Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eflita Meiyetriani; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Sjarifah Salmah, Budi Iman Santoso
T-3516
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Made Lestari; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Puput Oktamianti, Budi Hartono, Budi Iman Santoso
B-1615
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Aju Kusuma Wardani; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Budi Iman Santoso, Ken Wirasandhi
B-1632
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Ngurah Putra Wiradana; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Ken Wirasandhi, Budi Iman Santoso
Abstrak: Tesis ini membahas tentang penetapan posisi dan penentuan strategi Badan Rumah Sakit Umum Tabanan dalam pengembangan poliklinik sore. Penelitian ini merupakan penelitian operasional dengan analisis data kualitatif dan data kuantitatif. Dengan menggunakan analisis situasi menganalisis peluang-ancaman, kekuatan-kelemahan dan penetapan posisi BRSU Tabanan menggunakan matriks TOWS dan matriks IE. Kesimpulan pada penelitian menetapkan posisi BRSU Tabanan pada Future Quadrant pada matrik TOWS dan pada sel II pada matriks IE. Dengan menggunakan QSPM, poliklinik penyakit dalam sebagai prioritas poliklinik sore yang akan dikembangkan.
Read More
B-1635
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nyoman Sindhu Adiputra; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Pujiyanto; Vetty Yulianty Permanasari, Budi Iman Santoso, Ken Wirasandhi
Abstrak: Pelaporan nilai kritis laboratorium merupakan salah satu indikator mutu yang sangat penting. Kegagalan melaporkan nilai kritis kepada DPJP akan menjadi sebab potensial untuk menimbulkan kejadian yang tidak diharapkan. Di Rumah Sakit Umum Pusat sanglah Denpasar tingkat pelaporan nilai kritis baru mencapai 15,8%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pelaporan nilai kritis laboratorium berdasarkan parameter pemeriksaan, jenis pasien (rawat jalan dan rawat inap), area perawatan, sub laboratorium, dan waktu dalam satu hari dan untuk melihat implementasi manajemen dalam pelaporan nilai kritis tersebut. Ada variasi jumlah hasil kritis berdasarkan parameter, jenis pasien, ruang perawatan, sub laboratorium dan waktu dalam sehari. Implementasi manajemen dari pelaporan nilai kritis tidak dilakukan secara utuh.
Read More
B-1636
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriah; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Anhari Achadi, Wahyu Sulistiadi, Budi Iman Santoso, Lies Nugrohowati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi waktu pelayanan instalasi farmasi rawat jalan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian gabungan (mixed method) dengan melakukan wawancara mendalam serta observasi waktu tunggu pelayanan obat yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis univariat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tunggu pelayanan obat racik dan paten di rumah sakit ini melebih standar waktu yang ditetapkan, ditemukan beberapa penghambat seperti ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana dan fasilitas kerja yang merupakan hambatan terbesar dalam pelayanan ini. Disarankan kepada rumah sakit untuk dapat redisain layout farmasi, menghitung ulang pola ketenagaan serta pengaturan tugas sesuai dengan kompetensinya.

Kata Kunci : efisiensi, farmasi rawat jalan, obat racik dan paten

This study aims to improve the efficiency of service time of outpatient pharmacy installation in order to improve the quality of hospital services. The research method used is the method of combined research (mixed method) by conducting in-depth interviews and observation of drug service waiting time which then analyzed by using univariate analysis.

The result of the research shows that the waiting time for the service of racik and patent medication in this hospital exceeds the standard time set, found some obstacles such as availability of human resources, infrastructure and work facilities which is the biggest obstacle in this service. It is advisable to the hospital to be able to redesign the pharmacy layout, recalculate the pattern of the workforce as well as the arrangement of tasks in accordance with its competence.

Keywords: Efficiency, outpatient pharmacy, racik medicine and patent
Read More
T-5070
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Gusti Lanang Suartana Putra; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Puput Oktamianti, Budi Hartono, Budi Iman Santoso
Abstrak:
ABSTRAK Rumah sakit merupakan organisasi pelayanan jasa yang mempunyai kespesifikan dalam hal sumber daya manusia. Salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui mekanisme penilaian kinerja. Di RSUP Sanglah Denpasar belum pernah dilakukan analisis mengenai sistem penilaian kinerja staf medik sehingga belum diketahui bagaimana penilaian kinerja staf medik yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa sistem penilaian kinerja staf medik di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan melakukan wawancara dan penelusuran dokumen. Analisa data dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian kinerja staf medik berdasarkan enam kriteria penilaian belum berjalan dengan baik. Pedoman, instrument, indikator, serta kebijakan penilaian perlu direvisi dan disempurnakan. Perlu dibentuk tim khusus untuk melakukan penilaian kinerja staf medik di rumah sakit.

ABSTRACT Hospital services is an organization that has specificity in terms of human resources. One strategy to improve human resources quality is through performance appraisal mechanisms. In Sanglah Hospital had not done an analysis of the performance appraisal system of the medical staff. It is not known how the medical staff performance assessment system are effective. The aim of this study was to describe the performance appraisal system of the medical staff at Sanglah Hospital in Denpasar. This research was a qualitative descriptive study, by conducting interviews and document review. Data analysis with content analysis. The results showed that the medical staff performance appraisal system based on six criterias have not been going well. Guidelines, instruments, indicators, and assessment policy needs to be revised and refined. Need to set up a special team to conduct performance appraiser in the hospital medical staff.
Read More
B-1657
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eflita Meiyetriani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Dian Kusuma; Penguji: Besral, Budi Iman Santoso, Hartono Gunardi, Helda Khusun, Alimoeso Sudibyo, Dwi Nastiti Iswarawanti
Abstrak:

Periode seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan masa yang sangat rentan terjadinya berbagai masalah gizi yang berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu bentuk gangguan pertumbuhan yang sering muncul pada periode ini adalah stunting. Kelahiran risiko tinggi, khususnya kelahiran “4 TERLALU” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak) berperan penting dalam meningkatkan risiko morbiditas pada ibu dan anak. Sejumlah studi mengaitkan kelahiran “4 TERLALU” terhadap stunting, namun demikian temuan mengenai hal ini masih terbatas, tidak konsisten, dan umumnya hanya mencakup anak usia balita. Penelitian ini menggunakan data longitudinal Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2000, 2007, dan 2014 di 13 provinsi dengan 1.401 anak usia 0–59 bulan yang diikuti hingga usia remaja untuk menilai pengaruh kelahiran 4 TERLALU terhadap status stunting dan perubahan status stunting. Status stunting ditentukan dengan z skor PB/U atau TB/U berdasarkan standar WHO 2007, dan perubahan status dikelompokkan menjadi remained normal, height faltering, catch-up growth, dan remained stunted. Analisis dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equation (GEE) untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap status stunting dan multinomial regresi logistik untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap perubahan status stunting di usia sekolah dan usia remaja. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting tertinggi pada usia balita (39%), menurun pada usia sekolah (35%), dan mencapai 25% pada remaja. Proporsi kelahiran terlalu muda sebesar 12,7%, terlalu tua 9,6%, terlalu dekat 6,8%, terlalu banyak 16,2%, dengan kelahiran risiko tinggi ≥1 sebesar 36,1% dan ≥2 sebesar 8,7%. Kelahiran terlalu dekat (<24 bulan) secara konsisten meningkatkan risiko stunting sejak balita hingga remaja, sedangkan kelahiran terlalu muda, terlalu tua, dan terlalu banyak tidak menunjukkan hubungan signifikan. Faktor lain yang berpengaruh antara lain usia anak pada saat baseline, berat badan lahir rendah, pendidikan ibu rendah, tinggi badan ibu ≤150 cm, tinggi badan ayah ≤161,9 cm, serta kondisi sosioekonomi dan lingkungan, di mana anak dari keluarga kuintil aset 3 memiliki risiko 21% lebih rendah dibanding kuintil 1. Analisis perubahan status stunting menunjukkan bahwa jarak kelahiran terlalu dekat meningkatkan risiko anak menjadi stunted (height faltering) dan remained stunted. Temuan ini menegaskan bahwa stunting bersifat dinamis dan kelahiran terlalu dekat berkontribusi besar pada gangguan pertumbuhan linier jangka panjang, sehingga diperlukan intervensi gizi, kesehatan reproduksi, dan pemantauan pertumbuhan yang berkesinambungan sejak masa sebelum konsepsi hingga masa remaja.


 

The first 1,000 days of life (1,000 HPK/Hari Pertama Kehidupan) represents a critical window during which children are highly vulnerable to various nutritional problems that can adversely affect their growth and development. Stunting is one of the most common forms of growth faltering that occurs during this period. Births with high-risk factors, particularly those related to the "4 Too's" (maternal age being too young or too old, a short birth interval, and numerous previous births), greatly increase the likelihood of illness among mothers and their children. Although several studies have linked the "4 Too's" birth characteristics to stunting, the evidence remains limited, inconsistent, and is generally confined to children under five years of age. This study used longitudinal data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) conducted in 2000, 2007, and 2014 across 13 provinces. A cohort of 1,401 children aged 0-59 months was followed through adolescence to assess the influence of the "4 Too's" birth characteristics on stunting status and its longitudinal changes. Stunting status was determined using height-for-age z-scores (HAZ) based on the 2007 WHO standards. Stunting status changes were classified as normal, height faltering, catch-up growth, and stunted persistence. Generalized Estimating Equations (GEE) were used to examine the impact of the 'Four Too' birth factors on stunting, while multinomial logistic regression was employed to investigate their effect on changes in stunting during school age and adolescence. The findings showed that stunting prevalence was most common among 5- year-olds (39%), decreased to 35% during school age, and dropped to 25% in adolescence. The proportions of high-risk births were as follows: 12.7% to mothers who were too young, 9.6% to mothers who were too old, 6.8% with a short birth interval, and 16.2% with high parity. The prevalence of births with at least one risk factor was 36.1%, while 8.7% had two or more risk factors. A birth interval of less than 24 months was constantly linked to an elevated risk of stunting from early childhood through adolescence, while no noteworthy correlation was found between births to mothers of young or older age and those of high parities. The other significant risk factors were the child's age at baseline, low birth weight, low levels of maternal education, maternal height of 150 cm or less, and paternal height of 161.9 cm or less. Socioeconomic factors also played a role, with children from the third asset quintile having a 21% lower risk of stunting than those from the first quintile. Analysis of the changes in stunting status revealed that short birth intervals increased the risk of a child experiencing height faltering or remaining stunted. These findings affirm the dynamic nature of stunting and highlight that a short birth interval is a major contributor to long-term linear growth faltering. Consequently, sustained nutritional and reproductive health interventions, along with continuous growth monitoring, are imperative from the pre-conception period through adolescence to break the intergenerational cycle of stunting.

Read More
D-597
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive