Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Siti Nur Anisah; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Purwantyastuti, Siti Dharmayati B. Utoyo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Besral, Evi Martha, Menaldi Rasmin, Fidiansjah, Soewarta Kosen
Abstrak:
Penelitian ini membahas pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup Pasien Tuberkulosis (TBC) di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif menggunakan desain studi longitudinal (pengukuran berulang) dan Rapid Assessment Procedure (RAP). Pengumpulan data kuantitatif dengan wawancara kepada responden menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF untuk data kualitas hidup dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk data dukungan sosial. Pengumpulan data kualitatif dengan kelompok diskusi terarah (DKT) dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan analisis regresi logistik untuk pengukuran data berulang yaitu General Estimation of Equotion (GEE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial mempunyai pengaruh kuat terhadap kualitas hidup Pasien TB; pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup Pasien TBC terus meningkat mulai bulan ke-2 sampai akhir bulan ke-6; sumber dukungan sosial yang berpengaruh untuk meningkatkan kualitas hidup Pasien TBC adalah keluarga, teman dan orang terdekat lainnya; bentuk dukungan sosial yang berpengaruh untuk meningkatkan kualitas hidup Pasien TBC adalah dukungan emosional, informasi dan persahabatan. Kesimpulan: dukungan sosial kepada Pasien TBC yang diberikan selama masa pengobatan sampai pasien sembuh memberikan dampak terhadap kualitas hidupnya. Studi ini merekomendasikan untuk peningkatan dukungan sosial dari keluarga, teman dan orang terdekat lainnya dalam bentuk dukungan emosional, informasi dan persahabatan agar kualitas hidup Pasien Tuberkulosis lebih baik.
Read More
D-405
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yunita Amraeni; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Sabarinah B. Prasetyo, Purwanty Astuti Ascobat; Penguji: Hadi Pratomo, Kemal Nazaruddin Siregar, Soewarta Kosen, Wendy Hartanto, Omas Bulan Samosir
Abstrak:
Total Fertility Rate cenderung stagnan begitupun dengan angka CPR dengan kenaikan yang tidak signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan KB yang tidak terpenuhi di Indonesia. Perlu identifikasi ketimpangan gender yang berkaitan dengan otonomi perempuan sebagai salah satu penghambat kebutuhan yang terpenuhi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kontribusi otonomi reproduksi terhadap unmet need kontrasepsi modern dan mengkaji perbedaannya berdasarkan wilayah urban dan rural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian potong lintang berdasarkan data pasangan dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, 2012 dan 2017. Dan studi kualitatif untuk menggali informasi terkait hubungan otonomi reproduksi terhadap unmet need kontrasepsi modern. Subyek penelitian adalah pasangan (suami dan istri) yang berhasil diwawancarai dalam SDKI baik yang menggunakan atau tidak menggunakan kontrasepsi modern. Jumlah subyek penelitian sebesar 16809 pasangan pada tahun 2007, 20.435 pasangan pada tahun 2012 dan 21.881 pasangan pada tahun 2017. Variabel bebas pada penelitian ini adalah otonomi reproduksi yang diukur berdasarkan hasil analisis faktor dari keputusan dalam penentuan anak, keputusan dalam kontrasepsi, komunikasi KB, frekuensi diskusi KB, sikap terhadap penolakan seks dan kemampuan negosiasi sek . Variabel terikat pada penelitian ini adalah unmet need kontrasepsi modern. Variabel kontrol adalah karakteristik sosial demografi pasangan dan pelayanan KB. Analisis menggunakan analisis regresi multinomial. Dapat disimpulkan bahwa setiap peningkatan skor otonomi reproduksi perempuan maka resiko kejadian unmet need semakin kecil. sementara secara statistik tidak ada perbedaan antara wilayah urban dan rural. diketahui bahwa rendahnya otonomi reproduksi dipengaruhi oleh pasangan, keluarga dan masyarakat sehingga diperlukan program KB melalui peran PLKB dengan metode pendekatan keluarga terutama pelibatan suami sebagai mitra KB serta pendekatan sosial sehingga dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam mempertahankan hak reproduksinya.
Read More
D-425
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fajaria Nurchandra; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Budi Anna Keliat, Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Evi Martha, Ratna Djuwita Hatma, Isbandi Rukminto Adi, Besral, Soewarta Kosen, Hariadi Wibisono
Abstrak:
Read More
Pandemi Covid-19 menimbulkan dampak pada berbagai sektor yang memungkinkan memicu terjadinya gangguan mental emosional (GME) dan penurunan kualitas hidup sehingga pembentukan ketangguhan sangat diperlukan. Studi ini ditujukan unutk menganalisis peranan ketangguhan (individu, keluarga dan komunitas) terhadap GME dan kualitas hidup individu selama pandemi Covid-19 di Jakarta Timur pada gelombang kedua. Studi explanatory sequential mixed-methods dengan pendekatan desain cross sectional dan metode kualitatif dengan desain Rapid Assessment Procedure (RAP). Kualitas hidup diukur menggunakan Indonesian HRQoL, sedangkan GME diskrining menggunakan SRQ pada 300 responden yang terpilih dari teknik multistage cluster sampling. Exploratory qualitative dilakukan pada dua kelompok FGD dan tiga informan wawancara mendalam, sedangkan explanatory qualitative dilakukan pada enam kelompok FGD dan sembilan informan wawancara mendalam. Masyarakat memahami ketangguhan (individu, keluarga, dan komunitas) sebagai konsep kamampuan menghadapi pandemi dengan memanfaatkan aspek-aspek di sekitar mereka, GME sebagai masalah mental, dan kualitas hidup sebagai kondisi kesehatan. Proporsi GME meningkat dua kali lipat dibandingkan situasi normal. Proporsi kualitas hidup buruk sebanyak 26,30%. Ketangguhan (individu, keluarga, dan komunitas) yang buruk berperan terhadap terjadinya GME dan kualitas hidup buruk selama pandemi Covid-19. GME juga berperan terhadap kualitas hidup yang buruk. Peranan ketangguhan individu terhadap GME dan kualitas hidup ditentukan oleh persepsi realistis dengan cara bersyukur, ikhlas, sabar, dan saling menguatkan, menerima keadaan, menerapkan protokol kesehatan, regulasi emosi-kognisi, kemampuan adaptasi, dan optimisme. Peranan ketangguhan individu terhadap GME dan kualitas hidup ditentukan oleh usia pengambil keputusan keluarga, dukungan sosial dan kontrol diri. Peranan ketangguhan komunitas terhadap GME dan kualitas hidup ditentukan oleh kestabilan sistem pendidikan, sistem kesehatan, sistem politik/pemerintahan, dan sistem manajemen pandemi. Ketangguhan keluarga ditemukan paling berperan terhadap kualitas hidup. Sistem pemerintahan yang berkolaborasi dan responsif menentukan kestabilan komponen-komponen ketangguhan komunitas. Oleh karena itu, direkomendasikan untuk memperkuat komponen ketangguhan keluarga dan sistem pemerintahan untuk menghadapi pandemi.
The Covid-19 pandemic has impacted various sectors that may trigger mental-emotional disorders (Gangguan Mental Emosional (GME)) and a decrease in quality of life, so the formation of resilience is urgently needed. This study aims to analyze the role of resilience (individual, family, and community) on GME and the quality of life of individuals during the Covid-19 pandemic in East Jakarta in the second wave. Explanatory sequential mixed-methods study with a cross-sectional design approach and qualitative methods with a Rapid Assessment Procedure (RAP) design. Quality of life was measured using the Indonesian HRQoL, while GME was screened using the SRQ on 300 respondents selected from the multistage cluster sampling technique. Exploratory qualitative was conducted with two FGD groups and three in-depth interviews with informants. Meanwhile, explanatory qualitative was conducted with six FGD groups and nine in-depth interviews with informants. Communities understand resilience (individual, family, and community) as a concept of dealing with a pandemic by utilizing aspects around them, GME as a mental problem, and quality of life as a health condition. The proportion of GME has doubled compared to the normal situation. The proportion of poor quality of life is 26.30%. Poor resilience (individual, family, and community) contributes to the occurrence of GME and poor quality of life during the Covid-19 pandemic. GME also contributes to poor quality of life. The role of individual resilience to GME and quality of life is determined by realistic perceptions by being grateful, sincere, patient, and mutually reinforcing, accepting circumstances, implementing health protocols, emotional-cognition regulation, adaptability, and optimism. The role of individual resilience to GME and quality of life is determined by the age of family decision-makers, social support, and self-control. The role of community resilience to GME and quality of life is determined by the stability of the education system, health system, political/government system, and pandemic management system. Family resilience was found to have the most effect on the quality of life. Collaborative and responsive governance systems determine the stability of the components of community resilience. Therefore, it is recommended to strengthen the components of family resilience and government systems to deal with a pandemic.
D-477
Depok : FKM UI, 2023
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
