Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sherly Purnama Dewi; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Rakhmi Savitri
Abstrak:
Latar belakang: Medical Check Up rutin sangat penting untuk deteksi dini masalah kesehatan akibat kerja, sejalan dengan regulasi K3 yang mewajibkan medical check up. Waktu tunggu yang lama dalam layanan medical check up dapat mengurangi efisiensi dan kepuasan pasien. Deteksi dini membantu mencegah risiko kesehatan serius, namun efisiensi waktu tunggu perlu diperbaiki untuk menjaga kualitas layanan. Pengelolaan waktu tunggu menjadi kunci menciptakan lingkungan kerja yang aman dan pelayanan yang optimal. Tujuan penelitian: penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil analisis waktu tunggu pada Medical Check Up menggunakan metode Lean Six Sigma di Klinik X Sudirman tahun 2024. Metodologi penelitian: penelitian ini menggunakan observasi dengan teknik time motion study, wawancara mendalam, dan telaah dokumen dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian diambil menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah 30 responden. Hasil penelitian: hasil penelitian ini menunjukkan non value added terbanyak pada tahapan treadmill selama 41 menit 44 detik (71%) pada jenis waste waiting dan transportation. Kedua pada tahapan EKG dengan non value added selama 34 menit 13 detik (70%) dengan jenis waste waiting.  Ketiga pada tahapan urine selama 7 menit 53 detik (68%) dengan jenis waste waiting dan transportation dari keseluruhan kegiatan value-added sebesar 2 jam 10 menit 20 detik atau 56% dan kegiatan non value-added sebesar 2 jam 1 menit 20 detik atau 44%.

**Background:** Routine medical check-ups are essential for the early detection of health issues caused by work-related factors, in alignment with occupational health and safety (OHS) regulations that mandate medical check-ups. Long waiting times during medical check-up services can reduce efficiency and patient satisfaction. Early detection helps prevent serious health risks; however, waiting time efficiency needs improvement to maintain service quality. Managing waiting times is crucial to creating a safe working environment and delivering optimal services.  **Research Objective:** This study aims to analyze waiting times during medical check-ups using the Lean Six Sigma method at Clinic X Sudirman in 2024.  **Research Methodology:** The study uses observation with time-motion study techniques, in-depth interviews, and document review, adopting both quantitative and qualitative approaches. The research sample was selected using purposive sampling, consisting of 30 respondents.  **Research Results:** The study found the highest non-value-added activity occurred in the treadmill phase, lasting 41 minutes and 44 seconds (71%) due to waiting and transportation waste. The second-highest was in the EKG phase, with 34 minutes and 13 seconds (70%) of non-value-added activities due to waiting waste. The third was in the urine phase, with 7 minutes and 53 seconds (68%) of non-value-added activities due to waiting and transportation waste. Overall, value-added activities accounted for 2 hours, 10 minutes, and 20 seconds (56%), while non-value-added activities totaled 2 hours, 1 minute, and 20 seconds (44%).
Read More
S-11862
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chayrani Kamelia Marwanto; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Rakhmi Savitri
Abstrak:

Latar Belakang: Sindrom metabolik (SM) merupakan kumpulan faktor risiko yang
meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Prevalensi SM pada perawat di berbagai negara bervariasi, namun penelitian di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko SM pada perawat di Rumah Sakit X. Metode: Desain penelitian cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari MCU 268 perawat di RS X pada Oktober-November 2024. Variabel yang diteliti meliputi faktor perilaku (kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik) dan genetik (usia, jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Chi Square. Hasil: Sebanyak 7 perawat (2,6%) mengalami SM, obesitas sentral (48,9%) dan tekanan darah tinggi (25,4%) sebagai parameter yang paling dominan. Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan antara jenis kelamin laki-laki dengan sindrom metabolik (p-value = 0,004; OR = 7,154). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, usia, atau riwayat penyakit keluarga dengan sindrom metabolik (p-value > 0,05). Kesimpulan: Jenis kelamin laki-laki merupakan faktor risiko signifikan terhadap kejadian SM pada perawat di RS X. Penelitian lanjutan diperlukan dengan cakupan faktor risiko yang lebih luas dan sampel yang lebih besar untuk memperkuat temuan ini.


Background: Metabolic syndrome (MetS) is a cluster of metabolic abnormalities that increase  the risk of cardiovascular disease and type 2 diabetes mellitus. Although its prevalence  among nurses has been explored globally, limited data exist in Indonesia. Objective: This  study aimed to assess the association between risk factors and the presence of MetS among  nurses at Hospital X. Methods: A cross-sectional study was conducted involving 268 nurses  who underwent medical check-ups from October to November 2024. Variables included  behavioral factors (smoking, alcohol consumption, physical activity) and genetic factors (age,  sex, family history). Data were analyzed descriptively and inferentially using Chi-square  tests. Results: MetS was identified in 7 nurses (2.6%). Central obesity (48.9%) and elevated  blood pressure (25.4%) were the most prevalent components. A significant association was  found between male sex and MetS (p = 0.004; OR = 7.154). No significant associations were  observed for smoking, alcohol use, physical activity, age, or family history (p > 0.05).  Conclusion: Male gender is a significant risk factor for MetS among nurses in this setting.  Future studies with larger samples and broader variables are recommended to strengthen and generalize these findings.

Read More
S-12129
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanna Silvia Debora; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Mila Temajaya, Rakhmi Savitri, Muhamad Dawaman
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang meningkatkan risiko terjadinya kematian pada penderita penyakit kardiovaskular. Prevalensi hipertensi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Saat ini, Puskesmas merupakan fokus utama pembangunan kesehatan di Indonesia dengan beban kerja yang meningkat dan sumber daya manusia yang belum memadai. Hipertensi pada pekerja Puskesmas akan mengganggu pelayanan dan kinerja Puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko hipertensi pada pekerja di Puskesmas DTP dan PONED Korwil X Kabupaten Bogor. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang. Pengumpulan data penelitian dilakukan menggunakan kuesioner daring pada Mei 2020 dengan 110 responden. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan, usia, jenis kelamin, riwayat penyakit keturunan, masa kerja, sistem kerja, aktifitas fisik/kebiasaan olahraga, kebiasaan merokok, kebiasaan konsumsi minuman berkafein, pengukuran kualitas tidur menggunakan Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI), dan pengukuran faktor psikososial menggunakan modifikasi Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III). Hasil dan Kesimpulan: Berdasarkan analisis regresi logistik ganda, kualitas tidur merupakan faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi paling dominan dengan OR sebesar 9,32, diikuti oleh usia dengan OR sebesar 7,36, setelah dikontrol oleh genetik, jenis kelamin, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, kepuasan kerja, stress kerja, dan masa kerja.

Hypertension is one of main risk factors of cardiovascular diseases which increase the death risk in people with cardiovascular diseases. The prevalence of hypertension in Indonesia is kept on increasing. Recently, Public Health Center is the main focus of Indonesian health development with increasing workload and limited human resources. Hypertension in Public Health Center’s workers will affect the service and performance of the Public Health Center. The aim of this study was to analyse the risk factors of hypertension among workers at Public Health Center in Region X of Bogor Regency. This was a cross-sectional study. The data collection was done through online questionnaires in May 2020 with 110 respondents. The data consist of secondary data of blood pressure, body height, and body weight, as well as age, gender, history of family disease, working experience, working system, exercise habit, smoking habit, daily caffeine intake, assessment of sleep quality using PSQI and assessment of psychosocial factors using modified COPSOQ III. Based on multiple logistic regression, sleep quality is the most dominant risk factors of hypertension (OR= 9,32), followed by age (OR= 7,36), after adjusted with genetic,gender, overweight, smoking habit, job satisfaction, work stress, and working experience.
Read More
T-5872
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizal Suryamarta; Pembimbing: Widanarko Baiduri; Penguji: Dadan Erwandi, Mila Tejamaya, Muhamad Dawaman, Rakhmi Savitri
Abstrak:
Latar belakang Banyak pekerja di industri manufacturing yang melaporkan keluhan MSD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi keluhan MSD dan hubungan faktor fisik, psikososial dan individu terhaap keluhan MSD di PT NI tahun 2020. Metode Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain study cross sectional. Digunakan kuesioner standard yang sudah divalidasi yang dibagikan kepada 120 responden. Digunakan model regresi logistic untuk mengidentifikasi faktor risiko untuk keluhan MSD 12 bulan terakhir, hambatan beraktivitas karena MSD 12 bulan terakhir dan keluhan MSD 7 hari terakhir. Hasil Prevalensi keluhan MSD 12 bulan terakhir, hambatan beraktivitas karena MSD 12 bulan terakhir dan keluhan MSD 7 hari terakhir adalah 78%, 43% dan 54%. Karyawan dengan posisi kerja membungkuk dengan proporsi ≤ 50% waktu lebih berisiko mengalami keluhan MSD 12 bulan terakhir, hambatan beraktivitas dan keluhan MSD 7 hari terakhir dengan OR (95% CI) 3.69 (1.46-9.35), 2.32 (1.01-5.30) dan 3.14 (1.39-7.12). Pekerjaan berulang dengan proporsi > 50% waktu, mengangkat barang > 15 kg dengan proporsi ≥ 2 hari per minggu dan posisi berlutut/jongkok dengan proporsi > 50 % waktu juga mempunyai risiko lebih mengalami keluhan MSD 12 bulan, hambatan beraktivitas dan keluhan MSD 7 hari. Ketidakpuasan kerja berhubungan positif dan kuat dengan keluhan MSD 12 bulan terakhir pada bagian punggung bawah dan leher dengan OR 2.65 (1.10-6.42) dan 2.12 (1.02-4.40). over commitment tinggi, work pace tinggi dan stress sedang meningkatkan risiko keluhan MSD dan konsekuensinya pada beberapa bagian tubuh. Masa kerja meningkatkan risiko mengalami keluhan MSD dengan OR 1.16 (1.02-1.32). Karyawan perempuan, sistem kerja 2 shift dan kebiasaan merokok juga meningkatkan risiko keluhan MSD. Kesimpulan Pekerja di PT NI mempunyai prevalensi tinggi atas keluhan MSD dan konsekuensinya. Temuan penelitian ini menyiratkan bahwa perlu usaha yang terencana dan terukur untuk mengeliminasi faktor risiko keluhan MSD.

Many workers in the manufacturing industry report MSD complaints. This study aims to determine the prevalence of MSD complaints and the relationship of physical, psychosocial and individual factors to MSD complaints at PT NI in 2020. The method used was quantitative with a cross sectional study design. A validated standardized questionnaire was distributed to 120 respondents. Data analysis used is SPSS with logistic regression  models to identify risk factors for MSD complaints and their consequences. The prevalence of MSD complaints in the last 12 months, reduced activity and MSD complaints in the last 7 days were 78%, 43% and 54%. Physical factors related to MSD complaints are trunk bending position with a proportion of ≤ 50% of time, repetitive work with a proportion of> 50% of time, kneeling / squatting with a proportion of> 50% of time, body vibration ≤ 50% of time, and sitting position> 50% of time . For psychosocial factors are work dissatisfaction, high over commitment, high work pace, and moderate work stress. While the individual factors are the status of contract workers, tenure, 2 shift work systems, and female employees. In conclusion, workers at PT NI have a high prevalence of MSD complaints and their consequences for various parts of the body. A planned and measurable effort is needed to eliminate the risk factors for MSD complaints.

Read More
T-5895
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive