Ditemukan 37965 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kania Puspitahati; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Yuli Prapanca Satar, Mieke Savitri
Abstrak:
ABSTRAK Pada saat ini persaingan antara rumah sakit akan semakin ketat baik rumah sakit swasta dengan rumah sakit pemerintah dan juga persaingan dengan rumah sakit milik modal asing atau modal negara lain. Oleh karena itu rumah sakit perlu dikelola dengan baik, sehingga mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia agar dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna. Rumah sakit harus selalu meningkatkan pelayanan kesehatan rumah sakit dan memacu diri dalam menghadapi persaingan. Rumah sakit dituntut memberikan kepuasan kepada para pelanggan dengan memberikan pelayanan yang bermutu dan harga yang terjangkau oleh para pelanggan. Kepuasan adalah suatu keadaan yang dirasakan seseorang menyenangkan atau mengecewakan yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome poduk yang dirasakan dalam hubungannya dengan apa yang diharapkan. Kepuasan pelanggan sering dikaitkan dengan mutu pelayanan yang dikehendaki oleh pelanggan, sehingga jaminan kualitas menjadi prioritas utama bagi rumah sakit. Pelanggan puas dan bisa menjadi promosi bagi rumah sakit dengan cerita dari mulut ke mulut mengenai kepuasan yang didapatkan. Pelanggan juga akan setia kepada rumah sakit tersebut dan perubahan tarif pelayanan tidak akan mempengaruhi pelanggan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kepuasan pengunjung di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Trimitra Cibinong tahun 2004. merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan studi cross sectional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 70 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan analisis data digunakan analisis univariat dan bivariat.. Analisa bivariat yang digunakan adalah uji hubungan chi square dengan batas nilai alpha 10 %. Karakteristik pasien yang merupakan distribusi terbanyak adalah kelompok umur > 30 tahun ,jenis kelamin perempuan ,tingkat pendidikan tinggi dan penhasilan lebih dari > 617.000 .Hasil penelitian didapat bahwa secara umum umur ,jenis kelamin ,pendidikan dan penghasilan mempunyai hubungan yang bermakna dengan tingkat kepuasan. Saran yang dianjurkan untuk meningkatkan kepuasan pengunjung terhadap mutu pelayanan di instalasi farmasi RSIA Trimitra dengan membuat ruang tunggu lebih nyaman,membuat nomor antrian,memperpendek waktu tunggu,menyiapkan obat dengan cepat dan petugas memberikan pelayanan dengan baik.Penelitian lebih lanjut dibutuhkan mengenai kepuasan pelanggan secara keseluruhan di RSIA Trimitra. Dafar Pustaka 35 (1986-2005)
Read More
B-861
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nina Kusmadianti; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Wachyu Sulistiadi, HM. Hafizurrachman, Julfrida
Abstrak:
Sebagai Rumah Sakit Unit Swadana, Rumah Sakit Umum Tangerang harus dapat membiayai kegiatan operasionalnya dari pendapatannya sendiri. Instalasi Laboratorium adalah salah satu revenue centre yang pendapatannya sangat membantu biaya operasional Rumah Sakit Umum Tangerang. Pendapatan dari Instalasi Laboratorium ini harus dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi. Dengan pesaing yang semakin banyak hal ini tidaklah mudah. Pada tahun 2004 ada 2 pengaduan pasien tentang pelayanan instalasi laboratorium yang kurang memuaskan, belum pernah dilakukan survei kepuasan pelanggan pada instalasi laboratorium ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan di instalasi laboratorium RSU Tangerang, mengetahui hubungan karakteristik pasien dengan tingkat kepuasan serta mengetahui faktor karakteristik yang paling mempengaruhi kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan instalasi laboratorium RSU Tangerang. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pada tahap kualitatif melakukan eksplorasi awal dan wawancara mendalam pada 6 responden, sedangkan pada tahap kuantitatif pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel 126 responden. Dari hasil penelitian memperlihatkan distribusi pasien terbanyak yang menggunakan jasa pelayanan di instalasi laboratorium RSU Tangerang adalah yang berusia antara 26 sampai 59 tahun dengan proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan, status menikah, pendidikan SLTA dan berpenghasilan antara limaratus ribu sampai satu juta rupiah. Dari hasil penelitian didapatkan tingkat kepuasan pasien terhadap 5 dimensi mutu pelayanan di laboratorium diketahui proporsi pasien yang puas sebesar 61.9% dan yang tidak puas 38.1% . Tidak ada variabel yang paling berpengaruh terhadap kepuasan. Bila dibandingkan dengan hasil survei kepuasan pasien yang dilakukan ole SPI pada instalasi rawat jalan di RSU Tangerang, hasilnya lebih rendah Diharapkan pihak manajemen RSU Tangerang, khususnya instalasi laboratorium dapat meningkatkan mutu pelayanannya salah satunya dengan mengadakan pelatihan Customer Satisfaction, melakukan benchmarking internal atau pada pesaing serta membuat sistem antrian pada loket pendaftaran. Daftar pustaka : 28 (1997 – 2005)
As a self-financing hospital, Tangerang Public Hospital has to finance its operational program from its own revenue. Laboratory Installation is one of the revenue centers that covers some of the programs in Tangerang Public Hospital. The revenue itself has to be the same or even more, not to mention with the mushrooming surrounding competitors the task is even more difficult. In the year 2004, two complaints were addressed about the service in Laboratory Installation, saying that is is not satisfying, patients’ satisfaction survey has not been conducted before. The study is aimed to get the picture of patients’ satisfaction to service excellence in Tangerang Public Hospital, administered in Laboratory Installation Tangerang Public Hospital, to know the characteristic relationship between patient and level of patients’ satisfaction, and to look for the most influencing characteristic factors to the service administered in Laboratory Installation Tangerang Public Hospital. Type of study used is quantitative and qualitative with cross sectional approach. In the qualitative phase is to do first exploration and indepth interview to six respondents, as to the quantitative phase, the method used is simple sampling random with one hundred and twenty-six respondents. The study shows the most patients distribution using Tangerang Public Hospital service is even number gender (male and female), from twenty six up to fifty nine years of age, married, senior high school graduate and salary between five hundred thousand to one million rupiah. The research shows that the level of patients’ satisfaction to 5 phase of service excellence in The Laboratory Installation is as follows, satisfied patients’ proportion is 61.9% and dissatisfied patients is 38.1%. There is no most effected variables found to satisfaction. Comparing the result to this survey to the previous one held by SPI in Out patients Installation, it is lower, it is expected that hospital management is able to enhance its service excellence, among others are conducting training and education, internal benchmarking and to make stand-in-line system in the registration section. References : 28 (1997 – 2005)
Read More
As a self-financing hospital, Tangerang Public Hospital has to finance its operational program from its own revenue. Laboratory Installation is one of the revenue centers that covers some of the programs in Tangerang Public Hospital. The revenue itself has to be the same or even more, not to mention with the mushrooming surrounding competitors the task is even more difficult. In the year 2004, two complaints were addressed about the service in Laboratory Installation, saying that is is not satisfying, patients’ satisfaction survey has not been conducted before. The study is aimed to get the picture of patients’ satisfaction to service excellence in Tangerang Public Hospital, administered in Laboratory Installation Tangerang Public Hospital, to know the characteristic relationship between patient and level of patients’ satisfaction, and to look for the most influencing characteristic factors to the service administered in Laboratory Installation Tangerang Public Hospital. Type of study used is quantitative and qualitative with cross sectional approach. In the qualitative phase is to do first exploration and indepth interview to six respondents, as to the quantitative phase, the method used is simple sampling random with one hundred and twenty-six respondents. The study shows the most patients distribution using Tangerang Public Hospital service is even number gender (male and female), from twenty six up to fifty nine years of age, married, senior high school graduate and salary between five hundred thousand to one million rupiah. The research shows that the level of patients’ satisfaction to 5 phase of service excellence in The Laboratory Installation is as follows, satisfied patients’ proportion is 61.9% and dissatisfied patients is 38.1%. There is no most effected variables found to satisfaction. Comparing the result to this survey to the previous one held by SPI in Out patients Installation, it is lower, it is expected that hospital management is able to enhance its service excellence, among others are conducting training and education, internal benchmarking and to make stand-in-line system in the registration section. References : 28 (1997 – 2005)
B-894
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Kumala Wahyu Utami; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Peter Albert W. Pattinama, Amila Megraeni, Syaifuddin Zuhri
Abstrak:
Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator dalam mengukur mutu pelayanan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan di instalasi rawat jalan RSTI, mengetahui hubungan karakteristik pasien dengan tingkat kepuasan terhadap pelayanan di instalasi rawat jalan RSTI, serta mengetahui faktor karakteristik yang paling dominan berhubungan dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan di instalasi rawat jalan RSTI. Jenis penelitian adalah campuran antara kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kepuasan pasien di RSTI adalah 52.5%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepuasan pasien di instalasi rawat jalan RSTI sudah cukup baik, namun diharapkan pihak manajemen RSTI untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan, dengan mengetahui harapan apa saja yang diinginkan oleh pasien dan berusaha untuk memenuhinya.
Patient's satisfaction is the one of the indicators which could be used to measure the hospital?s service quality. The study was performed to describe customer satisfaction of the Ambulatory Department of Tugu Ibu Hospital, to find out the relation between customer characteristics with satisfaction level of the Ambulatory Department of Tugu Ibu Hospital, and to find out dominant factor related to the patient's satisfaction of the Ambulatory Department of Tugu Ibu Hospital. This study was combination between quantitative and qualitative approaches with cross sectional design for quantitative. The results of the study showed that The proportion of the customers who were satisfied with the service was 52.5%. This study concluded that the customer satisfaction of the ambulatory department of Tugu Ibu Hospital was good enough. But, the management had to more improve the hospital's service quality, one of the choice was to know about the expectations from the patients, and tried to fulfil it.
Read More
Patient's satisfaction is the one of the indicators which could be used to measure the hospital?s service quality. The study was performed to describe customer satisfaction of the Ambulatory Department of Tugu Ibu Hospital, to find out the relation between customer characteristics with satisfaction level of the Ambulatory Department of Tugu Ibu Hospital, and to find out dominant factor related to the patient's satisfaction of the Ambulatory Department of Tugu Ibu Hospital. This study was combination between quantitative and qualitative approaches with cross sectional design for quantitative. The results of the study showed that The proportion of the customers who were satisfied with the service was 52.5%. This study concluded that the customer satisfaction of the ambulatory department of Tugu Ibu Hospital was good enough. But, the management had to more improve the hospital's service quality, one of the choice was to know about the expectations from the patients, and tried to fulfil it.
B-873
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yulisar Khiat; Pembimbing: Hafizurrahchman; Penguji: Ede Surya Darmawan, Dumilah Ayuningtyas, Endang Adriyani
Abstrak:
Latar Belakang. Pengendalian persediaan perbekalan farmasi dengan mempergunakan sistem komputer secara terintegrasi bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan, mengingat banyak aspek yang terkait yang perlu dipersiapkan dengan baik, dimana kebijakan persediaan perbekalan farmasi dan pencatatan akuntansi harus jelas, sistem informasi pengelolaan persediaan harus didesain dengan tepat, sumber daya manusia yang terlibat harus disiplin agar pelaporan dari persediaan perbekalan farmasi diperoleh dengan tepat dan akurat, tidak ada selisih antara pelaporan fisik dan pencatatan akuntansi. Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisa informasi mengenai faktor penyebab selisih laporan persediaan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi dengan laporan persediaan di Bagian Keuangan. Penelitian dilakukan di Instalasi Farmasi dan Bagian Keuangan terhadap data bulan Januari sampai dengan Desember 2004. Metode. Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum ada kebijakan persediaan perbekalan farmasi secara tertulis yang menyebabkan terjadi persepsi yang berbeda antar unit terkait, belum tersosialisasinya standar operasional prosedur persediaan perbekalan farmasi mengakibatkan kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi bersama unit terkait tidak berjalan dengan baik, belum lengkapnya standar operasional prosedur tentang pencatatan akuntansi persediaan perbekalan yang mengakibatkan keragu-raguan terhadap hasil pencatatan yang ada, sumber daya manusia yang belum memahami sistem persediaan perbekalan farmasi sehingga terjadi tidak konsistennya petugas dalam menjalankan tugas yang telah ditetapkan dan belum berjalannya pengawasan terhadap dokumen penunjang yang mengakibatkan keraguan terhadap hasil keakuratan laporan persediaan perbekalan farmasi. Selain daripada itu program komputer yang mendukung terlaksananya pengendalian persediaan perbekalan farmasi mempunyai masalah dalam hal perangkat lunak (software) yaitu jaringan komputer yang mengakibatkan terjadinya hang dan fatal error, maupun perangkat keras (hardware) yaitu sistem kabeling dan konektor yang mengakibatkan terjadinya keterlambatan informasi. Kesimpulan : perlu disusun kebijakan persediaan perbekalan farmasi dan kebijakan akuntansi persediaan dengan SK Direktur, perlu dilakukannya penyempurnaan alur proses persediaan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi, perlu dikembangkannya alur proses persediaan perbekalan farmasi di Bagian Keuangan dengan mmenggunakan dokumen bukti pengeluaran obat dan alat kesehatan sebagai fungsi pengontrolan, agar dievaluasi SOP di Instalasi Farmasi (obat racikan dihitung sampai nilai desimal), perlu dibuatnya SOP di Bagian Keuangan dan disesuaikan dengan SOP lainnya, diperlukan pelatihan tentang manajemen logistik yang terintegrasi bagi para petugas struktural dan pelaksana, perlu adanya pengkajian ulang terhadap struktur organisasi di Instalasi Farmasi dan Bagian Keuangan, serta perlu dikembangkannya program komputer baik software maupun hardware, sehingga selisih antara laporan persediaan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi (nilai fisik) dengan laporan persediaan perbekalan farmasi di Bagian Keuangan (nilai General Ledger) dapat diminimalisasi seoptimal mungkin. Kata Kunci : farmasi, inventori, General Ledger.
Background. Pharmacy inventory controlling using integrated computer system is not a simple task to be done because the system depend on many aspects such as pharmacy regulation including a clear accountancy administration, a good pharmacy information system, good and discipline human resources so that report from pharmacy inventory system will be accurate and exact and there are no differences between physical report and accountancy report. Purpose. The purpose of this study is to analyzing and identifying the cause factors related to the discrepancy between inventory report in Pharmacy Unit and pharmacy inventory report in Finance Division. This is research a descriptive-analytical which is conducted by means of qualitative approach. Methodes. The qualitative data collection is conducted using in-depth interview methode and data base from January to December 2004. The research is contucted in Pharmacy Unit and Finance Division at Ibu dan Anak HERMINA. Result. The result of this research showed that the dicrepancy between pharmacy inventory and accounting reports are caused by unwritten regulation on pharmacy inventory, unsocialized procedure standart related to pharmacy inventory, incomplete procedure standart on Accuntancy Unit, and minimal controlling in checking and cross checking between physical report and accountancy report. Besides that the computer program which support pharmacy inventory control have several problems in their sofware and hardware system. Conclusion. It is recommended recommendations that the hospital should develop the procedure standart in managing pharmacy inventory related to Pharmacy Unit, Finance Division, Electronic Data Processing (EDP). Therefore discrepancy between pharmacy inventory report (physical evidence) with finance report (general ledger point) can be minimized. Keywords : Pharmacy, inventory, General Ledger.
Read More
Background. Pharmacy inventory controlling using integrated computer system is not a simple task to be done because the system depend on many aspects such as pharmacy regulation including a clear accountancy administration, a good pharmacy information system, good and discipline human resources so that report from pharmacy inventory system will be accurate and exact and there are no differences between physical report and accountancy report. Purpose. The purpose of this study is to analyzing and identifying the cause factors related to the discrepancy between inventory report in Pharmacy Unit and pharmacy inventory report in Finance Division. This is research a descriptive-analytical which is conducted by means of qualitative approach. Methodes. The qualitative data collection is conducted using in-depth interview methode and data base from January to December 2004. The research is contucted in Pharmacy Unit and Finance Division at Ibu dan Anak HERMINA. Result. The result of this research showed that the dicrepancy between pharmacy inventory and accounting reports are caused by unwritten regulation on pharmacy inventory, unsocialized procedure standart related to pharmacy inventory, incomplete procedure standart on Accuntancy Unit, and minimal controlling in checking and cross checking between physical report and accountancy report. Besides that the computer program which support pharmacy inventory control have several problems in their sofware and hardware system. Conclusion. It is recommended recommendations that the hospital should develop the procedure standart in managing pharmacy inventory related to Pharmacy Unit, Finance Division, Electronic Data Processing (EDP). Therefore discrepancy between pharmacy inventory report (physical evidence) with finance report (general ledger point) can be minimized. Keywords : Pharmacy, inventory, General Ledger.
B-857
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sumarwoto; Pembimbing: Prastuti C. Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Ronnie Rivany, Siti Mardiyati
B-950
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Okti Hidayati; Pembimbing: Hafizurrachman; Penguji: Mieke Savitri, Iman Nugraha
S-6248
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maisa Rasyida Pancaputri; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, T. Neza Jacoeb
S-9030
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erna Maria; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Jaslis Ilyas, Ati Nirwanawati, Hariyadi Wibowo
Abstrak:
Latar Belakang : Rumah sakit sebagai institusi pemberi layanan kesehatan, bertanggungjawab terhadap penyediaan layanan yang ada di masyarakat yang dapat memberikan rasa aman, efektif, memiliki mutu dan tidak bersifat diskriminatif dengan mengutamakan kepentingan pasien. Peresepan obat oleh dokter dan pemenuhannya oleh bagian farmasi secara tepat mencerminkan pelayanan berkualitas di tempat tersebut. Keterlambatan penerimaan obat menimbulkan ketidakpuasan dari pasien dan menurunkan kepercayaan terhadap RS. Pada tahun 2015 hingga 2016, waktu tunggu obat pasien unit rawat jalan RS Eka Pekanbaru masih berkisar 1 jam 4 menit untuk obat non racikan dan 1 jam untuk obat racikan. Tahun 2017 terjadi perbaikan namun angka kepuasan pasien masih belum dapat mencapai 95% dari ketetapan rumah sakit. Tentunya hal ini dapat mengakibatkan keenganan pasien untuk kembali untuk berobat yang menurunkan pendapatan RS.
Tujuan : Mengetahui hubungan waktu tunggu pasien dan karakteristik pasien terhadap tingkat kepuasan pasien pada pelayanan unit farmasi rawat jalan RS Eka Pekanbaru.
Metode : Penelitian ini memakai desain penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang, yang dilengkapi dengan penelitian kualitatif. Dilaksanakan pada bulan Maret 2019 di unit Farmasi Rawat Jalan RS Eka Pekanbaru. Data primer diambil dengan melakukan pengamatan langsung di farmasi unit rawat jalan dan wawancara kepada Direktur serta Kepala Instalasi Farmasi RS. Data sekunder didapat dari data resep racikan maupun resep non racikan RS Eka Pekanbaru. Semua data kemudian diolah menggunakan sistem dan dianalisa menggunakan pendekatan PLS-SEM.
Hasil : Ratarata pelayanan farmasi unit rawat jalan RS. Eka Pekanbaru memiliki waktu 17.13 menit obat non racikan dan 33.48 menit obat racikan. Usia tua puas dengan responsiveness, pasien yang bekerja puas dengan tangible. Namun secara umum karakteristik pasien tidak mempengaruhi dari keseluruhan kualitas layanan.
Kesimpulan : Manajemen masih pelu melakukan perbaikan terhadap waktu tunggu terhadap resep racikan. Adanya waktu tunggu penyelesaian resep obat semakin cepat akan meningkatkan kepuasan, yang didukung dengan kualitas layanan yang baik
Background : The hospital as an institution providing health services, is responsible for providing services in the community that can provide a sense of security, effectiveness, quality and non-discrimination by prioritizing the interests of patients. Doctors prescriptions and their fulfillment by the pharmacy department reflect the quality service in Hospital. The delay in receiving drug caused dissatisfaction from the patient and reduced trust. In 2015 to 2016, the waiting time prescription for outpatient patients at Eka Pekanbaru Hospital was still around 1 hour 4 minutes for nonconcoction drugs and 1 hour for concoction drugs. In 2017 there was an improvement but the patient satisfaction rate still could not reach 95% of hospital provisions. This can lead to patient reluctance to return to treatment which reduces hospital income.
Objective: To determine the correlation between patient waiting time and patient characteristics to the level of patient satisfaction at the outpatient pharmacy unit in the Eka Pekanbaru hospital.
Method: This study uses a quantitative research design with cross-sectional design, which is supplemented by qualitative research. Performed in March 2019 in the outpatient pharmacy department of the Eka Pekanbaru hospital. Primary data was taken by conducting direct observation in the outpatient pharmacy unit and interviewing the Director and Head of the Pharmacy Installation. Secondary data was obtained from data on recipe concoctions and recipes for non-concoction of Eka Pekanbaru Hospital. All data were then processed using an analyzed system using PLS-SEM approach.
Results: The average time for outpatient pharmacy units in RS Pekanbaru takes 17.13 minutes for non-concoction medicine and 33.48 minutes for concoction medicine Old age has satisfied with the responsiveness, patients who work was satisfied with tangible. But in general the characteristics of patients did not influence the overall quality of the service.
Conclusion: management still needs to improve the waiting time for concoction recepies. The waiting time for drug prescription completion will increase satisfaction, which is supported by good service quality
Read More
Tujuan : Mengetahui hubungan waktu tunggu pasien dan karakteristik pasien terhadap tingkat kepuasan pasien pada pelayanan unit farmasi rawat jalan RS Eka Pekanbaru.
Metode : Penelitian ini memakai desain penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang, yang dilengkapi dengan penelitian kualitatif. Dilaksanakan pada bulan Maret 2019 di unit Farmasi Rawat Jalan RS Eka Pekanbaru. Data primer diambil dengan melakukan pengamatan langsung di farmasi unit rawat jalan dan wawancara kepada Direktur serta Kepala Instalasi Farmasi RS. Data sekunder didapat dari data resep racikan maupun resep non racikan RS Eka Pekanbaru. Semua data kemudian diolah menggunakan sistem dan dianalisa menggunakan pendekatan PLS-SEM.
Hasil : Ratarata pelayanan farmasi unit rawat jalan RS. Eka Pekanbaru memiliki waktu 17.13 menit obat non racikan dan 33.48 menit obat racikan. Usia tua puas dengan responsiveness, pasien yang bekerja puas dengan tangible. Namun secara umum karakteristik pasien tidak mempengaruhi dari keseluruhan kualitas layanan.
Kesimpulan : Manajemen masih pelu melakukan perbaikan terhadap waktu tunggu terhadap resep racikan. Adanya waktu tunggu penyelesaian resep obat semakin cepat akan meningkatkan kepuasan, yang didukung dengan kualitas layanan yang baik
Background : The hospital as an institution providing health services, is responsible for providing services in the community that can provide a sense of security, effectiveness, quality and non-discrimination by prioritizing the interests of patients. Doctors prescriptions and their fulfillment by the pharmacy department reflect the quality service in Hospital. The delay in receiving drug caused dissatisfaction from the patient and reduced trust. In 2015 to 2016, the waiting time prescription for outpatient patients at Eka Pekanbaru Hospital was still around 1 hour 4 minutes for nonconcoction drugs and 1 hour for concoction drugs. In 2017 there was an improvement but the patient satisfaction rate still could not reach 95% of hospital provisions. This can lead to patient reluctance to return to treatment which reduces hospital income.
Objective: To determine the correlation between patient waiting time and patient characteristics to the level of patient satisfaction at the outpatient pharmacy unit in the Eka Pekanbaru hospital.
Method: This study uses a quantitative research design with cross-sectional design, which is supplemented by qualitative research. Performed in March 2019 in the outpatient pharmacy department of the Eka Pekanbaru hospital. Primary data was taken by conducting direct observation in the outpatient pharmacy unit and interviewing the Director and Head of the Pharmacy Installation. Secondary data was obtained from data on recipe concoctions and recipes for non-concoction of Eka Pekanbaru Hospital. All data were then processed using an analyzed system using PLS-SEM approach.
Results: The average time for outpatient pharmacy units in RS Pekanbaru takes 17.13 minutes for non-concoction medicine and 33.48 minutes for concoction medicine Old age has satisfied with the responsiveness, patients who work was satisfied with tangible. But in general the characteristics of patients did not influence the overall quality of the service.
Conclusion: management still needs to improve the waiting time for concoction recepies. The waiting time for drug prescription completion will increase satisfaction, which is supported by good service quality
B-2112
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lidya Pusparia Manurung; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Purnawan Junadi, Dumilah Ayuningtyas, Ait Nirwanawati
Abstrak:
Instalasi Farmasi merupakan salah satu terminal pelayanan kesehatan, jalur perbekalan farmasi yang berhadapan langsung dengan masyarakat, dan merupakan bagian dari revenue centre. Latar belakang penelitian ini adalah proporsi kunjungan instalasi farmasi dengan resep obat yang rendah, yaitu kurang dari 50%, serta keluhan pasien akan pelayanan instalasi farmasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lebih rinci tingkat kepuasan pasien rawat jalan terhadap pelayanan instalasi farmasi dikaitkan dengan minat pasien menebus kembali resep obat di instalasi farmasi RSUD Budhi Asih. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif, desain penelitian ini adalah survey cross sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner kepada 100 orang responden. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat yaitu membandingkan skor harapan dan kenyataan, kemudian diaplikasikan kedalam diagram kartesius, analisis bivariat dengan chi kuadrat, dan analisis multivariat dengan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat kepuasan dengan minat kembali menebus resep obat di instalasi farmasi RSUD Budhi Asih. Responden yang menyatakan puas sebanyak 15% responden, sedangkan responden yang menyatakan tidak puas akan pelayanan instalasi farmasi ada sebanyak 85% responden. Frekuensi responden yang berminat menebus kembali resep obat sebanyak 37% responden, sedangkan responden yang tidak berminat sebanyak 63% responden. Variabel yang dominan mempengaruhi minat menebus kembali resep obat yaitu usia, dan dimensi reliability.
Pharmacy is one of terminal health care, pharmaceutical supply lines dealing directly with the community, and is part of a revenue center. The background of this study is the proportion of visits with prescription drug pharmacy low, at less than 50%, and complaints of patients will service pharmacy. This study aimed to find out more detailed level of patient satisfaction of outpatient pharmacy services related to the interests of patients redemption pharmacy prescription drugs at Budhi Asih Hospital. This study is descriptive and analytical with a quantitative approach, this study design was cross sectional survey. Data collected through questionnaires to 100 respondents. Data analysis was performed by univariate analysis that compared the scores of hope and reality, then applied into Cartesian diagrams, bivariate analysis using chi square, and multivariate analysis with logistic regression. Results showed that there was a correlation between satisfaction with the interest to re-purchase a prescription drug in the pharmacy department Budhi Asih Hospital. Respondents who said they were satisfied as much as 15% of respondents, while respondents who expressed dissatisfaction pharmacy service will be there as much as 85% respondents. Frequency of respondents who are interested to re-purchase prescription drugs as many as 37% of respondents, while respondents who are not interested as much as 63% respondents. Dominant variables that influence the intention to re-purchase prescription drugs are the age, and the dimension of reliability.
Read More
Pharmacy is one of terminal health care, pharmaceutical supply lines dealing directly with the community, and is part of a revenue center. The background of this study is the proportion of visits with prescription drug pharmacy low, at less than 50%, and complaints of patients will service pharmacy. This study aimed to find out more detailed level of patient satisfaction of outpatient pharmacy services related to the interests of patients redemption pharmacy prescription drugs at Budhi Asih Hospital.
B-1220
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irmawati Ummi Masitha; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Syaifuddin Zuhri
S-6134
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
