Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ria Wijaya; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Popy Yuniar, Wachyu Sulistiadi, Martina Ovinda Suandi, Budi Hartono
Abstrak:
Seiring dengan semakin meningkat jumlah rumah sakit di Indonesia, persaingan antar rumah sakit tidak dapat dihindarkan.  Setiap rumah sakit berusaha menarik hati pasien dan calon pasien dengan memperkenalkan layanan kesehatan dan fasilitas yang ditawarkan. Rumah sakit perlu melakukan pemasaran yang efektif, yaitu dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Pemasaran digital melalui media sosial, seperti instagram  mampu menjangkau audiens dengan efektif dan efisien. Charitas Hospital Palembang telah memanfaatkan instagram sebagai media digital marketing sejak tahun 2017, namun sampai saat ini belum pernah dilakukan evaluasi terhadap penerimaan pengguna terhadap media ini. Penelitian ini bertujuan untuk menilai penerimaan pengguna media instagram sebagai sarana pemasaran digital Charitas Hospital Palembang dengan pendekatan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT).  Aspek yang dinilai, yaitu performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions terhadap behavioral intentions pasien  Charitas Hospital Palembang dalam menggunakan instagram sebagai media digital marketing. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilakukan pada Februari–Maret 2025 pada 125 responden melalui  kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan performance expectancy dan facilitating conditions memiliki hubungan signifikan terhadap behavioral intentions pasien Charitas Hospital Palembang dalam menggunakan instagram sebagai media digital marketing. Sedangkan, effort expectancy dan social influence tidak memiliki hubungan signifikan.  Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemudahan dan pengaruh lingkungan bukan merupakan faktor utama yang mendorong niat pengguna, tetapi cenderung pada manfaat dan kegunaan dari instagram sebagai media pemasaran digital rumah sakit.

With the increasing number of hospitals in Indonesia, competition in the healthcare sector has become inevitable. To attract both current and prospective patients, hospitals are increasingly promoting their healthcare services and facilities through strategic marketing initiatives. In this digital era, effective marketing necessitates the integration of advanced digital technologies. Social media platforms, particularly instagram, offer an efficient and far-reaching medium for digital marketing in healthcare settings. Charitas Hospital Palembang has used instagram as part of its digital marketing strategy since 2017. However, an evaluation of user acceptance toward this platform has not yet been conducted. This study aims to assess the acceptance of instagram as a digital marketing tool by users of Charitas Hospital, applying the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) framework. Key constructs analyzed include performance expectancy, effort expectancy, social influence, and facilitating conditions, in relation to the behavioral intentions of patients to engage with the hospital’s instagram platform. This quantitative study utilized a cross-sectional design and was conducted between February and March 2025, involving 125 respondents who completed a structured questionnaire. The results reveal that performance expectancy and facilitating conditions are significantly associated with user’s behavioral intention to utilize instagram for interacting with the hospital’ s digital marketing content. In contrast, effort expectancy and social influence were not found to have a statistically significant effect. These findings suggest that perceived usefulness and facilitating conditions are more critical drivers of user engagement than ease of use or social influence. This shows that ease of use and social influence are not the main factors influencing behavioral intentions. Rather, the focus tends to be on the benefits and utility of instagram as a digital marketing platform for hospitals.

Read More
B-2527
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Renita Agustina; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Wahyu Sulistiadi, Noer Triyanto Rusli, Martina Ovinda Suandi
Abstrak: Pandemi COVID-19 menyebabkan disrupsi layanan kesehatan. Dalam menghadapi pandemi COVID-19, rumah sakit harus memperhatikan mutu pelayanan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang diperlukan masyarakat. Mutu pelayanan kesehatan merupakan jaminan bagi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu pelayanan rawat inap selama pandemi COVID-19 berdasarkan kriteria Malcolm Baldrige di Charitas Hospital Palembang tahun 2021. Jenis penelitian yang dilakukan adalah mix method dimana dilakukan penelitian kuantitatif terlebih dahulu dengan menggunakan kuesioner Malcolm Baldrige dan dilanjutkan penelitian kualitatif berupa wawancara mendalam dan telaah dokumen. Didapatkan hubungan yang signifikan antara variabel kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus sumber daya manusia, fokus pelanggan, pengukuran, analisis dana manajemen pengetahuan, dan fokus proses terhadap variabel hasil. Dari analisis multivariat, didapatkan variabel yang paling berpengaruh terhadap hasil mutu pelayanan adalah variabel fokus proses, dan pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan. Nilai variabel hasil yang diatas nilai rata-rata dinyatakan baik tidak sejalan dengan indikator pelayanan rumah sakit yang menurun selama pandemi COVID-19. Variabel yang perlu diperhatikan rumah sakit karena nilai dibawah nilai rata-rata dari ketujuh variabel yang diteliti adalah variabel kepemimpinan, perencanaan strategis, dan fokus sumber daya manusia. Diharapkan manajemen rumah sakit dapat memanfaatkan dan menerapkan kriteria Malcolm Baldrige dalam meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, dan pemilik rumah sakit dapat melakukan re-evaluasi dan meningkatkan program manajemen mutu dalam meningkatkan mutu pelayanan rawat inap rumah sakit dengan menerapkan Malcolm Baldrige
Read More
B-2284
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rieke Cahyo Budi Utami; Pembimbing: Masyitoh Bashabih; Penguji: Purnawan Junadi, Amal Chalik Sjaaf, Andi Wahyuningsih Attas, Martina Ovinda Suandi
Abstrak:

Pelayanan pre operatif anestesi merupakan tahap pertama dari seluruh tindakan anestesi. Dikatakan bahwa 40% risiko kematian atau komplikasi akibat tindakan anestesi yang berkaitan dengan masalah gangguan jalan nafas dapat dicegah dengan pengkajian pre operatif anestesi. Namun hingga saat ini pelaksanaan pre operatif anestesi yang tidak pernah mencapai 100% menjadi masalah yang dihadapi hampir semua rumah sakit tidak terkecuali Rumah Sakit Myria Palembang. Sebuah kerangka berpikir keselamatan pasien “swiss cheese model” yang lebih mengutamakan pendekatan sistem digunakan untuk analisis pre operatif anestesi. Identifikasi celah dalam setiap proses pelayanan pre operatif anestesi digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pelayanan pre operatif anestesi dengan pendekatan mixed method. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada 106 responden. Data kualitatif didapatkan melalui wawancara mendalam, fokus group discussion, telaah literatur dan dokumen terkait untuk mendapatkan analisis yang lebih komprehensif terhadap pengaruh organisasi, supervisi, teknologi, prekondisi dan perilaku individu pada pre operatif anestesi. Hasil analisis deskriptif didapatkan capaian pre operatif anestesi sebesar 61.3%; keseluruhan pre operatif anestesi dilakukan di hari yang sama dengan hari operasi; terdapat ketidaksesuaian regulasi yang ditetapkan manajemen rumah sakit; lemahnya supervisi pelaksanaan pre operatif anestesi; kurangnya pemanfaatan teknologi; sikap pasif pasien terhadap pelaksanaan pre operatif anestesi tergambar dari tanggapan responden terhadap variabel prekondisi termasuk dalam kategori rendah; operasi tetap berjalan meskipun tidak dilakukan pre operatif anestesi; budaya keselamatan pasien yang rendah pada perawat dan penata anestesi; proses admisi dan pelaporan pasien yang terlalu malam; perilaku individu tidak aman dokter spesialis anestesi dengan tidak melakukan pre operatif anestesi. Strategi rumah sakit sebagai pemecahan masalah rendahnya pelaksanaan pre operatif anestesi antara lain perbaikan regulasi; peningkatan supervisi; optimalisasi pemanfaatan sistem informasi rumah sakit; memperbaiki proses admisi pasien dan pelaporan pasien; meningkatkan kerja sama dengan operator bedah untuk kemudahan pelaksanaan pre operatif anestesi serta meningkatkan komitmen dokter spesialis anestesi untuk melakukan pre operatif anestesi.


 

Pelayanan pre operatif anestesi merupakan tahap pertama dari seluruh tindakan anestesi. Dikatakan bahwa 40% risiko kematian atau komplikasi akibat tindakan anestesi yang berkaitan dengan masalah gangguan jalan nafas dapat dicegah dengan pengkajian pre operatif anestesi. Namun hingga saat ini pelaksanaan pre operatif anestesi yang tidak pernah mencapai 100% menjadi masalah yang dihadapi hampir semua rumah sakit tidak terkecuali Rumah Sakit Myria Palembang. Sebuah kerangka berpikir keselamatan pasien “swiss cheese model” yang lebih mengutamakan pendekatan sistem digunakan untuk analisis pre operatif anestesi. Identifikasi celah dalam setiap proses pelayanan pre operatif anestesi digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pelayanan pre operatif anestesi dengan pendekatan mixed method. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada 106 responden. Data kualitatif didapatkan melalui wawancara mendalam, fokus group discussion, telaah literatur dan dokumen terkait untuk mendapatkan analisis yang lebih komprehensif terhadap pengaruh organisasi, supervisi, teknologi, prekondisi dan perilaku individu pada pre operatif anestesi. Hasil analisis deskriptif didapatkan capaian pre operatif anestesi sebesar 61.3%; keseluruhan pre operatif anestesi dilakukan di hari yang sama dengan hari operasi; terdapat ketidaksesuaian regulasi yang ditetapkan manajemen rumah sakit; lemahnya supervisi pelaksanaan pre operatif anestesi; kurangnya pemanfaatan teknologi; sikap pasif pasien terhadap pelaksanaan pre operatif anestesi tergambar dari tanggapan responden terhadap variabel prekondisi termasuk dalam kategori rendah; operasi tetap berjalan meskipun tidak dilakukan pre operatif anestesi; budaya keselamatan pasien yang rendah pada perawat dan penata anestesi; proses admisi dan pelaporan pasien yang terlalu malam; perilaku individu tidak aman dokter spesialis anestesi dengan tidak melakukan pre operatif anestesi.

Preoperative anesthesia is the first stage of any anesthetic procedure. It is said that the 40% risk of death or complications from anesthesia related to airway obstruction can be prevented by recovering from preoperative anesthesia. However, until now the implementation of preoperative anesthesia which has never reached 100% is a problem faced by almost all hospitals, Myria Palembang Hospital is no exception. A “Swiss cheese model” patient safety framework supporting the systems approach was used to analyze preoperative anesthesia. Identification of gaps in each process of preoperative anesthesia services is used as a basis for making improvements. This study aims to analyze preoperative anesthesia services using a mixed methods approach. Statistical tests were carried out using a questionnaire which was distributed to 106 respondents. Qualitative data were obtained through in-depth interviews, focus group discussions, literature review and related documents to obtain a more comprehensive analysis of the influence of organization, supervision, technology, conditions and individual behavior on preoperative anesthesia. The results showed that the preoperative anesthetic performance was 61.3%; Overall preoperative anesthesia was carried out on the same day as the day of surgery; there is a non-compliance with the regulations set by the hospital management; weak supervision of the implementation of preoperative anesthesia; lack of utilization of technology; the patient's passive attitude towards the implementation of preoperative anesthesia is reflected in the respondents' responses to the precondition variables included in the low category; the operation continues even though preoperative anesthesia is not performed; low patient safety culture among nurses and anesthesiologists; late admission process and patient reporting; Unsafe individual behavior of anesthesiologists by not performing preoperative anesthesia. The hospital's strategy as a solution to the problem of low implementation of preoperative anesthesia includes regulatory improvements; increased supervision; optimizing the utilization of hospital information systems; improve admission and patient reporting processes; increase cooperation with surgical operators to facilitate the implementation of preoperative anesthesia and increase the commitment of anesthesiologists to perform preoperative anesthesia.

 

 

 

Read More
B-2334
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive