Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dodi Badarianto; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Sonny Priajaya Warouw
S-4517
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Wulandari; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Laila Fitria, Abdur Rahman, Sonny Priajaya Warouw, Didi Purnama
Abstrak: Pajanan kronis benzena di lingkungan kerja selalu dihubungkan dengan gangguanhematologi. Hal ini dikarenakan sistem hematologi adalah jaringan target yangpaling kritis terhadap pajanan benzena melalui rute inhalasi dan diketahui sebagaipenyebab pansitopenia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubunganantara kadar S-PMA urin dengan leukosit pada pekerja industri sepatu informalyang terpajan benzena. Penelitian menggunakan desain cross sectional di enamindustri sepatu informal yang berada di kawasan Cibaduyut dengan jumlah sampel64 pekerja. Sampel urin dan darah diambil pada masing-masing sampel untukmenilai kadar S-PMA urin dan jumlah leukosit. Kadar S-PMA urin diukur denganmenggunakan alat LC-MS/MS dan leukosit diukur menggunakan alat AutomatedHematology Analyzer. Data karakteristik individu diperoleh melalui wawancaralangsung. Konsentrasi benzena di udara menggunakan data sekunder daripenelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubunganyang signifikan antara kadar S-PMA dengan leukosit (p value: 0,048) dan kadarS-PMA urin dengan jenis pekerjaan (p value: 0,004). Sebanyak 31,3% pekerjamemiliki kadar S-PMA urin melampaui BEI ACGIH (>25 μg/g kreatinin).Semakin tinggi konsentrasi benzena di udara ruang kerja, semakin banyak pekerjayang memiliki kadar S-PMA urin >25 μg/g kreatinin. Hasil uji regresi linearganda menemukan bahwa ada kecenderungan asosiasi antara kadar S-PMA urindengan leukosit, setelah dikontrol dengan variabel jenis pekerjaan, jam kerja perhari, dan kebiasaan berolahraga. Hasil penelitian dapat disimpulkan terdapatasosiasi antara kadar S-PMA urin dengan penurunan jumlah leukosit.Kata kunci: benzena, S-phenylmercapturic acid, leukosit, industri sepatu informal
Benzene high exposure in working is environment always connected tohematology disorders. This is caused by hematology system is the most criticaltarget network toward benzene exposure through inhaling route. This study aimsto analyze the relation between urinary and leukocytes S-PMA level of informalshoes industrial workers exposed to benzene. This study uses cross sectionaldesign in six informal shoes industries which are located in Cibaduyut with thenumber of sample of 64 workers. Urinary and blood samples are collected on eachsample to measure urinary S-PMA level and the number of leukocytes. Urinary S-PMA level is measured using Automated Hematology Analyzer. Individualcharacteristic data are obtained through direct interview. To measure benzeneconcentration, secondary data of previous study is used. The result of the studyindicates that there is significant correlation between S-PMA level withleukocytes (p value: 0.048) and urinary S-PMA level with the type of job (p value:0.004). By 31.3% workers have urinary S-PMA level more than BEI ACGIH (>25μg/g creatinine). The higher the benzene concentration of indoor air, the moreworkers have urinary S-PMA level > 25 μg/g creatinine. The result of doublelinear regression test finds that there is association tendency between urinary andleukocytes S-PMA level, after it is controlled by type of job, time of work perday, and exercising habit variables. It can be concluded that there is associationbetween urinary S-PMA level and the number of leukocytes decrease.Keywords: benzene, S-phenylmercapturid acid, leukocytes, informal shoesindustries
Read More
T-4768
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fahrul Islam; Pembimbing: Budi Hartono, Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Didik Supriyono, Sonny Priajaya Warouw
Abstrak: Kromium adalah logam berat yang banyak digunakan dalam kegiatan industri.Penggunaan kromium pada industri pelapisan logam dapat berisiko terhadap kesehatanpekerja yang berasal dari pajanan kromium di udara lingkungan kerja. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis hubungan kadar kromium dalam urin dengan kadaralbumin dalam urin sebagai biomarker kerusakan ginjal. Penelitian ini dilakukan pada33 pekerja terpajan dan 33 pekerja tidak terpajan dengan sedain cross sectional. Sampelurin diambil untuk menilai kadar kromium dan kadar albumin. Kadar kromium dalamurin diukur menggunakan metode metode Atomic Absorption Spectrometry (AAS)dengan teknik pembakaran (flame, FAAS) dan kadar albumin dalam urin di ukurdengan cara immunoturbidimetric assay. Nilai tengah (median) kadar kromium dalamurin pada pekerja terpajan sebesar 5 μg/L dan pada pekerja tidak terpajan juga sebesar5 μg/L. Nilai tengah (median) kadar albumin dalam urin pada pekerja terpajan sebesar2,5 mg/g kreatinin lebih tinggi dari kadar albumin pada pekerja tidak terpajan yaitusebesar 1,5 mg/g kreatinin. Setiap kenaikan kadar kromium 1 μg/L terjadi kenaikankadar albumin sebesar 3,82 mg/g kreatinin setelah dikontrol variabel riwayat diabetes,riwayat hipertensi, kebiasaan merokok, lama kerja, dan konsumsi alkohol. Hasilpenelitian dapat disimpulkan ada pengaruh pajanan kromium dengan gangguan fungsiginjal (p > 0,05).Kata kunci; albumin, kerusakan ginjal, kromium, pelapisan logam
Chromium is a heavy metal that is widely used in industrial activities. Use of chromiumin the metal plating industry pose a risk to workers' health comes from exposure tochromium in the air working environment. This study aimed to analyze the relationshipbetween chromium levels in urine levels of albumin in the urine as a biomarker ofkidney damage. This study was conducted on 33 workers exposed and 33 unexposedworkers with cross sectional sedain. Urine samples were taken to assess levels ofchromium and albumin. Chromium levels in urine were measured using the methodAtomic Absorption Spectrometry (AAS) with burning techniques (flame, FAAS) andalbumin in urine is measured by means of immunoturbidimetric assay. A middle value(median) level of chromium in the urine of workers exposed at 5 g / L and theunexposed workers are also at 5 ug / L. A middle value (median) level of albumin inthe urine in workers exposed at 2.5 mg / g creatinine higher than the levels of albuminin the unexposed workers is equal to 1.5 mg / g creatinine. Any increase in thechromium content of 1 ug / L occurred rising levels of 3,82 mg albumin / g creatinineafter the controlled variable history of diabetes, history of hypertension, smokinghabits, length of employment, and consumption of alcohol. The results of this studyconcluded there was an effect of chromium exposure with impaired renal function (p>0.05).Keywords; albumin, kidney damage, chromium, electroplating.
Read More
T-4628
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Hidayah Nasution; Pembimbing: Rachmadhi Purwana; Penguji: I Made Djaja, Budi Hartono, Sonny Priajaya Warouw, Miko Hananto
Abstrak: Merkuri (Hydragyrum) adalah logam berat berbahaya yang terbentuksecara alamiah dan aktivitas manusia dapat menimbulkan pencemaran lingkungandan gangguan kesehatan pada manusia. Dampak merkuri yaitu keracunan akut(gangguan pada alat pencernaan, kulit dan saraf) dan kronis (tremor danparkinsonisme). Saat ini pencemaran logam berat merupakan ancaman yang besarbagi lingkungan sehingga harus dikendalikan keberadaannya agar tidakmelampaui batas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keracunan merkuri terkaitkonsumsi ikan pada masyarakat di kawasan pertambangan emas skala kecil(PESK) Desa Lebaksitu Kecamatan Lebakgedong Kabupaten Lebak ProvinsiBanten.Jenis penelitian analitik, desain penelitian cross sectional. Variabel terukuradalah konsumsi ikan, karakteristik responden dan kadar merkuri pada rambut.Populasi penelitian adalah masyarakat Desa Lebaksitu dan sampel berjumlah 60orang. Data dianalisis dengan uji chi-square, mann-whitney dan regresi logistik.Hasil Penelitian, prevalensi kejadian keracunan merkuri pada masyarakatsebesar 51,7%, konsumsi ikan masyarakat (konsumsi tinggi) 55%. Konsumsiikan, usia, jenis pekerjaan, lama tinggal, jarak rumah dan sumber air minumberhubungan signifikan terhadap keracunan merkuri. Sedangkan jenis kelamindan status merokok tidak berhubungan signifikan terhadap keracunan merkuridengan sumber air minum sebagai faktor risiko dominan yang dapatmempengaruhi konsumsi ikan terhadap kejadian keracunan merkuri (OR =14,693, 95% CI=1,818-118,769).Kata kunci : Ikan, Merkuri, Rambut
Mercury (Hydragyrum) is a harmful heavy metal naturally occurring andhuman activities, can cause environmental pollution and health problems inhumans. The impact of mercury poisoning are acute (disorders of the digestivesystem, skin and nerves) and chronic (tremor and parkinsonism). Currently heavymetal pollution is a major threat to the environment and should be controlled so asnot to exceed the limits of its existence.This research aims to knowing mercury poisoning related to consumptionof fish to the community in the area of small-scale gold mining (SSGM) DesaLebaksitu Kecamatan Lebakgedong Kabupaten Lebak Provinsi Banten.Type of research was analitic, cross-sectional study design. Measurementof the consumption of fish, the characteristics of respondent and mercury levels inhair. The population research is the community Desa Lebaksitu and a sample of60 people. Data were analyzed by chi-square test, mann-whitney and logisticregression.The result showed, the prevalence of mercury poisoning in the communityof 51.7%, consumption rate (high consumption) 55%. Consumption of fish, age,occupation, length of stay, distance from the house and the source of drinkingwater were significant correlation to mercury poisoning. While Smoking and sexcorrelation insignificant toward mercury poisoning. Source of drinking water isthe most dominant risk factors that may affect the consumption of fish againstmercury poisoning (OR = 14,693, 95% CI=1,818-118,769).
Read More
T-4796
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudi Iskandar; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Budi Hartono, Umar Fahmi Achmadi, Sonny Priajaya Warouw, Inswiasri
Abstrak: Penyakit infeksi seperti diare dapat menyebar melalui transmisi oral fecal. Menurut WHO, lebih dari 1,4 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia meninggal akibat penyakit diare dapat dicegah dan diperkirakan bahwa 88% dari kasus-kasus ini terkait dengan air yang tidak aman atau sanitasi yang buruk. Di wilayah Asia Tenggara, hampir 48% atau diperkirakan 3.070.000 kematian setiap tahun yang dikaitkan dengan infeksi saluran pernapasan akut dan penyakit diare dengan beban tertinggi penyakit diare di lima negara: Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, dan Nepal dimana penyakit ini menyebabkan 60.000 kematian setiap tahunnya. Tujuan dalam penelitian ini untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) terhadap kejadian diare pada balita di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi Indonesia tahun 2017. Dalam penelitian ini menggunakan analisis cross sectional. Data variabel mengenai sarana pembuangan tinja, jarak sumber air dengan tangki septik, kebiasaan membuang tinja balita, cuci tangan pakai sabun, sumber air minum, pengelolaan air minum, penyimpanan air minum, pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair rumah tangga dan pendidikan ibu dikumpulkan dengan wawancara dan observasi serta dikategorikan dan disaring dengan chi square. Hasil dalam penelitian ini didapat enam variabel dengan nilai p < 0,25 yang masuk kedalam analisis regresi logistik yang menghasilkan 2 variabel yang signifikan dengan nilai p < 0,05 (kebiasaan ibu membuang tinja anak balitanya dan cuci tangan pakai sabun). Uji regresi logistik didapatkan kebiasaan membuang tinja anak (OR) 1,59 dan cuci tangan pakai sabun (OR) 1,48. Studi ini memyimpulkan bahwa kebiasaan ibu membuang tinja anak balitanya secara sembarangan dan aktivitas cuci tangan pakai sabun yang tidak memenuhi syarat mempunyai pengaruh terhadap terjadinya diare
Read More
T-5525
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maisa Weli; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Laila Fitria, Sonny PriajayaWarouw, Sari Meliana
Abstrak: Pendahuluan: Benzo(a)pyrene merupakan salah satu golongan PAH yang diklasifikasikan sebagai senyawa yang bersifat karsinogen (probably carcinogenic) pada manusia dan hewan. Setelah terpajanan, benzo(a)pyrene yang masuk kedalam tubuh manusia melalui jalur inhalasi, langsung terabsorpsi didalam tubuh dan terdistribusi dalam paru, kulit dan hati, lalu berikatan dengan DNA, RNA dan protein. Setelah memasuki tubuh manusia dan biotransformasi, Benzo(a)pyrene diekskresikan dalam bentuk metabolit terhidroksilasi dalam urin atau feses. 1-hydroxypyrene (1-OHP) dalam urin merupakan metabolit yang paling umum digunakan sebagai biomarker pajanan dari senyawa benzo(a)pyrene. Pengukuran konsentrasi benzo(a)pyrene dilakukan pada tiga titik di setiap sekolah menggunakan sorben tube dengan filter charcoal, dan dianalisis menggunakan metode fluoresensi. Analisis 1-hydroxypyrene dalam urin dilakukan menggunakan HPLC dengan detektor fluoresensi. Tujuan: untuk melihat hubungan paparan benzo(a)pyrene terhadap konsentrasi 1-hydroxypyrene pada urin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional, sampel dalam penelitian ini berjumlah 76 orang, pembagian sampel di buat secara probability proportional to size (PPS), pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Hasil: Rata-rata konsentrasi BaP di udara indoor sekolah dasar negeri di sekitar ruas jalan utama Jakarta Barat sebesar 0,0059 mg/m3, dan rata-rata konsentrasi BaP di udara outdoor yaitu 0,0031 mg/m3. Rata-rata konsentrasi BaP di udara indoor pada sekolah terpajan tinggi yaitu 5,6 kali lebih tinggi (0,0102 mg/m3) di bandingkan sekolah yang terpajan terpajan rendah (0,0018 mg/m3). Rata-rata konsentrasi 1-OHP pada urin siswa sekolah dasar negeri di sekitar ruas jalan utama Jakarta Barat adalah 12,146 µmol/mol kreatinin. Rata-rata konsentrasi 1-OHP pada urin siswa sekolah terpajan tinggi 1,2 kali lebih besar (13,363 µmol/mol kreatinin) di bandingkan sekolah terpajan rendah (10,929 µmol/mol kreatinin). Kesimpulan: Hubungan pajanan BaP di udara indooor terhadap konsentrasi 1-OHP pada urin siswa berpola positif dimana terdapat korelasi positif antara pajanan BaP di udara indoor terhadap peningkatan konsentrasi 1-OHP pada urin siswa (r=0,229) artinya semakin tinggi pajanan BaP di udara indoor maka semakin tinggi konsentrasi 1-OHP pada urin siswa. Hasil uji statistik menjelaskan ada hubungan yang signifikan antara pajanan BaP di udara indoor dengan konsentrasi 1-OHP pada urin siswa (p=0,046).
Introduction: Benzo(a)pyrene is a class of PAH which is classified as a carcinogenic compound (probably carcinogenic) in humans and animals. After exposure, benzo(a)pyrene which enters the human body through inhalation pathways, is directly absorbed in the body and distributed in the lungs, skin, and liver, then binds to DNA, RNA, and protein. After entering the human body and biotransformation, benzo(a)pyrene is excreted in the form of hydroxylated metabolites in urine or feces. 1-hydroxypyrene (1-OHP) in urine is the most common metabolite used as exposure biomarkers of benzo(a)pyrene compounds. Benzo(a)pyrene concentration measurements were carried out at three points in each school using tube sorbents with charcoal filters and analyzed using the fluorescence method. Analysis of 1-hydroxypyrene in urine is carried out using HPLC with a fluorescence detector. Objective: To see the relationship of exposure to benzo(a)pyrene to urine 1-hydroxypyrene concentration. Method: This study is a quantitative study with a cross-sectional design, the sample in this study amounted to 76 people, the sample distribution was made by probability proportional to size (PPS), the sampling used purposive sampling. Results: The average BaP concentration in the indoor air of public elementary schools around the West Jakarta's main road segment is 0.0059 mg/m3, and the average BaP concentration in outdoor air is 0.0031 mg/m3. The average BaP concentration in indoor air in high exposed schools is 5.6 times higher (0.0102 mg/m3) compared to schools exposed to a low exposure (0.0018 mg/m3). The average 1-OHP concentration in the urine of public elementary school students around the West Jakarta main road segment is 12.146 µmol/mol creatinine. The average concentration of 1-OHP in the urine of high-exposed school students was 1.2 times greater (13,363 µmol/mol creatinine) compared to low-exposed schools (10,929 µmol/mol creatinine). Conclusion: The relationship of BaP exposure in indoor air to the concentration of 1-OHP in the urine of students was positively patterned where there was a positive correlation between BaP exposure in indoor air to an increase in 1-OHP concentration in the urine of students (r = 0.229) meaning higher exposure to indoor air the higher the concentration of 1-OHP in the urine of students. The results of the statistical test explained that there was a significant relationship between exposure to BaP in indoor air and the concentration of 1-OHP in the urine of students (p = 0.046).
Read More
T-5769
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fuad Hilmi Sudasman; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Ririn Arminsih, Arip Sumantri, Sonny Priajaya Warouw
Abstrak: World Health Organization (WHO) menganjurkan integrasi program penanganan infeksi kecacingan dengan intervensi Water, Sanitation and Higiene (WASH). Jika dibandingkan dengan cakupan Kabupaten Bandung, Kecamatan Dayeuhkolot pada tahun 2015 dan 2016 masih memiliki cakupan water, sanitation and hygiene (WASH) berupa akses sarana air minum yang layak dan jamban sehat yang rendah dan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Penelitian ini merupakan studi epidemiologi yang bertujuan untuk menganalisis sarana air minum, sanitasi dan higiene, karakteristik individu serta perilaku individu terhadap infeksi soil-transmitted helminth (STH) dengan subjek penelitian pada rumah tangga dengan anak usia sekolah dasar di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung. Penelitian ini berlangsung dari bulan Mei hingga bulan Juni 2019. Penelitian ini menggunakan kuesioner dan uji laboratorium dalam pengambilan data. Hasil penelitian menunujukkan prevalensi infeksi soiltransmitted helminth (STH) pada anak usia sekolah dasar di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung sebesar 9,1%. Rumah tangga yang memiliki anak usia sekolah dasar di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung yang memiliki sarana sarana air minum unimproved sebesar 12,7%, sarana sanitasi unimproved sebesar 44,5%, sarana higiene unimproved sebesar 21,8% . Sarana air minum (p=0,001; Exp(B)= 10,11) merupakan faktor risiko dominan terhadap infeksi soil-transmitted helminth (STH) pada anak usia sekolah dasar di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung
Read More
T-5627
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizal Maulana; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Ririn Arminsih Wulandari, Sonny Priajaya Warouw, Surjanto
Abstrak:

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan pertama pada sepuluh data penyakit terbesar di Desa Padabeunghar Kecamatan Jampangtengah Kabupaten Sukabumi. Hal tersebut disebabkan oleh adanya kegiatan industri kapur. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui hubungan pajanan PM10 terhadap gangguan iritasi dan infeksi saluran pernapasan yang dialami oleh penduduk dengan menggunakan rancangan studi potong lintang (cross sectional). Sebanyak 30 RT terpilih sebagai cluster dan mencakup 334 penduduk sebagai responden. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian diperoleh Konsentrasi PM10  0.017 – 1.101 mg/m 3 dengan rata- 3 rata 0.292 mg/m . Jumlah responden yang mengalami gangguan pernapasan 107 orang (32%). Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara Konsentrasi PM10 (p=0.0005), Intake PM10 (p=0.005), lama tinggal (p=0.029), bahan bakar memasak (p=0.044) dan anggota keluarga mengalami gangguan pernapasan (p=0.018) dengan gangguan saluran pernapasan penduduk. Hasil uji regresi logistik ganda model faktor risiko menunjukkan adanya hubungan antara konsentrasi PM10 udara ambien dengan gangguan saluran pernapasan nilai (OR=2.4 ; 95% CI : 1.168 – 5.078). Kata Kunci : Pencemaran udara, PM10 Udara Ambien, Penambangan Batu Kapur Tradisional, Gangguan Saluran Pernapasan


 Acute Respiratory Infection (ARI) is defined as the first health problem amongst the worst 10 health problems in Padabeunghar Village, Sub District of Jampangtengah in the regency of Sukabumi. It is due to the limestone industry activities in this area. This study was to perceive the relationship between the exposure of PM10 and respiratory irritation and infection, which was being suffered by the people, using Cross Sectional approach. As many as 30 neighbourhood associations had been selected as a cluster with 334 respondents. Chi Square and Double Logistic Regression Tests were used for data analysis. Experimental results showed that PM10 concentration ranged between 0.017 – 1.101 mg/m 3 with the average of 0.292 mg/m 3 . Number of respondents that were suffered respiration tract disorder is 107 (32%). The results showed the correlations amongst concentration of PM10 (p=0.0005), intake PM10 (p=0.005), exposure period (p=0.029), cooking fuel (p=0.044), and family members experiencing respiratory infections (p=0.018) with the respiration infected people. Double logistic regression test yields risk factor model OR=2.4 (95% CI: 1.168 – 5.078) for correlation between concentration of PM10 air ambient and respiration infections. Keywords: Air pollution, PM10 air ambient, traditional limestone mining, respiratory tract disorder

Read More
T-3317
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Susmiati; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, I Gusti Gede Djestawana, Sonny Priajaya Warouw
T-2931
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferizal Masra; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Tri Yunis Miko, Dewi Susanna, Suherman, Sonny Priajaya Warouw
Abstrak:
Di Indonesia, penyakit malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah luar Jawa Bali. Di daerah-daerah tersebut masih sering terjadi letusan wabah yang menimbulkan banyak kematian. Pemberantasan penyakit malaria dapat dilakukan dengan pemutusan rantai penularannya, melalui upaya menghilangkan tempat perindukan nyamuk Anopheles di sekitar rumah, sehingga nyamuk tidak dapat berkembangbiak. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara tempat perindukan nyamuk dengan kejadian malaria di Kecamatan Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung Tahun 2002. Desain penelitian yang digunakan adalah Kasus-Kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 196 orang dan menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keberadaan tempat perindukan nyamuk yang berjarak kurang dari 2 km dari pemukimam mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian malaria, dengan nilai OR sebesar 3,774 (95 % CI: 1,975-7,211), dan setelah dikontrol oleh variabel lain, yakni pekerjaan dan pemakaian kelambu yang berperan sebagai faktor konfonding, nilai OR menjadi 3,687 (95 % Cl: 1,819-7,473). Aktifitas di luar rumah pada malam hari, Pemasangan kassa pada ventilasi rumah, dan lama bermukim di wilayah penelitian, merupakan variabel yang mempunyai hubungan langsung dengan kejadian malaria, akan tetapi tidak mempunyai pengaruh secara bermakna terhadap hubungan antara tempat perindukan nyamuk dengan kejadian malaria. Disarankan agar masyarakat lebih berperan aktif dalam pemberantasan penyakit malaria dengan upaya membersihkan tempat perindukan nyamuk di sekitar rumahya, melakukan perlindungan individu dan perlindungan rumah/keluarga terhadap gigitan nyamuk Anopheles. Dan bagi Pemerintah Daerah bersama-lama dengan Dinas Kesehatan agar lebih intensif lagi melaksanakan kegiatan pemberantasan penyakit malaria dengan lebih melibatkan peran serta aktif masyarakat dan melaksanakan penyuluhan tentang pendidikan kesehatan masyarakat secara intensif. In Indonesia, malaria diseases remains one of public health problems, mainly at the districts beyond Java and Bali.Within those districts, frequently occurs the outbreaking disease with result to the mortality case. Malaria disease elimination through breaking down the infection linking by cleaning up the Anopheles breeding places around the house, in order the mosquito could not growth. The research is conducted to find assosiation strength between breeding place with malaria incidence in Kecamatan Teluk Behmg Barat, Kota Bandar Launpung Tahnm 2002.

Research design used is Case-Control with total sample are 196 peoples and using questioner as collecting instrument The research shows that the existence of breeding place which the distance is less than 2 km from community residence have significant assosiation with malaria incidence, with OR is 3,774 (95% CI : 1,975 - 7,211), and controlled by another variables, that is occupational and bad net used which plays role as confounding factor, then OR becomes 3,687 (95% CI : 1,819 - 7,473). Night outdoor activities, screening applied on ventilation, length of stay in the research area, are the direct variables to the malaria incidence without having significant influence to the relation between breeding place and malaria incidence. The community is advised to participate actively in eliminating the malaria disease by cleaning up the breeding place of mosquito around the house, individual protecting and house/flintily protecting against anopheles bitting. The District Government and Provincial health authority are expected to work together intensively in malaria eliminating by involving community roles, and conducting counseling about conummity health education intensively.
Read More
T-1443
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive