Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Faridah; PembiumbingL: Hasbullah Thabrany; Penguji: Anwar Hasan, Hafizurrachman, Rosita, Ella Nurlelawati
T-2404
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurhidayati Suparno; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Lutfi Sidasi , Rosita Alkatiri
Abstrak:
Read More
Manajemen pelayanan kesehatan memegang peranan penting dalam memastikan bahwa layanan yang diberikan sesuai dengan harapan dan kebutuhan pengguna jasa. Upaya peningkatan kualitas pelayanan tidak hanya mencakup aspek teknis medis, tetapi juga aspek manajerial. Laporan pengaduan masyarakat menjadi masalah dalam pelayanan dengan keluhan dan komplain pengguna jasa. Tujuan penelitian untuk menganalisis gambaran perspektif pengguna jasa terhadap pelayanan kesehatan dan upaya peningkatan kualitas di Balai Kekarantinaa Kesehatan Kelas I Ternate berdasarkan 5 dimensi Servqual. Metode penelitian kombinasi (mixed methods), responden 106 orang dan informan 8 orang, data kuantitatif deskriptif,uji Chi Square, diagram kartesius dan wawancara mendalam. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas responden merupakan individu dewasa dengan rentang usia produktif 30-59 tahun, di dominasi oleh laki-laki, memiliki latar belakang pendidikan tinggi sehingga menunjukkan ekspektasi yang tinggi terhadap efisiensi pelayanan. Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan(0,000), dan pekerjaan(0,000) dengan kualitas layanan. Dimensi Tangible(0,30), Realibility (-0,13), Responsiveness(0,01), Assurance(0,00), dan Empathy(-0,41), masih terdapat beberapa gap di setiap dimensi servqual. Analisis diagram kartesius didapatkan 6 atribut layanan prioritas perbaikan yaitu kecepatan administrasi, pelayanan langsung oleh dokter, kecepatan pemberian informasi, kompetensi petugas, dan perlindungan data. Secara keseluruhan telah menunjukkan kinerja yang baik dalam beberapa dimensi pelayanan, tetapi terdapat area kritis yang membutuhkan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kepuasan dan kepercayaan masyarakat secara menyeluruh.
Healthcare management plays an important role in ensuring that the services provided meet the expectations and needs of service users. Efforts to improve service quality not only cover technical medical aspects, but also managerial aspects. Public complaint reports are a problem in services with complaints and grievances from service users. The purpose of this study is to analyze the perspective of service users on healthcare services and quality improvement efforts at the Ternate Class I Health Quarantine Center based on the 5 dimensions of Servqual. The research method used a combination of qualitative and quantitative approaches, with 106 respondents and 8 informants. Quantitative descriptive data was analyzed using the Chi-Square test, Cartesian diagrams, and in-depth interviews. The results of the descriptive analysis show that the majority of respondents are adults in the productive age range of 30-59 years, predominantly male, with a higher education background, indicating high expectations for service efficiency. There is a significant relationship between education (0.000) and occupation (0.000) with service quality. The dimensions of Tangibles (0.30), Reliability (-0.13), Responsiveness (0.01), Assurance (0.00), and Empathy (-0.41) still have some gaps in each Servqual dimension. Cartesian diagram analysis identified six priority service attributes for improvement: administrative speed, direct service by doctors, speed of information provision, staff competence, and data protection. Overall, the hospital has demonstrated good performance in several service dimensions, but there are critical areas that require continuous improvement to enhance public satisfaction and trust comprehensively.
T-7279
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sulfi Udi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji; Yovsyah, Rosita Alkatiri, Havid Syadri Banda
Abstrak:
Penentuan daerah focus eliminasi malaria adalah sebagai upaya menghentikan penularan malaria di suatu wilayah geografi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko terjadinya penularan malaria di Kota Ternate, yang telah dideklarasikan sebagai wilayah focus eliminasi malaria. Desain penelitian menggunakan case-control, dengan mengambil semua temuan kasus malaria dari 2020-2022. Total sampel penelitian sebanyak 46 kasus yang didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium dan 92 kontrol dari hasil survei kontak pasien dan terbukti negative malaria secara laboratoris. Hasil penelitian diperoleh 95.7% merupakan kasus impor, Sebagian besar kasus adalah laki-laki (93.5%), berusia <30 tahun (47.8%), pekerja (87%), dan berlatar pendidikan SMA (80.4%). Berdasarkan faktor risiko, kasus lebih banyak ditemukan pada responden dengan jarak breeding place ≤1.5 km (69.6%), memiliki kebiasaan di luar rumah (67.4%), Riwayat perjalanan daerah endemis malaria (95.7%), dan tidak menggunakan insektisida (56.5%). Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor risiko malaria adalah laki-laki (40.11; 7.11 ? 62.40), Riwayat perjalanan ke daerah endemis (OR= 13.97; 2.24 ? 27.18), dan jarak ≤1.5 km dari breeding place (OR= 3.48; 1.29 ? 9.38). Kebiasaan di luar rumah berperan protektif terhadap terjadinya malaria (OR = 0.16; 0.04 ? 0.64). Diperlukan adanya evaluasi menyeluruh mengenai masih terjadinya penularan malaria secara local di lokasi studi. Peningkatan kualitas system surveilans malaria sangat penting agar dapat menyajikan data yang lengkap sesuai form standar dan menjadi pertimbangan pengambilan kebijakan.
Determining the focus area for malaria elimination is an effort to stop malaria transmission in a specific geographical area. This study aims to analyze the risk factors for malaria transmission in Ternate City, which has been declared a focus area for malaria elimination. The study was a case control, taking all findings of malaria cases from 2020-2022. The study's total sample was 46 cases based on the results of laboratory tests and 92 controls from a survey of patient contacts and laboratory-proven malaria negative. The results showed that most of the cases were import cases (95.7%), male (93.5%), aged <30 years (47.8%), workers (87%), and high school education background (80.4%). Based on risk factors, more cases were found in respondents with a breeding place distance of ≤1.5 km (69.6%), had a habit of being outside the home (67.4%), had a history of traveling to malaria-endemic areas (95.7%), and not use insecticides (56.5%). The risk factors for malaria were male (40.11; 7.11 ? 62.40), history of travel to endemic areas (OR= 13.97; 2.24 ? 27.18), and distance ≤1.5 km from breeding places (OR= 3.48; 1.29 ? 9.38 ). The behavior outside the home played a protective role against malaria (OR = 0.16; 0.04 ? 0.64). There is a need for a thorough evaluation regarding the persistence of malaria local transmission in the study location. Improving the quality of the malaria surveillance system is very important so that it can present complete data according to a standard form and become a consideration for policymaking.
Read More
Determining the focus area for malaria elimination is an effort to stop malaria transmission in a specific geographical area. This study aims to analyze the risk factors for malaria transmission in Ternate City, which has been declared a focus area for malaria elimination. The study was a case control, taking all findings of malaria cases from 2020-2022. The study's total sample was 46 cases based on the results of laboratory tests and 92 controls from a survey of patient contacts and laboratory-proven malaria negative. The results showed that most of the cases were import cases (95.7%), male (93.5%), aged <30 years (47.8%), workers (87%), and high school education background (80.4%). Based on risk factors, more cases were found in respondents with a breeding place distance of ≤1.5 km (69.6%), had a habit of being outside the home (67.4%), had a history of traveling to malaria-endemic areas (95.7%), and not use insecticides (56.5%). The risk factors for malaria were male (40.11; 7.11 ? 62.40), history of travel to endemic areas (OR= 13.97; 2.24 ? 27.18), and distance ≤1.5 km from breeding places (OR= 3.48; 1.29 ? 9.38 ). The behavior outside the home played a protective role against malaria (OR = 0.16; 0.04 ? 0.64). There is a need for a thorough evaluation regarding the persistence of malaria local transmission in the study location. Improving the quality of the malaria surveillance system is very important so that it can present complete data according to a standard form and become a consideration for policymaking.
T-6530
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hendro Nurcahyo; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Nurrahmiati, Rosita
Abstrak:
Read More
Kondisi saat ini presentase Puskesmas dengan jenis tenaga kesehatan sesuai standar baru mecapai 23% dan target di tahun 2024 adalah 83% maka Indonesia memiliki tugas untuk memenuhi 60% kekuranganya. Selain indikator di atas RPJMN 2020-2024 juga menargetkan 100% puskesmas di Indonesia sudah memiliki dokter akan tetapi sesuai data Kementerian Kesehatan RI per tahun 2018 masih terdapat 15% puskesmas di Indonesia belum memiliki dokter. Dalam menanggapi permasalahan mengenai pemenuhan tenaga kesehatan dapat dilakukan penugasan khusus secara individu ataupun tim dalam mendukung Program Nusantara Sehat. Penugasan khusus tenaga kesehatan dalam mendukung program Nusantara Sehat merupakan kebijakan yang potensial untuk menyelesaikan permasalahan pemerataan pelayanan kesehatan di Indonesia.Penelitian ini bertujuan mengetahui implementasi Kebijakan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2018. Dalam Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan data sekunder melalui telaah dokumen. Penelitian menggunakan teori analisis kebijakan Van Meter dan Van Horn dengan variabel ukuran dan tujuan, sumber daya, karakteristik badan pelaksana, komunikasi antar organisasi, disposisi pelaksana, serta lingkungan ekonomi, sosial, dan politik yang mempengaruhi implementasi kebijakan. Hasil penelitian didapatkan bahwa tujuan kebijakan ini masih ada yang belum terukur. Sumber daya terkendala kurangnya pemahaman akan pemanfatan dana BOK Pusekesmas yang terdapat tim Nusantara Sehat. Komunikasi antar organisasi pelaksana baik. Karakteristik pelaksana terkendala dengan keterbatasan SDM. Sikap pelaksana mendukung. Kondisi ekonomi dan politik baik dapat dikondisikan dengan adanya komunikasi yang baik. Kesimpulan didapatkan bahwa implementasi berjalan dengan baik walapun dengan kendala kendala yang ditemukan. Rekomendasi penelitian ini yaitu keberhasilan implementasi akan dicapai bila dilakukan evaluasi dan monitori dan perbaikan dari kekurangan. Kebijakan Permenkes ini dikondisikan akan mengalami revisi kembali sehingga perlu adanya perbaikan yang akan mempermudah dan memperjelas bagaimana pelaksanaan kebijakan ini
The current condition of the percentage of Puskesmas with types of health workers according to new standards has reached 23% and the target in 2024 is 83%, so Indonesia has a duty to meet 60% of its shortcomings. In addition to the indicators above, the 2020-2024 RPJMN also targets that 100% of puskesmas in Indonesia already have doctors, but according to data from the Indonesian Ministry of Health as of 2018 there are still 15% of puskesmas in Indonesia that do not have doctors. In responding to problems regarding the fulfillment of health workers, special assignments can be carried out individually or in teams to support the Healthy Nusantara Program. The special assignment of health workers in supporting the Nusantara Sehat program is a potential policy to solve the problem of equal distribution of health services in Indonesia. This study aims to determine the implementation of the Health Workforce Special Assignment Policy in the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 33 of 2018. In this study using qualitative methods with primary data obtained through in-depth interviews and secondary data through document review. The study used Van Meter and Van Horn's theory of policy analysis with variables of size and objectives, resources, characteristics of the implementing agency, communication between organizations, implementing dispositions, and the economic, social and political environment that influence policy implementation.The results showed that the objectives of this policy are still not measurable. Resources are constrained by a lack of understanding of the use of BOK Pusekesmas funds available by the Nusantara Sehat team. Good communication between implementing organizations. The characteristics of the implementer are constrained by limited human resources. The attitude of the executor is supportive. Good economic and political conditions can be conditioned by good communication. The conclusion was that the implementation went well even with the obstacles that were found. The recommendation of this research is that the successful implementation will be achieved if evaluation and monitoring and correction of deficiencies are carried out. This Permenkes policy is conditioned to undergo revision again so that improvements are needed that will simplify and clarify how this policy is implemented
T-6276
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurani Purnama Sari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Mardiati Nadjib, Rosita, Prima Yunika D. Ruswati
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang faktor-faktor yang memengaruhi kebelangsungan program rujuk balik (PRB) BPJS Kesehatan di RSUD Kota Kendari Tahun 2021. PRB adalah salah satu layanan dari BPJS Kesehatan yang menangani pasien-pasien dengan penyakit kronis. Sejak tahun 2019 RSUD Kota Kendari menyelenggarakan layanan PRB namun dalam studi pendahuluan yang dilakukan oleh penulis, didapatkan bahwa PRB di RSUD Kota Kendari terkendala oleh beberapa hal, yakni pengetahuan beberapa petugas rumah sakit mengenai program ini tidak begitu baik, adanya peserta yang tidak mau dirujuk kembali ke rumah sakit meski kondisi kesehatannya tidak bisa tertangani di FKTP, adanya peserta yang enggan dikembalikan ke FKTP, dan adanya peserta yang telah dikembalikan ke FKTP tidak lagi rutin mengambil obat ke FKTP atau ke apotek yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam, telaah dokumen, dan observasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa faktor pendukung PRB di RSUD Kota Kendari adalah pelaksana program rujuk balik berkomitmen menjalankan PRB, DPJP melaksanakan PRB, komunikasi yang baik antar pelaksana PRB, dan pelaksana PRB mengetahui adanya formularium nasional. Faktor penghambat PRB di RSUD Kota Kendari adalah tidak ditemukan adanya kebijakan terkait PRB, tidak adanya SPO sebagai dasar pelaksanaan PRB, kurangnya sosialisasi, monitoring, dan evaluasi PRB di rumah sakit, rangkap tugas PIC PRB, belum adanya pelatihan terkait PRB, tidak ada insentif terakit PRB, dan tidak tersedianya pojok PRB
Read More
B-2285
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nabila Vebiana oviadi; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Milla Herdayati, Sudarto Ronoatmodjo, Maria Gayatri, Debby Rosita
Abstrak:
Read More
Kanker payudara adalah tumor ganas yang berkembang tanpa terkendali sehingga menyebabkan kematian. Kasus kanker payudara sering ditemukan pada remaja dengan usia 14 tahun. Kanker payudara terjadi karena terlambatnya terdiagnosa dan penanganan medis. Sebesar 85% benjolan pada payudara ditemukan oleh penderita sendiri dengan SADARI. Maka, dilakukan deteksi dini kanker payudara dengan metode Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) untuk mencegah terjadinya kanker payudara sejak remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker payudara metode SADARI. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 92 siswi SMA Negeri 5 Samarinda dengan teknik proportionate random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan signifikan dengan perilaku SADARI adalah variabel pengetahuan dan tenaga kesehatan dan yang paling dominan adalah variabel peran tenaga kesehatan (p=0,003, OR=8,388). Diharapkan tenaga kesehatan melakukan pendidikan kesehatan secara berkala terkait kanker payudara dan SADARI pada remaja
Breast cancer is a malignant tumor that develops uncontrollably causing death. Cases of breast cancer are often found in adolescents at 14 years old. Breast cancer occurs due to late diagnosis and medical treatment. As many as 85% of lumps in the breast are found by sufferers themselves with BSE. So, early detection of breast cancer is carried out with the Breast Self-Examination method (BSE) to prevent breast cancer since adolescence. This study aims to determine the factors associated with breast cancer early detection behavior of the BSE method. This study used a cross-sectional design. The research sample was 92 teenager students at State High School Negeri 5 Samarinda with proportionate random sampling technique. The results showed that the variables that were significantly related to BSE behavior were variables of knowledge and the role of health workers and the most dominant was the variable of teacher roles (p = 0,003, OR=8,388). It is expected that health workers conduct regular health education related to breast cancer and BSE in adolescents.
T-6824
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wahyuningsih Djaali; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Helda, Hasan Mihardja; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Ratna Djuwita, Aida Rosita Tantri, Rudy Hidayat, Gea Pandhita
D-575
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
