Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39270 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ernawaty; Promotor: Hasbullah Thabrany; Ko Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Purnama Junadi, Anhari Achadi, Donny Gahral Ardian, Trihono, Arum Atmawikarta
D-313
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wachyu Sulistiadi; Promotor: Purnawan Junadi; Ko Promotor: Anhari Achadi, Ronnie Rivany; Penguji: Budi Hidayat, Dumilah Ayuningtyas, Surya Ede Darmawan, Soewarta Kosen, Kodrat Pramudho
D-304
Depok : FKM-UI, 2014
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandra Rudyanto; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Rita Damayanti; Penguji: Anhari Achadi, Besral, Evi Martha, Ermita Isfandiary Ibrahim Ilyas, Rustika, Nana Mulyana
Abstrak: Kondisi kesehatan yang memadai sangat dibutuhkan oleh jemaah haji karena prosesibadah haji melibatkan aktivitas fisik yang sangat berat. Jemaah haji yang bugar adalahjemaah haji yang memenuhi istifa'ah kesehatan. Untuk menjadi bugar dan istifa'ah,jemaah haji harus diberdayakan dan diberi pembinaan, sehingga memiliki kemampuan diri melakukan latihan fisik secara teratur. Partisipasi jemaah haji dalam program peningkatan kebugaran, baik secara perorangan maupun kelompok, dapat diupayakan melalui pembinaan latihan fisik dengan melibatkan peran kader kesehatan olahraga (kesorga).
 
Studi ini bertujuan untuk mengetahui: (i) peran kader kesorga dalam mendukungkeberhasilan latihan fisik jemaah haji di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur; (ii) hubungan variabel komposisional level individu dengan latihan fisik; (iii) diketahuinya hubungan variabel kontekstual level desa dan level Puskesmas dengan latihan fisik. Penelitian ini menggunakan mixed method yaitu metode kuantitatif dan kualitatif, dengan desain studi potong lintang cross sectional. Variabel yang diukur ada 3 level yaitu: (i) level individu meliputi karakteristik demografik dan penerapan konsep HBM pada 178 jemaah haji; (ii) level desa terdiri atas karakteristik demografik kader, motivasi dan keaktifan 61 kader serta dukungan 61 kepala desa; (iii) level Puskesmas mencakupdukungan 22 Puskesmas dan 19 KUA. Analisis data menggunakan uji statistik multilevel regresi logistik berganda untuk membuktikan hipotesis penelitian.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep HBM terbukti memilikihubungan yang signifikan dengan partisipasi jemaah haji dalam melakukan latihan fisik.Fakta ini menerangkan bahwa berolahraga secara teratur bukanlah hambatan bagi jemaahhaji. Selanjutnya jemaah haji juga meyakini mampu melakukan latihan fisik secara teraturdan cenderung menjadikannya sebagai kebiasaan hidup. Ditemukan pula bahwa kaderkesorga terbukti berperan dan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat latihanfisik jemaah haji.
 
Studi ini menemukan ada variasi atau perbedaan peran kader kesorga menurut penerapaan konsep HBM dalam kaitannya dengan tingkat latihan fisik jemaah haji. Disarankan agar setiap Puskesmas dapat mengembangkan pola alternatif pembinaaan kader kesorga dan calon jemaah haji dengan melibatkan klub olahraga, kelompok jemaah haji, kepala desa dan KBIH. Program latihan fisik jemaah haji dengan melibatkan peran kader kesorga perlu diadopsi oleh Kementerian Kesehatan RI dan selanjutnya direplikasikan ke daerah lain.
 

 
Adequate health condition urgently required by pilgrims because the process ofpilgrimage involves a very heavy physical activity. Hajj pilgrims with good physical fitnessclassified as pilgrims who fulfill health isti'ah. In order to become fit and isti'ah,pilgrims should be empowered and provided such a coaching, so they will have the abilityto execute physical exercise in a regular basis. Participation of pilgrims in a fitness improvement program, either individually or in groups, could be pursued through physical exercise coaching by involving the role of sport health cadres.
 
The main purpose of this study was to find out: (i) the role of sport health cadres inorder to support the success of pilgrims physical exercise in Lumajang District, East Java Province; (ii) examine the association of compositional variables individual level with physical exercise; (iii) examine the association of contextual variables village and Puskesmas levels with physical exercise.
 
This research was conducted using a mixed method quantitative and qualitative methods with cross sectional study design. The measured variables consisted of 3 levels: (i) individual level included demographic data and the application of HBM concept to 178 pilgrims; (ii) village level consisted of cadre demographic characteristics, cadres motivationand cadres; activeness of 61 cadres and the support of 61 village heads; iii Puskesmaslevel included the support of 22 Puskesmas and 19 KUAs. Data analysis was performedusing multilevel statistical test of multiple logistic regression to prove a research hypothesis.
 
The application of the HBM concept proved to have a significant relationship withparticipation of pilgrims in physical exercise. The findings of the study explain that regularphysical exercise is not an obstacle for pilgrims. Furthermore, pilgrims also convince thatthey are able to maintain physical exercise regularly and tend to make it as a habit of life. Another result of study indicates the cadres proved to have a significant relationship withthe level of pilgrims; physical exercise.
 
Finally, in conclusion this study found that there was a variation or differencebetween the application of the HBM concept and the role of cadres with the level ofpilgrims; physical exercise. It was suggested that each Puskesmas should develop variousalternative coaching patterns for cadres and pilgrims by involving sports clubs, hajj groups, village heads and KBIH. Hajj pilgrims; physical exercise program involving the role ofcadres required to be adopted into the Ministry of Health program and then replicated toother provinces.
Read More
D-386
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Ayubi; Promotor: Soekidjo Notoatmodjo; Ko-promotor: Adang Bachtiar, Sudijanto Kamso; Penguji: Hadi Pratomo, Haryoto Kusnoputranto, Boediharto, Suprijanto Rijadi, Julitasari Soendoro
D-190
Depok : FKM-UI, 2006
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kurnia Sari; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Amal Chalik Sjaaf, Mardiati Nadjib; Penguji: Prastuti Soewondo, Khoirunurrofik, Eko Setyo Pambudi, Pungkas Bahjuri Ali
Abstrak:
Efisiensi merupakan salah satu ukuran utama dari kinerja sistem kesehatan, yang mencerminkan kemampuan sistem dalam mencapai output sistem kesehatan seoptimal mungkin dengan  sumber daya yang ada. Metode dan asumsi yang digunakan dalam mengukur efisiensi teknis dapat menghasilkan skor yang berbeda, tergantung metode dan asumsi yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif, menggunakan data sekunder dan informasi dari berbagai institusi sumber data. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan dua metode pengukuran efisiensi utama, yaitu Data Envelopment Analysis (DEA) data panel serta bootstrapping, yang dilanjutkan dengan regresi data panel, dan Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan beberapa model. Pengukuran efisiensi teknis dilakukan dengan metode DEA orientasi output dan asumsi variable return to scale (VRS) dua tahap dengan bootstrapping, serta SFA dengan model spesifikasi Cobb-Douglas dan TransLog. Orientasi dan asumsi skala lainnya digunakan sebagai pembanding. Penelitian menggunakan variabel yang telah melalui proses seleksi literatur dan statistik dengan 1 output (umur harapan hidup) dan 4 input, yaitu belanja publik (belanja kesehatan pemerintah kabupaten kota dan belanja Jaminan Kesehatan Nasional/JKN untuk non pemerintah kabupaten kota), tenaga dokter, dan cakupan layanan lifaskes, dengan menggunakan beberapa variabel kontekstual. Hasil penelitian menujukkan perbedaan skor efisiensi yang dihasilkan dari beberapa metode pengukuran, baik dengan DEA dan SFA. Analisis dengan metode DEA menghasilkan rerata efisiensi teknis 0,76-0,99 untuk asumsi VRS orientasi Output. Sementara dengan SFA yang menggunakan tiga model pengukuram (Time invariant, fixed effect dan random effect), diperoleh skor efisiensi yaitu 0,37 sampai 0,76 pada spesifikasi Translog, dan pada spesifikasi Cobb-Douglas sebesar 0,37 sampai  0,85. Analisis tahap dua menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengangguran dan kemiskinan, semakin rendah skor efisiensi (orientasi output VRS boostrtrapped). Skor efisiensi juga rendah di wilayah geografis Pulau Maluku, Papua dan Nusa Tenggara (dibandingkan dengan Sumatera), di wilayah tertinggal, dan wilayah perkotaan, serta pada wilayah dengan bencana alama yang berdampak kepada manusia. Sementara, semakin besar rasio dana JKN yang diterima fasilitas kesehatan milik pemerintah kabupaten kota terhadap non pemerintah, semakin tinggi skor efisiensi teknis.

Efficiency is one of the main measures of health system performance, reflecting the system's ability to achieve optimal health system output with available resources. The methods and assumptions used in measuring technical efficiency can produce different scores, depending on the methods and assumptions used. This study is an analytical observational study with a quantitative approach, using secondary data and information from various data source institutions. Quantitative analysis was conducted using two main efficiency measurement methods, namely Data Envelopment Analysis (DEA) panel data and bootstrapping, followed by panel data regression, and Stochastic Frontier Analysis with several models. Technical efficiency measurement was conducted using the output-oriented DEA method and the two-stage variable return to scale assumption with bootstrapping, as well as SFA with Cobb-Douglas and TransLog specification models. Other orientation and scale assumptions were used as comparisons. The study utilised variables selected through literature and statistical analysis, comprising 1 output (life expectancy) and 4 inputs: public expenditure (government health expenditure at the district/city level and JKN expenditure for non-government entities at the district/city level), doctor workforce, and healthcare service coverage, along with several contextual variables. The results show differences in efficiency scores produced by various measurement methods, including DEA and SFA. Analysis using the DEA method yielded an average technical efficiency of 0.76–0.99 for the VRS output orientation assumption. Meanwhile, using SFA with three measurement models (time-invariant, fixed-effect, and random-effect), efficiency scores ranged from 0.37 to 0.76 under the Translog specification and from 0.37 to 0.85 under the Cobb-Douglas specification. The second-stage analysis shows that the higher the unemployment and poverty rates, the lower the efficiency scores (output-oriented VRS bootstrapped). Efficiency scores are also low in the geographical regions of Maluku, Papua, and Nusa Tenggara (compared to Sumatra), in underdeveloped regions, urban areas, and regions affected by natural disasters with human impacts. Meanwhile, the higher the ratio of JKN funds received by government-owned health facilities in cities and districts compared to non-government facilities, the higher the technical efficiency score.
Read More
D-581
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Sri Damayanti; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Prastuti Soewondo, Aswan Usman, Dharma Setiawan
Abstrak:
Pemerintah saat ini berfokus untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas bagi masyarakat baik di fasilitas pelayanan kesehatan primer maupun rujukan. Pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas membutuhkan jaminan alat kesehatan yang berkualitas dan laik pakai. Disisi lain alat kesehatan merupakan salah satu aset terbesar dalam pelayanan kesehatan. Saat ini alat kesehatan masih belum terkelola dengan baik sebagaimana data dari WHO bahwa 50% peralatan kesehatan tidak berfungsi dikarenakan tidak tepat dalam perencanaan, kurangnya Sumber Daya Manusia yang mampu mengoperasikan dan memelihara dengan baik. Berdasarkan data kementerian kesehatan bulan September tahun 2023 menunjukkan masih ada sebanyak alat kesehatan yang rusak/tidak berfungsi sebanyak 14,4% dan sebanyak 2,25% alat kesehatan kondisi baik tapi tidak dioperasionalkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan manajemen pemeliharaan alat kesehatan puskesmas tahun 2023 di tiga kabupaten/kota rovinsi Jawa Timur. Penelitian menggunakan pendekatan proses yaitu input, proses dan output. Metode penelitian yaitu kualitatif dengan desain studi kasus komparatif yang membandingkan penyelenggaraan manajemen pemeliharaan alat kesehatan Puskesmas di Wilayah Kabupaten Malang, Kota Blitar dan Kabupaten Bangkalan Provinsi Jawa Timur. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lingkungan dan data sekunder melalui telaah dokumen yang bersumber dari Aplikasi Sarana dan Prasarana Alat Kesehatan (ASPAK), data laporan dari kemenkes, dinas kesehatan dan puskesmas. Informan penelitian ini sejumlah 33 orang mulai dari tingkat Pusat dan daerah (Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Puskesmas). Hasil manajemen pemeliharaan alat kesehatan puskesmas di tiga kabupaten/kota provinsi Jawa Timur berdasarkan input yaitu SDM, anggaran, suku cadang, metode dan peralatan mayoritas masih kurang. Faktor proses mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi belum optimal dilaksanakan. Output dari pemeliharaan alat kesehatan di tiga kabupaten/kota sangat bervariasi ada cukup berhasil dan ada yang masih kurang. Diperlukan pengelolaan pemeliharaan alat kesehatan yang baik mulai dari sisi input sampai proses untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam penyelenggaraan pemeliharaan alat kesehatan puskesmas sehingga akan meningkatkan penyediaan alat kesehatan yang laik pakai.

The government is currently focusing on improving quality health services for the community in both primary and secondary health care facilities. Quality health services require a guarantee of quality and usable medical devices. On the other hand, medical devices are one of the biggest assets in health services. Currently, medical devices are still not well managed as data from WHO that 50% of medical equipment is not functioning due to improper planning, lack of human resources who are able to operate and maintain properly. Based on data from the Ministry of Health in September 2023, it shows that there are still as many damaged / non-functioning medical devices as 14.4% and as many as 2.25% of medical devices in good condition but not operationalised. This study aims to determine the implementation of health centre medical equipment maintenance management in 2023 in three districts / cities in East Java province. The research used a process approach, namely input, process and output. The research method is qualitative with a comparative case study design that compares the implementation of health centre medical equipment maintenance management in Malang Regency, Blitar City and Bangkalan Regency, East Java . Primary data was obtained through in-depth interviews, environmental observations and secondary data through document review sourced from the Application for Medical Equipment Facilities and Infrastructure (ASPAK), report data from the Ministry of Health, health offices and health centres. The informants of this study were 33 people from the central and regional levels (Provincial Health Office, District / City, and Puskesmas). The results of the maintenance management of health centres in three districts / cities of East Java province based on inputs, namely human resources, budgets, spare parts, methods and equipment, the majority are still lacking. Process factors ranging from planning, organising, implementing, and evaluating have not been optimally implemented. The output of medical device maintenance in three districts / cities varies greatly, some are quite successful and some are still lacking. Good management of medical device maintenance is needed from the input side to the process to get optimal results in the implementation of health centre medical device maintenance so that it will increase the provision of medical devices that are fit for use.
Read More
T-6996
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nana Mulyana; Promotor: Azrul Azwar; Ko-Promotor: Anhari Acchadi, Hadi Pratomo; Penguji: Purnawan Junadi, Haryoto Kusnoputranto, Sudijanto Kamso, Adang Bachtiar, Trihono
D-228
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marsaulina Olivia Panjaitan; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Anhari Achadi, Dwiana Ocviyanti; Penguji: Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Supriyantoro, Chairul Radjab Nasution
Abstrak:

Implementasi Program Jaminan Kesehatan Nasional mendapatkan berbagai tantangan salah satunya adalah peningkatan utilisasi pelayanan kesehatan yang berakibat tingginya beban biaya pelayanan kesehatan. Tren persalinan dengan metode bedah caesar mengalami peningkatan setiap tahunnya.  Disertasi ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan dan menyusun suatu usulan kebijakan untuk pengendalian utilisasi tindakan bedah caesar dalam penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional. Jenis penelitian adalah analitik dengan mixed method melalui analisis data kuantitatif dan data kualitatif, analisis kebijakan menggunakan Eugene Bardach’s eightfold framework yang dimodifikasi oleh Collins. Penelitian kuantitif melalui analisis data rekam medis tahun 2019 pada pasien bedah caesar di tiga rumah sakit dengan aspek bisnis yang berbeda di Provinsi Jakarta. Penelitian kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proporsi persalinan caesar dibanding normal di RSSP Y 99,3% di RSSK Z 63,66%, dan di RSUD X 13,42%. Tidak terdapat perbedaan karakteristik sosial dan karakteristik medis pasien bedah caesar di ketiga rumah sakit. Tidak terdapat perbedaan upaya pengendalian utilisasi operasi bedah caesar di ketiga rumah sakit. Bekas SC 1x memiliki persentase tertinggi sebagai indikasi SC dengan persentase 41,67% di RSUD X, di RSSK Z 39,48% dan di RSSP Y 24,11%. Terdapat hubungan antara usia, adanya komplikasi dalam kehamilan, malposisi janin, hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, dengan metode persalinan ibu secara caesar. Hasil penelitian kualitatif menunjukkan belum terdapat metode/tools khusus untuk pengendalian utilisasi caesar. Berdasarkan analisis kebijakan menggunakan Bardach’s eightfold framework yang dimodifikasi oleh Collins terdapat skenario/alternatif kebijakan pengendalian utilisasi bedah caesar diantaranya penyusunan program promotive preventif yang melibatkan organisasi-organisasi profesi terkait (seperti: Kebidanan Kandungan, Penyakit Dalam, Gizi, Penyakit Jantung) dengan sasaran wanita usia subur yang merencanakan kehamilan dan ibu hamil, yang khususnya berfokus untuk meminimalisir adanya penyulit kehamilan seperti: Hipertensi, Diabetes mellitus, obesitas, penyakit jantung. Hal ini penting dalam upaya menekan penyulit kehamilan yang dapat berpotensi meningkatkan angka utiliasi bedah caesar.


The implementation of the National Health Insurance Program faces various challenges, one of which is the increase in the utilization of health services which results in high health service costs. The trend of childbirth by Caesarean section method has increased every year. This dissertation aims to analyze the policy and prepare a policy proposal for controlling the utilization of Caesarean section procedures in the implementation of the National Health Insurance program. The type of research is analytical with a mixed method through quantitative and qualitative data analysis, policy analysis using Eugene Bardach's eightfold framework modified by Collins. Quantitative research through analysis of medical record data in 2019 on caesarean section patients in three hospitals with different business aspects in Jakarta Province. Qualitative research was conducted through in-depth interviews with stakeholders. The results showed that the proportion of caesarean deliveries compared to normal in RSSP Y was 99.3% in RSSK Z 63.66%, and in RSUD X 13.42%. There were no differences in the social characteristics and medical characteristics of caesarean section patients in the three hospitals. There were no differences in efforts to control the utilization of caesarean section operations in the three hospitals. Former 1x CS has the highest percentage as an indication for CS with a percentage of 41.67% in RSUD X, in RSSK Z 39.48% and in RSSP Y 24.11%. There is a significant influence between age, complications in pregnancy, fetal malposition, hypertension, diabetes mellitus, heart disease, and the method of maternal delivery by caesarean section. The results of qualitative research indicate that there are no specific methods/tools for controlling caesarean section utilization. Based on policy analysis using Bardach's eightfold framework modified by Collins, there are scenarios/alternative policies for controlling caesarean section utilization including the preparation of promotive preventive programs involving related professional organizations (such as: Obstetrics and Gynecology, Internal Medicine, Nutrition, Heart Disease) targeting women of childbearing age who are planning pregnancy and pregnant women, which specifically focus on minimizing pregnancy complications such as: Hypertension, Diabetes mellitus, obesity, heart disease. This is important in an effort to reduce pregnancy complications that can potentially increase the rate of caesarean section utilization.

Read More
D-561
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Semuel Piter Irab; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Besral, Kusharisupeni, Rita Damayanti, Sutanto Priyo Hastono, Abas Basuni Juhari, Trihono
Abstrak: Disertasi ini adalah menggambarkan perubahan prevalensi balita stunting pada Kabupaten/Kota kategori membaik dan Kabupaten/Kota kategori memburuk di Indonesia dari tahun 2007 ke tahun 2013. Metode cross sectional studi, sampel yaitu 163 Kabupaten/Kota, sumber data sekunder Balitbangkes dan Kementerian Keuangan. Uji statistik t-test dan diskriminan. Hasil: perubahan prevalensi balita stunting pada 49 Kabupaten/Kota kategori membaik 30,1%, dan 114 Kabupaten/kota kategori memburuk 69,9%. Sembilan cakupan program kesehatan dan sosial pada Kabupaten/Kota kategori membaik yang memiliki perubahan lebih besar dari Kabupaten/Kota kategori memburuk yaitu prevalensi BBLR, cakupan penimbangan balita ≥ 4 kali, cakupan vitamin A, cakupan imunisasi lengkap, persentase ketersediaan air bersih, persentase pengelolaan sampah diangkut petugas kebersihan, persentase ketersediaan jamban keluarga, persentase cuci tangan pakai sabun, dan persentase KK pegawai negeri sipil. Lima cakupan program kesehatan dan sosial pada Kabupaten/Kota ketegori memburuk yang perubahannya tidak jauh berbeda dari Kabupaten/Kota kategori membaik yaitu cakupan ANC-K4, prevalensi KEK ibu hamil, prevalensi TB-Paru balita, indeks kapasitas fiskal, dan persentase KK pendidikan tinggi. Delapan cakupan program kesehatan dan sosial dengan akurasi perubahan prevalensi balita stunting pada Kabupaten/Kota kategori membaik 83,7% dan Kabupaten kategori memburuk 92,1% yaitu cakupan timbangan balita ≥ 4 kali, cakupan imunisasi lengkap, cakupan ANC-K4, persentase sampah diangkut petugas kebersihan, persentase ketersediaan jamban keluarga, persentase cuci tangan pakai sabun, indeks kapasitas fiskal, dan persentase KK PNS
This dissertation is describing changes in the prevalence of stunting toddlers the Regencies/ Cities category improves and deteriorates in Indonesia, from 2007 to 2013. Cross sectional study method, samples are 163 Regencies/Cities, secondary data source Balitbangkes and Ministry of Finance. T-test and discriminant statistical test. Results: changes in the prevalence of stunting toddlers 49 Regencies/Cities category improved 30.1%, and 114 Regencies/Cities category deteriorated 69,9%. Nine coverage of health and social programs the Regencies/Cities category improved which has a change greater than Regencies/Cities category deteriorated namely the prevalence of LBW, toddler weighing coverage ≥ 4 times, vitamin A coverage, complete immunization coverage, percentage of availability of clean water, percentage of waste management carried by janitors, percentage of availability of family latrines, percentage of hand washing with soap, and the percentage of family heads of civil servants. Five coverage of health and social programs in the Regencies/Cities category deteriorated, whose changes are not much different from the Regencies/Cities category improved namely ANC-K4 coverage, prevalence of less chronic energy in pregnant women, prevalence of toddler pulmonary TB, fiscal capacity index, and the percentage of family heads of higher education. Eight coverage of health and social programs with accuracy changes in the prevalence of stunting toddlers at the Regencies/ Cities category improved 83,7% and Regencies/Cities category deteriorated 92.1% namely toddler weighing coverage ≥ 4 times, complete immunization coverage, ANC-K4 coverage, percentage of waste management carried by janitors, percentage of availability of family latrines, percentage of hand washing with soap, fiscal capacity index, and the percentage of family heads of civil servants
Read More
D-408
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suriah; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-Promotor: Hadi Nurlaella, Yeni Rustina; Penguji: Sudijanto Kamso, Sudarto Ronoatmodjo, Rulina Suradi, Dwi Susilowati, M. Ridwan Thaha
D-252
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive