Ditemukan 39654 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Reny Puspita; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Sandi Iljanto, Dumilah, Ichsan Hanafi
B-1730
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Seno Aji Wijanarkao; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Prastuti C. Soewondo, Puput Oktamianti, Budi Hartono, Amila Megraini
Abstrak:
ICU sebagai bagian dari pelayanan Rumah Sakit (RS) harus mempertahankan mutu dan standar pelayanan. Dalam melayani pasien Jaminan Kesehatan Nasional, RS menggunakan tarif inaCBGs sistem paket menuntut RS melakukan kendali biaya dan mutu. Data bagian keuangan: banyak tagihan ICU, terutama yang berhubungan dengan pelayanan ventilator, dibayarkan dibawah tarif. Pada 2015 untuk kelas III 30% kasus dibayarkan defisit. Tahun 2016 tarif baru diberlakukan. Hal tersebut menjadi dasar penulis meneliti biaya satuan dan cost recovery rate (CRR) pelayanan ventilator dengan tarif lama dan baru. Populasi penelitian 4 pasien dengan diagnosis utama Respiratory Failure (J969), kode INA-CBG J- 1-20-III. Penelitian melalui telaah biaya terkait pelayanan ventilator, didapatkan biaya langsung dan tak- langsung dengan metode Step-down dan Relative Value Unit.
Hasilnya per pasien: biaya satuan aktual (BSA) Rp8.522.431 dan biaya satuan normatif (BSN) Rp1.429.657. Perbandingan tarif 2011 didapatkan CRR dengan BSA 14.55% dan BSN 85.34%. Dengan tarif 2016 CRR dengan BSA 15.92% dan BSN 93.38%. Untuk tarif BPJS 2014 CRR dengan BSA 10.62%(kelas 1), 9,11%(kelas 2), 7,59%(kelas 3). Untuk tarif BPJS tahun 2016 CRR BSA 16,86%(kelas 1), 14,45%(kelas 2), dan 12,04%(kelas3). Jika kapasitas dioptimalkan dengan rerata BOR, CRR BSN tarif BPJS2014 masing-masing sebesar 62,30%(kelas 1), 53,41%(kelas 2), 44,50%(kelas 3). Dengan tarif BPJS2016 CRR BSN 98.84%(kelas 1), 84,72%(kelas 2), dan 70,60%(kelas3). BSA penggunaan ventilator yang sangat tinggi oleh karena rendahnya kunjungan pasien dan tingginya nilai biaya investasi. Tingginya biaya ini juga menunjukkan support daerah masih dibutuhkan di RSUD Nunukan baik sebagai pengawas maupun pendukung finansial melalui APBD.
Kata kunci: biaya satuan; biaya satuan unit; biaya satuan normatif; cost recovery rate.
Read More
Hasilnya per pasien: biaya satuan aktual (BSA) Rp8.522.431 dan biaya satuan normatif (BSN) Rp1.429.657. Perbandingan tarif 2011 didapatkan CRR dengan BSA 14.55% dan BSN 85.34%. Dengan tarif 2016 CRR dengan BSA 15.92% dan BSN 93.38%. Untuk tarif BPJS 2014 CRR dengan BSA 10.62%(kelas 1), 9,11%(kelas 2), 7,59%(kelas 3). Untuk tarif BPJS tahun 2016 CRR BSA 16,86%(kelas 1), 14,45%(kelas 2), dan 12,04%(kelas3). Jika kapasitas dioptimalkan dengan rerata BOR, CRR BSN tarif BPJS2014 masing-masing sebesar 62,30%(kelas 1), 53,41%(kelas 2), 44,50%(kelas 3). Dengan tarif BPJS2016 CRR BSN 98.84%(kelas 1), 84,72%(kelas 2), dan 70,60%(kelas3). BSA penggunaan ventilator yang sangat tinggi oleh karena rendahnya kunjungan pasien dan tingginya nilai biaya investasi. Tingginya biaya ini juga menunjukkan support daerah masih dibutuhkan di RSUD Nunukan baik sebagai pengawas maupun pendukung finansial melalui APBD.
Kata kunci: biaya satuan; biaya satuan unit; biaya satuan normatif; cost recovery rate.
B-1936
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maqdhesy; Pembimbing: Peter Albert W. Pattinama: Penguji: Dumillah Ayuningtyas, Ronnie Rivany, Mira Safriadi
B-1013
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ria Hendarwulan; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Pujiyanto. Nienne Aridayanthi Hainum, Lies Nugrohowati
Abstrak:
Pemerintah telah berupaya mencegah dan mengurangi angka kejadian penyakit dengan Inpres No.1 Tahun 2017 tentang GERMAS. GERMAS adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Kota Depok tahun 2019. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dan data dikumpulkan dari 30 Puskesmas di Kota Depok. Analisis data statistik univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan chi-square dan analisis multivariat dengan korelasi logistik Hasil penelitian menunjukkan 83,3% Puskesmas melaksanakan sosialisasi GERMAS dan edukasi sehat, 100% Puskesmas melakukan penyuluhan ASI ekslusif, 83.3 % Puskesmas melakukan kegiatan deteksi dini penyakit, IVA dan Ca mammae dan 80% Puskesmas melakukan kegiatan sosialisasi gemar aktivitas fisik. Ketersediaan sumber daya manusia, dana, sarana dan prasarana dalam pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Kota depok memadai, namun belum adanya petunjuk pelaksana/SK dari Dinas Kesehatan maupun SK Kepala Puskesmas untuk pelaksanaan GERMAS di Puskesmas. Saat ini petunjuk pelaksana yang dipakai sebagai pedoman kegiatan GERMAS masih mengikuti Perwal yang ada. Perencanaan dan pengorganisasiannya belum mempunyai roadmap pelaksanaan GERMAS di Puskesmas dan 70 % Puskesmas pengawasannya baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara sarana dan prasarana terhadap kegiatan GERMAS (p-value<0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan terhadap kegiatan GERMAS (p-value >0,05) dan terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan dengan pelaksanaan GERMAS . Analisis multivariat menunjukkan faktor yang dominan mempengaruhi kegiatan GERMAS adalah pengawasan. Puskesmas diharapkan meningkatkan sosialiasi dan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan GERMAS.
Read More
B-2139
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novia Afdhila; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Mardiati Nadjib, Budi Hartono
S-5946
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
A. Hamid Rachman; Pembimbing: Mardiati Najib
B-746
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Karlina; Pembimbing: Amal C. Sjaaf, Herry Mardani; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wahyu Sulistiadi
B-1129
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eka Wulan Sari; Pembimbing: Prastuti C. Soewondo; Penguji: Mardiati Nadjib, Atik Nurwahyuni, Indra Maryunif, Ani Ruspitawati
Abstrak:
Tesis ini membahas mengenai analisis biaya pemulihan pada NICU RSUD Koja padatahun 2016. Permasalahan yang ada adalah besarnya pengeluaran yang harus ditanggungoleh rumah sakit pada di NICU. Penelitian ini merupakan analisis kualitatif dengan datakuantitatif, analisis kuantitatif yaitu menghitung tingkat pemulihan biaya pelayananNICU RSUD Koja yang terjadi dalam rentang waktu Januari-Desember 2016.metodeyang di gunakan adalah step down dan analisis SWOT.
Dari hasil penghitungan inimenunjukan pembiayaan terbesar adalah pada operasional yaitu sebesar 54% dari totalbiaya. Pengeluaran terbesar adalah belanja pegawai yaitu sebesar 26% dari total biaya,pemulihan biaya di NICU sebesar 85 % yang menggambarkan NICU mengalami defisit.Dalam mengatasi defisit tersebut manajemen RSUD dapat membuat kebijakan yangberkaitan dengan penetapan biaya satuan serta membuat langkah strategis antara lainmeningkatkan utilisasi, efisiensi, mengurangi lama hari rawat dan melibatkan perawatpelaksana. Rumah sakit dapat meningkatkan pemanfaatan NICU salah satunya denganmenjadi rujukan pelayanan NICU di DKI maupun rujukan nasional yang bekerjasamadengan asuransi swasta dan rumah sakit lainnya
Kata kunci:Biaya Pemulihan, Biaya Satuan, NICU RSUD Koja
This thesis discuss about the cost recovery rate analysis at NICU RSUD Koja in 2016.The existing problem is the amount of expense that should be borne by the hospital onNICU. This research is qualitative analysis by using quantitative data and interviews.the method use is step down and SWOT analysis.
From the results of this calculationshows that the largest financing is on the operational that is equal to 54% of the totalcost. The largest expense is employee expenditures that is equal to 26% of the total cost,cost recovery in the NICU described that the NICU is experiencing deficit. In addressingthe deficit management of RSUD can create a policy with regard to the costing unit aswell as making strategic steps such as improving utilization, efficiency, reducing lengthof stay and involving nurses. Hospitals can improve the utilization of NICU such asbecoming a referral NICU service in DKI as well as national reference that work togetherwith private insurance and other hospitals.
Key words:Cost Recovery Rate, Cost Unit, NICU RSUD Koja.
Read More
Dari hasil penghitungan inimenunjukan pembiayaan terbesar adalah pada operasional yaitu sebesar 54% dari totalbiaya. Pengeluaran terbesar adalah belanja pegawai yaitu sebesar 26% dari total biaya,pemulihan biaya di NICU sebesar 85 % yang menggambarkan NICU mengalami defisit.Dalam mengatasi defisit tersebut manajemen RSUD dapat membuat kebijakan yangberkaitan dengan penetapan biaya satuan serta membuat langkah strategis antara lainmeningkatkan utilisasi, efisiensi, mengurangi lama hari rawat dan melibatkan perawatpelaksana. Rumah sakit dapat meningkatkan pemanfaatan NICU salah satunya denganmenjadi rujukan pelayanan NICU di DKI maupun rujukan nasional yang bekerjasamadengan asuransi swasta dan rumah sakit lainnya
Kata kunci:Biaya Pemulihan, Biaya Satuan, NICU RSUD Koja
This thesis discuss about the cost recovery rate analysis at NICU RSUD Koja in 2016.The existing problem is the amount of expense that should be borne by the hospital onNICU. This research is qualitative analysis by using quantitative data and interviews.the method use is step down and SWOT analysis.
From the results of this calculationshows that the largest financing is on the operational that is equal to 54% of the totalcost. The largest expense is employee expenditures that is equal to 26% of the total cost,cost recovery in the NICU described that the NICU is experiencing deficit. In addressingthe deficit management of RSUD can create a policy with regard to the costing unit aswell as making strategic steps such as improving utilization, efficiency, reducing lengthof stay and involving nurses. Hospitals can improve the utilization of NICU such asbecoming a referral NICU service in DKI as well as national reference that work togetherwith private insurance and other hospitals.
Key words:Cost Recovery Rate, Cost Unit, NICU RSUD Koja.
B-1973
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fajri Israq; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Mieke Savitri, Amila Megraini, Lies Dina L., Nella Abdullah
B-1987
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jimmy Agung Pambudy; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Dewi Yuliawaty, Beny Hartono
Abstrak:
RS Jantung Sehat merupakan rumah sakit khusus jantung swasta yang hingga saatini belum menjalin kerja-sama dengan BPJS dalam penyelenggaraan jaminankesehatan. Hal ini disebabkan karena adanya kesenjangan tarif antara tarif rumahsakit dengan tarif yang ditetapkan oleh BPJS kesehatan. Dengan adanyakesenjangan tarif antara tarif rumah sakit Jantung Sehat dengan tarif pasien BPJS,maka rumah sakit sangat membutuhkan input dalam bentuk informasi yanglengkap, salah satunya adalah perhitungan biaya satuan (unit cost) untukpelayanan intervensi non bedah. Tujuan penelitian ini adalah menghitung biayasatuan (unit cost) di RS Jantung Sehat Jakarta dengan menghitung biaya langsungdan biaya tidak langsung yang terjadi. Jenis penelitian ini adalah analisisdeskriptif dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan data primer berupawawancara dan data sekunder dari RS Jantung Sehat, penghitungan biayamenggunakan metode Activity Based Costing (ABC).Berdasarkan hasil penghitungan biaya tindakan PCI tanpa penyulit diperoleh ;Biaya satuan aktual tindakan PCI tanpa penyulit sebesar Rp. 24.984.200,22,- ;Total biaya langsung (Investasi) sebesar Rp. 67.241.952,80 ; Total biayalangsung (Operasional) sebesar Rp. 686.393.711,12 ; Total Biaya langsung(Pemeliharaan) sebesar Rp. 11.914.085,65 ; Total Biaya Penunjang (Investasi danOperasional) sebesar Rp. 18.042.818,84. CRR antara revenue pasien swastadengan biaya satuan aktual sebesar192.12% sedangkan CRR antara revenuepasien BPJS dengan biaya satuan aktual sebesar 40.91%.Kebijakan kenaikan kelas rumah sakit Jantung Sehat dan kebijakan efisiensi biayaharus ditetapkan oleh rumah sakit agar dapat melayani pasien BPJS tanpamengalami kerugian yang dapat mengancam kelangsungan hidup rumah sakit.Kata kunci : Unit Cost, Activity Based Costing (ABC)
Jantung Sehat Hospital is a private cardiac hospital that has not establishedcooperation with BPJS in the administration of health insurance until now. This iscaused by the discrepancy between tariff rates by the hospital with tariff rates thatby BPJS Health Services. Hence, the difference of tarrifs mentioned above,makes the hospital requires input in the form of complete information, which oneof the information is the cost calculation unit (unit cost) for the non-surgicalintervention services. The purpose of this study is to calculate the unit cost in theJantung Sehat Hospital Jakarta by calculating the direct and indirect cost thatoccurs. The type of this reserach is descriptive analysis, with the case studyapproach and the use of primary data in the form of interviews and secondary datafrom the Jantung Sehat Hospital. The methods of the cost calculations is usingActivity Based Costing (ABC).Based on the results of the PCI costs calculation whithout complicating, obtained;The actual unit cost measures without complication PCI is Rp 24,989,200.22 ,- ;Total Direct Costs (investment) is Rp. 67.241.952,80 ; Total Direct Cost(Operational) is Rp. 686.393.711,12 ; Total Direct Costs (Maintenance) is Rp.11.914.085,65 ; Total Costs of Support (Investment and Operational) is Rp.18.042.818,84. The CRR between private patient revenue with actual unit cost is192.12% while the percentage of CRR between BPJS Health Service patientrevenue with actual unit cost is 40.91%.The policy to increase the class of Jantung Sehat Hospital and the cost efficiencypolicy should be set by the hospital to serve BPJS Healt Service patients withoutexperiencing losses which could endanger the existence of the hospital itself.Keywords : Unit Cost, Activity Based Costing (ABC)
Read More
Jantung Sehat Hospital is a private cardiac hospital that has not establishedcooperation with BPJS in the administration of health insurance until now. This iscaused by the discrepancy between tariff rates by the hospital with tariff rates thatby BPJS Health Services. Hence, the difference of tarrifs mentioned above,makes the hospital requires input in the form of complete information, which oneof the information is the cost calculation unit (unit cost) for the non-surgicalintervention services. The purpose of this study is to calculate the unit cost in theJantung Sehat Hospital Jakarta by calculating the direct and indirect cost thatoccurs. The type of this reserach is descriptive analysis, with the case studyapproach and the use of primary data in the form of interviews and secondary datafrom the Jantung Sehat Hospital. The methods of the cost calculations is usingActivity Based Costing (ABC).Based on the results of the PCI costs calculation whithout complicating, obtained;The actual unit cost measures without complication PCI is Rp 24,989,200.22 ,- ;Total Direct Costs (investment) is Rp. 67.241.952,80 ; Total Direct Cost(Operational) is Rp. 686.393.711,12 ; Total Direct Costs (Maintenance) is Rp.11.914.085,65 ; Total Costs of Support (Investment and Operational) is Rp.18.042.818,84. The CRR between private patient revenue with actual unit cost is192.12% while the percentage of CRR between BPJS Health Service patientrevenue with actual unit cost is 40.91%.The policy to increase the class of Jantung Sehat Hospital and the cost efficiencypolicy should be set by the hospital to serve BPJS Healt Service patients withoutexperiencing losses which could endanger the existence of the hospital itself.Keywords : Unit Cost, Activity Based Costing (ABC)
B-1814
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
