Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39392 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bandriyo; Pembimbing: Candra Satrya; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Indang Trihandini
Abstrak:

Rumah Sakit merupakan institusi layanan kesehatan masyarakat yang mempunyai sifat yang unik yang berbasis bisnis sekaligus sosial. Perawat merupakan tenaga kerja inti di Rumah Sakit yang mempunyai beban kerja berlebih dibanding dengan tenaga kerja lainnya. Disamping merawat pasien, perawat juga mempunyai tugas lain yang harus dilakukan hampir setiap hari yaitu beban angkat dan pindah pasien dari satu tempat tidur ke tempat tidur yang lainnya. Karena tugasnya yang kedua tersebut perawat mempunyai risiko untuk terjadinya trauma termasuk Hernia Nucleus Pulposus (HNP). Hal ini terbukti dengan ditemukannya angka kesakitan cukup tinggi di Rumah Sakit Pusat Pertamina yaitu didapatkan 24 perawat terkena HNP dari 76 perawat sebagai sampel.Setelah melakukan wawancara, pengisian kuesioner, dan pemeriksaan fisik terhadap 76 perawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Peneliti mendapatkan model yaitu bahwa beban angkat dan pindah pasien yang menyebabkan penyakit HNP sangat dingaruhi oleh faktor usia. Kesimpulan ini didapat setelah dalam setiap penelitian, usia merupakan variabel yang selalu melekat dan sangat sulit untuk dihindari atau di hilangkan dari variabel penganggu. Model ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan pendalaman terhadap terjadinya penyakit HNP. Didalam penelitian ini Peneliti masih menemukan banyak faktor yang menyebakan terjadinya bias atau penyimpangan diantaranya recall bias. Recall bias adalah bias yang disebabkan karena seorang responden selalu menjawab hal-hal yang dirasa paling diingat dan paling berkesan meskipun keluhan yang dirasakan sudah berulang kali. Namun demikian peneliti sudah berusaha meminimalisasi faktor tersebut dengan mengkonfirmasikan dengan catatan medis (Medical Record) responden yang bersangkutan.Ketika dilakukan analisa hubungan dua variabel yaitu antara status gizi dengan penyakit HNP, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara dua variabel tersebut yaitu dengan p=0,488. Persamaan multivariat antara usia dengan beban angkat dan pindah pasien terhadap kejadian penyakit HNP adalah Logit Y=3,517 (Usia)+1,534 (beban angkat dan pindah) artinya Old Ratio (OR) untuk usia sebesar 33,691 (CI 95% interval 5,262-215,722) dan OR untuk beban angkat sebesar adalah 4,637 (Cl 95% interval 0,826-26,021). Hal ini bisa diartikan bahwa beban angkat dan pindah yang dilakukan oleh seorang perawat dengan dibantu hanya satu sampai dua orang lainnya mempunyai risiko sebesar 4,637 kali lebih besar bila dibanding dengan perawat yang mengangkat dan memindahkan yang dibantu lebih dari 3 orang lainnya.


 

Case Control Study, The Correlation between Lifting Load and Physically Work Moving of Nurse in Inpatient's Room and Outpatient's Room and Hernia Nucleus Pulposus (HNP) Disease in Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP Hospital) in 1990-2002Hospital is an institution for public health services, which is unique. It has both business and social proposes. In the hospital, nurse is an essential worker who has not only nursing task but also lifting load and moving patient from one room to another. The nurses must do lifting load and moving patient almost everyday. Therefore, the nurses have a high risk for injury especially HNP disease. As evidence, in my research, I have found 24 of 76 nurses who work in RSPP hospital suffer HNP disease.After I have done the research by pooling questioners, interview and physically examination to 76 nurses of RSPP hospital, I came with an conclusion, becoming a model, that age factor influences lifting load and moving patient from room to room as causing HNP disease. This conclusion is taken because the age factor always shown in each exercise. Hopefully, this model can be used for further study of HNP disease. In this research, I found that there are still many factors, which cause bias such as recall bias. This kind of bias occurred because most of respondent did not remember every single suffering that they have suffered. But I have tried to minimize that bias by confirmation the result to medical record of each respondent.  Analyzing about correlation two variables between nutrition status and HNP disease, there is no significant correlation. The correlating result is P= 0,488. By using multivariate equation disease s logic Y=3,517 for age and 1,534 for lifting load and moving patient. It shows that odd ratio (OR) for age equal to 33,671 and OR for lifting load and moving patient is 4,637. This result can be read that the nurse who doing lifting load and moving patient with one or two other person help has 4,637 times higher risk than the nurse with more than three person help.

Read More
T-1526
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jhon Martua Malau; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Fahmi Syaiful
Abstrak:
Kelelahan pengemudi truk menjadi faktor risiko penting di sebagian besar kecelakaan lalu lintas. Statistik menunjukkan kelelahan pengemudi truk menyumbang sekitar 10- 15% dari kecelakaan lalu lintas jalan. Kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas pada pengemudi truk yang kelelahan delapan kali lebih tinggi daripada pengemudi truk yang cukup istirahat. Menurut Badan Pusat Statistik (2019), dari tahun 2015- 2019, jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia mengalami kenaikan rata-rata 4,87 persen per tahun. Korlantas POLRI mencatat jumlah kecelakaan sepanjang 2019 sebanyak 116.411. Jumlah tersebut naik 6,59 persen dibandingkan pada tahun 2018 dengan 109.215 kejadian. Kecelakaan mobil barang menempati posisi ketiga dengan jumlah kecelakaan 5,02 persen atau sekitar 5,822 kejadian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat fatigue serta faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan fatigue pada pengemudi truk. Penelitian ini dilaksanakan pada Juli – Oktober 2021 di PT.X sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 64 pengemudi truk. Data dianalisis dengan uji statistik chi square. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 89% responden mengalami fatigue sedang dan 11% responden mengalami fatigue tinggi. Dari penelitian ini diketahui ada hubungan antara kualitas tidur, durasi kerja dan beban lingkungan kerja dengan keluhan fatigue pada pengemudi truk (p<0,05). Sedangkan faktor individu berupa usia dan kebiasaan merokok, kuantitas tidur, serta faktor beban mental berupa beban kerja, jadwal kerja diketahui tidak memiliki hubungan dengan keluhan fatigue pada pengemudi truk (p>0,05). Kata Kunci: Kelelahan, Pengemudi Truk, Transportasi, Keselamatan

Fatigue is a significant factor regarding safety issues such as transportation incident. Statistics show truck driver fatigue accounts for about 10 to 15% of serious road traffic accidents. The likelihood of a traffic accident occurring in an exhausted truck driver is eight times higher than for a well rested truck driver. According to the Badan Pusat ix Statistik (2019), During the 2015-2019 period, the number of traffic accidents in Indonesia increased by an average of 4.87 percent per year. Korlantas POLRI recorded the number of accidents throughout 2019 as many as 116,411. The number is up 6.59 percent compared to 2018 with 109,215 events. Accidents on truck cars occupy the third position based on the type of vehicle with the number of accidents 5.02 percent or about 5,822 incidents. Therefore, this study aims to describe the level of fatigue and the factors associated with complaints of fatigue on truck drivers. This research was conducted in July – October 2021 at PT. X as a company engaged in the transportation sector. This research is a quantitative research with a cross sectional study design. The sample in this study were 64 truck drivers. The data were then analyzed by chi square statistical test. The results of the study showed that 89% of respondents experienced moderate fatigue and 11% of respondents experienced high fatigue. From this research, it is also known that there is a relationship between sleep quality, duration of work and work environment load with complaints of fatigue in machinists (p <0.05). While individual factors in the form of age and smoking habits, sleep quantity and mental burden factors in the form of workload, work schedules are known to have no relationship with fatigue complaints among drivers (p>0.05). Keywords: Fatigue, Truck Drivers, Transportation, Safety
Read More
T-7519
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nikmatul Husna Pakaya; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Amory Setia, Trisnajaya
T-7692
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nikmatul Husna Pakaya; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Amory Setia, Trisnajaya
T-7692
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nikmatul Husna Pakaya; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Amory Setia, Trisnajaya
T-7692
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nikmatul Husna Pakaya; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Amory Setia, Trisnajaya
Abstrak:
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang dapat dipengaruhi oleh faktor pekerjaan dan faktor individu. Pekerja sektor konstruksi berisiko mengalami peningkatan tekanan darah akibat tingginya beban kerja fisik, tuntutan mental, dan karakteristik individu tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi hipertensi serta hubungannya dengan faktor risiko beban kerja fisik, beban kerja mental, serta faktor individu pada pekerja sektor konstruksi di PT. X tahun 2026. Desain penelitian ini potong lintang dengan ukuran sampel 220 pekerja konstruksi yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran tekanan darah, wawancara, dan kuesioner yang mengadaptasi metode Quick Exposure Check (QEC), CBE Occupant Survey, dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III). Dilakukan analisis deskriptif, dan inferensial dengan bivariat simple logistic regression yang diteruskan dengan multivariat menggunakan multiple logistic regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 18,2% yang memiliki tekanan darah normal. Sebagian besar pekerja berada pada kategori pra-hipertensi yaitu sebesar 39,1%, sedangkan prevalensi hipertensi 42,7% yang terdiri dari hipertensi tingkat 1 sebesar 32,7% dan hipertensi tingkat 2 sebesar 10,0%. Untuk analisis hubungan, kategori pra-hipertensi dan hipertensi digabungkan sehingga total pekerja dengan tekanan darah di atas normal mencapai 81,8%. Analisis bivariat menghasilkan crude OR yang menunjukkan kecenderungan adanya hubungan antara hipertensi dan postur kerja, pola gerakan, penanganan beban manual, desain tempat kerja, tuntutan tugas, tekanan waktu, jenis kelamin, pola makan, kebiasaan merokok, serta aktivitas fisik (p<0,05). Analisis multivariat menghasilkan adjusted OR menunjukkan bahwa kebiasaan olahraga (aOR=32,16; 95% CI=7,99–129,52), desain tempat kerja (OR=16,69; 95% CI=4,04–68,94), merokok (OR=6,56; 95% CI=1,63–26,31), dan tekanan waktu (OR=4,53; 95% CI=1,14–17,94) berhubungan signifikan dengan hipertensi. Kebiasaan olahraga merupakan faktor risiko yang paling dominan berhubungan dengan hipertensi.

Hypertension is a major risk for cardiovascular diseases and may be influenced by both occupational and individual factors. Construction workers are particularly vulnerable to elevated blood pressure due to high physical workload, mental job demands, and specific individual characteristics. This study aimed to analyze the prevalence of hypertension and examine the association between physical workload, mental workload, individual factors, and blood pressure among construction workers at PT. X in 2026. A cross-sectional study was conducted involving 220 construction workers selected through purposive sampling. Data were collected through blood pressure measurements, interviews, and questionnaires adapted from the Quick Exposure Check (QEC), CBE Occupant Survey, and Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III). Descriptively analysis, bivariate analysis using simple logistic regression and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that only 18.2% had normal blood pressure. Most workers in the pre-hypertension category at 39.1%, while the true clinical prevalence of hypertension stood at 42.7%, consisting of stage 1 hypertension at 32.7% and stage 2 hypertension at 10.0%. For association analysis, pre-hypertension and hypertension categories were combined, resulting in a total prevalence of 81.8% for workers with above-normal blood pressure. Bivariate analysis using crude odds ratios (ORs) indicated a tendency toward an association between hypertension and working posture, movement patterns, manual material handling, workplace design, task demands, time pressure, sex, dietary habits, smoking, and physical activity (p < 0.05). Multivariable logistic regression analysis showed that physical activity (aOR = 32.16; 95% CI: 7.99–129.52), workplace design (aOR = 16.69; 95% CI: 4.04–68.94), smoking (aOR = 6.56; 95% CI: 1.63–26.31), and time pressure (aOR = 4.53; 95% CI: 1.14–17.94) were significantly associated with hypertension. Physical activity was identified as the most dominant risk factor associated with hypertension.
Read More
T-7692
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Nurjannah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Renauld Koswiranagara, Wahida Amalina
Abstrak:
Industri manufaktur sering mengalami kelelahan fisik, yang merupakan masalah keselamatan dan kesehatan kerja yang paling umum. Ini terutama berlaku untuk pekerjaan yang melibatkan paparan panas, aktivitas repetitif, dan beban kerja yang tinggi. Iklim kerja panas, beban kerja, dan stres kerja dapat memengaruhi kondisi tersebut. Selain itu, diduga bahwa gender memengaruhi bagaimana karyawan bertindak terhadap pekerjaan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana iklim kerja panas, beban kerja, dan stres kerja berdampak pada kelelahan fisik operator pembuatan plastik di PT YP. Pengaruh iklim kerja panas juga digunakan sebagai variabel moderator. Metode kuantitatif dengan desain cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini melibatkan 372 operator pembuatan, dan teknik sampel acak stratifikasi disproportionate digunakan untuk memilih 200 responden. Iklim kerja panas diukur dengan metode Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), beban kerja diukur dengan NASA-TLX, dan stres kerja dan kelelahan fisik diukur dengan kuesioner. Metode Partial Least Square (PLS) digunakan untuk melakukan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mengalami iklim kerja yang panas, dengan tingkat beban kerja dan stres yang sedang hingga tinggi, di atas Nilai Ambang Batas (NAB). Sebagai hasil dari analisis, iklim kerja yang panas, beban kerja, dan stres di tempat kerja memengaruhi kelelahan fisik. Selain itu, telah ditunjukkan bahwa jenis kelamin mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan tingkat kelelahan fisik operator pembuatan. Studi ini menemukan bahwa paparan panas, tuntutan kerja yang tinggi, dan tekanan psikologis adalah faktor yang menyebabkan pekerja lebih lelah secara fisik. Oleh karena itu, penerapan program keselamatan dan kesehatan kerja harus mempertimbangkan gender ketika mengendalikan lingkungan kerja, mengatur beban kerja, dan mengelola stres kerja.

The manufacturing industry often experiences physical fatigue, which is the most common occupational safety and health problem. This is especially true for jobs involving heat exposure, repetitive activities, and high workloads. Hot work climates, workloads, and job stress can influence these conditions. Furthermore, it is suspected that gender influences how employees perceive their work. The purpose of this study was to examine how hot work climates, workloads, and job stress impact physical fatigue among plastic manufacturing operators at PT YP. The influence of hot work climates was also used as a moderating variable. A quantitative method with a cross-sectional design was used in this study. This study involved 372 manufacturing operators, and a disproportionate stratified random sampling technique was used to select 200 respondents. Hot work climates were measured using the Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) method, workload was measured using NASA-TLX, and job stress and physical fatigue were measured using a questionnaire. The Partial Least Squares (PLS) method was used to conduct data analysis. The results showed that most participants experienced hot work climates, with moderate to high levels of workload and stress, above the Threshold Limit Value (TLV). As a result of the analysis, hot working conditions, workload, and workplace stress all influence physical fatigue. Furthermore, gender was shown to influence the relationship between the independent variables and the level of physical fatigue of manufacturing operators. This study found that heat exposure, high work demands, and psychological stress were factors that caused workers to be more physically fatigued. Therefore, the implementation of occupational safety and health programs should consider gender when controlling the work environment, organizing workloads, and managing work stress.
Read More
T-7677
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iting Shofwati; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Heny Triasbudi
Abstrak:
Latar belakang dari penelitian ini adalah bahwa peristiwa kebakaran dapat terjadi kapan saja dan dimana saja serta menimbulkan kerugian ekonomi maupun non ekonomi. Alasan pemilihan lokasi penelitian, yaitu karena rumah sakit merupakan bangunan umum yang rawan terhadap kebakaran dan penghuninya bervariasi dalam hal kondisi fisik, sehingga pada keadaan darurat diperlukan suatu penanganan khusus. Mengingat kondisi tersebut d iatas, maka perlu dilakukan suatu upaya pencegahan kebakaran dengan pemasangan perangkat proteksi kebakaran untuk menanggulangi secara dini suatu kejadian yang tidak diinginkan dan menghindari suatu keadaan "catasthropic". Pada penelitian ini akan dilakukan studi evaluasi terhadap kebutuhan dan tata letak daripada sistem proteksi kebakaran yang ada khususnya fire detector. Karena sistem peringatan awal kebakaran yang cukup dan sesuai merupakan cara yang efektif untuk menghindari kebakaran yang lebih besar. Penelitian ini dimulai dengan identifikasi elemen-elemen penyalaan api yang terdiri dari bahan bakar (material pembentuk fasilitas yang ada di ruang rawat inap) , sumber panas (energi listrik) dan oksigen dari udara bebas. Tahap selanjutnya yaitu analisa untuk menentukan jenis detektor kebakaran yang dibutuhkan berdasarkan tipe hasil pembakaran material pembentuk fasilitas yang terdapat pada masing-masing ruangan dan peraturan yang berlaku. Kemudian dilanjutkan dengan tahap evaluasi terhadap kebutuhan dan tata letak deteksi kebakaran, berdasarkan data-data pendukung diantaranya adalah luas ruangan, tinggi langit-langit, suhu ruangan dan spesifikasi teknis dari detektor yang akan dipasang. Pengkajian teknis dilakukan berdasarkan standar NFPA 72. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan perumahsakitan yang berlangsung khususnya di ruang rawat inap dan koridor berpotensi terjadinya bahaya kebakaran. Hal ini dikarenakan terpenuhinya ketiga elemen dari teori segitiga api dalam suatu tempat dan saat yang bersamaan. Sedangkan jenis detektor yang terpasang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku, hal ini dikarenakan pada ruang rawat inap tersebut menggunakan sistem springkler dan sebagian besar material pembentuk peralatan yang ada terbuat dari kayu dan busa, dimana apabila terjadi proses pembakaran akan menghasilkan asap. Sehingga detektor kebakaran yang sesuai untuk ruang rawat inap dan koridor tersebut adalah detektor asap. Jumlah dan tata letak dari detektor yang akan dipasang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan yang berdasarkan standar NFPA yang disesuaikan dengan kemampuan untuk melindungi suatu area tertentu dari detektor yang dipilih.

The background of this research is that the fire can occur anytime, anywhere and can cause economic and non-economic effect. Beside that, the reason choice the hospital became the location of the research, because the hospital is the public building that very potential for occurrence of fire and the physical condition of the patient is very various, so in an emergency condition need special handling. According to that condition, so need the effort of fire protection to prevent the unexpected event and prevent "catastrophic" condition. This research will evaluate the need and the location of fire protection system specially fire detector. Because a fire detection system detects the beginning of the fire and alerts personal so they can evacuate the area immediately or attempt to extinguish the fire. The first step of this research is to identify the elements of fire ignition that consist of fuel, heat and oxygen. The second step is to analyze a kind of fire detector that suitable according to the inpatient room's facilities and its standard regulation. The last step is to evaluate the need and the location of fire detector according to supporting data such as coverage area, height of ceiling, ambient temperature and technical specification of detector that will be set. Engineering estimation is refer to NFPA 72 standard The conclusion of this research that the hospital's activities especially in area study (inpatient room and corridor) is very potential for fire hazard. It cause of the valuable of the three elements of fire triangle in one place and at the same time. About the hospital's fire detector, it is not suitable with the standard regulation. Because in that area study use the sprinkler system and a lot of equipment are made from wood and foam rubber that if fire happen that material can produce smoke. So the suitable detector for corridor and the room for hospitalize is smoke detector. The amount and the location of the detector that will be set is the result from engineering calculation according to NFPA standard that suited with detector's capability to coverage area.
Read More
T-1347
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Latifah; Pembimbing: Dadan Erwand; Penguji:Lusi Widiastuti, Rachmat Suherwin
Abstrak: Abstrak

Stres pada perawat dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah beban kerja. Beban kerja perawat di rumah sakit meliputi beban kerja fisik dan mental. Penyebab beban kerja dalam penelitian ini berfokus pada penyebab eksternal, yaitu: aspke tugas / pekerjaan, organisasi, aspek lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel beban kerja dengan stres kerja pada perawat IGD di Rumah sakit Pemerintah dan Rumah sakit Non Pemerintah. Penelitian menggunakan rancangan cross sectional terhadap perawat IGD. Analisis data secara analitik menggunakan uji korelasi product moment pearson untuk menguji hubungan beban kerja terhadap stres kerja ditiap rumah sakit digunakan uji statistik one way Anova.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik Rumah sakit Pemerintah maupun non Pemerintah berpotensi untuk terjadinya stres kerja pada perawat yang ditimbulkan oleh adanya beban kerja. Rekomendasi penelitian ini adalah perlu adanya rotasi, kesejahteraan diperhatikan, pengembangan jenjang karier, gathering/refreshing untuk menghindari kejenuhan.


ABSTRACT

Stress in nurses can be caused by a variety of factors, including the workload. Workload of nurses in hospitals include physical and mental workload. Cause workload in this study focused on external causes, namely: aspke tasks / jobs, organizations, environmental aspects. This study aims to determine the relationship between the variable workload with work stress in nurses in the hospital emergency department and the Government Non-Government Hospitals. Studies using cross-sectional design of the ER nurses. Analytic data analysis using Pearson product moment correlation test to examine the relationship to work stress workload in each hospital used one way ANOVA statistical test.

The results showed that both hospital and non-government government has the potential to work on the stress caused by the presence of nurse workload. Recommendation of this study is the need for rotation, note welfare, career development, gathering / refreshing to avoid saturation.

Read More
T-3840
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Grace Ekawati Wagino; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Robiana Modjo, Julerman Malau
S-6990
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive