Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lenny Octory Sitorus; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Pujiyanto, Ede Surya Darmawan, Hariyadi Wibowo, Yuniarti
Abstrak: Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 mengamanatkan setiap orang berhak atas jaminan sosial melalui Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menuju Universal Health Coverage (UHC) pada tahun 2019. Sistem pembayaran kepada rumah sakit pada JKN melalui tarif Indonesian-Case Based Groups (INA-CBGs) melalui suatu sistem manajemen klaim dimana setiap kendala bisa menyebabkan tertundanya pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan dan mempengaruhi pendapatan rumah sakit. Kelangsungan keuangan fasilitas kesehatan sangat tergantung dari sistem manajemen klaim yang efektif. Rumah Sakit Umum Daerah Jati Padang sebagai Badan Layanan Umum Daerah perlu melakukan pengelolaan keuangan secara baik sehingga pelayanan kesehatan pada masyarakat dapat berjalan dengan baik. Salah satu sumber pendapatan jasa layanan BLUD adalah melalui pembayaran klaim BPJS Kesehatan. Terjadinya pending dalam pembayaran klaim pasien BPJS Kesehatan di RSUD Jati Padang mengakibatkan pendapatan jasa layanan rumah sakit terganggu. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis penyebab pending claims BPJS Kesehatan ditinjau dengan pendekatan sistem yaitu faktor input (Man, Method, Money, Material, Machine), faktor proses, output (pending claims). Penelitian ini merupakan penelitian kualititatif. Pengumpulan data dilakukan melalui telaah dokumen dan wawancara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penyebab pending claims yang disebabkan oleh faktor input (Man, Method, Money, Material, Machine), proses dan output. Salah satu penyebab adalah pengisian resume medis yang tidak sesuai (output), disebabkan karena pengisian resume medis terlambat dan ketidaksesuaian isi resume medis (proses) yang diakibatkan oleh faktor input (Man, Method, Money, Material, Machine). Gambaran pending claims (output) di RSUD Jati Padang adalah karena ketidaksesuaian Administrasi Klaim (17.89%), pengisian resume medis (57.51%), ketidaklengkapan berkas penunjang klaim (13.42%), konfirmasi coding diagnosa dan prosedur (8.95%) dan konfirmasi grouping (2.24%). Pengajuan klaim kepada BPJS Kesehatan selalu dilakukan diatas tanggal 5, dengan rata- rata keterlambatan 6.6 hari. Total jumlah berkas klaim BPJS Kesehatan bulan Januari-September 2018 yang disetujui pada tahap 1 adalah sebesar 3759 berkas (92.36%) dengan total tagihan yang disetujui Rp 1.180.532.000 (74.38%). Diperlukan strategi dari manajemen rumah sakit untuk dapat mencegah dan mengurangi pending claims. Salah satunya dengan pemberian remunerasi kepada dokter spesialis, penyusunan Panduan Praktik Klinis dan kelengkapan SOP terkait adminitrasi klaim, adanya monitoring evaluasi berkala mengenai permasalahan proses klaim BPJS
Kata Kunci: rumah sakit, penyebab, penundaan klaim, BPJS Kesehatan

The Indonesian Act No. 40 of 2004 mandates that everyone has the right to social security through the Indonesian National Health Insurance (JKN) in achieving Universal Health Coverage (UHC) in 2019. On JKN, the payment system to hospitals on JKN is set with Indonesian-Case Based Groups (INA- CBGs) tariff, through claim management system where each problem can cause delays in claim payments by National Health Care Security and affect hospital income. The financial sustainability of health facilities is highly dependent on an effective claim management system. Rumah Sakit Umum Daerah Jati Padang as a Regional Public Service Agency needs to manage financial management effectively so that health services delivery is well-provided. One of financial source for RSUD Jati Padang is through National Health Care Security claims payment. Every pending claim will be resulted in disrupted hospital revenue. This research objective was to analyze causes factors of National Health Care Security pending claims using the system approach, which are input factors (Man, Method, Money, Material, Machine), process factors, output (pending claims). This research is a qualitative study. Data is collected with document review and in-depth interviews.
The results showed that there were causes of pending claims caused by input factors (Man, Method, Money, Material, Machine), process and output. One of the causes is improper medical resume filling (output), caused by delay in filling in medical resume and incompatibility of medical resume content (process) and triggered by input factors (Man, Method, Money, Material). The description of pending claims (output) at Jati Padang Hospital is due to discrepancies in claim administration (17.89%), filling in medical resumes (57.51%), incomplete claim support documents (13.42%), confirmation of diagnostic diagnoses and procedures (8.95%) and grouping confirmation (2.24%). National Health Care Security claims are submitted to National Health Care Security verificator pass the 5th, with an average delay of 6.6 days. The total number of National Health Care Security claim files for January- September 2018 approved firstly is 3759 files (92.36%) with the total bills approved at Rp. 1,180,532,000 (74.38%). Strategies are needed from hospital management to be able to prevent and reduce pending claims. One of them is by giving remuneration to specialists, preparation of Clinical Practice Guidelines and SOPs related to claim administration is conducted, hold periodic monitoring evaluations to monitor the claim managemant process.
Keywords: hospital, causes, pending claims, National Health Care Security
Read More
B-2061
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natalya Angela; Pembimbing :Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Ede Surya Darmawan, Supriyantoro, Hariyadi Wibowo
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas early warning score terhadap kejadian henti jantung pasien di instalasi rawat inap rumah sakit tingkat IV TNI AD dr.Bratanata Jambi Tahun 2019. Penelitian dilaksanakan di bulan Desember 2018 sampai April 2019 di instalasi rawat inap dengan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik untuk memperoleh data adalah dengan wawancara mendalam, telaah dokumen, dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan adanya kejadian yang tidak diharapkan berupa kejadian henti jantung mengarahkan kepada penerapan early warning score yang belum optimal. Ketidakpatuhan terhadap pengisian, pengkajian, dan pengaktifan protokol early warning score di lapangan antara lain dipengaruhi oleh maldistribusi perawat, beban kerja perawat yang tidak sesuai dengan kompetesinya, pengetahuan perawat, dan komunikasi antara perawat dengan dokter. Hambatan penerapan EWS di lapangan antara lain ketidaksesuaian jumlah perawat berbanding dengan pasien, beban kerja perawat di luar pelayanan kesehatan, dan kurangnya pengetahuan dari staf mengenai penurunan kondisi klinis pasien. Hal ini bermuara kepada standar operasional prosedur yang belum lengkap dan penyusunan pola ketenagaan yang masih belum efektif dan efisien, juga monitoring-evaluasi dan pelatihan berkesinambungan yang belum berjalan dengan baik sehingga implementasi early warning score tidak optimal. Rekruitmen pegawai sesuai dengan kompetensi dan profesionalitas, pembuatan kebijakan yang menggabungkan pola kebijakan top-down dan bottom-up, pengaturan ulang penempatan sumber daya perawat, pendidikan dan pelatihan berkelanjutan merupakan upaya yang dapat meningkatkan keberhasilan implementasi early warning score.
Read More
B-2081
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irin Kirana; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Masyitoh, Dumilah Ayuningtyas, Yahya, Hariyadi Wibowo
Abstrak: Tesis ini membahas Konstruksi Formulir Khusus Kedokteran Gigi dan Forensik sesuai kebutuhan internal para dokter gigi di Poliklinik RS Bhayangkara Tk. I R. Sukanto, dalam rangka menyesuaikan beberapa perubahan yang mempengaruhi formulir rekam medis kedokteran gigi dan forensik, seperti pemberlakuan Kode ICD 11 pada tanggal 1 Januari 2022 oleh WHO yang juga menyarankan pentingnya upaya pencegahan, diagnosis, pengobatan dan perawatan HIV yang efektif, pada tahun 2019 tercatat 38 juta ODHA (Orang Hidup dengan HIV/AIDS) dan 7.1 juta diantaranya tidak mengetahui kalau dirinya terinfeski HIV, lebih dari 95% terjadi di negara berkembang dan sering ditandai dengan lesi oral multipel (pada 30%-80% ODHA), termasuk perubahan panduan Interpol Internasional atas formulir ante mortem untuk pencatatan data gigi geligi korban bencana semasa hidup dari formulir rekam medis yang sudah diisikan dokter gigi, sebagai data pembanding atas formulir post mortem korban bencana untuk mempercepat proses identifikasi korban, karena data gigi geligi bersama dengan sidik jari dan tes DNA merupakan Primary Identifiers. Penelitian ini akan memanfaatkan metode penelitian campuran antara metode penelitian kualitatif dan kuantitatif (mixed methods) dengan disain dua fase berurutan dan pernyataan deskriptif eksploratif, untuk mengeksplorasi sikap para dokter gigi tentang informasi atas beberapa perubahan. Hasil penelitian menyarankan pemanfaatan atas hasil konstruksi berupa prototipe formulir khusus kedokteran gigi dan forensic sebagai hasil penelitian, dengan penambahan item-item perubahan atas beberapa formulir yang sudah dimanfaatkan Poliklinik Gigi di RS Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto, hasil analisis atas pengumpulan data pada fase pertama penelitian tercatat 85 %-100 % dokter gigi memilih relative sangat setuju tentang pentingnya penyesuaian penambahan item-item perubahan yang juga didukung oleh hasil wawancara terfokus pada fase kedua penelitian
This thesis discusses the Construction of Special Forms for Dentistry and Forensics according to the internal needs of dentists at the Polyclinic of RS Bhayangkara Tk. I R. Sukanto, in order to adjust to several changes affecting dental and forensic medical record forms, such as the enactment of the ICD Code 11 on January 1, 2022 by WHO which also suggests the importance of effective HIV prevention, diagnosis, treatment and care efforts, in 2019 recorded 38 million PLWHA (people living with HIV/AIDS) and 7.1 million of them do not know that they are infected with HIV, more than 95% occur in developing countries and are often characterized by multiple oral lesions (in 30% -80% PLWHA), including changes to the Interpol International guideline on ante mortem forms for recording dental data on the teeth of disaster victims during life from medical record forms that have been filled in by dentists, as comparative data on post mortem forms for disaster victims to speed up the victim identification process, because the data on the teeth are together with fingerprints and DNA testing is the Primary Identifiers. This study will utilize a mixed research method between qualitative and quantitative research methods (mixed methods) with a sequential two-phase design and descriptive exploratory statements, to explore dentists' attitudes about information on changes. The results suggest the use of construction results in the form of prototype special forms for dentistry and forensics as a result of research, with the addition of items of changes to several forms that have been used by the Dental Polyclinic at RS Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto, the results of the analysis of data collection in the first phase of the study, it was noted that 85% -100% of dentists chose relatively strongly agree about the importance of adjusting the addition of change items which was also supported by the results of interviews focused on the second phase of the study.
Read More
B-2195
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tengku Lya Handa Suri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Vetty Yulianty Permanasari, Hariyadi Wibowo, Enny Ekasari
B-2044
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herpani Sudirman; Pembimbing: Wiku Bakti; Penguji: Adik Wibowo, Pujiyanto, Hariyadi Wibowo, Erlina P. Mahadewi
Abstrak: Latar belakang: Kunjungan wisatawan yang semakin meningkat memberikan pengaruh pada resiko penyebaran penyakit oleh wisatawan. Pelayanan kesehatan bagi wisatawan merupakan hal yang diperlukan ketika seseorang ingin berwisata. Hal tersebut tentunya diperlukan suatu kesiapan bagi rumah sakit yang ada di Bali untuk menanganinya, salah satunya menyesuaikan standar pelayanan kesehatan untuk wisatawan mancanegara, yakni berstandar Travel Medicine. Tujuan penelitian: Menganalisis Kesiapan Rumah Sakit di Bali Dalam Penerapan Layanan Travel Medicine. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Validasi menggunakan triangulasi sumber dan metode (wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen). Hasil: Belum terpenuhinya beberapa faktor input dalam penerapan layanan Travel Medicine. Selain itu, faktor process belum berjalan dikarenakan belum terpenuhinya beberapa faktor input dan penerapan model pelayanan yang berbeda dengan layanan Travel Medicine. Kesimpulan: Dari segi kualifikasi, ketiga rumah sakit yang menjadi objek penelitian; RSUP Sanglah, BROS dan BaliMed belum siap menerapkan layanan Travel Medicine.
Read More
B-2098
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danil Anugrah Jaya; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Ascobat Gani, Dumilah Ayuningtyas, Dewi Sri Rachmawati, Hariyadi Wibowo
Abstrak:
Latar Belakang: Keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam pelayanan kesehatan. Rendahnya tingkat pelaporan insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Harapan Jayakarta menjadi perhatian serius. Leadership WalkArounds diimplementasikan sebagai upaya untuk meningkatkan pelaporan insiden dan memperkuat budaya keselamatan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas implementasi Leadership WalkArounds di Rumah Sakit Harapan Jayakarta terhadap persepsi staf tentang komunikasi terbuka, respon tidak menghukum, frekuensi pelaporan insiden, dan umpan balik terkait kesalahan, serta mengidentifikasi hambatan yang mungkin terjadi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan pendekatan sequential explanatory. Tahap pertama melibatkan survei kuantitatif terhadap 47 staf Rumah Sakit Harapan Jayakarta untuk mengukur persepsi mereka. Tahap kedua melibatkan wawancara mendalam dengan 5 informan kunci dan telaah dokumen untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Hasil: Hasil survei menunjukkan bahwa Leadership WalkArounds efektif dalam meningkatkan persepsi staf tentang komunikasi terbuka, respon tidak menghukum, frekuensi pelaporan insiden, dan umpan balik terkait kesalahan. Wawancara dan telaah dokumen mengungkapkan bahwa rendahnya partisipasi dokter, inkonsistensi jadwal pelaksanaan, ketiadaan daftar pertanyaan terstruktur, sistem pelaporan insiden yang masih manual, dan belum optimalnya komposisi dewan pengawas menjadi hambatan dalam implementasi Leadership WalkArounds. Kesimpulan: Leadership WalkArounds efektif dalam meningkatkan budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Harapan Jayakarta. Namun, beberapa hambatan perlu diatasi untuk mengoptimalkan efektivitasnya.

Background: Patient safety is a top priority in healthcare. The low rate of patient safety incident reporting at Harapan Jayakarta Hospital is a serious concern. Leadership WalkArounds were implemented as an effort to improve incident reporting and strengthen the patient safety culture. Objectives: This study aims to evaluate the effectiveness of Leadership WalkArounds implementation at Harapan Jayakarta Hospital on staff perceptions of open communication, non-punitive response, incident reporting frequency, and feedback related to errors, as well as to identify potential barriers. Methods: This study uses a mixed-methods approach with a sequential explanatory design. The first stage involves a quantitative survey of 47 staff at Harapan Jayakarta Hospital to measure their perceptions. The second stage involves in-depth interviews with 5 key informants and document reviews to gain a deeper understanding Results: The survey results show that Leadership WalkArounds are effective in improving staff perceptions of open communication, non-punitive response, incident reporting frequency, and feedback related to errors. Interviews and document reviews reveal that low physician participation, inconsistent implementation schedules, lack of structured question lists, manual incident reporting systems, and a suboptimal board of supervisors composition are barriers to Leadership WalkArounds implementation. Conclusion: Leadership WalkArounds are effective in improving the patient safety culture at Harapan Jayakarta Hospital. However, several barriers need to be addressed to optimize their effectiveness. Keywords: Leadership WalkArounds, patient safety, safety culture, open communication, non-punitive response, incident reporting.
 
Read More
B-2471
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bagus Nugroho; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Adang Bachtiar, Hariyadi Wibowo, Pandith A. Arismunandar
Abstrak:
Rumah sakit wajib melakukan akreditasi rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit yang berkesinambungan. Masing-masing rumah sakit baik dari rumah sakit publik ataupun privat berbeda dalam pengelolaan peningkatan mutu rumah sakit yang berkesinambungan. Tujuan dari penelitian ini mendapatkan gambaran dampak akreditasi terhadap mutu rumah sakit dan peningkatan mutu berkesinambungan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif dengan menggunakan uji statistik dan penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Hasil penelitian RSIA Kartini dan RS Budi Kemuliaan dengan uji statistik tidak ada perbedaan rata-rata indikator mutu sebelum dan sesudah akreditasi. Hasil wawancara ketiga rumah sakit bahwa akreditasi memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu rumah sakit. Berdasarkan dari analisis grafik nilai rata-rata indikator mutu menunjukan RSIA Kartini mengalami peningkatan sebelum akreditasi dan penurunan setelah akreditasi. Sedangkan RS Budi Kemuliaan mengalami peningkatan sebelum akreditasi dan mengalami stagnasi bahkan penurunan setelah akreditasi. Secara keseluruhan akreditasi rumah sakit memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan mutu rumah sakit. Akan tetapi hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kepemimpinan, biaya dan manusia.

Hospitals are obliged to hospitals accreditation to improve the quality of continuous hospital services. Each hospital from public or private hospitals differs in the management of continuous quality improvement of hospitals. The purpose of this research is to get an overview of the impact of accreditation on hospital quality and continuous quality improvement. This research is quantitative and qualitative research. Quantitative research using statistical tests and qualitative research with in-depth interviews and focus group discussions. The results of Kartini Mother and Children Hospital, Budi Kemuliaan Hospital with statistical tests showed no difference in average quality indicators before and after accreditation. The results of the interviews of the three hospitals that accreditation has a positive impact on improving the quality of hospitals. Based on the analysis of the average value of quality indicators, Kartini Mother and Children Hospital improved before accreditation and decreased after accreditation. While Budi Kemuliaan Hospital experienced an increase before accreditation and stagnated even decreased after accreditation. Overall hospital accreditation has a positive impact on improving the quality of hospitals. However, this is influenced by several factors such as leadership, cost and human beings.
Read More
B-2158
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive