Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32258 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurrahmi ika aminy Putri; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Fatmah, Ruri Harini
S-8821
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lini Anisfatus Sholinah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Susi Desminarti, Wahyu Kurnia
S-7828
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rissa Rizkiia Z; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Asih Setiarini, Diah Mulyawati Utari, Daden Setiawan, Rahmawati
Abstrak:
Anemia pada masa menyusui merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat berdampak tidak hanya pada ibu, tetapi juga pada bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status anemia ibu menyusui di Puskesmas Terpilih di Wilayah Kota dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain kohort retrospektif dan menggunakan data sekunder. Sampel penelitian adalah ibu menyusui dengan usia bayi 0–3 bulan yang berjumlah 120 ibu menyusui berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Analisis data terdiri dari analisis univariat, bivariat, dan multivariat berdasarkan masing-masing wilayah. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa rata-rata kadar Hb ibu menyusui di Kabupaten Bogor adalah 12,0 g/dL dan di Kota Bogor 12,3 g/dL. Proporsi ibu menyusui yang mengalami anemia secara keseluruhan sebesar 50,8%, dengan proporsi lebih tinggi di Kabupaten Bogor sebesar 56,1% dibandingkan Kota Bogor sebesar 46,0%. Hasil analisis bivariat secara keseluruhan di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi (p value = 0,018; OR = 2,418; 95% CI: 1,157–5,052), asupan protein (p value = 0,029; OR = 2,257; 95% CI: 1,082–4,711), asupan Fe (p value = 0,034; OR = 3,165; 95% CI: 1,051–9,534), dan riwayat anemia saat hamil (p value = 0,007; OR = 2,839; 95% CI: 1,312–6,141) dengan status anemia ibu menyusui. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan anemia ibu menyusui di Kabupaten Bogor adalah asupan energi, yaitu ibu menyusui dengan asupan energi kurang berisiko 11,440 kali lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan ibu menyusui dengan asupan energi tidak kurang setelah dikontrol oleh variabel lain. Secara keseluruhan di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor, faktor dominan yang berhubungan dengan anemia ibu menyusui adalah asupan Fe, yaitu ibu menyusui dengan asupan Fe kurang berisiko 3,799 kali lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan ibu menyusui dengan asupan Fe tidak kurang setelah dikontrol oleh asupan energi, asupan protein, riwayat anemia saat hamil, dan wilayah tempat tinggal. Oleh karena itu, diperlukan penguatan skrining anemia sejak kehamilan hingga masa menyusui, pemantauan kadar Hb ibu menyusui, peningkatan edukasi konsumsi makanan bergizi agar kebutuhan gizi ibu dapat terpenuhi selama masa menyusui

Anemia during breastfeeding is a public health issue that can affect not only the mother but also the infant. This study aims to identify factors associated with anemia status among breastfeeding mothers at selected health centers in the City and Regency of Bogor, West Java, in 2025. This study is a quantitative observational analytical study with a retrospective cohort design using secondary data. The study sample consisted of 120 breastfeeding mothers with infants aged 0–3 months, selected based on established inclusion and exclusion criteria. Data analysis included univariate, bivariate, and multivariate analyses for each region. The results of the univariate analysis showed that the average Hb level of breastfeeding mothers in Bogor Regency was 12.0 g/dL and in Bogor City 12.3 g/dL. The overall proportion of breastfeeding mothers with anemia was 50.8%, with a higher proportion in Bogor Regency at 56.1% compared to Bogor City at 46.0%. Overall bivariate analysis results in the City and Regency of Bogor showed a significant association between energy intake (p-value = 0.018; OR = 2.418; 95% CI: 1.157–5.052), protein intake (p-value = 0.029; OR = 2.257; 95% CI: 1.082–4.711), iron intake (p-value = 0.034; OR = 3.165; 95% CI: 1.051–9.534), and a history of anemia during pregnancy (p-value = 0.007; OR = 2.839; 95% CI: 1.312–6.141) and the anemia status of breastfeeding mothers. Multivariate analysis results indicate that the dominant factor associated with anemia in breastfeeding mothers in Bogor Regency is energy intake; specifically, breastfeeding mothers with inadequate energy intake are 11.440 times more likely to experience anemia compared to those with adequate energy intake, after controlling for other variables. Overall, in the City and Regency of Bogor, the dominant factor associated with anemia in breastfeeding mothers was iron intake; specifically, breastfeeding mothers with insufficient iron intake were 3.799 times more likely to experience anemia compared to those with adequate iron intake, after controlling for energy intake, protein intake, history of anemia during pregnancy, and residential area. Therefore, it is necessary to strengthen anemia screening from pregnancy through the breastfeeding period, monitor breastfeeding mothers’ Hb levels, and improve education on nutritious food consumption to ensure that mothers’ nutritional needs are met during the breastfeeding period.
Read More
T-7556
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nissa Thoyyiba Oktavia; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Anies Irawati
Abstrak: Menyusui adalah kegiatan dimana bayi menerima ASI langsung dari payudara maupun ASI perah. Ibu yang sedang menyusui sebaiknya meningkatkan asupan gizinya karena terjadi peningkatan kebutuhan gizi ibu saat menyusui dibandingkan saat hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku makan ibu hamil dan menyusui dalam rangka pemenuhan kebutuhan gizinya. Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok tahun 2015 ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode RAP (Rapid Assessment Procedure). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi ibu menyusui yang memberikan ASI predominan secara umum lebih tinggi dibanding ibu menyusui yang memberikan ASI parsial, meski keduanya cenderung mengalami penurunan konsumsi saat menyusui dibanding saat hamil. Faktor individu yang membedakan antara ibu menyusui yang memberikan ASI predominan dan parsial adalah umur, pengetahuan, motivasi, dan keadaan kesehatan selama menyusui. Sedangkan, faktor lingkungan yang mempengaruhi adalah perawatan pranatal, kurangnya peran tenaga kesehatan dalam menyampaikan informasi, pentingnya peran keluarga, keterpaparan terhadap media dan kemudahan dalam mengakses makanan. Kata Kunci : Perilaku Makan, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Metode Kualitatif
Read More
S-8683
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deva Agustina; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Sugiatmi, Trini Sudiarti
Abstrak:
Kabupaten Gunungkidul menunjukkan prevalensi anemia ibu hamil yang relatif tinggi meskipun cakupan program suplementasi zat besi telah mencapai 100%. Kondisi tersebut menunjukkan adanya faktor lain yang memengaruhi kejadian anemia salah satunya kemungkinan faktor sosial-budaya berupa praktik food taboo selama kehamilan. Daerah ini dikenal memiliki budaya dan kepercayaan lokal yang masih kuat, termasuk mengenai larangan mengonsumsi jenis makanan tertentu selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor perilaku food taboo dan hubungannya dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data perilaku food taboo diperoleh melalui wawancara sedangkan data anemia diperoleh dari hasil pemeriksaan antenatal care (ANC). Responden penelitian adalah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode multistage random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku food taboo berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Faktor yang berhubungan dengan perilaku food taboo adalah pengetahuan sebagai faktor predisposisi dan dukungan keluarga sebagai faktor penguat. Hasil analisis multivariat menunjukkan dukungan keluarga merupakan faktor yang paling dominan. Praktik food taboo pada ibu hamil berupa pantangan terhadap beberapa jenis makanan sumber protein hewani berpotensi menurunkan asupan zat gizi sehingga meningkatkan risiko anemia. Dukungan keluarga menyebabkan kecenderungan ibu hamil untuk melakukan perilaku food taboo karena adanya anjuran atau kepercayaan yang dianut keluarga serta keinginan ibu untuk menjaga keharmonisan dan menghindari konflik dalam keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku food taboo berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Pengetahuan dan dukungan keluarga merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku food taboo, dengan dukungan keluarga sebagai faktor yang paling dominan. Oleh karena itu, pencegahan anemia pada ibu hamil tidak hanya melalui intervensi gizi, tetapi juga edukasi yang melibatkan keluarga.

Gunungkidul Regency has a relatively high prevalence of anemia among pregnant women despite achieving 100% coverage of iron supplementation programs. This condition indicates the presence of other factors influencing the occurrence of anemia, one of which may be socio-cultural factors in the form of food taboo practices during pregnancy. The region is known for its strong cultural values and local beliefs, including restrictions on the consumption of certain foods during pregnancy. This study aimed to analyze the factors associated with food taboo behavior and its relationship with anemia among pregnant women in Gunungkidul Regency. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. Data on food taboo behavior were collected through interviews, while anemia data were obtained from antenatal care (ANC) records. The respondents were pregnant women who attended antenatal care services at community health centers (Puskesmas) in Gunungkidul Regency. The samples were selected using a multistage random sampling technique. The results showed that food taboo behavior was significantly associated with anemia among pregnant women. Factors associated with food taboo behavior included knowledge as a predisposing factor and family support as a reinforcing factor. Multivariate analysis revealed that family support was the most dominant factor associated with food taboo behavior. Food taboo practices among pregnant women commonly involved avoiding certain animal-source protein foods, which may reduce nutrient intake and increase the risk of anemia. Family support was found to encourage pregnant women to practice food taboo due to family recommendations or beliefs, as well as the desire to maintain family harmony and avoid conflict within the household. In conclusion, food taboo behavior is associated with anemia among pregnant women. Knowledge and family support are factors associated with food taboo behavior, with family support being the most dominant factor. Therefore, efforts to prevent anemia among pregnant women should not rely solely on nutritional interventions but should also include educational programs that actively involve family members.
Read More
T-7645
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Widiati; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Engkus Kusdinar Ahmad, Anies Irawati
S-6751
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hertin Rindawati; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Ade Saprudin, Cecep Heriana
Abstrak: Stunting (balita pendek) memiliki efek terhadap masa depan anak seperti berkurangnya tingkat kognitif anak, hambatan dalam peningkatan tinggi badan, kelebihan berat badan atau obesitas di kemudian hari, dan mengurangi hasil kehadiran sekolah sehingga menyebabkan berkurangnya produktifitas pada masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dalam hubungan pemberian MPASI dengan kejadian stunting pada bayi berusia 12 bulan dari Januari-April 2017 di wilayah kerja Puskesmas Katapang Kabupaten Bandung tahun 2017. Rancangan penelitian ini menggunakan desain case control pada 28 kasus dan 56 kontrol. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2017. Data dianalisis dengan uji regresi logistik sederhana untuk melihat hubungan antar variabel dan uji regresi logistik ganda model prediksi untuk menemukan faktor dominan dalam hubungan pemberian MPASI dengan kejadian stunting pada bayi. Hasil penelitian menunjukkan faktor dominan dalam hubungan pemberian MPASI dengan kejadian stunting pada bayi adalah berat lahir bayi (p=0,022 OR=5,177 dan 95%CI=1,27-21,098), diare (p=0,027 OR=5,226 dan 95%CI=1,206-22,652), dan pemberian MPASI (p=0,034 OR=3,884 dan 95%CI=1,106-13,649). Faktor dominan dari ketiga variabel tersebut yaitu variabel diare. Variabel diare memiliki hubungan paling kuat dengan kejadian stunting pada bayi. Perlu adanya langkahlangkah dalam pencegahan stunting pada bayi dengan cara konseling pemberian asupan gizi optimal pada ibu hamil agar terhindar dari risiko kelahiran BBLR, pencegahan diare berulang pada bayi dan pemberian MPASI yang benar terutama perbaikan asupan protein pada bayi. Kata Kunci : stunting, berat lahir, diare, pemberian MPASI Stunting has an effect on the child's future such as reduced child's cognitive level, obstacles in height increase, overweight or obesity later in life, and reduced school attendance resulting in reduced productivity in adulthood. This study aims to determine the dominant factor in the relationship of gi with stunting in infants aged 12 months from January to April 2017 in the work area of the Katapang Health Center Bandung Regency in 2017. The design of this study used case control design on 28 cases and 56 controls. This study was conducted in May 2017. The data were analyzed by simple logistic regression test to see the relationship between variables and multiple logistic regression test prediction model to find the dominant factor in the relationship of complementary feeding with stunting in infants. The results showed that the dominant factor in the association of complementary feeding with the incidence of stunting in infants was birth weight (p = 0,022 OR = 5,177 and 95% CI = 1,27-21,098), diarrhea (p = 0,027 OR = 5,226 and 95% CI = 1,206-22,652), and giving of complementary feeding (p = 0,034 OR = 3,884 and 95% CI = 1,106-13,649). The dominant factors of these three variables are diarrhea which have the strongest relationship with the incidence of stunting in infants. Preventing stunting in infants by counseling the optimal intake of nutrients in pregnant women to avoid the risk of low birth weight, prevention of recurrent diarrhea in infants and provision of appropriate complementary feeding, especially the improvement of protein intake in infants are needed. Keywords: stunting, birth weight, diarrhea, complementary feeding
Read More
T-4956
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desi Yanti; Pembimbing: Trini Sudiarti, Kusharisupeni; Penguji: Asih Setiarini, Anies Irawati, Galopong Sianturi
Abstrak:

Bayi mengalami pertumbuhan sangat cepat. Setelah usia 6 bulan merupakan masa paling kritis karena pada saat itu pemberian ASI saja tidak mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan gizi. Gangguan pertumbuhan pada periode ini berkaitan dengan praktik pemberian makan bayi karena itu jika pemberian MPASI tidak diberikan secara tepat akan menyebabkan gangguan pertumbuhan optimal. Penelitian tentang program peningkatan MPASI menemukan bahwa masih banyak ibu belum mengerti cara pemberian dan waktu tepat memberikan MPASI. Menurut SDKI 2002-2003 sekitar 47,9% bayi mendapat makanan pralakteal dan 50 % bayi sudah mendapat MPASI pada usia kurang dari 1 bulan, bahkan pada usia 2-3 bulan sudah mendapat makanan padat. Di Kabupaten Bangka belum pernah dilakukan penelitian tentang MPASI sebelumya. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian MPASI pada bayi usia 0-12 bulan di Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka 2008. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel adalah ibu mempunyai bayi usia 0-12 bulan yang tinggal di Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka pada saat penelitian dengan kriteria inklusi masih menyusui, belum pernah diberikan bantuan MPASI oleh pemerintah atau MPASI program gakin dan bersedia mengikuti penelitian. Cara pengambilan sampel menggunakan survei cepat dengan rancangan klaster. Sebagai klaster adalah kelompok ibu yang mempunyai karakteristik homogen di wilayah posyandu di Kecamatan Sungailiat. Jumlah sampel 270 orang dan 30 klaster, pemilihan secara acak sehingga setiap klaster dibutuhkan 9 responden. Variabel dependen penelitian adalah praktik pemberian MPASI, sedangkan variabel independen adalah umur ibu, paritas, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anggota keluarga, pengetahuan ibu tentang MPASI, pendapatan keluarga dan peran petugas kesehatan. Analisis dengan menggunakan univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian didapatkan praktik pemberian MPASI pada bayi usia 0-12 bulan di Kecamatan Sungailiat tahun 2008 sudah dilaksanakan sebesar 87,0%. Dari responden melaksanakan praktik tersebut sebanyak 54,7% dengan praktik pemberian MPASI baik dan kurang baik sebesar 42,6%. Hasil uji bivariat dengan chi square ada hubungan bermakna antara pendidikan ibu (p=0,086), pengetahuan MPASI ibu (p=0,002, OR=2,394 ; CI (1,410-4,065) dan peran petugas kesehatan (p=0,000, OR=10,605 ; CI (5593-20,108) dengan praktik pemberian MPASI pada bayi usia 0-12 bulan di Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka 2008. Analisis multivariat dengan regresi logistik menghasilkan faktor paling dominan adalah peran petugas kesehatan. Ibu dengan peran atau dukungan kurang baik oleh petugas kesehatan memberikan peluang 10,538 kali untuk melakukan praktik pemberian MPASI kurang baik dibandingkan ibu dengan peran atau dukungan petugas kesehatan baik setelah dikontrol oleh umur ibu, pendidikan , pekerjaan dan pengetahuan ibu tentang MPASI. Faktor determinan adalah peran petugas kesehatan yaitu dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan di bidang gizi khususnya dalam memberikan makanan tepat pada bayi sesuai dengan waktu dan cara pemberian. Pentingnya pemberian ASI eksklusif serta manajemen laktasi pada ibu mempunyai bayi di seluruh Kecamatan Sungailiat secara benar dan terus menerus. Meningkatkan promosi praktik pemberian MPASI sehat dan higienis di posyandu, puskesmas dan pertemuan warga, penyediaan sarana penyuluhan dan klinik gizi seperti poster, leaflet, booklet, food model atau contoh MPASI dan makanan bergizi seimbang. Meningkatkan promosi ASI eksklusif dengan sasaran remaja atau wanita usia subur belum menikah dan meningkatkan motivasi petugas kesehatan yang berprestasi di tingkat puskesmas.


Infant grows very fast. The critical period is started after the age of six months. This is because, in that period giving breastfeeding exclusively to the infant does not sufficiently fulfill the nutrition need. Growth interference in this period is closely related with the infant's feedings. Therefore, if complementary feeding is not given correctly, it will cause the interference of optimal growth. The research result of complementary feeding increasing program finds that there is a big number of mothers who still do not understand about the way and the right time of complementary feeding. Based on SDKI's data, in 2002-2003, 47,9% of the infant were given pralacteal food and 50% of the infant had been given complementary feeding in the age of less than one month, and in the age of 2-3 months the infant were given solid food. There has not ever been a research about complementary feeding being done in Bangka District. The aim of this research is to obtain the information about related factors dealing with complementary feeding practices to the infant ages 0-12 months in Sungailiat, Bangka District on 2008. The research uses quantitative approach and cross sectional design. The samples are mothers who have 0-12 months infant and live in Sungailiat, Bangka District. The mothers are characterized as follows; breasting, never been given MPASI donation from the government or complementary feeding program for poor family, and able to participate in the research. The samples are taken by using a rapid survey with cluster design. The cluster is a group of mothers who have homogenic characteristic in the area of Integrated Health Service at Sungailiat. The sample number is 270 people and 30 clusters, which are chosen randomly. Therefore, each cluster needs 9 respondents. The dependent variable of the research is complementary feeding practices, and the independent variables are mothers' ages, mothers' education, mothers' works, the number of family member, mothers' knowledge about complementary feeding, family income, and the role of medical officers. The research result shows that complementary feeding practices to the infant ages 0-12 months in Sungailiat has been done and reached 87,0%. 54,7 % of the respondents have complementary feeding practices well and 42,6% of the respondents have not complementary feeding practices very well. The brivariat test by using chisquare shows that there is a relationship between mothers' education (p=0,086), mothers' knowledge about complementary feeding (p=0,002, OR=2,394; CI (1,410-4,0645) and medical officers' role (p=0,000, OR=10,605; CI (5593-20,108) with complementary feeding practices to the infant age 0-12 months in Sungailiat on 2008. Multivariate analysis with logistic regression shows that the most dominant factor is the role of medical officers, after controlled by variables of mothers' ages, education, works and mothers' knowledge about complementary feeding practices. Since the determinant factor is the role of medical officers, therefore increasing their knowledges and abilities in nutrition field especially in giving the right food in the right time for infant is the best solution. The importance of giving breastfeeding exclusively and lactation management for mothers who have infant in Sungailiat should run well and continually. Increasing the promotions of giving a health and hygienic complementary feeding Integrated Health Service, Public Health Service and people's meetings, providing the meetings facilities, and nutrition clinic, such as poster, leaflet, booklet, food model. Increasing the promotions of giving brestfeeding exclusively to the teenagers or unmarried woman who are in the fertilities ages, and increasing the motivation for the medical officers especially those who have good achievement in the area of public health service.

Read More
T-2861
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irvany Entang Ratna Sari; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika;/ Penguji: Triyani, Anies Irawati
S-4224
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cornelia Lugita Santoso; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Sandra Fikawati, Fadila Wirawan
Abstrak:
Pada masa menyusui, kebutuhan gizi ibu mengalami peningkatan. Periode ini merupakan periode penting bagi ibu untuk mengembalikan cadangan gizi ibu setelah melahirkan serta memastikan terpenuhinya kebutuhan energi tambahan untuk menyusui. Namun, berbagai penelitian menemukan bahwa asupan energi ibu menyusui belum memenuhi angka kecukupan yang direkomendasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan asupan energi ibu menyusui di Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional ini menggunakan data sekunder. Terdapat 217 ibu menyusui pada penelitian ini. Analisis data dilakukan dengan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu menyusui di Kecamatan Sawangan memiliki asupan energi yang tidak adekuat (78,3%). Keragaman konsumsi pangan (p-value 0,006) dan frekuensi makan (p-value 0,015) merupakan faktor yang berkaitan dengan asupan energi ibu menyusui. Faktor dominan yang berhubungan dengan asupan energi pada ibu menyusui adalah keragaman konsumsi pangan. Ibu menyusui yang konsumsinya tidak beragam berisiko 2,507 kali lebih tinggi untuk mengonsumsi energi tidak adekuat dibandingkan ibu dengan konsumsi beragam, setelah dilakukan kontrol terhadap variabel lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan intervensi pada ibu menyusui salah satunya dengan pemberian makanan tambahan agar dapat memenuhi kebutuhan gizinya sehingga dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan.

Nutritional needs of mothers are increased during lactation. This period is crucial to replenish their nutrient reserves after childbirth and ensure the fulfillment of additional energy requirements for lactation. However, various studies have reported that energy intake of lactating mothers still falls short of the recommended adequacy levels. This study aimed to identify factors associated with energy intake among lactating mothers at Sawangan District, Depok City. This quantitative study with a cross-sectional design utilizing secondary data. There were 217 lactating mothers included in this study. Data analysis was performed using the chi-square test and binary logistic regression. This study revealed that the majority of lactating mothers at Sawangan District had inadequate energy intake (78,3%). Dietary diversity (p-value 0,006) and eating frequency (p-value 0,015) were found to be factors associated with the energy intake of lactating mothers. The dominant factor was dietary diversity. Breastfeeding mothers who had less diverse food consumption were at a 2,507 times higher risk of having inadequate energy intake compared to mothers with diverse consumption, after controlling for other variables. Therefore, interventions are needed, including the provision of supplementary food, to help lactating mothers meet their nutritional needs and continue providing exclusive breastfeeding for 6 months.
Read More
S-11273
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive