Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36651 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sri Poedji Hastoety Djaiman; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Sabarinah Prasetio, Sudarto Ronoatmodjo, Soeharsono Soemantri, Komar Hanafi
Abstrak:

Angka kematian bayi di Indonesia walaupun mengalami penurunan dari tahun ke tahun namun masih menunjukkan angka ke empat terbesar di antara negara Asia Tenggara lainnya, sehingga upaya penurunan angka kematian bayi masih menjadi prioritas utama dalam pembangunan kesehatan. Angka kematian bayi terbagi menjadi dua garis besar, kematian postneonatus dan kematian neonatus, yang mempunyai faktor penyebab berbeda. kematian neonatus lebih disebabkan faktor endogen seperti pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan. Departeman Kesehatan membagi kematian neonatus ke dalam dua garis besar yaitu kematian neonatus dini dan kematian neonatus lanjut. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontak ibu pada saat kehamilan dan pada saat persalinan terhadap kematian neonatus dini atau neonatus lanjut. Studi dengan analisis data sekunder ini, mendasarkan pada survei dengan jumlah sampel 3808 pada wanita berusia 15 hingga 49 tahun, pernah hamil, pernah melahirkan lima tahun sebelum wawancara dilakukan, mempunyai anak meninggal di bawah 28 hari atau mempunyai anak hidup di atas 28 hari dan di bawah I tahun dari saat wawancara dilakukan. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi multinomial dengan memperhitungkan desain sampel melalui, strata, Master, maupun pembobotannya. Analisis bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kematian bayi neonatus dini adalah faktor kontak ibu dengan petugas kesehatan pada masa kehamilan, kontak ibu dengan petugas kesehatan pada saat persalinan, jarak kelahiran, pekerjaan ibu, dan akses ibu terhadap informasi. Sedangkan faktor yang berhubungan secara bermakna terhadap kematian neonatus lanjut adalah faktor kontak ibu dengan petugas kesehatan pada saat kehamilan, kontak ibu dengan petugas kesehatan pada saat persalinan, jarak kelahiran, pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan akses ibu terhadap informasi. Pada analisis multivariat, faktor kontak ibu dengan petugas kesehatan pada saat kehamilan memberikan hubungan yang bermakna baik terhadap kematian neonatus dini maupun neonatus lanjut. Kontak ibu dengan petugas kesehatan pada saat persalinan, mempunyai hubungan bermakna dengan kematian neonatus lanjut, namun tidak bermakna dengan kematian neonatus dini. Jarak kehamilan berhubungan secara bermakna terhadap kematian neonatus dini dan neonatus lanjut. Faktor ibu bekerja dan akses ibu terhadap informasi berhubungan secara bermakna pada kematian neonatus dini, namun tidak bermakna terhadap kematian neonatus lanjut. Besarnya risiko kematian neonatus dini bila ibu tidak memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali, persalinan tidak ditolong oleh tenaga kesehatan, jarak kehamilan di bawah 2 tahun, ibu bekerja dan tidak ada akses informasi adalah sebesar 1.4 kali dibandingkan dengan yang memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, jarak kehamilan di atas 2 tahun, ibu tidak bekerja dan ada akses informasi. Besarnya protektif pada ibu yang memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali, persalinan ditolong tenaga kesehatan, jarak kehamilan di atas 2 tahun, ibu tidak bekerja dan ada akses informasi adalah sebesar 0.23 kali di bandingkan dengan ibu yang tidak memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali, persalinan tidak ditolong tenaga kesehatan, jarak kehamilan di bawah 2 tahun, ibu bekerja dan tidak ada akses informasi Besarnya risiko kematian bayi neonatus dini dan kematian neonatus lanjut pada analisis mempertimbangkan desain sampel dan tidak memperhatikan desain sampel berbeda untuk faktor yang berhubungan secara bermakna dan besamya hubungan.


 

The Infant Mortality Rate is divided into two parts that are Postneonatus Death and Neonatus Death which have different factors. Neonatus Death is caused by the endogen factors such as the pregnant examination and the birth help. The Health Department divides the Neonatus Death into two main parts that are the Early Neonatus Death and the Late Neonatus Death. This analysis is done to examine the Connection between mothers on their pragnancy and birth and the Early neonatus Death or the Late Neonatus Death. The study of this secondary data analysis, based on the survey that amounts to 3808 women as the samples from 15 to 49 years old, that have ever pregnant, have ever given birth in five years before the interview is done, have a dead child below 28 days of age or have a living child over 28 days of age and below one year when the interview is done. This analysis is done by using the Multinomial Regretion that counts up the samples design through the Strata, the Cluster, or the weighted. The Bivariate Analysis shows the connection factors on the Early Neonatus Death are the factors between mothers and the health staff on the pregnancy, the factors between mothers and the health staff on the birth, the length of the birth, mothers activities, and mothers access to information. Whereas the connection factors on the Late Neonatus Death are the factors between mothers and the health staff on the pregnancy, the factors between mothers and the health staff on the birth, the length of the birth, mothers education, mothers activities, and mothers access to information. On the Multivariate Analysis, the factors between mothers and the health staff on the pregnancy give an important connection to the Early Neonatus Death or the Late Neonatus Death. The factors between mothers and the health staff on the birth has an important connection to the Late Neonatus Death, instead of to the Early Neonatus Death. The length of birth relates to the Early Neonatus Death and to the Late Neonatus Death very well. Mothers activities and mothers access to information factors relate to the Early Neonatus Death very well instead of to the Late Neonatus Death. The amount of the Early Neonatus Death risk if the mothers do not check their pregnancies at least four times, the birth without health staff help, the length of the birth below two years, working mothers and no information access is 1.4 times bigger than those that who check their pregnancies at least four times, the birth with health staff help, the length of the birth below two years, mothers that do not work but have information access. The amount of protection to mothers who check their pregnancies at least four times, the birth with health staff help, the length of the birth over two years, mothers that do not work but have information access is 0.23 times bigger than that who do not check their pregnancies at least four times, the birth without health staff help, the length of the birth below two years, working mothers and no information access. The total of the Early Neonatus Death and the Late Neonatus Death in this analysis considers the sample design but do not notice the different sample design to the main connection factors and the amount of the connection.

Read More
T-1815
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur A'isyah Amalia Putri; Pembimbing: Besral; Pwnguji: Adang Bachtiar, Sutanto Priyo Hastono, Rahmadewi
Abstrak:
Kelangsungan hidup neonatal dini merupakan kemampuan neonatus untuk bertahan hidup atau menjalani kehidupan hingga mencapai usia enam hari. Masa neonatal dini disebut sebagai masa kritis pada bayi baru lahir, dengan estimasi separuh kematiannya terjadi pada 24 jam pertama pasca lahir. Kurangnya pelayanan berkualitas pada saat atau segera setelah lahir dan pada hari-hari pertama kehidupan memiliki pengaruh terhadap kelangsungan hidup neonatus. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sampel SDKI 2017, dengan jumlah sampel sebanyak 15.270 anak lahir hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 1000 bayi yang berumur 0 hari (baru lahir) terdapat 991 bayi yang mampu bertahan hidup sampai berusia tepat 6 hari. Berdasarkan hasil uji regresi Cox, faktor utilisasi pelayanan kesehatan saat hamil hingga pasca persalinan yang berpengaruh dan signifikan secara statistik terhadap kelangsungan hidup neonatal dini yaitu, persalinan yang bukan ditolong oleh tenaga kesehatan, utilisasi layanan KN 1 yang tidak lengkap, dan utilisasi layanan ANC < 6 kali dengan paritas ibu 1 anak, setelah dikontrol dengan usia ibu saat melahirkan, paritas, dan berat lahir bayi. Pengaruh utilisasi pelayanan kesehatan saat hamil hingga pasca persalinan terhadap kelangsungan hidup neonatal dini tidak dipengaruhi oleh waktu. Adapun, faktor utilisasi pelayanan kesehatan yang paling mempengaruhi kelangsungan hidup neonatal dini, yakni layanan KN 1.

Early neonatal survival is the ability of neonates to survive until they reach the age of six days. The early neonatal period is referred to as a critical period for newborns, with an estimated half of deaths occurring in the first 24 hours after birth. Lack of quality care at or immediately after birth and in the first days of life has an impact on neonate survival. This study used a retrospective cohort study design with a quantitative approach. The data used is the 2017 IDHS sample data, with a total sample of 15,270 children ever born. The results of the study showed that out of 1000 babies who were 0 days old (newborn), 991 babies were able to survive until they were exactly 6 days old. Based on the results of the Cox regression test, the factors of health service utilization during pregnancy to postpartum that have a statistically significant influence on early neonatal survival are, births that are not assisted by health workers, incomplete utilization of first neonatal visit services, and utilization of antenatal care services less than 6 times with the mother's parity of 1 child, after controlling for the mother's age at birth, parity, and baby's birth weight. The influence of health service utilization during pregnancy to postpartum on early neonatal survival is not influenced by time. Meanwhile, the health service utilization factor that most influences early neonatal survival is the first neonatal visit service.
Read More
T-6896
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astari Nola Margaretha; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Ika Saptarini
S-10152
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eska Riyanti Kariman; Pembimbing: Budi Utomo, Besral; Penguji: Sabarinah B Prasetyo, Murtiningsih, Indra Supradewi
Abstrak:

Tingkat pemakaian kontrasepsi pil di kalangan wanita PUS cukup tinggi, hal itu terlihat dari data pemakaian kontrasepsi pil hasil SDKI 2002103 sebesar 13,2 % . Tingginya prevalensi pemakaian kontrasepsi pil tersebut tidak dibarengi dengan tingginya tingkat kelangsungan pemakaian, hasil SDKI 1997 tercatat 34 % pemakai pit tidak menggunakan lagi setelah sate tahun_ Angka putus pakai (drop out) pil ini merupakan yang kedua tertinggi setelah kondom. Tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil arnat dipengaruhi oleh kedisiplinan dan kepatuhan akseptor dalam memakainya. Hal tersebut dimungkinkan bila akseptor memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup yang dapat diperoleh melalui konseling yang dilakukan oleh petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konseling kontrasepsi dengan tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil. Data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 2002103. Disain penelitian adalah crossectional dengan kajian statistik analisis survival. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil adalah 31 bulan dengan median survivalnya 37 bulan. Probabilitas kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 adalah 62 % dan probabilitas kelangsungan setelah bulan ke-60 adalah 31 %. Probabilitas kelangsungan pernakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 pads kelompok yang mendapat konseling kontrasepsi adalah 66%, sedangkan pada kelompok yang tidak mendapatkan konseling kontrasepsi 56 %. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak mendapatkan konseling adalah 1.6 kali bila bertempat tinggal dikota dan 1.5 kali bila tinggal didesa. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak konseling adalah 1.6 kali bila tidak ada efek camping dan menjadi 2 kali bila ada efek samping. Tingginya risiko putus pemakaian kontrasepsi pil di wilayah perkotaan perlu mendapatkan perhatian dari pengelola program Keluarga Berencana. Dugaan sementara hal ini dijumpai didaerah kota pinggiran atau daerah kumuh, untuk itu kegiatan konseling kontrasepsi yang lebih intensif terkait dengan akseptor di daerah tersebut hares ditingkatkan misalnya melalui kunjungan petugas yang lebih sering ke rumah diharapkan dapat menurunkan risiko putus pakai. Kegiatan konseling pada prinsipnya dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran akseptor akan efek sarnping yang ditimbulkan kontrasepsi selama pemakaiannya.


Prevalence of pill contraception used among reproductive woman are high, it can seen at SDKI 2002/03 which is about 13,2 %. This height prevalence is not followed with the-continuity rate, only 34 % of women still used pill contraception within 12th month recorded in SDKI 1997. This rate as highest secondly after condom. The pill contraception continuity rate is influenced by discipline and compliance of acceptor in using it.That things is possible when acceptor have enough knowledge and information about contraception usage which they can get it from councelling by family planning officer. This study is aimed to gain information on relationship of contraception counselling with the period of time pills uses. This study uses secondary data SDKI 2002/03. Study design used is crossectional with statistical survival analysis. The result study shows that mean of pill contraception continuity rate are 31 month with median survival are 37 month. The Probabilities of pills continuity rate after 12th month are 62 percent and probabilities of pills continuity rate after 60th month are 31 percents. Probabilities of pills continuity rate after 12'h month in whom that receive counsellings are 66 percents, men while the group whom that not receive counselling only 56 percent. The risk of drop out among the pills acceptbr whom that not receive counsellings are 1,6 times if they lives at the city and 1,5 times if they lives at the village. The risk of drop out pills among acceptor whom that not receive counsellings are 1,6 times if they not have side effect and it can be 2 times if they have side effects. The height risk of drop out pills among acceptors in urban region need to get more attentions from the organizer of family planning program. Momentary, assumption whereas this matter is met in marginal town area or slum region, for that more intensive program of counselling contraception related to acceptor in the are, for example more regular follow up to the acceptors whom lives at this area and had side effect. The principle of counseling is to lessen the worried feeling of the acceptor with the side effects generated by contraception during its usage.

Read More
T-2280
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Rahayu; Pembimbing : Besral; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Flourisa J. Sudrajat
S-6720
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Hylmi Zuhayr; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Erfan Chandra N
Abstrak:
Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular kronis dengan prevalensi tinggi di Indonesia yang memberikan beban signifikan terhadap sistem pelayanan rawat inap di FKRTL. Lama rawat inap (length of stay/LOS) merupakan indikator efisiensi pelayanan sekaligus cost driver utama dalam pembiayaan JKN, tetapi, bukti empiris mengenai hubungannya dengan tingkat keparahan DM dalam skala nasional masih terbatas. Metode: Penelitian analitik Cross - Sectional menggunakan data sekunder Dataset Sampel Reguler FKRTL BPJS Kesehatan tahun 2023. Setelah cleaning dan merging dengan dataset diagnosis sekunder dan kepesertaan, diperoleh 5.512 observasi kunjungan rawat inap pasien DM peserta JKN. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi variabel, lalu, analisis bivariat menggunakan uji Kruskal-Wallis, Mann-Whitney dengan koreksi Bonferroni, uji Spearman, dan Chi-Square untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil: Dari 5.512 observasi, mayoritas memiliki tingkat keparahan ringan (58,51%), dengan rata-rata LOS 4 hari (SD: 2,76). Tingkat keparahan DM berhubungan signifikan dengan LOS (χ² = 472,145; p < 0,0001), dengan median LOS meningkat seiring tingkat keparahan: ringan (3 hari), sedang (4 hari), dan berat (5 hari). Komorbid/diagnosis sekunder juga berhubungan signifikan dengan LOS (χ² = 209,378; p < 0,0001), dimana pasien dengan komorbid memiliki median LOS lebih panjang (4 hari) dibanding tanpa komorbid (3 hari). Tipe FKRTL (χ² = 274,613; p < 0,0001) dan region tarif INA-CBGs (χ² = 84,694; p < 0,0001) juga menunjukkan hubungan signifikan. Sebaliknya, umur, jenis kelamin, dan kelas rawat tidak berhubungan signifikan dengan LOS. Distribusi komorbid berbeda signifikan berdasarkan jenis kelamin (chi² = 56,635; p < 0,0001) dan kelompok umur (chi² = 114,046; p < 0,0001). Kesimpulan: Tingkat keparahan DM, komorbid/diagnosis sekunder, tipe FKRTL, dan region tarif merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan lama rawat inap pasien DM peserta JKN di FKRTL. Temuan ini dapat menjadi dasar evaluasi efisiensi pelayanan dan kebijakan pembiayaan INA-CBGs, khususnya dalam pengelolaan pasien DM dengan tingkat keparahan tinggi dan profil komorbid yang kompleks.

Introduction: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic non-communicable disease with a high prevalence in Indonesia, placing a significant burden on the inpatient care system at primary health care facilities (FKRTL). Length of stay (LOS) is an indicator of service efficiency and a major cost driver in the National Health Insurance (JKN) financing system (JKN). However, empirical evidence regarding its relationship with DM severity at a national scale is still limited. Methods: This cross-sectional analytical study used secondary data from the 2023 BPJS Kesehatan Regular Sample FKRTL Dataset. After cleaning and merging with secondary diagnosis and membership datasets, 5,512 observations of inpatient visits for DM patients participating in JKN were obtained. Univariate analysis was used to describe the distribution of variables, followed by bivariate analysis using the Kruskal-Wallis test, Mann-Whitney with Bonferroni correction, Spearman test, and Chi-Square test to examine the relationship between variables. Results: Of the 5,512 observations, the majority had mild severity (58.51%), with a mean LOS of 4 days (SD: 2.76). DM severity was significantly associated with LOS (χ² = 472.145; p < 0.0001), with median LOS increasing with severity: mild (3 days), moderate (4 days), and severe (5 days). Comorbidities/secondary diagnoses were also significantly associated with LOS (χ² = 209.378; p < 0.0001), where patients with comorbidities had a longer median LOS (4 days) than those without comorbidities (3 days). FKRTL type (χ² = 274.613; p < 0.0001) and INA-CBGs tariff region (χ² = 84.694; p < 0.0001) also showed significant associations. In contrast, age, gender, and treatment class were not significantly associated with LOS. The distribution of comorbidities differed significantly by gender (chi² = 56.635; p < 0.0001) and age group (chi² = 114.046; p < 0.0001). Conclusion: DM severity, comorbidities/secondary diagnoses, FKRTL type, and tariff region are factors significantly associated with the length of stay of DM patients participating in JKN at FKRTL. These findings can be the basis for evaluating the efficiency of services and financing policies of INA-CBGs, especially in the management of DM patients with high severity and complex comorbid profiles.
Read More
S-12304
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dede Mahmuda; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Toha Muhaimin, Sulistyo
Abstrak: Tingginya beban penyakit tuberkulosis paru masih menjadi masalah kesehatanmasyarakat dunia terutama Indonesia. Namun, faktor risiko penularan dari segilingkungan belum banyak diperhatikan. Hal ini diindikasikan dengan kurangnyakeberadaan rumah sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhstatus rumah sehat dengan kejadian TB paru di Provinsi Banten. Penelitian inimerupakan analisis data sekunder Riskesdas 2010 menggunakan desain studipotong lintang pada 7.536 anggota rumah tangga berumur 15 tahun ke atas. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa prevalensi TB paru di Banten sebesar 1,3% (95%CI: 1,0-1,5). Analisis multivariabel menemukan adanya interaksi antara statusrumah sehat dengan status ekonomi, dimana orang yang memiliki rumah tidak sehat pada status ekonomi rendah berpeluang 2,152 kali lebih besar untukmenderita TB paru dibanding orang yang memiliki rumah sehat.Kata kunci: Banten, prevalensi, rumah sehat, tuberkulosis paru
The high burden of pulmonary tuberculosis disease still becomes public healthproblem in the world especially Indonesia. However, risk factors in termenvironmental aspects are not getting much attention yet. It is indicated by lackingof healthy housing existence. This study aims to determine the effect of healthyhousing status on incidence of pulmonary TB in Banten Province. This study is asecondary data analysis of BHS 2010 using cross-sectional design on 7.536household members aged 15 years old above. The result showed prevalence ofpulmonary TB in Banten is 1,3% (95% CI: 1,0-1,5). Multivariate analysis foundan interaction between healthy housing status by economic status, those peoplewho have unhealthy housing at low economic status 2,152 times more likely tosuffer from pulmonary TB than people who have healthy housing.Key words: Banten, prevalence, healthy housing, pulmonary tuberculosis
Read More
S-8458
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Athi Susilowati Rois; Pembimbing: Meiwita P. Budiharsana; Penguji: Besral, Herti Suherti Rahmi
Abstrak: Penilaian kualitas profil dilihat dari aspek kelengkapan, akurasi dan konsistensi data/informasi kesehatan ibu dan neonatus dan ketepatan waktu terbit, mengacu pada petunjuk teknis PMKDR. Dinilai pula faktor sumber daya SIK (khususnya koordinasi SIK, sumber daya manusia SIK dan infrastruktur SIK) dan manajemen data (khususnya ketersediaan data), menggunakan instrumen HMN. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Responden dalam penelitian ini 56 dinas kesehatan kabupaten/kota tahun 2012, dengan kepala unit yang menangani data sebagai unit analisis. Hasil penelitian ini mendapatkan 69,6% profil berkualitas baik, koordinasi dan SDM SIK belum optimal (57,1%; 69,6%), serta infrastruktur SIK dan ketersediaan data umumnya optimal (67,9%). Terdapat hubungan antara SDM SIK dan ketersediaan data dengan kualitas pemantauan profil kesehatan kabupaten/kota (OR 4,69 dan 2,58). Penelitian ini menyarankan perlu diprioritaskan pengembangan kemampuan SDM SIK, perlu ditingkatkan ketersediaan data melalui kerjasama yang baik dengan unit internal maupun eksternal serta perlu dilakukan pemantauan kualitas profil kesehatan secara berjenjang. Kata Kunci : Kualitas profil kesehatan, Pemantauan Mandiri Kualitas Data Rutin (PMKDR), Sistem Informasi Kesehatan (SIK)
Read More
T-4219
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zuhairah Syarah; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Hany Zahro
Abstrak:
Antenatal care adalah indikator kesehatan yang digunakan untuk mencegah tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Namun, masih terdapat provinsi di Indonesia Bagian Timur yang memiliki cakupan kunjungan ANC 4 kali atau lebih di bawah target nasional, yaitu Provinsi NTB sebesar 79%, NTT sebesar 64,3%, Maluku sebesar 47,9%, Maluku Utara sebesar 55,6%, Papua Barat sebesar 48,1%, dan Papua sebesar 43,8%. Selain itu, WUS di Indonesia Bagian Timur yang melaporkan menghadapi salah satu masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan menunjukkan persentase yang lebih besar jika dibandingkan dengan persentase nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator akses ke pelayanan kesehatan dan mengetahui hubungan akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC. Penelitian ini menggunakan data SDKI tahun 2017 dengan desain penelitian cross sectional. Confirmatory factor analysis digunakan untuk mengidentifikasi indikator akses ke pelayanan kesehatan. Analisis bivariat dan multivariat digunakan untuk melihat hubungan akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC. Hasil CFA menunjukkan terdapat 4 dimensi yang membentuk variabel akses pelayanan kesehatan, yaitu literasi dan akses media informasi, otonomi pengambilan keputusan pada wanita, hambatan yang dirasakan dalam akses pelayanan kesehatan, dan kepemilikan jaminan kesehatan. Proporsi kunjungan ANC sesuai standar pada wanita usia subur di Indonesia Bagian Timur adalah 12,8%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC (AOR = 1,19; 95% CI= 0,80-1,77). Dapat disimpulkan bahwa masih rendahnya cakupan kunjungan ANC sesuai standar di Indonesia Bagian Timur sehingga perlu upaya pemerintah untuk meningkatkan kunjungan ANC pada ibu hamil sesuai standar.

Antenatal care is a health indicator to prevent high maternal mortality rates in Indonesia. However, there are still provinces in Eastern Indonesia that have ANC visit coverage of 4 or more times below the national target, namely NTB Province at 79%, NTT at 64.3%, Maluku at 47.9%, North Maluku at 55.6 %, West Papua at 48.1%, and Papua at 43.8%. In addition, the percentage of women aged 15-49 in Eastern Indonesia who reported facing a problem in obtaining health services showed a larger percentage when compared to the national percentage. This study aims to identify indicators of access to health services and determine the relationship between access to health services and ANC visits. Analyses use secondary data (IDHS 2017 Data) with a cross-sectional research design. Confirmatory factor analysis uses to identify indicators of access to health services. Bivariate and multivariate analyzes assessed the relationship between access to health services and ANC visits. The CFA results show there are 4 dimensions of variable access to health services, namely literacy and access to information media, decision-making autonomy for women, perceived barriers to accessing health services, and health insurance. 12.8% of women aged 15-49 in Eastern Indonesia visited standard ANC. There is no significant relationship between access to health services and ANC visits (AOR = 1,19; 95% CI= 0,80-1,77). Despite showing insignificant results, the coverage of ANC visits according to standards in Eastern Indonesia is still low. Therefore, government efforts are required to increase ANC visits to pregnant women according to standards.
Read More
S-11167
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive