Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31520 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Edwin Siswono; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Dewi Susanna, Suwito
S-8899
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erliyanti; Pembimbing: I Made Djaja, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Dewi Susanna, Toni Wandra, Atang Saputra
Abstrak:

Penyalkit demam berdarah merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yang cenderung semakin Iuas distribusinya sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Seluruh wilayah Indonwia mempunyai resiko untuk kejangkitan penyakit DBD, dikarenakan memiliki koudisi lingkungan yang sama sebagai kesatuan wilayah ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kejadian demam berdarah dengan lingkungan fisik mmah meliputi lingkungan dalam rumah, linglcungan luar mmah. Suhu, pencahayaan, kelembaban dan keberadaan jentik sedangkan karakteristik individu meliputi umur, pendidikan, perilaku , pengctahuan. Rancangan penelitian ini adalalah kasus kontrol dengan menggunakan analitik. Sebagai rcspondennya adalah orang yang terkena penyakit DBD yang telah di diagnosis doktcr dan uji laboratolium IgG dan IgM , sorta kontrol adalah tetanga penderita di wilayah Kota metro, dcngan jumlah 100 kasus dan 100 kontrol. Data di ambil dengau wawancara, obscrvasi dan melakukan pengukuran. Data-data yang terkumpul di olah dengan tahapan editing data, coding data, entry data, cleaning data. Selanjutnya dilakukan analisis univariat, bivariat dengan uji kai kudrat, dan multivamiat dengan regresi logistik. Di dapatkan hasil akhir ada hubungan yang bcrmakna antara kejadian DBD dengan keheradaan jentik, kejadian DBD dcngan umur, kejadian DBD dengan kelembaban dan kejadian DBD dengan pendidikan. Faktor yang dominan terhadap kejadian DBD adalah faktor jentik. Dari hasil yang di dapat disarankan pada pemerintah daerah untuk dapat melihat kcberadaan jentik melalui Angka bebas jentik, indeks house dan kontainer serta melaksanakan trias UKS pada anak sckolah yaim pendidikan kesehatan, pelayanan keschatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat scrta mcmbuat prioritas program pada daerah endemik, pendidikan rcndah Serta daerah yang banyak anak-anak. Sedangkan pada Dinas Kesehatan dan Puskesmas diharapkan ada kerjasama dengan BMG, melaksanakan pendidikan kesehatan melalui kader dan melaksanakan 3 M secara intensif, dan untuk peneliti diharaikan ada penelitian lebih lanjut.


Dengue Fever is one of public health problems in Indonesia, its distribution tends to wider due to the increaseing of mobility and population density. All of Indonesian’s area is having risk of dengue fever infection, because it has similar environmental condition as united of ecological zone. The research aimed to know the relation between dengue fever case with housing environment covers internal house environment (indoor), extemal house environment (outdoor), temperature, lighting, humidity and mosquito larva existence while respondent characteristic covers age, education, behavior, and knowledge. The research methodology is analytical case control. People who have been diagnose having dengue fever by the doctor and IgG and IgM laboratory test as respondents I case, while control is the neighbor of the patient at Metro City, there is 100 case and 100 control. Data collected by interview, observation and measurement. The collected data processed with several steps: data editing, data coding, data entry, and data cleaning. Furthermore it analyzed with univariate analysis and bivariate with chi square and multivariate with logistic regression. The research final result show that there is a significant relation between; dengue fever case with mosquito larva existence, dengue fever case with age, dengue fever case with humidity, and dengue fever case with education. The most dominant factor toward dengue fever case is the mosquito larva. From the obtained result its suggest to the government to observe the mosquito larva trough the mosquito larva level, housing index and container and held the Trias UKS at school; health services, health education, and the founding of school environmental and make priority programs at endemic area, low education, and children areas. While the Health Department and Public Health Center expected to cooperate with BMG, to held health education trough forming of cadre and conduct 3M intensively and to conduct further research.

Read More
T-2799
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heri Purwanto; Pembimbing: I Made Djaja, Ema Hermawati; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rina Hasrina, Suwito
T-3962
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mariana Ivoretty Sandra; Pembimbing: Dewi Susana; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Rina Fitriani Bahar
S-6412
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anida Hanifah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia, khususnya negara beriklim tropis seperti Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DBD dapat melemahkan daya tahan tubuh dalam waktu yang relatif singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan fisik (kepadatan jentik, tempat perindukan nyamuk, tempat peristirahatan nyamuk, ventilasi, pencahayaan rumah, kelembaban rumah) dan karakteristik individu (pengetahuan, pemeriksaan jentik berkala, kebiasaan menguras tempat penampungan air, kebiasaan mencegah gigitan nyamuk, dan pemberantasan jentik nyamuk) dengan kejadian DBD pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kranggan dan Serpong 1 Tangerang Selatan Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan menggunakan data primer dan sampel sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 sampel kasus dan 50 sampel kontrol. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian DBD adalah tempat perindukan nyamuk (5,25;2,05-13,4), intensitas pencahayaan rumah (3,40;1,40-8,28), dan kelembaban rumah (3,14;1,10-8,94). Faktor yang memiliki hubungan paling dominan terhadap kejadian DBD adalah keberadaan tempat perindukan nyamuk. Kata kunci: Lingkungan fisik, karakteristik individu, DBD, Aedes aegypti
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a public health problem globally, especially in tropical countries like Indonesia. The disease is caused by a virus and is transmitted by the bite of Aedes aegypti mosquito. DHF weakens human immune system in a relatively short time. This study aims to investigate the relationship between physical environmental factors (density of larvae, breeding places, the resting place of mosquitoes, ventilation, home lighting, and humidity) and individual characteristics (knowledge, periodic larvae survey, depleting water reservoirs habits, preventing mosquito bites habits and eradication of mosquito larvae) with the incidence of dengue in the community in Puskesmas Kranggan and South Tangerang Serpong 1 in the year 2016. This study used a case-control study design using primary data and a sample of 100 people consisting of 50 sample cases and 50 control samples. Results of bivariate analysis showed that the variables that have a significant association with the incidence of dengue are mosquito breeding sites (5.25; 2.05- 13,4), home lighting intensity (3.40;1,40-8,28), and humidity home (3,14;1,10-8,94). The factor that has the most dominant association with incidence of DHF is the presence of mosquito breeding places. Keywords: Physical environment, individual characteristic, DHF, dengue, Aedes aegypti
Read More
S-9063
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mari Okatini Armandari; Pembimbing: Rachmadi Purwana, I Made Djaja; Penguji: Yovsyah, HRA Sofyan, Suhardi
Abstrak: Latar Belakang: Jakarta adalah salah satu kota terbesar di Indonesia dimana hampir setiap tahunnya dilanda banjir. Banjir yang terjadi tentunyan membawa dampak yang sangat merugikan bagi semua aspek kehidupan manusia yang salah satunya adalah timbulnya berbagai macam penyakit pasca banjir. Perubahan lingkungan akibat banjir akan mengakibatkan penyebaran leptospirosis (penyakit kencing tikus), hal ini diakibatkan karena urine hewan yang terinfeksi kuman leptospira akan terbawa oleh genangan air dan mencemari lingkungan rumah. Terdapat jumlah kasus yang terjadi di DKI Jakarta sebanyak 65 orang (2003), 78 orang (2004) dan 51 orang (2005). Masalah leptospirosis yang terjadi di DKI Jakarta selalu terjadi pada wilayah yang sama yang diakibatkan oleh faktor lingkungan yang buruk, perilaku yang buruk atau pengaruh karateristik individu.
Tujuan : Mengetahui hubungan faktor lingkungan dan karakteristik individu terhadap kejadian leptospirosis di Jakarta tahun 2003-2005.
Disain : Studi ini menggunakan rancangan Kasus Kontrol. Data pada penelitian ini berasal dari data sekunder yang diperoleh dari Bagian Program-Diklat RSUD Tarakan ? Jakarta dan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner yang telah dikembangkan. Wawancara dilakukan oleh enumerator yang sudah dilatih mewawancarai terhadap responden kasus maupun responden kontrol. Subyek berjumlah 190 orang, dimana responden yang positif leptospira sebagai kelompok kasus dan reponden yang negatif leptospira sebagai kontrol, dengan perbandingan 1:1. Varibel independen adalah Faktor lingkungan (Keadaan dan penataan rumah, loteng/plafon rumah, binatang penular (vektor), sarana air bersih, sarana penyimpanan makanan, SPAL) serta karakteristik individu ( Umur, pekerjaan, jenis kelamin, pengetahuan, perilaku, dan pendidikan). Ananlisis dilakukan deng chi-square dan regresi logistik ganda.
Hasil : Ada hubungan bermakna antara keadaan dan penataan rumah (OR= 3,956; 95%CI: 1,511-10,358), SPAL ( OR= 1,982; 95% CI: 1,111-3,536), Tingkat Sosial Ekonomi (OR= 1,928; 95% CI: 1,073-3,462), pengetahuan (OR= 17,625; 95% CI: 6,573-47,257) dan Pendidikan (OR= 2,407; 95% CI: 1,333-4,348).
Kesimpulan: Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor lingkungan dan karakteristik individu berhubungan dengan kejadian leptospirosis di Jakarta pada tahun 2003-2005. Terdapat 4 (empat) faktor dominan yang mempengaruhi kejadian leptospirosis adalah pendidikan,pengetahuan, sarana air bersih dan komponen dan penataan rumah.
Kata Kunci: Faktor Lingkungan, Karakteristik Individu, Kejadian Leptospirosis, Kasus-Kontrol.

Background: Jakarta is one of the largest cities in Indonesia where almost every year got flood. Of course, flood brings very bad impact for all human life aspect, which one is the incidence of various post-flood diseases. Environment changes caused by flood resulting leptospirosis spread (rat urine disease), this thing resulted because animal urine infected by leptospira germ will carried by water pond and contaminate house environment. Case occurred in DKI Jakarta are 65 people (2003), 78 people (2004), and 51 people (2005). Leptospirosis problem occurred in DKI Jakarta always occurred in the same area caused by bad environment factor, bad behavior, or individual characteristic influence.
Objective: To find relation between environment factor and individual characteristic toward leptospirosis in Jakarta year 2003-2005.
Design: This study use Case Control design. Data in this research based on secondary data obtained from Part of Diklat RSUD Tarakan Program ? Jakarta and through structured interview using developed questioner. Interview done by enumerator, which has trained to interview case respondent and control respondent. Subject are 190 people, whereas positive leptospirosa respondent as case group and negative leptospirosa respondent as control group, with 1:1 comparison. Independent variable is environment factor (house condition and settlement, house plafond, infector animal (vector), sanitation, food supply, SPAL) and also individual characteristic (age, job, sex, knowledge, behavior, and education). Analysis done by chi-square and double logistic regression.
Result: There is relation between both house condition and settlement (OR=3,956; 95%CI: 1,511-10,358), waste (OR=1,982; 95%CI: 1,111-3,536), social economy (OR=1,928; 95% CI: 1,073-3,462), knowledge (OR=17,625; 95% CI: 6,573-47,257) and education (OR= 2,407; 95% CI: 1,333-4,348).
Conclusion: From research result found that environment factor and individual characteristic related with leptospirosis in Jakarta year 2003-2005. There are four dominant factors that affect leptospirosis, such as education, knowledge, sanitation, and house component and settlement.
Key Word: Environment Factor, Individual Characteristic, Leptospirosis, Case-Control.
Read More
T-2180
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Latif Hidayat; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ema Hermawati, Farida
Abstrak: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan masyarakat, satu diantaranya terjadi di unitwilayah kerja Puskesmas Tegal Gundil dengan IR 13,5 per 10.000 penduduk padatahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sosiodemografidan kondisi lingkungan dengan kejadian DBD di wilayah tersebut tahun 2014.Rancangan penelitian menggunakan desain case control dengan jumlah sampel 64orang. Populasi penelitian adalah masyarakat yang tinggal di Kelurahan TegalGundil dan Bantarjati. Data primer didapat dengan melakukan wawancara langsung mengenai DBD dan observasi kondisi lingkungan responden. Hasilanalisis bivariat menunjukan terdapat hubungan antara umur sebagai faktorsosio demografi dengan kejadian DBD dengan OR 3,40. Kondisi lingkungan yangberhubungan dengan kejadian DBD yaitu keberadaan jentik dengan OR 4,59 danbreeding place dengan OR 16,24. Hasil analisis multivariat menunjukan adanyahubungan antara pengetahuan, keberadaan jentik dan breeding place dengan OR2,80. Variabel breeding place merupakan faktor paling dominan terhadap kejadianDBD.
Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, Umur, Pengetahuan, Keberadaan Jentik, Breeding Place
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an environtment-centered plagueand also a society health problem. From many cases, one happened in PuskesmasTegal Gundil Working Unit Area with the IR 13,5 per 10.000 people in 2013.This reseach is aimed to discover the relationship between sociodemography andthe environment condition of DHF case in that area in 2014. The research designused case control with 64 sample of participants. The population of the research isthe community member who live and stay in Kelurahan Tegal Gundil andBantarjati. The primary data is gained by conducting direct interview about DHFand observation to the respondence's environment condition. The result frombivariat analysis shows correlation between age, as a factor of sociodemography,with DHF case, by OR 3,40. Environment condition which links to the DHF caseis the existence of mosquito larva, with OR 4,59 and OR 16,24 of breeding place.The result from multivarite analysis shows the relationship between, knowledge,the existence of mosquito larva, and breeding place with OR 2,80. Breeding placevariable is the most dominantly influential to the DHF case.
Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, Age, Knowledge, Mosquito larva,Breeding place
Read More
S-8364
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Anis Zain; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Agustin Kusumayati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang tersebar lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Di Kelurahan Beji, Kota Depok, kasus DBD telah menunjukkan tren yang tinggi selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, wilayah ini mencatat jumlah kasus tertinggi di Kota Depok, dengan total 177 kasus dan incidence rate (IR) sebesar 370,73 per 100.000 penduduk. Analisis awal mengindikasikan bahwa faktor lingkungan rumah dan partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang belum optimal dapat menjadi faktor tingginya kasus DBD di Kelurahan Beji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh kondisi lingkungan rumah dan praktik PSN terhadap kejadian DBD di Kelurahan Beji tahun 2024. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Beji, Kota Depok selama periode Mei-Juni 2024 dengan menggunakan desain studi kasus kontrol. Sampel terdiri dari 35 orang kasus dan 35 orang kontrol. Sampel kasus dipilih menggunakan simple random sampling dari laporan kasus DBD yang tercatat di Puskesmas Depok Utara, sementara sampel kontrol dipilih dari tetangga terdekat dari rumah kasus. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini meliputi laporan kasus DBD dari Puskesmas Depok Utara, kuesioner, dan lembar observasi keberadaan jentik nyamuk. Analisis data meliputi univariat dan bivariat (uji Chi Square). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian DBD pada penelitian ini adalah keberadaan jentik (p-value = 0,026 ; OR = 4,58), container index (CI) (p-value = 0,014 ; OR = 7,56), sumber air bersih (p-value = 0,036 ; OR = 0,205), dan kebiasaan menggantung pakaian kotor (p-value = 0,046 ; OR = 0,31). Puskesmas Depok Utara dan Dinas Kesehatan Kota Depok disarankan untuk meningkatkan upaya edukasi dan penyuluhan terkait praktik PSN yang efektif kepada masyarakat dan menggiatkan gerakan 1 rumah 1 jumantik. Masyarakat Kelurahan Beji juga harus meningkatkan partisipasi aktif dalam gerakan 1 rumah 1 jumantik, meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan dalam melaksanakan praktik PSN, serta menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko DBD.

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a viral infection transmitted through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes. In Beji Subdistrict, Depok City, DHF cases have shown a high trend over the past few years. In 2022, this area recorded the highest number of cases in Depok City, with a total of 177 cases and an incidence rate (IR) of 370,73 per 100.000 population. Initial analysis indicates that household environmental factors and suboptimal community participation in mosquito nest eradication may contribute to the high number of DHF cases in Beji Subdistrict. This study aims to identify the influence of household environmental conditions and mosquito nest eradication practices on the incidence of DHF in Beji Subdistrict in 2024. The research was conducted in Beji Subdistrict, Depok City, from May to June 2024 using a case-control study design. The sample consisted of 35 cases and 35 controls. Case samples were selected using simple random sampling from DHF case reports recorded at Depok Utara Public Health Center, while control samples were selected from the nearest neighbors of the case households. The instruments used in this study included DHF case reports from Depok Utara Public Health Center, questionnaires, and observation sheets for mosquito larvae presence. Data analysis included univariate and bivariate analysis (Chi-Square test). Bivariate analysis showed that the variables associated with the incidence of DHF in this study were the presence of larvae (p-value = 0,026 ; OR = 4,58), container index (CI) (p-value = 0,014 ; OR = 7,56), clean water source (p-value = 0,036 ; OR = 0,205), and the habit of hanging dirty clothes (p-value = 0,046 ; OR = 0,31). Depok Utara Public Health Center and the Depok City Health Office are advised to enhance education and counseling efforts regarding effective mosquito nest eradication practices in the community and to intensify the “1 House 1 Jumantik” movement. The community in Beji Subdistrict should also increase active participation in the “1 House 1 Jumantik” movement, improve awareness and discipline in implementing mosquito nest eradication practices, and avoid habits that can increase the risk of DHF.
Read More
S-11792
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yaneva Azahra Rahmatunisa; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Fitri Kurniasari, Fahmi Hermawan
Abstrak:
Petugas tempat pengolahan sampah berbasis reuse, reduce, dan recycle (TPS 3R) merupakan kelompok pekerja yang berisiko tinggi mengalami penyakit akibat kerja seperti diare karena sering berkontak langsung dengan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu, personal hygiene, dan kondisi lingkungan terhadap kejadian diare pada petugas TPS 3R di Provinsi DKI Jakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 62 responden dari 12 lokasi TPS 3R. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, lalu dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kerja (p=0,033; OR=5,077; 95% CI: 1,138–22,650), penggunaan alat pelindung diri (APD) (p=0,004; OR=0,150; 95% CI: 0,042–0,541), dan keberadaan vektor penular penyakit (p=0,038; OR=3,600; 95% CI: 1,075–12,059) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare. Sementara itu, variabel usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, serta beberapa indikator personal hygiene dan kondisi lingkungan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan perilaku penggunaan APD dan pengendalian vektor menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan diare pada petugas TPS 3R.


Waste management facility based on reuse, reduce, and recycle principles or tempat pengolahan sampah reuse, reduce, and recylce (TPS 3R) workers are a high-risk occupational group for work-related diseases such as diarrhea due to frequent direct contact with waste. This study aims to examine the relationship between individual characteristics, personal hygiene, and environmental conditions with the incidence of diarrhea among TPS 3R workers in DKI Jakarta Province. A cross-sectional quantitative design was employed involving 62 respondents from 12 TPS 3R sites. Data were collected through questionnaires and observations and analyzed using chi-square tests. The results showed significant associations between diarrhea incidence and work duration (p=0.033; OR=5.077; 95% CI: 1.138–22.650), use of personal protective equipment (PPE) (p=0.004; OR=0.150; 95% CI: 0.042–0.541), and the presence of disease vectors (p=0.038; OR=3.600; 95% CI: 1.075–12.059). Meanwhile, variables such as age, gender, education level, and several indicators of personal hygiene and environmental conditions showed no significant associations. These findings highlight the importance of promoting protective equipment usage and vector control as key measures to prevent diarrhea among TPS 3R workers.
Read More
S-12120
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isna Nur Aeni; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Suci Rochayati
Abstrak:
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Indonesia berada di peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan jumlah angka kasus TBC terbanyak secara global. Berdasarkan laporan Puskesmas Cileungsi, angka kasus TBC pada tahun 2022 sebanyak 98 kasus dan meningkat pada tahun 2023 menjadi sebanyak 140 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Cileungsi tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel sebanyak 83 responden. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat dan bivariat (chi square). Angka prevalensi kejadian TBC pada penelitian ini sebesar 33,7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian TBC di wilayah kerja Puskesmas Cileungsi yaitu, jenis kelamin (OR=4), status ekonomi (OR=3), riwayat penularan (OR=4,43), dan suhu (OR=6,94). Oleh karena itu, kepada pihak Puskesmas Cileungsi disarankan untuk memberikan edukasi terkait rumah sehat, meningkatkan investigasi kontak serumah, dan menjalankan bantuan program rumah sehat dengan pihak terkait. Masyarakat juga disarankan untuk rajin melakukan hidup bersih dan sehat, membuka jendela di pagi hari, dan memakai masker, khususnya bagi penderita TBC aktif untuk meminimalkan penularan. 

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Indonesia is ranked second in the world as the country with the highest number of TB cases globally. Based on the Cileungsi Health Center report, the number of TB cases in 2022 will be 98 cases and will increase in 2023 to 140 cases. This study aims to analyze factors related to the incidence of positive smear TB in the Cileungsi Community Health Center work area in 2024. This study used a cross-sectional study design with a sample of 83 respondents. The analysis carried out included univariate and bivariate analysis (chi square). The prevalence rate of TB in this study was 33.7%. The results of the study showed that the risk factors that had a significant relationship to the incidence of TB in the Cileungsi Community Health Center working area were, gender (OR=4), economic status (OR=3), history of transmission (OR=4.43), and temperature (OR =6.94). Therefore, it is recommended that the Cileungsi Community Health Center provide education regarding healthy homes, increase household contact investigations, and carry out healthy home program assistance with related parties. The public is also advised to diligently practice clean and healthy living, open windows in the morning, and wear masks, especially for active TB sufferers to minimize transmission
Read More
S-11837
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive