Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34946 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Munaya Fauziah; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Dwiyana Ocviyanti
T-2034
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Nurul Qomariyah; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sjaiful Fahmi Daili, Sigit Priyohutomo
Abstrak:
Penentuan pengobatan untuk trikomoniasis yang merupakan IMS yang cukup prevalen pada perempuan di Indonesia dengan pendekatan sindrom (seperti tertera dalam Pedoman Penatalaksanaan PMS Berdasarkan Pendekatan Sindrom, Fasilitas Laboratorium Sederhana dan Laboratorium Khusus yang dikeluarkan oleh Depkes tahun 1996) maupun pendekatan sindrom yang dilengkapi perneriksaan spekulum melalui alur gejala adanya duh tubuh vagina dianggap tidak cukup baik dilihat dari segi sensitivitas dan spesifisitas. Informasi tentang validitas kedua pendekatan ini belum tersedia di Indonesia. Penerapan suatu pendekatan dengan validitas rendah akan menyebabkan terjadinya overtrealment atau tidak terobatinya pasien. Tujuan utama dari penelitian dengan desain potong lintang ini adalah diketahuinya perbandingan validitas pendekatan sindrom dan pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan spekulum dalam penegakan diagnosis trikomoniasis pada perempuan pengunjung klinik mobil keliling Yayasan Sehati di Bali dengan gold standard pemeriksaan wet mount. Dari 409 perempuan yang dilibatkan dalam penelitian ini didapatkan prevalensi trikomoniasis (lab wet mount) adalah 17,1% rnenderita. Sementara pendekatan sindrom menemukan 57,9% pasien menderita trikomoniasis dan pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan spekulum 42,8%. Pada total sampel, spesifisitas pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan spekulum (62,8%) secara statistik (P-vaIue:0,000) lebih tinggi dibanding pendekatan sindrom murni (46,6%). Sebaliknya, nilai sensitivitasnya lebih rendah, namun perbedaan tersebut secara statistik tidak bermakna. Nilai kecocokan kedua pendekatan terhadap pemeriksaan lab wet mount berada pada kategori ?kecocokan buruk" (Kappa pendekatan sindrom murni: 0,137 dan pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan speculum: 0,206). Pada seluruh strata dari berbagai variabel, nilai spesifisitas pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan spekulum lebih tinggi dibanding nilai spesifisitas pendekatan sindrom murni dan perbandingan tersebut hampir selumhnya bermakna secara statistik. Hampir pada seluruh strata dari berbagai variabel sensitivitas pendekatan sindrom mumi lebih tinggi dibanding sensitivitas pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan spekulum, namun seluruh perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik. Nilai Kappa pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan spekulum umumnya lebih tinggi dari nilai Kappa pendekatan sindrom murni. Analisis multivariat akhir mendapatkan enam variabel yang berhubungan dengan infeksi trikomoniasis sebagai berikut: 1) pemakaian kontrasepsi IUD (OR 3,925, 95% CI 1,693-9,097), 2) gejala duh tubuh vagina abnormal (OR 5,054, 95% CI 2,142-11,92l), 3) duh vagina berbusa (OR 4O,60I, 95% CI: 11,877-l38,790), 4) duh vagina banyak encer (OR 6,985, 95% Cl:2, 932-I6,642), 5) eritema vagina (OR 19,806, 95% CI 7,601- 51,61 1), dan 6) tes amine (OR 3,856, 95% C1 1,503-9,890). Validitas hasil pemeriksaan spekulum sebagai satu-satunya kriteria diagnosis menunjukkan spesisifitas dan angka kecocokan (Kappa) yang lebih tinggi dari pendekatan sindrom maupun pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan spekulum, namun angka sensitivitasnya rendah. Penggabungan hasil pemeriksaan spekulum dengan faktor risiko perilaku pasangan/pasien memiliki pasangan lebih dari satu justru menurunkan angka kecocokannya dalam diagnosis trikomoniasis. Kesimpulan utama yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa spesifisitas pendekatan sindrom yang dilengkapi pemeriksaan spekulum lebih tinggi dari spesifisitas pendekatan sindrom murni. Nilai kecocokan kedua pendekatan tersebut terhadap pemeriksaan lab wet mount berada pada kategori kecocokan buruk. Saran yang diajukan adalah perlunya pengkajian kembali kebijakan penanganan IMS melalui pendekatan sindrom. Pedoman perlu dibuat sesuai dengan kelompok risiko perilaku: pada kelompok risiko rendah, penerapan pendekatan sindrom khususnya untuk trikomoniasis seharusnya dibatasi hanya pada sarana-sarana yang tidak memiliki fasilitas Iaboratorium sederhana atau pemeriksaan spekulum karena akan mernberi nilai false positive tinggi. Penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan merancang penelitian yang khusus dibuat untuk menilai pendekatan sindrom ini secara menyeluruh (tidak hanya untuk trikomoniasis), dengan data yang bersifat prospektif, memasukkan semua variabel yang diperlukan dan dengan sampel yang mencukupi. Selain itu perlu juga dilakukan perbandingan validitas kedua pendekatan pada kelompok perilaku berisiko yang berbeda.
Read More
T-1878
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Sulami; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Dyah E. Mustikawati, Dwiana Ocviyanti
T-3078
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frides Susanty; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Helda; Penguji: Yovsyah, Laila Nuranna
Abstrak: ervisitis merupakan bagian dari Infeksi Menular Seksual (IMS), dengan perkembangan bidang sosial, demografik dan meningkatnya migrasi penduduk, populasi berisiko tinggi akan semakin meningkat. WHO memperkirakan 376 juta infeksi baru dengan 1 dari 4 IMS yaitu: klamidia (127 juta), gonore (87 juta), sifilis (6,3 juta) dan trikomoniasis (156 juta). Penelitian Gatot dkk menunjukkan 11,9 % pasien mengalami servisitis. Penelitian Iskandar, dkk prevalensi infeksi serviks (klamidia 9,3 % dan gonore 1,2 %). Berdasarkan hasil SDKI, terjadi peningkatan tren pemakaian kontrasepsi di Indonesia sejak tahun 1991 sampai 2017. Secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara servisitis dengan infeksi HPV, sehingga bila servisitis tidak ditangani dengan baik, maka akan meningkatkan risiko untuk terinfeksi HPV. Seseorang dengan gejala servisitis mukopurulen meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian servisitis. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain cross sectional study. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan IVA puskesmas yang didampingi Female Cancer programme (FcP) di DKI Jakarta tahun 2017-2019. Jumlah sampel 3563 orang, yaitu memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan logistic regression. Prevalensi penyakit servisitis pada penelitian ini 11,20%. Terdapat hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian servisitis yang bermakna signifikan secara statistik dengan p-value =0,0000 POR 1,673 95% CI (1,323 - 2.115). Perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala pada perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal untuk mencegah terjadinya servisitis dan .kanker leher rahim
Cervicitis is one of the Sexually Transmitted Infections (STIs). There is a correlation between socio-demographic development and migration with increase of the number of high-risk populations. WHO estimates there are 376 million new infections by 1 out of 4 STIs, such as chlamydia (127 million), gonorrhea (87 million), syphilis (6.3 million) and trichomoniasis (156 million). Gatot et al, showed that 11.9% of patients had cervicitis. Iskandar, et al, also showed the prevalence of cervical infections (chlamydia 9,3% and 1,2% gonorrhea). Based on the results of the SDKI, there had been an increasing trend in contraceptive use in Indonesia from 1991 to 2017. There was a statistically significant association between cervicitis and HPV infection. It will increase the risk of getting infected by HPV if cervicitis is left untreated. Additionally, a person with mucopurulent cervicitis symptoms has an increased risk of cervical cancer. This study aims to determine the relationship between the use of hormonal contraceptives and the incidence of cervicitis. This is a quantitative study with a cross sectional study design. This study used secondary data from the results of the VIA examination at the primary health care supervised by the Female Cancer Program (FcP) in DKI Jakarta in 2017-2019. The number of samples were 3563 people, who met the inclusion and exclusion criteria. This study used logistic regression to analyze the data. The prevalence of cervicitis in this study was 11.20%. There is a relationship between hormonal contraceptive use and the incidence of cervicitis which is statistically significant with p-value<0.0001. Thus, it is necessary to carry out periodic checks on women who use hormonal contraception to prevent cervicitis and cervical cancer.
Read More
T-6019
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Sukmawati Manti Putri; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Nida Rohmawati, Yuni Zahraini
T-4715
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novi Indriastuti; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarato Ronoatmodjo, Gatot Purwoto, Niken Wastu Palupi
T-4752
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iif Syarifah Munawaroh; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Eny Martindah, Aria Kekalih
Abstrak: Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari parasit Toxoplasma gondii. Dampak dari toksoplasmois dapat menyebabkan kegagalan kehamilan, abortus spontan, kelainan fetus (hydrocephalus, korioretinis, kalsifikasi intrakranial), gangguan syaraf otak dan mata, bahkan dampak jangka panjang dapat menyebabkan penyakit Alzheimer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan kepemilikan hewan peliharaan dengan kejadian toksoplasmosis pada pasien klnik Aquatreat Bogor Tahun 2019. Desain penelitian yang digunakan desain penelitiaan adalah case control dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data rekam medis pasien klinik Aquatreat yang berkunjung selama tahun 2019 dengan jumlah 286 pasien. Pasien yang bersedia dijadikan sampel penelitian sejumlah 108 pasien. Sampel tersebut didapatkan dengan cara Simple Random Sampling. Teknik analisa data yang dilakukan pada penelitian ini bertahap, meliputi analisa univariat, bivariat, stratifikasi dan analisa multivariat yang diolah menggunakan program statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi responden dengan kepemilikan hewan peliharaan pada kelompok kasus toksoplasmosis 53,70% dan yang tidak memiliki hewan peliharaan pada kasus toksoplasmosis yaitu 46,30%. Sedangkan kepemilikan hewan peliharaan pada kelompok yang tidak terjangkit toksoplasmosis adalah 29,63% dan yang tidak memiliki hewan peliharaan pada kelompok yang tidak terjangkit toksoplasmosis adalah 70,37%. Hasil analisis uji logistic regression model akhir menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepemilikan hewan peliharaan dengan kejadian toksoplasmosis dengan OR 2,88 (95% CI: 1,146,90; p-value: 0,024) artinya bahwa kepemilikan hewan peliharaan pada kelompok toksoplasmosis berisiko 2,88 kali lebih tinggi mengalami toksoplasmosis dibanding kelompok yang tidak memiliki hewan peliharaan setelah dikontrol dengan variabel jenis riwayat transfusi darah, jenis kelamin, konsumsi daging berisiko dan kebersihan rumah
Toxoplasmosis is a zoonotic disease originated from parasite Toxoplasma gondii. toxoplasmosis can cause anembryonic gestation, spontaneous abortion, fetal abnormalities (hydrocephalus, chorioretinitis, intracranial calcification, mental retardation), brain and eyes neurological disorders. Toxoplasmosis also can lead to Alzheimer's disease as its long-term effect. The prevalence of Toxoplasmosis worldwide is about 25-30%. The purpose if this research is to analyze The Correlation Between Pet Ownership with The Toxoplasmosis Occurrence of The Patients in Bogor Aquatreat Clinic 2019. In this research, case control research design is used with a quantitative approach. This research is an observational research using data of medical record in the Aquatreat clinic by selecting the positive serological test results of Toxoplasmosis (IgG) for the case group and selecting the negative serological test results of Toxoplasmosis (IgG) for the control group. Afterwards, interviews of the case and the control groups were done by filling out the questionnaire (GForm). The data is taken from patients who visited in 2019 with total of 286 patients. The data that are willing to be used as samples are the data of 108 patients. The data analysis techniques used in this research were phased, those are univariate, bivariate, and multivariate analyzes which computerized by using a statistical program. The result showed that the proportion of the respondents who own pet in the toxoplasmosis case group is 53,70% and the group who does not own pet that is 46,30%. While the pet ownership in the control group is 29,63% and the group who does not own pet is 38 70,37%. The final model of logistic regression test analysis showed the significant correlation between pet ownership with the toxoplasmosis occurrence with OR value 2,88 (95% CI: 1,146,90; p-value: 0,024) which means the pet ownership in the case group has risk 2,88 times higher to have compared to the group who does not own pet after controlled by other variables that are blood transfusion history, gender, at-risk meat consumption and house cleanliness.
Read More
T-5997
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syeri Febriyanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Woro Riyadina, Ajeng Tias Endarti
Abstrak:
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan dunia. Prevalensi hipertensi diprediksi akan terus meningkat hingga tahun 2025 nanti. Di Indonesia, penderita hipertensi didominasi oleh penduduk berjenis kelamin perempuan. Salah satu faktor risiko yang bisa menyebabkan kejadian hipertensi adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal pasca salin dengan kejadian hipertensi pada wanita usia subur. Desain penelitian adalah cross sectional dilakukan pada Januari-Juni 2023 menggunakan data Riskesdas 2018. Kelompok terpajan adalah 45.178 responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal dan kelompok tidak terpajan adalah 30.845 responden yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengguna kontrasepsi hormonal pasca salin dengan kejadian hipertensi setelah mengendalikan umur dan indeks masa tubuh dengan nilai PR=1,10 (1,06– 1,12). Pada penelitian ini juga menilai hubungan antara jenis kontrasepsi hormonal pasca salin diantaranya kontrasepsi suntikan 3 bulan dengan nilai PR=1,08 (CI 95% 1,05-1,12); kontrasepsi suntikan 1 bulan dengan nilai PR 0,99 (CI 95% 0,93-1,05); kontrasepsi implan PR 0,90 (CI 95% 0,84-0,96); dan kontrasepsi pil PR 1,30 (CI 95% 1,23-1,35). Hal ini diharapkan bisa menjadi gambaran bahwa pemilihan kontrasepsi sangatlah penting untuk mencegah hipertensi dikemudian hari.  

Hypertension is one of diseases caused world health problems. The prevalence of hypertension is predicted will be increase. Hypertension in Indonesia are dominated by the female population. One of the risk factors caused hypertension is the use of hormonal contraception. This study aims to determine the association between the last birth hormonal contraception and the prevalence of hypertension. The research design was cross-sectional from January to June 2023 used the 2018 Riskesdas data. The exposed group was 45,178 respondents who used hormonal contraception and the unexposed group was 30,845 who did not use hormonal contraception. The results showed that there was a significant association between the use of hormonal contraception and the prevalence of hypertension after controlling for age and body mass index with AdjPR 1.10 (95% CI 1.06–1.12). This study also assessed the association between types of hormonal contraception including 3-month injection contraception with AdjPR value of 1.08 (95% CI 1.05-1.12); 1-month injectable contraception with AdjPR value of 0.99 (95% CI 0.93-1.05), implant contraceptive AdjPR 0.90 (95% CI 0.84-0.96), and contraceptive pill AdjPR 1.30 (95% CI 1.23-1.35). This is expected to illustrate the importance of choosing the right contraception to prevent the hypertension

Read More
T-6601
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jusly Adrianus Lakapu; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Lukman Hakim Tarigan, Niken Wastu Palupi, I Nyoman Kandun
Abstrak: Kanker leher rahim merupakan penyakit yang sering terjadi pada wanita,dimana 1.4 juta wanita diseluruh dunia mengalaminya.Di Indonesia insidenkanker leher rahim adalah 12.3/100.000 perempuan.Hasil dari program deteksidini kanker leher rahim di Kabupaten Karawang dengan metode IVA,mendapatkan kasus kanker leher rahim sebanyak 246 dari tahun 2010. Sedangkanpada tahun 2014 sampai bulan Juni terdapat 56 kasus kanker leher rahim.Tingginya kasus kawin cerai (200 kasus/tahun)dan meluasnya tempat-tempat prostitusidi Kabupaten Karawang merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker leherrahim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko prilakuseks berganti pasangan dengan kejadian kanker leher rahim serta faktorkovariatnya di Kabupaten Karawang.Desain penelitian ini adalah kasus kontrol dengan perbandingan kontrolterhadap kasus 2:1.Data kasus dan kontrol diperoleh dari Puskesmas dan RumahSakit Umum Daerah Karawang.Informasi mengenai umur, pendidikan, pekerjaan,pendapatan, riwayat keluarga kanker, usia seks pertama, merokok, pengunaankontrasepsi paritas dan pola konsumsi dikumpulkan dengan melakukanwawancara langsung dengan kuesioner.Besarnya risiko prilaku seks bergantipasangan ditentukan dengan odds ratio (OR) dan 95% confidence interval (CI)menggunakan analisis logistic regression.Sebanyak 52 kasus dan 104 kontrol berpartisipasi dalam penelitian ini.Hasil analisis bivariate terhadap hubungan prilaku seks berganti pasangan dankejadian kanker leher rahim, mendapatkannilai p=0.0003, OR=3.57 (CI95%:1.67-7.6). Sedangkan hasil analisis multivariate mendapatkan nilai p=0.042,OR: 2.68 (CI 95%: 1.03-6.9). Terdapat 5 variabel confounding yaitu umur,pendidikan, riwayat kanker keluarga, merokok aktif dan penggunaan kontrasepsi.Terdapat hubungan signifikan antara prilaku seks berganti bergantipasangan dengan kejadian kanker leher rahim.Wanita yang berprilaku seksberganti pasangan memiliki risiko 2.68 kali untuk terkena kanker leher rahimdibandingkan dengan wanita yang tidak berprilaku seks berganti pasangan. Dinaskesehatan diharapakan memberikan penyuluhan kepada para wanita akan risikoprilaku berganti pasangan seks serta meningkatkan upaya deteksi dini untukpencegahan ke stadium yang lebih lanjut.Kata kunci: kanker leher rahim, prilaku seks berganti pasangan, case control study
Cervical cancer is commonly occurs in woman. More than 1.4 million ofwomen suffer from this disease.In Indonesia the Incidence Rate of cervical canceris 13/100.000 woman. The result of early detection cervical cancer program withIVA method in Karawang revealed 246 cases from 2010-2013. In 2014 until Junethere are 56 cases. The increasing of divorced rate (200 cases/year)andprostitutions di Karawang District are the risk factor of cervical cancer. Thepurpose of this research is to know the risk factor of changed sex partner towardscervical cancer in Karawang District.A case control study design was conducted with two controls per case. Thesource of data identified from public health centre register and confirmed casesfrom hospital register of Karawang during 2014. Information collected onparticipants using pretested questionnaires, during household interviews includedage, education level, occupation, income, family cervical cancer history, age offirst sex, smoking, using hormonal contraception, parity and consumption pattern.We estimated odds ratio (OR) and confidence interval (CI 95%) usingmultivariate logistic regression.Fifty-two cases and 104 controls were enrolled. The bivariate model ofchanging sex partner towards cervical cancer showed (OR: 3.57 CI 95%: 1.67-7.6). The multivariate model included age, level education, income, familycervical cancer history, smoking active and passive, parity, age of first time sex,using hormonal contraception, and food contain carcinogen consumption. Theodds ratio adjusted (OR adj : 2.68, CI 95%: 1.03-6.9). The variable of age, level ofeducation, family cervical cancer history, active smoking and using hormonalcontraception are the confounders in relation between changing sex partner withcervical cancer.Woman with changing sex partner behaviour were more likely to havecervical cancer 2.68 times compared with women who did not changing sexpartner. District Health office of Karawang should increasing the health campaignof the risk factor of cervical cancer and preventing cervical cancer with earlydetection in public health centre.Key words: cervical cancer, changing sex partner, case control study
Read More
T-4087
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Magfira; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Aida Lydia, J.M. Seno Adjie
Abstrak:
Penelitian mengenai Disfungsi Seksual pada Wanita (DSW) masih jauh tertinggal dibandingkan pada pria, saat ini hipertensi diketahui mempengaruhi terjadinya disfungsi seksual pada pria. Namun, bagaimana hipertensi mempengarhui kejadian DSW belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi esensial dengan kejadian DSW. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di Klinik Ikhalas Medika Kota Serang, Banten pada bulan Agustus-September 2019. Seluruh perempuan yang berusia diatas 18 tahun, berpendidikan minimal SD, menikah, melakukan hubungan seksual dalam 4 minggu terakhir, tidak memiliki riwayat diabetes, kemoterapi, radiasi maupun operasi didaerah panggul selain section caesare diikutsertakan dalam penelitian. Fungsi seksual wanita diukur menggunakan Female Sexual Function Index-Indonesia (FSFI-I), subjek dikategorikan memiliki DSW DSW merupakan masalah kesehatan yang umum dijumpai dan kejadiannya diketahui meningkat pada wanita dengan hipertensi. Pengelolaan hipertensi dengan pendekatan holistik perlu dilakukan termasuk didalamnya penilaian gangguan fungsi seksual pada wanita dengan hipertensi

Recent study showed that high blood pressure is a major cause of male sexual dysfunction. However, how hypertension affects women sexual function was not understood. This study aims to investigate the relationship between hypertension and FSD. We conducted a cross-sectional study in a private primary healthcare clinic, in Serang City, Banten Province from August-September 2019. All women aged 18 years or older, at least elementary school graduated, had sexual activities during the last 4 weeks were recruited. Patient sexual function was assessed by the Indonesian validated Female Sexual Function Index (FSFI-I). Sexual dysfunction (SD) was defined if the  total FSFI-I score was < 26.55. Modified cox-regression performed to evaluate the association between hypertension and SD. A total of 442 women were included in this study with a response rate of 86.3%. A total of 91.67% women with hypertension (121/132) in this study had FSD and a total of 72.9% women without hypertension (226/310) had FSD. Hypertension increased the proportion of FSD with an aPR 1.76 (95% CI: 1.20-2.60). FSD is a common problem and the prevalence increase in women with hypertension. Holistic approach management in hypertension needs to be done including the assessment of sexual function in women with hypertension.
Read More
T-5916
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive