Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36306 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Yuliansya Idul Adha; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Fatma Lestari, Yayan Nurdiansyah
Abstrak: Proses pekerjaan konstruksi suatu bangunan dalam kegiatan operasionalnya selalu terdapat potensi bahaya yang dapat mengancam tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, kebakaran, bahan kimia, ledakan, wabah penyakit dan penyakit akibat kerja yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Penelitian ini merupakan kajian mengenai upaya pencegahan kecelakaan kerja bidang konstruksi. Penelitian ini dilakukan pada proyek pembangunan Teaching Hospital Universitas Indonesia kampus Depok oleh kontraktor pembangunan PT WIKA pada kurun waktu awal juni 2015. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan di dukung dengan metode kualitatif yang dalam menganalisis mendalam mengenai upaya pencegahan kecelakaan kerja bidang konstruksi menggunakan pendekatan model Human Factor Analysis Classification System (HFACS). Adapun yang menjadi hasil penelitian adalah sebagai berikut: Pelaksanaan resources management, organizational climate dan organizational process pada tingkat organizational influences / pengaruh organisasi sudah tinggi pelaksanaannya oleh pihak manajemen. Pelanggaran pada kegiatan inadequate supervision, planned inappropriate operations, failed to correct problems dan supervisory violations pada tingkat unsafe supervision / pengawasan tidak selamat termasuk dalam kategori rendah. Upaya untuk mencegah terjadi kecelakaan kerja masih terdapat lubang / celah kegagalan yang dapat mempengaruhi risiko terjadi kecelakaan kerja yakni pada condition of operators masih terdapat sebesar 9,3 %, crew resources management sebesar 5,2 % dan personal readiness sebesar 4,1 %. Potensi tinggi terjadi kegagalan upaya pencegahan kecelakaan kerja yang disebabkan oleh tindakan errors di sebesar 8,2 %, tindakan pelanggaran sekitar 5,2 %. Penelitian ini merekomendasikan beberapa hal antara lain, merealisasikan program K3, menegakkan peraturan, kebijakan dan komitmen perusahaan,mengadakan pelatihan K3, menjaga konsistensi implementasi K3L, melakukan pengadaan APD yang sesuai standard, mengalokasikan pembiayaan K3L, mengadakan pelayanan kesehatan, dan membangun leadership value.
Kata Kunci: Kecelakaan kerja, konstruksi bangunan, HFACS, pencegahan, keselamatan dan kesehatan kerja
Read More
S-8631
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ovvyasa Wayka Putri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Ridwan Zahdi Sjaaf, Hernandas Chatib, Irma Lestari
Abstrak: Tesis ini mengkaji kecelakaan kerja di PT XYZ tahun 2015 dengan menggunakanframework Human Factors And Classification System (HFACS). Penelitian iniadalah penelitian semi kuantitatif dengan desain studi deskriptif analitik. Hasildari penelitian ini adalah lapisan dari HFACS yang paling banyak kelemahannyaadalah unsafe act sebanyak 11 dari total 11 kecelakaan yang diteliti denganelemen decision error menjadi faktor yang paling lemah, lalu disusul denganprecondition of unsafe act sebanyak 10 dengan elemen conditions of operatormenjadi faktor yang paling banyak berkontribusi terhadap kecelakaan, lalu disusuldengan unsafe supervision sebanyak 7 dengan elemen inadequate leadershipmenjadi faktor yang paling banyak berkontribusi terhadap kecelakaan, dan yangterakhir organizational influences sebanyak 5 dengan elemen organizationalclimate dan resource management menjadi faktor yang paling banyakberkontribusi terhadap kecelakaan. Hasil analisis penelitian menyarankantindakan perbaikan di tiap tingkatan HFACS baik pada perbaikan kegagalan aktifmaupun laten dengan penekanan pada perbaikan di lapisan unsafe act.
Kata kunci:Kecelakaan, analisis kecelakaan, Human Factors And Classification System, HFACS, Comprehensive List Of Causes, CLC
This thesis assess the accident in PT XYZ 2015 by using Human Factors AndClassification System (HFACS) framework. This research is a semi-quantitativewith design study analytical descriptive. Results from this study are a layer ofHFACS most weakness is unsafe act at 11 from total 11 accidents with theelements of decision error becomes a factor of the number one weakness, thenfollowed with a precondition of unsafe act at 10 with the elements of conditions ofservice to be the factors that most contribute to accidents, followed by unsafesupervision at 7 with inadequate leadership element is the factor that mostcontributed to the accident, and the latter as much as 5 of organizationalinfluences with elements of organizational climate and resource management isthe factor that most contributed to the accident. The analysis of research suggestscorrective actions at each level of HFACS, not only for active failures but alsolatent failures with reinforcing corrective action at the unsafe act layer.
Key words:Accident, accident analysis, Human Factors And Classification System, HFACS,Comprehensive List Of Causes, CLC
Read More
T-4701
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shony Erdinal; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Widura Imam Mustopo, Mufti Wirawan
Abstrak:
Tesis ini mengkaji kecelakaan kerja aktivitas pengangkatan pada operasi rig darat di PT X. menggunakan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) periode tahun 2014 - 2018. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil analisis penelitian menunjukkan lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat) yang paling bekerja tidak efektif dengan paling banyak berkontribusi terhadap kecelakaan kerja sebanyak 45 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe errors (kesalahan) yang berkontribusi terbanyak dengan 39 kecelakaan kerja Lapisan organizational influences (pengaruh organisasi) tidak bekerja efektif dengan berkontribusi terbanyak kedua terhadap kecelakaan kerja sebanyak 26 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe organizational process (proses organisasi) yang berkontribusi terbanyak dengan 23 kecelakaan kerja. Lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat) tidak bekerja efektif dengan berkontribusi terbanyak ketiga terhadap kecelakaan kerja sebanyak 16 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe inadequate supervision (pengawasan tidak memadai) dan planned inappropriate operations (perencanaan operasi yang tidak tepat) berkontribusi sama banyak yaitu masing-masing dengan 10 kecelakaan kerja. Lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat) cukup bekerja efektif dengan berkontribusi paling sedikit dengan 8 kecelakaan kerja dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe personnel factors (faktor personalia) berkontribusi terbanyak dengan 7 kecelakaan kerja. Hasil analisis penelitian menyarankan dilakukan tindakan perbaikan di setiap lapisan HFACS sebagai sistem proteksi keselamatan baik latent failures (kegagalan laten) dan active failures (kegagalan aktif) dengan penekanan perbaikan dimulai dahulu dari lapisan organizational influences (pengaruh organisasi) dilanjutkan dengan lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat) dan kemudian lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat), sedangkan perbaikan lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat) menjadi tahapan perbaikan terakhir, selain juga perbaikan pada organizational influences (pengaruh organisasi), lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat), dan lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat) akan memberikan pengaruh positif pada lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat)

The focus of this research is to analyze all occupational accidents of lifting activities on land rig operations in PT ‘X’ using the Human Factor Analysis and Classifications System (HFACS) method in 2014 - 2018. The type of research methodology is qualitative research with a descriptive design. The final result shows that the unsafe act layer is the most ineffective layer that contributing to almost all occupational accident cases which is 45 of 49 total cases of occupational accidents. Error is the sub-layer of unsafe act which has the highest number of contributions to occupational accident cases with total 39 cases. On the other side, the organizational influences layer is the second layer that has high contribution to accident which is 26 of 49 total cases of occupational accidents. The organizational process is the sub-layer of organizational influences which contributing to 23 cases of occupational accident. The third layer which has contribution to accident is unsafe supervision. The unsafe supervision has contribution to accident which is 16 of 49 total cases of occupational accidents. Inadequate supervision and planned inappropriate operation are the sub-layer of inadequate supervision which contribute to the accident cases for 10 cases equally. The layer of preconditions for unsafe actions is the effective layer which has contribution to occupational accident cases which is 8 of 49 total cases of occupational accidents. Personnel factor is the sub-layer of preconditions for unsafe actions which contribute to 7 cases of occupational accidents. According to the result, researcher recommend that corrective action must be taken at each layer of HFACS as the safety protection system, both latent failures and active failures with the emphasis on improvement, which start from the organizational influences layer, followed by the unsafe supervisions layer, and then unsafe actions layer, while the improvement on the layer of precondition for unsafe actions becomes the last improvement. Improvement to organizational influences layer, unsafe act layer, and unsafe supervisions layer will have a positive influence on the layer of precondition for unsafe actions.

Read More
T-5954
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Padhanta Ginting; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Hendra, Henny D. Mayawati
S-8266
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Putri; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Jayadi Pide
Abstrak:
Industri pertambangan dipandang sebagai kategori industry dengan risiko tinggi. Jenis kecelakaan tambang lost time injury dan fatality merupakan kecelakaan dengan dampak major terhadap Grup Perusahaan X. Meskipun telah memiliki pedoman teknis pelaporan dan investigasi insiden serta dilakukan tindakan perbaikan, kecelakaan masih terus terjadi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tren penyebab kecelakaan tambang dan kelemahan sistem pertahanan berdasarkan konsep Human Factors Analysis Classification System in Mining Industry (HFACS-MI) di Grup Perusahaan X tahun 2021-2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan semi kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelemahan sistem pertahanan active faiure yang sering ditemukan adalah tingkat unsafe acts kategori skill-based error. Sedangkan kelemahan sistem pertahanan latent failure yang sering ditemukan adalah tingkat unsafe leadership kategori inadequate leadership. Peneliti menyimpulkan bahwa masih banyak kelemahan pada sistem pertahanan active dan latent failure sehingga pencegahan kecelakaan masih belum optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan di setiap tingkat sistem pertahanan, baik yang ditargetkan kepada individu maupun organisasi, agar kecelakaan dapat dicegah dan risiko kecelakaan dapat dikendalikan

The mining industry has been viewed as a high-risk industry. Types of mining accidents, such as lost time injuries and fatalities, have a significant impact at both the individual and organizational levels. Despite Group Company X having technical guidelines for incident reporting and conducting investigations with corrective actions, accidents continue to occur. Therefore, this study aims to identify trends in the causal factors of mining accidents and find weaknesses in defense systems based on the Human Factors Analysis Classification System in the Mining Industry (HFACS-MI) method. This research method uses an analytical descriptive approach with a semi-quantitative method. The results show that the most common weakness in the active failure defense system is the occurrence of unsafe acts in the skill-based error category. Additionally, the most common weakness in the latent failure defense system is inadequate leadership in the leadership category. The study concludes that there are still numerous weaknesses in the active and latent failure defense systems, which hinder optimal accident prevention. Improvements need to be made at all levels of the defense system, targeting both individuals and organizations, to prevent accidents and effectively control the risk of accidents.
Read More
S-11367
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Winarko; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Fransiscus Fendy Novento, Agra Mohamad Khaliwa
Abstrak:

Industri pertambangan merupakan kegiatan industri yang mempunyai risiko tinggi. Faktor manusia telah diidentifikasi sebagai penyebab paling umum terjadinya kecelakaan besar di industri pertambangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis data kecelakaan di PT. X dengan menggunakan kerangka analisis faktor manusia dan sistem klasifikasi industri pertambangan (HFACS-MI). Metode penelitian ini melibatkan pengumpulan data kualitatif untuk 322 kasus kecelakaan di PT. X yang terjadi pada tahun 2018-2022 dari basis data Sistem Manajemen Insiden yang dikategorikan sebagai cedera yang dapat dicatat. Faktor penyebab kecelakaan ini diberi kode menggunakan kerangka HFACS-MI. Data kecelakaan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa 84% dari seluruh kecelakaan melibatkan pekerja kontraktor dan 16% melibatkan pekerja tetap PT. X. Hasil analisis menggunakan kerangka HFACS-MI menunjukkan bahwa setiap lapisan atau tingkatan memberikan kontribusi terhadap kecelakaan, yaitu faktor luar (44%), pengaruh organisasi (68%), kepemimpinan tidak aman (90%), prasyarat tindakan tidak aman (99%), dan tindakan tidak aman (99,7%). Temuan ini menekankan perlunya fokus pada pengurangan jumlah kesalahan manusia selama operasi penambangan untuk mengurangi tren kecelakaan saat ini. Kerangka kerja HFACS-MI telah terbukti menjadi alat penting untuk analisis kecelakaan yang kuat terhadap faktor manusia di pertambangan.


 

The mining industry is an industrial activity with high risks. Human factors have been identified as the most common cause of major accidents in the mining industry. Therefore, this research aims to analyze accident data at PT. X using the human factors analysis and classification system-mining industry framework (HFACS-MI). This research collected qualitative data for 322 accident cases at PT. X occurring from 2018 to 2022 from the Incident Management System database categorized as recordable injuries. Factors causing the accidents were coded using HFACS-MI framework. Accident data were analyzed using descriptive statistics. The study findings revealed that 84% of all accidents involved contractor workers and 16% involved the PT. X permanent workers. The results of analysis using the HFACS-MI framework show that each layer or level contributes to accidents, namely outside factors (44%), organizational influences (68%), unsafe leadership (90%), preconditions of unsafe acts (99%), and unsafe acts (99.7%). These findings emphasize the need to focus on reducing the number of human errors during mining operations to reduce the current accident trend. The HFACS-MI framework has proven to be a valuable tool for robust accident analysis of human factors in mining.

Read More
T-6918
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adisty Safira Salma Damayanti; Pembimbing : Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Zuly Prima Rizky
Abstrak:
Penelitian ini mengkaji kecelakaan kerja di industri pertambangan yang tergolong dalam kategori cedera, menggunakan metode Human Factors Analysis and Classification System in Mining Industry (HFACS-MI). Industri pertambangan dikenal sebagai sektor dengan risiko tinggi, di mana insiden besar seperti cedera kerja serius dan kematian sering kali terjadi meskipun telah dilakukan investigasi dan tindakan pencegahan.Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab utama kecelakaan berdasarkan pendekatan sistem HFACS-MI yang mengklasifikasikan kesalahan manusia dan kelemahan sistemik dalam organisasi tambang. Berdasarkan data kecelakaan kasus cedera Tahun 2024, analisis dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif terhadap berbagai faktor, dari tingkat operator hingga organisasi.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kecelakaan paling banyak dipicu oleh unsafe acts, terutama skill-based errors, yang menunjukkan kelemahan pada kompetensi atau keterampilan dasar pekerja. Selain itu, faktor latent failures seperti lemahnya supervisi dan ketidakefisienan sistem organisasi juga berperan penting.


This research examines work-related accidents in the mining industry categorized as injury cases, using the Human Factors Analysis and Classification System in Mining Industry (HFACS-MI). The mining industry is known as a high-risk sector, where serious incidents such as major injuries and fatalities frequently occur despite investigations and preventive measures. The study aims to identify the main causal factors of workplace accidents based on the HFACS-MI framework, which classifies human errors and systemic weaknesses within mining organizations. Using data from injury-related accident cases in 2024, both qualitative and quantitative analyses were conducted to assess contributing factors from the operator level up to the organizational level.The findings reveal that the majority of accidents were triggered by unsafe acts, particularly skill-based errors, indicating deficiencies in workers' basic competencies. Additionally, latent failures, such as inadequate supervision and organizational inefficiencies, were also found to play a significant role.
Read More
S-12014
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendarko Daris; Pembimbing: Indri HapsariSusilowati; Penguji: Chandra Satrya, Dadan Erwandi, Heru Swidatmiko, Akhmad Nurulhuda
Abstrak: HFACS ( Human Factor Analysis and Classification System ) adalah pendekatan yang telah banyak di gunakan dalam melakukan investigasi kecelakaan untuk mengetahui kelemahan dalam suatu organisasi. HFACS ini terdiri dari empat lapisan yaitu unsafe act, precondition to unsafe act, unsafe supervision dan organizational influence. Kecelakaan dapat di cegah dengan menutup lubang pada lapisan pertahanan. Prinsip HFACS ini implementasikan untuk mengidentifikasi faktor yang menjadi kelemahan pada perilaku mengemudi yang tidak aman tahun 2020 di PT. X, sebuah perusahaan minyak di wilayah Indonesia. Hasil penelitian mendapatkan bahwa pengemudi yang melakukan perilaku tidak aman merupakan pengemudi dengan

HFACS (Human Factor Analysis and Classification System) is an approach that has been widely used in investigating accidents to find out weaknesses in an organization. This HFACS consists of four layers, namely unsafe act, precondition to unsafe act, unsafe supervision and organizational influence. Accidents can be prevented by closing holes at each defense layer. The HFACS principle is  implemented to identify factors that contribute at unsafe driving behavior at PT. X, an oil company in Indonesia. Based on research finding, drivers who commit unsafe behavior are drivers with age 44 - 55 years (77.7%), experience over 16 years (63.1%), carried out on public roads (80.6%), on the afternoon shift (81, 6%), with a position as a team member (64.1%) and in the northern part of the company (56.3%). Weaknesses at the unsafe act level are decision errors (58.3%) ie not consistently applying risk assessment and not implementing safe work procedures. Weakness at level 2 is adverse mental state (52.4%), namely lack of focus in driving. Weakness at level 3 is inadequate supervision (65%) lack of consistent level of supervision to conduct safety supervision. Weakness at level 4 is the lack of consistency in the implementation of operational processes (62.1%), namely the implementation of risk assessment in an organization
Read More
T-5876
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Theresia Iin Wulandari; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Imam Santoso, Machfud
Abstrak:
Industri minyak dan gas bumi merupakan sektor dengan tingkat risiko keselamatan kerja yang tinggi akibat kompleksitas operasi, penggunaan teknologi bertekanan tinggi, serta paparan energi berbahaya. Meskipun indikator kinerja keselamatan seperti Total Recordable Injury Rate (TRIR) menunjukkan tren perbaikan, kecelakaan dengan konsekuensi tinggi seperti fatality masih tetap terjadi. Kejadian fatality tidak hanya menyebabkan kehilangan nyawa, tetapi juga berdampak terhadap aspek operasional, finansial, dan reputasi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kejadian fatality pada Perusahaan X selama periode tahun 2021–2025 menggunakan metode Human Factors Analysis and Classification System (HFACS). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif menggunakan data sekunder berupa laporan investigasi kejadian fatality. Unit analisis penelitian terdiri atas 12 kejadian fatality yang terjadi pada periode tahun 2021–2025. Analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan faktor penyebab kecelakaan ke dalam empat level HFACS, yaitu Unsafe Acts, Preconditions for Unsafe Acts, Unsafe Supervision, dan Organizational Influences. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan pada level Unsafe Acts adalah Routine Violations dan Perceptual Errors (83%) dan Decision Errors (50%). Pada level Preconditions for Unsafe Acts, faktor dominan adalah Communication, Coordination and Planning (83%), Tools/Technology (75%), dan Mental States (75%). Pada level Unsafe Supervision, faktor Inadequate Supervision ditemukan pada seluruh kasus (100%), sedangkan Planned Inappropriate Operations dan Failure to Correct Known Problem masing-masing ditemukan pada 92% kasus. Pada level Organizational Influences, faktor Operational Process dan Resource Management ditemukan pada seluruh kasus (100%), sedangkan Organizational Culture ditemukan pada 92% kasus. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar korban fatality merupakan pekerja kontraktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejadian fatality pada industri migas merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan mulai dari level organisasi, pengawasan, kondisi kerja, hingga tindakan individu. Pendekatan HFACS mampu mengidentifikasi faktor-faktor laten yang berkontribusi terhadap terjadinya fatality sehingga dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pencegahan kecelakaan berkonsekuensi tinggi pada industri migas.

The oil and gas industry is recognized as a high-risk sector due to operational complexity, high-pressure technologies, and exposure to hazardous energy sources. Although safety performance indicators such as the Total Recordable Injury Rate (TRIR) have shown improvement trends, high-consequence incidents such as fatalities continue to occur. Fatal accidents not only result in the loss of life but also have significant operational, financial, and reputational impacts on organizations. This study aimed to analyze the contributing factors of fatal occupational accidents in Company X during the period 2021–2025 using the Human Factors Analysis and Classification System (HFACS). This study employed a descriptive-analytic design using qualitative and quantitative approaches based on secondary data obtained from fatal accident investigation reports. The unit of analysis consisted of 12 fatal incidents that occurred between 2021 and 2025. Accident contributing factors were classified according to the four HFACS levels: Unsafe Acts, Preconditions for Unsafe Acts, Unsafe Supervision, and Organizational Influences. The results revealed that the most dominant factor within the Unsafe Acts level were Routine Violations and Perceptual Errors (83%), followed by Decision Errors (50%). At the Preconditions for Unsafe Acts level, the dominant factors were Communication, Coordination and Planning (83%), Tools/Technology (75%), and Mental States (75%). Within the Unsafe Supervision category, Inadequate Supervision was identified in all fatal cases (100%), while Planned Inappropriate Operations and Failure to Correct Known Problem were identified in 92% of the cases. At the Organizational Influences level, Operational Process and Resource Management were found in all cases (100%), whereas Organizational Culture was identified in 92% of the cases. The study also found that most fatality victims were contractor personnel. This study concludes that fatal occupational accidents in the oil and gas industry are the result of interactions among organizational, supervisory, workplace, and individual factors. HFACS proved effective in identifying latent conditions contributing to fatal accidents and can therefore serve as a basis for developing high-consequence risk prevention strategies in the oil and gas industry.
Read More
T-7693
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Yahya Tisna Wijaya; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Tri Krianto, Dian Ferdian, Mery Aderita
Abstrak: Tesis ini membahas studi kasus kecelakaan kerja akibat gas beracun di tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian desain deskriptif dan analisis dilakukan menggunakan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS). Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat 3 kasus kecelakaan akibat gas beracun di seluruh blok penambangan bawah tanah PTFI selama periode 2019-2022 dengan faktor risiko berasal dari tindakan tidak aman yang dikategorikan dalam Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) yang terbagi menjadi empat yaitu organizational influences, unsafe leadership, precondition for unsafe acts, dan unsafe acts. Pada penelitian didapatkan hasil kegagalan sistem pertahanan pada pengaruh organisasi dalam kasus keracunan gas beracun di dominasi kategori resource management berjumlah 7 kegagalan (57%), faktor-faktor penyumbang kegagalan sistem manajemen antara lain SOP, safety sign, Planned Inspection, PJO, Kebijakan K3, Data base incident management system dan komunikasi saat penyampaian instruksi kerja. Tingkat Unsafe Supervision dalam kasus keracunan gas beracun berjumlah 11 kegagalan (55%) dengan dominasi oleh kategori Supervisory Violation, faktor-faktor penyumbang kegagalan sistem manajemen antara lain Neil George Checklist, Bulkhead Ventilation, Re-entry Checklist, Airlock Door, Vent bag, Supervisor Inspection, Alat Pelindung Diri, Pengawasan di lapangan, kelayakan sistem ventilasi di lokasi kerja, observasi pengawas ke pekerja terkait pengoperasian portable gas detector dan instruksi kerja. Tingkat Precondition for Unsafe Acts dalam kasus keracunan gas beracun didominasi kategori Personal Readiness berjumlah 8 kegagalan (38%), faktor-faktor penyumbang kegagalan sistem manajemen antara lain peralatan blasting, PDA, pemahaman bahasa pengantar, emission test alat berat, ceklist stopevent dan ventilasi di area blasting, tidak mempedulikan alarm gas detector. Tingkat Unsafe Acts dalam kasus keracunan gas beracun berjumlah 11 kegagalan (46%) dari dominasi kategori Violation Routine, faktor-faktor penyumbang kegagalan sistem manajemen antara lain chemical handling, prosedur yang tidak memadai, sign nilai ambang batas dalam satu bahasa, dumper vent terhalang lumpur dan vent bag rusak, fixed gas detector belum terkalibrasi dan tertutup lumpur, evaluasi pelatihan tidak konsisten dilakukan, barikade area, tidak mengikuti re-entry protocol. Perusahaan disarankan untuk melakukan evaluasi pada program penanganan kecelakaan akibat gas beracun.
This thesis discusses case studies of work accidents due to toxic gas in PT Freeport Indonesia's underground mine. This research is a descriptive design research and the analysis was carried out using the Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) method. The results of the study found that there were 3 cases of accidents due to toxic gas in all PTFI underground mining blocks during the 2019-2022 period with risk factors originating from unsafe actions which were categorized in the Human Factor Analysis and Classification System (HFACS), which was divided into four, namely organizational influences, unsafe leadership, precondition for unsafe acts, and unsafe acts. In the study, the results of the failure of the defense system on organizational influence in cases of poison gas poisoning were dominated by the category of resource management totaling 7 failures (57%), contributing factors to the failure of the management system including SOP, safety sign, Planned Inspection, PJO, K3 Policy, Database incident management system and communication when submitting work instructions. . The level of Unsafe Supervision in cases of poison gas poisoning amounted to 11 failures (55%) with dominance by the Supervisory Violation category, contributing factors to management system failure including the Neil George Checklist, Bulkhead Ventilation, Re-entry Checklist, Airlock Door, Vent bag, Supervisor Inspection, Personal Protective Equipment, Supervision in the field, feasibility of the ventilation system at the work site, supervisor's observation of workers regarding the operation of portable gas detectors and work instructions. The level of Precondition for Unsafe Acts in cases of poison gas poisoning was dominated by the Personal Readiness category with 8 failures (38%), contributing factors to management system failure including blasting equipment, PDA, understanding of the language of instruction, emission test of heavy equipment, stop vent checklist and ventilation in the blasting area, ignoring the gas detector alarm. The level of Unsafe Acts in cases of poison gas poisoning amounted to 11 failures (46%) from the dominance of the Violation Routine category, contributing factors to management system failure including chemical handling, inadequate procedures, sign threshold values ​​in one language, dumper vents blocked by mud and the vent bag is damaged, the fixed gas detector has not been calibrated and is covered in mud, inconsistent training evaluations are carried out, barricaded areas, do not follow the re-entry protocol. Companies are advised to evaluate the program for handling accidents caused by toxic gasses.
Read More
T-6552
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive