Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nadia Rana Nabila; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Fadila Wirawan
Abstrak:
Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) sebanyak minimal satu kali per minggu merupakan suatu bentuk usaha pemerintah dalam penanggulangan anemia pada remaja putri. Meski demikian, konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah. Terlebih pada kalangan mahasiswi karena mereka tidak lagi menerima TTD program seperti saat di bangku sekolah. Penelitian ini membahas faktor faktor yang berhubungan dengan konsumsi TTD pada mahasiswi di Rumpun Ilmu Kesehatan UI tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang yang melibatkan 115 mahasiswi berusia 18 19 tahun yang aktif berkuliah pada tahun ajaran 2021/2022. Mahasiswi yang sedang hamil dan/atau tidak dapat mengonsumsi TTD karena kondisi kesehatan dikeluarkan dari penelitian. Responden dipilih melalui sampel acak sederhana. Hubungan antara sikap, pengetahuan, perceived threat, perceived benefit, perceived barrier, self-efficacy, dukungan keluarga, dukungan sebaya, dan pekerjaan orang tua dianalisis menggunakan analisis bivariat dan multivariat. Penelitian ini menemukan adanya hubungan yang signifikan antara perceived benefit (P-value=0,01; OR=2,72) dan dukungan keluarga (P-value=0,00; OR=4,19) dengan konsumsi TTD pada mahasiswi. Dukungan keluarga ditemukan paling berhubungan dengan konsumsi TTD pada mahasiswi RIK (P-value=0,00; OR=4,01). Hasil penelitian menyarankan perlu dilaksanakannya sosialisasi TTD kepada orang tua, pembentukan kelompok sebaya untuk saling mengingatkan konsumsi TTD, dan sosialisasi TTD kepada mahasiswi melalui organisasi mahasiswa di kampus.
Read More
S-10988
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Rahmah Utami; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Triyanti; Fadila Wirawan
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang ditandai oleh obesitas sentral, kadar gula darah tinggi, kadar kolesterol HDL rendah, tingginya kadar trigliserida, dan tekanan darah tinggi. Prevalensi sindrom metabolik di Indonesia tergolong tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada penduduk Indonesia usia >15 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang dengan menggunakan data Riskesdas 2018. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari 30.563 subjek, 32% memiliki sindrom metabolik. Analisis bivariat juga menunjukkan hasil yang signifikan antara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, tempat tinggal, status pekerjaan, konsumsi alkohol, riwayat merokok (0,000), konsumsi makanan berisiko (makanan dan minuman manis, makanan asin), konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, kondisi mental emosional, dan status gizi dengan sindrom metabolik (p value = 0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa usia lansia merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan sindrom metabolik (p value = 0,000; OR 8,94 ; 95% CI : 5,98 ? 13,36)
Metabolic syndrome refers to the presence of a cluster of risk factors specific for cardiovascular disease. The cluster of metabolic factors includes central obesity, impaired fasting blood glucose, low HDL cholesterol, high triglyceride levels, and high blood pressure. This study aims to identify the dominant factor and related factors associated with metabolic syndrome in the Indonesian population aged 15 and over years old. This research is a quantitative research with cross-sectional study design and the data was obtained from the Indonesia Basic Health Research (RISKESDAS) 2018. The association between risk factors and metabolic syndrome were measured through chi-square bivariate analysis and binary logistic regression. Multivariate analysis was done using multiple logistic regression. The prevalence of metabolic syndrome was 32%. The results demonstrates that age, sex, level of education, residence type, occupation status, smoking habit, alcohol consumption, fruits and vegetable intake, sweet food intake, sugar sweetened beverages intake, physical activity, mental and emotional disturbance, and nutritional status were significantly associated with metabolic syndrome (p value <0,05). Elderly was the most dominant risk factor for metabolic syndrome (p value = 0,000; OR 8,935 ; 95% CI : 5,977 ? 13.358)
Read More
Metabolic syndrome refers to the presence of a cluster of risk factors specific for cardiovascular disease. The cluster of metabolic factors includes central obesity, impaired fasting blood glucose, low HDL cholesterol, high triglyceride levels, and high blood pressure. This study aims to identify the dominant factor and related factors associated with metabolic syndrome in the Indonesian population aged 15 and over years old. This research is a quantitative research with cross-sectional study design and the data was obtained from the Indonesia Basic Health Research (RISKESDAS) 2018. The association between risk factors and metabolic syndrome were measured through chi-square bivariate analysis and binary logistic regression. Multivariate analysis was done using multiple logistic regression. The prevalence of metabolic syndrome was 32%. The results demonstrates that age, sex, level of education, residence type, occupation status, smoking habit, alcohol consumption, fruits and vegetable intake, sweet food intake, sugar sweetened beverages intake, physical activity, mental and emotional disturbance, and nutritional status were significantly associated with metabolic syndrome (p value <0,05). Elderly was the most dominant risk factor for metabolic syndrome (p value = 0,000; OR 8,935 ; 95% CI : 5,977 ? 13.358)
S-11044
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rachel Janetta; Pembimbing: Asih Setiarini, Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Fadila Wirawan
Abstrak:
Read More
Konsumsi buah dan sayur adalah perilaku yang penting khususnya bagi remaja agar dapat mencegah berkembangnya masalah kesehatan yang mungkin timbul di masa depan. Akan tetapi, di Indonesia masih banyak masyarakat yang masih belum cukup mengonsumsi buah dan sayur di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsumsi buah dan sayur dan faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada remaja di Kalimantan Selatan tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan sampel sebanyak 3314. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS dengan seperangkat komputer. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan hasil sebanyak 98,2% remaja masih belum cukup dalam mengonsumsi buah dan sayur. Setelah dilakukan analisis bivariat, ditunjukkan variabel yang signifikan yaitu daerah tempat tinggal (OR 2,165; 95% CI 1,285-3,645), pendidikan ayah (OR 2,245; 95% CI 1,340-3,762), dan pendidikan ibu (OR 2,229; 95% CI 1,235-3,479) berpengaruh terhadap konsumsi buah dan sayur. Faktor dominan pada penelitian ini adalah daerah tempat tinggal (OR 1,691).
Consumption of fruits and vegetables is an important aspect on daily diet, especially for adolescents, to prevent the development of potential health problems in the future. However, in Indonesia, many people still do not consume enough fruits and vegetables. The purpose of this study is to describe the consumption of fruits and vegetables and the factors associated with the consumption of fruits and vegetables among adolescents in South Kalimantan in 2018. The research design used is cross-sectional with a sample size of 3314. Data analysis was performed using SPSS with a computer device. Based on the data analysis results, it was found that 98.2% of adolescents still do not consume enough fruits and vegetables. After conducting bivariate analysis, it was shown that the significant variables are the region of residence (OR 2.165; 95% CI 1.285-3.645), father's education (OR 2.245; 95% CI 1.340-3.762), and mother's education (OR 2.229; 95% CI 1.235-3.479) which influence fruit and vegetable consumption. The dominant factor in this study is region of residence (OR 1,691)
S-11694
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fellatinnisa Zafira Rajwadini; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Sandra Fikawati, Fadila Wirawan
Abstrak:
Read More
Dislipidemia merupakan kondisi ketidakseimbangan lipid dalam tubuh yang ditandai dengan ditemukannya minimal satu abnormalitas kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida, dan kolesterol HDL. Prevalensi dislipidemia pada usia produktif di Indonesia tergolong tinggi. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dislipidemia pada penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis data yang dilakukan pada penelitina ini adalah analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 28.007 subjek, 61,6% mengalami dislipidemia. Analisis bivariat menunjukkan hasil yang signifikan antara usia, wilayah tempat tinggal, diabetes melitus, gangguan fungsi ginjal, hipertensi, IMT, obesitas sentral, dan riwayat merokok dengan kejadian dislipidemia (p value < 0,05). Sementara pada variabel konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, dan konsumsi buah sayur juga ditemukan hubungan yang signifikan namun bersifat protektif terhadap kejadian dislipidemia. Analisis multivariat menunjukkan bahwa diabetes melitus merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan dislipidemia (p value = 0,000; OR 1,88; 95% CI : 1,49-2,38).
Dyslipidemia refrers to a condition of lipid imbalance in the body which is characterized by the finding of at least one abnormality of total cholesterol, LDL cholesterol, triglyceride, and HDL cholesterol levels. The prevalence of dyslipidemia in productive age in Indonesia is high. This study aims to determine the dominant factors and factors associated with the incidence of dyslipidemia in the productive age population (15-64 years) in Indonesia. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using secondary data from Riskesdas 2018. Data analysis was carried out in this study using univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis using the chi square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that out of 28.007 subjects, 61.6% had dyslipidemia. Bivariate analysis showed significant results between age, region of residence, diabetes mellitus, impaired kidney function, hypertension, BMI, central obesity, history of smoking, consumption of sweet foods, consumption of sweet drinks, consumption of fatty foods, and consumption of fruits and vegetables with the incidence of dyslipidemia (p-value < 0.05). Meanwhile, in variable consumption of sweet foods, consumption of sweet drinks, consumption of fatty foods, and consumption of fruit and vegetables found a significant but protective relationship to the incidence of dyslipidemia. Multivariate analysis showed that diabetes mellitus was the dominant factor associated with dyslipidemia (p value = 0.000; OR 1.88; 95% CI: 1.49-2.38).
S-11419
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cornelia Lugita Santoso; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Sandra Fikawati, Fadila Wirawan
Abstrak:
Read More
Pada masa menyusui, kebutuhan gizi ibu mengalami peningkatan. Periode ini merupakan periode penting bagi ibu untuk mengembalikan cadangan gizi ibu setelah melahirkan serta memastikan terpenuhinya kebutuhan energi tambahan untuk menyusui. Namun, berbagai penelitian menemukan bahwa asupan energi ibu menyusui belum memenuhi angka kecukupan yang direkomendasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan asupan energi ibu menyusui di Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional ini menggunakan data sekunder. Terdapat 217 ibu menyusui pada penelitian ini. Analisis data dilakukan dengan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu menyusui di Kecamatan Sawangan memiliki asupan energi yang tidak adekuat (78,3%). Keragaman konsumsi pangan (p-value 0,006) dan frekuensi makan (p-value 0,015) merupakan faktor yang berkaitan dengan asupan energi ibu menyusui. Faktor dominan yang berhubungan dengan asupan energi pada ibu menyusui adalah keragaman konsumsi pangan. Ibu menyusui yang konsumsinya tidak beragam berisiko 2,507 kali lebih tinggi untuk mengonsumsi energi tidak adekuat dibandingkan ibu dengan konsumsi beragam, setelah dilakukan kontrol terhadap variabel lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan intervensi pada ibu menyusui salah satunya dengan pemberian makanan tambahan agar dapat memenuhi kebutuhan gizinya sehingga dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan.
Nutritional needs of mothers are increased during lactation. This period is crucial to replenish their nutrient reserves after childbirth and ensure the fulfillment of additional energy requirements for lactation. However, various studies have reported that energy intake of lactating mothers still falls short of the recommended adequacy levels. This study aimed to identify factors associated with energy intake among lactating mothers at Sawangan District, Depok City. This quantitative study with a cross-sectional design utilizing secondary data. There were 217 lactating mothers included in this study. Data analysis was performed using the chi-square test and binary logistic regression. This study revealed that the majority of lactating mothers at Sawangan District had inadequate energy intake (78,3%). Dietary diversity (p-value 0,006) and eating frequency (p-value 0,015) were found to be factors associated with the energy intake of lactating mothers. The dominant factor was dietary diversity. Breastfeeding mothers who had less diverse food consumption were at a 2,507 times higher risk of having inadequate energy intake compared to mothers with diverse consumption, after controlling for other variables. Therefore, interventions are needed, including the provision of supplementary food, to help lactating mothers meet their nutritional needs and continue providing exclusive breastfeeding for 6 months.
S-11273
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Habibah Fitriyani Yusman; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Fadila Wirawan
Abstrak:
Read More
Literasi gizi merupakan kemampuan dalam memperoleh, memproses, memahami, dan mengaplikasikan informasi gizi serta mengakses layanan kesehatan yang diperlukan agar dapat membuat keputusan gizi yang tepat. Tingkat literasi gizi yang rendah pada remaja dapat membentuk pola makan buruk yang akan berlangsung hingga dewasa dan berdampak buruk pada risiko kejadian penyakit kronis terkait gizi. Usia remaja seringkali mengarah pada perkembangan pola makan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat literasi gizi pada siswa/i di SMP Negeri 102 Jakarta tahun 2023. Desain penelitian yang digunakan ialah cross sectional dengan sampel sebanyak 130 siswa/i kelas 7 dan 8 di SMP Negeri 102 Jakarta menggunakan metode quota sampling. Instrumen yang digunakan adalah hasil adaptasi dan modifikasi dari NLit (Nutrition Literacy Assessment Instrument) dan NLAA (Nutrition Literacy Assessment of Adolescent). Pengambilan data dilakukan bulan Juli 2023 dengan menyebarkan kuesioner dan mengukur antropometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55,4% responden memiliki tingkat literasi gizi yang rendah. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ayah (p=0,032; OR=2,322; 95% CI 1,067 – 5,054), peran keluarga (p=0,001; OR=3,704; 95% CI 1,780 – 7,708), peran teman sebaya (p=0,006; OR=2,692; 95% CI 1,320 – 5,491), dan penggunaan media (p=0,000; OR=3,869; 95% CI 1,789 – 8,367) dengan tingkat literasi gizi.
Nutrition literacy is the ability to obtain, process, understand and apply nutrition information and access the necessary health services to make appropriate decisions. Low levels of nutritional literacy in adolescents can form poor dietary patterns that will last into adulthood and adversely affect the risk of developing nutrition-related chronic diseases. Adolescence often leads to the development of poor eating patterns. This study aims to determine the description and factors associated with the level of nutritional literacy in students at SMP Negeri 102 Jakarta in 2023. The research design used was cross sectional with a sample of 130 students in grades 7 and 8 at SMP Negeri 102 Jakarta using the quota sampling method. The instrument used is the result of adaptation and modification of the NLit (Nutrition Literacy Assessment Instrument) and NLAA (Nutrition Literacy Assessment of Adolescent). Data collection was carried out in July 2023 by distributing questionnaires and measuring anthropometry. The results showed that 55.4% of respondents had a low level of nutritional literacy. There was a significant association between father's education level (p=0.032; OR=2.322; 95% CI 1.067 - 5.054), family role (p=0.001; OR=3.704; 95% CI 1.780 - 7.708), peer role (p=0.006; OR=2.692; 95% CI 1.320 - 5.491), and media use (p=0.000; OR=3.869; 95% CI 1.789 - 8.367) with nutritional literacy level.
S-11436
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Desi Irawati; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Fadila Wirawan
Abstrak:
Read More
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang substansial di setiap negara, karena menimbulkan berbagai konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang yang mempengaruhi kehidupan penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor risiko paling dominan dan perbedaan proporsi kejadian bayi berat lahir rendah berdasarkan faktor janin, faktor ibu dan obstetri, dan faktor sosiodemografi pada balita di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan data Riskesdas 2018. Desain studi penelitian ini adalah cross sectional dengan analisis univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (uji regresi logistik ganda). Data penelitian menggunakan data Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel sebesar 4255 balita yang bertempat tinggal di Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi BBLR di Jawa Tengah berdasarkan data Riskesdas, yaitu sebesar 5,8%. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi BBLR yang signifikan ditemukan pada variabel kehamilan ganda, paritas, komplikasi kehamilan, frekuensi kunjungan ANC, usia gestasi, dan status pendidikan ibu (p-value<0,05). Usia gestasi ditemukan sebagai faktor dominan terkait kejadian BBLR pada balita di Jawa Tengah (OR=15,50). Sosialisasi mengenai standar antenatal care yang dianjurkan dan penggalakan program-program, seperti kelas ibu hamil dapat dilakukan untuk membantu mencegah BBLR di Jawa Tengah.
Low birth weight (LBW) is a major public health challenge worldwide, with significant short-term and long-term consequences for individuals and societies. This study aims to examine the most dominant risk and variations in the proportion of LBW based on fetal factors, maternal and obstetric factors, and sociodemographic factors among toddlers in Central Java Province, utilizing the 2018 Riskesdas data. The research design employed in this study is cross-sectional, utilizing univariate, bivariate (chi-square), and multivariate analysis (multiple logistic regression). The dataset utilized for the research comprises 4255 toddlers residing in Central Java, derived from the 2018 Riskesdas data. The findings indicate that the prevalence of LBW in Central Java, as indicated by the Riskesdas data, stands at 5.8%. The analysis reveals significant disparities in the proportion of LBW concerning variables such as multiple pregnancies, parity, pregnancy complications, frequency of antenatal care visits, gestational age, and the mother's educational status (p-value <0.05). Gestational age was found to be the dominant factor related to the incidence of LBW in toddlers in Central Java (OR=15,50). Socialization regarding recommended ANC standards and promotion of programs, such as classes for pregnant women can be carried out to help prevent LBW in Central Java.
S-11391
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kholida Eliyana; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Fadila Wirawan
Abstrak:
Read More
Label informasi nilai gizi produk pangan kemasan dapat digunakan untuk memantau asupan makanan, sehingga pemahaman terhadap informasi nilai gizi pada kemasan harus diperhatikan karena akan mempengaruhi pemilihan makanan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca label informasi nilai gizi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilaksanakan bulan Mei-Juli 2023 pada Mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia. Sampel penelitian ini yaitu 208 responden melalui pengisian kuesioner. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu chi square dan uji t independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30,8% responden memiliki kebiasaan baik dalam membaca label informasi nilai gizi. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara gaya hidup dan pengetahuan gizi pada produk pangan kemasan dengan kebiasaan membaca label informasi nilai gizi. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai keuntungan dan cara membaca label informasi nilai gizi untuk meningkatkan kebiasaan yang baik dalam membaca label informasi gizi sebelum membeli produk pangan kemasan.
Nutrition labels on packaged food products can be utilized to monitor dietary intake and understanding of nutrition labels on the packaging should be noticed because it affects daily food selection. Lack of understanding of nutrition labels will impact inappropriate food selection. The Objective of this study is to identify the factors influencing the habit of reading nutritional information labels. The research adopts a quantitative approach with a cross-sectional design. Data collection was conducted from May to July 2023 among students from the Health Sciences Cluster at the University of Indonesia. The sample in this study was 208 respondents who were collected with a self-administered questionnaire and who were selected using accidental sampling. The study utilized two statistical analysis methods: chi-square and independent t-test. This study showed that 30,8% respondents have a good habit of reading nutrition labels. According to bivariate analysis, there was a significant association between healthy lifestyle and nutrition knowledge of packaged food products with the habit of reading nutritional information labels. Therefore, it is necessary to improve knowledge and understanding of the benefits and methods of reading nutritional information labels to enhance the good habit of reading such labels before purchasing packaged food products
S-11467
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bernadette Victoria; Pembimbing: R.T. Ayu Dewi Sartika; Penguji: Sandra Fikawati, Kencana Sari , Fadila Wirawan
Abstrak:
Berat lahir merupakan salah satu indikator penting tumbuh kembang anak dan juga mencerminkan asupan gizi yang didapatkan janin saat dalam kandungan. Bayi dengan berat lahir rendah (
Birth weight is an important indicator of the child’s growth and also represents the nutritional intake obtained by the fetus during childbirth. Babies with a low birth weight (
Read More
Birth weight is an important indicator of the child’s growth and also represents the nutritional intake obtained by the fetus during childbirth. Babies with a low birth weight (
T-6776
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nia Apsari; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Fadila Wirawan, Firlia Ayu Arini
Abstrak:
Read More
Kepatuhan diet penderita hipertensi yang tidak baik dapat mempengaruhi upaya dalam pengontrol tekanan darah dan dapat meningkatkan risiko komplikasi. Diet Approach to Stop Hypertension (DASH) merupakan salah satu diet yang direkomendasikan untuk mengendalikan tekanan darah bagi penderita hipertansi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepatuhan diet DASH terhadap pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi di Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Cross Sectional. Peneliti menggunakan data sekunder dari penelitian ”Hubungan Kebiasaan Minum Kopi dan Faktor Lainnya dengan Pengendalian Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Puskesmas Kemiri Muka Tahun 2023”. Pengolahan data sekunder dilakukan pada bulan April-Mei 2024. Total sampel pada penelitian ini adalah 156 penderita hipertensi usia >18 tahun yang berobat dan kontrol rutin setiap bulan serta merupakan peserta Prolanis dan Posbindu di Puskesmas Kemiri Muka Kota. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukan 68,6% responden memiliki tekanan darah tidak terkendali dan 59,4% responden pada kategori tidak patuh dalam pelaksanaan diet hipertensi DASH. Hasil uji statistik diketahui nilai p-value 0,985 dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel kepatuhan diet DASH dengan tekanan darah responden dalam penelitian ini. Variabel usia menjadi variabel yang mempengaruhi pengendalian tekanan darah (p-value <0,05).
Non-compliance with the diet among hypertensive patients can affect efforts to control blood pressure and may increase the risk of complications. The Diet Approach to Stop Hypertension (DASH) is one of the recommended diets for managing blood pressure in hypertensive patients. This study aimed to determine adherence to the DASH diet in controlling blood pressure among hypertensive patients at the Kemiri Muka Public Health Center in Depok City. This research was a quantitative study with a cross-sectional design. Researchers used secondary data from the study "Relationship between Coffee Drinking Habits and Other Factors with Blood Pressure Control in Hypertensive Patients at the Kemiri Muka Public Health Center 2023". Data processing was conducted from April to May 2024. The total sample in this study was 156 hypertensive patients aged >18 years who received regular treatment and monthly check-ups and were participants in the Prolanis and Posbindu at Kemiri Muka Public Health Center. The data were analyzed using the chi-square test and logistic regression. The results of this study showed that 68.6% of respondents had uncontrolled blood pressure, and 59,4% of respondents were categorized as non-compliant in implementing the DASH hypertension diet. Statistical tests revealed a p-value of 0.985, indicating that there was no significant relationship between adherence to the DASH diet and respondents' blood pressure in this study. Age was identified as variable influencing blood pressure control (p-value <0.05).
T-7126
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
