Ditemukan 35153 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nofika Aisyah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Rahmawati
Abstrak:
Weight cycling adalah siklus berulang penurunan berat badan dengan sengaja melalui diet yang diikuti dengan kenaikan berat badan kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan terhadap kejadian weight cycling pada mahasiswi S1 Reguler Angkatan 2014 Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Indonesia Tahun 2015. Variabel yang diteliti adalah keseimbangan asupan saat diet, frekuensi makan, aktivitas olahraga, dukungan sosial, dan eating self-efficacy. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Metode pengambilan sampel adalah systematic random sampling yang melibatkan 130 orang mahasiswi S1 Reguler Angkatan 2014 Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora Univeritas Indonesia yang berusia 16-20 tahun pada April-Mei 2015. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner secara mandiri dan wawancara semiquantitative food frequency questionnaire. Hasil penelitian menunjukkan 40,8% responden mengalami weight cycling dan sebanyak 73,6% weight cycler mengalami weight cycling tingkat ringan. Uji chi square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian weight cycling dengan keseimbangan asupan saat diet (OR=4,013), frekuensi makan (OR=2,938), aktivitas olahraga (OR=4,243 dan OR=3,250), dan dukungan sosial (OR=3,866). Hasil uji regresi logistik ganda model prediksi menunjukkan bahwa aktivitas olahraga, terutama kelompok responden kurang aktif berolahraga (OR=6,597) merupakan faktor dominan terhadap kejadian weight cycling pada mahasiswi S1 Reguler Angkatan 2014 Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Indonesia Tahun 2015. Kata Kunci : Weight cycling, mahasiswi, keseimbangan asupan saat diet, frekuensi makan, aktivitas olahraga, dukungan sosial, eating self-efficacy.
Read More
S-8637
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Intan Apriyani; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Diah Muliawati Utari, Hera Ganefi
Abstrak:
Remaja terutama remaja perempuan merupakan salah satu kelompok yang sangat memperhatikan citra tubuhnya. Seseorang yang tidak puas dengan bentuk tubuhnya cenderung melakukan upaya-upaya untuk mencapai bentuk tubuh yang dianggap ideal. Upaya-upaya tersebut apabila dilakukan dengan cara yang tidak tepat dapat memicu timbulnya eating disorder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan citra tubuh pada mahasiswi S1 Reguler Rumpun Sosial dan Humaniora Universitas Indonesia angkatan 2012- 2014 tahun 2015. Pengambilan data dilakukan pada bulan April tahun 2015 dengan menggunakan desain studi cross sectional. Sebanyak 191 mahasiswi menjadi sampel dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner untuk melihat persepsi citra tubuh, perilaku diet, pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, rasa percaya diri, pengaruh keluarga, pengaruh teman sebaya, dan pengaruh media. Selain itu, dilakukan juga pengukuran antropometri untuk melihat Indeks Massa Tubuh (IMT) responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 81,2% mahasiswi mengalami ketidakpuasan bentuk tubuh. Terdapat hubungan bermakna antara IMT (p-value = 0,001), rasa percaya diri (p-value = 0,018), pengaruh keluarga (p-value = 0,040), dan pengaruh teman sebaya (p-value = 0,001) dengan citra tubuh. Mahasiswi yang melakukan diet sebagai upaya untuk mencapai bentuk tubuh ideal disarankan untuk melakukan konsultasi kepada dokter atau ahli gizi agar diet yang dilakukan tepat dan sehat. Kata Kunci: Remaja, citra tubuh, mahasiswi, ketidakpuasan bentuk tubuh, tubuh ideal.
Read More
S-8738
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Latifah; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rahmawati
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan terhadap kecukupan asupan zat besi pada mahasiswa S-1 Reguler Angkatan 2013 Rumpun IlmuKesehatan Universitas Indonesia Tahun 2014. Desain yang digunakan adalahcross sectional, melibatkan 290 (perempuan=214; laki-laki=76) mahasiswa S-1Reguler Angkatan 2013 RIK UI yang berusia 17-20 tahun pada April-Mei 2014.Metode pengambilan sampel adalah proporsional cluster random sampling.Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner dan wawancara asupan makanan 2x24 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa 83.8% responden tidak tercukupi kebutuhan zat besinya. Rata-rata asupan zat besi pada perempuan danlaki-laki adalah 12.3 mg/hari dan 16.0 mg/hari. Uji chi square menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin (OR=7.56), perilaku konsumsi heme dan non heme (OR=2.86), konsumsi suplemen zat besi(OR=4.73), persepsi citra tubuh (OR=2.38), dan keterpaparan media massa(OR=3.01) terhadap kecukupan asupan zat besi. Analisis regresi logistik gandamenunjukan bahwa jenis kelamin (OR=19.17) dan konsumsi suplemen zat besi(OR=11.28) merupakan faktor dominan kecukupan asupan zat besi padamahasiswa S-1 Reguler Angkatan 2013 RIK UI Tahun 2014.
Kata Kunci :Jenis Kelamin, Perilaku Konsumsi Heme dan Non Heme, Konsumsi SuplemenZat Besi, Persepsi Citra Tubuh, Keterpaparan Media Massa, Kecukupan AsupanZat Besi.
Read More
Kata Kunci :Jenis Kelamin, Perilaku Konsumsi Heme dan Non Heme, Konsumsi SuplemenZat Besi, Persepsi Citra Tubuh, Keterpaparan Media Massa, Kecukupan AsupanZat Besi.
S-8396
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizka Kharisma Putri; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Ayu Dewi Sartika, Tiara Lutfie
S-8375
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lasepa, Wanda / Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Yvonne Magdalena Indrawani, Adhi Darmawan
Abstrak:
Anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin dalam tubuh di bawah normal sehingga berkurangnya kadar kualitas dan kuantitas sel darah merah. Perempuan merupakan golongan yang rentan terkena anemia karena mengalami menstruasi setiap bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi, sosial ekonomi, pengetahuan dan faktor lainnya dengan kejadian anemia pada mahasiswi RIK UI angkatan 2014. Variabel independen yang diteliti adalah sosial ekonomi (status tempat tinggal, pendidikan Ibu, pekerjaan orang tua, uang saku), menstruasi, pengetahuan anemia, prilaku konsumsi protein hewani, buah dan sayuran, prilaku konsumsi kopi dan teh serta asupan zat gizi (zat besi, vitamin C dan serat) dan status gizi. Desain studi penelitian yaitu cross sectional dengan analisis chi square. Penelitian ini dilakukan pada 136 responden dan pada bulan April 2014. Hasil penelitian menunjukkan 41.18% penderita anemia (anemia ringan (19.12%) dan anemia sedang (22.06%)). Variabel yang memiliki perbedaan proporsi yang bermakna dengan kejadian anemia adalah tempat tinggal, uang saku, pengetahuan tentang anemia, konsumsi protein hewani, konsumsi buah dan asupan zat gizi.
Read More
S-8753
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nabila Qotrun Nada; PembimnbingL: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Imas Arumsari
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Night Eating Syndrome (NES) adalah gangguan makan dengan peningkatan asupan makanan malam hari dan gangguan tidur, sering dikaitkan dengan stres, kualitas tidur buruk, serta disfungsi ritme sirkadian. Mahasiswa kesehatan memiliki risiko tinggi akibat tekanan akademik dan gaya hidup tidak teratur. Tujuan: Mengetahui prevalensi NES serta hubungannya dengan jenis kelamin, status gizi, kualitas dan durasi tidur, ritme sirkadian, depresi, stres, kecemasan, dan tempat tinggal pada mahasiswa S1 Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia angkatan 2024. Metode: Penelitian potong lintang dengan 148 responden. Data dikumpulkan menggunakan NEQ, DASS-21, PSQI, dan MEQ; dianalisis univariat dan bivariat (uji chi-square). Hasil: Prevalensi NES sebesar 37,8%. Status gizi gemuk memiliki hubungan signifikan dan bersifat protektif (p=0,019). Selain itu, NES berhubungan signifikan dengan depresi sedang (p=0,025) dan berat (p=0,001), kecemasan berat (p=0,001), stres berat (p=0,002), kualitas tidur buruk (p=0,042), ritme sirkadian tipe malam (p=0,001) dan netral (p=0,011), serta tempat tinggal tidak bersama keluarga (p<0,001). Jenis kelamin (p=0,770), status gizi kurus (p=0,209), dan durasi tidur (p=0,334) tidak signifikan. Kesimpulan: NES cukup tinggi ditemukan pada mahasiswa kesehatan dan berhubungan terutama dengan faktor psikologis, ritme sirkadian, kualitas tidur, serta tempat tinggal. Diperlukan upaya promotif dan preventif kampus, seperti edukasi manajemen stres, sleep hygiene, dan pemantauan kesehatan mental.
Background: Night Eating Syndrome (NES) is an eating disorder characterized by increased food intake at night and sleep disturbances. NES is often linked to psychological stress, poor sleep quality, and circadian rhythm disruption. Health science students are at higher risk due to academic pressure and irregular lifestyles. Objective: To determine NES prevalence and its association with gender, nutritional status, sleep quality and duration, circadian rhythm, depression, stress, anxiety, and living arrangements among undergraduate students in the Health Sciences Cluster, Universitas Indonesia, class of 2024. Methods: Cross-sectional study with 148 respondents using NEQ, DASS-21, PSQI, and MEQ questionnaires. Data were analyzed with univariate and bivariate (chi-square) methods. Results: NES prevalence was 37.8%. Overweight status was significantly associated and found to be protective (p=0.019). NES was also significantly associated with moderate depression (p=0.025), severe depression (p=0.001), severe anxiety (p=0.001), severe stress (p=0.002), poor sleep quality (p=0.042), evening-type circadian rhythm (p=0.001), neutral type (p=0.011), and living apart from family (p<0.001). No significant association was found with gender (p=0.770), underweight status (p=0.209), or sleep duration (p=0.334). Conclusion: NES was relatively common among health science students and significantly associated with psychological factors, circadian rhythm, sleep quality, and living arrangements. Preventive and promotive interventions are necessary to reduce the risk of NES and improve student well-being. Preventive and promotive interventions are necessary to reduce the risk of NES and improve student well-being.
Background: Night Eating Syndrome (NES) is an eating disorder characterized by increased food intake at night and sleep disturbances. NES is often linked to psychological stress, poor sleep quality, and circadian rhythm disruption. Health science students are at higher risk due to academic pressure and irregular lifestyles. Objective: To determine NES prevalence and its association with gender, nutritional status, sleep quality and duration, circadian rhythm, depression, stress, anxiety, and living arrangements among undergraduate students in the Health Sciences Cluster, Universitas Indonesia, class of 2024. Methods: Cross-sectional study with 148 respondents using NEQ, DASS-21, PSQI, and MEQ questionnaires. Data were analyzed with univariate and bivariate (chi-square) methods. Results: NES prevalence was 37.8%. Overweight status was significantly associated and found to be protective (p=0.019). NES was also significantly associated with moderate depression (p=0.025), severe depression (p=0.001), severe anxiety (p=0.001), severe stress (p=0.002), poor sleep quality (p=0.042), evening-type circadian rhythm (p=0.001), neutral type (p=0.011), and living apart from family (p<0.001). No significant association was found with gender (p=0.770), underweight status (p=0.209), or sleep duration (p=0.334). Conclusion: NES was relatively common among health science students and significantly associated with psychological factors, circadian rhythm, sleep quality, and living arrangements. Preventive and promotive interventions are necessary to reduce the risk of NES and improve student well-being. Preventive and promotive interventions are necessary to reduce the risk of NES and improve student well-being.
S-12040
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jusephina; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Fatmah, Marudut
Abstrak:
Literasi gizi adalah tingkatan dimana seseorang memiliki kapasitas untuk menperoleh, memproses, dan memahami informasi dasar seputar gizi. Literasi gizi dapat memengaruhi pembentukan pola makan pada usia remaja dan dewasa muda. Skripsi ini meneliti tingkat literasi gizi pada mahasiswa untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengannya, antara lain jenis kelamin, rumpun ilmu kesehatan dan non kesehatan, dan tingkat uang saku. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional kepada 373 mahasiswa sarjana Universitas Indonesia angkatan 2017 dengan menggunakan instrumen kuesioner yang terdiri dari tiga domain literasi fungsional, interaktif, dan kritikal. Data dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 47.2% responden memiliki literasi gizi tidak adekuat. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara rumpun ilmu kesehatan dan non kesehatan dengan tingkat literasi gizi total (p = 0.000, OR = 4.6). Rumpun ilmu kesehatan dan non kesehatan juga berhubungan bermakna dengan literasi gizi fungsional (p = 0.000, OR = 2.9), dengan literasi gizi interaktif (p = 0.002, OR = 2.5), dan dengan literasi gizi kritikal (p = 0.001, OR = 2.7). Kata kunci: Jenis Kelamin, Literasi gizi, Mahasiswa sarjana tahun pertama, Rumpun ilmu kesehatan dan non kesehatan, Uang saku. Nutrition literacy is defined as the degree to which individual has the capacity to obtain, process, and understand about basic nutrition information. Nutrition literacy can affect the formation of different diet in adolescents and young adults. This thesis examines the level of nutrition literacy among first-year undergraduate students to know about the factors associated with it, including gender, clusters of health and non-health science, and allowance. This study used cross-sectional design to 373 first-year undergraduate students in University of Indonesia by using the questionnaire instrument consisting of three domains: functional, interactive, and critical. Data were analyzed by chi-square test. The result showed that 47,2% of respondents had inadequate nutrition literacy. The result of bivariate analysis showed that there is a significant correlation between health science and non health science cluster with the total nutrition literacy rate (p = 0.000, OR = 4.6). Health science and non health science cluster were also significantly associated with the functional nutrition literacy (p = 0.000, OR = 2.9), interactive nutrition literacy (p = 0.002, OR = 2.5), and critical nutrition literacy (p = 0.001, OR = 2.7). Key words: Allowance, First-year undergraduate students, Gender, Health science and non health science cluster, Nutrition Literacy
Read More
S-9748
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aschella Febrina; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Dewi Damayanti
S-7260
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
kristina adjie; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Sada Rasmada
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan zat besi mahasiswi berdasarkan faktor konsumsi (konsumsi lauk hewani, konsumsi lauk nabati, konsumsi sayur-sayuran, konsumsi buah-buahan, konsumsi Ultra Processed Food) dan faktor individu (Sikap terhadap konsumsi daging merah, pengaruh sosial media, pengetahuan gizi, uang saku, jenis tempat tinggal). Desain dari penilitian ini adalah cross-sectional dengan 147 responden mahasiswi S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Angkatan 2021, 2022, 2023. Pemilihan responden dilakukan berdasarkan simple random sampling dan pengambilan data adalah secara daring dengan Zoom. Pengerjaan kuesioner penelitian adalah menggunakan Google Form, dan Spreadsheet untuk Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode Uji T Independen. Hasil analisis univariat menemukan bahwa rata-rata asupan zat besi adalah 15.35±7.30 mg per hari dengan 70.1% mahasiswi belum mencukupi kebutuhan zat besi mereka. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat perbedaaan asupan zat besi brdasarkan konsumsi lauk hewani, konsumsi lauk nabati, konsumsi sayur-sayuran, konsumsi buah-buahan, konsumsi Ultra Processed Food, dan jenis tempat tinggal.
This study aims to determine the differences in iron intake among female college students based on consumption factors (animal-based side dishes, plant-based side dishes, vegetables, fruits, Ultra Processed Food) and individual factors (attitude towards red meat consumption, social media influence, nutrition knowledge, allowance, type of residence). The design of this study is cross-sectional, involving 147 undergraduate regular students from the Faculty of Public Health class of 2021, 2022, and 2023. Respondents were selected based on simple random sampling, and data collection was conducted online using Zoom. The research questionnaire was administered using Google Forms and Spreadsheets for the Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire. The data obtained were analyzed using the Independent T-Test method. Univariate analysis results showed that the average iron intake was 15.35±7.30 mg per day, with 70.1% of the female students not meeting their iron requirements. The study found differences in iron intake based on the consumption of animal-based side dishes, plant-based side dishes, vegetables, fruits, Ultra Processed Food, and type of residence.
S-11663
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jauza Nawal Hadi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Asih Setiarini, Dian Kusumadewi
Abstrak:
Read More
Kerawanan pangan pada mahasiswa merupakan isu kesehatan masyarakat yang memiliki dampak buruk pada kesehatan dan performa akademik mahasiswa, terutama pada mahasiswa tahun pertama yang sedang mengalami masa transisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fakto-faktor yang berhubungan dengan status kerawanan pangan pada mahasiswa S1 Reguler tahun pertama Rumpun Ilmu Kesehatan dan Non-Kesehatan di Universitas Indonesia tahun 2026. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan pada bulan Mei 2026 menggunakan kuesioner daring dengan teknik convenience sampling. Sebanyak 312 responden dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kerawanan pangan pada tahun pertama sebesar 40,7%. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan signifikan antara status sebagai generasi pertama yang berkuliah (p =0,001), tempat tinggal (p=0,005), jenis kelamin (p=0,015), dan uang saku (p=0,045) dengan status kerawanan pangan. Hasil analisis multivariat menunjukkan mahasiswa yang tinggal secara indekos memiliki risiko 3,074 kali lebih besar untuk mengalami kerawanan pangan dibandingkan mahasiswa yang tinggal dengan orang tua (p= 0,000; 95% CI = 1.738 – 5.437). Oleh karena itu, Universitas Indonesia perlu menginisiasi program berupa hunian mahasiswa adaptif berbasis kemampuan finansial mahasiswa guna memitigasi risiko kerawanan pangan tersebut.
Food insecurity among university students represents a critical public health issue that adversely affects both health outcomes and academic performance, particularly among first-year students navigating transitional life stages. This study aims to determine the factors associated with food insecurity status among first-year regular undergraduate students across the Health and Non-Health Sciences clusters at Universitas Indonesia in 2026. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. Data were collected in May 2026 using an online questionnaire distributed via convenience sampling. A total of 312 valid respondents were analyzed utilizing Chi-square tests and multiple logistic regression. The findings revealed that the prevalence of food insecurity among first-year students was 40.7%. Bivariate analysis indicated significant associations between food insecurity status and being a first-generation college student (p = 0.001), place of residence (p = 0.005), gender (p = 0.015), and monthly allowance (p = 0.045). Furthermore, multivariate analysis demonstrated that students living in off-campus housing faced a 3.074 times higher risk of experiencing food insecurity compared to those residing with their parents (p = 0.000; 95% CI = 1.738 - 5.437). Consequently, Universitas Indonesia needs to initiate adaptive student housing programs tailored to students' financial capacities as a targeted intervention to mitigate the risk of food insecurity.
S-12414
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
