Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Martha Dina Apriliana; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Didik Triwibowo
Abstrak: Kecelakaan yang berkaitan dengan lalu lintas dan insiden yang berkaitan dengan kendaraan menjadi penyebab utama kecelakaan di area pertambangan. Salah satu penyebabnya adalah kelelahan pada operator truk tambang. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjelaskan gambaran kelelahan subjektif dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan subjektif pada operator kendaraan tambang batu bara di area mining dan hauling PT Adaro Indonesia. Faktor-faktor risiko yang diteliti meliputi faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status gizi (IMT), lingkar leher, keluhan kesehatan, kuantitas tidur, dan kualitas tidur) dan faktor risiko terkait pekerjaan (area kerja, masa kerja, shift kerja, commuting time, dan lingkungan kerja terutama temperatur, kebisingan, getaran, dan pencahayaan). Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juli 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari kuesioner yang disebarkan secara dalam jaringan (daring), yang meliputi kuesioner karakteristik individu dan pekerjaan, Fatigue Assessment Scale (FAS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan uji chi-square serta uji regresi logistik ganda model prediksi. Besar sampel minimal dalam penelitian ini adalah 436 operator, namun data yang berhasil dianalisis adalah sebanyak 440 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 130 operator (29,5%) mengalami kelelahan subjektif. Hasil analisis statistik inferensial menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko tidak terkait pekerjaan, yaitu status gizi (IMT gemuk dan obesitas), keluhan kesehatan, dan kualitas tidur terhadap kelelahan subjektif pada operator. Hasil analisis statistik inferensial juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait pekerjaan, yaitu masa kerja, temperatur, kebisingan, getaran, dan pencahayaan, terhadap kelelahan subjektif pada operator. Sementara itu, hasil analisis inferensial menggunakan uji regresi logistik ganda model prediksi menunjukkan bahwa kualitas tidur merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan subjektif pada operator.
Accidents related to traffic and incidents related to vehicles are the main causes of accidents in mining areas. One of the causes is fatigue on mining truck operators. This study was conducted to describe subjective fatigue and analyze risk factors related to subjective fatigue in coal mining vehicle operators in mining and hauling area of PT Adaro Indonesia. The risk factors studied included non-work-related risk factors (age, nutritional status (BMI), neck circumference, health complaints, sleep quantity, and sleep quality) and work-related risk factors (work area, length of work, shift work, commuting time, and work environment, especially temperature, noise, vibration, and lighting). The study was conducted from February to July 2022. The data used in this study came from a questionnaire distributed online, which included a questionnaire on individual and job characteristics, the Fatigue Assessment Scale (FAS), and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using descriptive analysis and inferential analysis with chi-square test and multiple logistic regression test for prediction models. The minimum sample size in this study was 436 operators, but the data that were successfully analyzed were 440 respondents. The results showed that as many as 130 operators (29.5%) experienced subjective fatigue. The results of inferential statistical analysis using the chi-square test showed that there was a significant relationship between risk factors not related to work, namely nutritional status (fat and obesity BMI), health complaints, and sleep quality on subjective fatigue in operators. The results of inferential statistical analysis also show that there is a significant relationship between work-related risk factors, namely working period, temperature, noise, vibration, and lighting, and subjective fatigue on operators. Meanwhile, the results of inferential analysis using multiple logistic regression test predictive models indicate that sleep quality is the most dominant variable associated with subjective fatigue in operators.
Read More
S-11040
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laksita Ri Hastiti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Didik Triwibowo
Abstrak: Latar Belakang: Pajanan PM2,5 berperan terhadap berbagai efek kesehatan padamanusia termasuk gangguan fungsi paru dan mempengaruhi kadar profil lipiddarah yang secara tidak langsung berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskuler.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara pajanan PM2,5 dengan gangguan fungsiparu dan kadar profil lipid darah pada karyawan PT X, Kalimantan Selatan, Tahun2012.
Metode: Studi cross-sectional dilaksanakan di dua area kerja PT X (perusahaantambang batubara) yaitu area pelabuhan dan non-pelabuhan. 154 karyawan terpilih secara acak sebagai sampel dalam penelitian ini. Peneliti mengukurpajanan PM2,5 secara indoor pada kedua area dan menyebarkan kuesioner.Dilakukan review terhadap data medical check-up karyawan pada tahun terakhir.Analisis secara multivariat dengan metode regresi logistik berganda.
Hasil: Hasil studi menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru adalah umur (p-value= 0,007, 95% CI) dan masa kerja (p-value=<0,001, 95% CI). Faktor risiko yang berhubungan dengan kadar kolesterol totaladalah masa kerja (p-value= <0,037, 95% CI), untuk trigliserida adalah umur (pvalue= <0,001, 95% CI) dan IMT (OR= 3,375; 95% CI:1,672-6,813). Tidak adavariabel yang berhubungan secara statistik dengan kadar HDL dan LDL. Hasilanalisis multivariat menunjukkan pajanan PM2,5 yang paling mempengaruhigangguan fungsi paru (OR=1,9) serta kadar profil lipid darah yaitu kolesterol total(OR=1,6) dan trigliserida (OR=2,6) setelah dikontrol oleh variabel lain yangmempengaruhi gangguan fungsi paru dan kadar profil lipid darah.
Kesimpulan: Pajanan PM2,5 berhubungan dengan gangguan fungsi paru dankadar profil lipid darah pada karyawan, yaitu kadar kolesterol total dantrigliserida.
Kata kunci: PM2,5, tambang batubara, gangguan fungsi paru, profil lipid darah,cross-sectional.
Read More
S-7655
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Dyah Sharifa; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
S-12349
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Priscilla Ray Soelistyo; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan permasalahan multidimensional yang menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karena dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Dampaknya tidak hanya menurunkan kondisi fisik dan mental pekerja, tetapi juga berkontribusi terhadap sekitar 15–20% kecelakaan kerja di tingkat nasional dan 13–19% kecelakaan kerja di tingkat internasional, termasuk kecelakaan fatal. Pada sektor pertambangan, risiko tersebut semakin meningkat akibat karakteristik operasional yang menuntut, sehingga pekerja tambang memiliki kemungkinan mengalami kelelahan sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan pekerja di sektor industri lainnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kelelahan subjektif pada operator kendaraan tambang batu bara PT X tahun 2026 sekaligus menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan.  Faktor yang dikaji mencakup faktor terkait pekerjaan, yaitu  beban kerja, shift kerja, lingkungan kerja, stres kerja, dan masa kerja, serta faktor tidak terkait pekerjaan, yaitu usia, kualitas tidur, kuantitas tidur, status pernikahan, gizi, konsumsi kafein, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik. Pengukuran kelelahan dilakukan menggunakan instrumen yang tervalidasi, yaitu Occupational fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), variabel beban kerja diukur menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), variabel stres kerja diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS), variabel  kualitas dan kuantitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan variabel aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Dengan desain penelitian potong lintang (cross-sectional), analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian ini  menunjukkan bahwa baik faktor risiko kelelahan terkait pekerjaan maupun tidak terkait pekerjaan berhubungan signifikan dengan kelelahan. Variabel yang berhubungan secara signifikan yaitu lingkungan kerja, stres kerja, masa kerja, kualitas tidur, kuantitas tidur, status pernikahan, dan aktivitas fisik. Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya peningkatan program manajemen kelelahan terutama terkait faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan untuk menurunkan risiko kelelahan serta mencegah terjadinya kecelakaan kerja di sektor pertambangan.

Workplace fatigue is a multidimensional problem that poses a serious threat to occupational safety and health (OHS) because it is influenced by various interacting factors. Its impact not only reduces the physical and mental condition of workers, but also contributes to approximately 15–20% of workplace accidents nationally and 13–19% of workplace accidents internationally, including fatal accidents. In the mining sector, this risk is further increased due to demanding operational characteristics, so that mine workers are approximately two to three times more likely to experience fatigue than workers in other industrial sectors. This study aims to determine the picture of subjective fatigue in coal mining vehicle operators at PT X in 2026 while analyzing factors related to fatigue. The factors studied include work-related factors, namely workload, work shifts, work environment, job stress, and length of service, as well as non-work-related factors, namely age, sleep quality, sleep quantity, marital status, nutrition, caffeine consumption, smoking habits, and physical activity. fatigue measurements were conducted using a validated instrument, namely the Occupational fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), workload variables were measured using the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), work stress variables were measured using the Perceived Stress Scale (PSS), sleep quality and quantity variables were measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and physical activity variables were measured using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). With a cross-sectional study design, data analysis was conducted descriptively and inferentially using the chi-square test. The results of this study indicate that both work-related and non-work-related fatigue risk factors are significantly related to fatigue. The variables that are significantly related are the work environment, work stress, tenure, sleep quality, sleep quantity, marital status, and physical activity. The findings of this study indicate the importance of improving fatigue management programs, especially related to risk factors related to fatigue, to reduce the risk of fatigue and prevent occupational accidents in the mining sector.
Read More
S-12446
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Angga Hadi Nugraha; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Hendra, Didik Triwibowo, Deddy Syam
T-4039
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Febryanti Wibisono; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Dean Andreas Simorangkir, Didik Triwibowo
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan menganalisis tiga insiden kerja terkait kelelahan pada operator Heavy Dump Truck (HD) berdasarkan data Driving Monitoring System (DMS) di perusahaan pertambangan batubara Kalimantan Selatan tahun 2025. Desain penelitian adalah studi kasus dengan pendekatan triangulasi sumber, menggabungkan data sekunder berupa log event DMS dan dokumen LPI, data DMS sebagai pembanding, serta data primer dari wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Ketiga insiden fatigue HD yang tercatat sepanjang tahun 2025 menjadi unit analisis utama. Data yang dianalisis meliputi log event DMS dan dokumen LPI dari tiga insiden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelelahan bukan kejadian sporadis melainkan kondisi sistemik yang berulang; unit HD 78185 mencatat baseline rata-rata 2,28 event Eyes Closed per hari (dihitung dari hari operasional dengan data tersedia, di luar hari lonjakan) dengan lonjakan episodik hingga 31 event (13,6× baseline) pada 4 Juni 2025 — tujuh hari sebelum insiden. Pola temporal LPI-01 (00.10 WITA) dan LPI-02 (03.18 WITA) konsisten dengan nadir sirkadian two-process model, sementara LPI-03 (08.00 WITA) dijelaskan melalui akumulasi tekanan tidur (Proses S) menjelang akhir shift. Terdapat keterkaitan yang dapat diidentifikasi antara pola event DMS dan kejadian insiden, meskipun pola peningkatan tidak sepenuhnya konsisten dengan prediksi awal. Temuan terpenting adalah pola kegagalan rantai respons yang konsisten: sistem DMS berhasil mendeteksi sinyal kelelahan, namun gagal direspons karena kegagalan teknis notifikasi (LPI-02) dan penghindaran sensor oleh operator (LPI- 03). Fragmentasi data DMS lintas insiden merupakan temuan tersendiri yang mencerminkan celah sistemik dalam tata kelola data monitoring kelelahan. Penelitian ini merekomendasikan implementasi monitoring tren DMS harian, standarisasi retensi data pasca-insiden, sistem pelaporan kelelahan yang tidak menghukum, serta redundansi arsitektur notifikasi platform DMS.

This study aims to analyze three work-related fatigue incidents among Heavy Dump Truck (HD) operators based on Driving Monitoring System (DMS) data at a coal mining company in South Kalimantan in 2025. The research design is a case study with a source triangulation approach, combining secondary data in the form of DMS event logs and LPI documents, DMS data as a comparison, and primary data from in-depth interviews and Focus Group Discussions (FGD). The three HD fatigue incidents recorded throughout 2025 serve as the main unit of analysis. The data analyzed include DMS event logs and LPI documents from the three incidents. The results show that fatigue is not a sporadic occurrence but a recurring systemic condition; HD unit 78185 recorded an average baseline of 2.28 Eyes Closed events per day (calculated from operational days with available data, excluding surge days) with an episodic spike of up to 31 events (13.6× baseline) on June 4, 2025—seven days before the incident. The temporal patterns of LPI-01 (00:10 WITA) and LPI- 02 (03:18 WITA) are consistent with the nadir circadian two-process model, while LPI-03 (08:00 WITA) is explained by the accumulation of sleep pressure (Process S) towards the end of the shift. There is an identifiable link between DMS event patterns and incident occurrence, although the pattern of increases is not entirely consistent with initial predictions. The most important finding is a consistent pattern of response chain failures: the DMS system successfully detected fatigue signals, but failed to respond due to technical notification failures (LPI-02) and operator sensor evasion (LPI-03). The fragmentation of DMS data across incidents is a separate finding that reflects systemic gaps in fatigue monitoring data governance. This study recommends the implementation of daily DMS trend monitoring, standardization of post-incident data retention, a non-punitive fatigue reporting system, and redundancy of the DMS platform notification architecture.
Read More
T-7640
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tanaya Sulanjari Kusumaningtyas; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
Abstrak:

Latar Belakang: Sektor pertambangan merupakan sektor yang memiliki risiko yang tinggi sehingga perlu adanya implementasi K3, tak hanya untuk menjaga keselamatan dan kesehatan para pekerja namun juga untuk menjaga produktivitas kerja sehingga roda bisnis akan terus berjalan. Selain kecelakaan kerja, penyakit tidak menular juga dapat menurunkan produktivitas kerja dikarenakan absenteisme dan loss work time. Penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskulas merupakan penyakit yang menyumbang angka kematian terbesar di seluruh dunia. Kedua penyakit tersebut dapat muncul pada seseorang yang memiliki sindrom metabolik. Di Indonesia, terdapat beberapa penelitian mengenai sindrom metabolik dengan angka prevalensi yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pekerja tambang batu bara di PT Z.
Metode: Desain dari penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari hasil MCU karyawan. Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah faktor individu (usia, jenis kelamin, dan riwayat penyakit keluarga); faktor perilaku (aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol); dan faktor (pajanan bising, pajanan panas, dan pajanan debu).
Hasil: Sebanyak 34 pekerja (9,3%) memiliki sindrom metabolik. Obesitas sentral (35,4%), kadar trigliserida tinggi (27,2%), dan hipertensi (26,4%) merupakan tiga komponen tertinggi yang dimiliki pekerja. Hasil analisis menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara variabel faktor individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan dengan kejadian sindrom metabolik pada pekerja tambang batu bara di PT Z (p-value > 0,05)
Kesimpulan: Walaupun prevalensi sindrom metabolik dari penelitian ini adalah 9,3%, banyak dari pekerja yang memiliki 1-2 komponen sindrom metabolik yang mana komponen tersebut dapat mempengaruhi perkembangan komponen baru. Oleh karena itu, tetap perlu adanya program kesehatan untuk dapat menjaga ataupun menekan angka komponen dari sindrom metabolik tersebut.


Background: The mining sector is a high risk sector that needs the implementation of SHE, not only to ensure the safety and health of the workers but also to maintain work productivity so that business operations can continue. In addition to workplace incidents, non-communicable diseases can also lower work productivity by absenteism and loss work time. Non-communicable diseases such as diabetes and cardiovascular disease account for the highest number of deaths worldwide. Both of those diseases can occur in people who has metabolic syndrome. In Indonesia, there are a few studies about metabolic syndrome with varying prevalence rates. This study aims to analyze the risk factors for metabolic syndrome among coal mine workers in PT Z. Methods: This study uses a quantitative approach with a cross-sectional study design. The data collection for this study was conducted using secondary data from the results of the employees’ medical check up. The variables for this study consists of individual factors (age, sex, and family medical history); behavioral factors (physical activity, smoking habbits, and alcohol consumption); and environmental factors (noise exposure, heat exposure, and dust exposure). Results: A total of 34 workers (9,3%) have metabolic syndrome. Central obesity (35,4%),  high triglyceride (27,2%), and hypertention (26,4%) are the three highest component of the metabolic syndrome that the workers have. Analysis results indicate that no significant assosiaction was found between individual, behavioral, and environmental factors and the incidence of metabolic syndrome among coal miners at PT Z (p-value > 0.05). Conclusion: Although the prevalence of metabolic syndrome in this study was 9.3%, many of the workers had 1–2 components of metabolic syndrome, which could influence the development of new components. Therefore, health programs are still needed to maintain or reduce the prevalence of these components of metabolic syndrome.

Read More
S-12473
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive