Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Intan Suryantisa Indah; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Milla Herdayanti, Syafriyal
S-4993
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
S-6998
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Pananrang; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Yovsyah; Syafriyal; Umar
Abstrak:
Imunisasi hepatitis B adalah salah satu jenis pelayanan imunisasi dasar yang seharusnya diberikan kepada semua bayi pada usia 0-7 hari. Proporsi bayi yang diimunisasi HB-0 tergolong masih rendah sekitar 60% sehingga potensi bayi terinfeksi HBV pada usia dini, masih besar. Tujuan penelitian, untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B dengan status imunisasi HB-0 pada puskesmas di kabupaten Barru setelah dikontrol dengan potential confounder. Desain penelitian adalah kasus kontrol. Kasus adalah bayi yang tidak diimunisasi hepatitis B-0 sedangkan kontrol adalah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis B-0 (bayi 0-7 hari) dan masingmasing tercatat dalam register imunisasi pukesmas Padongko dan Pekkae bulan Februari-Maret 2011 dengan total sampel sebanyak 166. Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang berpengetahuan kurang mengenai imunisasi hepatitis B, mempunyai risiko (odds) 5,57 kali bayinya tidak diimunisasi HB-0 dibandingkan ibu yang berpengetahuan baik dengan 95%CI:(2,69-11,53) setelah dikontrol dengan faktor pendidikan ibu. Disarankan kepada instansi terkait untuk meningkatkan upaya promosi program imunisasi HB-0 kepada masyarakat dan kemitraan lintas sektor serta mendorong komitmen setiap unit pelayanan kesehatan untuk melaksanakan program imunisasi HB-0.

The Hepatitsi B Immunization is one of kind the primary immunization care that should be given to all of neonatus early (0-7 days old). The proportion of HB-0 immunized neonatus early is about 60% so there was chance of child be infected HBV when they were still neonatus phase. The study objective is to know association of the mother’s knowledge about hepatitis B immunization and the immunization status of Hepatitis B-0 (neonatus 0 - 7 days old) at puskesmas in the distric of Barru after adjusted by potential confounder. The design is case - control study. The cases are infant who unimmunized hepatitis B-0 (0-7 days old) and the controls are infant who immunized hepatitis B-0 and both of them had been being registered at puskesmas Padongko dan Pekkae in 2011,february-march.The sample size are 166 (83:83). The study result shows that the mothers who have less knowledge about hepatitis B immunization have chance (odds) 5,57 times their infants would not be immunized if be compared with the mother’s who have good knowledge 95%CI:(2,69-11,53) after adjusted by the mother education factor. To be suggested to increase the promotion efforts of hepatitis B immunization programme to the community and immunization partnership programme and build communication intesively to all of the helath service providers to make a commitment conducting immunization of hepatitis B-0 programme.
Read More
T-3405
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asruddin; Pembimbing: Dian Ayubi, Pujianto; Penguji: Tri Krianto, Syafriyal, Retno Damarwati
Abstrak: Hasil kinerja pengelola imunisasi berdasarkan Malcolm Baldrige di peroleh bahwa perencanaan strategis memiliki hasil yang paling tinggi sebesar 85,02. Variabel yang paling rendah adalah fokus pada tim dengan nilai 78,02. Pada hasil multivariate menunjukkan bahwa Korelasi Hasil Kinerja memiliki korelasi yang kuat dengan variabel Kepemimpinan Perencanaan Strategis, Fokus pada Pelanggan, Pengukuran, Analisis dan Manajemen Pengetahuan, Fokus pada Tim dan Fokus pada Proses dengan Nilai koefisien determinan (R2=0,793) dimana variabel yang paling tinggi memberikan pengaruh terhadap hasil dengan niai Standardized Coefficients (B) = 0,429 atau 42,9 % sedangkan variabel fokus pada tim adalah variabel yang paling kecil memberikan pengaruh terhadap hasil kinerja dengan nilai Standardized Coefficients (B) = 0,003 atau 0,3 %. Sehingga semakin baik pengukuran, analisa dan manajemen pengetahuan, perencanaan strategis, fokus pada pelanggan, kepemimpinan, fokus pada proses dan fokus pada tim akan meningkatkan hasil kinerja pengelola program puskesmas
Read More
T-5556
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ema Maratus Sholihah A.; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Hadi Pratomo, Rita Damayanti, Syafriyal
Abstrak: ABSTRAK Latarbelakang:Tidak tercapainya target imunisasi Hepatitis B di Desa Cerukcuk Kecamatan Tanara dan adanya orangtua yang menolak imunisasi maka penting untuk mengetahui penyebab orangtua menolak imunisasi Hepatitis B. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab orangtua menolak imunisasi hepatitis B dengan memodivikasi determinan Vaccine Hesitancy dan Health Belief Model . Metode: penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mewawancara ibu dengan bayi usia 0-3 bulan yang menolak imunisasi Hepatitis B dan melakukan observasi pada pelayanan imunisasi. Hasil: perilaku orangtua yang menolak imunisasi hepatitis B disebabkan karena pengetahuan yang rendah tentang penyakit Hepatitis B dan imunisasinya, persepsi orangtua tentang hambatan melakukan imunisasi yang lebih besar dibanding manfaatnya, besarnya peran dukun, pengaruh pengambilan keputusan oleh keluarga, masih adanya kepercayaan pada pengobatan tradisional, adanya pengalaman tidak menyenangkan terkait imunisasi, sosial ekonomi yang rendah, peran tenaga kesehatan yang belum maksimal dalam pemberian informasi imunisasi, serta peran masyarakat yang kurang dalam mendukung iunisasi. Kesimpulan: peningkatan pengetahuan orangtua tentang penyakit hepatitis B dan imunisasinya perlu ditingkatkan didahului dengan pendekatan oleh tenaga kesehatan bekerjasama dengan dengan tokoh agama dan dukun melalui kegiatan-kegiatan non kesehatan dan kunjungan rumah untuk komunikasi interpersonal dan edukasi imunisasi.. Kata kunci: Penolakan imunisasi, keraguan terhadap imunisasi, hepatitis B, penggerakan masyarakat existence of parents who refused immunization so it is important to know the cause of the parents refused immunization Hepatitis B. This study aims to identify the cause of parents reject hepatitis B immunization by modifying the determinants of vaccine hesitancy and Health Belief Model . Method: This study used qualitative methods by interviewing mothers with infants aged 0-3 months who rejected hepatitis B immunization and observed immunization services. Results: the behavior of parents who reject hepatitis B immunization is due to poor parental knowledge about Hepatitis B disease and its immunization, parental perception of immunization constraints greater than the benefits, the magnitude of the dukun's role, the influence of family decision-making, the belief in traditional medicine, discomfort related to immunization, low social economy, the role of health workers who have not been maximized in providing immunization information, as well as the role of people who lack support in iunisasi. Conclusions: Increased parental knowledge about hepatitis B disease and its immunization needs to be increased preceded by approaches by health workers in collaboration with religious leaders and traditional healers through non-health activities and home visits for interpersonal communication and immunization education Keywords: Refused immunization, vaccine hesitancy,communication, hepatitis B, social mobilitation
Read More
T-5402
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alvie Rizky Gusrianty; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Syafriyal, Yuniarsih Handayani
Abstrak: Di Indonesia, saat ini mempunyai beban ganda dalam pembangunan di bidang kesehatandiantaranya adalah penyakit menular dan penyakit tidak menular. Sangat sulit untukmemberantas penyakit menular karena penyebarannya tidak mengenal batas wilayah.Imunisasi adalah salah satu tindakan yang dapat mencegah penyebaran penyakit ke wilayahlain dan terbukti sangat efektif dalam hal biaya, sebagaimana yang telah diatur oleh pemerintahdalam bentuk Permenkes No.12 tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi. Penelitian inibertujuan untuk menggali lebih dalam tentang perencanaan program imunisasi berdasarkanpencapaian target Universal Child Immunization di Puskesmas Kabupaten Bandung denganmembandingkan antara Puskesmas UCI dengan Puskesmas non UCI dalam satu kecamatanyang sama. Metode penelitian yang dilakukan yaitu studi deskriptif dengan analisis kualitatifmelalui wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian menyimpulkanbahwa komponen perencanaan yang mempengaruhi tercapainya target UCI pada PuskesmasUCI dan Puskesmas non UCI adalah perencanaan SDM jumlah pegawai, motivasi, dankepemimpinan dan lingkungan. Saran yang diajukan untuk Dinas Kesehatan yaitu menambahjumlah pegawai di Puskesmas non UCI agar tidak ada alasan lagi mengenai keluhan bebankerja dan dapat meningkatkan cakupan imunisasi dan tercapainya target UCI. Sedangkan saranbagi Puskesmas, khususnya Puskesmas non UCI dapat meningkatkan motivasi pegawai,meningkatkan sweeping dan mengatasi masalah lingkungan lainnya sehingga dapatmeningkatkan cakupan imunisasi dan mencapai target UCI di wilayah kerjanya.
Read More
T-5351
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meiditya Ayu Verdina; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Besral, Sandi Iljanto, Syafriyal, Harimat Hendarwan
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jarak, waktu tempuh, alat transportasi, penolong persalinan, dan kabupaten dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan imunisasi dasar di Kabupaten Ketapang, Sanggau, dan Sintang tahun 2007. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional yang menggunakan data sekunder yaitu data Riskesdas tahun 2007. Hasil analisis faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan imunisasi dasar di Kabupaten Ketapang, Sanggau, dan Sintang adalah faktor pendidikan ibu dan jarak ke fasilitas UKBM maupun non UKBM. Berdasarkan hasil analisis multivariat, faktor yang paling berpengaruh adalah alat transportasi. Saran dari penelitian ini adalah agar dinas kesehatan perlu kerjasama lintas sektor dengan dinas perhubungan. Ketersediaan alat transportasi umum sebagai faktor pendukung akan mempermudah akses bagi masyarakat ke fasilitas kesehatan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan imunisasi dasar. Peningkatan pengetahuan ibu pentingnya imunisasi melalui media komunikasi seperti siaran radio daerah, poster dan lain-lainnya. Selain itu mobilisasi petugas kesehatan ke lokasi yang sulit dijangkau perlu diaktifkan.


This study is aim to determine the relation factors of maternal age, maternal education, maternal employment status, the range to health facility (UKBM and non UKBM), travel time, availability of transportation, maternity helper, and municipal with utilization of health services for the basic immunization in Ketapang, Sanggau, and Sintang district in 2007. This study is a quantitative research with cross sectional design using secondary data from Riskesdas 2007. The results of related factors to the utilization of health services for the basic immunization in 3 districts are maternal education and the range to health facility (UKBM and non UKBM). The result of multivariate analysis, the most influential factor is the availability of transportation. Suggestions from this study are the health authorities need to cooperate with other sectors, such as local transportation department. The availability of public transportation as an enabling factor to access health facilities for utilizes the health services of basic immunization. Improving knowledge for mother regarding the benefit of basic immunization through radio broadcasts, posters and others. In addition to the mobilization of health workers is difficult to reach locations that need to be activated.

Read More
T-3627
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kadarusman; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Wahyono, Tri Yunis Miko, Yovsyah, Tulus Riyanto, Syafriyal
T-3084
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lia Rosi Vela; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Ede Surya Darmawan, Yuliandi, Syafriyal
Abstrak: Indikator yang diukur untuk menilai kinerja pelaksanaan imunisasi di Indonesia berdasarkan Renstra Kemenkes RI adalah pencapaian imunisasi dasar lengkap (IDL) sedangkan indikator programnya adalah pencapaian universal child immunization (UCI). Pencapaian indikator IDL Kabupaten Kapuas pada tahun 2017 sebesar 62% di mana selisih ada selisih 26,4% dari target Renstra Kemenkes RI 2015-2019 sebesar 95%. Pencapaian indikator UCI desa/kelurahan Kabupaten Kapuas Tahun 2017 sebesar 32,2% dan ada selisih 62,8% dari target UCI berdasarkan RPJMN sebesar 95%. Tesis ini bertujuan untuk membahas kinerja implementasi kebijakan terkait pencapaian indikator imunisasi dasar lengkap (IDL) dan Universal Child Immunization (UCI) tahun 2018 di Kabupaten Kapuas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di 6 puskesmas yang berada di kabupaten Kapuas. Jumlah informan dalam penelitian ini ada 34 informan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi melalui telaah dokumen dan kemudian dilakukan analisis data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang sudah berjalan dengan optimal adalah karakteristik badan pelaksana dan standar dan tujuan kebijakan, sedangkan yang belum berjalan dengan optimal adalah kinerja implementasi kebijakan, komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksana, sumber daya (SDM, anggaran, insentif, sarana dan prasarana), dukungan lingkungan sosial, ekonomi, dan politik. Sehingga dapat disimpulkan kinerja implementasi kebijakan terkait pencapaian indikator imunisasi dasar lengkap (IDL) dan Universal Child Immunization (UCI) di Kabupaten Kapuas tahun 2018 kurang optimal sehingga diperlukan upaya perbaikan untuk meningkatkan pencapaian IDL dan UCI di tahun berikutnya.
Read More
T-5518
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Agus Setia Budi; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Sholah Imari, Syafriyal
Abstrak:

ABSTRAK Campak atau kerumut dalam bahasa Banjar adalah salah satu penyakit infeksi yang dapat di cegah dengan imunisasi dan masih masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini secara umum menyerang anak usia dibawah lima tahun (balita) yang di sebabkan oleh virus morbili. Di Kota Banjarmasin meskipun keberhasilan cakupan imunisasi campak telah mencapai lebih dari 90%, dan kelurahan yang telah mencapai UCI sebanyak 51 kelurahan, namun demikian berdasarkan laporan surveilans dinas kesehatan kota Banjarmasin selama 2011 dilaporkan telah terjadi kejadian luar biasa kasus campak sebanyak 5 kali, dengan 147 kasus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak usia 0?59 bulan di Kota Banjarmasin Tahun 2011. Untuk itu digunakan pendekatan desain kasus kontrol. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor utama yang berpengaruh terhadap kejadian campak pada anak usia (0?59 bln) adalah pendidikan Ibu (OR= 13,88), pendidikan bapak (OR =6,33), status imunisasi campak (OR= 4,64), umur anak (OR=2,46), sedangkan faktor yang bersifat protektif adalah vitamin A (OR=0,34), dan penghasilan keluarga (OR=0,18). Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak yang di imunisasi campak mempunyai orang tua yang berpendidikan baik, berpenghasilan cukup dan mendapat vitamin A dua kali dalam setahun dapat mengurangi angka kejadian campak. Dari hasil penelitian ini disarankan untuk memperbaiki kebenaran cakupan imunisasi, memberikan pelatihan safe injection dan cold chain bagi petugas pelaksana di puskesmas, penyuluhan kesehatan dengan bahasa daerah, pemberian vitamin A dan memberikan prioritas peningkatan program pada daerah dengan tingkat pendidikan Ibu dan Bapak yang rendah, serta berpenghasilan kurang sebagai sasaran di Kota Banjarmasin untuk menurunkan angka kejadian campak pada anak (0-59 bulan).


 ABSTRACT Measles or kerumut in Banjar is one of the infectious diseases that can be prevented by immunization and health in Indonesia is still a problem. This disease generally attacks children under five years of age (infants) which is caused by a virus morbili. In the city of Banjarmasin despite the success of measles immunization coverage has reached more than 90%, and the village which has reached as many as 51 villages UCI, however, based on surveillance reports Banjarmasin city health department is reported to have occurred during the 2011 outbreak of measles cases as much as 5 times, with 147 case. The study aims to determine the factors associated with the incidence of measles in children aged 0-59 months in the city of Banjarmasin in 2011. For that use case-control design approach. The results showed that the main factors that influence the incidence of measles in children aged (0-59 months) is the mother of education (OR = 13.88), the father of education (OR = 6.33), measles immunization status (OR = 4.64 ), age of child (OR = 2.46), whereas protective factors are vitamin A (OR = 0.34), and family income (OR = 0.18). This study concluded that children who have measles immunization in the elderly are well educated, and have income sufficient vitamin A twice a year can reduce the incidence of measles. From these results it is advisable to fix the truth of immunization coverage, providing safe injection training and cold chain for executive officers at the health center, health education in local languages, provision of vitamin A and gives priority to improve the program in areas with high levels of education are low mother and father, as well as earn less as a target in the city of Banjarmasin to reduce the incidence of measles in children (0-59 months).

Read More
T-3581
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive