristics of these three areas which fall into one regional group. This study aimed to obtain risk factors associated with neonatal death in these three regions. This research uses an observational study design, namely a case-control study with a ratio of 1:1.5 in each case and control group. The sample for this research consisted of 154 samples using sampling techniques total sampling. The data used in this research is primary data sourced from perinatal verbal autopsy data (OVP) and perinatal medical records (RMP) originating from the District/City Health Office or primary health centers. The results of this study show that the majority of neonatal deaths occur in the early neonatal period, while the risk factors for neonatal deaths in the Palu City, Sigi Regency, and Donggala Regency areas are a history of recent birth complications (aOR=4.082; 95%CI=1.873-8.893), father's education factor (aOR=3.067; 95%CI=1.432-6.569), and newborn birth weight factor (aOR=3.041; 95%CI=1.427-6.481). Based on the results of this research, it can be seen that it is important to increase efforts to plan birth and prevent complications for mothers and their families to minimize the possibility of neonatal death.
Read More
T-7047
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noralisa; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Evi Martha, Toha Muhaimin, Mularsih Restianingrum, Intan Endang S. Damanik
Abstrak: Angka kematian ibu dikalangan Suku Anak Dalam (SAD) sangat tinggi. Setiap tahun sejakTahun 2012 sampai Tahun 2017 terjadi satu kematian ibu. Penyebab utama adalah perdarahan daninfeksi, penyebab tidak langsung adalah faktor budaya dimana persalinan ditolong oleh dukun beranakdan tempat persalinan di pondok. Tujuan penelitian adalah untuk memotret keselarasan peran bidan dandukun dalam pandangan SAD pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Metode penelitian kualitatifdengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat tiga aktifitas SAD pada masakehamilan, persalinan, dan nifas yaitu cara perawatan diri dan cara mencegah terjadi bahaya kehamilan,persalinan, dan nifas, pemilihan tenaga penolong, serta upacara ritual, hal dominan yang mempengaruhiaktifitas selama kehamilan ,persalinan, dan nifas adalah pengalaman yang lalu, perasaan Saat Ini, anjurandan Pantangan , pusat kekuatan pengambilan Keputusan. SAD menyatakan bahwa bidan hanya memilikiperhatian yang positif dalam memberikan pelayanan kesehatan, sedangkan dukun mampu memberikantiga unsur inti pertolongan. Bidan menyatakan Sulit berkomunikasi dan jarang melakukan interaksidengan SAD, sedangkan dukun mampu berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan SAD. Dukunmenyatakan SAD memiliki kepatuhan terhadap tradisi dalam pemilihan penolong, sedangkan bidanmenjaga jarak dengan SAD. Menurut temenggung SAD akan memilih bidan sebagai penolong, apabiladukun tidak mampu lagi memberikan pertolongan.Kata kunci: peran bidan;peran dukun;Suku Anak Dalam (SAD);kehamilan;persalinan;nifas
view Suku Anak Dalam (SAD) in Pregnancy, Delivery, and Postpartumat Tebo, Jambi 2018Maternal mortality rate among Suku Anak Dalam (SAD) is very high. Every year from 2012to 2017 there is one maternal death. The main cause is bleeding and infection, indirect cause is a culturalfactor where labor is helped by traditional birth attendants (TBA) and place of birth in the lodge. Theobjective of the study was to photograph the harmony of the role of midwives and TBA in the view ofSAD during pregnancy, maternity, and childbirth. Qualitative research method with ethnographyapproach. The results showed that there were three SAD activities during pregnancy, maternity, andchildbirth, namely self-care and how to prevent the occurrence of danger of pregnancy, maternity, andchildbirth, the selection of rescue workers, as well as ritual ceremonies, dominant things that affectactivities during pregnancy, maternity, and childbirth are past experiences, current feelings, suggestionsand abstinences, centers of decision-making power. SAD states that midwives have only positiveattention in providing health services, whereas TBA are able to provide three core elements of relief.Midwives say Difficult to communicate and rarely interact with SAD, while TBA are able tocommunicate and interact well with SAD. TBA claim SAD has adherence to tradition in helper election,while midwife keeps distance with SAD. According to the Chief of SAD the midwife will choose as ahelper, if the TBA is unable to provide help.Keywords: midwife's role;TBA's role; Suku Anak Dalam (SAD); pregnancy; maternity; childbirth.
Read More
T-5435
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sisca Rusmawati; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Martya Rahmaniati M., Sabarinah, Mularsih Restianingrum, Nunung Nurhayati
Abstrak: Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu alat ukur untuk menilai keberhasilan pencapaian pembangunan kesehatan, berdasarkan data Angka Kematian Ibu Kota Tangerang tahun 2021 melebihi target RENSTRA yaitu 15,4/100.000 KH, sedangkan target RENSTRA 12,9/100.000 KH dan jumlah kematian ibu dari tahun 2017-2021 cenderung stagnan, berdasarkan hasil analisa AMP penyebab kematian maternal di Kota Tangerang tahun 2016-2021, 89,8% kematian maternal dapat dicegah, dengan faktor penyebab terbanyak yang dapat dicegah 68,5% dari faktor penyedia layanan, kemampuan dalam melakukan tindak lanjut atas rekomendasi AMP-SR Kota Tangerang dikategorikan “menengah” karena tindak lanjut atas rekomendasi sebanyak 59,4% sehingga perlu dilakukan evaluasi pelaksanaan AMP-SR di Kota Tangerang untuk peningkatan kualitas pelayanan dan penurunan Angka Kematian Ibu. AMPSR merupakan proses yang perlu dan penting dilakukan dalam upaya menurunkan kematian maternal, baik di tingkat fasilitas maupun di tingkat kabupaten/kota. Dengan demikian perlu dipastikan proses AMP dilaksanakan dengan benar dan berkualitas sesuai Pedoman AMPSR. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan Audit Maternal Perinatal Surveilans Respons (AMP-SR) di Kota Tangerang, jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, menggunakan desain penelitian studi kasus untuk memberikan informasi detail terkait variabel input, proses dan produk dalam evaluasi pelaksanaan Audit Maternal Perinatal Surveilans Respons (AMP-SR) di Kota Tangerang Tahun 2022, penelitian dilakukan di Kota Tangerang pada bulan Mei sampai Juni 2023 dengan jumlah informan 16 orang, data diperoleh dengan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan AMP-SR di Kota Tangerang sebagian besar belum optimal dan belum sesuai pedoman AMPSR terutama di komponen input yaitu regulasi dan SDM, komponen proses yaitu pencatatan, pelaporan dan pengkajian kasus kematian, serta di komponen produk yaitu respons tindak lanjut. Keberhasilan AMP-SR yang baik dan bermutu akan terwujud jika ada komitmen yang kuat dari semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan AMP-SR, perlu adanya intervensi berkelanjutan untuk memantau dan mengevaluasi pelaksanaan AMP-SR secara bertahap. Pentingnya siklus AMP-SR dilaksanakan secara utuh agar dapat digunakan untuk pembelajaran yang berkelanjutan sehingga tidak terjadi kematian ibu berulang dengan penyebab dan pelaku yang sama.

The Maternal Mortality Rate (MMR) is a measuring tool to assess the success of achieving health development, based on data from the 2021 Tangerang City Mortality Rate exceeding the RENSTRA target of 15.4/100,000 live births, while the RENSTRA target is 12.9/100,000 live births and the number of deaths mothers from 2017-2021 tends to be stagnant, based on the results of the AMP analysis for causes of maternal death in Tangerang City in 2016-2021, 89.8% of maternal deaths can be prevented, with the most preventable factors 68.5% from service provider factors, ability in following up on the AMP-SR recommendations, Tangerang City is categorized as "medium" because the follow-up on recommendations is as much as 59.4%, so it is necessary to evaluate the implementation of AMP-SR in Tangerang City to improve service quality and reduce maternal mortality.AMPSR is a necessary and important process in an effort to reduce maternal mortality, both at the facility level and at the district/city level. It is necessary to ensure that the AMP process is carried out correctly and with quality according to the AMPSR Guidelines. This study aims to analyze the implementation of the Maternal Perinatal Surveillance Response (AMP-SR) Audit in Tangerang City, this type of research is qualitative research, using a case study research design to provide detailed information regarding input, process and product variables in evaluating the implementation of the Maternal Perinatal Surveillance Audit Response (AMP-SR) in Tangerang City in 2022, research was conducted in Tangerang City from May to June 2023 with a total of 16 informants, data obtained by indepth interviews and Focus Group Discussions (FGDs). The results showed that the implementation of AMP-SR in Tangerang City was mostly not optimal and did not comply with the AMPSR guidelines, especially in the input component, namely regulation and human resources, the process component, namely recording, reporting and review of death cases, and in the product component, namely the follow-up response. The success of a quality AMP-SR will be realized if there is a strong commitment from all parties involved in the implementation of the AMP-SR, there is a need for continuous intervention to monitor and evaluate the implementation of the AMP-SR in stages. It is important that the AMP-SR cycle is carried out in its entirety so that it can be used for continuous learning so that there are no repeated maternal deaths with the same causes and perpetrators.
Read More
T-6713
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive