Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37964 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wiwit Gemiwati; Pembimbing: Abdur Rachman, Haryoto Kusnoputranto
T-1563
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Ratna Sari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Ary Sutanti
S-8230
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farah Fauziah Rahmasari; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Ema Hermawati, Ririn Arminsih Wulandari, Bai Kusnadi, Dicky Budiman
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Bogor dengan jumlah kasus yang berfluktuasi setiap tahun. Faktor iklim seperti suhu, kelembapan, curah hujan, serta Angka Bebas Jentik (ABJ) diduga berperan dalam memengaruhi kejadian DBD. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor iklim dan ABJ dengan kejadian DBD serta memproyeksikan jumlah kasus DBD di Kota Bogor. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis bulanan menggunakan data Januari 2022–Desember 2025. Data sekunder agregat jumlah kasus DBD dan ABJ Kota Bogor didapatkan dari Dinas Kesehatan Kota Bogor, sementara data faktor iklim (suhu, kelembapan, curah hujan) didapatkan dari Stasiun Klimatologi Jawa Barat BMKG. Analisis bivariat dilakukan menggunakan korelasi Rank Spearman dengan lag 0–3 bulan sementara analisis multivariat menggunakan metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) dan regresi linear ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ABJ memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kejadian DBD (p=0,001; r=-0,532), sedangkan suhu, kelembapan, dan curah hujan menunjukkan hubungan signifikan pada periode dan lag tertentu. Hasil regresi linear ganda menunjukkan bahwa ABJ, suhu lag 3 bulan, dan curah hujan lag 3 bulan merupakan prediktor kejadian DBD dengan nilai R² sebesar 43,3%. Model yang diperoleh adalah Y = 3173,588 − 49,582 (ABJ) + 60,887 (Suhu lag 3) + 0,156 (Curah Hujan lag 3) + e. Hasil proyeksi ARIMA menunjukkan bahwa kejadian DBD tahun 2026–2029 diperkirakan tetap mengalami fluktuasi dengan pola musiman yang berulang dan nilai MAPE sebesar 29%, yang menunjukkan kemampuan prediksi model cukup baik. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan sistem kewaspadaan dini dan perencanaan program pengendalian DBD berbasis faktor iklim dan pengendalian vektor.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a significant public health problem in Bogor City, with the number of cases fluctuating annually. Climate factors including temperature, humidity, and rainfall, as well as the Larvae-Free Index (LFI) are suspected to influence the occurrence of DHF. This study aimed to analyze the relationship between climate factors and the LFI with DHF incidence and to project the number of DHF cases in Bogor City. An ecological study design was employed using monthly data from January 2022 to December 2025. Secondary aggregated data on DHF cases and the LFI were obtained from the Bogor City Health Office, while climate data (temperature, humidity, and rainfall) were obtained from the West Java Climatology Station of the Indonesian Meteorological, Climatological, and Geophysical Agency (BMKG). Bivariate analysis was conducted using Spearman’s rank correlation with lags of 0–3 months, while multivariate analysis was performed using the Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) method and multiple linear regression. The results showed that the LFI was significantly and negatively associated with DHF incidence (p=0.001; r=-0.532), whereas temperature, humidity, and rainfall demonstrated significant associations at specific periods and lag times. Multiple linear regression analysis identified the LFI, temperature at a 3-month lag, and rainfall at a 3-month lag as predictors of DHF incidence, with an R² value of 43.3%. The resulting model was: Y = 3173.588 − 49.582(LFI) + 60.887(Temperature lag 3) + 0.156(Rainfall lag 3) + e. ARIMA projections indicated that DHF incidence during 2026–2029 is expected to continue fluctuating with a recurring seasonal pattern. The model yielded a Mean Absolute Percentage Error (MAPE) of 29%, indicating an acceptable forecasting performance. These findings may serve as a basis for developing climate-based early warning systems and supporting the planning of DHF prevention and vector control programs.
Read More
T-7565
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putianing Widodo; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Jakarta Pusat sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di DKI Jakarta memiliki risiko penularan DBD yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor iklim (curah hujan, suhu udara, dan kelembapan udara), kepadatan penduduk, dan Angka Bebas Jentik (ABJ) terhadap incidence rate DBD di Jakarta Pusat selama tahun 2014–2023. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan mixed design, yang menggabungkan analisis berdasarkan waktu dan wilayah. Analisis korelasi dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan incidence rate DBD pada non-time lag, time lag 1 bulan, dan time lag 2 bulan. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kepadatan penduduk dan ABJ memiliki hubungan yang signifikan terhadap incidence rate DBD. Untuk faktor iklim, ditemukan hubungan signifikan pada curah hujan (time lag 1 dan 2), suhu udara (time lag 2), serta kelembapan udara (time lag 1 dan 2). Berdasarkan hasil tersebut, diperlukan strategi pengendalian DBD yang berbasis data spasial-temporal serta sistem peringatan dini, dengan mempertimbangkan time lag pengaruh iklim, capaian ABJ, dan peningkatan partisipasi masyarakat melalui edukasi serta pelaksanaan PSN secara rutin dan berkelanjutan.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a significant public health issue in Indonesia. Central Jakarta, as the area with the highest population density in DKI Jakarta, faces a high risk of DHF transmission. This study aims to analyze the relationship between climate factors (rainfall, air temperature, and humidity), population density, and Larvae Free Index (ABJ) with the incidence rate of DHF in Central Jakarta from 2014 to 2023. An ecological study design with a mixed approach was employed, combining temporal and spatial analyses. Correlation analysis was conducted to examine the relationship between the independent variables and DHF incidence rate at non-time lag, 1-month time lag, and 2-month time lag. The bivariate analysis revealed a significant relationship between population density and ABJ with the DHF incidence rate. Regarding climate factors, significant associations were found for rainfall (at 1-month and 2-month lags), air temperature (at 2-month lag), and humidity (at 1-month and 2-month lags). Based on these findings, DHF control strategies should incorporate spatiotemporal data and early warning systems, taking into account the time lag effects of climate variables, ABJ coverage, and enhancing community participation through education and consistent implementation of vector control programs (PSN).
Read More
S-11989
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Fajrin Sukristi; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi tantangan serius dalam kesehatan masyarakat Indonesia, termasuk Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor iklim (suhu, kelembapan udara, dan curah hujan), kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik dengan incidence rate demam berdarah dengue di Kota Bogor tahun 2020-2024. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan uji korelasi antara suhu, curah hujan dan kelembapan udara pada time lag 0-2 bulan, kepadatan penduduk, serta Angka Bebas Jentik dengan Incidence Rate (IR) DBD. Hasil penelitian menunjukan rata-rata IR DBD  per bulan pada rentang 2020 hingga 2024 adalah 10,47 kasus per 100.000 penduduk. Hasil uji korelasi menunjukan tidak terdapat hubungan signifikan antara suhu, kelembapan udara, curah hujan dengan IR DBD pada periode 2020-2024. Antara variabel kepadatan penduduk terdapat hubungan signifikan dengan IR DBD pada rentang waktu 2020-2024, demikian pula pada antara variabel Angka Bebas Jentik dengan IR DBD pada rentang 2023-2024 yang menunjukan adanya hubungan signifikan. Diperlukan adanya penguatan program pencegahan dan pengendalian serta monitoring vektor baik dari instansi terkait maupun semua lapisan masyarakat.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a major public health challenge in Indonesia, including Bogor City. In 2023, Bogor recorded the highest incidence rate in West Java Province. This study aimed to analyze the relationship between climate factors (temperature, humidity, and rainfall), population density, and the larva-free index with the dengue incidence rate in Bogor City from 2020 to 2024. An ecological study design was applied using correlation analysis between climate variables (with a 0–2 month time lag), population density, and larva-free index with DHF incidence rate. Results showed the average monthly incidence rate from 2020 to 2024 was 10,47 per 100.000 population. There was no significant correlation between temperature, humidity, or rainfall and dengue incidence during this period. However, population density showed a significant positive correlation with dengue incidence in 2020–2024. Additionally, a significant negative correlation was found between the larva-free index and dengue incidence in 2023–2024. Strengthening prevention and control programs, along with improved vector monitoring involving both government institutions and communities, is essential to reduce the burden of DHF.
Read More
S-11912
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tria Rahmawati; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue (DENV) yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD merupakan penyakit akibat infeksi dari nyamuk yang berkembang paling cepat dan menjadi ancaman kesehatan di dunia. Wilayah geografis Indonesia yang beriklim tropis merupakan wilayah hiper-endemik DBD. Kota Depok merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang memiliki tren penyakit DBD yang fluktuatif dan cenderung tinggi setiap tahunnya. Pada tahun 2019 dan 2021 Kota Depok termasuk peringkat 2 terbesar sebagai kabupaten/kota dengan kasus DBD tertinggi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dan analisis uji korelasi untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim (curah hujan, suhu udara dan kelembaban udara), kepadatan penduduk dan Angka Bebas Jentik (ABJ) terhadap Incidence Rate (IR) DBD di Kota Depok pada tahun 2017-2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara curah hujan time lag 0, time lag 1 dan time lag 2, suhu udara time lag 1, kelembaban udara time lag 0, time lag 1 dan time lag 2 dan Angka Bebas Jentik (ABJ) terhadap Incidence Rate DBD. Hubungan yang signifikan antara faktor iklim dan ABJ terhadap IR DBD, menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian DBD dengan melakukan PSN 3M Plus harus dilakukan dan ditingkatkan oleh pihak Dinas Kesehatan Kota Depok maupun masyarakat. Selain itu, diperlukan kolaborasi dan kerja sama lintas sektor yaitu pihak Dinas Kesehatan Kota Depok dan BMKG, sehingga dapat dibuat kebijakan dan perencanaan yang tepat untuk pencegahan dan penanggulangan DBD di Kota Depok pada periode sebelum peningkatan kejadian DBD.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by the Dengue virus (DENV) which is transmitted to humans through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes. Dengue fever is a disease caused by infection from mosquitoes that develops the fastest and becomes a health threat in the world. The geographical area of Indonesia with a tropical climate is a hyper-endemic area for DHF. Depok City is one of the cities in West Java Province which has a fluctuating trend of Dengue fever every year. In 2019 and 2021 Depok City is ranked 2nd as the district/city with the highest DHF cases in Indonesia. This study used an ecological study design and correlation test analysis to determine the relationship between climate factors (rainfall, air temperature and air humidity), population density and larvae free rate (LFR) on the Incidence Rate (IR) of DHF in Depok City in 2017- 2021. The results showed that there was a significant relationship between rainfall time lag 0, time lag 1 and time lag 2, air temperature time lag 1, air humidity time lag 0, time lag 1 and time lag 2, and larva free number (LFR) on the Incidence Rate of DHF. The significant relationship between climate factors and LFR on DHF IR shows that prevention and control of DHF by doing PSN 3M Plus is necessary to do and must be improved by the Dinas Kesehatan Kota Depok and the community. Besides that, cross-sector collaboration and cooperation between Dinas Kesehatan Kota Depok dan BMKG should be done, so that appropriate policies and planning can be made for the prevention and control of DHF in Depok City, especially in the period before the increase of DHF incidence.
Read More
S-11186
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muyono; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; H.R.A. Sofyan
T-1857
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Slamet Mujlyati; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Muhadi
S-6122
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novia Astarina Simangunsong; Pembimbing: Rachmadi Purnawan; Penguji: Carolina Rusdy Akib
Abstrak: Demam berdarah dengue di Kota Administrasi Jakarta Selatan mengalami fluktuasi selama 5 tahun terakhir dan pada tahun 2016 angka insiden naik lebih dari 3 kali lipat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim (curah hujan, kelembaban, suhu) dan kepadatan penduduk dengan angka insiden DBD. Studi ini merupakan studi ekologi time series dan dianalisis dengan uji korelasi. Data angka insiden DBD diperoleh dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan. Data iklim bulanan diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Jakarta. Data kepadatan penduduk diperoleh dari Badan Pusat Statistika DKI Jakarta. Hasil penelitian menyatakan bahwa suhu dan kepadatan penduduk tidak memiliki hubungan bermakna dengan angka insiden DBD (p > 0,05). Angka insiden DBD memiliki hubungan yang bermakna dengan curah hujan (r = 0,384 ; p = 0,002), kelembaban (r = 0,496 ; p = 0,000).
Kata kunci: demam berdarah dengue (DBD); iklim

Dengue hemorrhagic fever (DHF) in South Jakarta Administration City was fluctuating during 2012 - 2016 and in 2016 the incidence rate (IR) was more than tripled from the previous year. This study aims to determine the relationship between climatic factors (rainfall, humidity, temperature) and population density with the incidence rate (IR) of DHF. This study is a time series ecology study and was analyzed by correlation test. Incidence rate (IR) data was obtained from the South Jakarta District Health Office. Monthly climate data was obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Department of Jakarta. Population density data was obtained from the Central Statistics Department of DKI Jakarta. The results demonstrate that temperature and population density have no significant correlation with dengue incidence rate (p > 0,05). The incidence rate (IR) had a significant correlation with rainfall (r = 0.384; p = 0.002), humidity (r = 0.496; p = 0,000).
Key words: climate; dengue
Read More
S-9418
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mulia Idris Rambey; Pembimbing: Luknis Sabri, Ella Nurlaella Hadi
T-1673
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive