Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rusma Tia Wardani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Eva Sulistiowati
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat setiap tahunnya. Prevalensi stroke di DKI Jakarta meningkat dari 9,7‰ pada tahun 2013 menjadi 12,2‰ pada tahun 2018. Berdasarkan penelitian–penelitian terdahulu, faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stroke dapat berbeda satu sama lain. Selain itu penelitian terkait faktor risiko stroke pada penduduk usia ≥15 tahun masih sedikit di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 tahun di DKI Jakarta menurut data Riskesdas 2018. Sampel penelitian ini adalah penduduk usia ≥15 tahun sebanyak 7.552 di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian yang didapatkan adalah terdapat hubungan yang signifikan antara usia ≥55 tahun (POR=5,50; 95% CI= 3,84 – 7,88), jenis kelamin perempuan (POR=0,64; 95% CI= 0,45 – 0,91), merokok (POR= 1,90; 95% CI= 1,34 – 2,7), kurang aktivitas fisik (POR= 2,07; 95% CI= 1,46 – 2,94), hipertensi (POR= 11,19; 95% CI= 7,70 – 16,24), dan diabetes melitus (POR=4,97; 95% CI= 3,23 – 7,65) terhadap kejadian stroke. Optimalisasi program pengendalian penyakit tidak menular, edukasi dan promosi terkait risiko kejadian stroke, pemanfaatan media sosial untuk memperluas penyebaran informasi, mendorong pola hidup sehat, dan mengikuti program rehabilitasi dan pemulihan pasca-stroke dapat membantu untuk mencegah terjadinya stroke dan efek yang ditimbulkan pasca stroke.

Stroke is considerStroke is considered as one of the non-communicable diseases with a consistently increasing prevalence annually. The prevalence of stroke in DKI Jakarta escalated from 9.7‰ in 2013 to 12.2‰ in 2018. Previous studies have revealed that the factors influencing stroke occurrence may vary. Furthermore, limited research has been conducted regarding the risk factors of stroke among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study aims to describe the factors contributing to stroke incidence among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta based on the Riskesdas 2018 data. The study sample consisted of 7,552 individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The study findings revealed significant associations between age ≥55 years (POR=5.50; 95% CI=3.84-7.88), female gender (POR=0.64; 95% CI=0.45-0.91), smoking (POR=1.90; 95% CI=1.34-2.7), low physical activity (POR=2.07; 95% CI=1.46-2.94), hypertension (POR=11.19; 95% CI=7.70-16.24), and diabetes mellitus (POR=4.97; 95% CI=3.23-7.65) in relation to stroke incidence.. Optimizing non-communicable disease control programs, education and promotion regarding stroke risk, utilizing social media for widespread information dissemination, promoting healthy lifestyles, and participating in post-stroke rehabilitation and recovery programs can help prevent stroke occurrence and mitigate its post-stroke effects.ed as one of the non-communicable diseases with a consistently increasing prevalence annually. The prevalence of stroke in DKI Jakarta escalated from 9.7‰ in 2013 to 12.2‰ in 2018. Previous studies have revealed that the factors influencing stroke occurrence may vary. Furthermore, limited research has been conducted regarding the risk factors of stroke among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study aims to describe the factors contributing to stroke incidence among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta based on the Riskesdas 2018 data. The study sample consisted of 7,552 individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The study findings revealed significant associations between age ≥55 years (POR=5.50; 95% CI=3.84-7.88), male gender (POR= 1,56; 95% CI= 1,09 – 2,21), smoking (POR=1.90; 95% CI=1.34-2.7), low physical activity (POR=2.07; 95% CI=1.46-2.94), hypertension (POR=11.19; 95% CI=7.70-16.24), and diabetes mellitus (POR=4.97; 95% CI=3.23-7.65) in relation to stroke incidence.. Optimizing non-communicable disease control programs, education and promotion regarding stroke risk, utilizing social media for widespread information dissemination, promoting healthy lifestyles, and participating in post-stroke rehabilitation and recovery programs can help prevent stroke occurrence and mitigate its post-stroke effects.
Read More
S-11238
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Damayanti Simanjuntak; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Esti Widiastuti, Eva Sulistiowati
Abstrak:
Prevalensi diabetes meningkat pesat terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, salah satunya Indonesia. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur menurut provinsi mencapai 1,5%. Tingkat kejadian penyakit ginjal pada populasi diabetes tidak menurun. Beberapa penelitian cross-sectional besar di dunia mengungkapkan bahwa prevalensi penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes tipe 2 bahkan mencapai 50%. Lama menderita diabetes merupakan salah satu faktor risiko penyakit ginjal kronis yang perlu dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama menderita diabetes dengan penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain cross sectional study. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari survei Riskesdas tahun 2018. Jumlah sampel 639 orang, yaitu memenuhi kriterian inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Analisis yang digunakan cox regression. Prevalensi penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia sebesar 17,68%. Terdapat hubungan lama menderita diabetes dengan penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia yang bermakna signifikan secara statistik dengan p=0,0000. Perlu dilakukan deteksi diabetes melitus tipe 2 sedini mungkin dan skrining fungsi ginjal secara rutin sejak didiagnosa diabetes melitus tipe 2 oleh dokter.

Prevalence diabetes is increasing rapidly especially in low and middle- income countries, one of which is Indonesia. Based on Riskesdas in 2018, the prevalence of diabetes mellitus based on the diagnosis of doctors in the population of all ages by province reaches 1,5%. The incidence rate of kidney disease in the diabetic population does not decrease. Some large cross-sectional studies in the world reveal that the prevalence of chronic kidney disease in people with type 2 diabetes even reaches 50%. Duration suffering diabetes is a risk factor for chronic kidney disease that needs to be considered. This study aims to determine the relationship duration suffering from diabetes with chronic kidney disease in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. This type of research is quantitative, with cross-sectional study design. This study uses secondary data from the 2018 Riskesdas survey. The number of samples was 639 people, who met the inclusion and exclusion criteria in this study. The analysis used cox regression The prevalence of chronic kidney disease in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia is 17.68%. There was a relationship duration suffering diabetes with chronic kidney disease in patient type 2 diabetes mellitus in Indonesia which is statistically significant with p = 0.0000. So, important to screening mass type 2 diabetes mellitus as early as possible and routine screening kidney function since type 2 diabetes mellitus diagnose by a doctor.

Read More
T-5840
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bryan Mario Isakh; Pembimbing: Tris Eryando, Besral; Penguji: Anna Maria Sirait, Eva Sulistiowati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi PPOK, hubungan kebiasaan merokok terhadap PPOK dan faktor yang paling berhubungan dengan PPOK pada responden studi kohor PTM.Data yang digunakan adalah baseline data studi kohor PTM.Disain penelitian potong lintang.Lokasi penelitian pada 5 kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah.Jumlah responden 1.972 responden studi kohor yang memenuhi kriteria untuk diperiksa menggunakan spirometry.Metode wawancara dan pemeriksaan spirometry.Hasil menunjukan bahwaPerokok berat (≥ 400 btg) nilai p < 0,05,(OR : 3,45; CI 95% : 1,593-3,055) 3,5 kali lebih berisiko terhadap kejadian PPOK dibanding responden yang tidak merokok. Perokok sedang(150-399 btg) nilai p< 0,05, (OR : 2,25; CI 95% : 2,007-5,963) 2,3 kali lebih berisiko terhadap kejadian PPOK dibanding responden yang tidak merokok. Perokok ringan (1-149 btg) nilai p< 0,05, (OR : 1,92; CI 95% : 1,460-3,457) 1,9 kali lebih berisiko terhadap kejadian PPOK dibanding responden yang tidak merokok. Responden laki-laki nilaip <0,05, (OR : 2,206; CI 95% : 1,593-3,055), 2,2 kali lebih berisiko terhadap kejadian PPOK dibanding responden perempuan.Kesimpulan semakin banyak jumlah rokok yang dikonsumsi semakin besar risiko PPOK.Perlu koordinasi dengan Puskesmas dan Dinkes setempat untuk upaya pencegahan PPOK terutama pada reponden perokok. Kata kunci:PPOK, merokok, indeks brinkman The purpose of this study to determine the proportion of COPD, the relationship of smoking to COPD and most closely the factors related to COPD on PTM cohort study respondents. The data used is baseline data of PTM cohort study. Cross sectional design. Location of research in 5 urban villages in Central Bogor District.The number of respondents 1,972 cohort study respondents who met the criteria for examination using spirometry.The method is Interview and spirometry examination. The results showed that heavy smokers (≥400 btg) of p <0.05, (OR: 3.45; 95% CI: 1.593-3.055) were 3.5 times more likely to have COPD events than non-smokers. Moderate smokers (150-399 btg) of p <0.05, (OR: 2.25; 95% CI: 2,007-5,963) were 2.3 times more likely to have COPD events than non-smokers. Light smokers (1-149 btg) p <0.05, (OR: 1.99; 95% CI: 1,460-3,457) 1.9 times more likely to have COPD events than non-smokers. Male respondents scored p <0.05, (OR: 2.206; 95% CI: 1.593-3.055), 2.2 times more likely to have COPD events than female respondents. The conclusion that the higher the number of cigarettes consumed the greater the risk of COPD.Perlu coordination with Puskesmas and local health office to prevent COPD especially on smokers reponden. Keyword: COPD, smoking habits, brinkman index,
Read More
T-5068
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mivtahurrahimah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Trisari Anggodowati, Eva Sulistiowati, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa terdapat efek jangka panjang dari berhenti merokok terhadap penambahan berat badan yang turut memperparah prehipertensi, tetapi efek yang ditimbulkan belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan merokok dan obesitas terhadap kejadian prehipertensi pada dewasa muda di Indonesia. Penelitian kuantitatif ini merupakan studi analitik cross-sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Sampel yang dianalisis dalam penelitian ini berjumlah 17.698 orang. Analisis regres cox dilakukan untuk mengetahui bersar risiko merokok dan obesitas terhadap prehipertensi. Hasil penelitian menjelaskan prevalensi prehipertensi dewasa muda di Indonesia sebesar 52,61%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kelompok dewasa muda yang tidak merokok dan mengalami obesitas memiliki risiko terbesar terkena prehipertensi yaitu sebesar 1,33 kali. Namun, ditemukan efek yang menurun pada kelompok dewasa muda yang merokok dan obesitas terhadap kejadian prehipertensi yaitu sebesar 1,17 kali, dan efek protektif pada mereka yang merokok dan tidak obesitas (PR=0,88) karena adanya interaksi antagonis merokok dan obesitas terhadap prehipertensi sebesar 3,42%. Perlunya pengecekan tekanan darah menggunakan aplikasi pada smart watch dan smart phone pada kelompok dewasa muda yang merokok dan berfokus kepada mereka yang obesitas ditambah peningkatan pelaksanaan Posbindu PTM di tempat umum dan promosi kesehatan melalui media sosial.
Previous studies have reported that there are long-term effects of quitting smoking on weight gain which also exacerbate prehypertension, but the effects are unclear. This study aims to determine the association of smoking and obesity on the incidence of prehypertension in young adults in Indonesia. This quantitative research is a cross-sectional analytic study using secondary data from Riskesdas 2018 with samples of 17,698 and Cox regression analysis. The results of this study explain that the prevalence of prehypertension in young adults in Indonesia is 52.61%. Multivariate analysis showed non-smokers and obese young adults had the greatest risk of developing prehypertension, which was 1.33 times. However, a decreasing effect was found in young adults who smoked and were obese on the incidence of prehypertension, which was 1.17 times, and a protective effect was found in those who smoked and were not obese (PR=0.88) due to the antagonistic interaction of smoking and obesity on prehypertension by 3.42%. Check blood pressure using applications on smartwatches and smartphones in young adults who smoke and focus on those who are obese plus increasing the implementation of Posbindu PTM in public places and promoting health through social media.
Read More
T-6594
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Rizky Ramadhani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Eva Sulistiowati, Robert M. Saragih
Abstrak: Prediabetes adalah masalah kesehatan global. Prevalensi prediabetesmeningkat signifikan di seluruh dunia dan pada umumnya tinggi di masyarakatserta merupakan keadaan risiko tinggi untuk terjadinya DM. Obesitas memilikiperanan penting dalam patofisiologi prediabetes. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui apakah obesitas umum dan obesitas abdominal secara bersama-samaberhubungan terhadap kejadian prediabetes pada kelompok usia 20-65 tahun diKecamatan Bogor Tengah berdasarkan faktor riwayat DM keluarga, jeniskelamin, umur, merokok, hipertensi, aktifitas fisik dan stress. Desain studi yangdigunakan adalah potong lintang dengan Cox Regression untuk analisismultivariable. Data analisis merupakan data baseline dari studi kohort faktorrisiko penyakit tidak menular tahun 2012. Ada 3244 responden dari kecamatanbogor tengah yang dipilih dengan teknik sampel acak. Hasil analisis menunjukkanbahwa obesitas terhadap kejadian prediabetes setelah mengendalikan faktor umuradalah obesitas umum PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), obesitas abdominal PR 1,45(95% CI; 1,19-1,87) dan obesitas umum dan obesitas abdominal secara bersama-sama PR 1,92 (95% CI; 1,62-2,28). Untuk itu, obesitas umum dan obesitasabdominal secara bersama-sama berkontribusi paling besar terhadap peningkatanprevalensi prediabetes. Peningkatan kesadaran dan skrining prediabetes padakelompok risiko tinggi berdasarkan pengukuran IMT bersama dengan lingkarpinggang penting untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya untukmengurangi epidemi prediabetes di masyarakat.Kata Kunci : obesitas umum, obesitas abdominal, prediabetes
Prediabetes is a global public health issue. Prevalence of prediabetes isincreasing worldwide. Generally, it is high among adults and as a high risk statefor DM. Obesity has essential role in pathophysiology of prediabetes. This studyaimed to explore whether both of general obesity and abdominal obesity related toprediabetes on age group 20-65 years in Bogor tengah sub-district by familyhistory of DM, sex, age, smoking, hypertension, physical activity and stress. Thisstudy used the cross sectional design study with Cox Regression to multivariableanalysis. Data for this analysis were collected during the baseline stage of cohortstudy of risk factors of non-communicable disease in 2011-2012. There were3244 respondents from Bogor tengah were taken by random sample technique..The result indicated that obesity to prediabetes adjusted by age; general obesityalone PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), abdominal obesity alone PR 1,45 (95% CI;1,19-1,87), general obesity and abdominal obesity jointly PR 1,92 (95% CI;1,62-2,28). Therefore, general obesity and abdominal obesity jointly contributedmost to the increase prevalence of prediabetes. Awareness raising and screeningof prediabetes of those at high risk group by assessing obesity by BMI and waistcircumference joinlty are essential to be considered as part of efforts for haltingthe epidemic of prediabetes in community.Keyword : general obesity, abdominal obesity, prediabetes.
Read More
T-4776
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Sri Wahyuningsih; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Ahmad Syafiq, Muhammad Bal`an Kamali Rangkuti, Eva Sulistiowati
Abstrak: Diabetes melitus merupakan penyakit dengan tingkat komplikasi yang tinggi,sehingga membutuhkan penanganan yang dikenal dengan empat pilarpenatalaksanaan DM. Data peserta Prolanis Puskesmas Pulo Gadung pada bulanNovember 2015-Januari 2016, berturut-turut sebanyak 87%, 84%, dan 88%diabetisi mempunyai Gula Darah Postprandial (GDPP) yang tidak terkendalitanpa adanya proses evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dalam pengendalian GDPP. Penelitian ini merupakanpenelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Tempatdan waktu penelitian di Puskesmas Pulo Gadung pada bulan April 2016. Datakuantitatif diperoleh dari pengisian kuesioner, penilaian indeks massa tubuh, sertapemeriksaan GDPP 84 diabetisi. Sebagai sampel adalah diabetisi di sembilanPuskesmas yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampeldilakukan secara non-probability sampling. Sedangkan data kualitatifdimaksudkan untuk mendapatkan informasi lebih dalam tentang empat pilarpenatalaksaan DM. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif dan data kualitatifdianalis dengan analisis tematik. Penelitian menunjukkan hanya 4,8% diabetisiyang memiliki GDPP terkendali. Faktor penyebab tidak terkendalinya GDPPadalah ketidakpatuhan diabetisi dalam melaksanakan pilar perencanaan makandan latihan jasmani, serta kurangnya dukungan keluarga dan dukunganmanajemen. Diperlukan peningkatan kegiatan edukasi, monitoring dan evaluasi,serta membangun kerja sama lintas sektor antara Puskesmas, Sudin Kesehatan,dan BPJS Kesehatan.Kata kunci: Diabetisi, gula darah postprandial, penatalaksanaan DM
Diabetes melitus is a disease with high complication rates, thus requirestreatment, which is known as the four pillars of DM management. Prolanisparticipant data at Puskesmas Pulo Gadung in November 2015-January 2016,respectively by 87%, 84%, and 88% of diabetic have uncontrolled PostprandialGlucose (PPG) without a process of evaluation. This study aims to determine theinhibiting factors in controlling the PPG. This is a cross sectional study withquantitative and qualitative approaches. The place and time of the study isconducted at Puskesmas Pulo Gadung, in April 2016. The quantitative data wereobtained from the questionnaires, assessment of body mass index, and the resultsof the examination PPG 84 of selected diabetic. The samples are diabetic in ninePuskesmas that fulfill the inclusion and exclusion criterias. Sampling was done bynon-probability sampling. While the qualitative data is intended to get moreinformation about the four pillars of diabetes management. Quantitative data wereanalyzed by descriptive and qualitative data were analyzed by thematic analysis.Research shows that only 4.8% diabetic who have controlled PPG. Factorscausing uncontrolled PPG are non-compliance of diabetic in implementing mealplanning and physical exercise, lack of family and management support. Requiredincrease in educational activities, monitoring and evaluation, and build crosssector cooperation between Puskesmas, Sudin Kesehatan, and BPJS.Keywords: Diabetic, DM management, postprandial glucose
Read More
T-4688
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Kartika Irnayanti; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Sudarto Ronoatmodjo, Eva Sulistiowati, Lily Banonah Rivai
Abstrak: Prevalensi diabetes mellitus tipe 2 cenderung meningkat dan diperkirakan akan semakin meningkat di Indonesia. Sementara itu, prevalensi obesitas yang diketahui berkaitan erat dengan kejadian DM tipe 2 juga mengalami peningkatan dan diperkirakan juga akan terus meningkat. Penelitian ini dengan desain studi kohort retrospektif ini bertujuan mengetahui hubungan antara kombinasi obesitas umum (indeks massa tubuh/IMT) dan obesitas sentral (rasio lingkar perut-tinggi badan/rasio LP-TB) dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2 pada penduduk dewasa Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor selama tahun 2011-2018, dengan menggunakan data sekunder Studi Kohor Faktor Risiko PTM. Hasil penelitian didapatkan insidens kumulatif diabetes mellitus tipe 2 adalah sebesar 18,3% dan lebih dari setengah (51,2%) responden mengalami obesitas keduanya. Proporsi terjadinya diabetes mellitus tipe 2 pada masing-masing kategori adalah 24,7% untuk kombinasi obesitas umum dan obesitas sentral; 12,5% untuk obesitas sentral saja; dan 50,0% untuk obesitas umum saja. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kategori kombinasi obesitas umum dan obesitas sentral (RR = 1,914; 95% CI 1,5142,418; p = 0,000) dan kategori obesitas umum saja (RR = 5,013; 95% CI 1,582-15,889; p = 0,006) berhubungan secara signifikan dengan diabetes mellitus tipe 2 setelah dikontrol dengan variabel umur dan kadar trigliserida. Sementara itu, kategori obesitas sentral saja tidak berhubungan secara signifikan dengan diabetes mellitus (RR = 1,024; 95% CI: 0,761-1,377). Hasil penelitian ini masih dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya nilai AUC untuk cut off point rasio LP-TB yang tidak ideal, kurangnya jumlah sampel minimal untuk masing-masing kategori, baik exposed maupun nonexposed, menurunnya power of study pada kategori tertentu, masih adanya pengaruh chance, dan adanya kemungkinan misklasifikasi dan bias seleksi akibat tingginya loss to follow up dengan karakteristik yang berbeda
The prevalence of type 2 diabetes mellitus tends to increase and will increase in several years in Indonesia. Meanwhile, the prevalence of obesity closely related to the incidence of diabetes mellitus type 2 has also increased and is expected to increase in few years later. The study as a retrospective cohort aims to find out the relationship between the combination of general obesity (body mass index/BMI) and central obesity (waist-toheight ratio/WtHR) with the incidence of type 2 diabetes mellitus in the adult population of Central Bogor Subdistrict, Bogor City year 2011-2018, using secondary data of Studi Kohor Faktor Risiko PTM. The results showed the cumulative incidence of type 2 diabetes mellitus was 18.3% and more than half (51.2%) of respondents were obese. The proportion of incidence of type 2 diabetes mellitus in each category was 24.7% for the combination of general obesity and central obesity; 12.5% for central obesity only; and 50.0% for general obesity only. The results of multivariate analysis showed that the combination of general obesity and central obesity (RR = 1.914; 95% CI 1.514-2.418; p = 0.000) and general obesity only (RR = 5.013; 95% CI 1.58215.889; p = 0.006) were significantly associated with type 2 diabetes mellitus after controlled by age and triglyceride levels. Meanwhile, the central obesity only was not significantly associated with type 2 diabetes mellitus (RR = 1.024; 95% CI: 0.7611.377). The results of this study are still reliable and influenced by several things, including the AUC value for the cut-off point of LP-TB ratio is not ideal; the minimum sample size for each category (both exposed and unexposed); lower power of study in certain categories; remaining chance effect; the possibility of misclassification; and selection bias because of loss to follow up
Read More
T-6089
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irene Febriani; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Drajot Darsono, Eva Sulistiowati
Abstrak: Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor risiko dominandan membuat skor risiko diabetes tidak terdiagnosis (UDDM) dan prediabetes.Metode: Pembuatan skor risiko berdasarkan data yang tersedia hasil RisetKesehatan Dasar 2013, dengan kriteria ≥ 18 tahun, baru terdiagnosis saat Riskesdas,tidak menderita penyakit kronis/menular lainnya. Nilai koefisien β hasil analisisregresi logistik multinomial model prediksi digunakan untuk mengenmbangkan skor.Keakuratan skor prediksi diabetes dan prediabetes dinilai dengan ROC (ReceiverOperating Characteristic). Hasil: Dua model prediksi dikembangkan menjadi skorrisiko. Model 1 prediksi diabetes tidak terdiagnosis dengan 7 prediktor AUC 73,5%,sen 62,2%, spes 70,8%, PPV 12,8%, NPV 96,5%, titik potong ≥22, model 2 prediksidiabetes tidak terdiagnosis dengan 5 prediktor AUC 72,4%, sen 68,3%, spes 64,7%,PPV 11,8%, NPV 96,7%, titik potong ≥20. Prediksi prediabetes tidak dikembangkanmenjadi skor karena tidak akurat, tetapi dapat diketahui faktor dominannya.Kesimpulan: Indonesia dapat memiliki perhitungan skor risiko guna memprediksidiabetes yang tidak terdiagnosis berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar yangtersedia. Skor Risiko tersebut dapat digunakan tenaga kesehatan untukmengidentifikasi individu dengan risiko tinggi dan masyarakat awam mampumenggunakan skor tersebut.Kata kunci : Prediabetes, Diabetes tidak terdiagnosis (UDDM), faktor risiko, skor
Objective: This studi aims to find the risk factors and develop risk scorefor undiagnosed diabetes and prediabetes. Method: Risk score madebased on available data from Basic Health Research 2013 in Indonesia,with criteria 18-55 years old, newly diagnosed diabetes, and not affectedby chronic /infectious diseases before.β coeff value from multinomiallogistic regression analysis results of predictive models are used todevelop risk score. The accuracy of risk score assessed with ROC(Receiver Operating Characteristic). Result: 2 prediction models are useto develop risk score. The accuracy form 7 predictors for undiagnoseddiabetes in model 1 are AUC 73.5%, sen 62.2%, spes 70.8%, PPV 12.8%,NPV 96.5%, cut off ≥22. The accuracy form 5 predictors for undiagnoseddiabetes in model 2 are AUC 72.4%, sen 68.3%, spes 64.7%, PPV 11.8%,NPV 96.7%, cut off ≥20 . Score predikction for diabetes not developed,because of poor accuray, but the result of analysis can showed prediabetesdominant risk factors. Conclusion: Indonesia may have a risk scorecalculation for predicting undiagnosed diabetes based on data from HealthResearch provided. The risk score can be used by health workers toindentified individuals with high-risk and the general public are able touse these scores.Keyword : prediabetes, undiagnosed diabetes, risk factor, score
Read More
T-4682
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyana Santika Sari; Pembimbing: Besral; Penguji: Iwan Ariawan, Artha Prabawa, Nita Mardiah, Eva Sulistiowati
Abstrak: Penderita obesitas di dunia terus meningkat tidak hanya di negara maju namun negara berkembang seperti Indonesia. Peningkatan kejadian obesitas ternyata juga sejalan dengan peningkatan kejadian Sindrom Metabolik (SM) salah satunya adalah Diabetes Mellitus Tipe 2. Pengukuran obesitas yang selama ini dilakukan belum akurat. ABSI menggabungkan hasil ukur lingkar pinggang dengan IMT dan tinggi badan sebagai upaya mencari indikator antropometri baru yang lebih valid dalam menggambarkan bahaya dari kegemukan dan obesitas. Sedangkan untuk memperkiraan kejadian Diabetes agar menjadi lebih akurat diperlukan durasi obesitas. Aktivitas fisik diduga menjadi faktor utama yang mempengaruhi kejadian obesitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan desain studi kohor retrospektif. Analisis penelitian menggunakan survival dengan regresi cox. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 2.591 orang dewasa dengan obesitas di 5 Kelurahan di Kota Bogor. Hasil penelitian ini menunjukkan ketahanan terhadap DM Tipe 2 paling rendah terjadi pada orang obesitas yang melakukan aktivitas fisik rendah dibandingkan dengan yang beraktifitas sedang dan tinggi. Faktor lain yang mempengaruhi survival time antara lain umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, asupan karbohidrat, dan asupan lemak.
Read More
T-5712
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive