Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Febrie Wulandari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Hadi Pratomo, Umi Zakiati
Abstrak: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang menular dan disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut dapat menyerang organ tubuh namun seringkali bakteri TB menyerang paru-paru manusia. Kota Depok menjadi salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang mengalami kenaikan angka kasus TB dalam empat tahun terakhir. Jumlah kasus TB Paru terbanyak yang dilaporkan berasal dari Puskesmas Pancoran Mas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam mengenai perilaku minum obat pada pasien TB Paru saat Pandemi COVID-19. Informan pada penelitian ini adalah pasien TB, pihak keluarga pasien TB, kader TB, satgas COVID-19, dan penanggung jawab program TB. Pemilihan informan penelitian secara purposive sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor penguat berperan dalam perilaku minum obat pada pasien TB. Pada faktor predisposisi, terdapat pengetahuan yang rendah dan sikap positif. Sedangkan pada faktor pemungkin, efek samping minum obat tidak membuat perubahan dalam perilaku minum obat, akses pelayanan perlu diperhatikan. Kemudian pada faktor pendorong, dukungan keluarga dan peran petugas kesehatan menjadi penguat dalam perilaku minum obat. Oleh sebab itu, disarankan kepada Puskesmas Pancoran Mas untuk melakukan penyuluhan tentang TB kepada seluruh masyarakat serta mengoptimalkan peran kader selama masa pengobatan TB.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. These bacteria can attack the body's organs, but TB bacteria often attack the human lungs. Depok City is one of the cities in West Java Province which has experienced an increase in the number of TB cases in the last four years. The highest number of reported cases of pulmonary TB came from the Pancoran Mas Health Center. This study is a qualitative study that aims to dig deeper information about drug-taking behavior in pulmonary TB patients during the COVID-19 pandemic. Informants in this study were TB patients, the family of TB patients, TB cadres, the COVID-19 task force, and the person in charge of the TB program. The selection of research informants purposively according to the inclusion and exclusion criteria. The results showed that predisposing factors, enabling factors, and reinforcing factors played a role in drug-taking behavior in TB patients. On predisposing factors, there is low knowledge and positive attitude. While the enabling factors, side effects of taking medication do not make changes in drug taking behavior, access to services needs to be considered. Then on the driving factors, family support and the role of health workers become reinforcements in drug-taking behavior. Therefore, it is recommended to the Pancoran Mas Health Center to provide counseling about TB to the entire community and optimize the role of cadres during the TB treatment period.
Read More
S-10970
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Istiqma Azmi Ardina Noor; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Hartono, Umi Zakiati
Abstrak: Telepon seluler menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan manfaat serta kemudahan yang diperoleh dari penggunaan telepon seluler. Namun, dengan semua manfaat yang ditawarkan, telepon seluler memiliki peran potensial dalam transmisi mikroorganisme yang berbahaya terhadap kesehatan dengan berperan sebagai pembawa sejumlah mikroorganisme yang hidup di setiap inchi permukaan telepon seluler, salah satunya adalah Escherichia coli. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional untuk menganalisis hubungan antara kebersihan tangan, kebersihan telepon seluler, dan penggunaan telepon seluler dengan keberadaan bakteri Escherichia coli pada telepon seluler mahasiswa sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat sebuah Universitas Negeri. Pengambilan data dilakukan kepada 98 responden mahasiswa kesehatan masyarakat tingkat sarjana, baik reguler maupun ekstensi angkatan 2015-2018, dengan menggunakan kuesioner mengenai perilaku kebersihan tangan, kebersihan telepon seluler, dan penggunaan telepon seluler oleh mahasiswa. Responden diperoleh menggunakan teknik sampling aksidental. Sedangkan sampel bakteri pada telepon seluler diambil dengan teknik swab menggunakan larutan Buffered Pepton Water pada bagian layar, samping, dan belakang telepon seluler. Bakteri dari sampel kemudian diidentifikasi di laboratorium menggunakan metode Total Plate Count (TPC) dengan media Chromocult Coliform Agar (CCA). Hasil pemeriksaan laboratorium pada 98 sampel telepon seluler adalah negatif atau tidak terdapat bakteri Escherichia coli pada sampel. Kondisi kebersihan tangan, kebersihan telepon seluler, dan penggunaan telepon seluler mahasiswa kesehatan masyarakat masing-masing sebesar 53.1%, 70.4%, dan 60.2%. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kebersihan tangan, kebersihan telepon seluler, dan penggunaan telepon seluler mahasiswa termasuk ke dalam kategori baik.
Read More
S-10212
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Nurul Hidayati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Umi Zakiati
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang perilaku pencegahan COVID-19 pada mahasiswa kesehatandan non-kesehatan di Universitas Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilakupencegahan COVID-19 pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan ditinjau dari teorihealth belief model. Variabel yang diteliti adalah perilaku pencegahan COVID-19, faktorpemodifikasi (usia, jenis kelamin, pengetahuan) dan persepsi individu (persepsi kerentanan,keparahan, manfaat, hambatan dan self efficacy). Penelitian ini menggunakan pendekatankuantitatif dan metode penelitian cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 110 orangmahasiswa kesehatan dan non-kesehatan dengan menggunakan metode pengambilan sampelpurposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 68% mahasiswakesehatan memiliki perilaku pencegahan COVID-19 yang baik dan 31.6% memiliki perilakupencegahan yang kurang baik. Sedangkan mahasiswa non-kesehatan yang memiliki perilakupencegahan yang baik adalah 59.7% dan 40.3% memiliki perilaku pencegahan yang kurangbaik. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan perilaku pencegahanCOVID-19 (p=0.020).
Kata Kunci: COVID-19, Health Belief Model, mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan
This study discusses about the preventive health behaviours of COVID-19 among studentsmajoring in health and non-health sciences Universitas Indonesia. The objective of this studywas to look preventive health behaviour COVID-19 among students majoring in health andnon-health sciences based of health belief model. Variabels in this study including preventivebehaviour, modifying factors (Age, sex, and knowledge), individual perceived (perceivedsusceptibility, perceived severity, perceived benefits, dan perceived barriers and selfefficacy). This study using quantitative approaches and cross sectional study methods.Thetotal samples of this study is 110 people of students majoring in health and non-healthsciences with purposive sampling method. The result showed that 68% students majoringhealth sciences are having good preventive behaviour and 31.6% have enough preventivebehaviour, while 59.7% the student majoring non-health science have good preventivebehaviour and 40.3% have enough preventive behaviour. There was significant associationsbetween sex with preventive health behaviour of COVID-19 (p=0.020)
Keywords: COVID-19, Health Belief Model, Students majoring health and non-healthscience.
Read More
S-10358
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rai Yarisunal Firdaus; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Besral, Umi Zakiati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran stres pada remaja di masa pandemic COVID-19 serta hubungannya dengan karakteristik remaja. Karakteristik yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tempat tinggal dan memiliki keluarga terkonfirmasi COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 300 orang remaja di Kota Depok dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposive sampling.
Read More
S-10582
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilmar Sinaga; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sabrinah, Umi Zakiati
S-7516
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosalin Gloria Valentin; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Syahrizal Syarif, Umi Zakiati
Abstrak: Pada tingkat global maupun nasional, status kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat telah berhasil dieliminasi pada tahun 2000. Namun demikian sejak tahun 2000-2010 masih saja ditemukan kasus baru.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan faktor kepadatan penduduk, penemuan kasus secara aktif, penemuan kasus secara pasif, presentase penduduk miskin dengan angka penemuan kasus baru kusta di Kota Depok tahun 2011-2017. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan pada angka penemuan kasus baru kusta mengalami peningkatan. Kecenderungan presentase penemuan kasus aktif mengalami peningkatan, kecenderungan peningkatan kasus pasif mengalami penurunan. Kecenderungan angka penemuan kasus baru kusta berdasarkan angka kepadatan penduduk mengalami peningkatan. Kecenderungan angka penemuan kasus baru kusta berdasarkan presentase penduduk miskin mengalami penurunan dan tidak berhubungan. Hasil analisis spasial menunjukkan hasil terdapat 5 kecamatan yang memiliki risiko penularan kusta yang tinggi yaitu : Sawangan, Pancoranmas, Cipayung, Cimanggis, dan Tapos. Penemuan kasus secara aktif dengan modifikasi penyuluhan akan meningkatkan penemuan kasus secara pasif yang pada akhirnya akan menurunkan angka penemuan kasusbaru.
Read More
S-10159
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kholid Fadli; Pembimbing: Mila Herdayati; Penguji: Poppy Yuniar, Umi Zakiati
S-9259
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kholid Fadli; Pembimbing: Mila Herdayati; Penguji: Poppy Yuniar, Umi Zakiati
S-9259
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Karina Adristi Sasmitaningrum; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Popy Yuniar, Umi Zakiati
Abstrak:

Penyakit ginjal kronis merupakan penyebab kematian nomor 12 pada tahun 2017 dan diprediksi menjadi penyebab kematian nomor 5 pada tahun 2040. Berdasarkan data SKI 2023, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia adalah 0,18%. Walaupun relatif relatif kecil, masalah yang dihadapi adalah deteksi dini risiko dari faktor risiko penyakit ginjal kronis. Permasalahan penanganan penyakit ginjal kronis di Indonesia adalah kurangnya edukasi mengenai deteksi dini penyakit ginjal kronik serta faktor risikonya kepada masyarakat. Berdasarkan permasalahan ini, dilakukan penelitian untuk melihat faktor-faktor penyebab ginjal kronis di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data SKI 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 22639 individu. Penelitian ini dilakukan dengan uji kai kuadrat dan dilanjutkan dengan regresi logistik. Dari hasil regresi logistik yang dilakukan didapatkan hasil bahwa variabel yang menjadi faktor terbesar penyebab penyakit ginjal kronis adalah diabetes ( p-value = 0,008 ; OR = 4.792 (1,52-15,14)). Karena hasil penelitian menunjukkan diabetes sebagai faktor terbesar penyebab penyakit ginjal kronis, maka peneliti menyarankan bahwa terdapat dua fokus kebijakan yang dapat dilakukan. Pertama untuk penderita diabetes dalam hal pengontrolan penyakit, dan kedua kepada orang sehat dalam hal skrining dan deteksi dini serta promosi kesehatan untuk penerapan pola hidup sehat.


Chronic kidney disease was the 12th leading cause of death in 2017 and is predicted to be the  fifth leading cause of death in 2040. Based on SKI 2023 data, the prevalence of chronic  kidney disease in Indonesia is 0.18%. Although relatively small, the problem faced is early  detection of the risk of chronic kidney disease risk factors. The problem of handling chronic  kidney disease in Indonesia is the lack of education regarding the early detection of chronic  kidney disease and its risk factors to the community. Based on this problem, a study was  conducted to see the factors causing kidney chronicity in Indonesia. The study was conducted  using SKI 2023 data with a sample size of 22,639 individuals. This study was conducted  using the chi-square test and continued with logistic regression. From the results of the  logistic regression, it was obtained that the variable that was the most significant factor  causing chronic kidney disease was diabetes (p-value = 0.008; OR = 4.792 (1.52-15.14)).  Because the results of the study showed diabetes as the most significant factor causing  chronic kidney disease, the researcher suggested that there were two policy focuses that could  be implemented. Firstly, for people with diabetes in terms of disease control, and secondly,  for healthy people in terms of screening and early detection as well as health promotion for  implementing a healthy lifestyle. 

Read More
S-11873
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Lathifa Zahra; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Rico Kurniawan, Umi Zakiati
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia, terutama pada pasien dengan kondisi hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesintasan stroke pada pasien hipertensi di Indonesia tahun 2017-2022. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrespektif dengan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2017-2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa survival probability stroke pada pasien hipertensi secara keseluruhan adalah 90,7% (95% CI, 90,0% - 99,14%) pada tahun keenam setelah tercatat sebagai pasien hipertensi. Pasien hipertensi yang mengidap diabetes, mengidap dislipidemia, dan tidak mengidap penyakit jantung memiliki cumulative survival probability yang lebih rendah dan memiliki risiko terkena stroke yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengalami diabetes (0,900), mengalami dislipidemia (0,897), tidak mengalami penyakut jantung (0,905), berusia 45-65 tahun (0,896), berjenis kelamin laki-laki (0,897), memiliki status cerai (0,901), bertempat tinggal di Jawa-Bali (0,902), dan memiliki kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah (0,899) memiliki cumulative survival probability yang lebih rendah dibandingkan dengan kategori lainnya. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pasien hipertensi yang mengidap penyakit jantung (AHR=0,8; 95% CI 0,624-0,992) memilliki risiko yang elbih rendah untuk mengalami stroke daripada pasien hipertensi yang tidak mengidap penyakit janutng setelah dikontrol variabel usia, jenis kelamin, status perkawinan, tempat tinggal, dan kondisi sosial ekonomi.

Stroke is one of the leading causes of death and disability in Indonesia, particularly among patients with hypertension. This study aims to determine the stroke survival rates among hypertensive patients in Indonesia from 2017 to 2022. A retrospective cohort design was used, utilizing the BPJS Health Sample Data from 2017-2022. The study results indicate that the overall stroke survival probability among hypertensive patients is 90.7% (95% CI, 90.0% - 99.14%) in the sixth year after being recorded as hypertensive patients. Hypertensive patients who have diabetes, dyslipidemia, and no heart disease have lower cumulative survival probabilities and higher risks of stroke compared to those who do not have these conditions. Specifically, the cumulative survival probabilities were 0.900 for diabetes, 0.897 for dyslipidemia, 0.905 for those without heart disease, 0.896 for those aged 45-65 years, 0.897 for males, 0.901 for divorced individuals, 0.902 for residents of Java-Bali, and 0.899 for those with lower socioeconomic status. The multivariate analysis showed that hypertensive patients with heart disease (AHR=0.8; 95% CI 0.624-0.992) had a lower risk of stroke compared to hypertensive patients without heart disease, after controlling for age, gender, marital status, residence, and socioeconomic conditions.
Read More
S-11788
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive